Lompat ke isi

Perdagangan elektronik sosial: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28618445; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Baris 1: Baris 1:
'''Perdagangan elektronik sosial''' () adalah sebuah aktivitas [[penjualan]] [[produk]] dan [[layanan]] yang dilakukan oleh [[pedagang]] dengan memanfaatkan kanal-kanal sosial [[digital]] baik melalui [[daring]] maupun secara langsung untuk mencapai [[konsumen]]nya, termasuk di dalamnya menggunakan [[media sosial]], aplikasi [[obrolan daring]] dan [[penjualan langsung]] lewat aktivitas sosial mereka.
[[File:Letgo_feed.png|thumb|right|280px|Letgo feed]]


Suatu social commerce umumnya melibatkan sebuah platform yang menyediakan produk-produk yang dapat diakses dan dijualkan oleh pedagang dengan bantuan [[internet]] di [[aplikasi seluler]] atau [[situs web]], kemudian pedagang akan mencari konsumennya melalui kanal-kanal sosial dan menerima [[komisi]] atau upah atas penjualannya.
'''Perdagangan elektronik sosial''' () adalah sebuah aktivitas [[penjualan]] [[produk]] dan [[layanan]] yang dilakukan oleh [[pedagang]] dengan memanfaatkan kanal-kanal sosial [[digital]] baik melalui [[daring]] maupun secara langsung untuk mencapai [[konsumen]]nya,<ref>[https://rouse.com/insights/news/2021/the-rise-and-rise-of-social-commerce The rise and rise of ‘social commerce’]. ''Rouse''. 2021-09-09.</ref> termasuk di dalamnya menggunakan [[media sosial]],<ref>[https://www.investopedia.com/terms/s/social-commerce.asp Social Commerce]. ''Investopedia''. 2021-03-21.</ref> aplikasi [[obrolan daring]]<ref>[https://rouse.com/insights/news/2021/the-rise-and-rise-of-social-commerce The rise and rise of ‘social commerce’]. ''Rouse''. 2021-09-09.</ref> dan [[penjualan langsung]] lewat aktivitas sosial mereka.<ref>[https://thelowdown.momentum.asia/social-commerce-the-new-growth-engine-in-indonesia-ecommerce/ Social commerce: The new growth engine in Indonesia ecommerce?]. ''The Low Down''. 2021-08-10.</ref>


Prinsip-prinsip transaksi yang terjadi di dalam social commerce identik dengan e-commerce, karena melalui platform yang di dalamnya ada pengguna, pilihan produk-produk, dan [[sistem pembayaran]]. Perbedaan utamanya adalah pengguna pada social commerce adalah pedagang yang mau menjualnya lagi, bukan [[konsumen]] langsung.
Suatu social commerce umumnya melibatkan sebuah platform yang menyediakan produk-produk yang dapat diakses dan dijualkan oleh pedagang dengan bantuan [[internet]] di [[aplikasi seluler]] atau [[situs web]], kemudian pedagang akan mencari konsumennya melalui kanal-kanal sosial dan menerima [[komisi]] atau upah atas penjualannya.<ref>[https://lightbox.vc/new-thinking/social-the-next-frontier-of-commerce Social: The Next Frontier of E-Commerce]. ''Lightbox Ventures''. 2021-01-10.</ref><ref>[https://blog.evermos.com/social-commerce/ Inilah Perbedaan E-Commerce dan Social Commerce]. ''Evermos''. 2021-01-10.</ref>
 
Prinsip-prinsip transaksi yang terjadi di dalam social commerce identik dengan e-commerce, karena melalui platform yang di dalamnya ada pengguna, pilihan produk-produk, dan [[sistem pembayaran]]. Perbedaan utamanya adalah pengguna pada social commerce adalah pedagang yang mau menjualnya lagi, bukan [[konsumen]] langsung.<ref>[https://blog.evermos.com/social-commerce/ Inilah Perbedaan E-Commerce dan Social Commerce]. ''Evermos''. 2021-01-10.</ref><ref>[https://dailysocial.id/post/e-commerce-vs-social-commerce-adu-kemudahan-berbelanja-online E-Commerce vs Social Commerce: Adu Kemudahan Berbelanja Online]. ''Daily Social''. 2021-08-16.</ref>


== Ruang Lingkup ==
== Ruang Lingkup ==
Social commerce mulai bertumbuh menggantikan [[perdagangan elektronik|e-commerce]] karena adanya kebutuhan yang muncul dalam belanja [[daring]] pada konsumen pengguna [[internet]] yaitu kurangnya kesadaran akan produk, kurang yakin dalam transaksi [[daring]] dan tidak percaya dalam produk yang dijual. Social commerce juga memungkinkan ada rekomendasi dari pedagang langsung, yang merupakan kenalan lainnya yang akhirnya memengaruhi keputusan calon konsumen untuk membelinya. Di dalam konteks bisnis, ada beberapa model social commerce yang sekarang ada untuk mengatasi kebutuhan tersebut:
Social commerce mulai bertumbuh menggantikan [[perdagangan elektronik|e-commerce]] karena adanya kebutuhan yang muncul dalam belanja [[daring]] pada konsumen pengguna [[internet]] yaitu kurangnya kesadaran akan produk, kurang yakin dalam transaksi [[daring]] dan tidak percaya dalam produk yang dijual.<ref>[https://lightbox.vc/new-thinking/social-the-next-frontier-of-commerce Social: The Next Frontier of E-Commerce]. ''Lightbox Ventures''. 2021-01-10.</ref> Social commerce juga memungkinkan ada rekomendasi dari pedagang langsung, yang merupakan kenalan lainnya yang akhirnya memengaruhi keputusan calon konsumen untuk membelinya.<ref>[https://dailysocial.id/post/e-commerce-vs-social-commerce-adu-kemudahan-berbelanja-online E-Commerce vs Social Commerce: Adu Kemudahan Berbelanja Online]. ''Daily Social''. 2021-08-16.</ref> Di dalam konteks bisnis, ada beberapa model social commerce yang sekarang ada untuk mengatasi kebutuhan tersebut:<ref>[https://lightbox.vc/new-thinking/social-the-next-frontier-of-commerce Social: The Next Frontier of E-Commerce]. ''Lightbox Ventures''. 2021-01-10.</ref><ref>[https://www.linkedin.com/pulse/top-3-social-commerce-business-models-ashish-jain/ Top 3 social commerce business models]. ''Linkedin Pulse''. 2021-12-07.</ref>
 
*'''Reseller Platform''': Sebuah model social commerce yang memanfaatkan 3 pilar yaitu reseller, supplier (pemilik [[produk]]) dan [[konsumen]]. Reseller sebagai individu-individu yang tertarik untuk menjualkan barang ke lingkaran sosial mereka melalui bantuan [[media sosial]] atau aplikasi obrolan secara [[daring]] maupun langsung. Contoh perusahaan ternama dengan model ini adalah [[Woobiz]] dan [[Evermos]] di [[Indonesia]].
 
Peran platform di sini adalah mempertemukan reseller yang sebagai [[wirausahawan]] dengan supplier. Reseller berperan besar untuk memenuhi kebutuhan konsumen atas rasa kesadaran, kurang yakin akan transaki dan rasa percaya karena biasanya reseller tersebut adalah orang yang konsumen kenal dalam lingkungan mereka.


*'''Media sosial platform''': Platform media sosial seperti [[Facebook]], [[Instagram]], [[TikTok]] dan [[WhatsApp]] memungkinkan pengguna untuk menjadi penjual dengan adanya fungsionalitas dan fitur yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti memasarkan, opsi jual beli, menaikkan produk dan langsung membuat toko.
*'''Reseller Platform''': Sebuah model social commerce yang memanfaatkan 3 pilar yaitu reseller, supplier (pemilik [[produk]]) dan [[konsumen]].<ref>[https://lightbox.vc/new-thinking/social-the-next-frontier-of-commerce Social: The Next Frontier of E-Commerce]. ''Lightbox Ventures''. 2021-01-10.</ref> Reseller sebagai individu-individu yang tertarik untuk menjualkan barang ke lingkaran sosial mereka melalui bantuan [[media sosial]] atau aplikasi obrolan secara [[daring]] maupun langsung. Contoh perusahaan ternama dengan model ini adalah [[Woobiz]] dan [[Evermos]] di [[Indonesia]].


Pengguna dapat berinteraksi langsung dengan pengguna lain untuk melakukan jual-beli sehingga menimbulkan rasa percaya, namun transaksi yang terjadi dalam media sosial masih terbatas karena terjadi langsung di luar ekosistem platform-platform tersebut.
Peran platform di sini adalah mempertemukan reseller yang sebagai [[wirausahawan]] dengan supplier. Reseller berperan besar untuk memenuhi kebutuhan konsumen atas rasa kesadaran, kurang yakin akan transaki dan rasa percaya karena biasanya reseller tersebut adalah orang yang konsumen kenal dalam lingkungan mereka.<ref>[https://lightbox.vc/new-thinking/social-the-next-frontier-of-commerce Social: The Next Frontier of E-Commerce]. ''Lightbox Ventures''. 2021-01-10.</ref>


== Referensi ==
*'''Media sosial platform''': Platform media sosial seperti [[Facebook]], [[Instagram]], [[TikTok]] dan [[WhatsApp]] memungkinkan pengguna untuk menjadi penjual dengan adanya fungsionalitas dan fitur yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti memasarkan, opsi jual beli, menaikkan produk dan langsung membuat toko.<ref>[https://www.linkedin.com/pulse/top-3-social-commerce-business-models-ashish-jain/ Top 3 social commerce business models]. ''Linkedin Pulse''. 2021-12-07.</ref>


Pengguna dapat berinteraksi langsung dengan pengguna lain untuk melakukan jual-beli sehingga menimbulkan rasa percaya, namun transaksi yang terjadi dalam media sosial masih terbatas karena terjadi langsung di luar ekosistem platform-platform tersebut.<ref>[https://rouse.com/insights/news/2021/the-rise-and-rise-of-social-commerce The rise and rise of ‘social commerce’]. ''Rouse''. 2021-09-09.</ref>


== Kategori ==
== Kategori ==


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan+elektronik+sosial&oldid=28618445 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28618445 (2025-11-24T13:59:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan+elektronik+sosial&oldid=28618445 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28618445 (2025-11-24T13:59:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi per 23 Agustus 2026 18.07

Letgo feed

Perdagangan elektronik sosial () adalah sebuah aktivitas penjualan produk dan layanan yang dilakukan oleh pedagang dengan memanfaatkan kanal-kanal sosial digital baik melalui daring maupun secara langsung untuk mencapai konsumennya,[1] termasuk di dalamnya menggunakan media sosial,[2] aplikasi obrolan daring[3] dan penjualan langsung lewat aktivitas sosial mereka.[4]

Suatu social commerce umumnya melibatkan sebuah platform yang menyediakan produk-produk yang dapat diakses dan dijualkan oleh pedagang dengan bantuan internet di aplikasi seluler atau situs web, kemudian pedagang akan mencari konsumennya melalui kanal-kanal sosial dan menerima komisi atau upah atas penjualannya.[5][6]

Prinsip-prinsip transaksi yang terjadi di dalam social commerce identik dengan e-commerce, karena melalui platform yang di dalamnya ada pengguna, pilihan produk-produk, dan sistem pembayaran. Perbedaan utamanya adalah pengguna pada social commerce adalah pedagang yang mau menjualnya lagi, bukan konsumen langsung.[7][8]

Ruang Lingkup

Social commerce mulai bertumbuh menggantikan e-commerce karena adanya kebutuhan yang muncul dalam belanja daring pada konsumen pengguna internet yaitu kurangnya kesadaran akan produk, kurang yakin dalam transaksi daring dan tidak percaya dalam produk yang dijual.[9] Social commerce juga memungkinkan ada rekomendasi dari pedagang langsung, yang merupakan kenalan lainnya yang akhirnya memengaruhi keputusan calon konsumen untuk membelinya.[10] Di dalam konteks bisnis, ada beberapa model social commerce yang sekarang ada untuk mengatasi kebutuhan tersebut:[11][12]

  • Reseller Platform: Sebuah model social commerce yang memanfaatkan 3 pilar yaitu reseller, supplier (pemilik produk) dan konsumen.[13] Reseller sebagai individu-individu yang tertarik untuk menjualkan barang ke lingkaran sosial mereka melalui bantuan media sosial atau aplikasi obrolan secara daring maupun langsung. Contoh perusahaan ternama dengan model ini adalah Woobiz dan Evermos di Indonesia.

Peran platform di sini adalah mempertemukan reseller yang sebagai wirausahawan dengan supplier. Reseller berperan besar untuk memenuhi kebutuhan konsumen atas rasa kesadaran, kurang yakin akan transaki dan rasa percaya karena biasanya reseller tersebut adalah orang yang konsumen kenal dalam lingkungan mereka.[14]

  • Media sosial platform: Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok dan WhatsApp memungkinkan pengguna untuk menjadi penjual dengan adanya fungsionalitas dan fitur yang berkaitan langsung dengan penjualan, seperti memasarkan, opsi jual beli, menaikkan produk dan langsung membuat toko.[15]

Pengguna dapat berinteraksi langsung dengan pengguna lain untuk melakukan jual-beli sehingga menimbulkan rasa percaya, namun transaksi yang terjadi dalam media sosial masih terbatas karena terjadi langsung di luar ekosistem platform-platform tersebut.[16]

Kategori

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28618445 (2025-11-24T13:59:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.