Lompat ke isi

Kelulus: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28768922; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kelulus''' atau '''kalulus''' adalah salah satu jenis perahu dayung yang digunakan di [[Nusantara]]. Biasanya berukuran kecil dan digerakkan menggunakan dayung. Namun, untuk perjalanan jarak jauh, perahu ini bisa dilengkapi dengan layar. Perahu ini tidak sama dengan perahu kalulis dari bagian timur Nusantara.
[[File:Calaluz_de_Batavia.png|thumb|right|280px|Calaluz de Batavia]]
 
'''Kelulus''' atau '''kalulus''' adalah salah satu jenis perahu dayung yang digunakan di [[Nusantara]]. Biasanya berukuran kecil dan digerakkan menggunakan dayung. Namun, untuk perjalanan jarak jauh, perahu ini bisa dilengkapi dengan layar.<ref>J. V. Mills. [https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.281670/page/n1/mode/2up Eredia's Description of Malaca, Meridional India, and Cathay]. ''Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society''. 1930. Vol. 8.</ref> Perahu ini tidak sama dengan perahu kalulis dari bagian timur Nusantara.


== Etimologi ==
== Etimologi ==
Nama "kelulus" tampaknya berasal dari kata bahasa Jawa "lulus", yang berarti "melewati apa saja". Menurut Hobson-Jobson, terjemahan harfiahnya adalah "si penyusup".
Nama "kelulus" tampaknya berasal dari kata bahasa Jawa "lulus", yang berarti "melewati apa saja". Menurut Hobson-Jobson, terjemahan harfiahnya adalah "si penyusup".<ref>Sir Henry Yule. [https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.506702/page/n191/mode/2up?q= Hobson-Jobson: The Anglo-Indian Dictionary]. Wordsworth Editions Ltd. 1886. hlm. 143.</ref>


== Deskripsi ==
== Deskripsi ==
Laporan awal mengenai kelulus adalah dari Hikayat Raja-Raja Pasai dari abad ke-14, kelulus dikatakan sebagai salah satu jenis perahu yang digunakan Majapahit. Meskipun tidak terdeskripsikan dengan baik, kelulus adalah salah satu jenis perahu utama Majapahit setelah [[Jung Jawa|jong]] dan [[malangbang]].
Laporan awal mengenai kelulus adalah dari Hikayat Raja-Raja Pasai dari abad ke-14, kelulus dikatakan sebagai salah satu jenis perahu yang digunakan Majapahit. Meskipun tidak terdeskripsikan dengan baik, kelulus adalah salah satu jenis perahu utama Majapahit setelah [[Jung Jawa|jong]] dan [[malangbang]].<ref>Nugroho (2011). h. 286, mengutip ''Hikayat Raja-Raja Pasai''", 3: 98: "Sa-telah itu, maka di-suroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.". Juga lihat Hill (Juni 1960), h. 98 dan 157: ''Then he directed them to make ready all the equipment and munitions of war needed for an attack on the land of Pasai - about four hundred of the largest junks, and also many barges (malangbang) and galleys.''</ref>


Dari catatan [[Kerajaan Portugal|Portugis]], mereka ditulis sebagai ''calaluz'' (''calaluzes'' untuk bentuk jamaknya). Portugis melaporkannya sebagai "Suatu jenis perahu dayung cepat yang digunakan di [[Kepulauan Melayu|Kepulauan Hindia]]".
Dari catatan [[Kerajaan Portugal|Portugis]], mereka ditulis sebagai ''calaluz'' (''calaluzes'' untuk bentuk jamaknya). Portugis melaporkannya sebagai "Suatu jenis perahu dayung cepat yang digunakan di [[Kepulauan Melayu|Kepulauan Hindia]]".<ref>Fernão Mendes Pinto. [https://archive.org/details/the-travels-of-mendes-pinto/page/681/mode/2up?q The Travels of Mendes Pinto]. University of Chicago Press. 2014. ISBN 978-0-226-92323-9.</ref><ref>Catz, Rebecca D. (1989). ''[https://archive.org/details/travelsofmendesp0000pint/page/n5/mode/2up?q= The travels of Mendes Pinto]''. Chicago: University of Chicago Press.</ref>


Sekitar tahun 1500 M, [[Kesultanan Melaka]] menentang Siam dengan 200 perahu yang terdiri dari [[Lancaran (kapal)|lancaran]] dan kelulus. Setelah Sultan [[Mahmud Syah dari Melaka|Mahmud Shah dari Melaka]] digulingkan dari [[Kota Melaka|Melaka]] pada tahun 1511, ia mengambil alih [[Bintan]]. Pada tahun 1519 dan 1520 ia memiliki armada yang masing-masing terdiri dari 60 dan 100 perahu, keduanya terdiri dari lancaran dan kelulus.
Sekitar tahun 1500 M, [[Kesultanan Melaka]] menentang Siam dengan 200 perahu yang terdiri dari [[Lancaran (kapal)|lancaran]] dan kelulus. Setelah Sultan [[Mahmud Syah dari Melaka|Mahmud Shah dari Melaka]] digulingkan dari [[Kota Melaka|Melaka]] pada tahun 1511, ia mengambil alih [[Bintan]]. Pada tahun 1519 dan 1520 ia memiliki armada yang masing-masing terdiri dari 60 dan 100 perahu, keduanya terdiri dari lancaran dan kelulus.<ref>Manguin, Pierre-Yves (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', dalam Anthony Reid (ed.), ''Southeast Asia in the Early Modern Era'' (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197–213.</ref>


[[Tomé Pires|Tome Pires]] pada tahun 1513 melaporkan bahwa pati ([[Adipati|duke]]) dari [[Jawa]] memiliki banyak ''calaluz'' untuk menjarah, dan dijelaskan bahwa:<blockquote class="">...tetapi mereka tidak cocok untuk pergi jauh dari daratan. Kelulus adalah perahu khas Jawa. Mereka diukir dalam seribu satu cara, dengan gambaran ular/naga, dan emas; mereka berornamen. Masing-masing dari mereka (para pati) memiliki banyak dari mereka, dan mereka dicat dengan indah, dan mereka pasti terlihat baik dan dibuat dalam cara yang sangat elegan, dan mereka adalah untuk raja-raja untuk menghibur diri mereka sendiri, jauh dari orang-orang biasa. Mereka didayung dengan dayung pendek.</blockquote><blockquote>... Mereka pergi dengan kereta kencana, dan jika mereka pergi lewat laut mereka pergi dengan ''calaluz'' yang dicat, sangat bersih dan ornamental, dengan banyak sekali kanopi sampai-sampai pendayungnya tidak bisa dilihat oleh tuannya;</blockquote>
[[Tomé Pires|Tome Pires]] pada tahun 1513 melaporkan bahwa pati ([[Adipati|duke]]) dari [[Jawa]] memiliki banyak ''calaluz'' untuk menjarah, dan dijelaskan bahwa:<blockquote class="">...tetapi mereka tidak cocok untuk pergi jauh dari daratan. Kelulus adalah perahu khas Jawa. Mereka diukir dalam seribu satu cara, dengan gambaran ular/naga, dan emas; mereka berornamen. Masing-masing dari mereka (para pati) memiliki banyak dari mereka, dan mereka dicat dengan indah, dan mereka pasti terlihat baik dan dibuat dalam cara yang sangat elegan, dan mereka adalah untuk raja-raja untuk menghibur diri mereka sendiri, jauh dari orang-orang biasa. Mereka didayung dengan dayung pendek.</blockquote><blockquote>... Mereka pergi dengan kereta kencana, dan jika mereka pergi lewat laut mereka pergi dengan ''calaluz'' yang dicat, sangat bersih dan ornamental, dengan banyak sekali kanopi sampai-sampai pendayungnya tidak bisa dilihat oleh tuannya;<ref>Tome Pires. [https://archive.org/details/McGillLibrary-136385-182 The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515]. The Hakluyt Society. 1944. ISBN 9784000085052.</ref></blockquote>


Pada tahun 1537, kelulus [[Suku Jawa|Jawa]] yang ditemui di Patani digambarkan memiliki dua baris dayung: Salah satunya adalah dari dayung pendek, yang lain adalah "seperti [[galai]]" (dayung panjang); mereka membawa 100 prajurit, dengan banyak [[artileri]] dan [[senjata api]]. Gonçalo de Souza, di ''Coriosidades'' menulis bahwa mereka memiliki 27 dayung (54 pendayung?) dan 20 tentara dan bersenjata dengan [[Meriam kecil|meriam putar]] ([[Lela|''falconselhos'']]) pada haluan dan buritan.
Pada tahun 1537, kelulus [[Suku Jawa|Jawa]] yang ditemui di Patani digambarkan memiliki dua baris dayung: Salah satunya adalah dari dayung pendek, yang lain adalah "seperti [[galai]]" (dayung panjang); mereka membawa 100 prajurit, dengan banyak [[artileri]] dan [[senjata api]]. Gonçalo de Souza, di ''Coriosidades'' menulis bahwa mereka memiliki 27 dayung (54 pendayung?) dan 20 tentara dan bersenjata dengan [[Meriam kecil|meriam putar]] ([[Lela|''falconselhos'']]) pada haluan dan buritan.<ref>''Coriosidades de Gonçalo de Souza'', manuscript in the Biblioteca da Universidade de Coimbra, Ms. 3074, fol. 38vo.</ref><ref>Geoff Wade. ''Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past''. Institute of Southeast Asian Studies. 2012. ISBN 978-9814311960.</ref>


Kamus [[Bahasa Spanyol|Spanyol]] menulis mereka sebagai "perahu kecil yang digunakan di [[Hindia|Hindia Timur]]".
Kamus [[Bahasa Spanyol|Spanyol]] menulis mereka sebagai "perahu kecil yang digunakan di [[Hindia|Hindia Timur]]".


Sejarawan Portugis [[Antonio Galvao|António Galvão]] pada 1544 membuat risalah tentang [[Maluku]], yang mencantumkan jenis-jenis perahu dari wilayah tersebut, termasuk di antaranya adalah kalulus. Dia menggambarkan lambungnya sebagai berbentuk seperti telur di bagian tengah tetapi melekuk ke atas di kedua ujungnya. Di haluan mereka berbentuk seperti leher [[ular]] yang tinggi dengan kepala [[naga]] dan tanduk [[rusa]].
Sejarawan Portugis [[Antonio Galvao|António Galvão]] pada 1544 membuat risalah tentang [[Maluku]], yang mencantumkan jenis-jenis perahu dari wilayah tersebut, termasuk di antaranya adalah kalulus. Dia menggambarkan lambungnya sebagai berbentuk seperti telur di bagian tengah tetapi melekuk ke atas di kedua ujungnya. Di haluan mereka berbentuk seperti leher [[ular]] yang tinggi dengan kepala [[naga]] dan tanduk [[rusa]].<ref>António Galvão. ''A Treatise on the Moluccas (c. 1544), probably the preliminary version of António Galvão's lost Historia das Moluccas''. Jesuit Historical Institute. 1971.</ref>


== Kegunaan ==
== Kegunaan ==
Kelulus digunakan sebagai perahu angkut atau perahu perang. Ekspedisi laut Majapahit biasanya melibatkan kelulus, dengan jumlah yang tak terhitung. Para [[adipati]] Jawa memiliki banyak kelulus perang untuk menyerang desa-desa pesisir. Pada serangan [[Kesultanan Demak]] ke [[Melaka Portugis|portugis di Melaka]] pada tahun 1512–1513, kelulus digunakan sebagai angkutan pasukan bersenjata untuk mendarat ke pantai bersama [[Pangajava|penjajap]] dan lancaran, karena [[Djong (kapal)|jung Jawa]] terlalu besar untuk mendekati pantai.
Kelulus digunakan sebagai perahu angkut atau perahu perang. Ekspedisi laut Majapahit biasanya melibatkan kelulus, dengan jumlah yang tak terhitung.<ref>Nugroho (2011). h. 286, mengutip ''Hikayat Raja-Raja Pasai''", 3: 98: "Sa-telah itu, maka di-suroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.". Juga lihat Hill (Juni 1960), h. 98 dan 157: ''Then he directed them to make ready all the equipment and munitions of war needed for an attack on the land of Pasai - about four hundred of the largest junks, and also many barges (malangbang) and galleys.''</ref><ref>Adam (2019). [https://books.google.co.id/books?id=tNn7DwAAQBAJ&pg=PA128&dq=melangbang&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwio3tyOzubsAhWXF3IKHSecCYUQ6AEwCXoECAUQAg#v=onepage&q=melangbang&f=false h. 128]: "Setelah itu maka disuruh baginda musta'ibkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu; sekira-kira empat ratus jong yang besar-besar; dan lain daripada itu banyak lagi daripada melangbang [melambang] dan kelulus."</ref> Para [[adipati]] Jawa memiliki banyak kelulus perang untuk menyerang desa-desa pesisir. Pada serangan [[Kesultanan Demak]] ke [[Melaka Portugis|portugis di Melaka]] pada tahun 1512–1513, kelulus digunakan sebagai angkutan pasukan bersenjata untuk mendarat ke pantai bersama [[Pangajava|penjajap]] dan lancaran, karena [[Djong (kapal)|jung Jawa]] terlalu besar untuk mendekati pantai.<ref>Richard Olaf Winstedt. [https://archive.org/details/historyofmalaya0000wins A History of Malaya]. Marican & Sons. 1962.</ref>


[[Ratu Kalinyamat]] dari [[Jepara, Jepara|Jepara]] menyerang [[Melaka Portugis]] pada 1574 dengan 300 kapal, 220 di antaranya adalah kelulus dan sisanya adalah jong dengan berat ''[[burthen]]'' sampai dengan 400 ton. Serangan ini berakhir dengan kegagalan.
[[Ratu Kalinyamat]] dari [[Jepara, Jepara|Jepara]] menyerang [[Melaka Portugis]] pada 1574 dengan 300 kapal, 220 di antaranya adalah kelulus dan sisanya adalah jong dengan berat ''[[burthen]]'' sampai dengan 400 ton. Serangan ini berakhir dengan kegagalan.<ref>Manguin, Pierre-Yves (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', dalam Anthony Reid (ed.), ''Southeast Asia in the Early Modern Era'' (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197–213.</ref><ref>Marsden, William (1783). ''The History of Sumatra: Containing an Account of the Government, Laws, Customs, and Manners of the Native Inhabitants.'' London: W. Marsden. hlm. 350–351.</ref>


Pada tahun 1600, raja Chiay Masiuro (atau Chiaymasiouro) dari [[Kesultanan Demak|Demak]] menggunakan ''calelus'' dari Blambangan yang telah dilengkapi dengan dayung dan layar, untuk berlayar ke Selatan. Setelah 12 hari, ia [[Kontak Jawa dengan Australia|tiba di Luca Antara]] atau [[Java la Grande|Java Major]], yang diyakini sebagai [[Australia]]. Di sana ia diterima oleh seorang [[syahbandar]], dan tinggal selama beberapa hari. Chiaymasiuro menemukan bahwa penduduknya adalah orang Jawa, tetapi dengan budaya campuran Jawa, Sunda, dan Bali. Setelah kembali ke Blambangan, berita tentang pelayaran itu membuat kejutan besar dan kemahsyuran publik di Jawa.
Pada tahun 1600, raja Chiay Masiuro (atau Chiaymasiouro) dari [[Kesultanan Demak|Demak]] menggunakan ''calelus'' dari Blambangan yang telah dilengkapi dengan dayung dan layar, untuk berlayar ke Selatan. Setelah 12 hari, ia [[Kontak Jawa dengan Australia|tiba di Luca Antara]] atau [[Java la Grande|Java Major]], yang diyakini sebagai [[Australia]]. Di sana ia diterima oleh seorang [[syahbandar]], dan tinggal selama beberapa hari. Chiaymasiuro menemukan bahwa penduduknya adalah orang Jawa, tetapi dengan budaya campuran Jawa, Sunda, dan Bali. Setelah kembali ke Blambangan, berita tentang pelayaran itu membuat kejutan besar dan kemahsyuran publik di Jawa.<ref>J. V. Mills. [https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.281670/page/n1/mode/2up Eredia's Description of Malaca, Meridional India, and Cathay]. ''Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society''. 1930. Vol. 8.</ref>


== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
* [[Pangajava|Penjajap]]
* [[Pangajava|Penjajap]]
* [[Djong (kapal)|Djong]]
* [[Djong (kapal)|Djong]]
* [[Lancaran (kapal)]]
* [[Lancaran (kapal)]]
* [[Kora-kora]]
* [[Kora-kora]]
== Referensi ==


== Bacaan lanjutan ==
== Bacaan lanjutan ==
* Adam, Ahmat (2019). [https://books.google.co.id/books?id=tNn7DwAAQBAJ&dq= Hikayat Raja Pasai]. SIRD. .
* Adam, Ahmat (2019). [https://books.google.co.id/books?id=tNn7DwAAQBAJ&dq= Hikayat Raja Pasai]. SIRD. .
* Hill, A. H. (Juni 1960). "[[iarchive:hikayat-raja-raja-pasai/page/2/mode/2up|Hikayat Raja-Raja Pasai]]". ''Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society''. '''33''': 1–215.
* Hill, A. H. (Juni 1960). "[[iarchive:hikayat-raja-raja-pasai/page/2/mode/2up|Hikayat Raja-Raja Pasai]]". ''Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society''. '''33''': 1–215.
* Nugroho, Irawan Djoko (2011). ''Majapahit Peradaban Maritim''. Suluh Nuswantara Bakti. [[Istimewa:Sumber buku/978-602-9346-00-8|ISBN 978-602-9346-00-8]].
* Nugroho, Irawan Djoko (2011). ''Majapahit Peradaban Maritim''. Suluh Nuswantara Bakti. [[Istimewa:Sumber buku/978-602-9346-00-8|ISBN 978-602-9346-00-8]].


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kelulus&oldid=28768922 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28768922 (2026-01-02T01:13:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kelulus&oldid=28768922 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28768922 (2026-01-02T01:13:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 30 Agustus 2026 03.59

Calaluz de Batavia

Kelulus atau kalulus adalah salah satu jenis perahu dayung yang digunakan di Nusantara. Biasanya berukuran kecil dan digerakkan menggunakan dayung. Namun, untuk perjalanan jarak jauh, perahu ini bisa dilengkapi dengan layar.[1] Perahu ini tidak sama dengan perahu kalulis dari bagian timur Nusantara.

Etimologi

Nama "kelulus" tampaknya berasal dari kata bahasa Jawa "lulus", yang berarti "melewati apa saja". Menurut Hobson-Jobson, terjemahan harfiahnya adalah "si penyusup".[2]

Deskripsi

Laporan awal mengenai kelulus adalah dari Hikayat Raja-Raja Pasai dari abad ke-14, kelulus dikatakan sebagai salah satu jenis perahu yang digunakan Majapahit. Meskipun tidak terdeskripsikan dengan baik, kelulus adalah salah satu jenis perahu utama Majapahit setelah jong dan malangbang.[3]

Dari catatan Portugis, mereka ditulis sebagai calaluz (calaluzes untuk bentuk jamaknya). Portugis melaporkannya sebagai "Suatu jenis perahu dayung cepat yang digunakan di Kepulauan Hindia".[4][5]

Sekitar tahun 1500 M, Kesultanan Melaka menentang Siam dengan 200 perahu yang terdiri dari lancaran dan kelulus. Setelah Sultan Mahmud Shah dari Melaka digulingkan dari Melaka pada tahun 1511, ia mengambil alih Bintan. Pada tahun 1519 dan 1520 ia memiliki armada yang masing-masing terdiri dari 60 dan 100 perahu, keduanya terdiri dari lancaran dan kelulus.[6]

Tome Pires pada tahun 1513 melaporkan bahwa pati (duke) dari Jawa memiliki banyak calaluz untuk menjarah, dan dijelaskan bahwa:

...tetapi mereka tidak cocok untuk pergi jauh dari daratan. Kelulus adalah perahu khas Jawa. Mereka diukir dalam seribu satu cara, dengan gambaran ular/naga, dan emas; mereka berornamen. Masing-masing dari mereka (para pati) memiliki banyak dari mereka, dan mereka dicat dengan indah, dan mereka pasti terlihat baik dan dibuat dalam cara yang sangat elegan, dan mereka adalah untuk raja-raja untuk menghibur diri mereka sendiri, jauh dari orang-orang biasa. Mereka didayung dengan dayung pendek.

... Mereka pergi dengan kereta kencana, dan jika mereka pergi lewat laut mereka pergi dengan calaluz yang dicat, sangat bersih dan ornamental, dengan banyak sekali kanopi sampai-sampai pendayungnya tidak bisa dilihat oleh tuannya;[7]

Pada tahun 1537, kelulus Jawa yang ditemui di Patani digambarkan memiliki dua baris dayung: Salah satunya adalah dari dayung pendek, yang lain adalah "seperti galai" (dayung panjang); mereka membawa 100 prajurit, dengan banyak artileri dan senjata api. Gonçalo de Souza, di Coriosidades menulis bahwa mereka memiliki 27 dayung (54 pendayung?) dan 20 tentara dan bersenjata dengan meriam putar (falconselhos) pada haluan dan buritan.[8][9]

Kamus Spanyol menulis mereka sebagai "perahu kecil yang digunakan di Hindia Timur".

Sejarawan Portugis António Galvão pada 1544 membuat risalah tentang Maluku, yang mencantumkan jenis-jenis perahu dari wilayah tersebut, termasuk di antaranya adalah kalulus. Dia menggambarkan lambungnya sebagai berbentuk seperti telur di bagian tengah tetapi melekuk ke atas di kedua ujungnya. Di haluan mereka berbentuk seperti leher ular yang tinggi dengan kepala naga dan tanduk rusa.[10]

Kegunaan

Kelulus digunakan sebagai perahu angkut atau perahu perang. Ekspedisi laut Majapahit biasanya melibatkan kelulus, dengan jumlah yang tak terhitung.[11][12] Para adipati Jawa memiliki banyak kelulus perang untuk menyerang desa-desa pesisir. Pada serangan Kesultanan Demak ke portugis di Melaka pada tahun 1512–1513, kelulus digunakan sebagai angkutan pasukan bersenjata untuk mendarat ke pantai bersama penjajap dan lancaran, karena jung Jawa terlalu besar untuk mendekati pantai.[13]

Ratu Kalinyamat dari Jepara menyerang Melaka Portugis pada 1574 dengan 300 kapal, 220 di antaranya adalah kelulus dan sisanya adalah jong dengan berat burthen sampai dengan 400 ton. Serangan ini berakhir dengan kegagalan.[14][15]

Pada tahun 1600, raja Chiay Masiuro (atau Chiaymasiouro) dari Demak menggunakan calelus dari Blambangan yang telah dilengkapi dengan dayung dan layar, untuk berlayar ke Selatan. Setelah 12 hari, ia tiba di Luca Antara atau Java Major, yang diyakini sebagai Australia. Di sana ia diterima oleh seorang syahbandar, dan tinggal selama beberapa hari. Chiaymasiuro menemukan bahwa penduduknya adalah orang Jawa, tetapi dengan budaya campuran Jawa, Sunda, dan Bali. Setelah kembali ke Blambangan, berita tentang pelayaran itu membuat kejutan besar dan kemahsyuran publik di Jawa.[16]

Lihat juga

Bacaan lanjutan

Referensi

  1. J. V. Mills. Eredia's Description of Malaca, Meridional India, and Cathay. Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society. 1930. Vol. 8.
  2. Sir Henry Yule. Hobson-Jobson: The Anglo-Indian Dictionary. Wordsworth Editions Ltd. 1886. hlm. 143.
  3. Nugroho (2011). h. 286, mengutip Hikayat Raja-Raja Pasai", 3: 98: "Sa-telah itu, maka di-suroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.". Juga lihat Hill (Juni 1960), h. 98 dan 157: Then he directed them to make ready all the equipment and munitions of war needed for an attack on the land of Pasai - about four hundred of the largest junks, and also many barges (malangbang) and galleys.
  4. Fernão Mendes Pinto. The Travels of Mendes Pinto. University of Chicago Press. 2014. ISBN 978-0-226-92323-9.
  5. Catz, Rebecca D. (1989). The travels of Mendes Pinto. Chicago: University of Chicago Press.
  6. Manguin, Pierre-Yves (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', dalam Anthony Reid (ed.), Southeast Asia in the Early Modern Era (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197–213.
  7. Tome Pires. The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515. The Hakluyt Society. 1944. ISBN 9784000085052.
  8. Coriosidades de Gonçalo de Souza, manuscript in the Biblioteca da Universidade de Coimbra, Ms. 3074, fol. 38vo.
  9. Geoff Wade. Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past. Institute of Southeast Asian Studies. 2012. ISBN 978-9814311960.
  10. António Galvão. A Treatise on the Moluccas (c. 1544), probably the preliminary version of António Galvão's lost Historia das Moluccas. Jesuit Historical Institute. 1971.
  11. Nugroho (2011). h. 286, mengutip Hikayat Raja-Raja Pasai", 3: 98: "Sa-telah itu, maka di-suroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.". Juga lihat Hill (Juni 1960), h. 98 dan 157: Then he directed them to make ready all the equipment and munitions of war needed for an attack on the land of Pasai - about four hundred of the largest junks, and also many barges (malangbang) and galleys.
  12. Adam (2019). h. 128: "Setelah itu maka disuruh baginda musta'ibkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu; sekira-kira empat ratus jong yang besar-besar; dan lain daripada itu banyak lagi daripada melangbang [melambang] dan kelulus."
  13. Richard Olaf Winstedt. A History of Malaya. Marican & Sons. 1962.
  14. Manguin, Pierre-Yves (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', dalam Anthony Reid (ed.), Southeast Asia in the Early Modern Era (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197–213.
  15. Marsden, William (1783). The History of Sumatra: Containing an Account of the Government, Laws, Customs, and Manners of the Native Inhabitants. London: W. Marsden. hlm. 350–351.
  16. J. V. Mills. Eredia's Description of Malaca, Meridional India, and Cathay. Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society. 1930. Vol. 8.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28768922 (2026-01-02T01:13:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.