Rawa payau: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29404901; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Salah satu jenis ekosistem lahan basah yang disebut '''rawa payau''' terletak di daerah [[muara sungai]] atau estuari di mana terjadi percampuran antara air tawar dari aliran sungai dan air asin dari air laut. Tingkat salinitas air (kadar garam) di rawa payau biasanya antara 0,5 dan 30 gram per liter, dan ekosistem ini sangat dinamis karena tingkat salinitas airnya yang tinggi. Vegetasi khas yang mampu beradaptasi dengan kondisi air dengan kadar garam sedang dan tanah yang berlumpur dan jenuh air, seperti mangrove, seringkali menumbuhkan rawa payau. Jika dilihat dari genangan air, rawa terbagi menjadi dua kategori: rawa yang airnya selalu tergenang dan rawa yang airnya tidak selalu tergenang. Air di rawa yang selalu tergenang tidak dapat digunakan untuk pertanian karena tanahnya ditutupi dengan tanah gambut yang tebal. Karena kadar asam yang tinggi dalam air di wilayah rawa yang selalu tergenang, hewan sulit ditemukan di sana. Derajat keasaman (pH) rawa jenis ini mencapai 4,5. | Salah satu jenis ekosistem lahan basah yang disebut '''rawa payau''' terletak di daerah [[muara sungai]] atau estuari di mana terjadi percampuran antara air tawar dari aliran sungai dan air asin dari air laut. Tingkat salinitas air (kadar garam) di rawa payau biasanya antara 0,5 dan 30 gram per liter, dan ekosistem ini sangat dinamis karena tingkat salinitas airnya yang tinggi. Vegetasi khas yang mampu beradaptasi dengan kondisi air dengan kadar garam sedang dan tanah yang berlumpur dan jenuh air, seperti mangrove, seringkali menumbuhkan rawa payau.<ref>Priska Laely Widyastri. [https://doi.org/10.31227/osf.io/5nv9b Penyuntingan Sebagai Kompetensi Dasar Menulis dan Eksistensinya di Penerbit Gadjah Mada University Press]. ''doi.org''. 2019-06-29.</ref><ref>Priska Laely Widyastri. [https://doi.org/10.31227/osf.io/5nv9b Penyuntingan Sebagai Kompetensi Dasar Menulis dan Eksistensinya di Penerbit Gadjah Mada University Press]. ''doi.org''. 2019-06-29.</ref> Jika dilihat dari genangan air, rawa terbagi menjadi dua kategori: rawa yang airnya selalu tergenang dan rawa yang airnya tidak selalu tergenang. Air di rawa yang selalu tergenang tidak dapat digunakan untuk pertanian karena tanahnya ditutupi dengan tanah gambut yang tebal. Karena kadar asam yang tinggi dalam air di wilayah rawa yang selalu tergenang, hewan sulit ditemukan di sana. Derajat keasaman (pH) rawa jenis ini mencapai 4,5.<ref>admin. [https://www.pustakaindo.id/pengertian-rawa/ Pengertian Rawa, Jenis, Contoh dan Manfaat Rawa (Lengkap)]. ''PustakaIndo.id''. 2024-10-01.</ref> | ||
== Ciri dan Karakteristik == | == Ciri dan Karakteristik == | ||
Ciri-ciri fisik dan biologis tertentu membedakan rawa payau. Secara fisik, ekosistem ini terletak di daerah muara sungai (estuari) dan dicirikan oleh kondisi salinitas air yang berubah-ubah. Kadar garam (payau) ekosistem terdiri dari campuran air tawar dari daratan dan air asin dari laut. Pasang surut air laut dan jumlah aliran air sungai sangat memengaruhi perubahan salinitas ini. Area ini selalu tergenang air, atau setidaknya jenuh air, karena kondisi hidrologinya. Tanah rawa payau biasanya terdiri dari lumpur yang kaya bahan organik dan anaerob, artinya tidak ada oksigen di dalamnya, yang dapat menyebabkan tingginya kandungan pirit, yang merupakan asam, di dalam tanah. Secara biologis, rawa payau didominasi oleh vegetasi yang mengadaptasi diri terhadap tingkat garam tertentu, terutama [[Hutan mangrove|Hutan Mangrove]] (Bakau), yang memiliki sistem perakaran unik seperti akar napas atau akar tunjang untuk mengatasi kondisi air dan tanah yang ekstrem. Rawa payau terbentuk karena bagian rendah di sekitar muara sungai selalu digenangi oleh air yang meluap dari sungai dan pasang surut air laut. Pohon-pohon dan rerumputan seperti pohon bakau dan kayu ulin menumbuhi rawa payau. Di [[Kalimantan Tengah]] dan [[Kalimantan Selatan]], banyak rawa payau digunakan untuk persawahan pasang surut oleh pemerintah dan masyarakat. | Ciri-ciri fisik dan biologis tertentu membedakan rawa payau. Secara fisik, ekosistem ini terletak di daerah muara sungai (estuari) dan dicirikan oleh kondisi salinitas air yang berubah-ubah. Kadar garam (payau) ekosistem terdiri dari campuran air tawar dari daratan dan air asin dari laut. Pasang surut air laut dan jumlah aliran air sungai sangat memengaruhi perubahan salinitas ini. Area ini selalu tergenang air, atau setidaknya jenuh air, karena kondisi hidrologinya. Tanah rawa payau biasanya terdiri dari lumpur yang kaya bahan organik dan anaerob, artinya tidak ada oksigen di dalamnya, yang dapat menyebabkan tingginya kandungan pirit, yang merupakan asam, di dalam tanah. Secara biologis, rawa payau didominasi oleh vegetasi yang mengadaptasi diri terhadap tingkat garam tertentu, terutama [[Hutan mangrove|Hutan Mangrove]] (Bakau), yang memiliki sistem perakaran unik seperti akar napas atau akar tunjang untuk mengatasi kondisi air dan tanah yang ekstrem.<ref>Yoppie Christian. [https://doi.org/10.29244/agro-maritim.050105 Pendekatan Integrated Coastal Management (ICM) dalam Pengelolaan ROB dan Banjir]. ''Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika''. 2023-04-01. Vol. 5 (1). doi:10.29244/agro-maritim.050105.</ref> Rawa payau terbentuk karena bagian rendah di sekitar muara sungai selalu digenangi oleh air yang meluap dari sungai dan pasang surut air laut. Pohon-pohon dan rerumputan seperti pohon bakau dan kayu ulin menumbuhi rawa payau. Di [[Kalimantan Tengah]] dan [[Kalimantan Selatan]], banyak rawa payau digunakan untuk persawahan pasang surut oleh pemerintah dan masyarakat.<ref>admin. [https://www.pustakaindo.id/pengertian-rawa/ Pengertian Rawa, Jenis, Contoh dan Manfaat Rawa (Lengkap)]. ''PustakaIndo.id''. 2024-10-01.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rawa+payau&oldid=29404901 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29404901 (2026-06-30T16:33:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rawa+payau&oldid=29404901 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29404901 (2026-06-30T16:33:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.14
Salah satu jenis ekosistem lahan basah yang disebut rawa payau terletak di daerah muara sungai atau estuari di mana terjadi percampuran antara air tawar dari aliran sungai dan air asin dari air laut. Tingkat salinitas air (kadar garam) di rawa payau biasanya antara 0,5 dan 30 gram per liter, dan ekosistem ini sangat dinamis karena tingkat salinitas airnya yang tinggi. Vegetasi khas yang mampu beradaptasi dengan kondisi air dengan kadar garam sedang dan tanah yang berlumpur dan jenuh air, seperti mangrove, seringkali menumbuhkan rawa payau.[1][2] Jika dilihat dari genangan air, rawa terbagi menjadi dua kategori: rawa yang airnya selalu tergenang dan rawa yang airnya tidak selalu tergenang. Air di rawa yang selalu tergenang tidak dapat digunakan untuk pertanian karena tanahnya ditutupi dengan tanah gambut yang tebal. Karena kadar asam yang tinggi dalam air di wilayah rawa yang selalu tergenang, hewan sulit ditemukan di sana. Derajat keasaman (pH) rawa jenis ini mencapai 4,5.[3]
Ciri dan Karakteristik
Ciri-ciri fisik dan biologis tertentu membedakan rawa payau. Secara fisik, ekosistem ini terletak di daerah muara sungai (estuari) dan dicirikan oleh kondisi salinitas air yang berubah-ubah. Kadar garam (payau) ekosistem terdiri dari campuran air tawar dari daratan dan air asin dari laut. Pasang surut air laut dan jumlah aliran air sungai sangat memengaruhi perubahan salinitas ini. Area ini selalu tergenang air, atau setidaknya jenuh air, karena kondisi hidrologinya. Tanah rawa payau biasanya terdiri dari lumpur yang kaya bahan organik dan anaerob, artinya tidak ada oksigen di dalamnya, yang dapat menyebabkan tingginya kandungan pirit, yang merupakan asam, di dalam tanah. Secara biologis, rawa payau didominasi oleh vegetasi yang mengadaptasi diri terhadap tingkat garam tertentu, terutama Hutan Mangrove (Bakau), yang memiliki sistem perakaran unik seperti akar napas atau akar tunjang untuk mengatasi kondisi air dan tanah yang ekstrem.[4] Rawa payau terbentuk karena bagian rendah di sekitar muara sungai selalu digenangi oleh air yang meluap dari sungai dan pasang surut air laut. Pohon-pohon dan rerumputan seperti pohon bakau dan kayu ulin menumbuhi rawa payau. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, banyak rawa payau digunakan untuk persawahan pasang surut oleh pemerintah dan masyarakat.[5]
Referensi
- ↑ Priska Laely Widyastri. Penyuntingan Sebagai Kompetensi Dasar Menulis dan Eksistensinya di Penerbit Gadjah Mada University Press. doi.org. 2019-06-29.
- ↑ Priska Laely Widyastri. Penyuntingan Sebagai Kompetensi Dasar Menulis dan Eksistensinya di Penerbit Gadjah Mada University Press. doi.org. 2019-06-29.
- ↑ admin. Pengertian Rawa, Jenis, Contoh dan Manfaat Rawa (Lengkap). PustakaIndo.id. 2024-10-01.
- ↑ Yoppie Christian. Pendekatan Integrated Coastal Management (ICM) dalam Pengelolaan ROB dan Banjir. Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika. 2023-04-01. Vol. 5 (1). doi:10.29244/agro-maritim.050105.
- ↑ admin. Pengertian Rawa, Jenis, Contoh dan Manfaat Rawa (Lengkap). PustakaIndo.id. 2024-10-01.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29404901 (2026-06-30T16:33:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.