Mendong: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28503639; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Mendong''' ('''''Fimbristylis umbellaris''''') atau disebut juga '''[[purun tikus]]''' adalah salah satu jenis [[rumput]] yang hidup di [[rawa]], termasuk anggota [[familia|suku]] [[Cyperaceae]]. [[Tumbuhan]] ini menghasilkan bahan anyaman, sehingga ia dibudidayakan di beberapa daerah. Nama-nama lokalnya, di antaranya, ''sié'' ([[Simeulue|Teupah]]); ''lai, mansiang mancik'' ([[Sumbar]]); ''baih-baih, mansiro baih, m. ibuh, m. lai, m. pandan'' ([[bahasa Minangkabau|Mink.]]); ''purun tikus'' ([[bahasa Lampung|Lamp.]], [[bahasa Banjar|Banj.]]); ''méndong'' ([[bahasa Jawa|Jw.]]); ''daun tikar'' ([[dialek Manado|Man.]]); ''nanaiang'' ([[Sangihe]]); ''kamun, bérot, wérot, tèhèk'' (aneka dialek lokal di [[Sulut]]); ''tiohu'' ([[Gorontalo|Goront.]]); ''tikogu'' ([[Buol]]); ''tiu'' (Barèe); ''tuyu'' ([[Palu]]). | '''Mendong'''<ref>KBBI Daring: [http://kbbi.web.id/mendong ''mendong'']</ref> ('''''Fimbristylis umbellaris''''') atau disebut juga '''[[purun tikus]]''' adalah salah satu jenis [[rumput]] yang hidup di [[rawa]], termasuk anggota [[familia|suku]] [[Cyperaceae]]. [[Tumbuhan]] ini menghasilkan bahan anyaman, sehingga ia dibudidayakan di beberapa daerah. Nama-nama lokalnya, di antaranya, ''sié'' ([[Simeulue|Teupah]]); ''lai, mansiang mancik'' ([[Sumbar]]); ''baih-baih, mansiro baih, m. ibuh, m. lai, m. pandan'' ([[bahasa Minangkabau|Mink.]]); ''purun tikus'' ([[bahasa Lampung|Lamp.]], [[bahasa Banjar|Banj.]]); ''méndong'' ([[bahasa Jawa|Jw.]]); ''daun tikar'' ([[dialek Manado|Man.]]); ''nanaiang'' ([[Sangihe]]); ''kamun, bérot, wérot, tèhèk'' (aneka dialek lokal di [[Sulut]]); ''tiohu'' ([[Gorontalo|Goront.]]); ''tikogu'' ([[Buol]]); ''tiu'' (Barèe); ''tuyu'' ([[Palu]]).<ref>1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'' '''I''': 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda [http://archive.org/stream/denuttigeplanten1922heyn#page/296/mode/2up -1922- '''I''': 296-8])</ref> | ||
[[Terna]] menahun, dengan rimpang kecil, tinggi 20-120 [[sentimeter|cm]]. [[Batang]] berambut panjang rapat, kaku, menyudut tumpul atau hampir bulat torak, kurang lebih memipih di bawah perbungaan, halus, berbelang, garis tengah 1-5 [[milimeter|mm]]. [[Daun|Daun-daun]] acap tereduksi hingga tak memiliki helaian, serupa tabung, terpangkas miring ujungnya, berupa seludang bertepi kecokelatan; daun pada batang yang fertil atau tumbuhan muda memipih dan beralur-alur selebar 1,5 mm. [[Perbungaan]] di pucuk, tunggal atau majemuk, dengan 1-40 [[spikelet]], yang terbesar serupa payung, 3–10 cm panjangnya. [[Buah]] bulir memipih, menyegitiga, atau cembung di dua sisinya, berbintil halus, 0,8-1 × 0,6-0,8 mm. | [[Terna]] menahun, dengan rimpang kecil, tinggi 20-120 [[sentimeter|cm]]. [[Batang]] berambut panjang rapat, kaku, menyudut tumpul atau hampir bulat torak, kurang lebih memipih di bawah perbungaan, halus, berbelang, garis tengah 1-5 [[milimeter|mm]]. [[Daun|Daun-daun]] acap tereduksi hingga tak memiliki helaian, serupa tabung, terpangkas miring ujungnya, berupa seludang bertepi kecokelatan; daun pada batang yang fertil atau tumbuhan muda memipih dan beralur-alur selebar 1,5 mm. [[Perbungaan]] di pucuk, tunggal atau majemuk, dengan 1-40 [[spikelet]], yang terbesar serupa payung, 3–10 cm panjangnya. [[Buah]] bulir memipih, menyegitiga, atau cembung di dua sisinya, berbintil halus, 0,8-1 × 0,6-0,8 mm.<ref>. 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). ''Weeds of Rice in Indonesia''. Jakarta:Balai Pustaka.</ref> | ||
== Agihan dan Ekologi == | == Agihan dan Ekologi == | ||
Mendong menyebar luas mulai dari [[India]], [[Cina]], Kawasan [[Malesia]] (terpencar-pencar), hingga [[Mikronesia]] dan [[Polinesia]]. Di [[Indonesia]] didapati di semua wilayah. | Mendong menyebar luas mulai dari [[India]], [[Cina]], Kawasan [[Malesia]] (terpencar-pencar), hingga [[Mikronesia]] dan [[Polinesia]]. Di [[Indonesia]] didapati di semua wilayah.<ref>. 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). ''Weeds of Rice in Indonesia''. Jakarta:Balai Pustaka.</ref> | ||
Ia tumbuh di daerah bencah yang terbuka, [[paya-paya]], [[rawa]], lapangan rumput; biasanya di elevasi bawah, jarang hingga ketinggian 1.000 m dpl. Juga di [[sawah|sawah-sawah]] beririgasi, tadah hujan, sawah ''lebak'', dan persawahan pasang-surut. Di sini rumput ini berpotensi menjadi [[gulma]], meskipun tergolong minor. Mendong tumbuh baik pada daerah dengan temperatur berkisar 25-27 derajat dan paparan cahaya yang cukup. Mendong umumnya tumbuh liar di daerah basah misalnya di sawah dengan kisaran pH tanah 4,5-8 pada daerah dataran rendah (<1000 mdpl) | Ia tumbuh di daerah bencah yang terbuka, [[paya-paya]], [[rawa]], lapangan rumput; biasanya di elevasi bawah, jarang hingga ketinggian 1.000 m dpl. Juga di [[sawah|sawah-sawah]] beririgasi, tadah hujan, sawah ''lebak'', dan persawahan pasang-surut. Di sini rumput ini berpotensi menjadi [[gulma]], meskipun tergolong minor.<ref>. 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). ''Weeds of Rice in Indonesia''. Jakarta:Balai Pustaka.</ref> Mendong tumbuh baik pada daerah dengan temperatur berkisar 25-27 derajat dan paparan cahaya yang cukup. Mendong umumnya tumbuh liar di daerah basah misalnya di sawah dengan kisaran pH tanah 4,5-8 pada daerah dataran rendah (<1000 mdpl)<ref>Dasuki, U. (2016, April 28). ''Fimbristylis umbellaris (PROSEA)''. Retrieved from Plant Use: https://uses.plantnet-project.org/en/Fimbristylis_umbellaris_(PROSEA)</ref> | ||
Berdasarkan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, mendong memiliki syarat pertumbuhan pada lahan seperti berikut: | Berdasarkan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, mendong memiliki syarat pertumbuhan pada lahan seperti berikut: | ||
== Budidaya di Indonesia == | == Budidaya di Indonesia == | ||
Untuk di Indonesia sendiri, Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu penghasil mendong terbesar yang menyuplai hingga 50% kebutuhan mendong untuk wilayah Jawa Barat. Tasikmalaya merupakan sentra kerajinan tangan yang salah satunya berbahan baku mendong. Kerajinan tangan dari mendong memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Namun, semakin sulitnya bahan baku mendong, membuat beberapa perajin mendong memilih untuk gulung tikar. Selain itu, kemajuan zaman membuat kerajinan ini semakin tergusur karena dinilai kurang tahan lama dan desain yang kurang modern. Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, luas lahan dan produksi mendong di Jawa Barat mengalami penurunan sejak tahun 2013 hingga 2017 dan diprediksi akan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya. Budidaya mendong sendiri tidak mengalami kemajuan dan belum banyak penelitian dilakukan terhadap tanaman ini. Mendong secara umum mudah untuk dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Jarak tanam yang baik dilakukan yaitu 60–80 cm antar rumpun dengan 5-8 bibit per rumpun. Pemeliharaan cukup dengan pemberian pupuk kandang sewaktu menanam dan pupuk ZA setelah panen. | Untuk di Indonesia sendiri, Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu penghasil mendong terbesar yang menyuplai hingga 50% kebutuhan mendong untuk wilayah Jawa Barat. Tasikmalaya merupakan sentra kerajinan tangan yang salah satunya berbahan baku mendong. Kerajinan tangan dari mendong memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Namun, semakin sulitnya bahan baku mendong, membuat beberapa perajin mendong memilih untuk gulung tikar. Selain itu, kemajuan zaman membuat kerajinan ini semakin tergusur karena dinilai kurang tahan lama dan desain yang kurang modern. Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, luas lahan dan produksi mendong di Jawa Barat mengalami penurunan sejak tahun 2013 hingga 2017 dan diprediksi akan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya.<ref>4 Vision Media. [http://disbun.jabarprov.go.id/page/view/70-id-mendong Mendong]. ''Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat''.</ref> Budidaya mendong sendiri tidak mengalami kemajuan dan belum banyak penelitian dilakukan terhadap tanaman ini. Mendong secara umum mudah untuk dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Jarak tanam yang baik dilakukan yaitu 60–80 cm antar rumpun dengan 5-8 bibit per rumpun. Pemeliharaan cukup dengan pemberian pupuk kandang sewaktu menanam dan pupuk ZA setelah panen. | ||
== Manfaat == | == Manfaat == | ||
Batangnya dipakai untuk membuat anyaman yang berkualitas baik, lebih baik dari anyaman [[wlingi]]. Karena mutunya, pada masa lalu mendong banyak dibudidayakan di sawah-sawah atau bendang; terutama di sawah yang kurang baik hasilnya untuk [[padi]]. Daerah-daerah yang pernah membudidayakannya, antara lain di [[Sumbar]] (Batusangkar), [[Sulut]], [[Sulteng]], [[Jateng]] (Wonosobo, Solo), [[Jatim]] (Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar), [[Yogya]] (Sleman). Sekarang, produksi mendong yang masih berjalan di antaranya dari [[Tasikmalaya]] ([[Jabar]]) dan [[Wajak, Malang|Wajak]] (Jatim). | Batangnya dipakai untuk membuat anyaman yang berkualitas baik, lebih baik dari anyaman [[wlingi]]. Karena mutunya, pada masa lalu mendong banyak dibudidayakan di sawah-sawah atau bendang; terutama di sawah yang kurang baik hasilnya untuk [[padi]]. Daerah-daerah yang pernah membudidayakannya, antara lain di [[Sumbar]] (Batusangkar), [[Sulut]], [[Sulteng]], [[Jateng]] (Wonosobo, Solo), [[Jatim]] (Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar), [[Yogya]] (Sleman).<ref>1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'' '''I''': 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda [http://archive.org/stream/denuttigeplanten1922heyn#page/296/mode/2up -1922- '''I''': 296-8])</ref> Sekarang, produksi mendong yang masih berjalan di antaranya dari [[Tasikmalaya]] ([[Jabar]]) dan [[Wajak, Malang|Wajak]] (Jatim). | ||
Mendong ditanam seperti menanam padi di sawah, tetapi dijaga agar sawahnya selalu berair. Rumpun mendong disabit setelah 6-9 bulan. Setelah diseleksi, batang-batang mendong itu dijemur, kadang-kadang digosok dan dipipihkan lebih dulu. Mendong yang berkualitas baik, setelah kering membentuk lembar-lembar selebar lk. 4 mm, pipih, lembut, dan terasa agak kenyal. Lembar-lembar ini kemudian dianyam untuk membuat [[tikar]] dan aneka anyaman lain. Kini bahan anyaman mendong itu lebih lanjut diolah untuk dijadikan sandal kamar, tas, wadah berbentuk kotak atau tabung, penghias meja, almari dan dinding, dan lain-lain. | Mendong ditanam seperti menanam padi di sawah, tetapi dijaga agar sawahnya selalu berair. Rumpun mendong disabit setelah 6-9 bulan. Setelah diseleksi, batang-batang mendong itu dijemur, kadang-kadang digosok dan dipipihkan lebih dulu. Mendong yang berkualitas baik, setelah kering membentuk lembar-lembar selebar lk. 4 mm, pipih, lembut, dan terasa agak kenyal.<ref>1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'' '''I''': 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda [http://archive.org/stream/denuttigeplanten1922heyn#page/296/mode/2up -1922- '''I''': 296-8])</ref> Lembar-lembar ini kemudian dianyam untuk membuat [[tikar]] dan aneka anyaman lain. Kini bahan anyaman mendong itu lebih lanjut diolah untuk dijadikan sandal kamar, tas, wadah berbentuk kotak atau tabung, penghias meja, almari dan dinding, dan lain-lain. | ||
Produk utama dari mendong berupa kerajinan tangan seperti tikar, tali, tas, dan barang anyaman lainnya. Tasikmalaya menjadikan kerajinan mendong sebagai salah satu komoditas industri kreatifnya. Pemakaian mendong sebagai bahan baku kerajinan didasarkan pada sifat tanaman mendong yang kuat dan elastis sehingga dapat dibentuk dan dianyam. Untuk produk kerajinan mendong ini, belum ada standardisasi khusus yang mengatur kualitas produknya. Selain itu, mendong merupakan salah satu dari anggota famili Cyperaceae yang diketahui sebagai tanaman metal hyper-accumulator yang toleran terhadap konsentrasi metal lingkungan yang cukup tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai Phytoremediasi. Saat ini, serat mendong sedang dikembangkan menjadi bahan baku ''Microcrytalline Celulose (''MCC) yang digunakan sebagai filler pada obat-obatan, stabilizer pada industri makanan, dan material komposit pada industri plastik. MCC dari mendong diharapkan dapat menggantikan MCC yang berasal dari kayu sehingga mengurangi deforestrasi dan lebih ramah lingkungan. | Produk utama dari mendong berupa kerajinan tangan seperti tikar, tali, tas, dan barang anyaman lainnya. Tasikmalaya menjadikan kerajinan mendong sebagai salah satu komoditas industri kreatifnya. Pemakaian mendong sebagai bahan baku kerajinan didasarkan pada sifat tanaman mendong yang kuat dan elastis sehingga dapat dibentuk dan dianyam. Untuk produk kerajinan mendong ini, belum ada standardisasi khusus yang mengatur kualitas produknya. Selain itu, mendong merupakan salah satu dari anggota famili Cyperaceae yang diketahui sebagai tanaman metal hyper-accumulator yang toleran terhadap konsentrasi metal lingkungan yang cukup tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai Phytoremediasi. Saat ini, serat mendong sedang dikembangkan menjadi bahan baku ''Microcrytalline Celulose (''MCC) yang digunakan sebagai filler pada obat-obatan, stabilizer pada industri makanan, dan material komposit pada industri plastik. MCC dari mendong diharapkan dapat menggantikan MCC yang berasal dari kayu sehingga mengurangi deforestrasi dan lebih ramah lingkungan.<ref>Suryanto, H., Solichin, & Yanuar, U. (2016). Natural Cellulose Fiber from MendongGrass (Fimbristylis globulosa). In K. Ramawat, & M. Ahuja, ''Fiber Plants: Biology, Biotechnology and Applications'' (pp. 35-52). Switzerland: Springer.</ref> | ||
== Metabolit == | == Metabolit == | ||
Hingga saat ini, belum ada penelitian metabolomik khusus mendong karena mendong secara umum lebih dimanfaatkan biomassanya. Namun mendong telah diteliti lebih lanjut untuk dimanfaatkan serat dan selulosanya sebagai alternatif polimer dan biomaterial baru. Penelitian ini berupa pengamatan struktur mikroskopis, analisis komposisi kimia, fisik, mekanik, dan termal dari serat tanaman mendong. Serat tanaman mendong mengandung sekitar 72,14% selulosa; 20,2% hemiselulosa; 3,44% lignin; dan sisanya bahan lain dan air. Berdasarkan penelitian Suryanto H. dkk menunjukkan tanaman mendong memiliki kandungan selulosa yang tinggi, tetapi masih lebih rendah dibanding kapas dan rami. Kandungan selulosa dan zat non-selulosa memengaruhi struktur dan kekuatan dari serat. Penelitian fisik menunjukkan kristanlinitas dan indeks kristalin pada tanaman mendong yaitu 85,8 dan 83,5%. Hal ini menunjukkan serat mendong masih memiliki material non-kristalin seperti hemiselulosa, lignin, dan pectin yang dapat mengurangi kekuatan dari serat mendong. | Hingga saat ini, belum ada penelitian metabolomik khusus mendong karena mendong secara umum lebih dimanfaatkan biomassanya. Namun mendong telah diteliti lebih lanjut untuk dimanfaatkan serat dan selulosanya sebagai alternatif polimer dan biomaterial baru. Penelitian ini berupa pengamatan struktur mikroskopis, analisis komposisi kimia, fisik, mekanik, dan termal dari serat tanaman mendong. Serat tanaman mendong mengandung sekitar 72,14% selulosa; 20,2% hemiselulosa; 3,44% lignin; dan sisanya bahan lain dan air. Berdasarkan penelitian Suryanto H. dkk menunjukkan tanaman mendong memiliki kandungan selulosa yang tinggi, tetapi masih lebih rendah dibanding kapas dan rami. Kandungan selulosa dan zat non-selulosa memengaruhi struktur dan kekuatan dari serat. Penelitian fisik menunjukkan kristanlinitas dan indeks kristalin pada tanaman mendong yaitu 85,8 dan 83,5%. Hal ini menunjukkan serat mendong masih memiliki material non-kristalin seperti hemiselulosa, lignin, dan pectin yang dapat mengurangi kekuatan dari serat mendong.<ref>Suryanto, H., Solichin, & Yanuar, U. (2016). Natural Cellulose Fiber from MendongGrass (Fimbristylis globulosa). In K. Ramawat, & M. Ahuja, ''Fiber Plants: Biology, Biotechnology and Applications'' (pp. 35-52). Switzerland: Springer.</ref> | ||
== Rujukan lain == | == Rujukan lain == | ||
| Baris 36: | Baris 33: | ||
* Tropical: [http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Fimbristylis+umbellaris ''Fimbristylis umbellaris''] | * Tropical: [http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Fimbristylis+umbellaris ''Fimbristylis umbellaris''] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mendong&oldid=28503639 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28503639 (2025-11-15T14:41:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mendong&oldid=28503639 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28503639 (2025-11-15T14:41:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.02
Mendong[1] (Fimbristylis umbellaris) atau disebut juga purun tikus adalah salah satu jenis rumput yang hidup di rawa, termasuk anggota suku Cyperaceae. Tumbuhan ini menghasilkan bahan anyaman, sehingga ia dibudidayakan di beberapa daerah. Nama-nama lokalnya, di antaranya, sié (Teupah); lai, mansiang mancik (Sumbar); baih-baih, mansiro baih, m. ibuh, m. lai, m. pandan (Mink.); purun tikus (Lamp., Banj.); méndong (Jw.); daun tikar (Man.); nanaiang (Sangihe); kamun, bérot, wérot, tèhèk (aneka dialek lokal di Sulut); tiohu (Goront.); tikogu (Buol); tiu (Barèe); tuyu (Palu).[2]
Terna menahun, dengan rimpang kecil, tinggi 20-120 cm. Batang berambut panjang rapat, kaku, menyudut tumpul atau hampir bulat torak, kurang lebih memipih di bawah perbungaan, halus, berbelang, garis tengah 1-5 mm. Daun-daun acap tereduksi hingga tak memiliki helaian, serupa tabung, terpangkas miring ujungnya, berupa seludang bertepi kecokelatan; daun pada batang yang fertil atau tumbuhan muda memipih dan beralur-alur selebar 1,5 mm. Perbungaan di pucuk, tunggal atau majemuk, dengan 1-40 spikelet, yang terbesar serupa payung, 3–10 cm panjangnya. Buah bulir memipih, menyegitiga, atau cembung di dua sisinya, berbintil halus, 0,8-1 × 0,6-0,8 mm.[3]
Agihan dan Ekologi
Mendong menyebar luas mulai dari India, Cina, Kawasan Malesia (terpencar-pencar), hingga Mikronesia dan Polinesia. Di Indonesia didapati di semua wilayah.[4]
Ia tumbuh di daerah bencah yang terbuka, paya-paya, rawa, lapangan rumput; biasanya di elevasi bawah, jarang hingga ketinggian 1.000 m dpl. Juga di sawah-sawah beririgasi, tadah hujan, sawah lebak, dan persawahan pasang-surut. Di sini rumput ini berpotensi menjadi gulma, meskipun tergolong minor.[5] Mendong tumbuh baik pada daerah dengan temperatur berkisar 25-27 derajat dan paparan cahaya yang cukup. Mendong umumnya tumbuh liar di daerah basah misalnya di sawah dengan kisaran pH tanah 4,5-8 pada daerah dataran rendah (<1000 mdpl)[6]
Berdasarkan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, mendong memiliki syarat pertumbuhan pada lahan seperti berikut:
Budidaya di Indonesia
Untuk di Indonesia sendiri, Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu penghasil mendong terbesar yang menyuplai hingga 50% kebutuhan mendong untuk wilayah Jawa Barat. Tasikmalaya merupakan sentra kerajinan tangan yang salah satunya berbahan baku mendong. Kerajinan tangan dari mendong memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Namun, semakin sulitnya bahan baku mendong, membuat beberapa perajin mendong memilih untuk gulung tikar. Selain itu, kemajuan zaman membuat kerajinan ini semakin tergusur karena dinilai kurang tahan lama dan desain yang kurang modern. Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, luas lahan dan produksi mendong di Jawa Barat mengalami penurunan sejak tahun 2013 hingga 2017 dan diprediksi akan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya.[7] Budidaya mendong sendiri tidak mengalami kemajuan dan belum banyak penelitian dilakukan terhadap tanaman ini. Mendong secara umum mudah untuk dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Jarak tanam yang baik dilakukan yaitu 60–80 cm antar rumpun dengan 5-8 bibit per rumpun. Pemeliharaan cukup dengan pemberian pupuk kandang sewaktu menanam dan pupuk ZA setelah panen.
Manfaat
Batangnya dipakai untuk membuat anyaman yang berkualitas baik, lebih baik dari anyaman wlingi. Karena mutunya, pada masa lalu mendong banyak dibudidayakan di sawah-sawah atau bendang; terutama di sawah yang kurang baik hasilnya untuk padi. Daerah-daerah yang pernah membudidayakannya, antara lain di Sumbar (Batusangkar), Sulut, Sulteng, Jateng (Wonosobo, Solo), Jatim (Ngawi, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar), Yogya (Sleman).[8] Sekarang, produksi mendong yang masih berjalan di antaranya dari Tasikmalaya (Jabar) dan Wajak (Jatim).
Mendong ditanam seperti menanam padi di sawah, tetapi dijaga agar sawahnya selalu berair. Rumpun mendong disabit setelah 6-9 bulan. Setelah diseleksi, batang-batang mendong itu dijemur, kadang-kadang digosok dan dipipihkan lebih dulu. Mendong yang berkualitas baik, setelah kering membentuk lembar-lembar selebar lk. 4 mm, pipih, lembut, dan terasa agak kenyal.[9] Lembar-lembar ini kemudian dianyam untuk membuat tikar dan aneka anyaman lain. Kini bahan anyaman mendong itu lebih lanjut diolah untuk dijadikan sandal kamar, tas, wadah berbentuk kotak atau tabung, penghias meja, almari dan dinding, dan lain-lain.
Produk utama dari mendong berupa kerajinan tangan seperti tikar, tali, tas, dan barang anyaman lainnya. Tasikmalaya menjadikan kerajinan mendong sebagai salah satu komoditas industri kreatifnya. Pemakaian mendong sebagai bahan baku kerajinan didasarkan pada sifat tanaman mendong yang kuat dan elastis sehingga dapat dibentuk dan dianyam. Untuk produk kerajinan mendong ini, belum ada standardisasi khusus yang mengatur kualitas produknya. Selain itu, mendong merupakan salah satu dari anggota famili Cyperaceae yang diketahui sebagai tanaman metal hyper-accumulator yang toleran terhadap konsentrasi metal lingkungan yang cukup tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai Phytoremediasi. Saat ini, serat mendong sedang dikembangkan menjadi bahan baku Microcrytalline Celulose (MCC) yang digunakan sebagai filler pada obat-obatan, stabilizer pada industri makanan, dan material komposit pada industri plastik. MCC dari mendong diharapkan dapat menggantikan MCC yang berasal dari kayu sehingga mengurangi deforestrasi dan lebih ramah lingkungan.[10]
Metabolit
Hingga saat ini, belum ada penelitian metabolomik khusus mendong karena mendong secara umum lebih dimanfaatkan biomassanya. Namun mendong telah diteliti lebih lanjut untuk dimanfaatkan serat dan selulosanya sebagai alternatif polimer dan biomaterial baru. Penelitian ini berupa pengamatan struktur mikroskopis, analisis komposisi kimia, fisik, mekanik, dan termal dari serat tanaman mendong. Serat tanaman mendong mengandung sekitar 72,14% selulosa; 20,2% hemiselulosa; 3,44% lignin; dan sisanya bahan lain dan air. Berdasarkan penelitian Suryanto H. dkk menunjukkan tanaman mendong memiliki kandungan selulosa yang tinggi, tetapi masih lebih rendah dibanding kapas dan rami. Kandungan selulosa dan zat non-selulosa memengaruhi struktur dan kekuatan dari serat. Penelitian fisik menunjukkan kristanlinitas dan indeks kristalin pada tanaman mendong yaitu 85,8 dan 83,5%. Hal ini menunjukkan serat mendong masih memiliki material non-kristalin seperti hemiselulosa, lignin, dan pectin yang dapat mengurangi kekuatan dari serat mendong.[11]
Rujukan lain
- . 2013. World Economic Plants: A Standard Reference, Second Edition: 307. CRC Press.
Pranala luar
- Disbun Jabar: Mendong , data produksi Jabar.
- Kecamatan Wajak: Mendong (info hama penyakit)
- Flora of China: Fimbristylis umbellaris
- Oswaldasia: Fimbristylis umbellaris
- Tropical: Fimbristylis umbellaris
Referensi
- ↑ KBBI Daring: mendong
- ↑ 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 296-8)
- ↑ . 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). Weeds of Rice in Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
- ↑ . 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). Weeds of Rice in Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
- ↑ . 1987. "The weeds: description, ecology and control": 238-9, in M. Soerjani, A.J.G.H. Kostermans, and G. Tjitrosoepomo, (eds.). Weeds of Rice in Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
- ↑ Dasuki, U. (2016, April 28). Fimbristylis umbellaris (PROSEA). Retrieved from Plant Use: https://uses.plantnet-project.org/en/Fimbristylis_umbellaris_(PROSEA)
- ↑ 4 Vision Media. Mendong. Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.
- ↑ 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 296-8)
- ↑ 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 355-7. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 296-8)
- ↑ Suryanto, H., Solichin, & Yanuar, U. (2016). Natural Cellulose Fiber from MendongGrass (Fimbristylis globulosa). In K. Ramawat, & M. Ahuja, Fiber Plants: Biology, Biotechnology and Applications (pp. 35-52). Switzerland: Springer.
- ↑ Suryanto, H., Solichin, & Yanuar, U. (2016). Natural Cellulose Fiber from MendongGrass (Fimbristylis globulosa). In K. Ramawat, & M. Ahuja, Fiber Plants: Biology, Biotechnology and Applications (pp. 35-52). Switzerland: Springer.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28503639 (2025-11-15T14:41:09Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.