Blaise Pascal: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28162062; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Blaise_pascal.jpg|thumb|right|280px|Blaise pascal]] | |||
'''Blaise Pascal''' () berasal dari [[Prancis]]. Minat utamanya ialah [[filsafat]] dan [[agama]], sedangkan hobinya yang lain adalah [[matematika]] dan [[geometri]] proyektif. Bersama dengan [[Pierre de Fermat]] menemukan teori tentang [[probabilitas]]. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang [[ilmu pengetahuan]] dan [[ilmu terapan]], di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung. | '''Blaise Pascal''' () berasal dari [[Prancis]]. Minat utamanya ialah [[filsafat]] dan [[agama]], sedangkan hobinya yang lain adalah [[matematika]] dan [[geometri]] proyektif. Bersama dengan [[Pierre de Fermat]] menemukan teori tentang [[probabilitas]]. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang [[ilmu pengetahuan]] dan [[ilmu terapan]], di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung. | ||
== Riwayat Hidup == | == Riwayat Hidup == | ||
Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juni 1623 di [[Clermont-Ferrand]], [[Prancis]]. Blaise sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang cerdas walaupun ia tidak menempuh pendidikan di sekolah secara resmi. Di usia 12 tahun, ia sudah bisa menciptakan sebuah mesin penghitung untuk membantu pekerjaan ayahnya. Nama ayahnya adalah Étienne Pascal. Ayahnya adalah seorang petugas penarik pajak yang bekerja di wilayah [[Auvergne]], [[Prancis]]. Sejak usia empat tahun Blaise telah kehilangan ibunya. Karya-karyanya terus bertambah mulai dari merancang bangunan segienam (''hexagram''), menemukan prinsip kerja [[barometer]], sistem kerja [[arloji]], hingga ikut terlibat dalam pembuatan sistem transportasi bawah tanah kota [[Paris]]. | Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juni 1623 di [[Clermont-Ferrand]], [[Prancis]].<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Blaise sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang cerdas walaupun ia tidak menempuh pendidikan di sekolah secara resmi.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Di usia 12 tahun, ia sudah bisa menciptakan sebuah mesin penghitung untuk membantu pekerjaan ayahnya.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Nama ayahnya adalah Étienne Pascal.<ref>{id} F.D Wellem. 2003. ''Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.</ref> Ayahnya adalah seorang petugas penarik pajak yang bekerja di wilayah [[Auvergne]], [[Prancis]].<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Sejak usia empat tahun Blaise telah kehilangan ibunya.<ref>{id} F.D Wellem. 2003. ''Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.</ref> Karya-karyanya terus bertambah mulai dari merancang bangunan segienam (''hexagram''), menemukan prinsip kerja [[barometer]], sistem kerja [[arloji]], hingga ikut terlibat dalam pembuatan sistem transportasi bawah tanah kota [[Paris]].<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Awalnya Pascal tidak berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan [[agama]]. | Awalnya Pascal tidak berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan [[agama]].<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Ia kemudian mengalami peristiwa pertobatan pada usia 23 tahun. Sejak peristiwa itu, Pascal kemudian mengubah pola hidupnya dengan tekun berdoa dan berpuasa. Tidak hanya itu, ia bahkan ikut bergabung dengan komunitas [[biara]] Port-Royal yang beraliran [[Jansenisme]]. Saudara perempuannya yang bernama Jacqualine adalah seorang biarawati di biara itu. Pascal pernah menyatakan kritiknya terhadap [[Yesuit|Ordo Yesuit]] melalui tulisan-tulisannya yang terkenal,''Lettres provinciales'' yang ditulisnya tahun 1656. Menurutnya, ajaran-ajaran [[Yesuit]] telah merendahkan nilai-nilai agama terutama tentang anugerah. Kelompok [[Yesuit]] juga dinilai terlalu longgar dalam hal moral dan akibatnya [[Kristen|kekristenan]] menjadi duniawi. Ia meninggal dunia pada tanggal 19 Agustus 1662 dalam usia 39 tahun tanpa penyebab kematian yang jelas. | Ia kemudian mengalami peristiwa pertobatan pada usia 23 tahun.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Sejak peristiwa itu, Pascal kemudian mengubah pola hidupnya dengan tekun berdoa dan berpuasa.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Tidak hanya itu, ia bahkan ikut bergabung dengan komunitas [[biara]] Port-Royal yang beraliran [[Jansenisme]].<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Saudara perempuannya yang bernama Jacqualine adalah seorang biarawati di biara itu.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Pascal pernah menyatakan kritiknya terhadap [[Yesuit|Ordo Yesuit]] melalui tulisan-tulisannya yang terkenal,''Lettres provinciales'' yang ditulisnya tahun 1656.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref><ref>{en} Williston Walker. 1946. ''A History of The Christian Church''. New York: Charles Scribner's sons. Hlm. 556.</ref> Menurutnya, ajaran-ajaran [[Yesuit]] telah merendahkan nilai-nilai agama terutama tentang anugerah.<ref>{id} F.D Wellem. 2003. ''Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.</ref> Kelompok [[Yesuit]] juga dinilai terlalu longgar dalam hal moral dan akibatnya [[Kristen|kekristenan]] menjadi duniawi.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Ia meninggal dunia pada tanggal 19 Agustus 1662 dalam usia 39 tahun tanpa penyebab kematian yang jelas.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
== Pemikiran == | == Pemikiran == | ||
=== ''Le Coeur'' === | === ''Le Coeur'' === | ||
''Le coeur a ses raison ne connait point'' (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh [[rasio]]) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal. Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan. Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal. Baginya "hati" (''Le coeur'') manusia adalah jauh lebih penting. | ''Le coeur a ses raison ne connait point'' (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh [[rasio]]) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Baginya "hati" (''Le coeur'') manusia adalah jauh lebih penting.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti [[emosi]]. | Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti [[emosi]].<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. | Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam. Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni [[pengetahuan]] tentang [[Allah]]. | Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni [[pengetahuan]] tentang [[Allah]].<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya. | Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan [[iman]] tidak terbatas. | Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan [[iman]] tidak terbatas.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
=== ''Le Pari'' === | === ''Le Pari'' === | ||
''Le Pari'' atau "Pertaruhan" adalah argumen Pascal lainnya yang terkenal. Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah [[filsafat]]. | ''Le Pari'' atau "Pertaruhan" adalah argumen Pascal lainnya yang terkenal.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah [[filsafat]].<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang [[Kristen]] yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada. | Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang [[Kristen]] yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Ia kemudian membuat sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah. | Ia kemudian membuat sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah. | Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah.<ref>{id} Budi Hardiman. 2004. ''Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche''. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.</ref> | ||
Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di [[sorga]] kelak. Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun. Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di [[dunia]] sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia. | Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di [[sorga]] kelak.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di [[dunia]] sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.<ref>{id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. ''Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead''. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.</ref> | ||
Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah. | Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah. | ||
| Baris 32: | Baris 33: | ||
== Karya-karya == | == Karya-karya == | ||
* ''The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah)''.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> | |||
Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap [[Antoine Arnauld]], seorang pemimpin gerakan [[Jansenisme]] yang diadili di [[Sorbonne]] oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum [[Yesuit]].<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> | |||
* ''The | * ''The Pensées''.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> | ||
Berisi kumpulan pemikiran-pemikiran Pascal yang sering ditulisnya pada secarik kertas.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Melalui Pensées, Pascal hendak mengajukan suatu apologia atau pembelaan agama [[Kristen]] kepada orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Allah terutama kaum [[rasionalis]].<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref> Ini merupakan usaha pembelaan terhadap kekristenan yang pertama dilakukan pada zaman modern.<ref>{en} Tony Lane. 2007. ''Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani''. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.</ref><ref>[http://www.palgrave.com/page/detail/blaise-pascal-donald-adamson/?K=9780333550366 {en} [[Donald Adamson]]: "''Blaise Pascal: Mathematician, Physicist, and Thinker about God''"].</ref> | |||
Berisi kumpulan pemikiran-pemikiran Pascal yang sering ditulisnya pada secarik kertas. Melalui Pensées, Pascal hendak mengajukan suatu apologia atau pembelaan agama [[Kristen]] kepada orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Allah terutama kaum [[rasionalis]]. Ini merupakan usaha pembelaan terhadap kekristenan yang pertama dilakukan pada zaman modern. | |||
= | |||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Hukum ilmiah#Hukum Pascal (1658)|Hukum Pascal]] | * [[Hukum ilmiah#Hukum Pascal (1658)|Hukum Pascal]] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Blaise+Pascal&oldid=28162062 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28162062 (2025-10-26T03:30:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi per 25 Agustus 2026 17.58

Blaise Pascal () berasal dari Prancis. Minat utamanya ialah filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif. Bersama dengan Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak berfokus pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan, di mana dia telah berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin itu hanya dapat digunakan untuk menghitung.
Riwayat Hidup
Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juni 1623 di Clermont-Ferrand, Prancis.[1] Blaise sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang cerdas walaupun ia tidak menempuh pendidikan di sekolah secara resmi.[2] Di usia 12 tahun, ia sudah bisa menciptakan sebuah mesin penghitung untuk membantu pekerjaan ayahnya.[3] Nama ayahnya adalah Étienne Pascal.[4] Ayahnya adalah seorang petugas penarik pajak yang bekerja di wilayah Auvergne, Prancis.[5] Sejak usia empat tahun Blaise telah kehilangan ibunya.[6] Karya-karyanya terus bertambah mulai dari merancang bangunan segienam (hexagram), menemukan prinsip kerja barometer, sistem kerja arloji, hingga ikut terlibat dalam pembuatan sistem transportasi bawah tanah kota Paris.[7]
Awalnya Pascal tidak berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan agama.[8] Ia kemudian mengalami peristiwa pertobatan pada usia 23 tahun.[9] Sejak peristiwa itu, Pascal kemudian mengubah pola hidupnya dengan tekun berdoa dan berpuasa.[10] Tidak hanya itu, ia bahkan ikut bergabung dengan komunitas biara Port-Royal yang beraliran Jansenisme.[11] Saudara perempuannya yang bernama Jacqualine adalah seorang biarawati di biara itu.[12] Pascal pernah menyatakan kritiknya terhadap Ordo Yesuit melalui tulisan-tulisannya yang terkenal,Lettres provinciales yang ditulisnya tahun 1656.[13][14] Menurutnya, ajaran-ajaran Yesuit telah merendahkan nilai-nilai agama terutama tentang anugerah.[15] Kelompok Yesuit juga dinilai terlalu longgar dalam hal moral dan akibatnya kekristenan menjadi duniawi.[16] Ia meninggal dunia pada tanggal 19 Agustus 1662 dalam usia 39 tahun tanpa penyebab kematian yang jelas.[17]
Pemikiran
Le Coeur
Le coeur a ses raison ne connait point (Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal.[18] Dengan pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan.[19] Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan sanggup untuk memahami semua hal.[20] Baginya "hati" (Le coeur) manusia adalah jauh lebih penting.[21]
Hati yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti emosi.[22] Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif.[23] Rasio manusia hanya mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.[24] Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada itu yakni pengetahuan tentang Allah.[25]
Kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan hatinya.[26] Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.[27]
Le Pari
Le Pari atau "Pertaruhan" adalah argumen Pascal lainnya yang terkenal.[28] Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah filsafat.[29] Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang Kristen yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada.[30] Ia kemudian membuat sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah.[31]
Dalam hal ini Pascal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah.[32] Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di sorga kelak.[33] Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun.[34] Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang lain bahagia.[35]
Sebaliknya, bagi orang-orang tidak percaya, apalagi yang hidup seturut kehendak mereka sendiri, bila ternyata Allah tidak ada, selama hidup mereka merugikan orang lain dengan kesembronoan mereka. Sementara bila ternyata Allah ada, mereka akan dihukum dalam neraka karena selain tidak memercayai Allah, hidup mereka pun jauh dari menyenangkan hati Allah.
Kesimpulannya, menurut Pascal, lebih baik percaya pada Allah ketimbang tidak percaya kepada-Nya.
Karya-karya
- The Lettres Provinciales (Surat-surat ke Daerah).[36]
Karya tulis ini ditulisnya tanpa mencantumkan namanya.[37] Surat-surat ini berisi pembelaan Paskal terhadap Antoine Arnauld, seorang pemimpin gerakan Jansenisme yang diadili di Sorbonne oleh karena pandangan-pandangannya dianggap berbahaya.[38] Ini sekaligus menjadi tulisan Pascal yang menyerang kaum Yesuit.[39]
- The Pensées.[40]
Berisi kumpulan pemikiran-pemikiran Pascal yang sering ditulisnya pada secarik kertas.[41] Melalui Pensées, Pascal hendak mengajukan suatu apologia atau pembelaan agama Kristen kepada orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Allah terutama kaum rasionalis.[42] Ini merupakan usaha pembelaan terhadap kekristenan yang pertama dilakukan pada zaman modern.[43][44]
Lihat pula
Referensi
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} F.D Wellem. 2003. Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} F.D Wellem. 2003. Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {en} Williston Walker. 1946. A History of The Christian Church. New York: Charles Scribner's sons. Hlm. 556.
- ↑ {id} F.D Wellem. 2003. Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 156.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Budi Hardiman. 2004. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia. Hlm. 59.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {id} Simon Petrus L. Tjahjadi. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 37.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Tony Lane. 2007. Runtut Pijar:Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm. 193.
- ↑ {en} Donald Adamson: "Blaise Pascal: Mathematician, Physicist, and Thinker about God".
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28162062 (2025-10-26T03:30:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.