Lompat ke isi

Selaput dara: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29437546; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 44: Baris 44:
Selaput dara sering kali diberi makna budaya yang penting di komunitas tertentu karena kaitannya dengan [[keperawanan]] wanita. Dalam budaya-budaya tersebut, selaput dara yang utuh sangat dihargai pada saat pernikahan dengan keyakinan bahwa hal ini adalah bukti keperawanan. Beberapa wanita menjalani [[himenorafi]] untuk memulihkan selaput dara mereka karena alasan ini. Pada Oktober 2018, [[Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa|Dewan HAM PBB]], [[UN Women]], dan [[Organisasi Kesehatan Dunia]] (WHO) menyatakan bahwa tes keperawanan harus dihentikan karena "merupakan praktik yang menyakitkan, merendahkan martabat, dan traumatis, yang merupakan bentuk [[kekerasan terhadap perempuan]]".
Selaput dara sering kali diberi makna budaya yang penting di komunitas tertentu karena kaitannya dengan [[keperawanan]] wanita. Dalam budaya-budaya tersebut, selaput dara yang utuh sangat dihargai pada saat pernikahan dengan keyakinan bahwa hal ini adalah bukti keperawanan. Beberapa wanita menjalani [[himenorafi]] untuk memulihkan selaput dara mereka karena alasan ini. Pada Oktober 2018, [[Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa|Dewan HAM PBB]], [[UN Women]], dan [[Organisasi Kesehatan Dunia]] (WHO) menyatakan bahwa tes keperawanan harus dihentikan karena "merupakan praktik yang menyakitkan, merendahkan martabat, dan traumatis, yang merupakan bentuk [[kekerasan terhadap perempuan]]".


Beberapa [[Teologi Kristen|interpretasi teologis Kristen]] tradisional menyatakan bahwa sudah menjadi kehendak Tuhan bagi suami untuk menjadi orang yang merobek selaput dara istrinya, dan bahwa perdarahan selaput dara, yang diyakini terjadi selama hubungan seksual pertama (tetapi lihat penjelasan di atas), adalah sebuah [[Perjanjian (agama)#Kekristenan|perjanjian darah]] yang menyegel ikatan [[Pandangan Kristen tentang pernikahan|pernikahan suci]] antara suami dan istri (bdk. ''[[Penyempurnaan perkawinan|konsumasi]]'').


==Amukan rahim (womb fury)==
==Amukan rahim (womb fury)==
Baris 68: Baris 67:
*[http://www.rfsu.se/en/Engelska/About-rfsu/Resources/Publications/Vagnial-Corona/ Vaginal Corona]. .
*[http://www.rfsu.se/en/Engelska/About-rfsu/Resources/Publications/Vagnial-Corona/ Vaginal Corona]. .
*[https://www.bedsider.org/features/962-5-myths-about-virginity-busted 5 Myths about Virginity, Busted]
*[https://www.bedsider.org/features/962-5-myths-about-virginity-busted 5 Myths about Virginity, Busted]





Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.43

Selaput dara atau himen adalah sepotong jaringan mukosa tipis yang mengelilingi atau menutupi sebagian lubang vagina. Sebagian kecil wanita dilahirkan dengan selaput dara yang imperforata (tidak berlubang) dan sepenuhnya menyumbat saluran vagina. Struktur ini membentuk bagian dari vulva dan memiliki struktur yang mirip dengan vagina. Kata ini berasal dari bahasa Yunani ὑμήν yang berarti kulit atau membran tipis. Banyak mamalia memiliki selaput dara karena perkembangan reproduksi yang serupa.

Pada anak-anak, bentuk selaput dara yang umum adalah berbentuk bulan sabit, meskipun ada banyak kemungkinan bentuk lain. Setiap bentuk dalam rentang alaminya memiliki nama serapan dari bahasa Latin. Selama pubertas, estrogen menyebabkan selaput dara berubah penampilan dan menjadi sangat elastis. Variasi normal dari selaput dara pascapubertas berkisar dari tipis dan melar hingga tebal dan agak kaku. Sangat jarang terjadi, selaput dara mungkin sama sekali tidak ada.

Selaput dara dapat robek atau koyak saat hubungan seksual penetratif pertama, yang biasanya menyebabkan rasa sakit dan, terkadang, perdarahan ringan sementara atau bercak darah. Cedera ringan pada selaput dara dapat sembuh dengan sendirinya, dan tidak memerlukan intervensi bedah. Secara historis, diasumsikan bahwa penetrasi pertama selalu traumatis, tetapi saat ini berbagai sumber berbeda pendapat mengenai seberapa umum robekan atau perdarahan terjadi sebagai akibat dari hubungan seksual pertama. Oleh karena itu, kondisi selaput dara bukanlah indikator keperawanan yang dapat diandalkan, meskipun "tes keperawanan" masih menjadi praktik umum di beberapa budaya, yang terkadang disertai dengan operasi rekonstruksi selaput dara untuk memberikan kesan perawan. Organisasi kesehatan internasional mengecam tes keperawanan sebagai tindakan yang berbahaya. Secara historis, hal ini juga disalahartikan dalam dunia medis sebagai bukti histeria wanita.

Perkembangan dan histologi

Saluran genital berkembang selama embriogenesis, dari minggu ketiga kehamilan hingga trimester kedua, dan selaput dara terbentuk setelah vagina. Pada minggu ketujuh, septum urorektal terbentuk dan memisahkan rektum dari sinus urogenital. Pada minggu kesembilan, saluran Müller bergerak ke bawah untuk mencapai sinus urogenital, membentuk saluran uterovaginal dan masuk ke dalam sinus urogenital. Pada minggu kedua belas, saluran Müller menyatu untuk menciptakan saluran uterovaginal primitif yang disebut unaleria. Pada bulan kelima, kanalisasi vagina selesai dan selaput dara janin terbentuk dari proliferasi bulbus sinovaginal (tempat bertemunya saluran Müller dengan sinus urogenital), dan biasanya menjadi berlubang sebelum atau sesaat setelah kelahiran.

Selaput dara memiliki persarafan yang padat. Pada bayi baru lahir, yang masih di bawah pengaruh hormon ibu, selaput dara tebal, berwarna merah muda pucat, dan redundan (melipat ke dalam dan mungkin menonjol). Selama dua hingga empat tahun pertama kehidupannya, bayi memproduksi hormon yang melanjutkan efek ini. Lubang selaput dara mereka cenderung berbentuk anular (melingkar).

Pasca tahap neonatus, diameter lubang selaput dara (diukur di dalam cincin himen) melebar sekitar 1 mm untuk setiap tahun pertambahan usia. Selama pubertas, estrogen menyebabkan selaput dara menjadi sangat elastis dan berfimbria (berumbai).


Selaput dara dapat meregang atau robek akibat berbagai perilaku, seperti penggunaan tampon atau cangkir menstruasi, pemeriksaan panggul dengan spekulum, atau hubungan seksual. Sisa-sisa selaput dara disebut carunculae myrtiformes.

Batang kaca atau plastik berdiameter 6 mm yang memiliki bola di salah satu ujungnya dengan diameter bervariasi dari 10 hingga 25 mm, yang disebut batang Glaister Keen, digunakan untuk pemeriksaan mendetail pada selaput dara atau tingkat robekannya. Dalam kedokteran forensik, otoritas kesehatan merekomendasikan agar dokter yang harus melakukan usap (swab) di dekat area ini pada anak perempuan prapubertas menghindari selaput dara dan sebagai gantinya melakukan usap pada vestibulum vulva bagian luar. Dalam kasus dugaan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada anak, pemeriksaan mendetail pada selaput dara mungkin dilakukan, tetapi kondisi selaput dara itu sendiri sering kali tidak dapat disimpulkan secara pasti.

Variasi anatomi

Variasi normal selaput dara berkisar dari tipis dan lentur hingga tebal dan agak kaku. Selaput dara imperforata terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi. Satu-satunya variasi yang mungkin memerlukan intervensi medis adalah selaput dara imperforata, yang sepenuhnya mencegah keluarnya cairan menstruasi secara normal atau memperlambatnya secara signifikan. Dalam kedua kasus tersebut, intervensi bedah mungkin diperlukan untuk memungkinkan cairan menstruasi keluar atau agar hubungan seksual dapat dilakukan.

Bukaan selaput dara pada masa prapubertas memiliki banyak bentuk, bergantung pada tingkat hormonal dan aktivitas, yang paling umum adalah bentuk bulan sabit (tepian posterior): tidak ada jaringan pada posisi jam 12; pita jaringan berbentuk bulan sabit dari arah jam 1–2 hingga jam 10–11, dengan bagian terlebarnya berada di sekitar arah jam 6. Sejak pubertas dan seterusnya, bergantung pada kadar estrogen dan tingkat aktivitas, jaringan selaput dara mungkin menjadi lebih tebal, dan bukaannya sering kali memiliki fimbria (berumbai) atau berbentuk tidak beraturan. Pada anak yang lebih muda, selaput dara yang robek biasanya akan sembuh dengan sangat cepat. Pada remaja, bukaan selaput dara dapat membesar secara alami dan variasi dalam bentuk serta penampilannya meningkat.

Variasi pada saluran reproduksi wanita dapat diakibatkan oleh agenesis atau hipoplasia, cacat kanalisasi, fusi lateral, dan kegagalan resorpsi, yang menyebabkan berbagai komplikasi.

  • Imperforata: bukaan selaput dara tidak ada; akan memerlukan operasi kecil jika tidak membaik dengan sendirinya menjelang pubertas untuk memungkinkan cairan menstruasi keluar.
  • Kribriformis, atau mikroperforata: terkadang dikelirukan dengan imperforata, bukaan selaput dara tampak seolah tidak ada, tetapi jika diperiksa lebih dekat, terdapat perforasi (lubang) kecil.
  • Septata: bukaan selaput dara memiliki satu atau beberapa pita jaringan yang melintang di sepanjang bukaan tersebut.
  • Cincin himen ketat: selaput dara kaku dan introitus (lubang masuk vagina) terasa ketat.

Trauma

Secara historis, diyakini bahwa hubungan seksual pertama selalu menyebabkan trauma pada selaput dara dan selalu mengakibatkan selaput dara "rusak" atau robek, yang menyebabkan perdarahan. Namun, penelitian terhadap wanita di populasi Barat menemukan bahwa perdarahan selama hubungan seksual pertama tidak selalu terjadi. Dalam sebuah studi lintas budaya, sedikit lebih dari separuh wanita melaporkan sendiri adanya perdarahan saat hubungan seksual pertama, dengan tingkat rasa sakit dan perdarahan yang dilaporkan berbeda secara signifikan bergantung pada wilayah asal mereka. Tidak semua wanita mengalami rasa sakit, dan sebuah studi menemukan korelasi antara pengalaman emosi yang kuat – seperti kegembiraan, kegugupan, atau ketakutan – dengan timbulnya rasa sakit saat hubungan seksual pertama.

Dalam beberapa studi tentang penyintas pemerkosaan remaja putri, di mana pasien diperiksa di rumah sakit setelah serangan seksual, separuh atau kurang dari penyintas yang belum pernah mengalami penetrasi sebelumnya mengalami cedera pada selaput dara. Robekan pada selaput dara terjadi pada kurang dari seperempat kasus. Namun, subjek yang sebelumnya belum pernah melakukan hubungan seksual penetratif memiliki kemungkinan yang jauh lebih tinggi untuk mengalami cedera pada selaput dara dibandingkan subjek yang diketahui pernah melakukan hubungan seksual penetratif.

Dalam sebuah studi terhadap remaja yang sebelumnya pernah melakukan hubungan seks konsensual, sekitar separuh di antaranya menunjukkan bukti adanya trauma pada selaput dara. Trauma pada selaput dara juga dapat terjadi pada orang dewasa yang bukan perawan setelah berhubungan seks secara konsensual, meskipun hal ini jarang terjadi. Trauma pada selaput dara dapat sembuh tanpa meninggalkan tanda cedera yang terlihat. Sebuah studi observasional terhadap korban kekerasan seksual remaja menemukan bahwa sebagian besar luka pada selaput dara sembuh tanpa tanda-tanda cedera yang terlihat pernah terjadi.

Trauma pada selaput dara dihipotesiskan dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai perilaku lain, seperti penggunaan tampon atau cangkir menstruasi, pemeriksaan panggul dengan spekulum, masturbasi, senam, atau menunggang kuda, meskipun prevalensi trauma yang sebenarnya akibat aktivitas-aktivitas tersebut masih belum jelas.

Signifikansi budaya dan agama

Selaput dara sering kali diberi makna budaya yang penting di komunitas tertentu karena kaitannya dengan keperawanan wanita. Dalam budaya-budaya tersebut, selaput dara yang utuh sangat dihargai pada saat pernikahan dengan keyakinan bahwa hal ini adalah bukti keperawanan. Beberapa wanita menjalani himenorafi untuk memulihkan selaput dara mereka karena alasan ini. Pada Oktober 2018, Dewan HAM PBB, UN Women, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tes keperawanan harus dihentikan karena "merupakan praktik yang menyakitkan, merendahkan martabat, dan traumatis, yang merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan".


Amukan rahim (womb fury)

Pada abad ke-16 dan ke-17, para peneliti medis secara keliru memandang ada atau tidaknya selaput dara sebagai bukti dasar penyakit fisik seperti "amukan rahim" (womb-fury), yakni histeria (wanita). Jika tidak disembuhkan, amukan rahim ini, menurut para dokter yang berpraktik pada saat itu, akan mengakibatkan kematian.

Hewan lain

Karena perkembangan sistem reproduksi yang serupa, banyak mamalia memiliki selaput dara, termasuk simpanse, gajah, manate, paus, kuda, dan llama.

Lihat pula

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29437546 (2026-07-09T23:10:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.