Identitas gender: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29343016; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Transgender_Pride_flag.svg|thumb|right|280px|Transgender Pride flag]] | |||
Identitas gender inti seseorang umumnya terbentuk saat usia tiga tahun. Setelah usia tiga tahun, akan sangat sulit untuk mengubah identitas gender sementara jika dilakukan usaha pengubahan dapat menyebabkan timbulnya [[disforia gender]]. Baik faktor biologis maupun faktor sosial telah digagas sebagai hal yang berpengaruh dalam pembentukan identitas gender. | '''Identitas gender''' adalah pengertian dan kesadaran seseorang mengenai [[gender]]nya sendiri.<ref>[https://archive.org/details/casestudiesonsex0000unse Sexual Orientation and Gender Expression in Social Work Practice]. Columbia University Press. 2006. hlm. [https://archive.org/details/casestudiesonsex0000unse/page/8 8]. ISBN 0231501862.</ref><ref>American Psychological Association. [https://archive.org/details/sim_american-psychologist_2015-12_70_9/page/832 Guidelines for Psychological Practice with Transgender and Gender Nonconforming People]. ''American Psychologist''. 2015. Vol. 70 (9). hlm. 832-864. doi:10.1037/a0039906.</ref> Identitas gender seseorang dapat selaras dengan [[jenis kelamin|seksnya]] [[penunjukan seks|yang ditunjuk]] saat lahir atau justru sepenuhnya berbeda.<ref>American Psychological Association. [https://archive.org/details/sim_american-psychologist_2015-12_70_9/page/832 Guidelines for Psychological Practice with Transgender and Gender Nonconforming People]. ''American Psychologist''. 2015. Vol. 70 (9). hlm. 832-864. doi:10.1037/a0039906.</ref><ref>[http://www.hrc.org/resources/sexual-orientation-and-gender-identity-terminology-and-definitions Sexual Orientation and Gender Identity Definitions]. Human Rights Campaign.</ref> Seluruh masyarakat memiliki serangkaian kategori gender yang berperan sebagai dasar pembentukan [[identitas sosial]] seseorang serta dalam hubungannya dengan orang lain.<ref>V. M. Moghadam. ''Patriarchy and the Politics of Gender in Modernizing Societies: Iran, Pakistan and Afghanistan''. ''International Sociology''. 1992. Vol. 7 (1). hlm. 35-53. doi:10.1177/026858092007001002.</ref> Di kebanyakan masyarakat, perbedaan yang paling sederhana ada pada sifat-sifat yang terkait dengan gender laki-laki dan perempuan<ref>N. R. Carlson. ''Psychology: the Science of Behaviour''. Pearson. 2009. hlm. 140–141. ISBN 9780205645244.</ref> yang disebut pula sebagai [[binari gender]] yang dianut oleh kebanyakan orang. Gagasan tersebut juga mendorong penyesuaian hal-hal yang dinilai [[maskulinitas|maskulin]] dan [[femininitas|feminin]] di segala aspek [[seks dan gender]]: [[seks]] biologis, identitas gender, dan ekspresi gender.<ref>J. D. Eller. ''Culture and Diversity in the United States: So Many Ways to Be American''. Routledge. 2015. hlm. 137. ISBN 1317575784.</ref> Sementara itu, di beberapa masyarakat terdapat individu-individu yang tidak mengidentifikasi dirinya terhadap sebagian atau keseluruhan dari aspek gender yang ditunjuk kepada mereka berdasarkan seks biologis mereka.<ref>G. O. MacKenzie. [https://archive.org/details/transgendernatio0000mack Transgender Nation]. Bowling Green State University Popular Press. 1994. hlm. [https://archive.org/details/transgendernatio0000mack/page/43 43]. ISBN 0879725966.</ref><ref>C. Zastrow. ''Introduction to Social Work and Social Welfare: Empowering People''. Brooks Cole. 2013. hlm. 234. ISBN 128554580X.</ref> Beberapa dari individu tersebut tergolong sebagai orang [[transgender]] atau [[genderqueer]]. Di beberapa masyarakat lainnya pula, terdapat kategori [[gender ketiga]]. | ||
Identitas gender inti seseorang umumnya terbentuk saat usia tiga tahun.<ref>P. J. Kalbfleisch. ''Gender, Power, and Communication in Human Relationships''. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.</ref><ref>A. M. Gallagher. ''Gender Differences in Mathematics: An Integrative Psychological Approach''. Cambridge University Press. 2005. ISBN 0-521-82605-5.</ref> Setelah usia tiga tahun, akan sangat sulit untuk mengubah identitas gender<ref>P. J. Kalbfleisch. ''Gender, Power, and Communication in Human Relationships''. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.</ref> sementara jika dilakukan usaha pengubahan dapat menyebabkan timbulnya [[disforia gender]]. Baik faktor biologis maupun faktor sosial telah digagas sebagai hal yang berpengaruh dalam pembentukan identitas gender. | |||
== Waktu pembentukan == | == Waktu pembentukan == | ||
Terdapat beberapa teori mengenai kapan dan bagaimana identitas gender seseorang tebentuk. Akan tetapi, penelitian yang selama ini dilakukan terbilang sulit karena [[Pemerolehan bahasa|kemampuan berbicara]] anak-anak yang terbatas menyebabkan peneliti harus membuat asumsi berdasarkan bukti tidak langsung. Psikolog, John Money, menyebutkan bahwa anak-anak mungkin memiliki kesadaran serta keterikatan terhadap gender mulai antara usia sedini 18 bulan hingga dua tahun. Psikolog lainnya, Lawrence Kohlberg, mengatakan bahwa identitas gender belum terbentuk hingga umur tiga tahun. Hal yang telah dipahami secara luas adalah bahwa inti dari identitas gender telah terbentuk kokoh pada usia tiga tahun.<ref>P. J. Kalbfleisch. ''Gender, Power, and Communication in Human Relationships''. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.</ref><ref>A. M. Gallagher. ''Gender Differences in Mathematics: An Integrative Psychological Approach''. Cambridge University Press. 2005. ISBN 0-521-82605-5.</ref> Beberapa sumber lain sementara itu menyebutkan bahwa identitas gender terus terbentuk pada usia 3-4 tahun.<ref>G. J. Bryjak. ''Sociology: Cultural Diversity in a Changing World''. Allyn & Bacon. 1997. hlm. 209-245.</ref> Pada titik inilah anak-anak dapat membuat pernyataan tegas mengenai gender mereka<ref>B. Newmann. [https://books.google.com/books?id=oTY_7osGmqUC Development Through Life: A Psychosocial Approach]. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.</ref> dan cenderung untuk memilih aktivitas dan mainan yang dinilai sesuai dengan gender mereka (seperti boneka untuk perempuan dan balok bangunan untuk laki-laki),<ref>C. B. Doob. ''Social Inequality and Social Stratification in US Society''. Routledge. 2012.</ref> walaupun mungkin mereka belum mengerti implikasi dari gender yang mereka miliki.<ref>B. Newmann. [https://books.google.com/books?id=oTY_7osGmqUC Development Through Life: A Psychosocial Approach]. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.</ref> Setelah usia tiga tahun, identitas gender inti sangat sulit untuk diubah<ref>P. J. Kalbfleisch. ''Gender, Power, and Communication in Human Relationships''. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.</ref><ref>J. A. Kleeman. [https://archive.org/details/sim_archives-of-sexual-behavior_1971_1_2/page/103 The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate]. ''Archives of Sexual Behavior''. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.</ref> sementara usaha untuk mengubahnya dapat menimbulkan [[disforia gender]].<ref>E. Coleman. ''Developmental stages of the coming out process''. ''Journal of Homosexuality''. 1982. Vol. 7 (2-3). hlm. 31-43.</ref> Pembentukan akhir identitas gender ada pada rentang usia anak empat<ref>J. A. Kleeman. [https://archive.org/details/sim_archives-of-sexual-behavior_1971_1_2/page/103 The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate]. ''Archives of Sexual Behavior''. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.</ref> hingga enam tahun<ref>M. T. Stein. ''Sammy: Gender Identity Concerns in a 6-Year-Old Boy''. ''Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics''. 1997. Vol. 18 (3). hlm. 178-182.</ref> dan terus berlanjut ke masa remaja.<ref>J. A. Kleeman. [https://archive.org/details/sim_archives-of-sexual-behavior_1971_1_2/page/103 The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate]. ''Archives of Sexual Behavior''. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.</ref> | |||
Martin dan Ruble (2004) merumuskan proses perkembangan tersebut ke dalam tiga tahap yaitu (1) pada masa kanak-kanak dan balita, anak mempelajari karakteristik-karakteristik serta aspek dari gender, (2) pada sekitar umur 5–7 tahun, identitas terbentuk dan menjadi rumit, dan (3) setelah "puncak kerumitan" tersebut, fluiditas kembali dan peran-peran gender yang selama ini telah ditentukan di lingkungan mengendur.<ref>C. Martin. [https://archive.org/details/sim_current-directions-in-psychological-science_2004-04_13_2/page/67 Children's Search for Gender Cues Cognitive Perspectives on Gender Development]. ''Current Directions in Psychological Science''. 2004. Vol. 13 (2). hlm. 67–70. doi:10.1111/j.0963-7214.2004.00276.x.</ref> Newmann (2014) sementara itu mengajukan empat tahapan yaitu (1) pemahaman konsep gender, (2) pembelajaran oleh anak mengenai standar dan [[:wikt:stereotip|stereotip]] [[peran gender]], (3) identifikasi terhadap orang tua, dan (4) pembentukan preferensi gender.<ref>B. Newmann. [https://books.google.com/books?id=oTY_7osGmqUC Development Through Life: A Psychosocial Approach]. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.</ref> | |||
Martin dan Ruble (2004) merumuskan proses perkembangan tersebut ke dalam tiga tahap yaitu (1) pada masa kanak-kanak dan balita, anak mempelajari karakteristik-karakteristik serta aspek dari gender, (2) pada sekitar umur 5–7 tahun, identitas terbentuk dan menjadi rumit, dan (3) setelah "puncak kerumitan" tersebut, fluiditas kembali dan peran-peran gender yang selama ini telah ditentukan di lingkungan mengendur. Newmann (2014) sementara itu mengajukan empat tahapan yaitu (1) pemahaman konsep gender, (2) pembelajaran oleh anak mengenai standar dan [[:wikt:stereotip|stereotip]] [[peran gender]], (3) identifikasi terhadap orang tua, dan (4) pembentukan preferensi gender. | |||
== Faktor yang memengaruhi pembentukan == | == Faktor yang memengaruhi pembentukan == | ||
=== Alam lawan asuhan === | === Alam lawan asuhan === | ||
Walaupun pembentukan identitas gender belum dapat diketahui secara menyeluruh, terdapat beberapa faktor yang telah disebut memiliki pengaruh di dalam perkembangan pembentukannya. Salah satu yang paling utama adalah sejauh mana identitas gender ditentukan oleh faktor sosial atau faktor lingkungan dan sejauh mana juga faktor lahiriah atau biologi berpengaruh. Hal tersebut menjadi perdebatan di kalangan psikolog dan dikenal dengan istilah ''nature versus nurture'' (alam lawan asuhan). Kedua faktor masing-masing dianggap memiliki peran. Faktor biologis yang memengaruhi identitas gender di antaranya adalah tingkat hormon pra- dan pascakelahiran.<ref>Y. S. Zhu. ''Effects of male sex hormones on gender identity, sexual behavior, and cognitive function''. ''Zhong Nan Da Xue Xue Bao, Yi Xue Ban (''Journal of Central South University, Medical Sciences'')''. 2006. Vol. 31 (2). hlm. 149-161.</ref> [[Gen]] juga memengaruhi identitas gender<ref>J. Money. [https://archive.org/details/sim_journal-of-sex-and-marital-therapy_fall-1994_20_3/page/163 The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years]. ''Journal of Sex and Marital Therapy''. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–77. doi:10.1080/00926239408403428.</ref><ref>[https://www.psychologytoday.com/articles/200310/genes-influence-gender-identity Genes Influence Gender Identity]. Psychology Today. 24 Oktober 2003.</ref> tetapi tidak menentukannya secara pasti.<ref>S. Golombok. [https://archive.org/details/isbn_9780521408622 Gender Development]. 1994. hlm. [https://archive.org/details/isbn_9780521408622/page/44 44]. ISBN 0521408628.</ref> | |||
Faktor sosial yang dapat memengaruhi identitas gender di antaranya adalah gagasan mengenai peran gender yang digambarkan oleh keluarga, figur penguasa, media, dan orang-orang lain yang berpengaruh di dalam kehidupan anak.<ref>J. M. Henslin. ''Essentials of Sociology''. Taylor & Francis. 2001. hlm. 65–67, 240. ISBN 0-536-94185-8.</ref> Ketika anak dibesarkan oleh seseorang yang menganut paham peran gender yang ketat, mereka cenderung akan bersikap sama dan menyamakan identitas gender mereka dengan pola peran gender stereotip di sekitar mereka tersebut.<ref>A. Oswalt. [https://www.mentalhelp.net/articles/factors-influencing-gender-identity/ Factors Influencing Gender Identity]. MentalHelp.net. 9 Juni 2010.</ref> [[Teori pembelajaran sosial]] mengatakan bahwa anak-anak lebih lanjut mengembangkan identitas gender mereka dengan mengobservasi dan meniru perilaku yang terkait dengan suatu gender. Mereka juga menerima respon positif seperti hadiah atau pujian atau respon negatif seperti hukuman dari perilakunya<ref>D. G. Myers. ''Psychology''. Worth Publishers. 2008.</ref> sehingga dengan demikian mereka dibentuk oleh orang-orang di sekitar mereka dengan cara meniru atau mengikuti.<ref>C. L. Martin. [https://archive.org/details/sim_psychological-bulletin_2002-11_128_6/page/903 Cognitive theories of early gender development]. ''Psychological Bulletin''. 2002. Vol. 128 (6). hlm. 903–906. doi:10.1037/0033-2909.128.6.903.</ref> | |||
Contoh terkenal dalam perdebatan alam atau asuhan adalah kasus [[David Reimer]] yang dikenal pula sebagai kasus ''John/Joan''. Saat ia masih bayi, Reimer merupakan korban dari malapraktik dan kelamin laki-lakinya harus diangkat. Psikolog John Money meyakinkan orang tua Reimer untuk membesarkannya sebagai perempuan. Reimer pun dibesarkan sebagai perempuan, mengenakan pakaian perempuan dan dikelilingi mainan perempuan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia seorang perempuan. Setelah mencoba bunuh diri pada usia 13 tahun, Reimer mengetahui bahwa ia lahir dengan kelamin laki-laki. Setelah itupun ia menjalani operasi rekonstruksi genitalia.<ref>S. Nolen-Hoeksema. [https://archive.org/details/isbn_9781308211503 Abnormal Psychology]. McGraw-Hill. 2014. hlm. [https://archive.org/details/isbn_9781308211503/page/368 368]. ISBN 9781308211503.</ref><ref>M. Diamond. ''Sex reassignment at birth. Long-term review and clinical implications''. ''Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine''. 1997. Vol. 151 (3). hlm. 298-304.</ref> Kasus Reimer berlawanan dengan hipotesis Money bahwa biologi tidak memiliki peran dalam identitas gender maupun orientasi seksual.<ref>C. Martin. [https://archive.org/details/sim_psychological-bulletin_2002-11_128_6/page/903 Cognitive Theories of Early Gender Development]. ''Psychological Bulletin''. 2002. Vol. 128 (6). hlm. 903–913. doi:10.1037/0033-2909.128.6.903.</ref> | |||
Contoh terkenal dalam perdebatan alam atau asuhan adalah kasus [[David Reimer]] yang dikenal pula sebagai kasus ''John/Joan''. Saat ia masih bayi, Reimer merupakan korban dari malapraktik dan kelamin laki-lakinya harus diangkat. Psikolog John Money meyakinkan orang tua Reimer untuk membesarkannya sebagai perempuan. Reimer pun dibesarkan sebagai perempuan, mengenakan pakaian perempuan dan dikelilingi mainan perempuan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia seorang perempuan. Setelah mencoba bunuh diri pada usia 13 tahun, Reimer mengetahui bahwa ia lahir dengan kelamin laki-laki. Setelah itupun ia menjalani operasi rekonstruksi genitalia. Kasus Reimer berlawanan dengan hipotesis Money bahwa biologi tidak memiliki peran dalam identitas gender maupun orientasi seksual. | |||
=== Faktor biologis === | === Faktor biologis === | ||
Penelitian menunjukkan adanya bukti bahwa identitas gender memiliki komponen biologis.<ref>Aruna Saraswat. ''Evidence Supporting the Biologic Nature of Gender Identity''. ''Endocrine Practice''. 2015. Vol. 21 (2). hlm. 199-204. doi:10.4158/EP14351.RA.</ref> Beberapa faktor seperti gen dan hormon—termasuk saat seseorang masih di dalam kandungan—dapat memengaruhi identitas gender.<ref>Y. S. Zhu. ''Effects of male sex hormones on gender identity, sexual behavior, and cognitive function''. ''Zhong Nan Da Xue Xue Bao, Yi Xue Ban (''Journal of Central South University, Medical Sciences'')''. 2006. Vol. 31 (2). hlm. 149-161.</ref><ref>[https://www.psychologytoday.com/articles/200310/genes-influence-gender-identity Genes Influence Gender Identity]. Psychology Today. 24 Oktober 2003.</ref><ref>S. Ghosh. [http://emedicine.medscape.com/article/917990-overview Gender Identity]. MedScape.</ref> | |||
Pengaruh hormon merupakan faktor yang kompleks. [[Diferensiasi seksual pada manusia|Hormon penentu seks]] diproduksi pada tahap awal perkembangan janin.<ref>Birke. ''The Gender and Science Reader''. Routledge. 2000. hlm. 310.</ref> Jika tingkat hormon tersebut berubah, perkembangan [[fenotip]] janin juga dapat berubah sehingga kecenderungan alami dari otak terhadap jenis kelamin tertentu dapat tidak sesuai dengan susunan genetik janin maupun organ seksualnya.<ref>M. Hines. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3296090/ Prenatal endocrine influences on sexual orientation and on sexually differentiated childhood behavior]. ''Frontiers in Neuroendocrinology''. 2017-02-02. Vol. 32 (2). hlm. 170–182. doi:10.1016/j.yfrne.2011.02.006.</ref> Hormon dapat memengaruhi perbedaan kemampuan spasial dan verbal, ingatan, dan keagresifan antara anak laki-laki da perempuan. Hormon prenatal mempengarui bagaimana [[hipotalamus]] di otak mengatur sekresi hormon di kemudian hari, dengan hormon wanita umunya mengikuti siklus bulanan sementara hormon pria tidak.<ref>Birke. ''The Gender and Science Reader''. Routledge. 2000. hlm. 310.</ref> | |||
Pengaruh hormon merupakan faktor yang kompleks. [[Diferensiasi seksual pada manusia|Hormon penentu seks]] diproduksi pada tahap awal perkembangan janin. Jika tingkat hormon tersebut berubah, perkembangan [[fenotip]] janin juga dapat berubah sehingga kecenderungan alami dari otak terhadap jenis kelamin tertentu dapat tidak sesuai dengan susunan genetik janin maupun organ seksualnya. Hormon dapat memengaruhi perbedaan kemampuan spasial dan verbal, ingatan, dan keagresifan antara anak laki-laki da perempuan. Hormon prenatal mempengarui bagaimana [[hipotalamus]] di otak mengatur sekresi hormon di kemudian hari, dengan hormon wanita umunya mengikuti siklus bulanan sementara hormon pria tidak. | |||
==== Orang interseks ==== | ==== Orang interseks ==== | ||
Seorang manusia interseks atau seekor hewan interseks memmiliki variasi pada salah satu atau beberapa karakteristik [[seks]]nya apakah itu [[kromosom]], [[organ genitalia]], [[gonad]], atau [[hormon seks]], yang "... tidak padan dengan gagasan umum [[binari gender|biner]] mengenai tubuh laki-laki atau perempuan".<ref>Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. [https://unfe.org/system/unfe-65-Intersex_Factsheet_ENGLISH.pdf Free & Equal Campaign Fact Sheet: Intersex]. 2015.</ref> Variasi-variasi yang ada mengenai kondisi interseks dapat membuat [[penunjukan seks]] saat lahir menjadi rumit<ref>J. Mieszczak. ''Assignment of the sex of rearing in the neonate with a disorder of sex development''. ''Current Opinion in Pediatrics''. 2009. Vol. 21 (4). hlm. 541–547. doi:10.1097/mop.0b013e32832c6d2c.</ref> dan dapat tidak konsisten dengan identitas gender si anak kelak.<ref>Komisioner untuk Hak Asasi Manusia. [https://wcd.coe.int/ViewDoc.jsp?Ref=CommDH/IssuePaper(2015)1&Language=lanEnglish&Ver=original Human rights and intersex people, Issue Paper]. 2015.</ref> Pemaksaan seks yang ditunjuk melalui hormon atau prosedur operasi melanggar [[hak interseks|hak asasi]] individu tersebut.<ref>Swiss National Advisory Commission on Biomedical Ethics NEK-CNE. [http://www.nek-cne.ch/fileadmin/nek-cne-dateien/Themen/Stellungnahmen/en/NEK_Intersexualitaet_En.pdf On the management of differences of sex development. Ethical issues relating to "intersexuality".Opinion No. 20/2012]. November 2012.</ref><ref>Organisasi Kesehatan Dunia. [https://archive.org/details/sexualhealthhuma0000worl Sexual health, human rights and the law]. Organisasi Kesehatan Dunia. 2015. ISBN 9789241564984.</ref> Sebuah ulasan terhadap penelitian-penelitian dari tahun 1955 hingga 2000 menunjukkan bahwa lebih dari 1 orang di antara 100 orang memiliki karakteristik [[interseks]].<ref>M. Blackless. [http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/(SICI)1520-6300(200003/04)12:2%3C151::AID-AJHB1%3E3.0.CO;2-F/abstract How sexually dimorphic are we? Review and synthesis]. ''American Journal of Human Biology''. 2000. Vol. 12 (2). hlm. 151–166. doi:10.1002/(SICI)1520-6300(200003/04)12:2 3.0.CO;2-F.</ref> | |||
Orang interseks dapat mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan, laki-laki, atau tidak keduanya tanpa mempedulikan [[gangguan perkembangan seks]]nya.<ref>[https://oii.org.au/30313/intersex-stories-statistics-australia/ New publication "Intersex: Stories and Statistics from Australia"]. Organisation Intersex International Australia. 3 Februari 2016.</ref> Furtado, et al. (2012) menemukan bahwa sekitar 8,5 hingga 20 persen orang interseks mengalami [[disforia gender]].<ref>P. S. Furtado. ''Gender dysphoria associated with disorders of sex development''. ''Nature Reviews Urology''. 2012. Vol. 9 (11). hlm. 620–627. doi:10.1038/nrurol.2012.182.</ref> Sebuah penelitian di [[Australia]], yang merupakan negara yang memiliki klasifikasi jenis kelamin "X", menunjukkan bahwa 19 persen dari orang yang lahir dengan karakteristik seks istimewa memilih opsi "X" tersebut atau opsi "lainnya". Sementara itu, 52 persen dari peserta studi memilih opsi wanita, 23 persen memilih opsi pria, dan 6 persen tidak yakin. 52 persen dari peserta studi ditunjuk sebagai perempuan saat lahir sementara 41 persen lainnya laki-laki.<ref>[https://oii.org.au/30313/intersex-stories-statistics-australia/ New publication "Intersex: Stories and Statistics from Australia"]. Organisation Intersex International Australia. 3 Februari 2016.</ref><ref>T. Jones. [http://oii.org.au/wp-content/uploads/key/Intersex-Stories-Statistics-Australia.pdf Intersex: Stories and Statistics from Australia]. Open Book Publishers. 2016. ISBN 978-1-78374-208-0.</ref> | |||
Orang interseks dapat mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan, laki-laki, atau tidak keduanya tanpa mempedulikan [[gangguan perkembangan seks]]nya. Furtado, et al. (2012) menemukan bahwa sekitar 8,5 hingga 20 persen orang interseks mengalami [[disforia gender]]. Sebuah penelitian di [[Australia]], yang merupakan negara yang memiliki klasifikasi jenis kelamin "X", menunjukkan bahwa 19 persen dari orang yang lahir dengan karakteristik seks istimewa memilih opsi "X" tersebut atau opsi "lainnya". Sementara itu, 52 persen dari peserta studi memilih opsi wanita, 23 persen memilih opsi pria, dan 6 persen tidak yakin. 52 persen dari peserta studi ditunjuk sebagai perempuan saat lahir sementara 41 persen lainnya laki-laki. | |||
==== Penyebab biologis dari identitas transgender dan transseksualitas ==== | ==== Penyebab biologis dari identitas transgender dan transseksualitas ==== | ||
Beberapa penelitan telah menyelidiki mengenai ada atau tidaknya kaitan antara kondisi biologi terhadap identitas [[transgender]] atau [[transseksual]].<ref>E. Vilain. ''Genetics of Intersexuality''. ''Journal of Gay & Lesbian Psychotherapy''. 2006. Vol. 10 (2). hlm. 9–26. doi:10.1300/J236v10n02_02.</ref><ref>A. Fleming. ''The endless quest for sex determination genes''. ''Clinical Genetics''. 2005. Vol. 67 (1). hlm. 15–25. doi:10.1111/j.1399-0004.2004.00376.x.</ref> Beberapa telah menunjukkan bahwa struktur otak pada individu transseksual berbeda dari seks yang telah ditunjuk kepadanya dan lebih serupa dengan seks yang mereka pilih.<ref>E. R. Gizewski. ''Specific cerebral activation due to visual erotic stimuli in male-to-female transsexuals compared with male and female controls: An fMRI study''. ''Journal of Sexual Medicine''. 2009. Vol. 6. hlm. 440–448. doi:10.1111/j.1743-6109.2008.00981.x.</ref><ref>I. Savic. ''Sex dimorphism of the brain in male-to-female transsexuals''. ''Cerebral Cortex''. 2011. Vol. 21. hlm. 2525–2533. doi:10.1093/cercor/bhr032.</ref><ref>G. Rametti. [https://archive.org/details/sim_journal-of-psychiatric-research_2011-02_45_2/page/199 White matter microstructure in female to male transsexuals before cross-sex hormonal treatment. A diffusion tensor imaging study]. ''Journal of Psychiatric Research''. 2011. Vol. 45 (2). hlm. 199–204. doi:10.1016/j.jpsychires.2010.05.006.</ref> Bagian dari otak yang disebut BNST di [[stria terminalis]] dari wanita trans serupa dengan yang ditemukan pada wanita [[cisgender]] ketimbang dengan pria.<ref>J. N. Zhou. [https://archive.org/details/sim_nature-uk_1995-11-02_378_6552/page/68 A sex difference in the human brain and its relation to transsexuality]. ''Nature''. 1995. Vol. 378 (6552). hlm. 68–70. doi:10.1038/378068a0.</ref> [[Biologi dan orientasi seksual|Perbedaan struktur otak]] yang serupa juga disebutkan untuk pria gay dengan pria heteroseksual dan wanita lesbian dengan wanita heteroseksual.<ref>LeVay. [https://archive.org/details/sim_science_1991-08-30_253_5023/page/1034 A difference in hypothalamic structure between heterosexual and homosexual men]. ''Science''. 1991. Vol. 253 (5023). hlm. 1034–1037. doi:10.1126/science.1887219.</ref><ref>W. Byne. ''The interstitial nuclei of the human anterior hypothalamus: an investigation of variation with sex, sexual orientation, and HIV status''. ''Hormones and Behavior''. 2001. Vol. 40 (2). hlm. 86–92. doi:10.1006/hbeh.2001.1680.</ref> Sebuah penelitian lainnya menyebutkan bahwa transseksualitas dapat memiliki kaitan dengan kondisi genetik.<ref>L. Hare. ''Androgen Receptor Repeat Length Polymorphism Associated with Male-to-Female Transsexualism''. ''Biological Psychiatry''. 2009. Vol. 65 (1). hlm. 93-96. doi:10.1016/j.biopsych.2008.08.033.</ref> | |||
Penelitian menunjukkan bahwa hormon yang sama yang memicu diferensiasi organ seksual pada janin dalam rahim juga memengaruhi perkembangan identitas gender. Kuantitas yang berbeda dari hormon perempuan dan hormon laki-laki tersebut menyebabkan seseorang dapat memiliki perilaku atau kondisi fisik eksternal dari genitalia yang tidak sama dengan anggapan umum dari jenis kelamin tertentu termasuk perilaku dan penampilan yang dapat lebih mirip dengan lawan jenis kelaminnya.<ref>A. Oswalt. [https://www.mentalhelp.net/articles/factors-influencing-gender-identity/ Factors Influencing Gender Identity]. MentalHelp.net.</ref> | |||
Penelitian menunjukkan bahwa hormon yang sama yang memicu diferensiasi organ seksual pada janin dalam rahim juga memengaruhi perkembangan identitas gender. Kuantitas yang berbeda dari hormon perempuan dan hormon laki-laki tersebut menyebabkan seseorang dapat memiliki perilaku atau kondisi fisik eksternal dari genitalia yang tidak sama dengan anggapan umum dari jenis kelamin tertentu termasuk perilaku dan penampilan yang dapat lebih mirip dengan lawan jenis kelaminnya. | |||
=== Faktor sosial dan lingkungan === | === Faktor sosial dan lingkungan === | ||
John Money pada tahun 1955 mengatakan bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dengan pengaruh dari apakah seorang anak pada usia dini dibesarkan sebagai laki-laki atau perempuan. Hipotesis Money telah dibantah, tetapi para ilmuwan tetap melanjutkan penelitian mengenai pengaruh dari faktor sosial terhadaip pembentukan identitas gender. Selama dekade 1960-an dan 1970-an, faktor-faktor yang pernah disebutkan sebagai faktor sosial yang berpengaruh di antaranya adalah ketiadaan ayah, keinginan ibu untuk memiliki anak perempuan, serta pola asuhan dari orang tua. Sebuah teori terkini menyebutkan bahwa kondisi psikologi orang tua mungkin juga memengaruhi pembentukan identitas gender tetapi teori tersebut hanya memiliki sedikit bukti empiris sementara sebuah artikel tahun 2004 menyebutkan bahwa "... pengaruh penting dari faktor sosial setelah kelahiran tidak memiliki bukti yang cukup." Sementara itu, sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa orang tua dengan anak-anak yang memiliki [[disforia gender]] tidak menunjukan tanda-tanda adanya gangguan psikologi selain dari depresi ringan pada ibu. Selain itu, sikap dari orang tua juga telah disebutkan dapat memengaruhi identitas gender anak tetapi hanya sedikit bukti yang ditemukan. | John Money pada tahun 1955 mengatakan bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dengan pengaruh dari apakah seorang anak pada usia dini dibesarkan sebagai laki-laki atau perempuan.<ref>J. Money. ''An examination of some basic sexual concepts''. ''Bulletin of the Johns Hopkins Hospital''. 1955. Vol. 97 (4). hlm. 301-319.</ref><ref>''Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development''. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.</ref> Hipotesis Money telah dibantah,<ref>''Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development''. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.</ref><ref>A. Fausto-Sterling. [https://archive.org/details/sexingbodygender0000faus Sexing the Body: Gender Politics and the Construct]. Basic Books. 2000.</ref> tetapi para ilmuwan tetap melanjutkan penelitian mengenai pengaruh dari faktor sosial terhadaip pembentukan identitas gender.<ref>''Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development''. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.</ref> Selama dekade 1960-an dan 1970-an, faktor-faktor yang pernah disebutkan sebagai faktor sosial yang berpengaruh di antaranya adalah ketiadaan ayah, keinginan ibu untuk memiliki anak perempuan, serta pola asuhan dari orang tua. Sebuah teori terkini menyebutkan bahwa kondisi psikologi orang tua mungkin juga memengaruhi pembentukan identitas gender tetapi teori tersebut hanya memiliki sedikit bukti empiris<ref>''Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development''. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.</ref> sementara sebuah artikel tahun 2004 menyebutkan bahwa "... pengaruh penting dari faktor sosial setelah kelahiran tidak memiliki bukti yang cukup."<ref>D. F. Swaab. ''Sexual differentiation of the human brain: relevance for gender identity, transsexualism and sexual orientation''. ''Gynecological Endocrinology''. 2004. Vol. 19 (6). hlm. 301-312.</ref> Sementara itu, sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa orang tua dengan anak-anak yang memiliki [[disforia gender]] tidak menunjukan tanda-tanda adanya gangguan psikologi selain dari depresi ringan pada ibu.<ref>''Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development''. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.</ref><ref>M. S. Wallien. [https://archive.org/details/sim_journal-american-academy-child-adolescent-psychiatry_2008-12_47_12/page/1413 Psychosexual outcome of gender-dysphoric children]. ''Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry''. 2008. Vol. 47 (12). hlm. 1413-1423. doi:10.1097/CHI.0b013e31818956b9.</ref> Selain itu, sikap dari orang tua juga telah disebutkan dapat memengaruhi identitas gender anak tetapi hanya sedikit bukti yang ditemukan.<ref>M. Weinraub. [https://archive.org/details/sim_child-development_1984-08_55_4/page/1493 The development of sex role stereotypes in the third year: relationships to gender labeling, gender identity, sex-types toy preference, and family characteristics]. ''Child Development''. 1984. Vol. 55 (4). hlm. 1493-1503. doi:10.2307/1130019.</ref> | ||
==== Sikap orang tua mengenai peran gender ==== | ==== Sikap orang tua mengenai peran gender ==== | ||
Orang tua yang memiliki pandangan yang lebih keras dan sempit mengenai identitas gender dan peran gender cenderung juga memiliki orang tua yang berpandangan serupa. Kane (2004) menyebutkan bahwa para orang tua menunjukkan pola perubahan pandangan terkait peran dan identitas gender. Salah satunya seperti penilaian bahwa hal-hal seperti [[dapur]] adalah hal yang netral, bukan maskulin dan bukan feminin, seperti disebutkan di sebuah penelitian. Tapi ia menyebutkan juga bahwa masih terdapat banyak orang tua yang menunjukkan pandangan negatif terkait dengan hal-hal yang dinilai feminin seperti mengurusi rumah tangga, mengasuh anak, dan empati. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dari orang tua berusaha untuk membentuk gender dari anak laki-laki mereka dengan cara menjauhkan si anak dari hal-hal feminin. Kane menyebutkan bahwa pembatasan tersebut “... menggambarkan sikap penting yang membatasi pilihan terhadap anak, memisahkan anak laki-laki dari anak perempuan, meremehkan aktivitas yang mereka nilai feminin ..., yang kemudian [hanya] memperkuat ketidaksetaraan gender dan norma heteroseksual.” | Orang tua yang memiliki pandangan yang lebih keras dan sempit mengenai identitas gender dan peran gender cenderung juga memiliki orang tua yang berpandangan serupa.<ref>A. Oswalt. [https://www.mentalhelp.net/articles/factors-influencing-gender-identity/ Factors Influencing Gender Identity]. MentalHelp.net.</ref> Kane (2004) menyebutkan bahwa para orang tua menunjukkan pola perubahan pandangan terkait peran dan identitas gender. Salah satunya seperti penilaian bahwa hal-hal seperti [[dapur]] adalah hal yang netral, bukan maskulin dan bukan feminin, seperti disebutkan di sebuah penelitian.<ref>J. Spade. [https://archive.org/details/kaleidoscopeofge0000unse_c1n2 The Kaleidoscope of Gender]. SAGE. 2004. hlm. [https://archive.org/details/kaleidoscopeofge0000unse_c1n2/page/177 177]–184. ISBN 978-1-4129-7906-1.</ref> Tapi ia menyebutkan juga bahwa masih terdapat banyak orang tua yang menunjukkan pandangan negatif terkait dengan hal-hal yang dinilai feminin seperti mengurusi rumah tangga, mengasuh anak, dan empati. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dari orang tua berusaha untuk membentuk gender dari anak laki-laki mereka dengan cara menjauhkan si anak dari hal-hal feminin. Kane menyebutkan bahwa pembatasan tersebut “... menggambarkan sikap penting yang membatasi pilihan terhadap anak, memisahkan anak laki-laki dari anak perempuan, meremehkan aktivitas yang mereka nilai feminin ..., yang kemudian [hanya] memperkuat ketidaksetaraan gender dan norma heteroseksual.”<ref>J. Spade. [https://archive.org/details/kaleidoscopeofge0000unse_c1n2 The Kaleidoscope of Gender]. SAGE. 2004. hlm. [https://archive.org/details/kaleidoscopeofge0000unse_c1n2/page/177 177]–184. ISBN 978-1-4129-7906-1.</ref> | ||
Orang tua juga banyak membentuk ekspektasi gender dari anak mereka bahkan sebelum anak mereka lahir seperti pemantauan terhadap jenis kelamin anak melalui [[ultrasonografi medis|ultrasonografi]]. Anak kemudian lahir dengan nama, mainan, dan bahkan cita-cita yang spesifik terhadap gender tertentu. Setelah jenis kelamin anak ditentukan, umumnya anak akan dibesarkan sesuai dengan jenis kelamin tersebut dan dicocokkan dengn peran gender laki-lai atau perempuan. | Orang tua juga banyak membentuk ekspektasi gender dari anak mereka bahkan sebelum anak mereka lahir seperti pemantauan terhadap jenis kelamin anak melalui [[ultrasonografi medis|ultrasonografi]]. Anak kemudian lahir dengan nama, mainan, dan bahkan cita-cita yang spesifik terhadap gender tertentu.<ref>S. Ghosh. [http://emedicine.medscape.com/article/917990-overview Gender Identity]. MedScape.</ref> Setelah jenis kelamin anak ditentukan, umumnya anak akan dibesarkan sesuai dengan jenis kelamin tersebut dan dicocokkan dengn peran gender laki-lai atau perempuan. | ||
Keluarga dari masyarakat kelas bawah umumnya memiliki pandangan tradisional mengenai peran gender dengan si ayah bekerja sementara si ibu mengurus rumah tangga dan hanya bekerja untuk menambah kebutuhan. Sementara itu, keluarga dari kelas menengah umumnya mendiskusikan pembagian peran di dalam rumah tangga secara setara. Pandangan-pandangan yang berbeda dari orang tua soal gender seperti ini kemudian dapat membentuk pengertian yang dimiliki anak itu sendiri mengenai gender termasuk perkembangan gender anak. | Keluarga dari masyarakat kelas bawah umumnya memiliki pandangan tradisional mengenai peran gender dengan si ayah bekerja sementara si ibu mengurus rumah tangga dan hanya bekerja untuk menambah kebutuhan. Sementara itu, keluarga dari kelas menengah umumnya mendiskusikan pembagian peran di dalam rumah tangga secara setara. Pandangan-pandangan yang berbeda dari orang tua soal gender seperti ini kemudian dapat membentuk pengertian yang dimiliki anak itu sendiri mengenai gender termasuk perkembangan gender anak.<ref>H. P. Halpern. ''Parents' Gender Ideology and Gendered Behavior as Predictors of Children's Gender-Role Attitudes: A Longitudinal Exploration''. ''Sex Roles''. 2016. Vol. 74 (11). hlm. 527-542. doi:10.1007/s11199-015-0539-0.</ref> | ||
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bukan pandangan orang tua namun perilaku orang tua soal gender merupakan hal yang lebih pasti untuk memperkirakan perilaku anak soal gender. Sebagai conth, para ibu yang menunjukkan perilaku tradisional di depan anak memiliki anak laki-laki menunjukkan lebih sedikit perilaku sterotip laki-laki dan anak perempuan yang menunjukkan lebih banyak perilaku anak perempuan. Sementara itu, tidak ada korelasi yang ditemukan terkait perilaku ayah dan sikap anak soal gender mereka. Akan tetapi, disebutkan pula bahwa para ayah yang memiliki pandangan kesetaraan jenis kelamin memiliki anak, terutama anak laki-laki, yang memiliki lebih sedikit prasangka mengenai gender lawannya. | Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bukan pandangan orang tua namun perilaku orang tua soal gender merupakan hal yang lebih pasti untuk memperkirakan perilaku anak soal gender. Sebagai conth, para ibu yang menunjukkan perilaku tradisional di depan anak memiliki anak laki-laki menunjukkan lebih sedikit perilaku sterotip laki-laki dan anak perempuan yang menunjukkan lebih banyak perilaku anak perempuan. Sementara itu, tidak ada korelasi yang ditemukan terkait perilaku ayah dan sikap anak soal gender mereka. Akan tetapi, disebutkan pula bahwa para ayah yang memiliki pandangan kesetaraan jenis kelamin memiliki anak, terutama anak laki-laki, yang memiliki lebih sedikit prasangka mengenai gender lawannya.<ref>H. P. Halpern. ''Parents' Gender Ideology and Gendered Behavior as Predictors of Children's Gender-Role Attitudes: A Longitudinal Exploration''. ''Sex Roles''. 2016. Vol. 74 (11). hlm. 527-542. doi:10.1007/s11199-015-0539-0.</ref> | ||
== Variasi gender == | == Variasi gender == | ||
Identitas gender dari seseorang dapat berbeda dengan karakteristik seksual biologis mereka ([[organ genitalia]] dan [[karakteristik seksual sekunder]]). Individu tersebut kemudian dapat memiliki sikap yang menurut orang lain berada di luar dari norma tradisional gender. Ekspresi gender seperti itu dapat disebut sebagai [[variasi gender]], transgender, atau [[genderqueer]].<ref>M. Blackless. ''Atypical Gender Development – A Review''. ''International Journal of Transgenderism''. 2006. Vol. 9 (1). hlm. 29–44. doi:10.1300/J485v09n01_04.</ref> Orang dengan variasi gender juga dapat mengalami apa yang disebut dengan [[disforia gender]]. | |||
Identitas gender dari seseorang dapat berbeda dengan karakteristik seksual biologis mereka ([[organ genitalia]] dan [[karakteristik seksual sekunder]]). Individu tersebut kemudian dapat memiliki sikap yang menurut orang lain berada di luar dari norma tradisional gender. Ekspresi gender seperti itu dapat disebut sebagai [[variasi gender]], transgender, atau [[genderqueer]]. Orang dengan variasi gender juga dapat mengalami apa yang disebut dengan [[disforia gender]]. | |||
== Sejarah == | == Sejarah == | ||
=== Definisi === | === Definisi === | ||
Istilah ''identitas gender'' () dan ''identitas gender inti'' () dengan artinya yang sekarang—pikiran dan rasa seseorang mengenai gendernya | Istilah ''identitas gender'' () dan ''identitas gender inti'' () dengan artinya yang sekarang—pikiran dan rasa seseorang mengenai gendernya sendiri<ref>[https://archive.org/details/casestudiesonsex0000unse Sexual Orientation and Gender Expression in Social Work Practice]. Columbia University Press. 2006. hlm. [https://archive.org/details/casestudiesonsex0000unse/page/8 8]. ISBN 0231501862.</ref>—kira-kira mulai era 1960-an. Istilah ''identitas gender'' digunakan dalam sebuah berita pers tanggal 21 November 1966 yang mengumumkan sebuah klinik baru bagi orang transseksual di [[Rumah Sakit Johns Hopkins]]. Istilah tersebut sejak saat itu digunakan di berbagai media di seluruh dunia dan masuk ke penggunaan sehari-hari.<ref>J. Money. [https://archive.org/details/sim_journal-of-sex-and-marital-therapy_fall-1994_20_3/page/163 The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years]. ''Journal of Sex and Marital Therapy''. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–177. doi:10.1080/00926239408403428.</ref><ref>''Handbook of the Psychology of Women and Gender''. Wiley. 2004. hlm. 102. ISBN 0471653578.</ref> | ||
=== Literatur kedokteran awal === | === Literatur kedokteran awal === | ||
Literatur kedokteran pada penghujung abad ke-19 menyebut wanita yang tidak menyesuaikan dirinya dengan peran gendernya sebagai ''invert''. Mereka digambarkan memiliki ketertarikan terhadap pengetahuan dan pendidikan sementara tidak menyukai atau bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Pada dekade pertama abad ke-20, dokter memaksa terapi pembetulan bagi wanita dan anak-anak dengan kondisi tersebut, yang menunjukkan bahwa perilaku gender yang tidak sesuai dengan norma yang ada akan dihukum dan diubah. Tujuan dari terapi seperti itu adalah untuk mendorong anak kembali ke peran gender mereka yang "benar" sehingga membatasi memunculkan kondisi transgender. | Literatur kedokteran pada penghujung abad ke-19 menyebut wanita yang tidak menyesuaikan dirinya dengan peran gendernya sebagai ''invert''. Mereka digambarkan memiliki ketertarikan terhadap pengetahuan dan pendidikan sementara tidak menyukai atau bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Pada dekade pertama abad ke-20, dokter memaksa terapi pembetulan bagi wanita dan anak-anak dengan kondisi tersebut, yang menunjukkan bahwa perilaku gender yang tidak sesuai dengan norma yang ada akan dihukum dan diubah. Tujuan dari terapi seperti itu adalah untuk mendorong anak kembali ke peran gender mereka yang "benar" sehingga membatasi memunculkan kondisi transgender.<ref>R. Padawer. [http://www.nytimes.com/2012/08/12/magazine/whats-so-bad-about-a-boy-who-wants-to-wear-a-dress.html?pagewanted=all What's So Bad About a Boy Who Wants to Wear a Dress?]. New York Times.</ref> | ||
=== 1950-an dan 1960-an === | === 1950-an dan 1960-an === | ||
Kalangan psikolog mulai mempelajari perkembangan gender di anak-anak usia dini salah satunya sebagai upaya untuk mengetahui asal dari [[homoseksualitas]] yang pada saat itu dipandang sebagai sebuah [[gangguan kejiwaan]]. Gender Identity Research Project (''Proyek Penelitian Identitas Gender'') didirikan pada tahun 1958 di [[UCLA Medical Center]] bagi penelitian terhadap individu [[interseks]] dan transseksual. [[Robert Stoller]] banyak menggeneralisasi temuan-temuan dari proyek penelitian tersebut tersebut di dalam bukunya ''Sex and Gender: On the Development of Masculinity and Femininity'' tahun 1968. Ia juga dicatat sebagai yang pertama kali memperkenalkan istilah ''identitas gender'' kepada Kongres Psikoanalisis Internasional di [[Stockholm]], Swedia tahun 1963. [[John Money]] sementara itu juga berperan terkait kiprahnya mengenai penelitian identitas gender. Keterlibatannya dalam Klinik Identitas Gender di [[Universitas Johns Hopkins|Sekolah Kedokteran Johns Hopkins]] (yang didirikan tahun 1965) mempopulerkan teori [[interaksionisme]] identitas gender yang menyebutkan bahwa hingga usia tertentu, identitas gender seseorang cenderung dinamis dan merupakan sasaran dari pengaruh-pengaruh yang konstan. Bukunya berjuul ''Man and Woman, Boy and Girl'' (1972) secara luas digunakan sebagai buku paket perkuliahan, meskipun kemudian banyak dari gagasan yang diajukan Money menuai pertentangan. | Kalangan psikolog mulai mempelajari perkembangan gender di anak-anak usia dini salah satunya sebagai upaya untuk mengetahui asal dari [[homoseksualitas]] yang pada saat itu dipandang sebagai sebuah [[gangguan kejiwaan]]. Gender Identity Research Project (''Proyek Penelitian Identitas Gender'') didirikan pada tahun 1958 di [[UCLA Medical Center]] bagi penelitian terhadap individu [[interseks]] dan transseksual. [[Robert Stoller]] banyak menggeneralisasi temuan-temuan dari proyek penelitian tersebut tersebut di dalam bukunya ''Sex and Gender: On the Development of Masculinity and Femininity'' tahun 1968. Ia juga dicatat sebagai yang pertama kali memperkenalkan istilah ''identitas gender'' kepada Kongres Psikoanalisis Internasional di [[Stockholm]], Swedia tahun 1963. [[John Money]] sementara itu juga berperan terkait kiprahnya mengenai penelitian identitas gender. Keterlibatannya dalam Klinik Identitas Gender di [[Universitas Johns Hopkins|Sekolah Kedokteran Johns Hopkins]] (yang didirikan tahun 1965) mempopulerkan teori [[interaksionisme]] identitas gender yang menyebutkan bahwa hingga usia tertentu, identitas gender seseorang cenderung dinamis dan merupakan sasaran dari pengaruh-pengaruh yang konstan. Bukunya berjuul ''Man and Woman, Boy and Girl'' (1972) secara luas digunakan sebagai buku paket perkuliahan, meskipun kemudian banyak dari gagasan yang diajukan Money menuai pertentangan.<ref>D. Haraway. ''Simians, Cyborgs, and Women: The Reinvention of Nature''. Free Association Books. 1991. hlm. 133. ISBN 0-415-90386-6.</ref><ref>K. Karkazis. ''Fixing Sex: Intersex, Medical Authority, and Lived Experience''. Duke University Press. 2008.</ref> | ||
=== Pandangan Butler === | === Pandangan Butler === | ||
[[Judith Butler]] pada akhir era 1980-an mulai memberikan kuliah reguler mengenai identitas gender. Ia kemudian pada tahun 1990 menerbitkan bukunya ''[[Gender Trouble|Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity]]'' yang memperkenalkan konsep [[performativitas gender]] yang mengatakan bahwa baik seks maupun gender merupakan sesuatau yang dibangun dengan sengaja. | [[Judith Butler]] pada akhir era 1980-an mulai memberikan kuliah reguler mengenai identitas gender. Ia kemudian pada tahun 1990 menerbitkan bukunya ''[[Gender Trouble|Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity]]'' yang memperkenalkan konsep [[performativitas gender]] yang mengatakan bahwa baik seks maupun gender merupakan sesuatau yang dibangun dengan sengaja.<ref>J. Butler. [https://archive.org/details/gendertroublefem0000butl Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity]. Routledge Classic. 1990. hlm. front/backmatter. ISBN 0415389550.</ref> | ||
== Pandangan kini == | == Pandangan kini == | ||
=== Disforia gender dan gangguan identitas gender === | === Disforia gender dan gangguan identitas gender === | ||
[[Disforia gender]] (sebelumnya disebut "gangguan identitas gender", GID, di dalam [[Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders|DSM]]) adalah sebutan resmi diagnosis bagi orang-orang yang mengalami [[disforia]] (rasa ketidaknyamanan) yang signifikan terhadap seks yang ditunjuk kepada mereka saat lahir dan/atau peran gender yang dikaitkan dengan seks tersebut.<ref>[http://www.psychologytoday.com/conditions/gender-identity-disorder Gender Identity Disorder]. Psychology Today. 24 Oktober 2005.</ref> Di dalam gangguan identitas gender, terdapat ketidakselarasan antara organ genitalia dengan susunan otak dari gender seseorang terkait apakah ia maskulin atau feminin.<ref>J. Money. [https://archive.org/details/sim_journal-of-sex-and-marital-therapy_fall-1994_20_3/page/163 The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years]. ''Journal of Sex and Marital Therapy''. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–177. doi:10.1080/00926239408403428.</ref> | |||
Konsep identitas gender muncul di dalam [[Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders]] (DSM) keluaran [[American Psychiatric Association]] di edisi ketiganya ([[DSM-III]]) tahun 1980 dalam bentuk dua [[gangguan kejiwaan|diagnosis]] yaitu gangguan identitas gender pada anak-anak (''gender identity disorder of childhood'', GIDC) dan transseksualisme (bagi remaja dan orang dewasa). Revisinya tahun 1987 ([[DSM-III-R]]) menambahkan diagnosis ketiga yaitu gangguan identitas gender remaja dan dewasa, non-transseksual (''gender identity disorder of adolescence and adulthood, nontranssexual''). Diagnosis ketiga tersebut kemudian dihapus pada edisi selanjutnya yaitu [[DSM-IV]] tahun 1994 sementara GIDC dan transseksualisme digabungkan menjadi gangguan identitas gender.<ref>K. J. Zucker. [https://archive.org/details/journal-of-sex-and-marital-therapy_january-february-2005_31_1/page/31 Was the gender identity disorder of childhood diagnosis introduced into DSM-III as a backdoor maneuver to replace homosexuality? A historical note]. ''Journal of Sex and Marital Therapy''. 2005. Vol. 31 (1). hlm. 31–42. doi:10.1080/00926230590475251.</ref> Edisi terkini yaitu [[DSM-V]] tahun 2013 merevisi baik nama dan definisinya menjadi ''disforia gender''.<ref>W. Parry. [http://www.huffingtonpost.com/2013/06/04/gender-dysphoria-dsm-5_n_3385287.html DSM-5 Reflects Shift In Perspective On Gender Identity]. The Huffington Post. 4 Juni 2013.</ref> | |||
Zucker dan Spitzer (2005) mempertanyakan klasifikasi mengenai masalah-masalah identitas gender sebagai sebuah [[gangguan kejiwaan]] sembari mengatakan bahwa beberapa revisi DSM dapat jadi dibuat sebagai balasan dari beberapa kelompok atas dihapuskannya homoseksualitas sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Hal tersebut masih merupakan kontroversi sementara mayoritas ahli kesehatan jiwa kini setuju terhadap klasifikasi DSM yang ada sekarang.<ref>K. J. Zucker. [https://archive.org/details/journal-of-sex-and-marital-therapy_january-february-2005_31_1/page/31 Was the gender identity disorder of childhood diagnosis introduced into DSM-III as a backdoor maneuver to replace homosexuality? A historical note]. ''Journal of Sex and Marital Therapy''. 2005. Vol. 31 (1). hlm. 31–42. doi:10.1080/00926230590475251.</ref> | |||
Zucker dan Spitzer (2005) mempertanyakan klasifikasi mengenai masalah-masalah identitas gender sebagai sebuah [[gangguan kejiwaan]] sembari mengatakan bahwa beberapa revisi DSM dapat jadi dibuat sebagai balasan dari beberapa kelompok atas dihapuskannya homoseksualitas sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Hal tersebut masih merupakan kontroversi sementara mayoritas ahli kesehatan jiwa kini setuju terhadap klasifikasi DSM yang ada sekarang. | |||
=== Hukum hak asasi manusia internasional === | === Hukum hak asasi manusia internasional === | ||
[[Prinsip-Prinsip Yogyakarta]] menyebutkan mengenai identitas gender pada bagian pembukaannya sebagai pengalaman internal yang mendalam dari seseorang tentang gendernya yang bisa sesuai atau tidak dengan seks yang ditunjuk saat lahir, termasuk rasa dan pikiran tubuh (yang dapat pula mencakup perubahan karakteristik fisik maupun fungsinya dengan cara medis, pembedahan, atau cara lainnya), serta cara lain dalam mengekspresikan gendernya termasuk cara berpakaian, cara berbicara, dan perilaku. Prinsip 3 mengatakan bahwa, "Identitas gender masing-masing orang merupakan bagian integral dari pribadi setiap orang dan merupakan salah satu aspek paling dasar dalam pengembangan diri, martabat, serta kemerdekaan setiap orang. Tidak ada seorangpun yang dapat dipaksa untuk melakukan prosedur medis, termasuk operasi penunjukan ulang seks, sterilisasi, atau terapi hormon, sebagai persyaratan pengakuan atas identitas gender mereka di mata hukum." Sementara Prinsip 18 menyatakan bahwa, "Walaupun tidak memenuhi klasifikasi yang berlawanan, orientasi seksual atau identitas gender seseorang bukanlah kondisi medis dan bukan untuk dirawat, disembuhkan atau ditekan." ''Jurisprudential Annotations to the Yogyakarta Principles'' menyatakan bahwa, "Identitas gender yang berbeda daripada yang ditunjuk saat lahir atau [[ekspresi gender]] yang mengalami penolakan sosial selama ini telah diperlakukan sebagai [[penyakit kejiwaan]]. Anggapan bahwa perbedaan adalah penyakit membuat anak-anak dan remaja dengan variasi gender ditahan di dalam rumah sakit jiwa dan menjadi subjek dari praktik-praktik yang mengkhawatirkan—seperti [[terapi elektrokonvulsif|terapi kejut]]—sebaga sebuah 'penyembuhan'." Gerakan [[Yogyakarta Principles in Action]] menyebutkan bahwa, "Perlu diketahui bahwa meskipun ' orientasi seksual' telah dikeluarkan dari pengelompokkan penyakit jiwa di banyak tempat, 'identitas gender' atau 'gangguan identitas gender' sering kali masih dianggap demikian. Prinsip-prinsip tersebut telah memengaruhi [[Hak LGBT di Perserikatan Bangsa-Bangsa|deklarasi PBB mengenai orientasi seksual dan identitas gender]]. | [[Prinsip-Prinsip Yogyakarta]] menyebutkan mengenai identitas gender pada bagian pembukaannya sebagai pengalaman internal yang mendalam dari seseorang tentang gendernya yang bisa sesuai atau tidak dengan seks yang ditunjuk saat lahir, termasuk rasa dan pikiran tubuh (yang dapat pula mencakup perubahan karakteristik fisik maupun fungsinya dengan cara medis, pembedahan, atau cara lainnya), serta cara lain dalam mengekspresikan gendernya termasuk cara berpakaian, cara berbicara, dan perilaku. Prinsip 3 mengatakan bahwa, "Identitas gender masing-masing orang merupakan bagian integral dari pribadi setiap orang dan merupakan salah satu aspek paling dasar dalam pengembangan diri, martabat, serta kemerdekaan setiap orang. Tidak ada seorangpun yang dapat dipaksa untuk melakukan prosedur medis, termasuk operasi penunjukan ulang seks, sterilisasi, atau terapi hormon, sebagai persyaratan pengakuan atas identitas gender mereka di mata hukum." Sementara Prinsip 18 menyatakan bahwa, "Walaupun tidak memenuhi klasifikasi yang berlawanan, orientasi seksual atau identitas gender seseorang bukanlah kondisi medis dan bukan untuk dirawat, disembuhkan atau ditekan."<ref>[http://www.ypinaction.org/wp/wp-content/uploads/2016/10/Yogyakarta20Principles2020Bhs20Indonesia.pdf Prinsip-Prinsip Yogyakarta (terjemahan bahasa Indonesia oleh Ardhanary Institute)]. Yogyakarta Principles in Action. 2007.</ref> ''Jurisprudential Annotations to the Yogyakarta Principles'' menyatakan bahwa, "Identitas gender yang berbeda daripada yang ditunjuk saat lahir atau [[ekspresi gender]] yang mengalami penolakan sosial selama ini telah diperlakukan sebagai [[penyakit kejiwaan]]. Anggapan bahwa perbedaan adalah penyakit membuat anak-anak dan remaja dengan variasi gender ditahan di dalam rumah sakit jiwa dan menjadi subjek dari praktik-praktik yang mengkhawatirkan—seperti [[terapi elektrokonvulsif|terapi kejut]]—sebaga sebuah 'penyembuhan'."<ref>[http://www.yogyakartaprinciples.org/yogyakarta-principles-jurisprudential-annotations.pdf Jurisprudential Annotations to the Yogyakarta Principles]. hlm. 43.</ref> Gerakan [[Yogyakarta Principles in Action]] menyebutkan bahwa, "Perlu diketahui bahwa meskipun ' orientasi seksual' telah dikeluarkan dari pengelompokkan penyakit jiwa di banyak tempat, 'identitas gender' atau 'gangguan identitas gender' sering kali masih dianggap demikian.<ref>[http://www.ypinaction.org/files/02/85/Activists_Guide_English_nov_14_2010.pdf Activist's Guide to the Yogyakarta Principles]. Yogyakarta Principles in Action. hlm. 100.</ref> Prinsip-prinsip tersebut telah memengaruhi [[Hak LGBT di Perserikatan Bangsa-Bangsa|deklarasi PBB mengenai orientasi seksual dan identitas gender]]. | ||
Identitas gender pada tahun 2015 merupakan bagian di dalam kasus [[Mahkamah Agung Amerika Serikat]] yaitu [[Obergefell v. Hodges]] yang mengatur bahwa pernikahan tidak lagi dibatasi antara pria dan wanita. | Identitas gender pada tahun 2015 merupakan bagian di dalam kasus [[Mahkamah Agung Amerika Serikat]] yaitu [[Obergefell v. Hodges]] yang mengatur bahwa pernikahan tidak lagi dibatasi antara pria dan wanita.<ref>''[http://www.supremecourt.gov/opinions/14pdf/14-556_3204.pdf slip op. Obergefell v. Hodges] '', No. 14-556 (AS 26 Juni 2015)</ref> | ||
== Variasi identitas gender == | == Variasi identitas gender == | ||
Beberapa contoh identitas gender dari beberapa kebudayaan di luar [[binari gender]] di antaranya adalah sebagai berikut. | Beberapa contoh identitas gender dari beberapa kebudayaan di luar [[binari gender]] di antaranya adalah sebagai berikut. | ||
=== Fa'afafine === | === Fa'afafine === | ||
Beberapa masyarakat [[Polinesia]] mengenal ''[[fa'afafine]]'' yang diakui sebagai sebuah [[gender ketiga]] selain laki-laki dan perempuan. Fa'afafine secara fisik laki-laki tetapi berpakaian dan berperilaku yang umumnya diasosiasikan dengan perempuan. Sua'ali'i (2001) menyebutkan bahwa paling tidak di [[Samoa]], fa'afafine sering kali secara fisik tidak dapat bereproduksi. Fa'afafine diterima sebagai gender natural bawaan dan tidak diterima sebagai gender natural, dan tidak dipandang rendah atau didiskriminasi.<ref>T. Sua'ali'i. ''Tangata O Te Moana Nui: The Evolving Identities of Pacific Peoples in Aotearoa/New Zealand''. Dunmore Press. 2001. ISBN 0-86469-369-9.</ref> Secara harfiah, fa'afafine berarti "menurut cara wanita."<ref>P. L. Vasey. [https://archive.org/details/sim_perspectives-in-biology-and-medicine_autumn-2007_50_4/page/481 What Can the Samoan "Fa'afafine" Teach Us About the Western Concept of Gender Identity Disorder in Childhood?]. ''Biology and Medicine''. 2007. Vol. 50 (4). hlm. 481-490.</ref> Femininitas fa'afafine juga diwujudkan melalui fakta bahwa mereka hanya tertarik dan mendapat ketertarikan dari pria maskulin heteroseksual. Mereka pun umumnya melakukan pekerjaan yang umumnya diasosiasikan dengan wanita.<ref>J. Schmidt. [https://archive.org/details/current-sociology_may-july-2003_51_3-4/page/417 Paradise Lost? Social Change and Fa'afafine in Samoa]. ''Current Sociology''. 2003. Vol. 51 (3). hlm. 417–432. doi:10.1177/0011392103051003014.</ref> | |||
Beberapa masyarakat [[Polinesia]] mengenal ''[[fa'afafine]]'' yang diakui sebagai sebuah [[gender ketiga]] selain laki-laki dan perempuan. Fa'afafine secara fisik laki-laki tetapi berpakaian dan berperilaku yang umumnya diasosiasikan dengan perempuan. Sua'ali'i (2001) menyebutkan bahwa paling tidak di [[Samoa]], fa'afafine sering kali secara fisik tidak dapat bereproduksi. Fa'afafine diterima sebagai gender natural bawaan dan tidak diterima sebagai gender natural, dan tidak dipandang rendah atau didiskriminasi. Secara harfiah, fa'afafine berarti "menurut cara wanita." Femininitas fa'afafine juga diwujudkan melalui fakta bahwa mereka hanya tertarik dan mendapat ketertarikan dari pria maskulin heteroseksual. Mereka pun umumnya melakukan pekerjaan yang umumnya diasosiasikan dengan wanita. | Perdana Menteri Samoa menyatakan dukungannya terhadap Himpunan Fa'afafine Samoa.<ref>Field, M. [http://www.stuff.co.nz/world/south-pacific/5233232/Transsexuals-hailed-by-Samoan-PM Transsexuals hailed by Samoan PM]. Stuff.co.nz. 5 Juli 2011.</ref> | ||
Perdana Menteri Samoa menyatakan dukungannya terhadap Himpunan Fa'afafine Samoa. | |||
=== Hijra === | === Hijra === | ||
Di beberapa kebudayaan di [[Asia]], seorang ''[[Hijra (Asia Selatan)|hijra]]'' umumnya dianggap sebagai bukan pria maupun wanita. Kebanyakan dari mereka secara anatomi [[laki-laki]] atau [[interseks]], tetapi sebagian lain secara anatomi [[perempuan]]. Hijra berada pada posisi [[gender ketiga]], meskipun mereka tidak memperoleh penerimaan dan rasa hormat yang sama dengan laki-laki dan perempuan umumnya. Hijra dapat dibandingkan dengan [[transvestisme|transvesti]] atau ''[[drag queen]]'' di budaya barat.<ref>J. Lorber. [https://archive.org/details/paradoxesofgende00lorb Paradoxes of Gender]. Yale University Press. 1994. hlm. [https://archive.org/details/paradoxesofgende00lorb/page/92 92]–93.</ref> | |||
Di beberapa kebudayaan di [[Asia]], seorang ''[[Hijra (Asia Selatan)|hijra]]'' umumnya dianggap sebagai bukan pria maupun wanita. Kebanyakan dari mereka secara anatomi [[laki-laki]] atau [[interseks]], tetapi sebagian lain secara anatomi [[perempuan]]. Hijra berada pada posisi [[gender ketiga]], meskipun mereka tidak memperoleh penerimaan dan rasa hormat yang sama dengan laki-laki dan perempuan umumnya. Hijra dapat dibandingkan dengan [[transvestisme|transvesti]] atau ''[[drag queen]]'' di budaya barat. | |||
=== Khanits === | === Khanits === | ||
''[[Khanits]]'' merupakan sebuah bentuk gender ketiga di [[Oman]]. Khanits adalah [[pelacur]] [[laki-laki]] [[homoseksual]] yang berpakaian laki-laki dengan warna-warna cerah (ketimbang warna umum yaitu putih), tetapi berperilaku perempuan. Khanits dapat bergaul dengan perempuan dan mereka umumnya diundang untuk meramaikan acara pernikahan. Khanits memiliki rumah tangganya sendiri dan melakukan seluruh pekerjaan baik laki-laki maupun perempan. Akan tetapi, serupa seperti pria di masyarakatnya, khanits dapat menikahi wanita dan membuktikan maskulinitasnya dengan berhubungan dengan si wanita.<ref>J. Lorber. [https://archive.org/details/paradoxesofgende00lorb Paradoxes of Gender]. Yale University Press. 1994. hlm. [https://archive.org/details/paradoxesofgende00lorb/page/92 92]–93.</ref> | |||
''[[Khanits]]'' merupakan sebuah bentuk gender ketiga di [[Oman]]. Khanits adalah [[pelacur]] [[laki-laki]] [[homoseksual]] yang berpakaian laki-laki dengan warna-warna cerah (ketimbang warna umum yaitu putih), tetapi berperilaku perempuan. Khanits dapat bergaul dengan perempuan dan mereka umumnya diundang untuk meramaikan acara pernikahan. Khanits memiliki rumah tangganya sendiri dan melakukan seluruh pekerjaan baik laki-laki maupun perempan. Akan tetapi, serupa seperti pria di masyarakatnya, khanits dapat menikahi wanita dan membuktikan maskulinitasnya dengan berhubungan dengan si wanita. | |||
=== Dua Roh === | === Dua Roh === | ||
Banyak kebudayaan [[Pribumi Amerika]] di Amerika Utara yang mengenal lebih dari dua gender. Secara umum, orang-orang yang berada di luar binari gender pria dan wanita disebut dengan istilah ''Dua Roh'' ( atau ''two-spirited''). Terdapat sebagian orang yang lebih menilai bahwa Dua Roh merupakan kategori sementara identitas mereka berada pada kebudayaan masing-masing suku itu sendiri.<ref>S. Hunt. [http://www.nccah-ccnsa.ca/Publications/Lists/Publications/Attachments/156/2016-05-10-RPT-HealthTwoSpirit-Hunt-EN-Web.pdf An Introduction to the Health of Two-Spirit People: Historical, contemporary and emergent issues]. National Collaborative Centre Aboriginal Health. 2016.</ref> | |||
Banyak kebudayaan [[Pribumi Amerika]] di Amerika Utara yang mengenal lebih dari dua gender. Secara umum, orang-orang yang berada di luar binari gender pria dan wanita disebut dengan istilah ''Dua Roh'' ( atau ''two-spirited''). Terdapat sebagian orang yang lebih menilai bahwa Dua Roh merupakan kategori sementara identitas mereka berada pada kebudayaan masing-masing suku itu sendiri. | |||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Bias gender]] | * [[Bias gender]] | ||
* [[Identitas (sosial)]] | * [[Identitas (sosial)]] | ||
| Baris 113: | Baris 97: | ||
* [[Studi queer]] | * [[Studi queer]] | ||
* [[Teori queer]] | * [[Teori queer]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [http://www.britannica.com/EBchecked/topic/228219/gender-identity "Gender identity."] [[Encyclopædia Britannica Online]] | * [http://www.britannica.com/EBchecked/topic/228219/gender-identity "Gender identity."] [[Encyclopædia Britannica Online]] | ||
* [http://www.ifge.org/ International Foundation for Gender Education] | * [http://www.ifge.org/ International Foundation for Gender Education] | ||
* [http://transequality.org National Center for Transgender Equality] | * [http://transequality.org National Center for Transgender Equality] | ||
* [http://www.ntac.org/ National Transgender Advocacy Coalition] | * [http://www.ntac.org/ National Transgender Advocacy Coalition] | ||
* [http://www.gpac.org/ Gender PAC] | * [http://www.gpac.org/ Gender PAC] | ||
* [http://www.genderspectrum.org/ Gender Spectrum] | * [http://www.genderspectrum.org/ Gender Spectrum] | ||
* [http://www.transgenderlawcenter.org/ Transgender Law Center] | * [http://www.transgenderlawcenter.org/ Transgender Law Center] | ||
| Baris 135: | Baris 112: | ||
* [http://www.ohchr.org/Documents/Publications/BornFreeAndEqualLowRes.pdf BORN FREE AND EQUAL - Sexual orientation and gender identity in international human rights law] ([[Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia|OHCHR]]) | * [http://www.ohchr.org/Documents/Publications/BornFreeAndEqualLowRes.pdf BORN FREE AND EQUAL - Sexual orientation and gender identity in international human rights law] ([[Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia|OHCHR]]) | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Identitas+gender&oldid=29343016 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29343016 (2026-06-13T23:16:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 22.57
Identitas gender adalah pengertian dan kesadaran seseorang mengenai gendernya sendiri.[1][2] Identitas gender seseorang dapat selaras dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir atau justru sepenuhnya berbeda.[3][4] Seluruh masyarakat memiliki serangkaian kategori gender yang berperan sebagai dasar pembentukan identitas sosial seseorang serta dalam hubungannya dengan orang lain.[5] Di kebanyakan masyarakat, perbedaan yang paling sederhana ada pada sifat-sifat yang terkait dengan gender laki-laki dan perempuan[6] yang disebut pula sebagai binari gender yang dianut oleh kebanyakan orang. Gagasan tersebut juga mendorong penyesuaian hal-hal yang dinilai maskulin dan feminin di segala aspek seks dan gender: seks biologis, identitas gender, dan ekspresi gender.[7] Sementara itu, di beberapa masyarakat terdapat individu-individu yang tidak mengidentifikasi dirinya terhadap sebagian atau keseluruhan dari aspek gender yang ditunjuk kepada mereka berdasarkan seks biologis mereka.[8][9] Beberapa dari individu tersebut tergolong sebagai orang transgender atau genderqueer. Di beberapa masyarakat lainnya pula, terdapat kategori gender ketiga.
Identitas gender inti seseorang umumnya terbentuk saat usia tiga tahun.[10][11] Setelah usia tiga tahun, akan sangat sulit untuk mengubah identitas gender[12] sementara jika dilakukan usaha pengubahan dapat menyebabkan timbulnya disforia gender. Baik faktor biologis maupun faktor sosial telah digagas sebagai hal yang berpengaruh dalam pembentukan identitas gender.
Waktu pembentukan
Terdapat beberapa teori mengenai kapan dan bagaimana identitas gender seseorang tebentuk. Akan tetapi, penelitian yang selama ini dilakukan terbilang sulit karena kemampuan berbicara anak-anak yang terbatas menyebabkan peneliti harus membuat asumsi berdasarkan bukti tidak langsung. Psikolog, John Money, menyebutkan bahwa anak-anak mungkin memiliki kesadaran serta keterikatan terhadap gender mulai antara usia sedini 18 bulan hingga dua tahun. Psikolog lainnya, Lawrence Kohlberg, mengatakan bahwa identitas gender belum terbentuk hingga umur tiga tahun. Hal yang telah dipahami secara luas adalah bahwa inti dari identitas gender telah terbentuk kokoh pada usia tiga tahun.[13][14] Beberapa sumber lain sementara itu menyebutkan bahwa identitas gender terus terbentuk pada usia 3-4 tahun.[15] Pada titik inilah anak-anak dapat membuat pernyataan tegas mengenai gender mereka[16] dan cenderung untuk memilih aktivitas dan mainan yang dinilai sesuai dengan gender mereka (seperti boneka untuk perempuan dan balok bangunan untuk laki-laki),[17] walaupun mungkin mereka belum mengerti implikasi dari gender yang mereka miliki.[18] Setelah usia tiga tahun, identitas gender inti sangat sulit untuk diubah[19][20] sementara usaha untuk mengubahnya dapat menimbulkan disforia gender.[21] Pembentukan akhir identitas gender ada pada rentang usia anak empat[22] hingga enam tahun[23] dan terus berlanjut ke masa remaja.[24]
Martin dan Ruble (2004) merumuskan proses perkembangan tersebut ke dalam tiga tahap yaitu (1) pada masa kanak-kanak dan balita, anak mempelajari karakteristik-karakteristik serta aspek dari gender, (2) pada sekitar umur 5–7 tahun, identitas terbentuk dan menjadi rumit, dan (3) setelah "puncak kerumitan" tersebut, fluiditas kembali dan peran-peran gender yang selama ini telah ditentukan di lingkungan mengendur.[25] Newmann (2014) sementara itu mengajukan empat tahapan yaitu (1) pemahaman konsep gender, (2) pembelajaran oleh anak mengenai standar dan stereotip peran gender, (3) identifikasi terhadap orang tua, dan (4) pembentukan preferensi gender.[26]
Faktor yang memengaruhi pembentukan
Alam lawan asuhan
Walaupun pembentukan identitas gender belum dapat diketahui secara menyeluruh, terdapat beberapa faktor yang telah disebut memiliki pengaruh di dalam perkembangan pembentukannya. Salah satu yang paling utama adalah sejauh mana identitas gender ditentukan oleh faktor sosial atau faktor lingkungan dan sejauh mana juga faktor lahiriah atau biologi berpengaruh. Hal tersebut menjadi perdebatan di kalangan psikolog dan dikenal dengan istilah nature versus nurture (alam lawan asuhan). Kedua faktor masing-masing dianggap memiliki peran. Faktor biologis yang memengaruhi identitas gender di antaranya adalah tingkat hormon pra- dan pascakelahiran.[27] Gen juga memengaruhi identitas gender[28][29] tetapi tidak menentukannya secara pasti.[30]
Faktor sosial yang dapat memengaruhi identitas gender di antaranya adalah gagasan mengenai peran gender yang digambarkan oleh keluarga, figur penguasa, media, dan orang-orang lain yang berpengaruh di dalam kehidupan anak.[31] Ketika anak dibesarkan oleh seseorang yang menganut paham peran gender yang ketat, mereka cenderung akan bersikap sama dan menyamakan identitas gender mereka dengan pola peran gender stereotip di sekitar mereka tersebut.[32] Teori pembelajaran sosial mengatakan bahwa anak-anak lebih lanjut mengembangkan identitas gender mereka dengan mengobservasi dan meniru perilaku yang terkait dengan suatu gender. Mereka juga menerima respon positif seperti hadiah atau pujian atau respon negatif seperti hukuman dari perilakunya[33] sehingga dengan demikian mereka dibentuk oleh orang-orang di sekitar mereka dengan cara meniru atau mengikuti.[34]
Contoh terkenal dalam perdebatan alam atau asuhan adalah kasus David Reimer yang dikenal pula sebagai kasus John/Joan. Saat ia masih bayi, Reimer merupakan korban dari malapraktik dan kelamin laki-lakinya harus diangkat. Psikolog John Money meyakinkan orang tua Reimer untuk membesarkannya sebagai perempuan. Reimer pun dibesarkan sebagai perempuan, mengenakan pakaian perempuan dan dikelilingi mainan perempuan, tetapi ia tidak merasa bahwa ia seorang perempuan. Setelah mencoba bunuh diri pada usia 13 tahun, Reimer mengetahui bahwa ia lahir dengan kelamin laki-laki. Setelah itupun ia menjalani operasi rekonstruksi genitalia.[35][36] Kasus Reimer berlawanan dengan hipotesis Money bahwa biologi tidak memiliki peran dalam identitas gender maupun orientasi seksual.[37]
Faktor biologis
Penelitian menunjukkan adanya bukti bahwa identitas gender memiliki komponen biologis.[38] Beberapa faktor seperti gen dan hormon—termasuk saat seseorang masih di dalam kandungan—dapat memengaruhi identitas gender.[39][40][41]
Pengaruh hormon merupakan faktor yang kompleks. Hormon penentu seks diproduksi pada tahap awal perkembangan janin.[42] Jika tingkat hormon tersebut berubah, perkembangan fenotip janin juga dapat berubah sehingga kecenderungan alami dari otak terhadap jenis kelamin tertentu dapat tidak sesuai dengan susunan genetik janin maupun organ seksualnya.[43] Hormon dapat memengaruhi perbedaan kemampuan spasial dan verbal, ingatan, dan keagresifan antara anak laki-laki da perempuan. Hormon prenatal mempengarui bagaimana hipotalamus di otak mengatur sekresi hormon di kemudian hari, dengan hormon wanita umunya mengikuti siklus bulanan sementara hormon pria tidak.[44]
Orang interseks
Seorang manusia interseks atau seekor hewan interseks memmiliki variasi pada salah satu atau beberapa karakteristik seksnya apakah itu kromosom, organ genitalia, gonad, atau hormon seks, yang "... tidak padan dengan gagasan umum biner mengenai tubuh laki-laki atau perempuan".[45] Variasi-variasi yang ada mengenai kondisi interseks dapat membuat penunjukan seks saat lahir menjadi rumit[46] dan dapat tidak konsisten dengan identitas gender si anak kelak.[47] Pemaksaan seks yang ditunjuk melalui hormon atau prosedur operasi melanggar hak asasi individu tersebut.[48][49] Sebuah ulasan terhadap penelitian-penelitian dari tahun 1955 hingga 2000 menunjukkan bahwa lebih dari 1 orang di antara 100 orang memiliki karakteristik interseks.[50]
Orang interseks dapat mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan, laki-laki, atau tidak keduanya tanpa mempedulikan gangguan perkembangan seksnya.[51] Furtado, et al. (2012) menemukan bahwa sekitar 8,5 hingga 20 persen orang interseks mengalami disforia gender.[52] Sebuah penelitian di Australia, yang merupakan negara yang memiliki klasifikasi jenis kelamin "X", menunjukkan bahwa 19 persen dari orang yang lahir dengan karakteristik seks istimewa memilih opsi "X" tersebut atau opsi "lainnya". Sementara itu, 52 persen dari peserta studi memilih opsi wanita, 23 persen memilih opsi pria, dan 6 persen tidak yakin. 52 persen dari peserta studi ditunjuk sebagai perempuan saat lahir sementara 41 persen lainnya laki-laki.[53][54]
Penyebab biologis dari identitas transgender dan transseksualitas
Beberapa penelitan telah menyelidiki mengenai ada atau tidaknya kaitan antara kondisi biologi terhadap identitas transgender atau transseksual.[55][56] Beberapa telah menunjukkan bahwa struktur otak pada individu transseksual berbeda dari seks yang telah ditunjuk kepadanya dan lebih serupa dengan seks yang mereka pilih.[57][58][59] Bagian dari otak yang disebut BNST di stria terminalis dari wanita trans serupa dengan yang ditemukan pada wanita cisgender ketimbang dengan pria.[60] Perbedaan struktur otak yang serupa juga disebutkan untuk pria gay dengan pria heteroseksual dan wanita lesbian dengan wanita heteroseksual.[61][62] Sebuah penelitian lainnya menyebutkan bahwa transseksualitas dapat memiliki kaitan dengan kondisi genetik.[63]
Penelitian menunjukkan bahwa hormon yang sama yang memicu diferensiasi organ seksual pada janin dalam rahim juga memengaruhi perkembangan identitas gender. Kuantitas yang berbeda dari hormon perempuan dan hormon laki-laki tersebut menyebabkan seseorang dapat memiliki perilaku atau kondisi fisik eksternal dari genitalia yang tidak sama dengan anggapan umum dari jenis kelamin tertentu termasuk perilaku dan penampilan yang dapat lebih mirip dengan lawan jenis kelaminnya.[64]
Faktor sosial dan lingkungan
John Money pada tahun 1955 mengatakan bahwa identitas gender merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dengan pengaruh dari apakah seorang anak pada usia dini dibesarkan sebagai laki-laki atau perempuan.[65][66] Hipotesis Money telah dibantah,[67][68] tetapi para ilmuwan tetap melanjutkan penelitian mengenai pengaruh dari faktor sosial terhadaip pembentukan identitas gender.[69] Selama dekade 1960-an dan 1970-an, faktor-faktor yang pernah disebutkan sebagai faktor sosial yang berpengaruh di antaranya adalah ketiadaan ayah, keinginan ibu untuk memiliki anak perempuan, serta pola asuhan dari orang tua. Sebuah teori terkini menyebutkan bahwa kondisi psikologi orang tua mungkin juga memengaruhi pembentukan identitas gender tetapi teori tersebut hanya memiliki sedikit bukti empiris[70] sementara sebuah artikel tahun 2004 menyebutkan bahwa "... pengaruh penting dari faktor sosial setelah kelahiran tidak memiliki bukti yang cukup."[71] Sementara itu, sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa orang tua dengan anak-anak yang memiliki disforia gender tidak menunjukan tanda-tanda adanya gangguan psikologi selain dari depresi ringan pada ibu.[72][73] Selain itu, sikap dari orang tua juga telah disebutkan dapat memengaruhi identitas gender anak tetapi hanya sedikit bukti yang ditemukan.[74]
Sikap orang tua mengenai peran gender
Orang tua yang memiliki pandangan yang lebih keras dan sempit mengenai identitas gender dan peran gender cenderung juga memiliki orang tua yang berpandangan serupa.[75] Kane (2004) menyebutkan bahwa para orang tua menunjukkan pola perubahan pandangan terkait peran dan identitas gender. Salah satunya seperti penilaian bahwa hal-hal seperti dapur adalah hal yang netral, bukan maskulin dan bukan feminin, seperti disebutkan di sebuah penelitian.[76] Tapi ia menyebutkan juga bahwa masih terdapat banyak orang tua yang menunjukkan pandangan negatif terkait dengan hal-hal yang dinilai feminin seperti mengurusi rumah tangga, mengasuh anak, dan empati. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dari orang tua berusaha untuk membentuk gender dari anak laki-laki mereka dengan cara menjauhkan si anak dari hal-hal feminin. Kane menyebutkan bahwa pembatasan tersebut “... menggambarkan sikap penting yang membatasi pilihan terhadap anak, memisahkan anak laki-laki dari anak perempuan, meremehkan aktivitas yang mereka nilai feminin ..., yang kemudian [hanya] memperkuat ketidaksetaraan gender dan norma heteroseksual.”[77]
Orang tua juga banyak membentuk ekspektasi gender dari anak mereka bahkan sebelum anak mereka lahir seperti pemantauan terhadap jenis kelamin anak melalui ultrasonografi. Anak kemudian lahir dengan nama, mainan, dan bahkan cita-cita yang spesifik terhadap gender tertentu.[78] Setelah jenis kelamin anak ditentukan, umumnya anak akan dibesarkan sesuai dengan jenis kelamin tersebut dan dicocokkan dengn peran gender laki-lai atau perempuan.
Keluarga dari masyarakat kelas bawah umumnya memiliki pandangan tradisional mengenai peran gender dengan si ayah bekerja sementara si ibu mengurus rumah tangga dan hanya bekerja untuk menambah kebutuhan. Sementara itu, keluarga dari kelas menengah umumnya mendiskusikan pembagian peran di dalam rumah tangga secara setara. Pandangan-pandangan yang berbeda dari orang tua soal gender seperti ini kemudian dapat membentuk pengertian yang dimiliki anak itu sendiri mengenai gender termasuk perkembangan gender anak.[79]
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bukan pandangan orang tua namun perilaku orang tua soal gender merupakan hal yang lebih pasti untuk memperkirakan perilaku anak soal gender. Sebagai conth, para ibu yang menunjukkan perilaku tradisional di depan anak memiliki anak laki-laki menunjukkan lebih sedikit perilaku sterotip laki-laki dan anak perempuan yang menunjukkan lebih banyak perilaku anak perempuan. Sementara itu, tidak ada korelasi yang ditemukan terkait perilaku ayah dan sikap anak soal gender mereka. Akan tetapi, disebutkan pula bahwa para ayah yang memiliki pandangan kesetaraan jenis kelamin memiliki anak, terutama anak laki-laki, yang memiliki lebih sedikit prasangka mengenai gender lawannya.[80]
Variasi gender
Identitas gender dari seseorang dapat berbeda dengan karakteristik seksual biologis mereka (organ genitalia dan karakteristik seksual sekunder). Individu tersebut kemudian dapat memiliki sikap yang menurut orang lain berada di luar dari norma tradisional gender. Ekspresi gender seperti itu dapat disebut sebagai variasi gender, transgender, atau genderqueer.[81] Orang dengan variasi gender juga dapat mengalami apa yang disebut dengan disforia gender.
Sejarah
Definisi
Istilah identitas gender () dan identitas gender inti () dengan artinya yang sekarang—pikiran dan rasa seseorang mengenai gendernya sendiri[82]—kira-kira mulai era 1960-an. Istilah identitas gender digunakan dalam sebuah berita pers tanggal 21 November 1966 yang mengumumkan sebuah klinik baru bagi orang transseksual di Rumah Sakit Johns Hopkins. Istilah tersebut sejak saat itu digunakan di berbagai media di seluruh dunia dan masuk ke penggunaan sehari-hari.[83][84]
Literatur kedokteran awal
Literatur kedokteran pada penghujung abad ke-19 menyebut wanita yang tidak menyesuaikan dirinya dengan peran gendernya sebagai invert. Mereka digambarkan memiliki ketertarikan terhadap pengetahuan dan pendidikan sementara tidak menyukai atau bahkan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Pada dekade pertama abad ke-20, dokter memaksa terapi pembetulan bagi wanita dan anak-anak dengan kondisi tersebut, yang menunjukkan bahwa perilaku gender yang tidak sesuai dengan norma yang ada akan dihukum dan diubah. Tujuan dari terapi seperti itu adalah untuk mendorong anak kembali ke peran gender mereka yang "benar" sehingga membatasi memunculkan kondisi transgender.[85]
1950-an dan 1960-an
Kalangan psikolog mulai mempelajari perkembangan gender di anak-anak usia dini salah satunya sebagai upaya untuk mengetahui asal dari homoseksualitas yang pada saat itu dipandang sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Gender Identity Research Project (Proyek Penelitian Identitas Gender) didirikan pada tahun 1958 di UCLA Medical Center bagi penelitian terhadap individu interseks dan transseksual. Robert Stoller banyak menggeneralisasi temuan-temuan dari proyek penelitian tersebut tersebut di dalam bukunya Sex and Gender: On the Development of Masculinity and Femininity tahun 1968. Ia juga dicatat sebagai yang pertama kali memperkenalkan istilah identitas gender kepada Kongres Psikoanalisis Internasional di Stockholm, Swedia tahun 1963. John Money sementara itu juga berperan terkait kiprahnya mengenai penelitian identitas gender. Keterlibatannya dalam Klinik Identitas Gender di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins (yang didirikan tahun 1965) mempopulerkan teori interaksionisme identitas gender yang menyebutkan bahwa hingga usia tertentu, identitas gender seseorang cenderung dinamis dan merupakan sasaran dari pengaruh-pengaruh yang konstan. Bukunya berjuul Man and Woman, Boy and Girl (1972) secara luas digunakan sebagai buku paket perkuliahan, meskipun kemudian banyak dari gagasan yang diajukan Money menuai pertentangan.[86][87]
Pandangan Butler
Judith Butler pada akhir era 1980-an mulai memberikan kuliah reguler mengenai identitas gender. Ia kemudian pada tahun 1990 menerbitkan bukunya Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity yang memperkenalkan konsep performativitas gender yang mengatakan bahwa baik seks maupun gender merupakan sesuatau yang dibangun dengan sengaja.[88]
Pandangan kini
Disforia gender dan gangguan identitas gender
Disforia gender (sebelumnya disebut "gangguan identitas gender", GID, di dalam DSM) adalah sebutan resmi diagnosis bagi orang-orang yang mengalami disforia (rasa ketidaknyamanan) yang signifikan terhadap seks yang ditunjuk kepada mereka saat lahir dan/atau peran gender yang dikaitkan dengan seks tersebut.[89] Di dalam gangguan identitas gender, terdapat ketidakselarasan antara organ genitalia dengan susunan otak dari gender seseorang terkait apakah ia maskulin atau feminin.[90]
Konsep identitas gender muncul di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) keluaran American Psychiatric Association di edisi ketiganya (DSM-III) tahun 1980 dalam bentuk dua diagnosis yaitu gangguan identitas gender pada anak-anak (gender identity disorder of childhood, GIDC) dan transseksualisme (bagi remaja dan orang dewasa). Revisinya tahun 1987 (DSM-III-R) menambahkan diagnosis ketiga yaitu gangguan identitas gender remaja dan dewasa, non-transseksual (gender identity disorder of adolescence and adulthood, nontranssexual). Diagnosis ketiga tersebut kemudian dihapus pada edisi selanjutnya yaitu DSM-IV tahun 1994 sementara GIDC dan transseksualisme digabungkan menjadi gangguan identitas gender.[91] Edisi terkini yaitu DSM-V tahun 2013 merevisi baik nama dan definisinya menjadi disforia gender.[92]
Zucker dan Spitzer (2005) mempertanyakan klasifikasi mengenai masalah-masalah identitas gender sebagai sebuah gangguan kejiwaan sembari mengatakan bahwa beberapa revisi DSM dapat jadi dibuat sebagai balasan dari beberapa kelompok atas dihapuskannya homoseksualitas sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Hal tersebut masih merupakan kontroversi sementara mayoritas ahli kesehatan jiwa kini setuju terhadap klasifikasi DSM yang ada sekarang.[93]
Hukum hak asasi manusia internasional
Prinsip-Prinsip Yogyakarta menyebutkan mengenai identitas gender pada bagian pembukaannya sebagai pengalaman internal yang mendalam dari seseorang tentang gendernya yang bisa sesuai atau tidak dengan seks yang ditunjuk saat lahir, termasuk rasa dan pikiran tubuh (yang dapat pula mencakup perubahan karakteristik fisik maupun fungsinya dengan cara medis, pembedahan, atau cara lainnya), serta cara lain dalam mengekspresikan gendernya termasuk cara berpakaian, cara berbicara, dan perilaku. Prinsip 3 mengatakan bahwa, "Identitas gender masing-masing orang merupakan bagian integral dari pribadi setiap orang dan merupakan salah satu aspek paling dasar dalam pengembangan diri, martabat, serta kemerdekaan setiap orang. Tidak ada seorangpun yang dapat dipaksa untuk melakukan prosedur medis, termasuk operasi penunjukan ulang seks, sterilisasi, atau terapi hormon, sebagai persyaratan pengakuan atas identitas gender mereka di mata hukum." Sementara Prinsip 18 menyatakan bahwa, "Walaupun tidak memenuhi klasifikasi yang berlawanan, orientasi seksual atau identitas gender seseorang bukanlah kondisi medis dan bukan untuk dirawat, disembuhkan atau ditekan."[94] Jurisprudential Annotations to the Yogyakarta Principles menyatakan bahwa, "Identitas gender yang berbeda daripada yang ditunjuk saat lahir atau ekspresi gender yang mengalami penolakan sosial selama ini telah diperlakukan sebagai penyakit kejiwaan. Anggapan bahwa perbedaan adalah penyakit membuat anak-anak dan remaja dengan variasi gender ditahan di dalam rumah sakit jiwa dan menjadi subjek dari praktik-praktik yang mengkhawatirkan—seperti terapi kejut—sebaga sebuah 'penyembuhan'."[95] Gerakan Yogyakarta Principles in Action menyebutkan bahwa, "Perlu diketahui bahwa meskipun ' orientasi seksual' telah dikeluarkan dari pengelompokkan penyakit jiwa di banyak tempat, 'identitas gender' atau 'gangguan identitas gender' sering kali masih dianggap demikian.[96] Prinsip-prinsip tersebut telah memengaruhi deklarasi PBB mengenai orientasi seksual dan identitas gender.
Identitas gender pada tahun 2015 merupakan bagian di dalam kasus Mahkamah Agung Amerika Serikat yaitu Obergefell v. Hodges yang mengatur bahwa pernikahan tidak lagi dibatasi antara pria dan wanita.[97]
Variasi identitas gender
Beberapa contoh identitas gender dari beberapa kebudayaan di luar binari gender di antaranya adalah sebagai berikut.
Fa'afafine
Beberapa masyarakat Polinesia mengenal fa'afafine yang diakui sebagai sebuah gender ketiga selain laki-laki dan perempuan. Fa'afafine secara fisik laki-laki tetapi berpakaian dan berperilaku yang umumnya diasosiasikan dengan perempuan. Sua'ali'i (2001) menyebutkan bahwa paling tidak di Samoa, fa'afafine sering kali secara fisik tidak dapat bereproduksi. Fa'afafine diterima sebagai gender natural bawaan dan tidak diterima sebagai gender natural, dan tidak dipandang rendah atau didiskriminasi.[98] Secara harfiah, fa'afafine berarti "menurut cara wanita."[99] Femininitas fa'afafine juga diwujudkan melalui fakta bahwa mereka hanya tertarik dan mendapat ketertarikan dari pria maskulin heteroseksual. Mereka pun umumnya melakukan pekerjaan yang umumnya diasosiasikan dengan wanita.[100] Perdana Menteri Samoa menyatakan dukungannya terhadap Himpunan Fa'afafine Samoa.[101]
Hijra
Di beberapa kebudayaan di Asia, seorang hijra umumnya dianggap sebagai bukan pria maupun wanita. Kebanyakan dari mereka secara anatomi laki-laki atau interseks, tetapi sebagian lain secara anatomi perempuan. Hijra berada pada posisi gender ketiga, meskipun mereka tidak memperoleh penerimaan dan rasa hormat yang sama dengan laki-laki dan perempuan umumnya. Hijra dapat dibandingkan dengan transvesti atau drag queen di budaya barat.[102]
Khanits
Khanits merupakan sebuah bentuk gender ketiga di Oman. Khanits adalah pelacur laki-laki homoseksual yang berpakaian laki-laki dengan warna-warna cerah (ketimbang warna umum yaitu putih), tetapi berperilaku perempuan. Khanits dapat bergaul dengan perempuan dan mereka umumnya diundang untuk meramaikan acara pernikahan. Khanits memiliki rumah tangganya sendiri dan melakukan seluruh pekerjaan baik laki-laki maupun perempan. Akan tetapi, serupa seperti pria di masyarakatnya, khanits dapat menikahi wanita dan membuktikan maskulinitasnya dengan berhubungan dengan si wanita.[103]
Dua Roh
Banyak kebudayaan Pribumi Amerika di Amerika Utara yang mengenal lebih dari dua gender. Secara umum, orang-orang yang berada di luar binari gender pria dan wanita disebut dengan istilah Dua Roh ( atau two-spirited). Terdapat sebagian orang yang lebih menilai bahwa Dua Roh merupakan kategori sementara identitas mereka berada pada kebudayaan masing-masing suku itu sendiri.[104]
Lihat pula
Pranala luar
- "Gender identity." Encyclopædia Britannica Online
- International Foundation for Gender Education
- National Center for Transgender Equality
- National Transgender Advocacy Coalition
- Gender PAC
- Gender Spectrum
- Transgender Law Center
- Human Rights Campaign Foundation , Transgender Resources for the Workplace
- World Professional Association for Transgender Health
- Genderology Directory Project , daftar international penyedia layanan untuk mereka yang memiliki GID
- Gender Identity Research and Education Society (GIRES), yayasan Britania Raya dalam bidang dukungan dan pelaporan penelitian terhadap variasi gender
- BORN FREE AND EQUAL - Sexual orientation and gender identity in international human rights law (OHCHR)
Referensi
- ↑ Sexual Orientation and Gender Expression in Social Work Practice. Columbia University Press. 2006. hlm. 8. ISBN 0231501862.
- ↑ American Psychological Association. Guidelines for Psychological Practice with Transgender and Gender Nonconforming People. American Psychologist. 2015. Vol. 70 (9). hlm. 832-864. doi:10.1037/a0039906.
- ↑ American Psychological Association. Guidelines for Psychological Practice with Transgender and Gender Nonconforming People. American Psychologist. 2015. Vol. 70 (9). hlm. 832-864. doi:10.1037/a0039906.
- ↑ Sexual Orientation and Gender Identity Definitions. Human Rights Campaign.
- ↑ V. M. Moghadam. Patriarchy and the Politics of Gender in Modernizing Societies: Iran, Pakistan and Afghanistan. International Sociology. 1992. Vol. 7 (1). hlm. 35-53. doi:10.1177/026858092007001002.
- ↑ N. R. Carlson. Psychology: the Science of Behaviour. Pearson. 2009. hlm. 140–141. ISBN 9780205645244.
- ↑ J. D. Eller. Culture and Diversity in the United States: So Many Ways to Be American. Routledge. 2015. hlm. 137. ISBN 1317575784.
- ↑ G. O. MacKenzie. Transgender Nation. Bowling Green State University Popular Press. 1994. hlm. 43. ISBN 0879725966.
- ↑ C. Zastrow. Introduction to Social Work and Social Welfare: Empowering People. Brooks Cole. 2013. hlm. 234. ISBN 128554580X.
- ↑ P. J. Kalbfleisch. Gender, Power, and Communication in Human Relationships. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.
- ↑ A. M. Gallagher. Gender Differences in Mathematics: An Integrative Psychological Approach. Cambridge University Press. 2005. ISBN 0-521-82605-5.
- ↑ P. J. Kalbfleisch. Gender, Power, and Communication in Human Relationships. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.
- ↑ P. J. Kalbfleisch. Gender, Power, and Communication in Human Relationships. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.
- ↑ A. M. Gallagher. Gender Differences in Mathematics: An Integrative Psychological Approach. Cambridge University Press. 2005. ISBN 0-521-82605-5.
- ↑ G. J. Bryjak. Sociology: Cultural Diversity in a Changing World. Allyn & Bacon. 1997. hlm. 209-245.
- ↑ B. Newmann. Development Through Life: A Psychosocial Approach. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.
- ↑ C. B. Doob. Social Inequality and Social Stratification in US Society. Routledge. 2012.
- ↑ B. Newmann. Development Through Life: A Psychosocial Approach. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.
- ↑ P. J. Kalbfleisch. Gender, Power, and Communication in Human Relationships. Psychology Press. 1995. ISBN 0805814043.
- ↑ J. A. Kleeman. The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate. Archives of Sexual Behavior. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.
- ↑ E. Coleman. Developmental stages of the coming out process. Journal of Homosexuality. 1982. Vol. 7 (2-3). hlm. 31-43.
- ↑ J. A. Kleeman. The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate. Archives of Sexual Behavior. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.
- ↑ M. T. Stein. Sammy: Gender Identity Concerns in a 6-Year-Old Boy. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics. 1997. Vol. 18 (3). hlm. 178-182.
- ↑ J. A. Kleeman. The establishment of core gender identity in normal girls. I.(a) Introduction;(b) Development of the ego capacity to differentiate. Archives of Sexual Behavior. 1971. Vol. 1 (2). hlm. 103-116. doi:10.1007/BF01541055.
- ↑ C. Martin. Children's Search for Gender Cues Cognitive Perspectives on Gender Development. Current Directions in Psychological Science. 2004. Vol. 13 (2). hlm. 67–70. doi:10.1111/j.0963-7214.2004.00276.x.
- ↑ B. Newmann. Development Through Life: A Psychosocial Approach. Cengage Learning. 2014. hlm. 243. ISBN 9781111344665.
- ↑ Y. S. Zhu. Effects of male sex hormones on gender identity, sexual behavior, and cognitive function. Zhong Nan Da Xue Xue Bao, Yi Xue Ban (Journal of Central South University, Medical Sciences). 2006. Vol. 31 (2). hlm. 149-161.
- ↑ J. Money. The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years. Journal of Sex and Marital Therapy. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–77. doi:10.1080/00926239408403428.
- ↑ Genes Influence Gender Identity. Psychology Today. 24 Oktober 2003.
- ↑ S. Golombok. Gender Development. 1994. hlm. 44. ISBN 0521408628.
- ↑ J. M. Henslin. Essentials of Sociology. Taylor & Francis. 2001. hlm. 65–67, 240. ISBN 0-536-94185-8.
- ↑ A. Oswalt. Factors Influencing Gender Identity. MentalHelp.net. 9 Juni 2010.
- ↑ D. G. Myers. Psychology. Worth Publishers. 2008.
- ↑ C. L. Martin. Cognitive theories of early gender development. Psychological Bulletin. 2002. Vol. 128 (6). hlm. 903–906. doi:10.1037/0033-2909.128.6.903.
- ↑ S. Nolen-Hoeksema. Abnormal Psychology. McGraw-Hill. 2014. hlm. 368. ISBN 9781308211503.
- ↑ M. Diamond. Sex reassignment at birth. Long-term review and clinical implications. Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine. 1997. Vol. 151 (3). hlm. 298-304.
- ↑ C. Martin. Cognitive Theories of Early Gender Development. Psychological Bulletin. 2002. Vol. 128 (6). hlm. 903–913. doi:10.1037/0033-2909.128.6.903.
- ↑ Aruna Saraswat. Evidence Supporting the Biologic Nature of Gender Identity. Endocrine Practice. 2015. Vol. 21 (2). hlm. 199-204. doi:10.4158/EP14351.RA.
- ↑ Y. S. Zhu. Effects of male sex hormones on gender identity, sexual behavior, and cognitive function. Zhong Nan Da Xue Xue Bao, Yi Xue Ban (Journal of Central South University, Medical Sciences). 2006. Vol. 31 (2). hlm. 149-161.
- ↑ Genes Influence Gender Identity. Psychology Today. 24 Oktober 2003.
- ↑ S. Ghosh. Gender Identity. MedScape.
- ↑ Birke. The Gender and Science Reader. Routledge. 2000. hlm. 310.
- ↑ M. Hines. Prenatal endocrine influences on sexual orientation and on sexually differentiated childhood behavior. Frontiers in Neuroendocrinology. 2017-02-02. Vol. 32 (2). hlm. 170–182. doi:10.1016/j.yfrne.2011.02.006.
- ↑ Birke. The Gender and Science Reader. Routledge. 2000. hlm. 310.
- ↑ Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Free & Equal Campaign Fact Sheet: Intersex. 2015.
- ↑ J. Mieszczak. Assignment of the sex of rearing in the neonate with a disorder of sex development. Current Opinion in Pediatrics. 2009. Vol. 21 (4). hlm. 541–547. doi:10.1097/mop.0b013e32832c6d2c.
- ↑ Komisioner untuk Hak Asasi Manusia. Human rights and intersex people, Issue Paper. 2015.
- ↑ Swiss National Advisory Commission on Biomedical Ethics NEK-CNE. On the management of differences of sex development. Ethical issues relating to "intersexuality".Opinion No. 20/2012. November 2012.
- ↑ Organisasi Kesehatan Dunia. Sexual health, human rights and the law. Organisasi Kesehatan Dunia. 2015. ISBN 9789241564984.
- ↑ M. Blackless. How sexually dimorphic are we? Review and synthesis. American Journal of Human Biology. 2000. Vol. 12 (2). hlm. 151–166. doi:10.1002/(SICI)1520-6300(200003/04)12:2 3.0.CO;2-F.
- ↑ New publication "Intersex: Stories and Statistics from Australia". Organisation Intersex International Australia. 3 Februari 2016.
- ↑ P. S. Furtado. Gender dysphoria associated with disorders of sex development. Nature Reviews Urology. 2012. Vol. 9 (11). hlm. 620–627. doi:10.1038/nrurol.2012.182.
- ↑ New publication "Intersex: Stories and Statistics from Australia". Organisation Intersex International Australia. 3 Februari 2016.
- ↑ T. Jones. Intersex: Stories and Statistics from Australia. Open Book Publishers. 2016. ISBN 978-1-78374-208-0.
- ↑ E. Vilain. Genetics of Intersexuality. Journal of Gay & Lesbian Psychotherapy. 2006. Vol. 10 (2). hlm. 9–26. doi:10.1300/J236v10n02_02.
- ↑ A. Fleming. The endless quest for sex determination genes. Clinical Genetics. 2005. Vol. 67 (1). hlm. 15–25. doi:10.1111/j.1399-0004.2004.00376.x.
- ↑ E. R. Gizewski. Specific cerebral activation due to visual erotic stimuli in male-to-female transsexuals compared with male and female controls: An fMRI study. Journal of Sexual Medicine. 2009. Vol. 6. hlm. 440–448. doi:10.1111/j.1743-6109.2008.00981.x.
- ↑ I. Savic. Sex dimorphism of the brain in male-to-female transsexuals. Cerebral Cortex. 2011. Vol. 21. hlm. 2525–2533. doi:10.1093/cercor/bhr032.
- ↑ G. Rametti. White matter microstructure in female to male transsexuals before cross-sex hormonal treatment. A diffusion tensor imaging study. Journal of Psychiatric Research. 2011. Vol. 45 (2). hlm. 199–204. doi:10.1016/j.jpsychires.2010.05.006.
- ↑ J. N. Zhou. A sex difference in the human brain and its relation to transsexuality. Nature. 1995. Vol. 378 (6552). hlm. 68–70. doi:10.1038/378068a0.
- ↑ LeVay. A difference in hypothalamic structure between heterosexual and homosexual men. Science. 1991. Vol. 253 (5023). hlm. 1034–1037. doi:10.1126/science.1887219.
- ↑ W. Byne. The interstitial nuclei of the human anterior hypothalamus: an investigation of variation with sex, sexual orientation, and HIV status. Hormones and Behavior. 2001. Vol. 40 (2). hlm. 86–92. doi:10.1006/hbeh.2001.1680.
- ↑ L. Hare. Androgen Receptor Repeat Length Polymorphism Associated with Male-to-Female Transsexualism. Biological Psychiatry. 2009. Vol. 65 (1). hlm. 93-96. doi:10.1016/j.biopsych.2008.08.033.
- ↑ A. Oswalt. Factors Influencing Gender Identity. MentalHelp.net.
- ↑ J. Money. An examination of some basic sexual concepts. Bulletin of the Johns Hopkins Hospital. 1955. Vol. 97 (4). hlm. 301-319.
- ↑ Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.
- ↑ Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.
- ↑ A. Fausto-Sterling. Sexing the Body: Gender Politics and the Construct. Basic Books. 2000.
- ↑ Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.
- ↑ Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.
- ↑ D. F. Swaab. Sexual differentiation of the human brain: relevance for gender identity, transsexualism and sexual orientation. Gynecological Endocrinology. 2004. Vol. 19 (6). hlm. 301-312.
- ↑ Gender Dysphoria and Disorders of Sex Development. Springer US. 2013. ISBN 1461474418.
- ↑ M. S. Wallien. Psychosexual outcome of gender-dysphoric children. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 2008. Vol. 47 (12). hlm. 1413-1423. doi:10.1097/CHI.0b013e31818956b9.
- ↑ M. Weinraub. The development of sex role stereotypes in the third year: relationships to gender labeling, gender identity, sex-types toy preference, and family characteristics. Child Development. 1984. Vol. 55 (4). hlm. 1493-1503. doi:10.2307/1130019.
- ↑ A. Oswalt. Factors Influencing Gender Identity. MentalHelp.net.
- ↑ J. Spade. The Kaleidoscope of Gender. SAGE. 2004. hlm. 177–184. ISBN 978-1-4129-7906-1.
- ↑ J. Spade. The Kaleidoscope of Gender. SAGE. 2004. hlm. 177–184. ISBN 978-1-4129-7906-1.
- ↑ S. Ghosh. Gender Identity. MedScape.
- ↑ H. P. Halpern. Parents' Gender Ideology and Gendered Behavior as Predictors of Children's Gender-Role Attitudes: A Longitudinal Exploration. Sex Roles. 2016. Vol. 74 (11). hlm. 527-542. doi:10.1007/s11199-015-0539-0.
- ↑ H. P. Halpern. Parents' Gender Ideology and Gendered Behavior as Predictors of Children's Gender-Role Attitudes: A Longitudinal Exploration. Sex Roles. 2016. Vol. 74 (11). hlm. 527-542. doi:10.1007/s11199-015-0539-0.
- ↑ M. Blackless. Atypical Gender Development – A Review. International Journal of Transgenderism. 2006. Vol. 9 (1). hlm. 29–44. doi:10.1300/J485v09n01_04.
- ↑ Sexual Orientation and Gender Expression in Social Work Practice. Columbia University Press. 2006. hlm. 8. ISBN 0231501862.
- ↑ J. Money. The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years. Journal of Sex and Marital Therapy. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–177. doi:10.1080/00926239408403428.
- ↑ Handbook of the Psychology of Women and Gender. Wiley. 2004. hlm. 102. ISBN 0471653578.
- ↑ R. Padawer. What's So Bad About a Boy Who Wants to Wear a Dress?. New York Times.
- ↑ D. Haraway. Simians, Cyborgs, and Women: The Reinvention of Nature. Free Association Books. 1991. hlm. 133. ISBN 0-415-90386-6.
- ↑ K. Karkazis. Fixing Sex: Intersex, Medical Authority, and Lived Experience. Duke University Press. 2008.
- ↑ J. Butler. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge Classic. 1990. hlm. front/backmatter. ISBN 0415389550.
- ↑ Gender Identity Disorder. Psychology Today. 24 Oktober 2005.
- ↑ J. Money. The concept of gender identity disorder in childhood and adolescence after 39 years. Journal of Sex and Marital Therapy. 1994. Vol. 20 (3). hlm. 163–177. doi:10.1080/00926239408403428.
- ↑ K. J. Zucker. Was the gender identity disorder of childhood diagnosis introduced into DSM-III as a backdoor maneuver to replace homosexuality? A historical note. Journal of Sex and Marital Therapy. 2005. Vol. 31 (1). hlm. 31–42. doi:10.1080/00926230590475251.
- ↑ W. Parry. DSM-5 Reflects Shift In Perspective On Gender Identity. The Huffington Post. 4 Juni 2013.
- ↑ K. J. Zucker. Was the gender identity disorder of childhood diagnosis introduced into DSM-III as a backdoor maneuver to replace homosexuality? A historical note. Journal of Sex and Marital Therapy. 2005. Vol. 31 (1). hlm. 31–42. doi:10.1080/00926230590475251.
- ↑ Prinsip-Prinsip Yogyakarta (terjemahan bahasa Indonesia oleh Ardhanary Institute). Yogyakarta Principles in Action. 2007.
- ↑ Jurisprudential Annotations to the Yogyakarta Principles. hlm. 43.
- ↑ Activist's Guide to the Yogyakarta Principles. Yogyakarta Principles in Action. hlm. 100.
- ↑ slip op. Obergefell v. Hodges , No. 14-556 (AS 26 Juni 2015)
- ↑ T. Sua'ali'i. Tangata O Te Moana Nui: The Evolving Identities of Pacific Peoples in Aotearoa/New Zealand. Dunmore Press. 2001. ISBN 0-86469-369-9.
- ↑ P. L. Vasey. What Can the Samoan "Fa'afafine" Teach Us About the Western Concept of Gender Identity Disorder in Childhood?. Biology and Medicine. 2007. Vol. 50 (4). hlm. 481-490.
- ↑ J. Schmidt. Paradise Lost? Social Change and Fa'afafine in Samoa. Current Sociology. 2003. Vol. 51 (3). hlm. 417–432. doi:10.1177/0011392103051003014.
- ↑ Field, M. Transsexuals hailed by Samoan PM. Stuff.co.nz. 5 Juli 2011.
- ↑ J. Lorber. Paradoxes of Gender. Yale University Press. 1994. hlm. 92–93.
- ↑ J. Lorber. Paradoxes of Gender. Yale University Press. 1994. hlm. 92–93.
- ↑ S. Hunt. An Introduction to the Health of Two-Spirit People: Historical, contemporary and emergent issues. National Collaborative Centre Aboriginal Health. 2016.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29343016 (2026-06-13T23:16:00Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.