Lompat ke isi

Kasein: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28919113; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kasein''' mengacu pada komponen [[protein]] utama pada susu. Protein ini mempunyai aplikasi yang luas, terutama dalam bidang industri keju.
'''Kasein''' mengacu pada komponen [[protein]] utama pada susu.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Protein ini mempunyai aplikasi yang luas, terutama dalam bidang industri keju.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref>


== Struktur dan Senyawa ==
== Struktur dan Senyawa ==
Kasein merupakan golongan protein yang komposisinya mencapai 80% dari komposisi keseluruhan protein susu. Protein kasein terbagi menjadi beberapa komponen, komponen yang umum dijumpai adalah [[αs1-kasein]], [[αs2-kasein]], [[β-kasein]], dan [[κ-kasein]].
Kasein merupakan golongan protein yang komposisinya mencapai 80% dari komposisi keseluruhan protein susu.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Protein kasein terbagi menjadi beberapa komponen, komponen yang umum dijumpai adalah [[αs1-kasein]], [[αs2-kasein]], [[β-kasein]], dan [[κ-kasein]].<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref>


Protein kasein memiliki daerah [[hidrofobik]] dan [[hidrofilik]] yang bervariasi. Kasein relatif tidak sensitif terhadap panas, dibutuhkan temperatur diatas 120&nbsp;°C untuk merusak struktur kasein hingga menjadi tidak larut dalam air. Di sisi lain, kasein cukup sensitif terhadap [[pH]], maka itu protein kasein akan mengendap pada [[titik isoelektrik]]nya. Protein kasein mempunyai masa molekul sebesar 106 hingga 109 [[Dalton (satuan)|Dalton]]. Kasein mampu menyebarkan cahaya. Oleh karena keberadaan kasein di dalam susu, susu berwarna putih.
Protein kasein memiliki daerah [[hidrofobik]] dan [[hidrofilik]] yang bervariasi.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Kasein relatif tidak sensitif terhadap panas, dibutuhkan temperatur diatas 120&nbsp;°C untuk merusak struktur kasein hingga menjadi tidak larut dalam air.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Di sisi lain, kasein cukup sensitif terhadap [[pH]], maka itu protein kasein akan mengendap pada [[titik isoelektrik]]nya.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Protein kasein mempunyai masa molekul sebesar 106 hingga 109 [[Dalton (satuan)|Dalton]].<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Kasein mampu menyebarkan cahaya. Oleh karena keberadaan kasein di dalam susu, susu berwarna putih.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref>


Protein kasein bersama dengan kalsium fosfat, dapat membentuk semacam partikel [[koloid]] yang terdispersi, yang disebut [[misel]] (micelles). Karena protein kasein berupa suspensi, protein tersebut dapat dipisahkan dari campuran menggunakan [[sentrifugasi]]. Setelah sentrifugasi, beberapa protein tertinggal di dalam larutan. Protein yang larut di dalam [[supernatan]] tersebut disebut protein [[whey]].
Protein kasein bersama dengan kalsium fosfat, dapat membentuk semacam partikel [[koloid]] yang terdispersi, yang disebut [[misel]] (micelles).<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Karena protein kasein berupa suspensi, protein tersebut dapat dipisahkan dari campuran menggunakan [[sentrifugasi]].<ref>Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. [http://ansci.illinois.edu/static/ansc438/Milkcompsynth/milkcomp_protein.html Milk Composition Proteins].</ref> Setelah sentrifugasi, beberapa protein tertinggal di dalam larutan. Protein yang larut di dalam [[supernatan]] tersebut disebut protein [[whey]].<ref>Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. [http://ansci.illinois.edu/static/ansc438/Milkcompsynth/milkcomp_protein.html Milk Composition Proteins].</ref>


Kasein mengandung asam beragam [[asam amino]] yang diperlukan [[mamalia]] muda untuk tumbuh. Karena memiliki protein berkualitas tinggi seperti kasein, susu sapi dianggap sebagai salah satu makanan manusia yang paling penting. Lebih jauh lagi, protein kasein terdesain untuk berikatan dengan [[kalsium fosfat]], yang secara langsung mengendap pada lambung bayi baru lahir. Hal ini membuat protein tersebut mudah dicerna. Karena protein kasein dinilai mempunyai signifikansi yang besar terhadap kehidupan manusia, struktur kasein telah dipelajari secara menyeluruh, akan tetapi struktur pasti kasein masih diperdebatkan.
Kasein mengandung asam beragam [[asam amino]] yang diperlukan [[mamalia]] muda untuk tumbuh.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref> Karena memiliki protein berkualitas tinggi seperti kasein, susu sapi dianggap sebagai salah satu makanan manusia yang paling penting.<ref>Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. [http://ansci.illinois.edu/static/ansc438/Milkcompsynth/milkcomp_protein.html Milk Composition Proteins].</ref> Lebih jauh lagi, protein kasein terdesain untuk berikatan dengan [[kalsium fosfat]], yang secara langsung mengendap pada lambung bayi baru lahir. Hal ini membuat protein tersebut mudah dicerna. Karena protein kasein dinilai mempunyai signifikansi yang besar terhadap kehidupan manusia, struktur kasein telah dipelajari secara menyeluruh, akan tetapi struktur pasti kasein masih diperdebatkan.<ref>Phadungath C. [http://rdo.psu.ac.th/sjstweb/journal/27-1/19casein-micelle.pdf Casein micelle structure : a concise review]. ''Songklanakarin J. Sci. Tehnol''. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.</ref>


== Aplikasi ==
== Aplikasi ==
=== Industri keju ===
=== Industri keju ===
Pembuatan keju merupakan salah satu bentuk bioteknologi tradisional.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref> Pada pembuatan keju, komponen protein diendapkan dan dipisahkan dari cairan whey.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref> Endapan susu yang terbentuk kemudian diasinkan, dibentuk, dan disimpan pada kondisi tertentu untuk mencapai kematangan.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref>


Untuk membantu mengendapkan kasein, [[rennet]] banyak digunakan.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref> Rennet mengandung [[enzim]] [[kimosin]] yang mampu memecah struktur kasein dan mengubah sifat protein tersebut dari [[hidrofilik]], menjadi [[hidrofobik]].<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref> Perubahan sifat ini membuat protein kappa kasein mengendap, sehingga dapat dikumpulkan dan diolah menjadi keju.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref>


Pembuatan keju merupakan salah satu bentuk bioteknologi tradisional. Pada pembuatan keju, komponen protein diendapkan dan dipisahkan dari cairan whey. Endapan susu yang terbentuk kemudian diasinkan, dibentuk, dan disimpan pada kondisi tertentu untuk mencapai kematangan.
Secara tradisional, rennet diperoleh dari lambung sapi muda.<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref> Dewasa ini, penggunaan [[bioteknologi]] modern telah memperbolehkan produksi enzim kimosin yang efisien dengan memanfaatkan [[mikroorganisme]] hasil [[rekayasa genetika]].<ref>The University of Waikato. [http://www.biotechlearn.org.nz/focus_stories/cheesemaking/the_science_of_cheese The science of cheese]. 11 April 2014.</ref>
 
Untuk membantu mengendapkan kasein, [[rennet]] banyak digunakan. Rennet mengandung [[enzim]] [[kimosin]] yang mampu memecah struktur kasein dan mengubah sifat protein tersebut dari [[hidrofilik]], menjadi [[hidrofobik]]. Perubahan sifat ini membuat protein kappa kasein mengendap, sehingga dapat dikumpulkan dan diolah menjadi keju.
 
Secara tradisional, rennet diperoleh dari lambung sapi muda. Dewasa ini, penggunaan [[bioteknologi]] modern telah memperbolehkan produksi enzim kimosin yang efisien dengan memanfaatkan [[mikroorganisme]] hasil [[rekayasa genetika]].


=== Pembuatan lem ===
=== Pembuatan lem ===
Penggunaan kasein sebagai bahan perekat telah dilaporkan dilakukan oleh berbagai perajin pada zaman [[Eropa]] kuno. Mereka menggunakan endapan susu asam yang dicampur dengan [[kapur]] untuk menghasilkan bahan perekat. Adapun kelebihan lem berbahan dasar kasein, yaitu mempunyai daya rekat yang cukup kuat, serta tahan air dan serangan [[cendawan]].
Penggunaan kasein sebagai bahan perekat telah dilaporkan dilakukan oleh berbagai perajin pada zaman [[Eropa]] kuno.<ref>U.S Department of Agriculture. [https://www.fpl.fs.fed.us/documnts/.../fplrn158.pdf Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application]. 1967.</ref> Mereka menggunakan endapan susu asam yang dicampur dengan [[kapur]] untuk menghasilkan bahan perekat.<ref>U.S Department of Agriculture. [https://www.fpl.fs.fed.us/documnts/.../fplrn158.pdf Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application]. 1967.</ref> Adapun kelebihan lem berbahan dasar kasein, yaitu mempunyai daya rekat yang cukup kuat, serta tahan air dan serangan [[cendawan]].<ref>U.S Department of Agriculture. [https://www.fpl.fs.fed.us/documnts/.../fplrn158.pdf Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application]. 1967.</ref>


=== Suplemen protein ===
=== Suplemen protein ===
Meskipun diketahui lebih lambat diserap dibanding protein whey, beberapa produsen suplemen protein tetap menambahkan kasein di dalam produknya. Hal ini didukung oleh kasein yang diketahui mampu memperlambat pemecahan [[sel otot]].
Meskipun diketahui lebih lambat diserap dibanding protein whey, beberapa produsen suplemen protein tetap menambahkan kasein di dalam produknya. Hal ini didukung oleh kasein yang diketahui mampu memperlambat pemecahan [[sel otot]].<ref>Mike Greenwood, Douglas Kalman, Jose Antonio. ''Nutritional Supplements in Sports and Exercise''. Springer. ISBN 9781597452311.</ref>


=== Industri roti ===
=== Industri roti ===
[[Hidrolisat]] kasein, atau kasein yang telah diproses oleh enzim, mempunyai aplikasi dalam industri roti. Hidrolisat tersebut diketahui dapat mempunyai fungsi [[emulsi]]fikasi, pengikatan air, dan penciptaan busa dalam makanan. Lebih jauh lagi, penambahan kasein yang dihidrolisis oleh asam telah dilaporkan mampu meningkatkan kualitas roti.
[[Hidrolisat]] kasein, atau kasein yang telah diproses oleh enzim, mempunyai aplikasi dalam industri roti.<ref>P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. [http://link.springer.com/article/10.1007/s00217-002-0510-5 Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications]. ''European Food Research and Technology''. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.</ref> Hidrolisat tersebut diketahui dapat mempunyai fungsi [[emulsi]]fikasi, pengikatan air, dan penciptaan busa dalam makanan.<ref>P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. [http://link.springer.com/article/10.1007/s00217-002-0510-5 Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications]. ''European Food Research and Technology''. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.</ref> Lebih jauh lagi, penambahan kasein yang dihidrolisis oleh asam telah dilaporkan mampu meningkatkan kualitas roti.<ref>P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. [http://link.springer.com/article/10.1007/s00217-002-0510-5 Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications]. ''European Food Research and Technology''. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.</ref>


== Kasein dan autisme ==
== Kasein dan autisme ==
Diet bebas kasein dan [[gluten]] sebagai bentuk perawatan terhadap pengidap [[autisme]] telah menuai perdebatan. Dasar teori diet tersebut adalah pada individu yang mengalami masalah [[gastrointestinal]], seperti kebocoran pada [[dinding usus]], komponen protein seperti kasein dapat menyusup kedalam peredaran darah. Hal tersebut menyebabkan [[respon imun]] dan memengaruhi fungsi [[sistem saraf]] pusat yang menyebabkan gejala [[psiko-patologis]] dan penarikan sosial. Oleh karena itu, bedasarkan teori ini, pengidap autisme tidak disarankan untuk menkonsumsi makanan yang mengandung gluten atau kasein.
Diet bebas kasein dan [[gluten]] sebagai bentuk perawatan terhadap pengidap [[autisme]] telah menuai perdebatan.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref> Dasar teori diet tersebut adalah pada individu yang mengalami masalah [[gastrointestinal]], seperti kebocoran pada [[dinding usus]], komponen protein seperti kasein dapat menyusup kedalam peredaran darah.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref> Hal tersebut menyebabkan [[respon imun]] dan memengaruhi fungsi [[sistem saraf]] pusat yang menyebabkan gejala [[psiko-patologis]] dan penarikan sosial. Oleh karena itu, bedasarkan teori ini, pengidap autisme tidak disarankan untuk menkonsumsi makanan yang mengandung gluten atau kasein.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref>


Di sisi lain, teori ini masih belum diperkuat oleh studi klinis yang memadai. Studi klinis yang sudah ada menunjukkan bahwa diet bebas kasein dan gluten tidak menunjukan efektivitas dalam pengobatan autisme. Akan tetapi, karena jumlah sampel yang kecil dan indikasi adanya [[bias]] eksperimental, beberapa pakar menganggap bahwa studi mengenai pengaruh kasein terhadap autisme perlu diteliti lebih lanjut.
Di sisi lain, teori ini masih belum diperkuat oleh studi klinis yang memadai.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref> Studi klinis yang sudah ada menunjukkan bahwa diet bebas kasein dan gluten tidak menunjukan efektivitas dalam pengobatan autisme.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref> Akan tetapi, karena jumlah sampel yang kecil dan indikasi adanya [[bias]] eksperimental, beberapa pakar menganggap bahwa studi mengenai pengaruh kasein terhadap autisme perlu diteliti lebih lanjut.<ref>Bernier RA,. ''Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook''. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kasein&oldid=28919113 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28919113 (2026-02-02T06:14:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kasein&oldid=28919113 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28919113 (2026-02-02T06:14:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 18.08

Kasein mengacu pada komponen protein utama pada susu.[1] Protein ini mempunyai aplikasi yang luas, terutama dalam bidang industri keju.[2]

Struktur dan Senyawa

Kasein merupakan golongan protein yang komposisinya mencapai 80% dari komposisi keseluruhan protein susu.[3] Protein kasein terbagi menjadi beberapa komponen, komponen yang umum dijumpai adalah αs1-kasein, αs2-kasein, β-kasein, dan κ-kasein.[4]

Protein kasein memiliki daerah hidrofobik dan hidrofilik yang bervariasi.[5] Kasein relatif tidak sensitif terhadap panas, dibutuhkan temperatur diatas 120 °C untuk merusak struktur kasein hingga menjadi tidak larut dalam air.[6] Di sisi lain, kasein cukup sensitif terhadap pH, maka itu protein kasein akan mengendap pada titik isoelektriknya.[7] Protein kasein mempunyai masa molekul sebesar 106 hingga 109 Dalton.[8] Kasein mampu menyebarkan cahaya. Oleh karena keberadaan kasein di dalam susu, susu berwarna putih.[9]

Protein kasein bersama dengan kalsium fosfat, dapat membentuk semacam partikel koloid yang terdispersi, yang disebut misel (micelles).[10] Karena protein kasein berupa suspensi, protein tersebut dapat dipisahkan dari campuran menggunakan sentrifugasi.[11] Setelah sentrifugasi, beberapa protein tertinggal di dalam larutan. Protein yang larut di dalam supernatan tersebut disebut protein whey.[12]

Kasein mengandung asam beragam asam amino yang diperlukan mamalia muda untuk tumbuh.[13] Karena memiliki protein berkualitas tinggi seperti kasein, susu sapi dianggap sebagai salah satu makanan manusia yang paling penting.[14] Lebih jauh lagi, protein kasein terdesain untuk berikatan dengan kalsium fosfat, yang secara langsung mengendap pada lambung bayi baru lahir. Hal ini membuat protein tersebut mudah dicerna. Karena protein kasein dinilai mempunyai signifikansi yang besar terhadap kehidupan manusia, struktur kasein telah dipelajari secara menyeluruh, akan tetapi struktur pasti kasein masih diperdebatkan.[15]

Aplikasi

Industri keju

Pembuatan keju merupakan salah satu bentuk bioteknologi tradisional.[16] Pada pembuatan keju, komponen protein diendapkan dan dipisahkan dari cairan whey.[17] Endapan susu yang terbentuk kemudian diasinkan, dibentuk, dan disimpan pada kondisi tertentu untuk mencapai kematangan.[18]

Untuk membantu mengendapkan kasein, rennet banyak digunakan.[19] Rennet mengandung enzim kimosin yang mampu memecah struktur kasein dan mengubah sifat protein tersebut dari hidrofilik, menjadi hidrofobik.[20] Perubahan sifat ini membuat protein kappa kasein mengendap, sehingga dapat dikumpulkan dan diolah menjadi keju.[21]

Secara tradisional, rennet diperoleh dari lambung sapi muda.[22] Dewasa ini, penggunaan bioteknologi modern telah memperbolehkan produksi enzim kimosin yang efisien dengan memanfaatkan mikroorganisme hasil rekayasa genetika.[23]

Pembuatan lem

Penggunaan kasein sebagai bahan perekat telah dilaporkan dilakukan oleh berbagai perajin pada zaman Eropa kuno.[24] Mereka menggunakan endapan susu asam yang dicampur dengan kapur untuk menghasilkan bahan perekat.[25] Adapun kelebihan lem berbahan dasar kasein, yaitu mempunyai daya rekat yang cukup kuat, serta tahan air dan serangan cendawan.[26]

Suplemen protein

Meskipun diketahui lebih lambat diserap dibanding protein whey, beberapa produsen suplemen protein tetap menambahkan kasein di dalam produknya. Hal ini didukung oleh kasein yang diketahui mampu memperlambat pemecahan sel otot.[27]

Industri roti

Hidrolisat kasein, atau kasein yang telah diproses oleh enzim, mempunyai aplikasi dalam industri roti.[28] Hidrolisat tersebut diketahui dapat mempunyai fungsi emulsifikasi, pengikatan air, dan penciptaan busa dalam makanan.[29] Lebih jauh lagi, penambahan kasein yang dihidrolisis oleh asam telah dilaporkan mampu meningkatkan kualitas roti.[30]

Kasein dan autisme

Diet bebas kasein dan gluten sebagai bentuk perawatan terhadap pengidap autisme telah menuai perdebatan.[31] Dasar teori diet tersebut adalah pada individu yang mengalami masalah gastrointestinal, seperti kebocoran pada dinding usus, komponen protein seperti kasein dapat menyusup kedalam peredaran darah.[32] Hal tersebut menyebabkan respon imun dan memengaruhi fungsi sistem saraf pusat yang menyebabkan gejala psiko-patologis dan penarikan sosial. Oleh karena itu, bedasarkan teori ini, pengidap autisme tidak disarankan untuk menkonsumsi makanan yang mengandung gluten atau kasein.[33]

Di sisi lain, teori ini masih belum diperkuat oleh studi klinis yang memadai.[34] Studi klinis yang sudah ada menunjukkan bahwa diet bebas kasein dan gluten tidak menunjukan efektivitas dalam pengobatan autisme.[35] Akan tetapi, karena jumlah sampel yang kecil dan indikasi adanya bias eksperimental, beberapa pakar menganggap bahwa studi mengenai pengaruh kasein terhadap autisme perlu diteliti lebih lanjut.[36]

Referensi

  1. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  2. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  3. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  4. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  5. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  6. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  7. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  8. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  9. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  10. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  11. Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. Milk Composition Proteins.
  12. Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. Milk Composition Proteins.
  13. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  14. Department of Animal Sciences, University of Illinois at Urbana-Champaign. Milk Composition Proteins.
  15. Phadungath C. Casein micelle structure : a concise review. Songklanakarin J. Sci. Tehnol. May 2004. Vol. 27 (1). hlm. 201-12.
  16. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  17. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  18. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  19. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  20. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  21. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  22. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  23. The University of Waikato. The science of cheese. 11 April 2014.
  24. U.S Department of Agriculture. Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application. 1967.
  25. U.S Department of Agriculture. Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application. 1967.
  26. U.S Department of Agriculture. Casein Glues: Their Manufacture, Preparation, and Application. 1967.
  27. Mike Greenwood, Douglas Kalman, Jose Antonio. Nutritional Supplements in Sports and Exercise. Springer. ISBN 9781597452311.
  28. P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications. European Food Research and Technology. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.
  29. P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications. European Food Research and Technology. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.
  30. P. Crowley, C. O'Brien, H. Slattery, D. Chapman, E. Arendt, C. Stanton. Functional properties of casein hydrolysates in bakery applications. European Food Research and Technology. August 2002. Vol. 215 (2). hlm. 131-7. doi:10.1007/s00217-002-0510-5.
  31. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.
  32. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.
  33. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.
  34. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.
  35. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.
  36. Bernier RA,. Autism Spectrum Disorders: A Reference Handbook. ABC-CLIO. 2010. ISBN 9781598843347.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28919113 (2026-02-02T06:14:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.