Lompat ke isi

Analisis bingkai: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26752507; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Analisis bingkai''' (terkadang disebut juga '''analisis pembingkaian''' atau '''analisis ''framing''''') adalah salah satu [[metode]] [[analisis media]], seperti halnya [[analisis isi]] dan analisis [[semiotika]]. Secara sederhana, pembingkaian (''framing'') adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain pembingkaian digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan [[wartawan]] atau [[media]] massa ketika menyeleksi isu dan menulis [[berita]].
'''Analisis bingkai''' (terkadang disebut juga '''analisis pembingkaian''' atau '''analisis ''framing''''') adalah salah satu [[metode]] [[analisis media]], seperti halnya [[analisis isi]] dan analisis [[semiotika]].<ref>Sobur. Alex. 2001. ''Analisis Teks Media''. Bandung: Remaja Rosdakarya.</ref> Secara sederhana, pembingkaian (''framing'') adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain pembingkaian digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan [[wartawan]] atau [[media]] massa ketika menyeleksi isu dan menulis [[berita]].<ref>Sobur. Alex. 2001. ''Analisis Teks Media''. Bandung: Remaja Rosdakarya.</ref>


Pembingkaian merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis. Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.
Pembingkaian merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu.<ref>Sudibyo. Agus. 2001. ''Politik Media dan Pertarungan Wacana''. Yogyakarta: LkiS.</ref> Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref> Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref> Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref>


Analisis bingkai digunakan untuk mengkaji pembingkaian realitas (peristiwa, individu, kelompok, dan lainnya) yang dilakukan oleh [[media]] massa. Pembingkaian tersebut merupakan proses [[konstruksi]], yang berarti realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu. Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak. Dalam praktiknya, analisis ini banyak digunakan untuk melihat bingkai (''frame'') surat kabar, sehingga dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarnya meiliki [[kebijakan politis]] tersendiri.
Analisis bingkai digunakan untuk mengkaji pembingkaian realitas (peristiwa, individu, kelompok, dan lainnya) yang dilakukan oleh [[media]] massa.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref> Pembingkaian tersebut merupakan proses [[konstruksi]], yang berarti realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref> Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref> Dalam praktiknya, analisis ini banyak digunakan untuk melihat bingkai (''frame'') surat kabar, sehingga dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarnya meiliki [[kebijakan politis]] tersendiri.<ref>Kriyantoro. Rachmat. 2006. ''TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI''. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.</ref>


Analisis bingkai sebagai suatu metode analisis teks banyak mendapat pengaruh dari [[teori]] [[sosiologi]] dan [[psikologi]]. Dari [[sosiologi]] terutama sumbangan pemikiran [[Peter L. Berger]] dan [[Erving Goffman]], sedangkan [[teori]] [[psikologi]] terutama berhubungan dengan [[skema]] dan [[kognisi]].
Analisis bingkai sebagai suatu metode analisis teks banyak mendapat pengaruh dari [[teori]] [[sosiologi]] dan [[psikologi]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Dari [[sosiologi]] terutama sumbangan pemikiran [[Peter L. Berger]] dan [[Erving Goffman]], sedangkan [[teori]] [[psikologi]] terutama berhubungan dengan [[skema]] dan [[kognisi]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


Analisis bingkai termasuk ke dalam [[paradigma]] [[konstruksionisme sosial|konstruksionis]]. [[Paradigma]] ini mempunyai posisi dan pandangan terhadap media dan teks [[berita]] yang dihasilkannya. Konsep konstruksionisme diperkenalkan oleh [[sosiolog]] interpretatif, [[Peter L. Berger]]. Menurut Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh [[Tuhan]]. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.
Analisis bingkai termasuk ke dalam [[paradigma]] [[konstruksionisme sosial|konstruksionis]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> [[Paradigma]] ini mempunyai posisi dan pandangan terhadap media dan teks [[berita]] yang dihasilkannya.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Konsep konstruksionisme diperkenalkan oleh [[sosiolog]] interpretatif, [[Peter L. Berger]].<ref>M. Poloma. Margaret. 1984. ''SOSIOLOGI KONTEMPORER''. Jakarta: CV Rajawali</ref> Menurut Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh [[Tuhan]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


== Model ==
== Model ==
Analisis bingkai memiliki banyak model, antara lain model Murray Edelman, Robert N. Etman, William A. Gamson maupun Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
Analisis bingkai memiliki banyak model, antara lain model Murray Edelman, Robert N. Etman, William A. Gamson maupun Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


=== Murray Edelman ===
=== Murray Edelman ===
[[Murray Edelman]] adalah ahli [[komunikasi]] yang banyak menulis mengenai bahasa dan simbol [[politik]] dalam [[komunikasi]]. Edelman menyejajarkan pembingkaian sebagai kategorisasi: pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata yang tertentu pula dapat menandakan bagaimana fakta atau realitas dipahami. Kategorisasi itu merupakan kekuatan yang besar dalam memengaruhi pikiran dan kesadaran [[publik]]. Dalam memengaruhi kesadaran [[publik]], kategorisasi lebih halus dibanding [[propaganda]]. Kategorisasi merupakan salah satu gagasan utama dari Edelman yang dapat mengarahkan pandangan khalayak akan suatu isu dan membentuk pengertian mereka akan suatu isu. Untuk itu, dalam melihat suatu peristiwa, elemen paing penting adalah bagaimana orang membuat kategorisasi atas peristiwa.
[[Murray Edelman]] adalah ahli [[komunikasi]] yang banyak menulis mengenai bahasa dan simbol [[politik]] dalam [[komunikasi]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Edelman menyejajarkan pembingkaian sebagai kategorisasi: pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata yang tertentu pula dapat menandakan bagaimana fakta atau realitas dipahami.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Kategorisasi itu merupakan kekuatan yang besar dalam memengaruhi pikiran dan kesadaran [[publik]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Dalam memengaruhi kesadaran [[publik]], kategorisasi lebih halus dibanding [[propaganda]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Kategorisasi merupakan salah satu gagasan utama dari Edelman yang dapat mengarahkan pandangan khalayak akan suatu isu dan membentuk pengertian mereka akan suatu isu.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Untuk itu, dalam melihat suatu peristiwa, elemen paing penting adalah bagaimana orang membuat kategorisasi atas peristiwa.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


=== Robert N. Entman ===
=== Robert N. Entman ===
[[Robert N. Entman]] adalah salah seorang ahli yang meletakan dasar-dasar bagi analisis bingkai untuk studi isi [[media]]. Konsep pembingkaian oleh Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas yang dibangun oleh [[media]] massa. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas, sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain. Selain itu, pembingkaian juga memberi tekanan lebih pada bagaimana teks [[komunikasi]] ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan atau dianggap penting oleh pembuat teks. Dengan bentuk seperti itu, sebuah gagasan atau [[informasi]] lebih mudah terlihat, lebih mudah diperhatikan, diingat, dan ditafsirkan karena berhubungan dengan skema pandangan khalayak.
[[Robert N. Entman]] adalah salah seorang ahli yang meletakan dasar-dasar bagi analisis bingkai untuk studi isi [[media]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Konsep pembingkaian oleh Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas yang dibangun oleh [[media]] massa.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas, sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Selain itu, pembingkaian juga memberi tekanan lebih pada bagaimana teks [[komunikasi]] ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan atau dianggap penting oleh pembuat teks.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Dengan bentuk seperti itu, sebuah gagasan atau [[informasi]] lebih mudah terlihat, lebih mudah diperhatikan, diingat, dan ditafsirkan karena berhubungan dengan skema pandangan khalayak.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


=== William A. Gamson ===
=== William A. Gamson ===
[[William A. Gamson]] adalah seorang [[sosiolog]] yang menaruh minat besar pada studi media, dan salah satu ahli yang paling banyak menulis tentang framing. Gagasan Gamson terutama menghubungkan wacana media di satu sisi dengan pendapat umum di sisi yang lain. Menurut Gamson, wacana media adalah elemen yang penting untuk memahami dan mengerti pendapat umum yang berkembang atas suatu isu atau peristiwa.
[[William A. Gamson]]<ref>Michelle I. Gawerc. [https://www.researchgate.net/publication/356474271_William_A_Gamson_and_his_Legacy_for_Academia_and_Social_Movements William A. Gamson and His Legacy for Academia and Social Movements]. ''Contention''. Winter 2021. Vol. Volume 9 (Issue 2). hlm. 64–86. doi:10.3167/cont.2021.090205.</ref> adalah seorang [[sosiolog]] yang menaruh minat besar pada studi media, dan salah satu ahli yang paling banyak menulis tentang framing.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Gagasan Gamson terutama menghubungkan wacana media di satu sisi dengan pendapat umum di sisi yang lain.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Menurut Gamson, wacana media adalah elemen yang penting untuk memahami dan mengerti pendapat umum yang berkembang atas suatu isu atau peristiwa.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


Sebagai [[sosiolog]], titik perhatian Gamson terutama pada studi mengenai [[gerakan sosial]], perhatiannya pada studi [[gerakan sosial]] mau tidak mau menyinggung studi [[media]], karena media merupakan elemen penting dari [[gerakan sosial]]. Jika dikaitkan dengan pembingkaian, Gamson berpendapat bahwa dalam suatu peristiwa, pembingkaian berperan dalam mengorganiasi pengalaman dan petunjuk tindakan, baik secara individu maupun kolektif. Dalam pemahaman ini, bingkai tentu saja berperan dan menjadi aspek yang menentukan dalam partisipasi [[gerakan sosial]]. Misalnya media massa membingkai sebuah peristiwa, sehingga khalayak mempunyai pandangan yang sama atas suatu isu dan memiliki tujuan bersama.
Sebagai [[sosiolog]], titik perhatian Gamson terutama pada studi mengenai [[gerakan sosial]], perhatiannya pada studi [[gerakan sosial]] mau tidak mau menyinggung studi [[media]], karena media merupakan elemen penting dari [[gerakan sosial]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Jika dikaitkan dengan pembingkaian, Gamson berpendapat bahwa dalam suatu peristiwa, pembingkaian berperan dalam mengorganiasi pengalaman dan petunjuk tindakan, baik secara individu maupun kolektif.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Dalam pemahaman ini, bingkai tentu saja berperan dan menjadi aspek yang menentukan dalam partisipasi [[gerakan sosial]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Misalnya media massa membingkai sebuah peristiwa, sehingga khalayak mempunyai pandangan yang sama atas suatu isu dan memiliki tujuan bersama.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


=== Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki ===
=== Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki ===
Model pembingkaian yang diperkenalkan oleh [[Zhongdang Pan]] dan [[Gerald M. Kosicki]] ini adalah model yang paling populer dan banyak dipakai.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Bagi Pan dan Kosick, analisis ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam menganalisis teks media di samping analisis isi [[kuantitatif]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


Model pembingkaian yang diperkenalkan oleh [[Zhongdang Pan]] dan [[Gerald M. Kosicki]] ini adalah model yang paling populer dan banyak dipakai. Bagi Pan dan Kosick, analisis ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam menganalisis teks media di samping analisis isi [[kuantitatif]].
Pembingkaian didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan [[informasi]] lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan, pertama adalah konsepsi [[psikologi]], dan kedua adalah konsepsi [[sosiologis]].<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


Pembingkaian didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan [[informasi]] lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan, pertama adalah konsepsi [[psikologi]], dan kedua adalah konsepsi [[sosiologis]].
Framing dalam konsepsi [[psikologis]] lebih menekankan bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya, atau berkaitan dengan struktur dan proses [[kognitif]] seseorang dalam mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Sedangkan pembingkaian dalam konsepsi sosiologis lebih melihat pada proses internal seseorang, bagaimana individu secara kognitif menafsirkan suatu peristiwa dalam cara pandang tertentu, maka pandangan sosiologis lebih melihat [[konstruksi sosial]] atas realitas.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Bingkai di sini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas luar dirinya.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref> Bingkai di sini berfungsi membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi karena sudah ditandai dengan label tertentu.<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>


Framing dalam konsepsi [[psikologis]] lebih menekankan bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya, atau berkaitan dengan struktur dan proses [[kognitif]] seseorang dalam mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu. Sedangkan pembingkaian dalam konsepsi sosiologis lebih melihat pada proses internal seseorang, bagaimana individu secara kognitif menafsirkan suatu peristiwa dalam cara pandang tertentu, maka pandangan sosiologis lebih melihat [[konstruksi sosial]] atas realitas. Bingkai di sini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas luar dirinya. Bingkai di sini berfungsi membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi karena sudah ditandai dengan label tertentu.
Dalam analisis bingkai model ini memiliki 7 perangkat utama, yaitu:<ref>Eriyanto. 2002. ''ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media''. Yogyakarta: LkiS</ref>
 
Dalam analisis bingkai model ini memiliki 7 perangkat utama, yaitu:
# [[Skema berita]].
# [[Skema berita]].
# Kelengkapan berita.
# Kelengkapan berita.
Baris 43: Baris 42:


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Analisis+bingkai&oldid=26752507 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26752507 (2025-01-05T16:01:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Analisis+bingkai&oldid=26752507 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26752507 (2025-01-05T16:01:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.11

Analisis bingkai (terkadang disebut juga analisis pembingkaian atau analisis framing) adalah salah satu metode analisis media, seperti halnya analisis isi dan analisis semiotika.[1] Secara sederhana, pembingkaian (framing) adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain pembingkaian digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita.[2]

Pembingkaian merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu.[3] Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.[4] Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.[5] Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.[6]

Analisis bingkai digunakan untuk mengkaji pembingkaian realitas (peristiwa, individu, kelompok, dan lainnya) yang dilakukan oleh media massa.[7] Pembingkaian tersebut merupakan proses konstruksi, yang berarti realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu.[8] Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak.[9] Dalam praktiknya, analisis ini banyak digunakan untuk melihat bingkai (frame) surat kabar, sehingga dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarnya meiliki kebijakan politis tersendiri.[10]

Analisis bingkai sebagai suatu metode analisis teks banyak mendapat pengaruh dari teori sosiologi dan psikologi.[11] Dari sosiologi terutama sumbangan pemikiran Peter L. Berger dan Erving Goffman, sedangkan teori psikologi terutama berhubungan dengan skema dan kognisi.[12]

Analisis bingkai termasuk ke dalam paradigma konstruksionis.[13] Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya.[14] Konsep konstruksionisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif, Peter L. Berger.[15] Menurut Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan.[16] Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.[17]

Model

Analisis bingkai memiliki banyak model, antara lain model Murray Edelman, Robert N. Etman, William A. Gamson maupun Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.[18]

Murray Edelman

Murray Edelman adalah ahli komunikasi yang banyak menulis mengenai bahasa dan simbol politik dalam komunikasi.[19] Edelman menyejajarkan pembingkaian sebagai kategorisasi: pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata yang tertentu pula dapat menandakan bagaimana fakta atau realitas dipahami.[20] Kategorisasi itu merupakan kekuatan yang besar dalam memengaruhi pikiran dan kesadaran publik.[21] Dalam memengaruhi kesadaran publik, kategorisasi lebih halus dibanding propaganda.[22] Kategorisasi merupakan salah satu gagasan utama dari Edelman yang dapat mengarahkan pandangan khalayak akan suatu isu dan membentuk pengertian mereka akan suatu isu.[23] Untuk itu, dalam melihat suatu peristiwa, elemen paing penting adalah bagaimana orang membuat kategorisasi atas peristiwa.[24]

Robert N. Entman

Robert N. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakan dasar-dasar bagi analisis bingkai untuk studi isi media.[25] Konsep pembingkaian oleh Entman digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas yang dibangun oleh media massa.[26] Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas, sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.[27] Selain itu, pembingkaian juga memberi tekanan lebih pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan atau dianggap penting oleh pembuat teks.[28] Dengan bentuk seperti itu, sebuah gagasan atau informasi lebih mudah terlihat, lebih mudah diperhatikan, diingat, dan ditafsirkan karena berhubungan dengan skema pandangan khalayak.[29]

William A. Gamson

William A. Gamson[30] adalah seorang sosiolog yang menaruh minat besar pada studi media, dan salah satu ahli yang paling banyak menulis tentang framing.[31] Gagasan Gamson terutama menghubungkan wacana media di satu sisi dengan pendapat umum di sisi yang lain.[32] Menurut Gamson, wacana media adalah elemen yang penting untuk memahami dan mengerti pendapat umum yang berkembang atas suatu isu atau peristiwa.[33]

Sebagai sosiolog, titik perhatian Gamson terutama pada studi mengenai gerakan sosial, perhatiannya pada studi gerakan sosial mau tidak mau menyinggung studi media, karena media merupakan elemen penting dari gerakan sosial.[34] Jika dikaitkan dengan pembingkaian, Gamson berpendapat bahwa dalam suatu peristiwa, pembingkaian berperan dalam mengorganiasi pengalaman dan petunjuk tindakan, baik secara individu maupun kolektif.[35] Dalam pemahaman ini, bingkai tentu saja berperan dan menjadi aspek yang menentukan dalam partisipasi gerakan sosial.[36] Misalnya media massa membingkai sebuah peristiwa, sehingga khalayak mempunyai pandangan yang sama atas suatu isu dan memiliki tujuan bersama.[37]

Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Model pembingkaian yang diperkenalkan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki ini adalah model yang paling populer dan banyak dipakai.[38] Bagi Pan dan Kosick, analisis ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam menganalisis teks media di samping analisis isi kuantitatif.[39]

Pembingkaian didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut.[40] Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan, pertama adalah konsepsi psikologi, dan kedua adalah konsepsi sosiologis.[41]

Framing dalam konsepsi psikologis lebih menekankan bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya, atau berkaitan dengan struktur dan proses kognitif seseorang dalam mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu.[42] Sedangkan pembingkaian dalam konsepsi sosiologis lebih melihat pada proses internal seseorang, bagaimana individu secara kognitif menafsirkan suatu peristiwa dalam cara pandang tertentu, maka pandangan sosiologis lebih melihat konstruksi sosial atas realitas.[43] Bingkai di sini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas luar dirinya.[44] Bingkai di sini berfungsi membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi karena sudah ditandai dengan label tertentu.[45]

Dalam analisis bingkai model ini memiliki 7 perangkat utama, yaitu:[46]

  1. Skema berita.
  2. Kelengkapan berita.
  3. Detail.
  4. Koherensi.
  5. Bentuk kalimat.
  6. Kata ganti.
  7. Leksikon.
  8. Grafis.
  9. Metafora.

Referensi

  1. Sobur. Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  2. Sobur. Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  3. Sudibyo. Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LkiS.
  4. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  5. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  6. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  7. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  8. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  9. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  10. Kriyantoro. Rachmat. 2006. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
  11. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  12. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  13. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  14. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  15. M. Poloma. Margaret. 1984. SOSIOLOGI KONTEMPORER. Jakarta: CV Rajawali
  16. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  17. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  18. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  19. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  20. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  21. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  22. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  23. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  24. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  25. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  26. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  27. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  28. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  29. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  30. Michelle I. Gawerc. William A. Gamson and His Legacy for Academia and Social Movements. Contention. Winter 2021. Vol. Volume 9 (Issue 2). hlm. 64–86. doi:10.3167/cont.2021.090205.
  31. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  32. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  33. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  34. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  35. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  36. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  37. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  38. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  39. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  40. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  41. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  42. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  43. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  44. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  45. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS
  46. Eriyanto. 2002. ANALISIS FRAMING: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26752507 (2025-01-05T16:01:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.