Jerman Nazi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29583437; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Hitler ditunjuk sebagai [[Kanselir Jerman]] oleh [[Presiden Jerman (1919–1945)|Presiden]] [[Republik Weimar]], [[Paul von Hindenburg]], pada 30 Januari 1933. NSDAP kemudian mulai melenyapkan semua lawan politik dan memperkuat kekuasaannya. Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934 dan Hitler menjadi diktator Jerman dengan menggabungkan jabatan dan kekuasaan Kanselir dan Presiden. [[Referendum Jerman 1934|Referendum nasional]] yang diselenggarakan pada 19 Agustus 1934 mengukuhkan Hitler sebagai satu-satunya ''[[Führer]]'' (pemimpin) Jerman. Seluruh kekuasaan terpusat pada diri Hitler dan titahnya menjadi hukum tertinggi. Pemerintah bukanlah sebuah badan terkoordinasi yang bekerja sama, tetapi sekumpulan faksi yang berjuang untuk memperoleh kekuasaan dan meraih dukungan Hitler. Di tengah-tengah [[Depresi Hebat]], rezim Nazi memulihkan kestabilan ekonomi dan mengakhiri pengangguran massal melalui kebijakan militer dan [[ekonomi campuran]]. Dengan belanja negara melebihi pendapatan, rezim ini mampu menggalakkan pekerjaan umum, termasuk pembangunan ''[[Reichsautobahn|Autobahnen]]'' (jalan raya). Pulihnya ekonomi Jerman meningkatkan kepopuleran rezim Nazi. | Hitler ditunjuk sebagai [[Kanselir Jerman]] oleh [[Presiden Jerman (1919–1945)|Presiden]] [[Republik Weimar]], [[Paul von Hindenburg]], pada 30 Januari 1933. NSDAP kemudian mulai melenyapkan semua lawan politik dan memperkuat kekuasaannya. Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934 dan Hitler menjadi diktator Jerman dengan menggabungkan jabatan dan kekuasaan Kanselir dan Presiden. [[Referendum Jerman 1934|Referendum nasional]] yang diselenggarakan pada 19 Agustus 1934 mengukuhkan Hitler sebagai satu-satunya ''[[Führer]]'' (pemimpin) Jerman. Seluruh kekuasaan terpusat pada diri Hitler dan titahnya menjadi hukum tertinggi. Pemerintah bukanlah sebuah badan terkoordinasi yang bekerja sama, tetapi sekumpulan faksi yang berjuang untuk memperoleh kekuasaan dan meraih dukungan Hitler. Di tengah-tengah [[Depresi Hebat]], rezim Nazi memulihkan kestabilan ekonomi dan mengakhiri pengangguran massal melalui kebijakan militer dan [[ekonomi campuran]]. Dengan belanja negara melebihi pendapatan, rezim ini mampu menggalakkan pekerjaan umum, termasuk pembangunan ''[[Reichsautobahn|Autobahnen]]'' (jalan raya). Pulihnya ekonomi Jerman meningkatkan kepopuleran rezim Nazi. | ||
Meskipun [[Operasi Barbarossa|invasi Jerman]] terhadap Uni Soviet pada tahun 1941 awalnya berhasil, kebangkitan Soviet dan masuknya [[Amerika Serikat]] ke kancah peperangan menyebabkan kekuatan ''[[Wehrmacht]]'' (angkatan bersenjata Jerman) melemah di Front Timur pada tahun 1943, dan pada akhir 1944, Jerman berhasil didorong mundur ke perbatasan pra-1939. Pengeboman udara berskala besar terhadap Jerman meningkat pada tahun 1944 dan [[kekuatan Poros]] dipaksa mundur ke Eropa Timur dan Selatan. Setelah [[Pendaratan Normandia|Sekutu menginvasi Prancis]], Jerman dipukul mundur oleh Uni Soviet di timur dan oleh [[Sekutu Perang Dunia II|Sekutu lainnya]] di barat. Hitler menolak menyerah, sehingga perang terus berkobar dan menyebabkan kehancuran besar-besaran infrastruktur Jerman dan bertambahnya korban jiwa pada bulan-bulan terakhir perang. Akhirnya Hitler bunuh diri pada 30 April 1945 dan Jerman menyerah pada 8 Mei. Sekutu yang memenangkan perang memprakarsai kebijakan [[denazifikasi]] dan mengadili pejabat Nazi yang masih hidup atas kejahatan perang dalam [[peradilan Nürnberg]]. | Meskipun [[Operasi Barbarossa|invasi Jerman]] terhadap Uni Soviet pada tahun 1941 awalnya berhasil, kebangkitan Soviet dan masuknya [[Amerika Serikat]] ke kancah peperangan menyebabkan kekuatan ''[[Wehrmacht]]'' (angkatan bersenjata Jerman) melemah di Front Timur pada tahun 1943, dan pada akhir 1944, Jerman berhasil didorong mundur ke perbatasan pra-1939. Pengeboman udara berskala besar terhadap Jerman meningkat pada tahun 1944 dan [[kekuatan Poros]] dipaksa mundur ke Eropa Timur dan Selatan. Setelah [[Pendaratan Normandia|Sekutu menginvasi Prancis]], Jerman dipukul mundur oleh Uni Soviet di timur dan oleh [[Sekutu Perang Dunia II|Sekutu lainnya]] di barat. Hitler menolak menyerah, sehingga perang terus berkobar dan menyebabkan kehancuran besar-besaran infrastruktur Jerman dan bertambahnya korban jiwa pada bulan-bulan terakhir perang. Akhirnya Hitler bunuh diri pada 30 April 1945 dan Jerman menyerah pada 8 Mei. Sekutu yang memenangkan perang memprakarsai kebijakan [[denazifikasi]] dan mengadili pejabat Nazi yang masih hidup atas kejahatan perang dalam [[peradilan Nürnberg]]. | ||
| Baris 17: | Baris 14: | ||
Jerman dikenal dengan nama [[Republik Weimar]] antara tahun 1919 sampai 1933. Bentuk pemerintahannya adalah [[republik]] dengan [[sistem semipresidensial]]. Republik Weimar menghadapi sejumlah masalah, seperti [[Hiperinflasi di Republik Weimar|hiperinflasi]], ekstremisme politik (termasuk kekerasan oleh paramiliter sayap kiri dan kanan), pertikaian dengan [[Sekutu Perang Dunia I|Sekutu]] yang memenangkan [[Perang Dunia I]], dan kegagalan partai-partai yang terpecah belah dalam upaya membentuk koalisi pemerintahan. Kemerosotan parah perekonomian Jerman dimulai setelah Perang Dunia I berakhir, terutama karena harus membayar [[Pemulihan Perang Dunia I|pampasan perang]] yang disyaratkan oleh [[Perjanjian Versailles]] 1919. Pemerintah mencetak uang untuk membayar pampasan serta utang negara yang ditimbulkan oleh perang, tetapi hal ini memicu hiperinflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang-barang konsumsi, kekacauan ekonomi, dan huru-hara yang dipicu kekurangan pangan. Ketika pemerintah gagal membayar pampasan perang pada Januari 1923, tentara Prancis [[Pendudukan Ruhr|menduduki kawasan industri Jerman]] di sepanjang Sungai [[Ruhr]] dan hal ini pun memicu kerusuhan. | Jerman dikenal dengan nama [[Republik Weimar]] antara tahun 1919 sampai 1933. Bentuk pemerintahannya adalah [[republik]] dengan [[sistem semipresidensial]]. Republik Weimar menghadapi sejumlah masalah, seperti [[Hiperinflasi di Republik Weimar|hiperinflasi]], ekstremisme politik (termasuk kekerasan oleh paramiliter sayap kiri dan kanan), pertikaian dengan [[Sekutu Perang Dunia I|Sekutu]] yang memenangkan [[Perang Dunia I]], dan kegagalan partai-partai yang terpecah belah dalam upaya membentuk koalisi pemerintahan. Kemerosotan parah perekonomian Jerman dimulai setelah Perang Dunia I berakhir, terutama karena harus membayar [[Pemulihan Perang Dunia I|pampasan perang]] yang disyaratkan oleh [[Perjanjian Versailles]] 1919. Pemerintah mencetak uang untuk membayar pampasan serta utang negara yang ditimbulkan oleh perang, tetapi hal ini memicu hiperinflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang-barang konsumsi, kekacauan ekonomi, dan huru-hara yang dipicu kekurangan pangan. Ketika pemerintah gagal membayar pampasan perang pada Januari 1923, tentara Prancis [[Pendudukan Ruhr|menduduki kawasan industri Jerman]] di sepanjang Sungai [[Ruhr]] dan hal ini pun memicu kerusuhan. | ||
Ketika pasar saham di Amerika Serikat [[Keruntuhan Wall Street 1929|mengalami kejatuhan pada 24 Oktober 1929]], dampaknya terhadap Jerman sangat parah. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan beberapa bank besar bertumbangan. Hitler dan NSDAP bersiap-siap untuk memanfaatkan kekacauan ini demi meraih dukungan bagi partai mereka. Mereka berjanji akan memperkuat perekonomian dan menyediakan lapangan kerja. Banyak pemilih yang menganggap NSDAP mampu memulihkan ketertiban, memadamkan kerusuhan, dan meningkatkan reputasi internasional Jerman. Setelah [[Pemilihan umum federal Jerman Juli 1932|pemilihan umum federal tahun 1932]], NSDAP menjadi partai terbesar di [[Reichstag (Republik Weimar)|Reichstag]], meraih 230 kursi dengan mandat dari 37,4 persen suara rakyat. | Ketika pasar saham di Amerika Serikat [[Keruntuhan Wall Street 1929|mengalami kejatuhan pada 24 Oktober 1929]], dampaknya terhadap Jerman sangat parah. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan beberapa bank besar bertumbangan. Hitler dan NSDAP bersiap-siap untuk memanfaatkan kekacauan ini demi meraih dukungan bagi partai mereka. Mereka berjanji akan memperkuat perekonomian dan menyediakan lapangan kerja. Banyak pemilih yang menganggap NSDAP mampu memulihkan ketertiban, memadamkan kerusuhan, dan meningkatkan reputasi internasional Jerman. Setelah [[Pemilihan umum federal Jerman Juli 1932|pemilihan umum federal tahun 1932]], NSDAP menjadi partai terbesar di [[Reichstag (Republik Weimar)|Reichstag]], meraih 230 kursi dengan mandat dari 37,4 persen suara rakyat. | ||
| Baris 36: | Baris 32: | ||
Kabinet Hitler menggunakan ketentuan dalam Maklumat Kebakaran Reichstag dan Undang-Undang Pemberian Kuasa untuk memulai proses ''Gleichschaltung'' ("koordinasi"), yang menempatkan seluruh aspek kehidupan di bawah kendali partai. Negara bagian yang pemerintah terpilihnya tidak berada di bawah kendali Nazi atau koalisi pimpinan Nazi dipaksa menyetujui penunjukan Komisaris Reich, yang berkewajiban memastikan agar negara bagian tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Para Komisaris ini memiliki kuasa untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat pemerintah daerah, anggota parlemen negara bagian, dan hakim. Melalui cara ini, Jerman secara ''de facto'' menjadi [[negara kesatuan]] karena semua pemerintah negara bagian dikendalikan oleh pemerintah pusat di bawah NSDAP. Parlemen negara bagian dan [[Reichsrat (Jerman)|Reichsrat]] (dewan perwakilan daerah) dihapuskan pada Januari 1934, dan segenap kekuasaan negara bagian dilimpahkan ke pemerintah pusat. | Kabinet Hitler menggunakan ketentuan dalam Maklumat Kebakaran Reichstag dan Undang-Undang Pemberian Kuasa untuk memulai proses ''Gleichschaltung'' ("koordinasi"), yang menempatkan seluruh aspek kehidupan di bawah kendali partai. Negara bagian yang pemerintah terpilihnya tidak berada di bawah kendali Nazi atau koalisi pimpinan Nazi dipaksa menyetujui penunjukan Komisaris Reich, yang berkewajiban memastikan agar negara bagian tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Para Komisaris ini memiliki kuasa untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat pemerintah daerah, anggota parlemen negara bagian, dan hakim. Melalui cara ini, Jerman secara ''de facto'' menjadi [[negara kesatuan]] karena semua pemerintah negara bagian dikendalikan oleh pemerintah pusat di bawah NSDAP. Parlemen negara bagian dan [[Reichsrat (Jerman)|Reichsrat]] (dewan perwakilan daerah) dihapuskan pada Januari 1934, dan segenap kekuasaan negara bagian dilimpahkan ke pemerintah pusat. | ||
Rezim Nazi menghapuskan simbol-simbol Republik Weimar (termasuk [[Bendera Jerman|bendera triwarna hitam, merah dan emas]]) dan menciptakan simbolisme baru. Bendera triwarna hitam, putih, dan merah yang dipakai kekaisaran sebelumnya digunakan kembali sebagai satu dari dua bendera resmi Jerman; satu lagi adalah [[Bendera Jerman#Nazi|bendera swastika]] NSDAP, yang menjadi satu-satunya bendera nasional pada tahun 1935. Mars partai NSDAP, "[[Horst-Wessel-Lied]]" ("Lagu Horst Wessel"), menjadi lagu kebangsaan kedua. | Rezim Nazi menghapuskan simbol-simbol Republik Weimar (termasuk [[Bendera Jerman|bendera triwarna hitam, merah dan emas]]) dan menciptakan simbolisme baru. Bendera triwarna hitam, putih, dan merah yang dipakai kekaisaran sebelumnya digunakan kembali sebagai satu dari dua bendera resmi Jerman; satu lagi adalah [[Bendera Jerman#Nazi|bendera swastika]] NSDAP, yang menjadi satu-satunya bendera nasional pada tahun 1935. Mars partai NSDAP, "[[Horst-Wessel-Lied]]" ("Lagu Horst Wessel"), menjadi lagu kebangsaan kedua. | ||
| Baris 50: | Baris 45: | ||
Kebanyakan warga Jerman merasa lega karena konflik dan perkelahian jalanan pada era Weimar telah berakhir. Mereka dibanjiri propaganda yang disusun oleh Menteri Penerangan Umum dan Propaganda, [[Joseph Goebbels]], yang menjanjikan perdamaian dan banyak hal lainnya bagi warga Jerman di negara bersatu yang bebas Marxis tanpa terhalang Perjanjian Versailles. NSDAP memperoleh dan mengesahkan kekuasaannya mula-mula melalui kegiatan revolusioner, kemudian melalui manipulasi mekanisme hukum, pemanfaatan wewenang kepolisian, serta dengan mengambil alih institusi pemerintah dan negara bagian. [[Kamp konsentrasi Nazi]] besar pertama (yang awalnya untuk tahanan politik) dibuka di [[Kamp konsentrasi Dachau|Dachau]] pada tahun 1933. Menjelang akhir [[Perang Dunia II]], terdapat ratusan kamp konsentrasi dengan berbagai ukuran dan fungsi yang telah didirikan oleh rezim Nazi. | Kebanyakan warga Jerman merasa lega karena konflik dan perkelahian jalanan pada era Weimar telah berakhir. Mereka dibanjiri propaganda yang disusun oleh Menteri Penerangan Umum dan Propaganda, [[Joseph Goebbels]], yang menjanjikan perdamaian dan banyak hal lainnya bagi warga Jerman di negara bersatu yang bebas Marxis tanpa terhalang Perjanjian Versailles. NSDAP memperoleh dan mengesahkan kekuasaannya mula-mula melalui kegiatan revolusioner, kemudian melalui manipulasi mekanisme hukum, pemanfaatan wewenang kepolisian, serta dengan mengambil alih institusi pemerintah dan negara bagian. [[Kamp konsentrasi Nazi]] besar pertama (yang awalnya untuk tahanan politik) dibuka di [[Kamp konsentrasi Dachau|Dachau]] pada tahun 1933. Menjelang akhir [[Perang Dunia II]], terdapat ratusan kamp konsentrasi dengan berbagai ukuran dan fungsi yang telah didirikan oleh rezim Nazi. | ||
=== Penguatan militer === | === Penguatan militer === | ||
| Baris 83: | Baris 77: | ||
=== Perang Dunia II === | === Perang Dunia II === | ||
Sejak awal perang, [[Blokade Jerman (1939–1945)|blokade Britania]] terhadap pengiriman barang ke Jerman sangat berdampak terhadap ekonominya. Jerman sangat bergantung pada impor minyak, batu bara, dan gandum. Akibat embargo perdagangan dan blokade ini, impor Jerman turun 80 persen. Untuk mengamankan pengiriman bijih besi dari Swedia ke Jerman, Hitler memerintahkan [[Operasi Weserübung|invasi Denmark dan Norwegia]], yang dimulai pada tanggal 9 April. [[Invasi Jerman di Denmark (1940)|Denmark jatuh pada hari itu juga]], sedangkan sebagian besar Norwegia [[Kampanye Norwegia|berhasil dikuasai]] pada akhir bulan yang sama. Pada awal Juni, Jerman telah [[Pendudukan Norwegia oleh Jerman Nazi|menduduki seluruh Norwegia]]. | Sejak awal perang, [[Blokade Jerman (1939–1945)|blokade Britania]] terhadap pengiriman barang ke Jerman sangat berdampak terhadap ekonominya. Jerman sangat bergantung pada impor minyak, batu bara, dan gandum. Akibat embargo perdagangan dan blokade ini, impor Jerman turun 80 persen. Untuk mengamankan pengiriman bijih besi dari Swedia ke Jerman, Hitler memerintahkan [[Operasi Weserübung|invasi Denmark dan Norwegia]], yang dimulai pada tanggal 9 April. [[Invasi Jerman di Denmark (1940)|Denmark jatuh pada hari itu juga]], sedangkan sebagian besar Norwegia [[Kampanye Norwegia|berhasil dikuasai]] pada akhir bulan yang sama. Pada awal Juni, Jerman telah [[Pendudukan Norwegia oleh Jerman Nazi|menduduki seluruh Norwegia]]. | ||
| Baris 122: | Baris 114: | ||
==== Korban jiwa Jerman ==== | ==== Korban jiwa Jerman ==== | ||
Pada akhir perang, Eropa menampung lebih dari 40 juta [[pengungsi]], perekonomian Jerman ambruk, dan 70 persen infrastruktur industri hancur. Warga etnis Jerman yang tidak mengungsi dari Eropa tengah, timur, dan tenggara menderita pembalasan brutal serta pengusiran oleh Uni Soviet dan negara-negara yang kemudian berdiri seperti [[Republik Rakyat Polandia|Polandia]] dan [[Cekoslowakia Ketiga|Cekoslowakia]]. Sekitar 12 hingga 14 juta warga etnis Jerman [[Pengusiran penduduk Jerman setelah Perang Dunia II|melarikan diri atau diusir]] dari negara asalnya, baik pada masa akhir perang maupun setelah perang berakhir. Pemerintah [[Jerman Barat]] memperkirakan sebanyak 2,2 juta warga sipil Jerman tewas dalam pelarian, pengusiran, dan [[Kerja paksa warga Jerman di Uni Soviet|kerja paksa di Uni Soviet]]. Angka ini tetap tak terbantahkan sampai tahun 1990-an, ketika beberapa sejarawan menyebutkan jumlah korban jiwa hanya sebanyak 500.000–600.000. Pada tahun 2006, pemerintah Jerman menegaskan kembali pernyataannya bahwa sebanyak 2-2,5 juta jiwa warga Jerman menjadi korban. | Pada akhir perang, Eropa menampung lebih dari 40 juta [[pengungsi]], perekonomian Jerman ambruk, dan 70 persen infrastruktur industri hancur. Warga etnis Jerman yang tidak mengungsi dari Eropa tengah, timur, dan tenggara menderita pembalasan brutal serta pengusiran oleh Uni Soviet dan negara-negara yang kemudian berdiri seperti [[Republik Rakyat Polandia|Polandia]] dan [[Cekoslowakia Ketiga|Cekoslowakia]]. Sekitar 12 hingga 14 juta warga etnis Jerman [[Pengusiran penduduk Jerman setelah Perang Dunia II|melarikan diri atau diusir]] dari negara asalnya, baik pada masa akhir perang maupun setelah perang berakhir. Pemerintah [[Jerman Barat]] memperkirakan sebanyak 2,2 juta warga sipil Jerman tewas dalam pelarian, pengusiran, dan [[Kerja paksa warga Jerman di Uni Soviet|kerja paksa di Uni Soviet]]. Angka ini tetap tak terbantahkan sampai tahun 1990-an, ketika beberapa sejarawan menyebutkan jumlah korban jiwa hanya sebanyak 500.000–600.000. Pada tahun 2006, pemerintah Jerman menegaskan kembali pernyataannya bahwa sebanyak 2-2,5 juta jiwa warga Jerman menjadi korban. | ||
| Baris 149: | Baris 139: | ||
=== Ideologi === | === Ideologi === | ||
Rezim Nazi menentang [[modernisme]] budaya dan mendukung pembangunan militer yang luas dengan mengorbankan intelektualisme. Kreativitas dan seni dikekang, kecuali jika bisa dimanfaatkan sebagai media propaganda. Partai menggunakan simbol-simbol seperti [[Blutfahne|Bendera Darah]] dan ritual seperti [[Reli Nürnberg|rapat raksasa Partai Nazi]] untuk menumbuhkan persatuan dan meningkatkan popularitas rezim. | Rezim Nazi menentang [[modernisme]] budaya dan mendukung pembangunan militer yang luas dengan mengorbankan intelektualisme. Kreativitas dan seni dikekang, kecuali jika bisa dimanfaatkan sebagai media propaganda. Partai menggunakan simbol-simbol seperti [[Blutfahne|Bendera Darah]] dan ritual seperti [[Reli Nürnberg|rapat raksasa Partai Nazi]] untuk menumbuhkan persatuan dan meningkatkan popularitas rezim. | ||
| Baris 162: | Baris 151: | ||
Maklumat ''[[Reichsstatthalter]]'' yang dikeluarkan pada tahun 1933 sampai 1935 menghapuskan ''Länder'' ([[Negara bagian Republik Weimar|negara bagian]]) yang ada di Jerman dan menggantinya dengan daerah administrasi baru, ''Gaue'', yang diperintah oleh para pemimpin NSDAP (''[[Gauleiter]]s''). Perubahan ini tidak sepenuhnya dilaksanakan karena ''Länder'' masih digunakan untuk beberapa departemen pemerintah seperti pendidikan. Hal ini menimbulkan kekacauan birokrasi akibat yurisdiksi dan tanggung jawab yang saling tumpang tindih. | Maklumat ''[[Reichsstatthalter]]'' yang dikeluarkan pada tahun 1933 sampai 1935 menghapuskan ''Länder'' ([[Negara bagian Republik Weimar|negara bagian]]) yang ada di Jerman dan menggantinya dengan daerah administrasi baru, ''Gaue'', yang diperintah oleh para pemimpin NSDAP (''[[Gauleiter]]s''). Perubahan ini tidak sepenuhnya dilaksanakan karena ''Länder'' masih digunakan untuk beberapa departemen pemerintah seperti pendidikan. Hal ini menimbulkan kekacauan birokrasi akibat yurisdiksi dan tanggung jawab yang saling tumpang tindih. | ||
=== Hukum === | === Hukum === | ||
| Baris 171: | Baris 159: | ||
Sebagian besar sistem peradilan dan undang-undang Republik Weimar tetap dipakai untuk menangani kejahatan nonpolitik. Pengadilan memutuskan dan melaksanakan jauh lebih banyak hukuman mati dibandingkan dengan sebelum Nazi mengambil alih kekuasaan. Terdakwa yang divonis dalam tiga atau lebih pelanggaran (bahkan pelanggaran kecil) dianggap sebagai pembuat onar dan dipenjara tanpa batas waktu. Mencopet dianggap sebagai bukti kecacatan genetis dan pekerja seks komersial (yang sebelumnya cukup ditoleransi di Jerman) dianggap sebagai kelompok '[[asosial]]'. Ribuan orang dianggap sudah melekat dengan sifat kriminal oleh polisi, jaksa, atau pengadilan, sehingga ditangkap dan dipenjara tanpa melalui sidang pengadilan. | Sebagian besar sistem peradilan dan undang-undang Republik Weimar tetap dipakai untuk menangani kejahatan nonpolitik. Pengadilan memutuskan dan melaksanakan jauh lebih banyak hukuman mati dibandingkan dengan sebelum Nazi mengambil alih kekuasaan. Terdakwa yang divonis dalam tiga atau lebih pelanggaran (bahkan pelanggaran kecil) dianggap sebagai pembuat onar dan dipenjara tanpa batas waktu. Mencopet dianggap sebagai bukti kecacatan genetis dan pekerja seks komersial (yang sebelumnya cukup ditoleransi di Jerman) dianggap sebagai kelompok '[[asosial]]'. Ribuan orang dianggap sudah melekat dengan sifat kriminal oleh polisi, jaksa, atau pengadilan, sehingga ditangkap dan dipenjara tanpa melalui sidang pengadilan. | ||
== Militer dan paramiliter == | == Militer dan paramiliter == | ||
| Baris 182: | Baris 166: | ||
Angkatan bersenjata terpadu Jerman dari tahun 1935 sampai 1945 disebut ''[[Wehrmacht]]'' (pasukan pertahanan). Pasukan ini meliputi [[Angkatan Darat Jerman (Wehrmacht)|Heer]] (Angkatan Darat), [[Kriegsmarine]] (Angkatan Laut), dan [[Luftwaffe]] (Angkatan Udara). Sejak 2 Agustus 1934, prajurit angkatan bersenjata diwajibkan bersumpah setia tanpa syarat kepada Hitler secara pribadi. Berbeda dengan sumpah sebelumnya, yang mensyaratkan kesetiaan kepada konstitusi negara dan badan-badan yang sah, sumpah baru ini mewajibkan prajurit militer untuk mematuhi Hitler, meskipun diperintahkan melakukan sesuatu yang ilegal. Terlepas dari upaya untuk mempersiapkan negara secara militer, situasi perekonomian Jerman tidak dapat mendukung pelaksanaan perang berkepanjangan. Strategi baru dikembangkan berdasarkan taktik ''[[Blitzkrieg]]'' ("perang kilat"), yang menggunakan serangan terkoordinasi cepat dengan menghindari titik kuat musuh. Serangan dimulai dengan bombardir artileri, diikuti oleh pengeboman dan penggempuran dari udara. Kemudian pasukan tank menyerang, dan akhirnya satuan infanteri akan menyerbu masuk untuk mengamankan wilayah yang direbut. Kemenangan Jerman berlanjut sampai pertengahan 1940, tetapi kegagalan melumpuhkan Britania menjadi titik balik kemunduran Jerman dalam peperangan. Keputusan menyerang Uni Soviet dan kekalahan besar di Stalingrad memukul pasukan Jerman hingga akhirnya mengalami kekalahan. Jumlah prajurit yang bertugas di ''Wehrmacht'' dari tahun 1935 sampai 1945 sekitar 18,2 juta, 5,3 juta di antaranya gugur. | Angkatan bersenjata terpadu Jerman dari tahun 1935 sampai 1945 disebut ''[[Wehrmacht]]'' (pasukan pertahanan). Pasukan ini meliputi [[Angkatan Darat Jerman (Wehrmacht)|Heer]] (Angkatan Darat), [[Kriegsmarine]] (Angkatan Laut), dan [[Luftwaffe]] (Angkatan Udara). Sejak 2 Agustus 1934, prajurit angkatan bersenjata diwajibkan bersumpah setia tanpa syarat kepada Hitler secara pribadi. Berbeda dengan sumpah sebelumnya, yang mensyaratkan kesetiaan kepada konstitusi negara dan badan-badan yang sah, sumpah baru ini mewajibkan prajurit militer untuk mematuhi Hitler, meskipun diperintahkan melakukan sesuatu yang ilegal. Terlepas dari upaya untuk mempersiapkan negara secara militer, situasi perekonomian Jerman tidak dapat mendukung pelaksanaan perang berkepanjangan. Strategi baru dikembangkan berdasarkan taktik ''[[Blitzkrieg]]'' ("perang kilat"), yang menggunakan serangan terkoordinasi cepat dengan menghindari titik kuat musuh. Serangan dimulai dengan bombardir artileri, diikuti oleh pengeboman dan penggempuran dari udara. Kemudian pasukan tank menyerang, dan akhirnya satuan infanteri akan menyerbu masuk untuk mengamankan wilayah yang direbut. Kemenangan Jerman berlanjut sampai pertengahan 1940, tetapi kegagalan melumpuhkan Britania menjadi titik balik kemunduran Jerman dalam peperangan. Keputusan menyerang Uni Soviet dan kekalahan besar di Stalingrad memukul pasukan Jerman hingga akhirnya mengalami kekalahan. Jumlah prajurit yang bertugas di ''Wehrmacht'' dari tahun 1935 sampai 1945 sekitar 18,2 juta, 5,3 juta di antaranya gugur. | ||
=== SA dan SS === | === SA dan SS === | ||
Röhm berhasrat mengambil alih komando angkatan bersenjata dan meleburnya ke dalam jajaran SA. Hindenburg dan Menteri Pertahanan [[Werner von Blomberg]] mengancam akan memberlakukan darurat militer jika kegiatan SA tidak dibatasi. Ini adalah salah satu penyebab Hitler memerintahkan pembunuhan pimpinan SA, termasuk Röhm, pada peristiwa "Malam Pisau Panjang" 1934. Setelah pembersihan tersebut, SA tidak lagi menjadi kekuatan utama. | Röhm berhasrat mengambil alih komando angkatan bersenjata dan meleburnya ke dalam jajaran SA. Hindenburg dan Menteri Pertahanan [[Werner von Blomberg]] mengancam akan memberlakukan darurat militer jika kegiatan SA tidak dibatasi. Ini adalah salah satu penyebab Hitler memerintahkan pembunuhan pimpinan SA, termasuk Röhm, pada peristiwa "Malam Pisau Panjang" 1934. Setelah pembersihan tersebut, SA tidak lagi menjadi kekuatan utama. | ||
| Baris 193: | Baris 174: | ||
Satuan pengawal yang bernaung di bawah SA, [[Schutzstaffel]] (SS; Skuadron Perlindungan), awalnya merupakan satuan yang kecil, tetapi kemudian tumbuh menjadi salah satu kelompok bersenjata terbesar dan terkuat di Jerman Nazi. SS dikomandoi oleh [[Reichsführer-SS]] Heinrich Himmler sejak tahun 1929 dan memiliki lebih dari 250 ribu prajurit pada tahun 1938. Himmler awalnya berniat menjadikan SS sebagai regu pengawal elite, garis pertahanan terakhir Hitler. [[Waffen-SS]], satuan militer SS, berevolusi menjadi angkatan bersenjata tambahan bagi Jerman. Satuan ini bergantung pada angkatan bersenjata reguler untuk perlengkapan dan persenjataan berat, dan kebanyakan satuannya berada di bawah kendali taktis [[Oberkommando der wehrmacht|Komando Tinggi Angkatan Bersenjata]] (OKW). Pada akhir 1942, seleksi dan persyaratan rasial yang sebelumnya diberlakukan ketat tak lagi dilakukan dalam perekrutan anggota SS. Setelah itu, Waffen-SS terus berkembang melalui perekrutan dan wajib militer, tetapi sejak 1943 mereka bukan lagi pasukan tempur elite. | Satuan pengawal yang bernaung di bawah SA, [[Schutzstaffel]] (SS; Skuadron Perlindungan), awalnya merupakan satuan yang kecil, tetapi kemudian tumbuh menjadi salah satu kelompok bersenjata terbesar dan terkuat di Jerman Nazi. SS dikomandoi oleh [[Reichsführer-SS]] Heinrich Himmler sejak tahun 1929 dan memiliki lebih dari 250 ribu prajurit pada tahun 1938. Himmler awalnya berniat menjadikan SS sebagai regu pengawal elite, garis pertahanan terakhir Hitler. [[Waffen-SS]], satuan militer SS, berevolusi menjadi angkatan bersenjata tambahan bagi Jerman. Satuan ini bergantung pada angkatan bersenjata reguler untuk perlengkapan dan persenjataan berat, dan kebanyakan satuannya berada di bawah kendali taktis [[Oberkommando der wehrmacht|Komando Tinggi Angkatan Bersenjata]] (OKW). Pada akhir 1942, seleksi dan persyaratan rasial yang sebelumnya diberlakukan ketat tak lagi dilakukan dalam perekrutan anggota SS. Setelah itu, Waffen-SS terus berkembang melalui perekrutan dan wajib militer, tetapi sejak 1943 mereka bukan lagi pasukan tempur elite. | ||
Pada tahun 1931, Himmler membentuk badan intelijen SS yang kelak bernama [[Sicherheitsdienst]] (SD; Dinas Keamanan) bersama wakilnya, Heydrich. Organisasi ini bertugas melacak dan menangkap komunis dan lawan politik lainnya. Himmler memrakarsai dimulainya ekonomi paralel di bawah naungan Kantor Pusat Ekonomi dan Administrasi SS. Departemen induk ini memiliki perusahaan perumahan, pabrik, dan penerbit. | Pada tahun 1931, Himmler membentuk badan intelijen SS yang kelak bernama [[Sicherheitsdienst]] (SD; Dinas Keamanan) bersama wakilnya, Heydrich. Organisasi ini bertugas melacak dan menangkap komunis dan lawan politik lainnya. Himmler memrakarsai dimulainya ekonomi paralel di bawah naungan Kantor Pusat Ekonomi dan Administrasi SS. Departemen induk ini memiliki perusahaan perumahan, pabrik, dan penerbit. | ||
| Baris 223: | Baris 203: | ||
Ekonomi perang Nazi adalah [[ekonomi campuran]] yang menggabungkan [[pasar bebas]] dengan [[Ekonomi terencana|perencanaan terpusat]]. Menurut sejarawan [[Richard Overy]], ekonomi Jerman Nazi berada di tengah-tengah [[Ekonomi terencana tipe Soviet|ekonomi terencana ala Uni Soviet]] dan sistem kapitalis ala Amerika Serikat. | Ekonomi perang Nazi adalah [[ekonomi campuran]] yang menggabungkan [[pasar bebas]] dengan [[Ekonomi terencana|perencanaan terpusat]]. Menurut sejarawan [[Richard Overy]], ekonomi Jerman Nazi berada di tengah-tengah [[Ekonomi terencana tipe Soviet|ekonomi terencana ala Uni Soviet]] dan sistem kapitalis ala Amerika Serikat. | ||
[[Pekerja asing]] yang dibawa ke Jerman digolongkan ke dalam empat klasifikasi: pekerja tamu, internir militer, pekerja sipil, dan pekerja Timur. Setiap kelompok tunduk pada peraturan yang berbeda. Nazi mengeluarkan larangan hubungan seksual antara warga Jerman dan pekerja asing. | [[Pekerja asing]] yang dibawa ke Jerman digolongkan ke dalam empat klasifikasi: pekerja tamu, internir militer, pekerja sipil, dan pekerja Timur. Setiap kelompok tunduk pada peraturan yang berbeda. Nazi mengeluarkan larangan hubungan seksual antara warga Jerman dan pekerja asing. | ||
| Baris 245: | Baris 224: | ||
=== Rasisme dan antisemitisme === | === Rasisme dan antisemitisme === | ||
=== Persekusi Rom === | === Persekusi Rom === | ||
Nazi bermaksud mendeportasi semua orang Rom dari Jerman dan mengurung mereka di ''Zigeunerlager'' (kamp Gipsi). Himmler memerintahkan deportasi orang Rom dari Jerman pada Desember 1942, dengan beberapa pengecualian. Sebanyak 23.000 orang Rom dideportasi ke [[kamp konsentrasi Auschwitz]], 19.000 di antaranya tewas. Di luar Jerman, orang Rom dikerahkan sebagai buruh, dan banyak yang dibunuh. Di negara-negara Baltik dan Uni Soviet, 30.000 orang Rom dibunuh oleh SS, Tentara Jerman, dan Einsatzgruppen. Di [[Pemerintahan Penyelamatan Nasional|wilayah Serbia yang diduduki]], 1.000 sampai 12.000 orang Rom dibunuh, sedangkan hampir 25.000 orang Rom yang tinggal di [[Negara Merdeka Kroasia]] tewas. Pada akhir perang, diperkirakan jumlah korban jiwa sekitar 220.000, atau sekitar 25 persen dari populasi Rom di Eropa. | Nazi bermaksud mendeportasi semua orang Rom dari Jerman dan mengurung mereka di ''Zigeunerlager'' (kamp Gipsi). Himmler memerintahkan deportasi orang Rom dari Jerman pada Desember 1942, dengan beberapa pengecualian. Sebanyak 23.000 orang Rom dideportasi ke [[kamp konsentrasi Auschwitz]], 19.000 di antaranya tewas. Di luar Jerman, orang Rom dikerahkan sebagai buruh, dan banyak yang dibunuh. Di negara-negara Baltik dan Uni Soviet, 30.000 orang Rom dibunuh oleh SS, Tentara Jerman, dan Einsatzgruppen. Di [[Pemerintahan Penyelamatan Nasional|wilayah Serbia yang diduduki]], 1.000 sampai 12.000 orang Rom dibunuh, sedangkan hampir 25.000 orang Rom yang tinggal di [[Negara Merdeka Kroasia]] tewas. Pada akhir perang, diperkirakan jumlah korban jiwa sekitar 220.000, atau sekitar 25 persen dari populasi Rom di Eropa. | ||
| Baris 277: | Baris 237: | ||
=== Generalplan Ost === | === Generalplan Ost === | ||
=== Penindasan etnik Polandia === | === Penindasan etnik Polandia === | ||
| Baris 297: | Baris 252: | ||
=== Pemindahan etnis Jerman === | === Pemindahan etnis Jerman === | ||
Arahan-arahan yang sering kali saling bertentangan dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri [[Wilhelm Frick]], [[Bernhard Rust]] dari [[Kementerian Sains, Pendidikan dan Kebudayaan Reich]], dan lembaga-lembaga lain mengenai kurikulum pelajaran dan buku teks yang boleh digunakan di sekolah dasar dan menengah. Buku-buku yang tidak disetujui oleh rezim ditarik dari perpustakaan sekolah. Pemikiran Sosialis Nasional wajib diajarkan sejak Januari 1934. Siswa yang terpilih sebagai calon anggota elite partai memperoleh pendidikan khusus sejak usia 12 tahun di [[Sekolah Adolf Hitler]] untuk pendidikan dasar dan [[Institut Pendidikan Politik Nasional]] untuk pendidikan menengah. Indoktrinasi Sosialis Nasional yang terperinci terhadap calon pemangku jabatan elite militer dilaksanakan di [[NS-Ordensburgen]]. | Arahan-arahan yang sering kali saling bertentangan dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri [[Wilhelm Frick]], [[Bernhard Rust]] dari [[Kementerian Sains, Pendidikan dan Kebudayaan Reich]], dan lembaga-lembaga lain mengenai kurikulum pelajaran dan buku teks yang boleh digunakan di sekolah dasar dan menengah. Buku-buku yang tidak disetujui oleh rezim ditarik dari perpustakaan sekolah. Pemikiran Sosialis Nasional wajib diajarkan sejak Januari 1934. Siswa yang terpilih sebagai calon anggota elite partai memperoleh pendidikan khusus sejak usia 12 tahun di [[Sekolah Adolf Hitler]] untuk pendidikan dasar dan [[Institut Pendidikan Politik Nasional]] untuk pendidikan menengah. Indoktrinasi Sosialis Nasional yang terperinci terhadap calon pemangku jabatan elite militer dilaksanakan di [[NS-Ordensburgen]]. | ||
| Baris 307: | Baris 257: | ||
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah berfokus pada biologi ras, kebijakan kependudukan, budaya, geografi, dan kebugaran jasmani. Kurikulum di sebagian besar mata pelajaran, termasuk biologi, geografi, dan bahkan aritmetika, diubah dengan fokus terhadap ras. Pendidikan militer menjadi komponen utama pendidikan jasmani, dan mata pelajaran fisika berorientasi pada materi kemiliteran, seperti balistik dan aerodinamika. Siswa diwajibkan menonton semua film yang disiapkan oleh [[Kementerian Penerangan Umum dan Propaganda Reich]]. | Kurikulum pendidikan dasar dan menengah berfokus pada biologi ras, kebijakan kependudukan, budaya, geografi, dan kebugaran jasmani. Kurikulum di sebagian besar mata pelajaran, termasuk biologi, geografi, dan bahkan aritmetika, diubah dengan fokus terhadap ras. Pendidikan militer menjadi komponen utama pendidikan jasmani, dan mata pelajaran fisika berorientasi pada materi kemiliteran, seperti balistik dan aerodinamika. Siswa diwajibkan menonton semua film yang disiapkan oleh [[Kementerian Penerangan Umum dan Propaganda Reich]]. | ||
=== Perkembangan sains === | === Perkembangan sains === | ||
Reaksi [[fisi nuklir]] ditemukan oleh ilmuwan Jerman [[Otto Hahn]] pada 1938 dan diketahui berpotensi menghasilkan daya ledak tinggi. Seiring pecahnya Perang Dunia II, ilmuwan-ilmuwan Jerman, termasuk Hahn dan Heisenberg, menawarkan penelitian [[reaktor nuklir]] dan [[bom atom]] dengan memanfaatkan penemuan tersebut. Tawaran ini disambut baik rezim Nazi, tetapi pada saat itu perkembangan sains di Jerman sudah tertinggal akibat pemberhentian dan keluarnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dari Jerman serta serangan intelektual terhadap fisika teoretis. Jika pada 1927 ilmuwan-ilmuwan Jerman menulis lebih banyak [[Karya ilmiah|artikel ilmiah]] tentang fisika nuklir dibanding Amerika Serikat dan Britania Raya, pada 1939 Jerman hanya mengeluarkan 166 artikel sementara AS dan Britania total mengeluarkan 471. Selain itu, upaya ini juga terhambat akibat kurangnya dana (sumber daya Jerman banyak terkuras untuk pengeluaran terkait perang), kurangnya organisasi terpadu antara kelompok-kelompok yang terlibat, kekurangan bahan baku, dan sabotase Sekutu terhadap pabrik [[air berat]] Norwegia yang dikendalikan Jerman. Hingga akhir perang, ilmuwan Jerman belum berhasil menciptakan bom atom. Sementara itu, [[Proyek Manhattan]] di Amerika Serikat, dengan dana lebih besar serta ilmuwan dan bahan baku yang lebih banyak, akhirnya berhasil membuat senjata tersebut pada tahun 1945. | Reaksi [[fisi nuklir]] ditemukan oleh ilmuwan Jerman [[Otto Hahn]] pada 1938 dan diketahui berpotensi menghasilkan daya ledak tinggi. Seiring pecahnya Perang Dunia II, ilmuwan-ilmuwan Jerman, termasuk Hahn dan Heisenberg, menawarkan penelitian [[reaktor nuklir]] dan [[bom atom]] dengan memanfaatkan penemuan tersebut. Tawaran ini disambut baik rezim Nazi, tetapi pada saat itu perkembangan sains di Jerman sudah tertinggal akibat pemberhentian dan keluarnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dari Jerman serta serangan intelektual terhadap fisika teoretis. Jika pada 1927 ilmuwan-ilmuwan Jerman menulis lebih banyak [[Karya ilmiah|artikel ilmiah]] tentang fisika nuklir dibanding Amerika Serikat dan Britania Raya, pada 1939 Jerman hanya mengeluarkan 166 artikel sementara AS dan Britania total mengeluarkan 471. Selain itu, upaya ini juga terhambat akibat kurangnya dana (sumber daya Jerman banyak terkuras untuk pengeluaran terkait perang), kurangnya organisasi terpadu antara kelompok-kelompok yang terlibat, kekurangan bahan baku, dan sabotase Sekutu terhadap pabrik [[air berat]] Norwegia yang dikendalikan Jerman. Hingga akhir perang, ilmuwan Jerman belum berhasil menciptakan bom atom. Sementara itu, [[Proyek Manhattan]] di Amerika Serikat, dengan dana lebih besar serta ilmuwan dan bahan baku yang lebih banyak, akhirnya berhasil membuat senjata tersebut pada tahun 1945. | ||
| Baris 319: | Baris 265: | ||
=== Peran wanita dan keluarga === | === Peran wanita dan keluarga === | ||
Wanita didorong meninggalkan dunia kerja, dan pembentukan keluarga besar oleh wanita Arya dikampanyekan dengan menggunakan propaganda. Wanita menerima medali ''[[Ehrenkreuz der Deutschen Mutter]]'' atau "Salib Kehormatan Ibu Jerman" berdasarkan jumlah anak yang mereka lahirkan; mereka dapat memperoleh medali perunggu jika melahirkan empat anak, perak untuk enam anak, dan emas untuk delapan anak atau lebih. Keluarga besar menerima subsidi pemerintah untuk membantu menanggung pengeluaran. Meskipun langkah-langkah tersebut menyebabkan meningkatnya angka kelahiran, jumlah keluarga yang memiliki empat anak atau lebih menurun lima persen antara tahun 1935 dan 1940. Mengeluarkan wanita dari angkatan kerja tidak berdampak membuka lapangan pekerjaan untuk pria karena pekerjaan yang ditinggalkan wanita adalah pembantu rumah tangga, penenun, atau pekerjaan di industri makanan dan minuman (pekerjaan-pekerjaan yang tidak diminati oleh pria). Filosofi Nazi mencegah wanita dipekerjakan di pabrik amunisi perang, sehingga buruh asing dipekerjakan di sana. Setelah perang dimulai, budak dipekerjakan secara luas. Pada Januari 1943, Hitler mengeluarkan maklumat yang mewajibkan semua wanita yang berusia di bawah lima puluh tahun bertugas membantu upaya perang. Setelah itu, wanita dikerahkan bekerja di sektor pertanian dan industri, dan pada September 1944, 14,9 juta wanita bekerja dalam produksi amunisi. | Wanita didorong meninggalkan dunia kerja, dan pembentukan keluarga besar oleh wanita Arya dikampanyekan dengan menggunakan propaganda. Wanita menerima medali ''[[Ehrenkreuz der Deutschen Mutter]]'' atau "Salib Kehormatan Ibu Jerman" berdasarkan jumlah anak yang mereka lahirkan; mereka dapat memperoleh medali perunggu jika melahirkan empat anak, perak untuk enam anak, dan emas untuk delapan anak atau lebih. Keluarga besar menerima subsidi pemerintah untuk membantu menanggung pengeluaran. Meskipun langkah-langkah tersebut menyebabkan meningkatnya angka kelahiran, jumlah keluarga yang memiliki empat anak atau lebih menurun lima persen antara tahun 1935 dan 1940. Mengeluarkan wanita dari angkatan kerja tidak berdampak membuka lapangan pekerjaan untuk pria karena pekerjaan yang ditinggalkan wanita adalah pembantu rumah tangga, penenun, atau pekerjaan di industri makanan dan minuman (pekerjaan-pekerjaan yang tidak diminati oleh pria). Filosofi Nazi mencegah wanita dipekerjakan di pabrik amunisi perang, sehingga buruh asing dipekerjakan di sana. Setelah perang dimulai, budak dipekerjakan secara luas. Pada Januari 1943, Hitler mengeluarkan maklumat yang mewajibkan semua wanita yang berusia di bawah lima puluh tahun bertugas membantu upaya perang. Setelah itu, wanita dikerahkan bekerja di sektor pertanian dan industri, dan pada September 1944, 14,9 juta wanita bekerja dalam produksi amunisi. | ||
| Baris 338: | Baris 283: | ||
Jerman menerapkan [[Gerakan antitembakau di Jerman Nazi|kebijakan antitembakau]] yang ketat, terutama setelah riset Franz H. Müller pada 1939 menunjukkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kanker paru-paru. Kantor Kesehatan Reich mengambil langkah-langkah untuk membatasi kegiatan merokok, termasuk mengadakan ceramah dan menyebar pamflet. Merokok dilarang di tempat kerja, di kereta api, dan di kalangan anggota militer yang sedang bertugas. Instansi pemerintah juga berupaya mengendalikan zat [[karsinogenik]] lainnya seperti [[asbestos]] dan pestisida. Sebagai bagian dari kampanye kesehatan masyarakat, persediaan air dibersihkan, unsur [[timbal]] dan [[raksa]] dihilangkan dari produk konsumen, dan wanita didesak untuk menjalani pemeriksaan rutin kanker payudara. | Jerman menerapkan [[Gerakan antitembakau di Jerman Nazi|kebijakan antitembakau]] yang ketat, terutama setelah riset Franz H. Müller pada 1939 menunjukkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kanker paru-paru. Kantor Kesehatan Reich mengambil langkah-langkah untuk membatasi kegiatan merokok, termasuk mengadakan ceramah dan menyebar pamflet. Merokok dilarang di tempat kerja, di kereta api, dan di kalangan anggota militer yang sedang bertugas. Instansi pemerintah juga berupaya mengendalikan zat [[karsinogenik]] lainnya seperti [[asbestos]] dan pestisida. Sebagai bagian dari kampanye kesehatan masyarakat, persediaan air dibersihkan, unsur [[timbal]] dan [[raksa]] dihilangkan dari produk konsumen, dan wanita didesak untuk menjalani pemeriksaan rutin kanker payudara. | ||
[[Eksperimen manusia Nazi|Percobaan medis]] yang banyak dipengaruhi [[ilmu semu]] dilakukan terhadap tahanan kamp konsentrasi sejak tahun 1941. Dokter yang paling dikenal sebagai pelaku percobaan manusia adalah SS-[[Hauptsturmführer]] Dr. [[Josef Mengele]] yang berperan sebagai dokter kamp di Auschwitz. Sebagian besar korbannya meninggal dunia atau sengaja dibunuh. Tahanan di kamp konsentrasi sendiri bisa dibeli oleh perusahaan farmasi untuk pengujian obat-obatan dan eksperimen lainnya. | [[Eksperimen manusia Nazi|Percobaan medis]] yang banyak dipengaruhi [[ilmu semu]] dilakukan terhadap tahanan kamp konsentrasi sejak tahun 1941. Dokter yang paling dikenal sebagai pelaku percobaan manusia adalah SS-[[Hauptsturmführer]] Dr. [[Josef Mengele]] yang berperan sebagai dokter kamp di Auschwitz. Sebagian besar korbannya meninggal dunia atau sengaja dibunuh. Tahanan di kamp konsentrasi sendiri bisa dibeli oleh perusahaan farmasi untuk pengujian obat-obatan dan eksperimen lainnya. | ||
| Baris 347: | Baris 291: | ||
Kantor Kehutanan Reich di bawah kepemimpinan Göring memberlakukan peraturan yang mewajibkan [[rimbawan]] menanam berbagai pohon untuk memastikan agar ada habitat yang cocok bagi satwa liar. Rezim Nazi juga mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Alam Reich pada tahun 1935 untuk melindungi bentang alam dari pembangunan ekonomi yang berlebihan. Hal ini memungkinkan pengambilalihan tanah milik swasta untuk mendukung pelestarian alam dan membantu perencanaan jangka panjang. Sementara itu, upaya kecil-kecilan dilakukan untuk mengatasi polusi udara, tetapi setelah perang dimulai, penegakan undang-undang yang sudah ada masih kurang. | Kantor Kehutanan Reich di bawah kepemimpinan Göring memberlakukan peraturan yang mewajibkan [[rimbawan]] menanam berbagai pohon untuk memastikan agar ada habitat yang cocok bagi satwa liar. Rezim Nazi juga mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Alam Reich pada tahun 1935 untuk melindungi bentang alam dari pembangunan ekonomi yang berlebihan. Hal ini memungkinkan pengambilalihan tanah milik swasta untuk mendukung pelestarian alam dan membantu perencanaan jangka panjang. Sementara itu, upaya kecil-kecilan dilakukan untuk mengatasi polusi udara, tetapi setelah perang dimulai, penegakan undang-undang yang sudah ada masih kurang. | ||
=== Gerakan anti-Nazi === | === Gerakan anti-Nazi === | ||
| Baris 373: | Baris 303: | ||
Rezim Nazi mempromosikan konsep ''[[Volksgemeinschaft]]'', yaitu komunitas etnik bangsa Jerman. Tujuannya adalah membangun masyarakat tanpa kelas yang didasarkan pada kemurnian ras dan kebutuhan untuk mempersiapkan peperangan, penaklukan, dan perjuangan melawan [[Marxisme]]. | Rezim Nazi mempromosikan konsep ''[[Volksgemeinschaft]]'', yaitu komunitas etnik bangsa Jerman. Tujuannya adalah membangun masyarakat tanpa kelas yang didasarkan pada kemurnian ras dan kebutuhan untuk mempersiapkan peperangan, penaklukan, dan perjuangan melawan [[Marxisme]]. | ||
Radio menjadi populer di Jerman pada tahun 1930-an; lebih dari 70 persen rumah tangga memiliki pesawat radio pada 1939, lebih banyak dari negara mana pun. Pada Juli 1933, dilakukan pembersihan karyawan stasiun-stasiun radio dari simpatisan sayap kiri maupun kelompok-kelompok lainnya yang tidak dikehendaki pemerintah. Propaganda dan pidato menjadi konten siaran radio yang lazim setelah Hitler berkuasa, tetapi kemudian Goebbels berkeras agar musik juga banyak disiarkan supaya pendengar tidak beralih ke siaran radio asing untuk mencari hiburan. | Radio menjadi populer di Jerman pada tahun 1930-an; lebih dari 70 persen rumah tangga memiliki pesawat radio pada 1939, lebih banyak dari negara mana pun. Pada Juli 1933, dilakukan pembersihan karyawan stasiun-stasiun radio dari simpatisan sayap kiri maupun kelompok-kelompok lainnya yang tidak dikehendaki pemerintah. Propaganda dan pidato menjadi konten siaran radio yang lazim setelah Hitler berkuasa, tetapi kemudian Goebbels berkeras agar musik juga banyak disiarkan supaya pendengar tidak beralih ke siaran radio asing untuk mencari hiburan. | ||
| Baris 382: | Baris 311: | ||
Seperti media lainnya, surat kabar di Jerman Nazi dikendalikan oleh negara. Dewan Media Reich memberedel atau membeli surat kabar dan penerbit. Pada tahun 1939, lebih dari dua pertiga surat kabar dan majalah dimiliki langsung oleh Kementerian Propaganda. Surat kabar harian NSDAP, ''[[Völkischer Beobachter]]'' ("Pengamat Etnik"), disunting oleh Rosenberg, yang juga menulis ''[[The Myth of the Twentieth Century|Mitos Abad Keduapuluh]]'', sebuah buku berisi teori ras yang mengagungkan keunggulan ras Nordik. Goebbels mengendalikan [[Kantor berita|kantor-kantor berita]] dan memerintahkan agar semua surat kabar di Jerman hanya boleh menerbitkan konten yang positif bagi rezim. Di bawah arahan Goebbels, Kementerian Propaganda mengeluarkan lebih dari dua puluh instruksi setiap minggu mengenai berita apa yang boleh dipublikasikan dan sudut pandang apa yang harus digunakan; surat kabar umumnya mengikuti instruksi ini dengan cermat, terutama mengenai berita yang tidak boleh dimuat. Jumlah pembaca surat kabar merosot, sebagian disebabkan oleh menurunnya mutu konten dan sebagian karena meningkatnya popularitas radio. Propaganda menjadi kurang efektif menjelang akhir perang karena masyarakat bisa memperoleh informasi di luar saluran resmi pemerintah. | Seperti media lainnya, surat kabar di Jerman Nazi dikendalikan oleh negara. Dewan Media Reich memberedel atau membeli surat kabar dan penerbit. Pada tahun 1939, lebih dari dua pertiga surat kabar dan majalah dimiliki langsung oleh Kementerian Propaganda. Surat kabar harian NSDAP, ''[[Völkischer Beobachter]]'' ("Pengamat Etnik"), disunting oleh Rosenberg, yang juga menulis ''[[The Myth of the Twentieth Century|Mitos Abad Keduapuluh]]'', sebuah buku berisi teori ras yang mengagungkan keunggulan ras Nordik. Goebbels mengendalikan [[Kantor berita|kantor-kantor berita]] dan memerintahkan agar semua surat kabar di Jerman hanya boleh menerbitkan konten yang positif bagi rezim. Di bawah arahan Goebbels, Kementerian Propaganda mengeluarkan lebih dari dua puluh instruksi setiap minggu mengenai berita apa yang boleh dipublikasikan dan sudut pandang apa yang harus digunakan; surat kabar umumnya mengikuti instruksi ini dengan cermat, terutama mengenai berita yang tidak boleh dimuat. Jumlah pembaca surat kabar merosot, sebagian disebabkan oleh menurunnya mutu konten dan sebagian karena meningkatnya popularitas radio. Propaganda menjadi kurang efektif menjelang akhir perang karena masyarakat bisa memperoleh informasi di luar saluran resmi pemerintah. | ||
=== Arsitektur dan seni === | === Arsitektur dan seni === | ||
| Baris 395: | Baris 323: | ||
=== Film === | === Film === | ||
Film 1935 berjudul ''[[Triumph of the Will|Triumph des Willens]]'' (yang mendokumentasikan Rapat Raksasa Nürnberg 1934) dan film 1938 ''[[Olympia (film 1938)|Olympia]]'' (meliput [[Olimpiade Musim Panas 1936]]) karya [[Leni Riefenstahl]] memelopori teknik penyuntingan dan pergerakan kamera yang memengaruhi film-film berikutnya. Teknik baru digunakan, misalnya [[lensa telefoto]] dan kamera yang diberi roda di atas lintasan. Kedua film tersebut masih dianggap kontroversial karena nilai estetikanya tidak dapat dipisahkan dari propaganda cita-cita Sosialis Nasional. | Film 1935 berjudul ''[[Triumph of the Will|Triumph des Willens]]'' (yang mendokumentasikan Rapat Raksasa Nürnberg 1934) dan film 1938 ''[[Olympia (film 1938)|Olympia]]'' (meliput [[Olimpiade Musim Panas 1936]]) karya [[Leni Riefenstahl]] memelopori teknik penyuntingan dan pergerakan kamera yang memengaruhi film-film berikutnya. Teknik baru digunakan, misalnya [[lensa telefoto]] dan kamera yang diberi roda di atas lintasan. Kedua film tersebut masih dianggap kontroversial karena nilai estetikanya tidak dapat dipisahkan dari propaganda cita-cita Sosialis Nasional. | ||
| Baris 592: | Baris 518: | ||
* | * | ||
* [http://research.calvin.edu/german-propaganda-archive/ww2era.htm#Speech German Propaganda Archive] di situs [[Calvin College]] | * [http://research.calvin.edu/german-propaganda-archive/ww2era.htm#Speech German Propaganda Archive] di situs [[Calvin College]] | ||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.42
'Jerman Nazi,' adalah nama umum Jerman antara tahun 1933 dan 1945, ketika Adolf Hitler dan Partai Nazi (NSDAP) yang ia pimpin menguasai negara dengan sistem kediktatoran. Di bawah pemerintahan Hitler, Jerman diubah menjadi negara totaliter dan hampir seluruh aspek kehidupan dikendalikan oleh pemerintah. Nama resmi negara ini adalah Deutsches Reich (Reich Jerman) sampai 1943 dan Großdeutsches Reich (Reich Jerman Raya) dari 1943 sampai 1945. Jerman Nazi juga dikenal dengan sebutan Reich Ketiga (Drittes Reich), yang berarti "Kekaisaran Ketiga", dengan Kekaisaran Romawi Suci (800–1806) selaku kekaisaran pertama dan Kekaisaran Jerman (1871–1918) sebagai kekaisaran kedua. Rezim Nazi tumbang setelah Sekutu mengalahkan Jerman pada bulan Mei 1945, mengakhiri Perang Dunia II di Eropa.
Hitler ditunjuk sebagai Kanselir Jerman oleh Presiden Republik Weimar, Paul von Hindenburg, pada 30 Januari 1933. NSDAP kemudian mulai melenyapkan semua lawan politik dan memperkuat kekuasaannya. Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934 dan Hitler menjadi diktator Jerman dengan menggabungkan jabatan dan kekuasaan Kanselir dan Presiden. Referendum nasional yang diselenggarakan pada 19 Agustus 1934 mengukuhkan Hitler sebagai satu-satunya Führer (pemimpin) Jerman. Seluruh kekuasaan terpusat pada diri Hitler dan titahnya menjadi hukum tertinggi. Pemerintah bukanlah sebuah badan terkoordinasi yang bekerja sama, tetapi sekumpulan faksi yang berjuang untuk memperoleh kekuasaan dan meraih dukungan Hitler. Di tengah-tengah Depresi Hebat, rezim Nazi memulihkan kestabilan ekonomi dan mengakhiri pengangguran massal melalui kebijakan militer dan ekonomi campuran. Dengan belanja negara melebihi pendapatan, rezim ini mampu menggalakkan pekerjaan umum, termasuk pembangunan Autobahnen (jalan raya). Pulihnya ekonomi Jerman meningkatkan kepopuleran rezim Nazi.
Meskipun invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada tahun 1941 awalnya berhasil, kebangkitan Soviet dan masuknya Amerika Serikat ke kancah peperangan menyebabkan kekuatan Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman) melemah di Front Timur pada tahun 1943, dan pada akhir 1944, Jerman berhasil didorong mundur ke perbatasan pra-1939. Pengeboman udara berskala besar terhadap Jerman meningkat pada tahun 1944 dan kekuatan Poros dipaksa mundur ke Eropa Timur dan Selatan. Setelah Sekutu menginvasi Prancis, Jerman dipukul mundur oleh Uni Soviet di timur dan oleh Sekutu lainnya di barat. Hitler menolak menyerah, sehingga perang terus berkobar dan menyebabkan kehancuran besar-besaran infrastruktur Jerman dan bertambahnya korban jiwa pada bulan-bulan terakhir perang. Akhirnya Hitler bunuh diri pada 30 April 1945 dan Jerman menyerah pada 8 Mei. Sekutu yang memenangkan perang memprakarsai kebijakan denazifikasi dan mengadili pejabat Nazi yang masih hidup atas kejahatan perang dalam peradilan Nürnberg.
Nama
Nama resmi negara ini dalam bahasa Jerman adalah Deutsches Reich dari 1933 sampai 1943 dan Großdeutsches Reich dari 1943 sampai 1945, sedangkan istilah umum yang digunakan saat ini adalah "Jerman Nazi" dan "Reich Ketiga". Nama "Reich Ketiga" merupakan terjemahan dari istilah Drittes Reich yang digunakan dalam propaganda Nazi; istilah tersebut pertama kali disebutkan dalam buku Das Dritte Reich karya Arthur Moeller van den Bruck tahun 1923. Buku ini menjelaskan Kekaisaran Romawi Suci (962–1806) sebagai Reich pertama dan Kekaisaran Jerman (1871–1918) sebagai Reich kedua.
Latar belakang
Jerman dikenal dengan nama Republik Weimar antara tahun 1919 sampai 1933. Bentuk pemerintahannya adalah republik dengan sistem semipresidensial. Republik Weimar menghadapi sejumlah masalah, seperti hiperinflasi, ekstremisme politik (termasuk kekerasan oleh paramiliter sayap kiri dan kanan), pertikaian dengan Sekutu yang memenangkan Perang Dunia I, dan kegagalan partai-partai yang terpecah belah dalam upaya membentuk koalisi pemerintahan. Kemerosotan parah perekonomian Jerman dimulai setelah Perang Dunia I berakhir, terutama karena harus membayar pampasan perang yang disyaratkan oleh Perjanjian Versailles 1919. Pemerintah mencetak uang untuk membayar pampasan serta utang negara yang ditimbulkan oleh perang, tetapi hal ini memicu hiperinflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang-barang konsumsi, kekacauan ekonomi, dan huru-hara yang dipicu kekurangan pangan. Ketika pemerintah gagal membayar pampasan perang pada Januari 1923, tentara Prancis menduduki kawasan industri Jerman di sepanjang Sungai Ruhr dan hal ini pun memicu kerusuhan.
Ketika pasar saham di Amerika Serikat mengalami kejatuhan pada 24 Oktober 1929, dampaknya terhadap Jerman sangat parah. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan beberapa bank besar bertumbangan. Hitler dan NSDAP bersiap-siap untuk memanfaatkan kekacauan ini demi meraih dukungan bagi partai mereka. Mereka berjanji akan memperkuat perekonomian dan menyediakan lapangan kerja. Banyak pemilih yang menganggap NSDAP mampu memulihkan ketertiban, memadamkan kerusuhan, dan meningkatkan reputasi internasional Jerman. Setelah pemilihan umum federal tahun 1932, NSDAP menjadi partai terbesar di Reichstag, meraih 230 kursi dengan mandat dari 37,4 persen suara rakyat.
Sejarah
Nazi merebut kekuasaan
Meskipun Nazi memenangkan dua pemilihan umum Reichstag tahun 1932, partai ini tidak berhasil memperoleh suara mayoritas. Oleh sebab itu, Hitler memimpin pemerintahan koalisi bersama Partai Rakyat Nasional Jerman yang berhaluan konservatif, walaupun koalisi ini akhirnya berumur pendek. Pemerintahan koalisi ini terbentuk saat Presiden Paul von Hindenburg mengangkat Hitler sebagai Kanselir Jerman yang baru pada 30 Januari 1933, setelah gagalnya Kanselir Kurt von Schleicher membentuk kabinet yang didukung mayoritas Reichstag. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Machtergreifung ("pengambilalihan kekuasaan").
Pada malam 27 Februari 1933, gedung Reichstag dibakar. Marinus van der Lubbe, seorang komunis Belanda, dinyatakan bersalah karena menyulut kebakaran. Hitler menyatakan bahwa pembakaran tersebut menandai dimulainya pemberontakan komunis. Maklumat Kebakaran Reichstag (yang diberlakukan pada 28 Februari 1933) meniadakan sebagian besar kebebasan sipil, termasuk hak untuk berkumpul dan kebebasan pers. Maklumat tersebut juga memperbolehkan polisi untuk menahan seseorang tanpa tuntutan pidana. Undang-undang tersebut disertai dengan kampanye propaganda yang membuat masyarakat mendukung tindakan tersebut. Penindasan dan kekerasan terhadap kaum komunis oleh SA diberlakukan secara nasional dan 4.000 anggota Partai Komunis Jerman ditangkap.
Pada bulan Maret 1933, Undang-Undang Pemberian Kuasa disahkan di Reichstag sebagai amendemen terhadap Konstitusi Weimar dengan suara 444-94. Amendemen ini memungkinkan Hitler dan kabinetnya untuk mengesahkan undang-undang (bahkan undang-undang yang melanggar konstitusi) tanpa persetujuan presiden atau Reichstag. Undang-undang ini membutuhkan dua pertiga suara agar bisa disahkan, sehingga Nazi menggunakan taktik intimidasi serta menggunakan ketentuan Maklumat Kebakaran Reichstag untuk mencegah partisipasi anggota Partai Demokrat Sosial, sedangkan Partai Komunis telah dilarang. Pada tanggal 10 Mei, pemerintah menyita aset Partai Demokrat Sosial, dan partai tersebut kemudian dilarang pada 22 Juni. Pada 21 Juni, SA menggeledah kantor Partai Rakyat Nasional Jerman (bekas rekan koalisi NSDAP) dan membubarkannya pada tanggal 29 Juni. Partai-partai politik besar yang tersisa kemudian juga dibubarkan. Pada tanggal 14 Juli 1933, Jerman menjadi negara satu partai dengan disahkannya undang-undang yang menetapkan NSDAP sebagai satu-satunya partai resmi di Jerman. Pendirian partai-partai baru juga dinyatakan ilegal, dan semua partai politik lainnya yang belum bubar juga dilarang. Undang-Undang Pemberian Kuasa kelak berfungsi sebagai landasan hukum kediktatoran yang diciptakan NSDAP. Pemilu lanjutan pada November 1933, 1936, dan 1938 dikendalikan oleh Nazi; hanya anggota NSDAP dan segelintir kandidat independen yang terpilih.
Nazifikasi Jerman
Kabinet Hitler menggunakan ketentuan dalam Maklumat Kebakaran Reichstag dan Undang-Undang Pemberian Kuasa untuk memulai proses Gleichschaltung ("koordinasi"), yang menempatkan seluruh aspek kehidupan di bawah kendali partai. Negara bagian yang pemerintah terpilihnya tidak berada di bawah kendali Nazi atau koalisi pimpinan Nazi dipaksa menyetujui penunjukan Komisaris Reich, yang berkewajiban memastikan agar negara bagian tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Para Komisaris ini memiliki kuasa untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat pemerintah daerah, anggota parlemen negara bagian, dan hakim. Melalui cara ini, Jerman secara de facto menjadi negara kesatuan karena semua pemerintah negara bagian dikendalikan oleh pemerintah pusat di bawah NSDAP. Parlemen negara bagian dan Reichsrat (dewan perwakilan daerah) dihapuskan pada Januari 1934, dan segenap kekuasaan negara bagian dilimpahkan ke pemerintah pusat.
Rezim Nazi menghapuskan simbol-simbol Republik Weimar (termasuk bendera triwarna hitam, merah dan emas) dan menciptakan simbolisme baru. Bendera triwarna hitam, putih, dan merah yang dipakai kekaisaran sebelumnya digunakan kembali sebagai satu dari dua bendera resmi Jerman; satu lagi adalah bendera swastika NSDAP, yang menjadi satu-satunya bendera nasional pada tahun 1935. Mars partai NSDAP, "Horst-Wessel-Lied" ("Lagu Horst Wessel"), menjadi lagu kebangsaan kedua.
Jerman masih berada dalam situasi ekonomi yang kacau; sebanyak enam juta warga Jerman menganggur dan neraca perdagangan mengalami defisit parah. Dengan meningkatkan belanja negara melebihi pendapatan ("pengeluaran defisit"), proyek-proyek pekerjaan umum digalakkan sejak tahun 1934, menciptakan 1,7 juta lapangan kerja baru pada akhir tahun tersebut. Upah rata-rata pun mulai mengalami kenaikan.
Pengukuhan kekuasaan
Pimpinan SA berusaha menekan Hitler untuk meraih kekuasaan politik dan militer yang lebih besar. Sebagai tanggapan, Hitler memanfaatkan Schutzstaffel (SS) dan Gestapo untuk membersihkan kepemimpinan di SA secara menyeluruh. Hitler menyasar Stabschef (Kepala Staf) SA Ernst Röhm dan pemimpin SA lainnya, yang ditangkap dan ditembak, bersama dengan sejumlah musuh politik Hitler (seperti Gregor Strasser dan mantan kanselir Kurt von Schleicher). Sebanyak 200 orang dibunuh dari tanggal 30 Juni sampai 2 Juli 1934 dalam peristiwa yang kemudian dikenal dengan Malam Pisau Panjang.
Pada 2 Agustus 1934, Hindenburg meninggal dunia. Sehari sebelumnya, kabinet telah mengesahkan "Undang-Undang Pejabat Negara Tertinggi Reich", yang menyatakan bahwa setelah kematian Hindenburg, jabatan presiden akan dihapuskan dan kekuasaannya digabung dengan kekuasaan kanselir. Dengan demikian, Hitler menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dan secara resmi bergelar Führer und Reichskanzler ("Pemimpin dan Kanselir"), meskipun akhirnya gelar Reichskanzler dihapuskan. Jerman menjadi negara totaliter dengan Hitler sebagai pemimpinnya. Sebagai kepala negara, Hitler menjadi Panglima Tertinggi angkatan bersenjata. Undang-undang baru mengubah sumpah kesetiaan bagi para prajurit sehingga diharuskan bersumpah setia kepada diri Hitler, bukannya kepada panglima atau negara. Pada 19 Agustus 1934, penggabungan kekuasaan presiden dengan kanselir disetujui oleh 90 persen pemilih dalam sebuah referendum.
Kebanyakan warga Jerman merasa lega karena konflik dan perkelahian jalanan pada era Weimar telah berakhir. Mereka dibanjiri propaganda yang disusun oleh Menteri Penerangan Umum dan Propaganda, Joseph Goebbels, yang menjanjikan perdamaian dan banyak hal lainnya bagi warga Jerman di negara bersatu yang bebas Marxis tanpa terhalang Perjanjian Versailles. NSDAP memperoleh dan mengesahkan kekuasaannya mula-mula melalui kegiatan revolusioner, kemudian melalui manipulasi mekanisme hukum, pemanfaatan wewenang kepolisian, serta dengan mengambil alih institusi pemerintah dan negara bagian. Kamp konsentrasi Nazi besar pertama (yang awalnya untuk tahanan politik) dibuka di Dachau pada tahun 1933. Menjelang akhir Perang Dunia II, terdapat ratusan kamp konsentrasi dengan berbagai ukuran dan fungsi yang telah didirikan oleh rezim Nazi.
Penguatan militer
Pada tahun-tahun awal rezim Nazi, Jerman tidak memiliki sekutu, dan amat lemah secara militer akibat Perjanjian Versailles. Prancis, Polandia, Italia, dan Uni Soviet memiliki alasan tersendiri untuk menentang berkuasanya Hitler. Polandia mengajak Prancis melakukan perang preventif melawan Jerman pada Maret 1933. Italia Fasis khawatir dengan potensi munculnya negara tetangga yang jauh lebih kuat dan jika suatu saat perluasan Jerman mengarah ke Balkan dan Austria, yang dianggap Benito Mussolini sebagian berada di bawah pengaruh Italia.
Pada awal Februari 1933, Hitler menyatakan bahwa Jerman harus mulai mempersenjatai diri, meskipun awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena melanggar Perjanjian Versailles. Pada 17 Mei 1933, Hitler berpidato di hadapan Reichstag, menjabarkan keinginannya untuk mewujudkan perdamaian dunia dan menerima tawaran dari Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt mengenai pelucutan militer, asalkan negara-negara Eropa lainnya juga melakukan hal yang sama. Ketika kekuatan Eropa lainnya enggan menerima tawaran ini, Hitler menarik Jerman keluar dari Konferensi Pelucutan Senjata Dunia dan Liga Bangsa-Bangsa pada bulan Oktober, menyatakan bahwa klausul pelucutan senjata tidak adil jika hanya diberlakukan untuk Jerman. Dalam referendum yang diselenggarakan pada bulan November, 95 persen pemilih mendukung penarikan diri Jerman.
Pada tahun 1934, Hitler memberi tahu para pemimpin militernya bahwa perang di timur harus dimulai pada 1942. Saarland, yang berada di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa selama 15 tahun sejak akhir Perang Dunia I, melalui pemungutan suara pada Januari 1935 memutuskan untuk menjadi bagian Jerman. Pada bulan Maret 1935, Hitler mengumumkan pembentukan angkatan udara, dan anggota Reichswehr akan ditambah menjadi 550.000 orang. Britania Raya menyetujui pembentukan armada laut Jerman melalui Perjanjian Laut Inggris-Jerman pada 18 Juni 1935.
Ketika invasi Italia ke Etiopia hanya diprotes ringan oleh pemerintah Britania dan Prancis, pada 7 Maret 1936 Hitler menggunakan Perjanjian Bantuan Bersama Prancis-Soviet sebagai alasan untuk mengerahkan 3.000 tentara Jerman menuju zona demiliterisasi di Rhineland, yang melanggar ketentuan Perjanjian Versailles. Karena wilayah tersebut adalah bagian dari Jerman, pemerintah Britania dan Prancis merasa bahwa upaya untuk menegakkan Perjanjian Versailles tidak sebanding dengan risiko perang yang akan dihadapi. Dalam pemilu satu partai yang diadakan pada 29 Maret, NSDAP meraih 98,9 persen dukungan. Pada tahun 1936, Hitler menandatangani Pakta Anti-Komintern dengan Jepang maupun perjanjian nonagresi dengan Mussolini yang kemudian disebut "Poros Roma-Berlin."
Hitler mengirimkan bantuan dan pasokan militer kepada tentara Nasionalis Jenderal Francisco Franco dalam Perang Saudara Spanyol yang mulai berkobar sejak Juli 1936. Legiun Condor Jerman memasok sejumlah pesawat dan awak, serta satu kontingen tank. Pesawat Legiun menghancurkan kota Guernica pada tahun 1937. Pihak Nasionalis menang pada tahun 1939 dan menjadi sekutu tidak resmi Jerman Nazi.
Austria dan Cekoslowakia
Pada bulan Februari 1938, Hitler menekankan pada Kanselir Austria Kurt Schuschnigg tentang perlunya Jerman mengamankan perbatasannya. Schuschnigg menjadwalkan plebisit terkait kemerdekaan Austria pada 13 Maret, tetapi Hitler mengirim ultimatum pada Schuschnigg pada 11 Maret, menuntut agar ia menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada NSDAP Austria atau ia harus menghadapi serangan Jerman. Tentara Jerman memasuki Austria pada keesokan harinya dan disambut antusias oleh para penduduk.
Cekoslowakia dihuni oleh banyak orang Jerman yang menjadi bangsa minoritas, khususnya di Sudetenland. Di bawah tekanan dari kelompok separatis Partai Jerman Sudeten, pemerintah Cekoslowakia menawarkan konsesi ekonomi kepada wilayah tersebut. Hitler memutuskan bahwa ia tidak hanya akan menggabungkan Sudetenland ke dalam Reich, tetapi juga akan menghancurkan negara Cekoslowakia sepenuhnya. Nazi melakukan kampanye propaganda guna menggalang dukungan untuk menyerang Cekoslowakia. Para pemimpin militer Jerman menentang rencana tersebut karena Jerman dirasa belum siap untuk berperang.
Krisis ini menyebabkan Britania Raya, Cekoslowakia, dan Prancis (sekutu Cekoslowakia) bersiap untuk berperang. Dengan maksud untuk menghindari perang, Perdana Menteri Britania Neville Chamberlain mengatur serangkaian pertemuan, yang menghasilkan Perjanjian München yang ditandatangani pada 29 September 1938. Pemerintah Cekoslowakia dipaksa menerima pencaplokan Sudetenland oleh Jerman. Chamberlain disambut dengan sorak-sorai ketika ia mendarat di London dan menyatakan bahwa perjanjian tersebut membawa "perdamaian bagi zaman kita". Sementara itu, Polandia merebut sebidang wilayah Cekoslowakia di dekat Cieszyn pada 2 Oktober. Selain itu, sebagai dampak dari Perjanjian München, Hungaria menuntut dan memperoleh wilayah seluas di sepanjang perbatasan utaranya sesuai dengan Putusan Arbitrase Wina Pertama pada 2 November. Selanjutnya, setelah perundingan dengan Presiden Emil Hácha, Cekoslowakia terbagi dua: Republik Slowakia diproklamasikan pada 14 Maret 1939, sedangkan wilayah Ceko yang tersisa dicaplok oleh Hitler dan dijadikan Protektorat Bohemia dan Moravia pada 15 Maret. Pada hari yang sama, Hungaria menduduki dan mencaplok Karpatska Ukraina yang baru saja diproklamasikan dan tidak diakui, serta sehamparan wilayah yang dipersengketakan dengan Slowakia.
Cadangan devisa Austria dan Ceko dirampas oleh Nazi; persediaan bahan baku seperti logam maupun barang jadi seperti senjata dan pesawat terbang dikirim ke Jerman. Konglomerat industri Reichswerke Hermann Göring mengambil kendali atas pengelolaan fasilitas produksi baja dan batu bara di kedua negara tersebut.
Polandia
Pada Januari 1934, Jerman menandatangani perjanjian nonagresi dengan Polandia. Pada bulan Maret 1939, Hitler menuntut pengembalian Kota Merdeka Danzig dan Koridor Polandia, wilayah yang memisahkan Prusia Timur dengan Jerman. Britania mengumumkan akan membantu Polandia jika diserang. Hitler yakin bahwa Britania hanya menggertak, sehingga ia memerintahkan agar invasi dilancarkan pada bulan September 1939. Pada 23 Mei, Hitler mengungkapkan kepada para jenderalnya mengenai rencana keseluruhannya yang tidak hanya menguasai Koridor Polandia, tetapi juga merebut wilayah Polandia lainnya di timur. Ia memperkirakan kali ini mereka akan menghadapi perlawanan.
Jerman menegaskan kembali persekutuannya dengan Italia dan menandatangani perjanjian nonagresi dengan Denmark, Estonia, dan Latvia, serta meresmikan hubungan dagang dengan Rumania, Norwegia, dan Swedia. Menteri Luar Negeri Joachim von Ribbentrop melakukan perundingan dengan Uni Soviet, menghasilkan perjanjian nonagresi Pakta Molotov–Ribbentrop yang ditandatangani pada bulan Agustus 1939. Perjanjian tersebut juga memuat protokol rahasia yang membagi Polandia dan negara-negara Baltik menjadi wilayah di bawah pengaruh Jerman dan Soviet.
Perang Dunia II
Sejak awal perang, blokade Britania terhadap pengiriman barang ke Jerman sangat berdampak terhadap ekonominya. Jerman sangat bergantung pada impor minyak, batu bara, dan gandum. Akibat embargo perdagangan dan blokade ini, impor Jerman turun 80 persen. Untuk mengamankan pengiriman bijih besi dari Swedia ke Jerman, Hitler memerintahkan invasi Denmark dan Norwegia, yang dimulai pada tanggal 9 April. Denmark jatuh pada hari itu juga, sedangkan sebagian besar Norwegia berhasil dikuasai pada akhir bulan yang sama. Pada awal Juni, Jerman telah menduduki seluruh Norwegia.
Penaklukan Eropa
Atas saran dari sejumlah petinggi militernya, Hitler memerintahkan serangan terhadap Prancis serta Belanda, Belgia, dan Luksemburg, yang dimulai pada Mei 1940. Jerman dengan cepat menaklukkan Luksemburg dan Belanda. Setelah manuver Jerman di Hutan Ardennes di Belgia berhasil menipu tentara Sekutu, pasukan Britania dan Prancis yang terpojok terpaksa dievakuasi dari Dunkerque (Dunkirk) ke daratan Britania. Prancis menyerah tanggal 22 Juni. Kemenangan Jerman di Prancis melejitkan popularitas Hitler dan memicu demam perang di kalangan warga Jerman.
Jerman melanggar ketentuan Konvensi Den Haag dengan mengerahkan perusahaan-perusahaan industri di Belanda, Prancis, dan Belgia untuk memproduksi material perang bagi Jerman. Nazi menyita ribuan lokomotif dan kereta luncur, stok senjata, dan menguasai bahan baku seperti tembaga, timah, minyak, dan nikel dari Prancis. Biaya pendudukan dibebankan kepada Prancis, Belgia, dan Norwegia. Terhambatnya perdagangan menyebabkan terjadinya penimbunan, pasar gelap, dan ketidakpastian masa depan. Persediaan makanan menipis karena produksi turun di sebagian besar wilayah Eropa. Kelaparan dialami oleh banyak negara yang diduduki Jerman.
Tawaran perdamaian Hitler kepada Perdana Menteri Britania Raya yang baru, Winston Churchill, ditolak pada bulan Juli 1940. Laksamana Besar Erich Raeder memberi tahu Hitler pada bulan Juni bahwa keunggulan di udara adalah prasyarat bagi keberhasilan menginvasi Britania, sehingga Hitler memerintahkan serangkaian serangan udara terhadap pangkalan udara dan stasiun radar Angkatan Udara Britania (RAF), dan menggempur kota-kota Britania, termasuk London, Liverpool, dan Manchester pada malam hari. Selanjutnya Pertempuran Britania berkecamuk di udara, tetapi Luftwaffe Jerman gagal melumpuhkan RAF. Pada akhir Oktober, Hitler menyadari bahwa keunggulan udara ini tidak tercapai. Invasi terhadap Britania ditunda secara permanen oleh Hitler, dan rencana ini sendiri sedari awal sebenarnya tidak pernah ditanggapi serius oleh para petinggi Angkatan Darat Jerman. Menurut sejarawan Andrew Gordon, alasan utama kegagalan rencana invasi ini adalah keunggulan Angkatan Laut Britania, bukannya aksi RAF.
Pada 27 September 1940, persekutuan antara Jerman dengan Italia dan Jepang diperkuat dengan penandatanganan Pakta Tripartit di Berlin. Perjanjian ini mengatur persekutuan militer antara ketiga negara, mengakui "kepemimpinan" Jerman dan Italia di Eropa serta Jepang di Asia, dan menjanjikan bantuan jika salah satu dari mereka diserang Amerika Serikat (tanpa menyebutkan nama AS secara langsung). Sekutu-sekutu Jerman lain selanjutnya bergabung dengan perjanjian ini: Bulgaria pada 17 November, Rumania dan Slowakia pada 23 November. Jerman melibatkan kekuatan negara-negara tersebut dalam aksi militernya: kelak pada akhir 1942, terdapat 24 divisi tentara dari Rumania di Front Timur, 10 dari Italia, dan 10 dari Hungaria.
Pada bulan Februari 1941, Korps Afrika Jerman tiba di Libya untuk membantu Italia menghadapi Britania dalam Kampanye Afrika Utara. Pada 6 April, Jerman melancarkan invasi ke Yugoslavia (setelah pemerintahan pro-Jerman di negara tersebut ditumbangkan dalam kudeta) dan Yunani (yang baru saja menghalau serangan sekutu Jerman yaitu Italia). Yugoslavia dibagi-bagi antara Jerman, Hungaria, Italia, dan Bulgaria, dan sebuah negara boneka di Kroasia, sedangkan Yunani diduduki Jerman, Italia, dan Bulgaria.
Invasi Uni Soviet
Pada 22 Juni 1941, sekitar 3,8 juta tentara Blok Poros menyerang Uni Soviet, sekalipun Jerman dan Uni Soviet terikat Pakta Non-Agresi Molotov–Ribbentrop. Selain tujuan yang dinyatakan Hitler untuk memperluas Lebensraum, serangan berskala besar ini (yang diberi nama sandi Operasi Barbarossa) bertujuan menghancurkan Uni Soviet dan merebut sumber daya alamnya untuk keperluan perang melawan negara-negara Barat. Reaksi di kalangan warga Jerman adalah terkejut dan khawatir mengenai perang yang tampaknya makin berkepanjangan atau meragukan bahwa bahwa Jerman dapat memenangkan perang yang terjadi di dua front.
Invasi Jerman berhasil menaklukkan wilayah yang luas, termasuk negara-negara Baltik, Belarus, dan Ukraina barat. Setelah kemenangan Jerman dalam Pertempuran Smolensk pada bulan September 1941, Hitler memerintahkan Satuan Darat Grup Tengah agar berhenti mendekati Moskwa dan mengalihkan satuan-satuan Panzernya agar untuk sementara membantu pengepungan Leningrad dan Kiev. Hal ini memberi jeda yang dimanfaatkan Angkatan Darat Soviet (Tentara Merah) untuk memobilisasi cadangan tentara baru. Serangan terhadap Moskwa dimulai lagi pada Oktober 1941, dan berakhir dengan kegagalan pada bulan Desember. Pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang Pearl Harbor, Hawaii. Empat hari kemudian, Jerman menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, walaupun Pakta Tripaktit tidak mewajibkan hal ini karena Jepang adalah pihak yang memulai serangan.
Persediaan pangan menipis di wilayah Uni Soviet dan Polandia yang ditaklukkan Jerman karena saat dipukul mundur pasukan Soviet membakar habis banyak lahan pertanian dan sebagian besar sisanya dikirim ke Jerman. Di Jerman sendiri, jatah makanan harus dikurangi pada tahun 1942. Sebagai pencanang Rencana Empat Tahun, Hermann Göring menuntut peningkatan pengiriman gandum dari Prancis dan ikan dari Norwegia. Panen tahun 1942 berjalan dengan baik, dan persediaan pangan tetap mencukupi di Eropa Barat.
Jerman dan seluruh Eropa hampir sepenuhnya bergantung pada impor minyak asing. Jerman sendiri sangat bergantung pada ladang minyak di Ploieşti, Rumania. Untuk membuka sumber minyak baru, pada bulan Juni 1942 Jerman meluncurkan Fall Blau ("Kasus Biru"), sebuah serangan terhadap ladang minyak di Kaukasus. Pasukan Poros terus maju dan Tentara Keenam Wehrmacht berhasil mencapai Stalingrad di Sungai Volga. Pada bulan November, pasukan Jerman telah menguasai sebagian besar kota tersebut, tetapi posisinya rentan karena Tentara Keenam berada jauh di garis depan dan sayapnya hanya dijaga Tentara Ketiga dan Keempat Rumania yang relatif lemah. Hal ini dimanfaatkan Tentara Merah untuk melancarkan serangan balasan (Operasi Uranus) pada 19 November, yang membelah posisi Blok Poros sehingga Stalingrad terkepung pada 23 November. Göring meyakinkan Hitler bahwa Stalingrad dapat dipasok melalui udara, tetapi hal ini mustahil dilakukan. Hitler menolak mengizinkan pasukannya mundur sehingga menyebabkan gugurnya 200.000 tentara Jerman dan Rumania; dari 91.000 tentara yang akhirnya menyerah di Stalingrad pada 31 Januari 1943, hanya 6.000 orang yang selamat kembali ke Jerman setelah perang.
Titik balik dan keruntuhan
Kekalahan Jerman terus meningkat setelah peristiwa Stalingrad, yang menyebabkan popularitas Partai Nazi menurun tajam dan memperburuk moral pasukan. Tentara Soviet terus memukul Jerman ke arah barat setelah gagalnya serangan Jerman dalam Pertempuran Kursk pada musim panas 1943. Pada akhir 1943, Jerman kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya di kawasan timur. Di Mesir, Korps Afrika yang dikomandoi Marsekal Lapangan Erwin Rommel dikalahkan oleh pasukan Britania di bawah komando Marsekal Lapangan Bernard Montgomery pada Oktober 1942. Sekutu mendarat di Sisilia pada bulan Juli 1943, pada bulan yang sama Mussolini digulingkan dan digantikan oleh Pietro Badoglio. Pemerintahan Badoglio akhirnya menyerah pada Sekutu pada awal bulan September, sementara pasukan Sekutu mendarat di Italia Selatan dan wilayah Italia lainnya diduduki Jerman atau ditempatkan di bawah negara boneka Republik Sosial Italia. Sementara itu, armada pengebom Amerika dan Britania yang memiliki pangkalan di Inggris mulai menggempur Jerman. Banyak serangan yang sengaja menyasar warga sipil dalam upaya menggoyahkan moral Jerman. Produksi pesawat tempur Jerman tidak dapat mengimbangi jumlah pesawat yang hancur. Tanpa perlawanan angkatan udara Jerman, kampanye pengeboman Sekutu menjadi makin dahsyat. Dengan menyasar kilang minyak dan pabrik, Sekutu melumpuhkan industri perang Jerman pada akhir 1944.
Pada tanggal 6 Juni 1944, pasukan Amerika, Britania, dan Kanada melakukan pendaratan D-Day di Normandia dan membentuk front baru melawan Jerman. Pada 20 Juli 1944, Hitler selamat dari percobaan pembunuhan oleh sebuah komplotan anti-Nazi di kalangan pejabat militer. Ia memerintahkan pembalasan keras, mengakibatkan ditangkapnya sekitar 7.000 penangkapan dan hukuman mati terhadap 4.900 orang. Jerman melancarkan serangan balik di hutan Ardennes (16 Desember 1944 – 25 Januari 1945); ini menjadi serangan besar terakhir Jerman di front barat, sedangkan di timur pasukan Soviet memasuki Jerman pada 27 Januari. Hitler menolak menyerah dan bersikeras bahwa Jerman harus berjuang hingga titik darah penghabisan. Alhasil, perang terus berkobar dan kematian serta kehancuran berlanjut hingga masa akhir perang. Melalui Menteri Kehakiman Otto Georg Thierack, Hitler memerintahkan siapa pun yang tidak siap berperang harus diadili di pengadilan militer, dan ribuan orang dihukum mati. Di banyak daerah, warga Jerman menyerah kepada Sekutu yang mendekat meskipun ada imbauan dari pemimpin setempat untuk terus berjuang. Hitler memerintahkan penghancuran sarana transportasi, jembatan, industri, dan infrastruktur lainnya (strategi bumi hangus), tetapi Menteri Persenjataan Albert Speer diam-diam mengusahakan agar perintah ini tidak dilaksanakan sepenuhnya.
Selama Pertempuran Berlin berkecamuk (16 April 1945 – 2 Mei 1945), Hitler dan stafnya tinggal di Führerbunker di bawah tanah sementara Tentara Merah terus mendekat. Pada tanggal 30 April, ketika pasukan Soviet hanya berjarak dua blok dari Reichskanzlei, Hitler bersama kekasihnya Eva Braun melakukan bunuh diri. Pada tanggal 2 Mei, Jenderal Helmuth Weidling menyerahkan Berlin tanpa syarat kepada Jenderal Soviet Vasily Chuikov. Hitler digantikan oleh Laksamana Agung Karl Dönitz sebagai Presiden Reich dan Goebbels sebagai Kanselir. Goebbels dan istrinya Magda bunuh diri pada hari berikutnya setelah membunuh enam anaknya. Antara 4 dan 8 Mei 1945, sebagian besar tentara Jerman yang tersisa menyerah tanpa syarat. Instrumen Penyerahan Diri Jerman ditandatangani pada 8 Mei, menandai berakhirnya rezim Nazi dan mengakhiri Perang Dunia II di Eropa.
Dukungan rakyat untuk Hitler hampir sepenuhnya hilang ketika perang hampir berakhir. Angka bunuh diri di Jerman meningkat, khususnya di daerah-daerah tempat Tentara Merah menyerbu. Di kalangan prajurit dan anggota partai, bunuh diri dianggap sebagai cara terhormat dan heroik dibandingkan dengan menyerah. Sementara itu, desas-desus dan propaganda mengenai perilaku tak beradab tentara Soviet yang makin mendekat menyebabkan kepanikan di kalangan warga sipil di Front Timur, terutama wanita yang takut diperkosa. Jutaan warga sipil etnis Jerman melarikan dari wilayah-wilayah yang menjadi sasaran serangan Tentara Merah. Pengungsian ini mencapai puncaknya pada awal 1945: menurut perkiraan pemerintah Nazi, sekitar 8 juta warga sedang bergerak ke barat menuju Jerman pada pertengahan Februari 1945. Sebagian menggunakan mobil atau kereta yang ditarik hewan, tetapi kebanyakan harus berjalan kaki di tengah musim dingin tanpa fasilitas memadai. Di kawasan barat pun sebagian warga melarikan diri dari serangan Sekutu Barat menuju pusat Reich. Menurut sejarawan Richard J. Evans, "Di semua tempat di Jerman pada bulan-bulan awal 1945 orang-orang berpindah, hidup dengan ancaman kekerasan dan kematian yang terus menerus, menanti akhir [perang] dengan campuran ketakutan dan harapan."
Korban jiwa Jerman
Pada akhir perang, Eropa menampung lebih dari 40 juta pengungsi, perekonomian Jerman ambruk, dan 70 persen infrastruktur industri hancur. Warga etnis Jerman yang tidak mengungsi dari Eropa tengah, timur, dan tenggara menderita pembalasan brutal serta pengusiran oleh Uni Soviet dan negara-negara yang kemudian berdiri seperti Polandia dan Cekoslowakia. Sekitar 12 hingga 14 juta warga etnis Jerman melarikan diri atau diusir dari negara asalnya, baik pada masa akhir perang maupun setelah perang berakhir. Pemerintah Jerman Barat memperkirakan sebanyak 2,2 juta warga sipil Jerman tewas dalam pelarian, pengusiran, dan kerja paksa di Uni Soviet. Angka ini tetap tak terbantahkan sampai tahun 1990-an, ketika beberapa sejarawan menyebutkan jumlah korban jiwa hanya sebanyak 500.000–600.000. Pada tahun 2006, pemerintah Jerman menegaskan kembali pernyataannya bahwa sebanyak 2-2,5 juta jiwa warga Jerman menjadi korban.
Geografi
Perubahan wilayah selama Perang Dunia II
Akibat kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I dan sesuai hasil Perjanjian Versailles, Jerman kehilangan Alsace-Lorraine, Schleswig Utara, dan Memel. Saarland untuk sementara menjadi protektorat Prancis sembari menunggu penduduknya melakukan referendum. Polandia menjadi negara baru dan diberi akses laut dengan didirikannya Koridor Polandia, yang memisahkan Prusia dari wilayah Jerman lainnya, sedangkan Danzig menjadi kota merdeka.
Jerman kembali menguasai Saarland melalui referendum yang diselenggarakan pada tahun 1935 dan menganeksasi Austria melalui Anschluss pada tahun 1938. Perjanjian München 1938 memberikan Sudetenland ke tangan Jerman, dan sebagian Cekoslowakia direbut enam bulan kemudian. Di bawah ancaman invasi laut, Lituania menyerahkan distrik Memel pada bulan Maret 1939.
Antara tahun 1939 dan 1941, tentara Jerman menginvasi Polandia, Denmark, Norwegia, Prancis, Luksemburg, Belanda, Belgia, Yugoslavia, Yunani, dan Uni Soviet. Jerman menganeksasi Slovenia utara pada April 1941, sedangkan Mussolini menyerahkan Trieste, Tirol Selatan, dan Istria kepada Jerman pada tahun 1943. Daerah bekas Slovenia dan Italia ini kemudian digabungkan ke dalam Zona Operasi Pantai Adriatik serta Zona Operasi Kaki Pegunungan Alpen.
Wilayah yang diduduki
Beberapa daerah yang ditaklukkan dijadikan wilayah Jerman, sejalan dengan tujuan jangka panjang Hitler untuk mendirikan Reich Jerman Raya. Beberapa wilayah, seperti Alsace-Lorraine, diletakkan di bawah wewenang Gau (distrik daerah). Reichskommissariate (Komisariat Reich), rezim mirip penguasa kolonial, didirikan di beberapa negara. Wilayah-wilayah yang berada di bawah pemerintahan langsung Jerman termasuk Protektorat Bohemia dan Moravia, Reichskommissariat Ostland (mencakup negara-negara Baltik dan Belarus), dan Reichskommissariat Ukraine. Wilayah-wilayah yang ditaklukkan di Belgia dan Prancis berada di bawah kendali Administrasi Militer Belgia dan Prancis Utara. Eupen-Malmedy di Belgia, yang dulunya menjadi bagian Jerman sampai tahun 1919, dianeksasi. Sebagian Polandia digabungkan ke dalam wilayah Reich, sedangkan Pemerintahan Umum didirikan di Polandia tengah yang diduduki. Pemerintahan Denmark, Norwegia (Reichskommissariat Norwegen), dan Belanda (Reichskommissariat Niederlande) berada di bawah wewenang pemerintah sipil yang umumnya dikelola oleh penduduk setempat. Hitler ingin agar suatu saat semua wilayah ini digabungkan ke dalam pemerintahan Reich. Jerman membentuk pemerintahan boneka di Serbia pada tahun 1941, sedangkan Protektorat Italia di Albania dan Kegubernuran Italia di Montenegro diduduki pada tahun 1943 agar tidak jatuh ke tangan Sekutu selepas kapitulasi Kerajaan Italia.
Perubahan pascaperang
Dengan disahkannya Deklarasi Berlin pada 5 Juni 1945 dan kemudian dibentuknya Dewan Kendali Sekutu, empat kekuatan Sekutu (Amerika Serikat, Uni Soviet, Britania Raya, dan Prancis) mengambil alih pemerintahan Jerman untuk sementara. Dalam Konferensi Potsdam pada bulan Agustus 1945, Sekutu mengatur pendudukan Jerman dan proses denazifikasi negara tersebut. Jerman dipecah menjadi empat zona pendudukan, masing-masingnya diduduki tiap negara Sekutu, yang mengumpulkan pembayaran pampasan dari tiap zona. Karena sebagian besar kawasan industri berada di zona barat, Uni Soviet diberi penambahan pampasan. Dewan Kendali Sekutu membubarkan Prusia pada 20 Mei 1947. Bantuan ke Jerman mulai berdatangan dari Amerika Serikat melalui Rancangan Marshall pada tahun 1948. Pendudukan Sekutu berlangsung sampai 1949, ketika Jerman Timur dan Jerman Barat didirikan. Pada tahun 1970, Jerman menyelesaikan masalah perbatasannya dengan Polandia melalui penandatanganan Perjanjian Warsawa. Pada tahun 1990, kedua negara Jerman dan keempat negara Sekutu menandatangani Perjanjian Penyelesaian Akhir terhadap Jerman, yang menyetujui dilepaskannya klaim Sekutu atas Jerman, dan klaim Jerman atas wilayahnya yang hilang pada akhir Perang Dunia II. Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu pada tahun yang sama.
Politik
Ideologi
Rezim Nazi menentang modernisme budaya dan mendukung pembangunan militer yang luas dengan mengorbankan intelektualisme. Kreativitas dan seni dikekang, kecuali jika bisa dimanfaatkan sebagai media propaganda. Partai menggunakan simbol-simbol seperti Bendera Darah dan ritual seperti rapat raksasa Partai Nazi untuk menumbuhkan persatuan dan meningkatkan popularitas rezim.
Pemerintahan
Hitler memerintah Jerman secara autokrasi dengan memaksakan Führerprinzip ("prinsip pemimpin"), yang mewajibkan kepatuhan mutlak bagi semua bawahan. Ia mengumpamakan struktur pemerintahan sebagai piramida dengan dirinya yang berada di puncak. Peringkat partai tidak ditentukan oleh pemilu, dan jabatan diisi melalui pengangkatan oleh pejabat yang berpangkat lebih tinggi. Nazi menggunakan propaganda untuk membangun kultus kepribadian terhadap Hitler. Sejarawan seperti Kershaw menggarisbawahi dampak psikologis keterampilan Hitler sebagai orator. Roger Gill menyatakan: "Pidatonya yang mengharukan menawan pikiran dan hati banyak warga Jerman: ia benar-benar menghipnosis para pendengarnya."
Walaupun para pejabat tinggi melapor kepada Hitler dan mengikuti kebijakannya, mereka memiliki otonomi yang cukup besar. Hitler ingin agar para pejabatnya mengambil inisiatif dalam mengupayakan kebijakan dan tindakan yang sejalan dengan tujuan partai dan keinginan Hitler tanpa melibatkan dirinya dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Pemerintah Nazi berisi campuran faksi-faksi yang dipimpin oleh elite partai, yang bersaing memperoleh kekuasaan dan meraih dukungan sang Führer. Gaya kepemimpinan Hitler adalah memberi perintah yang bertentangan kepada bawahannya dan memberikan mereka jabatan dengan tugas dan tanggung jawab yang tumpang tindih. Melalui cara ini, ia memupuk persaingan dan pertikaian antar bawahannya dalam rangka menguatkan dan memaksimalkan kekuasaannya.
Maklumat Reichsstatthalter yang dikeluarkan pada tahun 1933 sampai 1935 menghapuskan Länder (negara bagian) yang ada di Jerman dan menggantinya dengan daerah administrasi baru, Gaue, yang diperintah oleh para pemimpin NSDAP (Gauleiters). Perubahan ini tidak sepenuhnya dilaksanakan karena Länder masih digunakan untuk beberapa departemen pemerintah seperti pendidikan. Hal ini menimbulkan kekacauan birokrasi akibat yurisdiksi dan tanggung jawab yang saling tumpang tindih.
Hukum
Pada bulan Agustus 1934, aparatur sipil dan anggota militer diwajibkan bersumpah setia tanpa syarat kepada Hitler. Undang-undang ini menjadi dasar Führerprinzip, konsep bahwa titah Hitler mematahkan semua undang-undang yang ada. Segala tindakan yang disetujui Hitler (bahkan pembunuhan) menjadi perbuatan yang sah. Semua undang-undang yang diusulkan oleh menteri kabinet harus disetujui oleh kantor Wakil Führer Rudolf Hess, yang juga memiliki hak veto untuk menunjuk pejabat tinggi.
Sebagian besar sistem peradilan dan undang-undang Republik Weimar tetap dipakai untuk menangani kejahatan nonpolitik. Pengadilan memutuskan dan melaksanakan jauh lebih banyak hukuman mati dibandingkan dengan sebelum Nazi mengambil alih kekuasaan. Terdakwa yang divonis dalam tiga atau lebih pelanggaran (bahkan pelanggaran kecil) dianggap sebagai pembuat onar dan dipenjara tanpa batas waktu. Mencopet dianggap sebagai bukti kecacatan genetis dan pekerja seks komersial (yang sebelumnya cukup ditoleransi di Jerman) dianggap sebagai kelompok 'asosial'. Ribuan orang dianggap sudah melekat dengan sifat kriminal oleh polisi, jaksa, atau pengadilan, sehingga ditangkap dan dipenjara tanpa melalui sidang pengadilan.
Militer dan paramiliter
Wehrmacht
Angkatan bersenjata terpadu Jerman dari tahun 1935 sampai 1945 disebut Wehrmacht (pasukan pertahanan). Pasukan ini meliputi Heer (Angkatan Darat), Kriegsmarine (Angkatan Laut), dan Luftwaffe (Angkatan Udara). Sejak 2 Agustus 1934, prajurit angkatan bersenjata diwajibkan bersumpah setia tanpa syarat kepada Hitler secara pribadi. Berbeda dengan sumpah sebelumnya, yang mensyaratkan kesetiaan kepada konstitusi negara dan badan-badan yang sah, sumpah baru ini mewajibkan prajurit militer untuk mematuhi Hitler, meskipun diperintahkan melakukan sesuatu yang ilegal. Terlepas dari upaya untuk mempersiapkan negara secara militer, situasi perekonomian Jerman tidak dapat mendukung pelaksanaan perang berkepanjangan. Strategi baru dikembangkan berdasarkan taktik Blitzkrieg ("perang kilat"), yang menggunakan serangan terkoordinasi cepat dengan menghindari titik kuat musuh. Serangan dimulai dengan bombardir artileri, diikuti oleh pengeboman dan penggempuran dari udara. Kemudian pasukan tank menyerang, dan akhirnya satuan infanteri akan menyerbu masuk untuk mengamankan wilayah yang direbut. Kemenangan Jerman berlanjut sampai pertengahan 1940, tetapi kegagalan melumpuhkan Britania menjadi titik balik kemunduran Jerman dalam peperangan. Keputusan menyerang Uni Soviet dan kekalahan besar di Stalingrad memukul pasukan Jerman hingga akhirnya mengalami kekalahan. Jumlah prajurit yang bertugas di Wehrmacht dari tahun 1935 sampai 1945 sekitar 18,2 juta, 5,3 juta di antaranya gugur.
SA dan SS
Röhm berhasrat mengambil alih komando angkatan bersenjata dan meleburnya ke dalam jajaran SA. Hindenburg dan Menteri Pertahanan Werner von Blomberg mengancam akan memberlakukan darurat militer jika kegiatan SA tidak dibatasi. Ini adalah salah satu penyebab Hitler memerintahkan pembunuhan pimpinan SA, termasuk Röhm, pada peristiwa "Malam Pisau Panjang" 1934. Setelah pembersihan tersebut, SA tidak lagi menjadi kekuatan utama.
Satuan pengawal yang bernaung di bawah SA, Schutzstaffel (SS; Skuadron Perlindungan), awalnya merupakan satuan yang kecil, tetapi kemudian tumbuh menjadi salah satu kelompok bersenjata terbesar dan terkuat di Jerman Nazi. SS dikomandoi oleh Reichsführer-SS Heinrich Himmler sejak tahun 1929 dan memiliki lebih dari 250 ribu prajurit pada tahun 1938. Himmler awalnya berniat menjadikan SS sebagai regu pengawal elite, garis pertahanan terakhir Hitler. Waffen-SS, satuan militer SS, berevolusi menjadi angkatan bersenjata tambahan bagi Jerman. Satuan ini bergantung pada angkatan bersenjata reguler untuk perlengkapan dan persenjataan berat, dan kebanyakan satuannya berada di bawah kendali taktis Komando Tinggi Angkatan Bersenjata (OKW). Pada akhir 1942, seleksi dan persyaratan rasial yang sebelumnya diberlakukan ketat tak lagi dilakukan dalam perekrutan anggota SS. Setelah itu, Waffen-SS terus berkembang melalui perekrutan dan wajib militer, tetapi sejak 1943 mereka bukan lagi pasukan tempur elite.
Pada tahun 1931, Himmler membentuk badan intelijen SS yang kelak bernama Sicherheitsdienst (SD; Dinas Keamanan) bersama wakilnya, Heydrich. Organisasi ini bertugas melacak dan menangkap komunis dan lawan politik lainnya. Himmler memrakarsai dimulainya ekonomi paralel di bawah naungan Kantor Pusat Ekonomi dan Administrasi SS. Departemen induk ini memiliki perusahaan perumahan, pabrik, dan penerbit.
Ekonomi
Ekonomi dalam negeri
Saat meraih kekuasaan, masalah ekonomi paling mendesak yang dihadapi Nazi adalah angka pengangguran nasional yang mencapai 30 persen. Hitler menunjuk ekonom Hjalmar Schacht, seorang teknokrat yang bukan anggota Partai Nazi, sebagai Presiden Reichsbank dan Menteri Perekonomian. Ia menciptakan skema pendanaan melalui defisit pada bulan Mei 1933, memodali proyek-proyek dengan penerbitan surat sanggup bayar yang disebut surat Mefo. Ketika surat Mefo dipakai sebagai alat bayar, Reichsbank mencetak uang. Hitler dan tim ekonominya mengharapkan perluasan wilayah akan menyediakan dana untuk membayar utang nasional yang melonjak. Kebijakan Schacht mendongkrak lapangan pekerjaan melalui proyek-proyek pekerjaan umum dan berhasil mengurangi angka pengangguran dengan cepat, yang tercepat dari negara mana pun pada masa Depresi Hebat. Namun, pemulihan ekonomi yang terjadi tidak merata; pengurangan jam kerja dan terganggunya ketersediaan kebutuhan pokok menyebabkan kekecewaan terhadap pemerintahan Nazi pada awal 1934.
Pada Oktober 1933, pabrik pesawat Junkers diambil alih pemerintah. Setelah bekerja sama dengan produsen pesawat lain dan di bawah arahan Menteri Penerbangan Göring, produksinya meningkat. Dari 3.200 pekerja yang memproduksi 100 unit pesawat per tahun pada 1932, industri ini berkembang dengan mempekerjakan 250 ribu orang dan memproduksi lebih dari 10.000 pesawat sepuluh tahun kemudian.
Birokrasi yang rumit diciptakan untuk mengatur impor bahan baku dan barang jadi dengan tujuan meniadakan persaingan asing di pasar Jerman dan dengan demikian meningkatkan neraca pembayaran negara. Nazi mendorong pengembangan industri bahan sintetis untuk menggantikan bahan seperti minyak dan tekstil. Ketika pasar mengalami keberlimpahan dan harga minyak rendah, pada 1933 pemerintah Nazi menyepakati perjanjian bagi hasil dengan IG Farben, menjamin bahwa mereka memperoleh pengembalian modal 5 persen yang diinvestasikan di pabrik pengolahan minyak di Leuna. Perolehan laba yang melebihi jumlah tersebut akan disetorkan kepada Reich. Pada 1936, Farben menyesali kesepakatan tersebut karena investasi tersebut menghasilkan banyak kelebihan laba. Dalam upayanya mengamankan pasokan minyak bumi yang memadai pada masa perang, Jerman menekan Rumania untuk menandatangani perjanjian dagang pada bulan Maret 1939.
Proyek pekerjaan umum besar yang dibiayai dengan pengeluaran defisit meliputi pembangunan jaringan Autobahnen (jalan bebas hambatan) dan penyediaan dana bagi program yang diprakarsai pemerintah sebelumnya untuk perbaikan perumahan dan pertanian. Untuk merangsang pertumbuhan industri konstruksi, kredit ditawarkan kepada bisnis swasta dan subsidi disediakan untuk pembelian dan perbaikan rumah. Dengan persyaratan bahwa istri akan berhenti bekerja, pinjaman hingga 1.000 Reichsmark diberikan bagi pasangan muda keturunan Arya yang ingin menikah, dan jumlah yang harus dilunasi dipotong sebesar 25 persen untuk setiap anak yang dilahirkan. Aturan wanita hanya boleh bekerja di rumah dicabut pada tahun 1937 karena terjadi kekurangan pekerja terampil.
Hitler menginginkan kepemilikan mobil yang meluas sebagai bagian dari Jerman baru dan memerintahkan Ferdinand Porsche merancang KdF-wagen (mobil "Kuat dengan Sukacita"), dimaksudkan sebagai mobil yang bisa dibeli oleh semua kalangan. Sebuah prototipe ditampilkan dalam Pameran Motor Internasional di Berlin pada 17 Februari 1939. Dengan pecahnya Perang Dunia II, pabrik beralih fungsi memproduksi kendaraan militer. Tidak ada unit yang terjual hingga perang selesai, dan kelak mobil ini dinamai Volkswagen (mobil rakyat).
Angka pengangguran mencapai enam juta orang saat Nazi mengambil alih kekuasaan pada tahun 1933 turun menjadi satu juta pada 1937. Sebagian pengurangan ini diakibatkan dikeluarkannya wanita dari angkatan kerja. Upah real turun 25 persen antara tahun 1933 dan 1938. Setelah pembubaran serikat buruh pada bulan Mei 1933, anggarannya disita dan para pemimpinnya ditangkap, termasuk mereka yang mencoba bekerja sama dengan NSDAP. Organisasi baru, Serikat Buruh Jerman, didirikan dan berada di bawah naungan fungsionaris NSDAP Robert Ley. Rata-rata jam kerja mingguan adalah 43 jam pada tahun 1933, dan meningkat menjadi 47 jam pada 1939.
Pada awal 1934, tujuan ekonomi bergeser ke arah mempersenjatai negara. Pada 1935, pengeluaran militer menghabiskan 73 persen dari total pengeluaran pemerintah. Pada 18 Oktober 1936, Hitler menunjuk Göring sebagai Kepala Rencana Empat Tahun, yang bertujuan mempercepat proses persenjataan negara. Selain mencanangkan pembangunan kilat pabrik baja, pabrik karet sintetis, dan pabrik lainnya, Göring menerapkan pengendalian harga dan upah serta membatasi penerbitan dividen saham. Pengeluaran besar dianggarkan untuk persenjataan meskipun menimbulkan defisit. Rencana yang diumumkan pada akhir 1938 untuk membangun angkatan laut dan angkatan udara secara besar-besaran tidak dapat diwujudkan karena Jerman kekurangan anggaran dan sumber daya material untuk membangun satuan militer yang direncanakan, serta akibat terbatasnya bahan bakar yang diperlukan untuk mengoperasikannya. Dengan diperkenalkannya wajib militer pada tahun 1935, Reichswehr, yang dibatasi sampai 100.000 prajurit sesuai ketentuan Perjanjian Versailles, dikembangkan menjadi 750.000 prajurit yang aktif berdinas pada awal Perang Dunia II, dan satu juta lebih menjadi prajurit cadangan. Pada Januari 1939, angka pengangguran turun menjadi 301.800 dan turun lagi menjadi 77.500 pada bulan September.
Ekonomi masa perang dan kerja paksa
Ekonomi perang Nazi adalah ekonomi campuran yang menggabungkan pasar bebas dengan perencanaan terpusat. Menurut sejarawan Richard Overy, ekonomi Jerman Nazi berada di tengah-tengah ekonomi terencana ala Uni Soviet dan sistem kapitalis ala Amerika Serikat.
Pekerja asing yang dibawa ke Jerman digolongkan ke dalam empat klasifikasi: pekerja tamu, internir militer, pekerja sipil, dan pekerja Timur. Setiap kelompok tunduk pada peraturan yang berbeda. Nazi mengeluarkan larangan hubungan seksual antara warga Jerman dan pekerja asing.
Pada tahun 1944, lebih dari setengah juta wanita bertugas sebagai regu penolong di angkatan bersenjata Jerman. Jumlah wanita Jerman yang bekerja hanya meningkat sebanyak 271.000 (1,8 persen) dari 1939 sampai 1944. Akibat dikuranginya produksi barang-barang konsumsi, para wanita hengkang dari industri tersebut dan kemudian bekerja di sektor ekonomi perang. Mereka juga melakukan pekerjaan yang sebelumnya dipegang oleh laki-laki, terutama di sektor pertanian dan di toko-toko milik keluarga.
Pengeboman strategis besar-besaran oleh Sekutu menyasar kilang pengolahan minyak dan bensin, serta sistem transportasi Jerman, terutama jaringan rel dan terusan. Industri persenjataan mulai lumpuh pada September 1944. Pada bulan November, bahan bakar batu bara tidak bisa lagi didistribusikan dan produksi persenjataan baru tak mungkin lagi dilakukan. Menurut Overy, pengeboman Sekutu meningkatkan beban ekonomi perang Jerman dan memaksa mengalihkan seperempat tenaga kerja dan sektor industrinya untuk membangun pertahanan udara; menurut Overy pengalihan ini kemungkinan besar telah mempercepat berakhirnya perang.
Eksploitasi keuangan di wilayah taklukan
Selama perang, Nazi melakukan banyak penjarahan di daerah Eropa yang diduduki. Sejarawan dan wartawan perang William L. Shirer menulis: "Jumlah total jarahan [Nazi] tidak akan pernah diketahui; terbukti melampaui yang dapat dihitung manusia secara akurat." Cadangan emas dan harta asing lainnya disita dari bank nasional di negara yang diduduki, sedangkan "biaya pendudukan" yang besar dibebankan pada negara yang bersangkutan. Pada masa perang, Nazi menghitung biaya pendudukan yang diterimanya sebesar 60 miliar Reichsmark, dengan Prancis membayar sebesar 31,5 miliar. Banque de France terpaksa memberikan kredit sebesar 4,5 miliar Reichsmark kepada Jerman, sedangkan 500.000 Reichsmark dibebankan kepada Prancis Vichy oleh Nazi dalam bentuk "imbalan" dan biaya lain-lain. Nazi mengeksploitasi negara-negara taklukan lainnya dengan cara yang sama. Setelah perang, Survei Pengeboman Strategis Amerika Serikat menyimpulkan Jerman telah meraup 104 miliar Reichsmark dalam bentuk biaya pendudukan dan pemindahan kekayaan lainnya dari negara-negara Eropa yang diduduki, termasuk dua pertiga produk domestik bruto Belgia dan Belanda.
Penjarahan Nazi juga meliputi koleksi seni pribadi dan publik, artefak, logam mulia, buku, dan barang pribadi. Hitler dan Göring secara khusus berhasrat menguasai karya seni rampasan dari negara Eropa yang diduduki Jerman: Hitler berencana menyimpan karya seni curian tersebut di galeri Führermuseum (Museum Pemimpin) yang direncanakan dibangun, sedangkan Göring ingin melengkapi koleksi pribadinya. Göring, yang menjarah hampir seluruh peninggalan karya seni Polandia dalam kurun enam bulan setelah invasi Jerman, berhasil mengumpulkan koleksi seni bernilai lebih dari 50 juta Reichsmark. Pada tahun 1940, Gugus Tugas Reichsleiter Rosenberg dibentuk untuk menjarah karya seni dan peninggalan budaya dari koleksi publik dan pribadi, perpustakaan, dan museum di seluruh Eropa. Prancis mengalami penjarahan paling parah. Sekitar 26.000 gerbong kereta berisi harta karun seni, perabotan, dan barang jarahan lainnya dikirim ke Jerman dari Prancis. Pada Januari 1941, Rosenberg memperkirakan harta yang dijarah dari Prancis bernilai lebih dari satu miliar Reichsmark. Selain itu, tentara Jerman menjarah atau membeli hasil bumi dan pakaian (barang-barang yang makin sulit didapatkan di Jerman) untuk dikirim pulang.
Barang dan bahan baku juga dirampas. Di Prancis, sekitar 9.000.000 ton biji-bijian disita selama perang, termasuk 75 persen persediaan gandum. Selain itu, 80 persen cadangan minyak negara dan 74 persen produksi baja Prancis diangkut ke Jerman. Nilai hasil rampasan ini diperkirakan 184,5 miliar franc. Di Polandia, penjarahan bahan baku oleh Nazi telah dimulai sebelum invasi Jerman.
Setelah Operasi Barbarossa, Uni Soviet juga dijarah. Pada tahun 1943 saja, 9.000.000 ton biji-bijian, 2.000.000 ton pakan, 3.000.000 ton kentang, dan 662.000 ton daging dikirim ke Jerman. Selama pendudukan Jerman, sekitar 12 juta babi dan 13 juta domba diambil. Nilai penjarahan ini diperkirakan mencapai 4 miliar Reichsmark. Nilai ini relatif rendah dibanding negara-negara yang diduduki di Eropa Barat, kemungkinan karena pertempuran sengit di Front Timur.
Kebijakan rasial dan eugenika
Rasisme dan antisemitisme
Persekusi Rom
Nazi bermaksud mendeportasi semua orang Rom dari Jerman dan mengurung mereka di Zigeunerlager (kamp Gipsi). Himmler memerintahkan deportasi orang Rom dari Jerman pada Desember 1942, dengan beberapa pengecualian. Sebanyak 23.000 orang Rom dideportasi ke kamp konsentrasi Auschwitz, 19.000 di antaranya tewas. Di luar Jerman, orang Rom dikerahkan sebagai buruh, dan banyak yang dibunuh. Di negara-negara Baltik dan Uni Soviet, 30.000 orang Rom dibunuh oleh SS, Tentara Jerman, dan Einsatzgruppen. Di wilayah Serbia yang diduduki, 1.000 sampai 12.000 orang Rom dibunuh, sedangkan hampir 25.000 orang Rom yang tinggal di Negara Merdeka Kroasia tewas. Pada akhir perang, diperkirakan jumlah korban jiwa sekitar 220.000, atau sekitar 25 persen dari populasi Rom di Eropa.
Persekusi kelompok lainnya
Aksi T4 adalah program pembunuhan sistematis terhadap para penyandang disabilitas jasmani dan kejiwaan serta pasien di rumah sakit jiwa yang terjadi dari tahun 1939 sampai 1941, dan berlanjut hingga akhir perang. Awalnya, para korban ditembak oleh Einsatzgruppen dan satuan lainnya; kamar gas dan van gas bermuatan karbon monoksida digunakan pada awal 1940. Di bawah Undang-Undang Pencegahan Penyakit Keturunan yang disahkan pada 14 Juli 1933, sekitar 400.000 pasien menjalani sterilisasi paksa. Lebih dari setengahnya adalah pasien gangguan kejiwaan, yang tidak hanya mencakup orang-orang yang mendapat nilai buruk dalam uji kecerdasan, tetapi juga orang yang perilakunya menyimpang dari standar yang diharapkan dalam penghematan, perilaku seksual, dan kebersihan. Sebagian besar korban berasal dari kelompok terpinggirkan seperti pekerja seks, orang miskin, tunawisma, dan pelaku kriminal. Kelompok lainnya yang dipersekusi dan dibunuh meliputi sekte Saksi Yehuwa, homoseksual, dan anggota oposisi politik dan agama.
Generalplan Ost
Penindasan etnik Polandia
Bangsa Polandia dipandang oleh Nazi sebagai bangsa non-Arya yang merupakan manusia rendahan, dan selama pendudukan Jerman, 2,7 juta orang Polandia dibantai. Warga sipil Polandia menjadi sasaran kerja paksa bagi industri Jerman; mereka ditawan, diusir, dan dieksekusi secara massal untuk membuka lahan bagi pemukim Jerman. Pihak berwenang Jerman terlibat dalam upaya sistematis pemusnahan budaya dan identitas nasional Polandia. Selama operasi AB-Aktion, banyak dosen dan kaum inteligensia Polandia ditangkap, diangkut ke kamp konsentrasi, atau dieksekusi. Pada masa perang, Polandia kehilangan sekitar 39 sampai 45 persen dokter dan dokter gigi, 26 sampai 57 persen pengacara, 15 sampai 30 persen guru, 30 sampai 40 persen ilmuwan dan dosen, dan 18 sampai 28 persen pendeta.
Penyiksaan tawanan perang Soviet
Nazi menahan 5,75 juta tawanan perang Soviet, jumlah yang terbanyak dari semua kekuatan Sekutu lainnya. Dari angka tersebut, sekitar 3,3 juta dibunuh, dengan 2,8 juta di antaranya dibunuh pada bulan Juni 1941 sampai Januari 1942. Banyak tawanan perang yang tewas kelaparan atau terpaksa melakukan kanibalisme saat ditahan di kandang terbuka di Auschwitz dan di tempat lainnya.
Sejak 1942, tawanan perang Soviet dianggap sebagai sumber tenaga kerja dan menerima perlakuan lebih baik agar bisa bekerja. Pada Desember 1944, 750.000 tawanan perang Soviet dipekerjakan, termasuk di pabrik-pabrik persenjataan Jerman (hal ini melanggar konvensi Den Haag dan Jenewa), tambang, dan sektor pertanian.
Pemindahan etnis Jerman
Arahan-arahan yang sering kali saling bertentangan dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri Wilhelm Frick, Bernhard Rust dari Kementerian Sains, Pendidikan dan Kebudayaan Reich, dan lembaga-lembaga lain mengenai kurikulum pelajaran dan buku teks yang boleh digunakan di sekolah dasar dan menengah. Buku-buku yang tidak disetujui oleh rezim ditarik dari perpustakaan sekolah. Pemikiran Sosialis Nasional wajib diajarkan sejak Januari 1934. Siswa yang terpilih sebagai calon anggota elite partai memperoleh pendidikan khusus sejak usia 12 tahun di Sekolah Adolf Hitler untuk pendidikan dasar dan Institut Pendidikan Politik Nasional untuk pendidikan menengah. Indoktrinasi Sosialis Nasional yang terperinci terhadap calon pemangku jabatan elite militer dilaksanakan di NS-Ordensburgen.
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah berfokus pada biologi ras, kebijakan kependudukan, budaya, geografi, dan kebugaran jasmani. Kurikulum di sebagian besar mata pelajaran, termasuk biologi, geografi, dan bahkan aritmetika, diubah dengan fokus terhadap ras. Pendidikan militer menjadi komponen utama pendidikan jasmani, dan mata pelajaran fisika berorientasi pada materi kemiliteran, seperti balistik dan aerodinamika. Siswa diwajibkan menonton semua film yang disiapkan oleh Kementerian Penerangan Umum dan Propaganda Reich.
Perkembangan sains
Reaksi fisi nuklir ditemukan oleh ilmuwan Jerman Otto Hahn pada 1938 dan diketahui berpotensi menghasilkan daya ledak tinggi. Seiring pecahnya Perang Dunia II, ilmuwan-ilmuwan Jerman, termasuk Hahn dan Heisenberg, menawarkan penelitian reaktor nuklir dan bom atom dengan memanfaatkan penemuan tersebut. Tawaran ini disambut baik rezim Nazi, tetapi pada saat itu perkembangan sains di Jerman sudah tertinggal akibat pemberhentian dan keluarnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dari Jerman serta serangan intelektual terhadap fisika teoretis. Jika pada 1927 ilmuwan-ilmuwan Jerman menulis lebih banyak artikel ilmiah tentang fisika nuklir dibanding Amerika Serikat dan Britania Raya, pada 1939 Jerman hanya mengeluarkan 166 artikel sementara AS dan Britania total mengeluarkan 471. Selain itu, upaya ini juga terhambat akibat kurangnya dana (sumber daya Jerman banyak terkuras untuk pengeluaran terkait perang), kurangnya organisasi terpadu antara kelompok-kelompok yang terlibat, kekurangan bahan baku, dan sabotase Sekutu terhadap pabrik air berat Norwegia yang dikendalikan Jerman. Hingga akhir perang, ilmuwan Jerman belum berhasil menciptakan bom atom. Sementara itu, Proyek Manhattan di Amerika Serikat, dengan dana lebih besar serta ilmuwan dan bahan baku yang lebih banyak, akhirnya berhasil membuat senjata tersebut pada tahun 1945.
Peran wanita dan keluarga
Wanita didorong meninggalkan dunia kerja, dan pembentukan keluarga besar oleh wanita Arya dikampanyekan dengan menggunakan propaganda. Wanita menerima medali Ehrenkreuz der Deutschen Mutter atau "Salib Kehormatan Ibu Jerman" berdasarkan jumlah anak yang mereka lahirkan; mereka dapat memperoleh medali perunggu jika melahirkan empat anak, perak untuk enam anak, dan emas untuk delapan anak atau lebih. Keluarga besar menerima subsidi pemerintah untuk membantu menanggung pengeluaran. Meskipun langkah-langkah tersebut menyebabkan meningkatnya angka kelahiran, jumlah keluarga yang memiliki empat anak atau lebih menurun lima persen antara tahun 1935 dan 1940. Mengeluarkan wanita dari angkatan kerja tidak berdampak membuka lapangan pekerjaan untuk pria karena pekerjaan yang ditinggalkan wanita adalah pembantu rumah tangga, penenun, atau pekerjaan di industri makanan dan minuman (pekerjaan-pekerjaan yang tidak diminati oleh pria). Filosofi Nazi mencegah wanita dipekerjakan di pabrik amunisi perang, sehingga buruh asing dipekerjakan di sana. Setelah perang dimulai, budak dipekerjakan secara luas. Pada Januari 1943, Hitler mengeluarkan maklumat yang mewajibkan semua wanita yang berusia di bawah lima puluh tahun bertugas membantu upaya perang. Setelah itu, wanita dikerahkan bekerja di sektor pertanian dan industri, dan pada September 1944, 14,9 juta wanita bekerja dalam produksi amunisi.
Para pemimpin Nazi menganut gagasan bahwa pekerjaan rasional dan teoretis tidak cocok bagi sifat wanita, sehingga mereka mencoba menghalangi upaya wanita untuk mengenyam pendidikan tinggi. Undang-undang yang disahkan pada April 1933 membatasi jumlah wanita yang diterima di universitas maksimal sepuluh persen dari jumlah mahasiswa pria. Jumlah siswi baru di sekolah menengah turun dari 437.000 pada tahun 1926 menjadi 205.000 pada tahun 1937. Jumlah wanita yang terdaftar di sekolah dasar turun dari 128.000 pada 1933 menjadi 51.000 pada 1938. Namun, karena pria mengikuti militer pada masa perang, jumlah wanita yang mendaftar sekolah menengah meningkat pada tahun 1944.
Wanita diharapkan menjadi sosok kuat, sehat, serta penuh tenaga dan keberanian. Wanita petani tangguh yang bekerja di ladang dan melahirkan anak-anak yang kuat dianggap sebagai sosok ideal, dan wanita dipuji jika memiliki tubuh atletis dan kulit kecokelatan karena bekerja di luar rumah. Berbagai organisasi kepemudaan juga dibentuk untuk menanamkan nilai-nilai Nazi. Sejak 25 Maret 1939, keanggotaan Pemuda Hitler wajib bagi semua anak yang berusia di atas sepuluh tahun. Jungmädelbund (Liga Anak Perempuan) adalah organisasi bagi anak perempuan yang berusia antara 10 sampai 14 tahun, sedangkan Bund Deutscher Mädel (BDM; Liga Putri Jerman) dibentuk untuk remaja putri berusia 14 sampai 18 tahun. Program BDM berfokus pada pendidikan jasmani dengan kegiatan seperti lari, lompat jauh, salto, lompat tali, gerak jalan, dan berenang.
Rezim Nazi menerapkan kode etik yang sangat longgar dalam masalah seks dan bersimpati terhadap wanita yang melahirkan anak di luar nikah. Pergaulan bebas meningkat saat perang berlangsung, dan serdadu yang belum menikah sering kali menjalin hubungan dengan banyak wanita secara bersamaan. Istri tentara sering terlibat hubungan di luar nikah. Seks terkadang digunakan sebagai iming-iming agar pekerja asing bekerja lebih baik. Namun, selebaran-selebaran diedarkan untuk menghimbau wanita Jerman agar menghindari hubungan seksual dengan pekerja asing karena berbahaya bagi kemurnian darah mereka.
Dengan persetujuan Hitler, Himmler ingin agar masyarakat Nazi tak lagi memiliki stigma buruk terhadap kelahiran di luar nikah, terutama anak-anak yang memiliki ayah anggota SS yang sudah diperiksa kemurnian rasnya. Himmler ingin setiap keluarga anggota SS memiliki empat sampai enam anak. Asosiasi Lebensborn (Air Mancur Kehidupan) yang didirikan oleh Himmler pada tahun 1935 membangun sejumlah rumah bersalin untuk menampung para wanita yang seorang diri pada masa kehamilan. Kedua orang tua diperiksa kemurnian rasnya sebelum ditampung di sana. Anak-anak yang dilahirkan sering kali diadopsi oleh keluarga anggota SS. Rumah bersalin tersebut juga terbuka bagi istri anggota SS dan NSDAP, yang dengan cepat mengisi lebih dari setengah kamar yang tersedia.
Hukum Jerman Nazi melarang aborsi kecuali karena alasan medis, dan aturan ini ditegakkan dengan ketat. Jumlah aborsi menurun dari 35.000 per tahun pada awal 1930-an menjadi kurang dari 2.000 per tahun pada akhir dasawarsa yang sama. Namun, pada tahun 1935, disahkan undang-undang baru yang memperbolehkan aborsi atas dasar eugenika, yaitu untuk mengurangi kelahiran manusia yang dianggap tidak dikehendaki.
Kesehatan
Jerman menerapkan kebijakan antitembakau yang ketat, terutama setelah riset Franz H. Müller pada 1939 menunjukkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kanker paru-paru. Kantor Kesehatan Reich mengambil langkah-langkah untuk membatasi kegiatan merokok, termasuk mengadakan ceramah dan menyebar pamflet. Merokok dilarang di tempat kerja, di kereta api, dan di kalangan anggota militer yang sedang bertugas. Instansi pemerintah juga berupaya mengendalikan zat karsinogenik lainnya seperti asbestos dan pestisida. Sebagai bagian dari kampanye kesehatan masyarakat, persediaan air dibersihkan, unsur timbal dan raksa dihilangkan dari produk konsumen, dan wanita didesak untuk menjalani pemeriksaan rutin kanker payudara.
Percobaan medis yang banyak dipengaruhi ilmu semu dilakukan terhadap tahanan kamp konsentrasi sejak tahun 1941. Dokter yang paling dikenal sebagai pelaku percobaan manusia adalah SS-Hauptsturmführer Dr. Josef Mengele yang berperan sebagai dokter kamp di Auschwitz. Sebagian besar korbannya meninggal dunia atau sengaja dibunuh. Tahanan di kamp konsentrasi sendiri bisa dibeli oleh perusahaan farmasi untuk pengujian obat-obatan dan eksperimen lainnya.
Pelestarian lingkungan
Terdapat kelompok-kelompok masyarakat di Jerman Nazi yang mendukung hak asasi hewan, dan banyak warga menggemari kebun binatang dan satwa liar. Pemerintah mengambil beberapa langkah untuk memastikan perlindungan hewan dan lingkungan. Pada tahun 1933, Nazi memberlakukan undang-undang perlindungan hewan yang ketat terkait hewan yang boleh digunakan untuk riset medis. Namun, penegakan undang-undang ini terbilang longgar, dan meskipun ada larangan pembedahan makhluk hidup, Kementerian Dalam Negeri dengan mudah memberikan izin eksperimen terhadap hewan.
Kantor Kehutanan Reich di bawah kepemimpinan Göring memberlakukan peraturan yang mewajibkan rimbawan menanam berbagai pohon untuk memastikan agar ada habitat yang cocok bagi satwa liar. Rezim Nazi juga mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Alam Reich pada tahun 1935 untuk melindungi bentang alam dari pembangunan ekonomi yang berlebihan. Hal ini memungkinkan pengambilalihan tanah milik swasta untuk mendukung pelestarian alam dan membantu perencanaan jangka panjang. Sementara itu, upaya kecil-kecilan dilakukan untuk mengatasi polusi udara, tetapi setelah perang dimulai, penegakan undang-undang yang sudah ada masih kurang.
Gerakan anti-Nazi
Meskipun tidak ada gerakan perlawanan terpadu yang menentang rezim Nazi di dalam negeri, tindakan pembangkangan oleh individu atau kelompok tertentu kerap terjadi, seperti sabotase, pemogokan kerja, hingga upaya menggulingkan rezim atau membunuh Hitler. Partai Komunis dan Partai Demokrat Sosial (yang statusnya sudah terlarang) membentuk jaringan perlawanan pada pertengahan 1930-an. Jaringan ini hanya berhasil memicu gangguan dan memulai mogok kerja yang tidak berlangsung lama. Politikus Carl Friedrich Goerdeler yang awalnya mendukung Hitler berubah pikiran pada tahun 1936 dan kemudian ikut serta dalam komplotan 20 Juli. Jaringan mata-mata Orkestra Merah memberikan informasi kepada Sekutu mengenai kejahatan perang Nazi, membantu merencanakan pelarian dari Jerman, dan membagikan selebaran. Kelompok ini diciduk Gestapo dan lebih dari 50 anggotanya diadili dan dihukum mati pada tahun 1942. Kelompok perlawanan Partai Komunis dan Partai Demokrat Sosial memulai kembali kegiatan perlawanan pada akhir 1942, tetapi tidak mampu berbuat banyak selain membagikan selebaran. Kedua kelompok tersebut menganggap satu sama lain sebagai saingan potensial di Jerman pascaperang, dan kegiatan perlawanan mereka pada umumnya tidak terkoordinasi. Kelompok perlawanan Mawar Putih beroperasi pada tahun 1942-1943, dan kebanyakan anggotanya ditangkap atau dihukum mati, dengan penangkapan terakhir terjadi pada tahun 1944. Kelompok perlawanan sipil lainnya, Lingkaran Kreisau, menjalin koneksi dengan orang dalam militer, dan banyak anggotanya ditangkap setelah gagalnya upaya komplotan 20 Juli.
Meskipun upaya perlawanan sipil berdampak terhadap opini publik, tentara adalah satu-satunya organisasi yang memiliki kemampuan menggulingkan pemerintah. Sebuah komplotan perlawanan yang beranggotakan para petinggi militer terbentuk pada tahun 1938. Kelompok ini meyakini bahwa Britania Raya akan menyatakan perang terhadap Jerman setelah Hitler berencana menginvasi Cekoslowakia, dan Jerman akan kalah. Kelompok ini berkomplot menggulingkan dan membunuh Hitler. Anggotanya termasuk Generaloberst Ludwig Beck, Generaloberst Walther von Brauchitsch, Generaloberst Franz Halder, Laksamana Wilhelm Canaris, dan Generalleutnant Erwin von Witzleben, yang bergabung dalam konspirasi pimpinan Oberstleutnant Hans Oster dan Mayor Helmuth Groscurth dari Abwehr. Rencana kudeta dibatalkan setelah penandatanganan Perjanjian München pada bulan September 1938. Sejumlah tokoh juga terlibat dalam kudeta yang direncanakan pada tahun 1940, tetapi lagi-lagi para anggotanya berubah pikiran dan mundur, sebagian karena naiknya popularitas Nazi setelah kemenangan-kemenangan awal dalam perang. Upaya pembunuhan Hitler direncanakan dengan serius pada tahun 1943, ketika Henning von Tresckow bergabung dengan kelompok Oster dan berupaya meledakkan pesawat Hitler pada 1943. Rangkaian upaya membunuh Hitler terus berlanjut hingga akhirnya terjadi peristiwa 20 Juli 1944, bagian dari Operasi Walküre. Salah satu faktor pendorong rencana pembunuhan ini adalah meningkatnya risiko kekalahan Jerman dalam perang. Dalam peristiwa ini, Kolonel Claus von Stauffenberg memasang bom di ruang rapat markas militer Hitler di Rastenburg. Hitler, yang nyaris terbunuh dalam ledakan bom tersebut, kemudian memerintahkan pembalasan besar-besaran yang mengakibatkan dijatuhkannya hukuman mati terhadap lebih dari 4.900 orang.
Budaya
Rezim Nazi mempromosikan konsep Volksgemeinschaft, yaitu komunitas etnik bangsa Jerman. Tujuannya adalah membangun masyarakat tanpa kelas yang didasarkan pada kemurnian ras dan kebutuhan untuk mempersiapkan peperangan, penaklukan, dan perjuangan melawan Marxisme.
Radio menjadi populer di Jerman pada tahun 1930-an; lebih dari 70 persen rumah tangga memiliki pesawat radio pada 1939, lebih banyak dari negara mana pun. Pada Juli 1933, dilakukan pembersihan karyawan stasiun-stasiun radio dari simpatisan sayap kiri maupun kelompok-kelompok lainnya yang tidak dikehendaki pemerintah. Propaganda dan pidato menjadi konten siaran radio yang lazim setelah Hitler berkuasa, tetapi kemudian Goebbels berkeras agar musik juga banyak disiarkan supaya pendengar tidak beralih ke siaran radio asing untuk mencari hiburan.
Penyensoran
Seperti media lainnya, surat kabar di Jerman Nazi dikendalikan oleh negara. Dewan Media Reich memberedel atau membeli surat kabar dan penerbit. Pada tahun 1939, lebih dari dua pertiga surat kabar dan majalah dimiliki langsung oleh Kementerian Propaganda. Surat kabar harian NSDAP, Völkischer Beobachter ("Pengamat Etnik"), disunting oleh Rosenberg, yang juga menulis Mitos Abad Keduapuluh, sebuah buku berisi teori ras yang mengagungkan keunggulan ras Nordik. Goebbels mengendalikan kantor-kantor berita dan memerintahkan agar semua surat kabar di Jerman hanya boleh menerbitkan konten yang positif bagi rezim. Di bawah arahan Goebbels, Kementerian Propaganda mengeluarkan lebih dari dua puluh instruksi setiap minggu mengenai berita apa yang boleh dipublikasikan dan sudut pandang apa yang harus digunakan; surat kabar umumnya mengikuti instruksi ini dengan cermat, terutama mengenai berita yang tidak boleh dimuat. Jumlah pembaca surat kabar merosot, sebagian disebabkan oleh menurunnya mutu konten dan sebagian karena meningkatnya popularitas radio. Propaganda menjadi kurang efektif menjelang akhir perang karena masyarakat bisa memperoleh informasi di luar saluran resmi pemerintah.
Arsitektur dan seni
Hitler menaruh minat pribadi terhadap arsitektur dan bekerja sama dengan arsitek negara Paul Troost dan Albert Speer untuk membangun gedung publik dengan gaya neoklasik berdasarkan arsitektur Romawi. Speer membangun struktur besar seperti lapangan rapat raksasa partai Nazi di Nürnberg dan gedung Reichskanzlei baru di Berlin. Rencana Hitler untuk membangun kembali Berlin meliputi pembangunan kubah raksasa yang terinspirasi Pantheon di Roma serta lengkung kemenangan berukuran dua kali lebih tinggi dari Arc de Triomphe di Paris. Namun, tidak ada satu pun dari struktur raksasa ini yang jadi dibangun.
Keyakinan Hitler bahwa seni berhaluan abstrak, dadaisme, ekspresionis, dan modern merupakan suatu kemunduran dijadikan dasar kebijakan seni Nazi. Ia menyebut bahwa "karya seni yang tidak dapat dipahami kecuali dengan kumpulan instruksi yang panjang ... tak akan lagi menjangkau bangsa Jerman dengan terbuka." Banyak direktur museum seni yang dipecat pada tahun 1933 dan digantikan oleh simpatisan partai. Sekitar 6.500 karya seni modern dikeluarkan dari museum dan diganti dengan karya-karya yang dipilih oleh Nazi. Karya-karya seni yang ditolak dipamerkan dengan judul seperti "Kemerosotan Seni" di enam belas kota berbeda pada tahun 1935. Pameran Seni yang Merosot (yang diprakarsai oleh Goebbels) diselenggarakan di München dari bulan Juli sampai November 1937. Pameran ini sangat populer dan menarik lebih dari dua juta pengunjung.
Komposer Richard Strauss ditunjuk sebagai presiden Reichsmusikkammer (Dewan Musik Reich) setelah pendiriannya pada November 1933. Seperti bidang seni lainnya, Nazi mengucilkan musikus dari golongan yang tidak dikehendaki dan melarang pertunjukan musik yang terlalu modern atau atonal. Jaz dianggap sangat tidak pantas dan musisi jaz asing meninggalkan Jerman atau diusir. Hitler sendiri menyukai musik Richard Wagner, terutama karya-karya yang didasari oleh mitos Jerman dan kisah-kisah heroik, dan ia menyaksikan Festival Bayreuth setiap tahun dari 1933 sampai 1942.
Film
Film 1935 berjudul Triumph des Willens (yang mendokumentasikan Rapat Raksasa Nürnberg 1934) dan film 1938 Olympia (meliput Olimpiade Musim Panas 1936) karya Leni Riefenstahl memelopori teknik penyuntingan dan pergerakan kamera yang memengaruhi film-film berikutnya. Teknik baru digunakan, misalnya lensa telefoto dan kamera yang diberi roda di atas lintasan. Kedua film tersebut masih dianggap kontroversial karena nilai estetikanya tidak dapat dipisahkan dari propaganda cita-cita Sosialis Nasional.
Peninggalan sejarah
Seusai Perang Dunia II, pihak Sekutu menggelar pengadilan kejahatan perang untuk tokoh-tokoh Nazi, dimulai dengan peradilan Nürnberg yang digelar dari November 1945 hingga Oktober 1946 terhadap 23 pejabat tinggi Nazi. Para petinggi ini dikenakan empat dakwaan yang terkait dengan hukum kemanusiaan internasional, yaitu "konspirasi melakukan kejahatan terhadap perdamaian", "kejahatan terhadap perdamaian", "kejahatan perang", dan "kejahatan kemanusiaan". Semua terdakwa (kecuali tiga) dinyatakan bersalah dan dua belas dari mereka dijatuhi hukuman mati. Dua belas pengadilan lanjutan terhadap 184 terdakwa kemudian digelar antara tahun 1946 sampai 1949. Dari tahun 1946 hingga 1949, Sekutu menyelidiki 3.887 perkara, dan 489 di antaranya disidangkan. Pada akhirnya terdapat 1.426 orang yang terbukti bersalah; 297 dari mereka dijatuhi hukuman mati dan 279 lainnya dipenjara seumur hidup, sementara sisanya menerima hukuman yang lebih ringan. Sekitar 65 persen hukuman mati yang telah dijatuhkan benar-benar dilaksanakan. Polandia lebih aktif daripada negara-negara lain dalam menyelidiki kejahatan perang; sebagai contoh, Polandia mendakwa 673 dari total 789 pegawai Auschwitz yang dibawa ke meja hijau.
Program politik yang didukung oleh Hitler dan NSDAP telah mengakibatkan perang dunia yang berujung pada kehancuran dan kemelaratan Eropa. Jerman sendiri mengalami kehancuran besar-besaran, dan akhir Perang Dunia II dijuluki Stunde Null (Pukul Nol). Jumlah warga sipil yang tewas dalam Perang Dunia II merupakan yang terbesar dalam sejarah dunia. Akibatnya, ideologi dan tindakan Nazi sering kali dianggap tidak bermoral. Sejarawan, filsuf, dan politikus sering menggunakan kata "jahat" (evil) untuk menggambarkan Hitler dan rezim Nazi. Penggunaan simbol Nazi seperti bendera, swastika, atau hormat Nazi bahkan dikenakan pidana di Jerman dan Austria.
Proses denazifikasi Jerman yang diprakarsai oleh Sekutu sebagai cara untuk melenyapkan anggota Partai Nazi tidak sepenuhnya berhasil karena tingginya kebutuhan para ahli di bidang-bidang seperti kedokteran dan teknik. Sementara itu, pandangan Nazi dianggap tabu, dan mereka yang mengungkapkan pandangan tersebut sering kali diberhentikan dari pekerjaan. Sejak periode pascaperang sampai tahun 1950-an, masyarakat Jerman menghindari pembicaraan mengenai rezim Nazi atau pengalaman masa perang. Walaupun keluarga-keluarga Jerman yang menjadi korban perang memiliki kisah mereka sendiri, warga Jerman tetap bergeming terkait dengan hal tersebut dan malah menanggung semacam "rasa bersalah bersama" meskipun tidak semuanya terlibat langsung dalam kejahatan perang.
Persidangan Adolf Eichmann pada tahun 1961 dan ditayangkannya miniseri televisi Holocaust pada 1979 membawa proses Vergangenheitsbewältigung (menghadapi masa lalu) pada banyak warga Jerman. Setelah pelajaran tentang Jerman Nazi mulai diperkenalkan ke dalam kurikulum sekolah sejak dasawarsa 1970-an, masyarakat mulai mencari tahu pengalaman anggota keluarga mereka. Kajian terhadap era Nazi dan kemauan untuk mengakui dan mengkritisi kesalahan-kesalahan masa lalu menjadi faktor kuatnya perkembangan demokrasi di Jerman, walaupun pemikiran antisemitisme dan neo-Nazi tidak sepenuhnya hilang.
Lihat pula
Referensi
Catatan penjelas
Kutipan
Daftar pustaka
Pranala luar
- German Propaganda Archive di situs Calvin College
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29583437 (2026-08-15T14:45:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.