Lompat ke isi

Modus tollens: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28892556; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[kalkulus proposisional]], '''''modus tollens''''' (; '''MT'''; disebut juga '''''modus tollendo tollens''''' ([[Bahasa Latin|Latin]] untuk "modus yang menyangkal dengan menyangkal") atau '''menyangkal konsekuen''') adalah bentuk argumen valid dan aturan penarikan kesimpulan. Ini adalah sebuah penerapan dari kebenaran umum bahwa jika sebuah pernyataan adalah benar, maka kontra positif-nya juga benar. Jenis argumen ini sangat mirip dengan argumen jenis [[modus ponens]]. Namun, di sisi lain memiliki beberapa perbedaan dalam bentuk argumennya.
Dalam [[kalkulus proposisional]], '''''modus tollens''''' (; '''MT'''; disebut juga '''''modus tollendo tollens''''' ([[Bahasa Latin|Latin]] untuk "modus yang menyangkal dengan menyangkal")<ref>Jon R. Stone. [https://books.google.com/books?id=p6_KRzXsnKIC&pg=PA60 Latin for the Illiterati: Exorcizing the Ghosts of a Dead Language]. Routledge. 1996. hlm. 60. ISBN 0-415-91775-1.</ref> atau '''menyangkal konsekuen''')<ref>David Hawley Sanford. [https://books.google.com/books?id=h_AUynB6PA8C&pg=PA39 If P, Then Q: Conditionals and the Foundations of Reasoning]. Routledge. 2003. hlm. 39. ISBN 0-415-28368-X.</ref> adalah bentuk argumen valid dan aturan penarikan kesimpulan. Ini adalah sebuah penerapan dari kebenaran umum bahwa jika sebuah pernyataan adalah benar, maka kontra positif-nya juga benar. Jenis argumen ini sangat mirip dengan argumen jenis [[modus ponens]]. Namun, di sisi lain memiliki beberapa perbedaan dalam bentuk argumennya.<ref>Susanne Bobzien. [https://brill.com/downloadpdf/journals/phro/47/4/article-p359_3.pdf The Development of Modus Ponens in Antiquity: From Aristotle to the 2nd Century AD]. ''Phronesis A journal for Ancient Philosophy''. 2002. Vol. 47 (4). hlm. 260. doi:10.1163/156852802321016541.</ref>


== Prinsip ==
== Prinsip ==
Prinsip penggunaan pernyataan pada ''modus tollens'' mengikuti syarat kondisi dan ingkaran konsekuennya dianggap benar, ingkaran antesedennya yang dapat disimpulkan secara sah. Sehingga dapat dikemukakan bahwa jika ''p'' terjadi maka ''q'' terjadi ''q'' tidak terjadi, maka dapat tarik kesimpulan bahwa ''p'' tidak terjadi. Aturan kesimpulan ''modus tollens'' memvalidasi kesimpulan dari P berarti Q dan kontradiktif dari Q untuk kontradiktif dari P. Aturan ''modus tollens'' dapat dinyatakan secara resmi. Umumnya, ''modus tollens'' dapat disimbolkan sebagai berikut.
Prinsip penggunaan pernyataan pada ''modus tollens'' mengikuti syarat kondisi dan ingkaran konsekuennya dianggap benar, ingkaran antesedennya yang dapat disimpulkan secara sah.<ref>[https://www.dictionary.com/browse/modus-tollens Modus tollens]. ''dictionary.com''.</ref> Sehingga dapat dikemukakan bahwa jika ''p'' terjadi maka ''q'' terjadi ''q'' tidak terjadi, maka dapat tarik kesimpulan bahwa ''p'' tidak terjadi.<ref>Sri Kurnianingsih. [https://www.google.co.id/books/edition/MATEMATIKA_Jilid_1B/HkZyaQJP0u4C?hl=id&gbpv=1&dq=Modus+tollens&pg=PA38&printsec=frontcover Matematika Jilid 1B(KTSP)]. Erlangga. 2002. hlm. 38. ISBN 9789797345013.</ref> Aturan kesimpulan ''modus tollens'' memvalidasi kesimpulan dari P berarti Q dan kontradiktif dari Q untuk kontradiktif dari P. Aturan ''modus tollens'' dapat dinyatakan secara resmi. Umumnya, ''modus tollens'' dapat disimbolkan sebagai berikut.
: <math>\frac{P \to Q, \neg Q}{\therefore \neg P}</math>
: <math>\frac{P \to Q, \neg Q}{\therefore \neg P}</math>


di mana <math>P \to Q</math> pernyataan "P maka Q".<math>\neg Q</math>berarti "bukan kasus yang Q" (atau di singkat "bukan Q"). Kemudian, setiap kali "<math>P \to Q</math>"dan "<math>\neg Q</math>" masing-masing muncul dalam pembuktian, kemudian "<math>\neg P</math>" secara sah dapat ditempatkan pada kesimpulan. Sejarah aturan inferensi ''modus tollens'' kembali ke zaman dahulu.<math /><math /><math /><math /><math /> Yang pertama secara eksplisit menggambarkan bentuk argumen ''modus tollens'' adalah [[Theophrastus]].
di mana <math>P \to Q</math> pernyataan "P maka Q".<math>\neg Q</math>berarti "bukan kasus yang Q" (atau di singkat "bukan Q"). Kemudian, setiap kali "<math>P \to Q</math>"dan "<math>\neg Q</math>" masing-masing muncul dalam pembuktian, kemudian "<math>\neg P</math>" secara sah dapat ditempatkan pada kesimpulan. Sejarah aturan inferensi ''modus tollens'' kembali ke zaman dahulu.<ref>[//en.wikipedia.org/wiki/Susanne_Bobzien Susanne Bobzien] (2002). [https://dx.doi.org/10.1163/156852802321016541 "The Development of Modus Ponens in Antiquity"], ''Phronesis'' 47.</ref><math /><math /><math /><math /><math /> Yang pertama secara eksplisit menggambarkan bentuk argumen ''modus tollens'' adalah [[Theophrastus]].<ref>[http://plato.stanford.edu/entries/logic-ancient/#StoSyl "Ancient Logic: Forerunners of ''Modus Ponens'' and ''Modus Tollens''"]. ''[//en.wikipedia.org/wiki/Stanford_Encyclopedia_of_Philosophy Stanford Encyclopedia of Philosophy]''.</ref>


Contoh dalam bentuk pernyataan.
Contoh dalam bentuk pernyataan.<ref>Marthen Kanginan. [https://www.google.co.id/books/edition/Cerdas_Belajar_Matematika/S8lxLV0K8PsC?hl=id&gbpv=1&dq=Modus+tollens&pg=PA201&printsec=frontcover Cerdas Belajar Matematika]. Grafindo Media Pratama. 2013. hlm. 201. ISBN 9789797581343.</ref>


(1) Jika Doni kerja keras maka Doni akan dapat gaji tinggi.
(1) Jika Doni kerja keras maka Doni akan dapat gaji tinggi.
Baris 15: Baris 15:
Konklusi: Jadi, Doni tidak kerja keras.
Konklusi: Jadi, Doni tidak kerja keras.


Dalam bidang [[matematika]], kontradiksi dari pembuktian argumen merupakan kaidah penting untuk membenarkan atau membuktikan suatu argumen.
Dalam bidang [[matematika]], kontradiksi dari pembuktian argumen merupakan kaidah penting untuk membenarkan atau membuktikan suatu argumen.<ref>Marsudi. [https://www.google.co.id/books/edition/Logika_dan_Teori_Himpunan/6pK0DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=logika+modus+tollens&pg=PA46&printsec=frontcover Logika dan Teori Himpunan]. Universitas Brawijaya Press. 2010. hlm. 46. ISBN 978-979-8074-51-6.</ref>


== Notasi Formal ==
== Notasi Formal ==
Baris 85: Baris 85:


== Pembenaran melalui tabel kebenaran ==
== Pembenaran melalui tabel kebenaran ==
Validitas ''modus tollens'' dapat ditunjukkan secara jelas melalui [[tabel kebenaran]].
Validitas ''modus tollens'' dapat ditunjukkan secara jelas melalui [[tabel kebenaran]].<ref>Gina Indriani. [https://www.google.co.id/books/edition/Think_Smart_Matematika/UVWlIsmafEQC?hl=id&gbpv=1&dq=Modus+tollens&pg=PA107&printsec=frontcover Think Smart Matematika]. Grafindo Media Pratama. 2007. hlm. 107. ISBN 9789797586966.</ref>
{| class="wikitable" style="margin: 0 auto; text-align:center; width:45%"
!p
!q
!~p
!~q
! style="width:15%" |p → q
!(p → q) ∧ ~q
!((p → q) ∧ ~q) → ~p
|-
|B<br />
|B<br />
|S
|S
|B<br />
|S
|B
|-
|B<br />
|S<br />
|S
|B
|S<br />
|S
|B
|-
|S<br />
|B<br />
|B
|S
|B<br />
|S
|B
|-
|S<br />
|S<br />
|B
|B
|B<br />
|S
|B
|}
Berdasarkan tabel kebenaran di tersebut di mana yang dinyatakan bahwa [(p → q) ∧ ~q] → ~p merupakan tautologi. Sehingga modus tollens dapat dinyatakan sebagai sebuah [[argumentasi]] yang valid.<ref>Nego Linuhung. [https://repository.ummetro.ac.id/files/artikel/3230fbeb8c1d25fc3b0d0b77a9a1f54e.pdf Logika, Himpunan, Relasi dan Fungsi]. Pendidikan Matematika UM Metro. 2017. hlm. 33.</ref>


Berdasarkan tabel kebenaran di tersebut di mana yang dinyatakan bahwa [(p → q) ∧ ~q] → ~p merupakan tautologi. Sehingga modus tollens dapat dinyatakan sebagai sebuah [[argumentasi]] yang valid.
Contoh dalam suatu pernyataan:<ref>Gina Indriani. [https://www.google.co.id/books/edition/Think_Smart_Matematika/UVWlIsmafEQC?hl=id&gbpv=1&dq=Modus+tollens&pg=PA107&printsec=frontcover Think Smart Matematika]. Grafindo Media Pratama. 2007. hlm. 107. ISBN 9789797586966.</ref>
 
Contoh dalam suatu pernyataan:


(1) Jika harga beras naik maka permintaan turun.
(1) Jika harga beras naik maka permintaan turun.
Baris 97: Baris 137:
Kesimpulan: Harga beras tidak naik.
Kesimpulan: Harga beras tidak naik.


Dalam kasus ''modus tollens'' kita asumsikan sebagai premis bahwa p → q benar dan q salah. Hanya ada satu baris dari tabel kebenaran—baris keempat—yang memenuhi dua kondisi. Dalam baris ini, p adalah palsu. Oleh karena itu, dalam setiap contoh di mana p → q benar dan q salah, p juga harus menjadi palsu.
Dalam kasus ''modus tollens'' kita asumsikan sebagai premis bahwa p → q benar dan q salah. Hanya ada satu baris dari tabel kebenaran—baris keempat—yang memenuhi dua kondisi. Dalam baris ini, p adalah palsu. Oleh karena itu, dalam setiap contoh di mana p → q benar dan q salah, p juga harus menjadi palsu.<ref>Irene Swastiwi Viandari Kharti. [https://www.ruangguru.com/blog/belajar-menarik-kesimpulan-dengan-logika-matematika Belajar Menarik Kesimpulan dengan Logika Matematika Matematika Kelas 11]. ''ruangguru.com''. 2018.</ref>


== Pembuktian formal ==
== Pembuktian formal ==
=== Melalui silogisme disjungtif ===
=== Melalui silogisme disjungtif ===
 
{| align="center" border="1" cellpadding="8" cellspacing="0" style="background:lightcyan; font-weight:bold; text-align:center; width:45%"
|+Tabel Silogisme Disjungtif
! style="width:5%" |''Tahap''
! style="width:15%" |''Proposisi''
! style="width:25%" |''Turunan''
|-
|1
|<math>P\rightarrow Q</math>
|Diberikan
|-
|2
|<math>\neg Q</math>
|Diberikan
|-
|3
|<math>\neg P\lor Q</math>
|Implikasi  (1)
|-
|4
|<math>\neg P</math>
|S'''ilogisme disjungtif''' (3,2)
|}


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Modus+tollens&oldid=28892556 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28892556 (2026-01-26T01:49:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Modus+tollens&oldid=28892556 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28892556 (2026-01-26T01:49:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.10

Dalam kalkulus proposisional, modus tollens (; MT; disebut juga modus tollendo tollens (Latin untuk "modus yang menyangkal dengan menyangkal")[1] atau menyangkal konsekuen)[2] adalah bentuk argumen valid dan aturan penarikan kesimpulan. Ini adalah sebuah penerapan dari kebenaran umum bahwa jika sebuah pernyataan adalah benar, maka kontra positif-nya juga benar. Jenis argumen ini sangat mirip dengan argumen jenis modus ponens. Namun, di sisi lain memiliki beberapa perbedaan dalam bentuk argumennya.[3]

Prinsip

Prinsip penggunaan pernyataan pada modus tollens mengikuti syarat kondisi dan ingkaran konsekuennya dianggap benar, ingkaran antesedennya yang dapat disimpulkan secara sah.[4] Sehingga dapat dikemukakan bahwa jika p terjadi maka q terjadi q tidak terjadi, maka dapat tarik kesimpulan bahwa p tidak terjadi.[5] Aturan kesimpulan modus tollens memvalidasi kesimpulan dari P berarti Q dan kontradiktif dari Q untuk kontradiktif dari P. Aturan modus tollens dapat dinyatakan secara resmi. Umumnya, modus tollens dapat disimbolkan sebagai berikut.

PQ,¬Q¬P

di mana PQ pernyataan "P maka Q".¬Qberarti "bukan kasus yang Q" (atau di singkat "bukan Q"). Kemudian, setiap kali "PQ"dan "¬Q" masing-masing muncul dalam pembuktian, kemudian "¬P" secara sah dapat ditempatkan pada kesimpulan. Sejarah aturan inferensi modus tollens kembali ke zaman dahulu.[6] Yang pertama secara eksplisit menggambarkan bentuk argumen modus tollens adalah Theophrastus.[7]

Contoh dalam bentuk pernyataan.[8]

(1) Jika Doni kerja keras maka Doni akan dapat gaji tinggi.

(2) Doni tidak akan dapat gaji tinggi.

Konklusi: Jadi, Doni tidak kerja keras.

Dalam bidang matematika, kontradiksi dari pembuktian argumen merupakan kaidah penting untuk membenarkan atau membuktikan suatu argumen.[9]

Notasi Formal

Aturan modus tollens dapat ditulis dalam notasi:

dimana adalah simbol metalogical yang berarti bahwa ¬P adalah konsekuensi logis dari <PQ dan ¬Q dalam sebuah sistem.

atau sebagai pernyataan fungsional tautologi atau teorema dari logika proposisional:

((PQ)¬Q)¬P

dimana P and Q ini adalah proposisi yang diungkapkan dalam sebuah sistem;

Penulisan ulang modus tollens sering terlihat, misalnya dalam teori himpunan:

PQ
xQ
xP

("P adalah subset dari Q. x tidak dalam Q. Jadi, x tidak di P.")

Juga pada logika predikat tingkat pertama:

x:P(x)Q(x)
x:¬Q(x)
x:¬P(x)

("Untuk semua x, jika x adalah P, maka x adalah Q. Ada beberapa x yang tidak Q. Jadi, ada beberapa x yang tidak P.")

Sebenarnya ini bukan kasus modus tollens, tetapi mereka mungkin turunan modus tollens menggunakan beberapa langkah tambahan.

Penjelasan

Persyaratan:

  1. Argumen ini memiliki dua tpremmis.
  2. Premis pertama adalah bersyarat atau pernyataan "jika-maka", misalnya bahwa jika P maka Q.
  3. Premis kedua adalah "bukan kasus Q."
  4. Dari dua premis, dapat secara logis menyimpulkan bahwa "bahwa bukan kasus P.

Perhatikan contoh:

Jika anjing mendeteksi penyusup, anjing akan menggonggong
Anjing tidak menggonggong
Jadi, tidak ada penyusup terdeteksi oleh anjing

Andaikan bahwa kedua premis benar (anjing akan menggonggong jika mendeteksi penyusup, dan memang tidak menggonggong), maka delanjutkan bahwa tidak ada penyusup yang terdeteksi. Ini adalah argumen yang valid karena tidak mungkin untuk kesimpulan untuk menjadi salah jika premis benar. (Bisa dibayangkan bahwa mungkin ada penyusup yang tidak terdeteksi anjing, tapi itu tidak membatalkan argumen; premis pertama adalah "jika anjing mendeteksi penyusup." Hal yang penting adalah bahwa anjing dapat mendeteksi atau tidak mendeteksi penyusup, bukan apakah ada atau tidak.)

Contoh lain:

Jika saya pembunuh, maka saya dapat menggunakan kapak.
Saya tidak bisa menggunakan kapak.
Oleh karena itu, saya tidak pembunuh.

Contoh lain:

Jika Rex adalah ayam, maka ia adalah seekor burung.
Rex adalah bukan burung.
Oleh karena itu, Rex bukan ayam.

Kaitan dengan modus ponens

Setiap penggunaan modus tollens dapat dikonversi ke penggunaan modus ponens dan satu penggunaan transposisi untuk premis yang merupakan implikasi material. Misalnya:

Jika P, maka Q. (premis – implikasi material)
Jika tidak Q, maka tidak P. (transposisi)
Bukan Q . (premis)
Oleh karena itu, tidak P. (modus ponens)

Demikian juga, setiap penggunaan modus ponens dapat dikonversi ke penggunaan modus tollens dan transposisi.

Pembenaran melalui tabel kebenaran

Validitas modus tollens dapat ditunjukkan secara jelas melalui tabel kebenaran.[10]

p q ~p ~q p → q (p → q) ∧ ~q ((p → q) ∧ ~q) → ~p
B
B
S S B
S B
B
S
S B S
S B
S
B
B S B
S B
S
S
B B B
S B

Berdasarkan tabel kebenaran di tersebut di mana yang dinyatakan bahwa [(p → q) ∧ ~q] → ~p merupakan tautologi. Sehingga modus tollens dapat dinyatakan sebagai sebuah argumentasi yang valid.[11]

Contoh dalam suatu pernyataan:[12]

(1) Jika harga beras naik maka permintaan turun.

(2) Permintaan tidak turun.

Kesimpulan: Harga beras tidak naik.

Dalam kasus modus tollens kita asumsikan sebagai premis bahwa p → q benar dan q salah. Hanya ada satu baris dari tabel kebenaran—baris keempat—yang memenuhi dua kondisi. Dalam baris ini, p adalah palsu. Oleh karena itu, dalam setiap contoh di mana p → q benar dan q salah, p juga harus menjadi palsu.[13]

Pembuktian formal

Melalui silogisme disjungtif

Tabel Silogisme Disjungtif
Tahap Proposisi Turunan
1 PQ Diberikan
2 ¬Q Diberikan
3 ¬PQ Implikasi (1)
4 ¬P Silogisme disjungtif (3,2)

Referensi

  1. Jon R. Stone. Latin for the Illiterati: Exorcizing the Ghosts of a Dead Language. Routledge. 1996. hlm. 60. ISBN 0-415-91775-1.
  2. David Hawley Sanford. If P, Then Q: Conditionals and the Foundations of Reasoning. Routledge. 2003. hlm. 39. ISBN 0-415-28368-X.
  3. Susanne Bobzien. The Development of Modus Ponens in Antiquity: From Aristotle to the 2nd Century AD. Phronesis A journal for Ancient Philosophy. 2002. Vol. 47 (4). hlm. 260. doi:10.1163/156852802321016541.
  4. Modus tollens. dictionary.com.
  5. Sri Kurnianingsih. Matematika Jilid 1B(KTSP). Erlangga. 2002. hlm. 38. ISBN 9789797345013.
  6. Susanne Bobzien (2002). "The Development of Modus Ponens in Antiquity", Phronesis 47.
  7. "Ancient Logic: Forerunners of Modus Ponens and Modus Tollens". Stanford Encyclopedia of Philosophy.
  8. Marthen Kanginan. Cerdas Belajar Matematika. Grafindo Media Pratama. 2013. hlm. 201. ISBN 9789797581343.
  9. Marsudi. Logika dan Teori Himpunan. Universitas Brawijaya Press. 2010. hlm. 46. ISBN 978-979-8074-51-6.
  10. Gina Indriani. Think Smart Matematika. Grafindo Media Pratama. 2007. hlm. 107. ISBN 9789797586966.
  11. Nego Linuhung. Logika, Himpunan, Relasi dan Fungsi. Pendidikan Matematika UM Metro. 2017. hlm. 33.
  12. Gina Indriani. Think Smart Matematika. Grafindo Media Pratama. 2007. hlm. 107. ISBN 9789797586966.
  13. Irene Swastiwi Viandari Kharti. Belajar Menarik Kesimpulan dengan Logika Matematika Matematika Kelas 11. ruangguru.com. 2018.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28892556 (2026-01-26T01:49:28Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.