Universitas: Perbedaan antara revisi
Normalisasi sumber dan atribusi Wikipedia |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Universitas''' () adalah suatu institusi [[Perguruan tinggi|pendidikan tinggi]] dan [[penelitian]], yang memberikan [[gelar akademik|gelar akademis]] dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan [[sarjana]] dan [[Pendidikan pascasarjana|pascasarjana]]. | '''Universitas''' () adalah suatu institusi [[Perguruan tinggi|pendidikan tinggi]] dan [[penelitian]], yang memberikan [[gelar akademik|gelar akademis]] dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan [[sarjana]] dan [[Pendidikan pascasarjana|pascasarjana]]. | ||
== Sejarah == | == Sejarah == | ||
| Baris 22: | Baris 21: | ||
=== Universitas Abad Pertengahan === | === Universitas Abad Pertengahan === | ||
Universitas-universitas pertama di Eropa yang bentuknya berasal dari struktur korporat/persatuan pekerja adalah [[Universitas Bologna]] (1088), [[Universitas Paris]] (sekitar tahun 1150, kemudian disamakan dengan [[Sorbonne]]), serta [[Universitas Oxford]] (1167). | Universitas-universitas pertama di Eropa yang bentuknya berasal dari struktur korporat/persatuan pekerja adalah [[Universitas Bologna]] (1088), [[Universitas Paris]] (sekitar tahun 1150, kemudian disamakan dengan [[Sorbonne]]), serta [[Universitas Oxford]] (1167). | ||
| Baris 35: | Baris 30: | ||
Di seluruh Eropa, para pemimpin dan pemerintahan kota mulai mendirikan universitas untuk memenuhi keingintahuan mereka. Mereka juga percaya bahwa masyarakat umum akan mendapatkan untung dari keahlian ilmuwan-ilmuwan yang ada dari institusi-institusi ini. Para pangeran dan pimpinan pemerintah kota melihat keuntungan-keuntungan potensial dari keahlian ilmuwan ini berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah sulit dan mencapai apa yang mereka inginkan. Munculnya paradigma [[humanisme]] juga memegang peranan penting dalam perspektif mereka tentang kegunaan universitas ini. Selain itu, ada pula rasa haus baru tentang pengetahuan yang muncul dari teks-teks Yunani Kuno. | Di seluruh Eropa, para pemimpin dan pemerintahan kota mulai mendirikan universitas untuk memenuhi keingintahuan mereka. Mereka juga percaya bahwa masyarakat umum akan mendapatkan untung dari keahlian ilmuwan-ilmuwan yang ada dari institusi-institusi ini. Para pangeran dan pimpinan pemerintah kota melihat keuntungan-keuntungan potensial dari keahlian ilmuwan ini berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah sulit dan mencapai apa yang mereka inginkan. Munculnya paradigma [[humanisme]] juga memegang peranan penting dalam perspektif mereka tentang kegunaan universitas ini. Selain itu, ada pula rasa haus baru tentang pengetahuan yang muncul dari teks-teks Yunani Kuno. | ||
| Baris 49: | Baris 42: | ||
Model struktural yang dikembangkan Universitas Paris, yaitu model mahasiswa dipimpin oleh "pimpinan" fakultas, kemudian menjadi standar dalam universitas Eropa. Akan tetapi, pada praktiknya, terdapat tiga bentuk berbeda dari model ini. Ada universitas-universitas yang memiliki sistem fakultas yang mengajarkan kurikulum yang sangat spesifik dan lulusannya cenderung menjadi spesialis. Ada pula model kolegial atau tutorial yang berdasar pada sistem [[Universitas Oxford]]; pada model seperti ini, pengajaran dan organisasi lebih ter-desentralisasi dan pengetahuan berkembang secara lebih generalis. Ada pula universitas yang mengembangkan model-model tersebut, menggunakan model kolegial tetapi juga memiliki organisasi sentral. | Model struktural yang dikembangkan Universitas Paris, yaitu model mahasiswa dipimpin oleh "pimpinan" fakultas, kemudian menjadi standar dalam universitas Eropa. Akan tetapi, pada praktiknya, terdapat tiga bentuk berbeda dari model ini. Ada universitas-universitas yang memiliki sistem fakultas yang mengajarkan kurikulum yang sangat spesifik dan lulusannya cenderung menjadi spesialis. Ada pula model kolegial atau tutorial yang berdasar pada sistem [[Universitas Oxford]]; pada model seperti ini, pengajaran dan organisasi lebih ter-desentralisasi dan pengetahuan berkembang secara lebih generalis. Ada pula universitas yang mengembangkan model-model tersebut, menggunakan model kolegial tetapi juga memiliki organisasi sentral. | ||
Meskipun fokus awal para ilmuwan humanis adalah menemukan, menggambarkan, dan memasukkan teks-teks dan bahasa-bahasa kuno ke universitas serta ide-ide yang dibawakan teks-teks itu ke tengah-tengah masyarakat, pengaruh mereka pada akhirnya tetap progresif. Kemunculan teks-teks klasik membawakan ide-ide baru dan menciptakan iklim universitas yang lebih kreatif (sebagaimana ditunjukkan daftar ilmuwan di atas). Sebuah fokus baru pengetahuan yang lebih didasarkan pada diri sendiri, dari manusia, memiliki implikasi langsung terhadap bentuk baru pendidikan, dan hal ini pada akhirnya menjadi fondasi atas apa yang kemudian dikenal sebagai ilmu humaniora. Antusiasme terhadap pengetahuan ini tidak hanya muncul dalam bentuk penerjemahan dan penyebaran teks-teks kuno, tetapi juga pada adaptasi dan perluasan teks-teks tersebut. Misalnya, Vesalius memegang peranan penting dalam menyebarkan pentingnya pemikiran Galen, akan tetapi ia juga menambahkan teks-teks itu dengan eksperimen, argumen, dan riset lanjutan. Penyebaran teks-teks tersebut, terutama di kampus, amat dibantu dengan kemunculan [[mesin cetak]] dan penggunaan bahasa sehari-hari, yang memudahkan percetakan buku-buku teks besar dengan harga murah. | Meskipun fokus awal para ilmuwan humanis adalah menemukan, menggambarkan, dan memasukkan teks-teks dan bahasa-bahasa kuno ke universitas serta ide-ide yang dibawakan teks-teks itu ke tengah-tengah masyarakat, pengaruh mereka pada akhirnya tetap progresif. Kemunculan teks-teks klasik membawakan ide-ide baru dan menciptakan iklim universitas yang lebih kreatif (sebagaimana ditunjukkan daftar ilmuwan di atas). Sebuah fokus baru pengetahuan yang lebih didasarkan pada diri sendiri, dari manusia, memiliki implikasi langsung terhadap bentuk baru pendidikan, dan hal ini pada akhirnya menjadi fondasi atas apa yang kemudian dikenal sebagai ilmu humaniora. Antusiasme terhadap pengetahuan ini tidak hanya muncul dalam bentuk penerjemahan dan penyebaran teks-teks kuno, tetapi juga pada adaptasi dan perluasan teks-teks tersebut. Misalnya, Vesalius memegang peranan penting dalam menyebarkan pentingnya pemikiran Galen, akan tetapi ia juga menambahkan teks-teks itu dengan eksperimen, argumen, dan riset lanjutan. Penyebaran teks-teks tersebut, terutama di kampus, amat dibantu dengan kemunculan [[mesin cetak]] dan penggunaan bahasa sehari-hari, yang memudahkan percetakan buku-buku teks besar dengan harga murah. | ||
| Baris 73: | Baris 65: | ||
Pada awal abad ke-21, terdapat kekhawatiran mengenai berkembangnya managerialisasi dan standardisasi universitas di seluruh dunia. Dalam hal ini, model manajemen neoliberal dikritik karena dianggap telah menciptakan "universitas korporat yang memindahkan kekuasaan dari fakultas kepada para manajer, didominasi oleh justifikasi ekonomi, dan 'modal' menjadi lebih penting daripada kepentingan-kepentingan pedagogis atau intelektual". | Pada awal abad ke-21, terdapat kekhawatiran mengenai berkembangnya managerialisasi dan standardisasi universitas di seluruh dunia. Dalam hal ini, model manajemen neoliberal dikritik karena dianggap telah menciptakan "universitas korporat yang memindahkan kekuasaan dari fakultas kepada para manajer, didominasi oleh justifikasi ekonomi, dan 'modal' menjadi lebih penting daripada kepentingan-kepentingan pedagogis atau intelektual". | ||
=== Universitas antarpemerintah === | === Universitas antarpemerintah === | ||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.24
Universitas () adalah suatu institusi pendidikan tinggi dan penelitian, yang memberikan gelar akademis dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan sarjana dan pascasarjana.
Sejarah
Definisi
Kata bahasa Latin asli, universitas, secara umum berarti "orang-orang yang terasosiasi dengan sebuah badan, masyarakat, perusahaan, komunitas, kelompok pekerja, korporasi, dll." Dengan perkembangan kehidupan urban, serta munculnya kelompok pekerja di Abad Pertengahan, arti istilah ini kemudian berkembang menjadi "asosiasi siswa dan guru dengan hak legal kolektif yang biasanya dipersetujui dalam sebuah fakta yang dikeluarkan oleh pangeran atau pemimpin kota mereka". Seperti kelompok pekerja lainnya, universitas yang ada pada masa itu memiliki peraturannya sendiri dan bebas menentukan kualifikasi anggotanya sendiri.
Pada masa modern, arti kata ini telah berubah menjadi "sebuah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pengajaran dalam bidang-bidang nonvokasi dan biasanya memiliki kekuasaan untuk memberikan gelar".
Kebebasan akademis
Sebuah konsep penting yang membedakan universitas dengan yang lainnya adalah konsep kebebasan akademis. Dokumen pertama yang menjadi bukti atas hal ini adalah sebuah dokumen dari Universitas Bologna, yaitu sebuah pakta akademis berjudul Constitutio Habita yang keluar pada tahun 1158 atau 1155. Dokumen ini menjamin hak jalan bagi seorang ilmuwan yang sedang bepergian atas nama pendidikan. Kini, dokumen ini diklaim sebagai asal dari konsep "kebebasan akademis". Hal ini kini sudah diketahui secara internasional. Pada 18 September 1988, 430 rektor universitas menandatangani Magna Charta Universitatum, sebuah dokumen yang menandai ulang tahun ke 900 pendirian Universitas Bologna. Jumlah universitas yang menandatangani Magna Charta Universitatum terus tumbuh dari seluruh dunia.
Asal-usul
Menurut Ensiklopedia Britannica, nenek moyang universitas berada di Asia dan Afrika dan sudah ada lebih dahulu daripada universitas-universitas Abad Pertengahan di Eropa. Beberapa orang menganggap Universitas Al Quaraouiyine yang didirikan di Maroko oleh Fatima al Fihri pada tahun 859 adalah universitas pemberi gelar paling tua di dunia.
Ada beberapa kesamaan antara universitas-universitas awal yang didirikan di daerah sekitar Laut Mediterania dengan madrasah dalam Islam. Perbedaannya, madrasah biasanya lebih kecil dan yang memberikan gelar biasanya adalah guru-guru dalam madrasah itu sendiri dan bukan madrasahnya. Sejarawan-sejarawan seperti Arnold H. Green dan Hossein Nasr berargumen bahwa pada awal abad ke-10, ada beberapa madrasah Islam yang berubah menjadi universitas. Namun, sejarawan lain seperti George Makdisi, Toby Huff dan Norman Daniel berpendapat bahwa universitas gaya Eropa tidak memiliki kesamaan dengan apa pun yang berada dalam dunia Islam Abad Pertengahan. Ada ilmuwan lain yang berpendapat bahwa konsep universitas memang asli berasal dari Eropa, baik dalam sejarah, maupun dalam karakteristik. Darleen Pryds mempertanyakan hal ini dan menunjukkan bahwa berbagai madrasah dan universitas Eropa di daerah Laut Mediterania memiliki karakteristik yang mirip, yaitu sama-sama mendapatkan pendanaan dari kaum bangsawan dan diciptakan untuk menyuplai birokrat-birokrat lokal yang setia pada agenda pemerintahan.
Ada juga ilmuwan-ilmuwan, termasuk Makdisi, yang berargumen bahwa universitas-universitas Abad Pertengahan awal terpengaruh dengan madrasah-madrasah di Al-Andalus, di Keamiran Sisilia, serta madrasah-madrasah di Timur Tengah pada saat Perang Salib. Namun, Norman Daniel mengatakan bahwa klaim ini berlebihan. Roy Lowe serta Yoshihito Yasuhara juga belakangan ini menggunakan dokumen yang menunjukkan pengaruh pembelajaran dunia Islam pada universitas-universitas di Eropa Barat, agar para sejarawan dapat mempertimbangkan kembali pengembangan pendidikan tinggi, antara lain dengan cara menjauhkan pandangan mereka dari struktur pendidikan tinggi lokal ke konteks yang lebih global.
Universitas Abad Pertengahan
Universitas-universitas pertama di Eropa yang bentuknya berasal dari struktur korporat/persatuan pekerja adalah Universitas Bologna (1088), Universitas Paris (sekitar tahun 1150, kemudian disamakan dengan Sorbonne), serta Universitas Oxford (1167).
Irnerius pertama kali mengajarkan kodifikasi Hukum Romawi abad ke-6 oleh Kaisar Yustinianus I, pada tahun 1088 atau 1087. Kodifikasi ini disebut Corpus Juris Civilis dan pertama kali ditemukan di Pisa. Mahasiswa-mahasiswa baru kemudian datang ke kota itu dari berbagai tempat, untuk meminta kontrak dan mulai mempelajari dokumen itu. Mereka mengorganisasi diri ke dalam 'Nationes', yang kemudian dibagi lagi menjadi Cismontanes dan Ultramontanes. Para mahasiswa "memiliki segala hak ... dan mendominasi guru-guru mereka".
Di Eropa, remaja melanjutkan pendidikan mereka ke universitas ketika mereka sudah menyelesaikan trivium pendidikan, yaitu tata bahasa, retorika dan dialektika atau logika, yang menghasilkan Bachelor of Arts, serta kuadrivium: aritmetika, geometri, musik, serta astronomi, yang menghasilkan Master of Arts.
Di seluruh Eropa, para pemimpin dan pemerintahan kota mulai mendirikan universitas untuk memenuhi keingintahuan mereka. Mereka juga percaya bahwa masyarakat umum akan mendapatkan untung dari keahlian ilmuwan-ilmuwan yang ada dari institusi-institusi ini. Para pangeran dan pimpinan pemerintah kota melihat keuntungan-keuntungan potensial dari keahlian ilmuwan ini berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah sulit dan mencapai apa yang mereka inginkan. Munculnya paradigma humanisme juga memegang peranan penting dalam perspektif mereka tentang kegunaan universitas ini. Selain itu, ada pula rasa haus baru tentang pengetahuan yang muncul dari teks-teks Yunani Kuno.
Budaya universitas yang berkembang di Eropa utara (terutama Jerman, Prancis, dan Inggris) berbeda dengan yang berkembang di Eropa selatan (Italia), meskipun terdapat beberapa kesamaan. Pada keduanya, bahasa Latin digunakan sebagai bahasa pengantar, yang digunakan untuk semua teks pengajaran, perkuliahan, debat, serta ujian. Buku-buku Aristoteles digunakan untuk logika, filsafat alam, serta metafisika. Sementara itu, karya-karya Hipokrates, Galen, serta Ibnu Sina digunakan untuk kedokteran. Di luar kesamaan-kesamaan ini, ada perbedaan-perbedaan besar antara universitas di utara dan selatan, antara lain di bidang pengajaran. Universitas di Italia berfokus pada hukum dan kedokteran, sementara universitas di Eropa Utara lebih berfokus pada seni dan teologi. Ada pula perbedaan-perbedaan yang besar dalam kualitas pengajaran, yang kongruen dengan bidang yang menjadi fokus masing-masing daerah; mahasiswa yang ingin belajar dalam bidang kedokteran, misalnya, akan pergi ke Eropa selatan dan bukan ke utara. Ada pula perbedaan dalam jenis gelar yang diberikan universitas-univresitas itu. Universitas-universitas di Inggris, Prancis, dan Jerman, biasanya akan memberikan gelar sarjana, kecuali untuk bidang teologi yang lebih didominasi dengan gelar doktoral. Universitas di Italia secara umum hanya memberikan gelar doktoral. Perbedaan ini dapat ditarik kembali kepada tujuan para pemegang gelar setelah lulus; pemegang gelar dari universitas di utara biasanya lebih tertarik untuk mencari posisi pengajar, sementara yang di selatan, mereka lebih ingin segera masuk ke pekerjaan profesional. Struktur universitas di utara lebih mengikuti model pemerintahan fakultas yang dikembangkan di Universitas Paris. Sementara itu, di universitas selatan lebih condong ke pola model pengendalian mahasiswa yang dimulai di Universitas Bologna. Pada universitas-universitas di selatan, ada pula perbedaan yang jelas antara universitas di Italia Utara dan Italia Selatan/Iberia: universitas di Italia Utara mengikuti pola Bologna sebagai "korporasi independen mahasiswa yang punya hukum sendiri", sementara universitas di selatan biasanya "didirikan oleh kaum bangsawan untuk mengisi kebutuhan pemerintah".
Universitas periode modern awal
Dalam periode modern awal (sekitar akhir abad 15 hingga tahun 1800), terdapat pertumbuhan yang besar dalam produktivitas dan riset inovatif di universitas-universitas Eropa. Pada akhir Abad Pertengahan, sekitar 400 tahun setelah pendirian universitas Eropa pertama, terdapat 29 universitas yang tersebar di seluruh Eropa. Di abad ke-15, kembali berdiri 28 universitas baru, dan 18 universitas baru berdiri dalam periode antara 1500 hingga 1625. Perkembangan cepat ini terus berlanjut hingga akhir abad ke-18. Pada masa itu terdapat 143 universitas di Eropa, dengan konsentrasi tertinggi pada Imperium Jerman (34), negara-negara Italia (26), Prancis (25), dan Spanyol (23). Ini menunjukkan perkembangan 500% dalam jumlah universitas di akhir Abad Pertengahan. Angka ini tidak termasuk banyak sekali universitas-universitas yang kemudian menghilang atau bergabung dengan universitas lainnya. Pada periode modern awal, nama "universitas" memang tidak selalu digunakan karena kata ini baru digunakan pada beberapa institusi saja. Negara-negara di sekitar Laut Mediterania lebih banyak menggunakan kata studium generale, sementara universitas-universitas di Eropa Utara lebih banyak menggunakan kata "Akademi".
Universitas tidak berkembang secara stabil karena pada abad 17 banyak sekali hal-hal yang memengaruhi perkembangan universitas secara negatif. Pada saat itu terjadi banyak perang, terutama Perang Tiga Puluh Tahun, yang mengganggu lanskap universitas di seluruh Eropa. Ada pula pengaruh-pengaruh yang bersifat negatif pada dukungan masyarakat terhadap institusi universitas, misalnya perang, penyakit, bencana kelaparan, regisida, serta berbagai perubahan dalam kekuatan dan struktur keagamaan. Kerusuhan internal seperti tawuran antarmahasiswa dan dosen yang tidak hadir juga mengganggu stabilitas institusi-institusi tersebut. Universitas juga malas mengganti kurikulum lama, dan buku-buku Aristoteles terus digunakan meskipun telah terjadi perkembangan dalam sains dan seni. Dalam periode ini pula berkembanglah konsep negara kebangsaan. Universitas-universitas semakin berada di bawah kendali negara atau bahkan dibentuk dalam sayap negara; hal ini membuat model pemerintahan fakultas yang dimulai oleh Universitas Paris semakin banyak digunakan. Meskipun universitas gaya lama yang dikendalikan mahasiswa masih ada, universitas-universitas ini juga perlahan mulai bergerak ke arah organisasi struktural yang sama. Universitas juga cenderung masih independen, meskipun kepemimpinannya semakin diambil alih oleh negara.
Model struktural yang dikembangkan Universitas Paris, yaitu model mahasiswa dipimpin oleh "pimpinan" fakultas, kemudian menjadi standar dalam universitas Eropa. Akan tetapi, pada praktiknya, terdapat tiga bentuk berbeda dari model ini. Ada universitas-universitas yang memiliki sistem fakultas yang mengajarkan kurikulum yang sangat spesifik dan lulusannya cenderung menjadi spesialis. Ada pula model kolegial atau tutorial yang berdasar pada sistem Universitas Oxford; pada model seperti ini, pengajaran dan organisasi lebih ter-desentralisasi dan pengetahuan berkembang secara lebih generalis. Ada pula universitas yang mengembangkan model-model tersebut, menggunakan model kolegial tetapi juga memiliki organisasi sentral.
Meskipun fokus awal para ilmuwan humanis adalah menemukan, menggambarkan, dan memasukkan teks-teks dan bahasa-bahasa kuno ke universitas serta ide-ide yang dibawakan teks-teks itu ke tengah-tengah masyarakat, pengaruh mereka pada akhirnya tetap progresif. Kemunculan teks-teks klasik membawakan ide-ide baru dan menciptakan iklim universitas yang lebih kreatif (sebagaimana ditunjukkan daftar ilmuwan di atas). Sebuah fokus baru pengetahuan yang lebih didasarkan pada diri sendiri, dari manusia, memiliki implikasi langsung terhadap bentuk baru pendidikan, dan hal ini pada akhirnya menjadi fondasi atas apa yang kemudian dikenal sebagai ilmu humaniora. Antusiasme terhadap pengetahuan ini tidak hanya muncul dalam bentuk penerjemahan dan penyebaran teks-teks kuno, tetapi juga pada adaptasi dan perluasan teks-teks tersebut. Misalnya, Vesalius memegang peranan penting dalam menyebarkan pentingnya pemikiran Galen, akan tetapi ia juga menambahkan teks-teks itu dengan eksperimen, argumen, dan riset lanjutan. Penyebaran teks-teks tersebut, terutama di kampus, amat dibantu dengan kemunculan mesin cetak dan penggunaan bahasa sehari-hari, yang memudahkan percetakan buku-buku teks besar dengan harga murah.
Apabila melihat pengaruh humanisme pada ilmuwan-ilmuwan kedokteran, matematika, astronomi, dan fisika, seseorang mungkin akan beranggapan bahwa humanisme dan universitas merupakan impetus besar terhadap revolusi sains. Meskipun koneksi awal antara humanisme dan penemuan sains mungkin sekali pada awalnya dimulai di universitas, koneksi ini kemudian dianggap terputus karena sifat sains yang berubah pada masa revolusi sains. Sejarawan Richard S. Westfall, misalnya, berargumen bahwa tradisionalisme berlebihan di kampus-kampus mengganggu percobaan untuk mengonsepkan ulang hubungan alam dan pengetahuan, dan pada akhirnya menciptakan tegangan antara universitas dan ilmuwan. Resistensi terhadap perubahan dalam sains ini mungkin sekali merupakan faktor besar yang menyebabkan para ilmuwan bergerak menjauh dari universitas dan pada pemberi dana swasta, misalnya kaum bangsawan, serta dalam pendirian komunitas-komunitas keilmuan baru.
Sejarawan lain menemukan ide ini tidak kongruen. Menurut mereka, aneh sekali bahwa tempat yang menjadi tempat pendidikan para ilmuwan yang pada akhirnya memengaruhi revolusi sains, juga merupakan tempat yang mempersulit riset serta perkembangan sains. Faktanya, lebih dari 80% peneliti Eropa pada tahun 1450-1650 yang masuk ke dalam Kamus Biografi Sains pernah dididik di universitas, dan sekitar 45% dari mereka memegang jabatan di universitas. Memang, fondasi-fondasi akademis yang berasal dari Abad Pertengahan dianggap stabil dan dapat digunakan sebagai lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan sains. Ada pula kekhawatiran universitas itu sendiri untuk berpindah dari simetri dan kelengkapan yang ada pada sistem Aristotelian, sebuah sistem yang koheren dan efektif untuk memahami dan menginterpretasi dunia. Di sisi lain, dosen-dosen universitas itu juga memiliki otonomi, setidaknya dalam ilmu pengetahuan, untuk memilih dasar-dasar dan metode epistemologis mereka. Misalnya, Melanchthon dan murid-muridnya di Universitas Wittenberg memegang peranan penting untuk mengintegrasikan konstruk matematis Kopernikus ke dalam debat dan pengajaran astronomi. Contoh lain adalah pengadopsian cepat (dan cepat juga hilangnya) epistemologi dan metodologi Kartesian di universitas-universitas di Eropa serta debat-debat mengenai adopsi tersebut, yang pada akhirnya mengantarkan pada pendekatan penyelesaian masalah sains yang lebih mekanistik dan membuka potensi perubahan. Ada banyak contoh yang melawan anggapan bahwa universitas itu kaku dan sulit berubah. Meskipun universitas memang kadang lambat untuk menerima ilmu serta metodologi baru, tetapi ketika mereka menerima sebuah ilmu atau metodologi baru, ilmu atau metodologi itu mendapatkan legitimasi dan rasa hormat. Hal ini bersifat baik bagi perubahan saintifik karena adanya lingkungan stabil untuk pengajaran dan sumber daya material.
Selain ketegangan antara universitas, ilmuwan individual, serta revolusi sains, ada pula pengaruh langsung pada konstruksi pengajaran di universitas itu sendiri. Epistemologi Aristotelian memberikan wahana yang koheren bagi pengetahuan dan konstruksi pengetahuan, serta untuk pengajaran mahasiswa dalam latar belakang pendidikan tinggi. Penciptaan konstruk-konstruk ilmu baru pada masa revolusi sains serta tantangan-tantangan epistemologi baru yang inheren dalam penciptaan tersebut pada akhirnya membawakan ide otonomi sains dan hierarki disiplin ilmu. Pada masa ini, mahasiswa masuk kampus tidak untuk menjadi "ilmuwan general" yang hendak menjadi ahli dalam semua bidang di kurikulum, tetapi pada akhirnya lahirlah sejenis ilmuwan yang mengedepankan sains dan menganggap sains sebagai suatu pekerjaan. Pemisahan antara orang-orang yang menganggap sains sebagai suatu pekerjaan tersendiri, serta orang-orang yang masih ingin menjadi "ilmuwan general", pada akhirnya memperparah tensi epistemologis yang mulai muncul.
Tensi epistemologis antara ilmuwan dan universitas juga diperparah dengan realitas ekonomi penelitian pada masa ini. Ilmuwan-ilmuwan individual, asosiasi, serta universitas, semuanya bersaing untuk mendapatkan pendanaan yang terbatas. Ada pula persaingan dari pembangunan kolese-kolese baru yang didirikan oleh pihak-pihak swasta yang didesain untuk memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat umum, atau diciptakan pemerintah lokal untuk memenuhi permintaan pengetahuan sebagai pengganti universitas-universitas tradisional. Meskipun universitas biasanya mendukung penelitian-penelitian saintifik baru dan menyediakan pelatihan serta otoritas dasar untuk melakukan riset dan membuat kesimpulan, universitas-universitas itu biasanya tidak dapat bersaing dengan sumber daya yang tersedia secara swasta.
Pada akhir periode modern awal, struktur dan organisasi pendidikan tinggi sudah jauh berubah, lebih mirip dengan struktur serta organisasi yang ada dalam konteks modern. Aristoteles tidak lagi digunakan sebagai fokus epistemologis dan metodologis perguruan tinggi. Selain itu, ada pula orientasi sains yang lebih mekanistik. Peran pengetahuan teologis telah digantikan dan ilmu humaniora telah menjadi bidang ilmu baru. Ada pula semacam keterbukaan baru untuk mengonstruksi dan mendiseminasi pengetahuan yang kemudian menjadi hal yang diperlukan bagi pendirian negara modern.
Universitas modern
Pada abad ke-18, unviersitas mulai memublikasikan jurnal akademis mereka sendiri dan pada abad ke-19, muncullah model-model universitas Prancis dan Jerman. Model universitas Jerman, atau model Humboldt, diciptakan oleh Wilhelm van Humboldt dan berdasar pada ide-ide liberal Friedrich Schleiermacher tentang pentingnya kebebasan akademis, seminar, serta laboratorium di kampus-kampus. Model universitas Prancis menekankan pada disiplin ketat serta pengendalian setiap aspek universitas.
Hingga abad ke-19, agama memainkan peran sentral dalam kurikulum universitas. Akan tetapi, peran agama dalam universitas riset berkurang pada abad ke-19, dan pada akhir abad ke-19, model universitas Jerman telah menyebar ke seluruh dunia. Di abad ke-19 dan 20, universitas-universitas yang berfokus pada pengembangan sains mulai mudah diakses oleh masyarakat luas. Di Amerika Serikat, Universitas Johns Hopkins adalah universitas pertama yang mengadopsi model universitas riset Jerman, dan hal ini kemudian diikuti oleh kebanyakan universitas lain di Amerika. Di Inggris, pergerakan dari Revolusi Industri ke modernitas menyebabkan berdirinya universitas-universitas sipil baru, yang menekankan pada sains dan ilmu teknik; pergerakan ini dimulai pada tahun 1960 oleh Sir Keith Murray (ketua Komite Hibah Universitas) serta Sir Samuel Curran, dengan pengembangan Universitas Strathclyde. Orang Inggris kemudian juga mendirikan universitas di seluruh dunia dan dengan demikian, pendidikan tinggi menjadi dapat diakses orang banyak, tidak hanya di Eropa.
Pada awal abad ke-21, terdapat kekhawatiran mengenai berkembangnya managerialisasi dan standardisasi universitas di seluruh dunia. Dalam hal ini, model manajemen neoliberal dikritik karena dianggap telah menciptakan "universitas korporat yang memindahkan kekuasaan dari fakultas kepada para manajer, didominasi oleh justifikasi ekonomi, dan 'modal' menjadi lebih penting daripada kepentingan-kepentingan pedagogis atau intelektual".
Universitas antarpemerintah
Ada pula universitas yang didirikan dengan perjanjian bilateral atau multilateral antarpemerintah. Salah satu contoh adalah Akademi Hukum Eropa, yang melatih hukum Eropa kepada calon pengacara, hakim, jaksa, serta akademisi.
Universitas di Indonesia
Universitas dalam pendidikan di Indonesia merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, institut, politeknik, dan sekolah tinggi. Universitas terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademis dan/atau pendidikan vokasi pada sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
Pada tahun 2015, diperkirakan terdapat 3.225 universitas di Indonesia, yang terbagi menjadi 121 universitas negeri dan 3.104 universitas swasta. Angka ini turun sedikit dari statistika tahun sebelumnya, yaitu 3.280 universitas dengan 99 universitas negeri dan 3.181 universitas swasta. Provinsi dengan jumlah universitas terbanyak adalah DKI Jakarta, dengan 393 universitas (12 negeri dan 381 swasta).
Asesmen Kementerian Riset dan Penelitian Republik Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa universitas dengan kualitas terbaik adalah Universitas Gadjah Mada, sementara Politeknik terbaik adalah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
Sejarah
Salah satu universitas yang paling dikenal di Indonesia adalah Universitas Indonesia. Universitas ini diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai sekolah Dokter Djawa (School) pada bulan Januari 1851 yang mengkhususkan diri pada ilmu kedokteran. Universitas ini berganti nama menjadi STOVIA dan kemudian menjadi Universitas Indonesia pada tahun 1950.
Lihat pula
Pranala luar
- ESN - Erasmus Student Network
- Study in Europe
- Daftar Universitas Terbaik Indonesia 4ICU 2012
- Indonesia:
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29603955 (2026-08-20), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.