Lompat ke isi

2 + 2 = 5: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28472204; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Baris 1: Baris 1:
Kalimat "'''dua tambah dua sama dengan lima'''" ("'''2 + 2 = 5'''") adalah slogan yang dipakai di novel ''[[Nineteen Eighty-Four]]'' karya [[George Orwell]] untuk menunjukkan contoh [[dogma]] yang jelas-jelas salah namun dipaksakan untuk dipercayai, sama seperti slogan-slogan palsu lain yang dicanangkan Partai penguasa dalam novel ini. Kalimat ini bertentangan dengan "dua tambah dua sama dengan empat", kebenaran yang jelas tetapi tidak cocok secara politik.
[[File:Yakov_Guminer_-_Arithmetic_of_a_counter-plan_poster_(1931).jpg|thumb|right|280px|2 + 2 = 5]]


Tokoh [[protagonis]] dalam novel Orwell, [[Winston Smith]], memakai kalimat ini untuk berpikir apakah [[Partai Terdalam|Pemerintah]] menyatakan "dua tambah dua sama dengan lima" sebagai fakta. Ia mempertanyakan jika semua orang meyakini sesuatu, apakah sesuatu tersebut lantas menjadi benar?Interogator penjahat pikiran dari [[Partai Terdalam]] (''Inner Party''), [[O'Brien (1984)|O'Brien]], mengatakan bahwa pernyataan matematika palsu yang mengendalikan kenyataan secara fisik tidak begitu penting; selama seseorang mengendalikan persepsinya sendiri sesuai keinginan [[Partai (Nineteen Eighty-Four)|Partai]] penguasa, tindakan fisik apapun dapat dilakukan sesuai prinsip [[pemikiran ganda]] ("Kadang hasilnya lima. Kadang hasilnya tiga. Kadang hasilnya sama-sama lima dan tiga").
Kalimat "'''dua tambah dua sama dengan lima'''" ("'''2 + 2 = 5'''") adalah slogan yang dipakai di novel ''[[Nineteen Eighty-Four]]'' karya [[George Orwell]]<ref>Part One, Chapter Seven</ref> untuk menunjukkan contoh [[dogma]] yang jelas-jelas salah namun dipaksakan untuk dipercayai, sama seperti slogan-slogan palsu lain yang dicanangkan Partai penguasa dalam novel ini. Kalimat ini bertentangan dengan "dua tambah dua sama dengan empat", kebenaran yang jelas tetapi tidak cocok secara politik.
 
Tokoh [[protagonis]] dalam novel Orwell, [[Winston Smith]], memakai kalimat ini untuk berpikir apakah [[Partai Terdalam|Pemerintah]] menyatakan "dua tambah dua sama dengan lima" sebagai fakta. Ia mempertanyakan jika semua orang meyakini sesuatu, apakah sesuatu tersebut lantas menjadi benar?Interogator penjahat pikiran dari [[Partai Terdalam]] (''Inner Party''), [[O'Brien (1984)|O'Brien]], mengatakan bahwa pernyataan matematika palsu yang mengendalikan kenyataan secara fisik tidak begitu penting; selama seseorang mengendalikan persepsinya sendiri sesuai keinginan [[Partai (Nineteen Eighty-Four)|Partai]] penguasa, tindakan fisik apapun dapat dilakukan sesuai prinsip [[pemikiran ganda]] ("Kadang hasilnya lima. Kadang hasilnya tiga. Kadang hasilnya sama-sama lima dan tiga").<ref>Part Three, Chapter Two</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Baris 9: Baris 11:
Tujuannya tidak ideologis. Ia justru ingin menunjukkan inilah kebebasan memilih atau menolak logika dan ilogika yang menjadikan manusia manusiawi. Ia menambahkan, "Aku akui bahwa dua tambah dua sama dengan empat itu bagus, tetapi jika kita memberikan batasan untuk segalanya, dua tambah dua sama dengan lima juga bisa terdengar indah."
Tujuannya tidak ideologis. Ia justru ingin menunjukkan inilah kebebasan memilih atau menolak logika dan ilogika yang menjadikan manusia manusiawi. Ia menambahkan, "Aku akui bahwa dua tambah dua sama dengan empat itu bagus, tetapi jika kita memberikan batasan untuk segalanya, dua tambah dua sama dengan lima juga bisa terdengar indah."


Dostoyevsky menulis pada tahun 1864. Akan tetapi, menurut [[Roderick T. Long]], [[Victor Hugo]] sudah memakai frasa tersebut sejak 1852. Ia keberatan dengan cara mayoritas pemilih Prancis mendukung [[Napoleon III]] sambil mendukung pengabaian nilai-nilai liberal saat kudeta Napoleon III.
Dostoyevsky menulis pada tahun 1864. Akan tetapi, menurut [[Roderick T. Long]], [[Victor Hugo]] sudah memakai frasa tersebut sejak 1852. Ia keberatan dengan cara mayoritas pemilih Prancis mendukung [[Napoleon III]] sambil mendukung pengabaian nilai-nilai liberal saat kudeta Napoleon III.<ref>Roderick T. Long. [http://www.lewrockwell.com/long/long12.html Victor Hugo on the Limits of Democracy].</ref>


Victor Hugo mengatakan, "Sekarang carilah tujuh setengah juta orang yang mau menyatakan bahwa dua tambah dua sama dengan lima, bahwa garis lurus adalah jalan terpanjang, bahwa keseluruhan lebih kecil daripada sebagiannya; suruh delapan juta orang mengatakannya, sepuluh juta, seratus juta orang, kau takkan bisa maju selangkah pun."
Victor Hugo mengatakan, "Sekarang carilah tujuh setengah juta orang yang mau menyatakan bahwa dua tambah dua sama dengan lima, bahwa garis lurus adalah jalan terpanjang, bahwa keseluruhan lebih kecil daripada sebagiannya; suruh delapan juta orang mengatakannya, sepuluh juta, seratus juta orang, kau takkan bisa maju selangkah pun."


Victor Hugo berusaha mengutarakan kembali pemikiran orang Prancis sebelumnya — [[Emmanuel Joseph Sieyès|Sieyès]], dalam "[[What Is the Third Estate?]]" memakai frasa tersebut, "Konsekuensinya, jika dalam konstitusi Prancis dicantumkan bahwa 200.000 orang dari 26 juta warga negara [Prancis] mencakup dua pertiga aspirasi masyarakat, hanya satu komentar yang boleh muncul: inilah klaim bahwa dua tambah dua sama dengan lima."
Victor Hugo berusaha mengutarakan kembali pemikiran orang Prancis sebelumnya — [[Emmanuel Joseph Sieyès|Sieyès]], dalam "[[What Is the Third Estate?]]" memakai frasa tersebut, "Konsekuensinya, jika dalam konstitusi Prancis dicantumkan bahwa 200.000 orang dari 26 juta warga negara [Prancis] mencakup dua pertiga aspirasi masyarakat, hanya satu komentar yang boleh muncul: inilah klaim bahwa dua tambah dua sama dengan lima."<ref>Keith M. Baker. [http://books.google.com/books?id=z5MelCA-zzIC&pg=PA154 University of Chicago Readings in Western Civilization, Volume 7: The Old Regime and the French Revolution]. University of Chicago Press. 15 May 1987. hlm. 154. ISBN 978-0-226-06950-0.</ref>


Sangat mungkin bahwa Dostoyevsky pernah berpikiran seperti itu. Ia dihukum mati akibat keterlibatannya dalam kelompok diskusi intelek radikal. Hukuman tersebut diubah menjadi penahanan di Siberia, lalu ia mengubah opininya menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan cap konvensional apapun.
Sangat mungkin bahwa Dostoyevsky pernah berpikiran seperti itu. Ia dihukum mati akibat keterlibatannya dalam kelompok diskusi intelek radikal. Hukuman tersebut diubah menjadi penahanan di Siberia, lalu ia mengubah opininya menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan cap konvensional apapun.


Pemikiran ini tampaknya sangat memengaruhi [[sastra Rusia]] dan budayanya. [[Ivan Turgenev]] menulis dalam ''Prayer'', salah satu puisinya di ''[[Poems in Prose]]'': "Apapun yang diminta seorang manusia, ia pastinya meminta keajaiban. Setiap doa bisa diartikan seperti ini: Tuhan yang Maha Agung, kabulkanlah dua tambah dua tidak sama dengan empat." Sentimen-sentimen serupa juga muncul di kata-kata terakhir [[Leo Tolstoy]] saat dipaksa kembali menganut aliran [[Gereja Ortodoks Rusia]]: "Bahkan di lembah bayang-bayang kematian, dua tambah dua tidak sama dengan enam." Bahkan sejumlah kolumnis koran Rusia memakai kalimat ini untuk menggambarkan kebingungan moral pada masa itu.
Pemikiran ini tampaknya sangat memengaruhi [[sastra Rusia]] dan budayanya. [[Ivan Turgenev]] menulis dalam ''Prayer'', salah satu puisinya di ''[[Poems in Prose]]'': "Apapun yang diminta seorang manusia, ia pastinya meminta keajaiban. Setiap doa bisa diartikan seperti ini: Tuhan yang Maha Agung, kabulkanlah dua tambah dua tidak sama dengan empat." Sentimen-sentimen serupa juga muncul di kata-kata terakhir [[Leo Tolstoy]] saat dipaksa kembali menganut aliran [[Gereja Ortodoks Rusia]]: "Bahkan di lembah bayang-bayang kematian, dua tambah dua tidak sama dengan enam." Bahkan sejumlah kolumnis koran Rusia memakai kalimat ini untuk menggambarkan kebingungan moral pada masa itu.<ref>e.g. ''Novoe vremia'' (New Times), 31 October 1900</ref>


=== George Orwell ===
=== George Orwell ===
George Orwell sudah memakai konsep ini sebelum menulis ''[[Nineteen Eighty-Four]]''. Selama berkarier di [[BBC]], ia familier dengan metode [[propaganda Nazi]]. Dalam esainya yang berjudul "Looking Back on the [[Perang saudara Spanyol|Spanish War]]", terbit tahun 1943 (enam tahun sebelum ''[[Nineteen Eighty-Four]],'') Orwell menulis:
George Orwell sudah memakai konsep ini sebelum menulis ''[[Nineteen Eighty-Four]]''. Selama berkarier di [[BBC]], ia familier dengan metode [[propaganda Nazi]]. Dalam esainya yang berjudul "Looking Back on the [[Perang saudara Spanyol|Spanish War]]",<ref>George Orwell. [http://orwell.ru/library/essays/Spanish_War/english/esw_1 Looking back on the Spanish War]. orwell.ru.</ref> terbit tahun 1943 (enam tahun sebelum ''[[Nineteen Eighty-Four]],'') Orwell menulis:
 


Menurut sebagian besar penulis biografi Orwell, sumber utama kalimat ini adalah ''Assignment in Utopia'' karya [[Eugene Lyons]], sebuah kesaksian tentang kehidupannya di Uni Soviet. Buku tersebut mencantumkan bab "Dua Tambah Dua Sama Dengan Lima" yang merupakan slogan pemerintahan Stalin untuk memprediksikan bahwa [[Rencana Lima Tahun untuk Ekonomi Nasional Uni Soviet|rencana pembangunan lima tahun]] dapat diselesaikan dalam empat tahun. Slogan ini sempat meluas di Moskow.
Menurut sebagian besar penulis biografi Orwell, sumber utama kalimat ini adalah ''Assignment in Utopia'' karya [[Eugene Lyons]], sebuah kesaksian tentang kehidupannya di Uni Soviet. Buku tersebut mencantumkan bab "Dua Tambah Dua Sama Dengan Lima" yang merupakan slogan pemerintahan Stalin untuk memprediksikan bahwa [[Rencana Lima Tahun untuk Ekonomi Nasional Uni Soviet|rencana pembangunan lima tahun]] dapat diselesaikan dalam empat tahun. Slogan ini sempat meluas di Moskow.


Akan tetapi, Orwell berbicara tentang [[Nazisme|Nazi]], jadi ia bisa saja mengacu pada [[Reichsmarschall]] [[Hermann Göring]]. Saat menunjukkan kesetiaannya secara berlebihan kepada [[Adolf Hitler]], Göring sempat berkata, "Jika Führer mau, dua tambah dua bisa saja lima!"
Akan tetapi, Orwell berbicara tentang [[Nazisme|Nazi]], jadi ia bisa saja mengacu pada [[Reichsmarschall]] [[Hermann Göring]]. Saat menunjukkan kesetiaannya secara berlebihan kepada [[Adolf Hitler]], Göring sempat berkata, "Jika Führer mau, dua tambah dua bisa saja lima!"<ref>[http://motlc.wiesenthal.com/text/x18/xr1883.html Hermann Göring]. ''Museum of Tolerance Multimedia Learning Center''.</ref>


Dalam ''Nineteen Eighty-Four'', Orwell menulis:
Dalam ''Nineteen Eighty-Four'', Orwell menulis:


== Kebenaran hakiki ==
== Kebenaran hakiki ==
Dalam drama ''[[Dom Juan]]'' karya [[Molière]], tokoh utamanya ditanya tentang apa yang ia percayai. Ia menjawab bahwa ia percaya dua tambah dua sama dengan empat. [[Kepercayaan]] adalah keadaan psikologis ketika seseorang menganggap suatu proposisi atau premis benar. Kepercayaan terpisah dari [[pengetahuan]]. Andai pengetahuan absolut ada, kepercayaan dalam klaim yang eksistensial tidak diperlukan lagi. Molière memperjuangkan kebebasan percaya bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Orwell memperjuangkan kebebasan berkata bahwa dua tambah dua sama dengan empat sebagai fakta objektif yang tidak dapat disentuh oleh Partai.
Dalam drama ''[[Dom Juan]]'' karya [[Molière]], tokoh utamanya ditanya tentang apa yang ia percayai. Ia menjawab bahwa ia percaya dua tambah dua sama dengan empat.<ref>[http://moliere-in-english.com/donjuan.html Moliere Don Juan Adapted by Timothy Mooney]. Moliere-in-english.com.</ref> [[Kepercayaan]] adalah keadaan psikologis ketika seseorang menganggap suatu proposisi atau premis benar.<ref>[http://plato.stanford.edu/entries/belief Belief (Stanford Encyclopedia of Philosophy)]. Plato.stanford.edu.</ref> Kepercayaan terpisah dari [[pengetahuan]].<ref>Gettier, EL 1963, 'Is justified true belief knowledge?', Analysis, vol. 23, no. 6, pp. 121–123</ref><ref>Goldman, AI 1967, 'A causal theory of knowing', ''The Journal of Philosophy'', vol. 64, no. 12, pp. 357–372</ref> Andai pengetahuan absolut ada, kepercayaan dalam klaim yang eksistensial tidak diperlukan lagi. Molière memperjuangkan kebebasan percaya bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Orwell memperjuangkan kebebasan berkata bahwa dua tambah dua sama dengan empat sebagai fakta objektif yang tidak dapat disentuh oleh Partai.


Cakupan pemikiran murni [[René Descartes]] menganggap bahwa pemikiran hakiki seperti dua tambah dua sama dengan empat mungkin saja tidak punya realitas di luar pikiran. Menurut meditasi pertama, standar kebenaran adalah kehakikian pemikiran yang jelas dan berbeda. Namun Descartes mempertanyakan keterkaitan pemikiran-pemikiran tersebut dengan realitas (kenyataan).
Cakupan pemikiran murni [[René Descartes]] menganggap bahwa pemikiran hakiki seperti dua tambah dua sama dengan empat mungkin saja tidak punya realitas di luar pikiran. Menurut meditasi pertama, standar kebenaran adalah kehakikian pemikiran yang jelas dan berbeda. Namun Descartes mempertanyakan keterkaitan pemikiran-pemikiran tersebut dengan realitas (kenyataan).<ref>[http://www.wright.edu/cola/descartes/meditation1.html Descartes' Meditations Home Page]. Wright.edu. 27 July 2005.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Eksperimen konformitas Asch]], eksperimen tentang bagaimana pengaruh mayoritas dapat memengaruhi pikiran sesoerang.
* [[Eksperimen konformitas Asch]], eksperimen tentang bagaimana pengaruh mayoritas dapat memengaruhi pikiran sesoerang.
* [[Kesalahan matematika]]
* [[Kesalahan matematika]]
== Referensi ==


== Bacaan lanjutan ==
== Bacaan lanjutan ==
Baris 49: Baris 46:
* [http://www.time.com/time/printout/0,8816,854746,00.html Two Plus Two Equals Red] , Time Magazine, Monday, 30 Jun 1947
* [http://www.time.com/time/printout/0,8816,854746,00.html Two Plus Two Equals Red] , Time Magazine, Monday, 30 Jun 1947


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=2+%2B+2+%3D+5&oldid=28472204 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28472204 (2025-11-14T03:17:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=2+%2B+2+%3D+5&oldid=28472204 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28472204 (2025-11-14T03:17:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi per 25 Agustus 2026 14.00

2 + 2 = 5

Kalimat "dua tambah dua sama dengan lima" ("2 + 2 = 5") adalah slogan yang dipakai di novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell[1] untuk menunjukkan contoh dogma yang jelas-jelas salah namun dipaksakan untuk dipercayai, sama seperti slogan-slogan palsu lain yang dicanangkan Partai penguasa dalam novel ini. Kalimat ini bertentangan dengan "dua tambah dua sama dengan empat", kebenaran yang jelas tetapi tidak cocok secara politik.

Tokoh protagonis dalam novel Orwell, Winston Smith, memakai kalimat ini untuk berpikir apakah Pemerintah menyatakan "dua tambah dua sama dengan lima" sebagai fakta. Ia mempertanyakan jika semua orang meyakini sesuatu, apakah sesuatu tersebut lantas menjadi benar?Interogator penjahat pikiran dari Partai Terdalam (Inner Party), O'Brien, mengatakan bahwa pernyataan matematika palsu yang mengendalikan kenyataan secara fisik tidak begitu penting; selama seseorang mengendalikan persepsinya sendiri sesuai keinginan Partai penguasa, tindakan fisik apapun dapat dilakukan sesuai prinsip pemikiran ganda ("Kadang hasilnya lima. Kadang hasilnya tiga. Kadang hasilnya sama-sama lima dan tiga").[2]

Sejarah

Victor Hugo dan Fyodor Dostoyevsky

Dalam Notes from Underground karya Fyodor Dostoyevsky, sang protagonis secara implisit mendukung ide bahwa dua tambah dua sama dengan lima. Ia menjelaskan panjang lebar dampak penolakan kalimat "dua tambah dua sama dengan empat".

Tujuannya tidak ideologis. Ia justru ingin menunjukkan inilah kebebasan memilih atau menolak logika dan ilogika yang menjadikan manusia manusiawi. Ia menambahkan, "Aku akui bahwa dua tambah dua sama dengan empat itu bagus, tetapi jika kita memberikan batasan untuk segalanya, dua tambah dua sama dengan lima juga bisa terdengar indah."

Dostoyevsky menulis pada tahun 1864. Akan tetapi, menurut Roderick T. Long, Victor Hugo sudah memakai frasa tersebut sejak 1852. Ia keberatan dengan cara mayoritas pemilih Prancis mendukung Napoleon III sambil mendukung pengabaian nilai-nilai liberal saat kudeta Napoleon III.[3]

Victor Hugo mengatakan, "Sekarang carilah tujuh setengah juta orang yang mau menyatakan bahwa dua tambah dua sama dengan lima, bahwa garis lurus adalah jalan terpanjang, bahwa keseluruhan lebih kecil daripada sebagiannya; suruh delapan juta orang mengatakannya, sepuluh juta, seratus juta orang, kau takkan bisa maju selangkah pun."

Victor Hugo berusaha mengutarakan kembali pemikiran orang Prancis sebelumnya — Sieyès, dalam "What Is the Third Estate?" memakai frasa tersebut, "Konsekuensinya, jika dalam konstitusi Prancis dicantumkan bahwa 200.000 orang dari 26 juta warga negara [Prancis] mencakup dua pertiga aspirasi masyarakat, hanya satu komentar yang boleh muncul: inilah klaim bahwa dua tambah dua sama dengan lima."[4]

Sangat mungkin bahwa Dostoyevsky pernah berpikiran seperti itu. Ia dihukum mati akibat keterlibatannya dalam kelompok diskusi intelek radikal. Hukuman tersebut diubah menjadi penahanan di Siberia, lalu ia mengubah opininya menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan cap konvensional apapun.

Pemikiran ini tampaknya sangat memengaruhi sastra Rusia dan budayanya. Ivan Turgenev menulis dalam Prayer, salah satu puisinya di Poems in Prose: "Apapun yang diminta seorang manusia, ia pastinya meminta keajaiban. Setiap doa bisa diartikan seperti ini: Tuhan yang Maha Agung, kabulkanlah dua tambah dua tidak sama dengan empat." Sentimen-sentimen serupa juga muncul di kata-kata terakhir Leo Tolstoy saat dipaksa kembali menganut aliran Gereja Ortodoks Rusia: "Bahkan di lembah bayang-bayang kematian, dua tambah dua tidak sama dengan enam." Bahkan sejumlah kolumnis koran Rusia memakai kalimat ini untuk menggambarkan kebingungan moral pada masa itu.[5]

George Orwell

George Orwell sudah memakai konsep ini sebelum menulis Nineteen Eighty-Four. Selama berkarier di BBC, ia familier dengan metode propaganda Nazi. Dalam esainya yang berjudul "Looking Back on the Spanish War",[6] terbit tahun 1943 (enam tahun sebelum Nineteen Eighty-Four,) Orwell menulis:

Menurut sebagian besar penulis biografi Orwell, sumber utama kalimat ini adalah Assignment in Utopia karya Eugene Lyons, sebuah kesaksian tentang kehidupannya di Uni Soviet. Buku tersebut mencantumkan bab "Dua Tambah Dua Sama Dengan Lima" yang merupakan slogan pemerintahan Stalin untuk memprediksikan bahwa rencana pembangunan lima tahun dapat diselesaikan dalam empat tahun. Slogan ini sempat meluas di Moskow.

Akan tetapi, Orwell berbicara tentang Nazi, jadi ia bisa saja mengacu pada Reichsmarschall Hermann Göring. Saat menunjukkan kesetiaannya secara berlebihan kepada Adolf Hitler, Göring sempat berkata, "Jika Führer mau, dua tambah dua bisa saja lima!"[7]

Dalam Nineteen Eighty-Four, Orwell menulis:

Kebenaran hakiki

Dalam drama Dom Juan karya Molière, tokoh utamanya ditanya tentang apa yang ia percayai. Ia menjawab bahwa ia percaya dua tambah dua sama dengan empat.[8] Kepercayaan adalah keadaan psikologis ketika seseorang menganggap suatu proposisi atau premis benar.[9] Kepercayaan terpisah dari pengetahuan.[10][11] Andai pengetahuan absolut ada, kepercayaan dalam klaim yang eksistensial tidak diperlukan lagi. Molière memperjuangkan kebebasan percaya bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Orwell memperjuangkan kebebasan berkata bahwa dua tambah dua sama dengan empat sebagai fakta objektif yang tidak dapat disentuh oleh Partai.

Cakupan pemikiran murni René Descartes menganggap bahwa pemikiran hakiki seperti dua tambah dua sama dengan empat mungkin saja tidak punya realitas di luar pikiran. Menurut meditasi pertama, standar kebenaran adalah kehakikian pemikiran yang jelas dan berbeda. Namun Descartes mempertanyakan keterkaitan pemikiran-pemikiran tersebut dengan realitas (kenyataan).[12]

Lihat pula

Bacaan lanjutan

  • .
  • .

Pranala luar

Referensi

  1. Part One, Chapter Seven
  2. Part Three, Chapter Two
  3. Roderick T. Long. Victor Hugo on the Limits of Democracy.
  4. Keith M. Baker. University of Chicago Readings in Western Civilization, Volume 7: The Old Regime and the French Revolution. University of Chicago Press. 15 May 1987. hlm. 154. ISBN 978-0-226-06950-0.
  5. e.g. Novoe vremia (New Times), 31 October 1900
  6. George Orwell. Looking back on the Spanish War. orwell.ru.
  7. Hermann Göring. Museum of Tolerance Multimedia Learning Center.
  8. Moliere Don Juan Adapted by Timothy Mooney. Moliere-in-english.com.
  9. Belief (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Plato.stanford.edu.
  10. Gettier, EL 1963, 'Is justified true belief knowledge?', Analysis, vol. 23, no. 6, pp. 121–123
  11. Goldman, AI 1967, 'A causal theory of knowing', The Journal of Philosophy, vol. 64, no. 12, pp. 357–372
  12. Descartes' Meditations Home Page. Wright.edu. 27 July 2005.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28472204 (2025-11-14T03:17:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.