Lompat ke isi

Pertimbangan nilai: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28062387; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 2: Baris 2:


== Penjelasan ==
== Penjelasan ==
''Pertimbangan nilai'' adalah pemikiran tentang sesuatu berdasarkan apa yang “seharusnya” atau “sebaiknya” diberikan pendapat tentang apa yang dianggap “baik” atau “buruk” - berbeda dari pemikiran berdasarkan pada fakta-fakta yang ada. Misalnya, “Pemerintah harus meningkatkan akses terhadap pendidikan” adalah pertimbangan nilai (bahwa pendidikan itu baik). “Orang akan membeli lebih sedikit produk kami jika harga kami naik” bukanlah pertimbangan nilai karena didasarkan pada fakta bahwa orang cenderung membeli lebih sedikit produk yang lebih mahal. Ini dapat digunakan baik dalam arti positif, menandakan bahwa suatu penilaian harus dibuat dengan mempertimbangkan sistem nilai, atau dalam arti merendahkan, menandakan penilaian yang dibuat oleh keinginan pribadi daripada pemikiran atau bukti [[Objektivitas (filsafat)|objektif]].
''Pertimbangan nilai'' adalah pemikiran tentang sesuatu berdasarkan apa yang “seharusnya” atau “sebaiknya” diberikan pendapat tentang apa yang dianggap “baik” atau “buruk” - berbeda dari pemikiran berdasarkan pada fakta-fakta yang ada. Misalnya, “Pemerintah harus meningkatkan akses terhadap pendidikan” adalah pertimbangan nilai (bahwa pendidikan itu baik). “Orang akan membeli lebih sedikit produk kami jika harga kami naik” bukanlah pertimbangan nilai karena didasarkan pada fakta bahwa orang cenderung membeli lebih sedikit produk yang lebih mahal. Ini dapat digunakan baik dalam arti positif, menandakan bahwa suatu penilaian harus dibuat dengan mempertimbangkan sistem nilai, atau dalam arti merendahkan, menandakan penilaian yang dibuat oleh keinginan pribadi daripada pemikiran atau bukti [[Objektivitas (filsafat)|objektif]].<ref>Michael Scriven (KF Schaffner & RS Cohen, eds.). [https://books.google.com/books?id=nhY1vAIbdakC&q=%22value+judgment%22&pg=PA220 Philosophy of Science Association PSA: Boston studies in the philosophy of science, v. 20]. Dordrecht:Reidel. 1974. hlm. 219 ff. ISBN 90-277-0408-2.</ref>


Dalam arti positifnya, rekomendasi untuk membuat pertimbangan nilai adalah peringatan untuk mempertimbangkan dengan hati-hati, menghindari keinginan dan ketergesa-gesaan, dan mencari kesesuaian dengan keyakinan yang lebih dalam, dan mencari bukti yang objektif, [[Autentikasi|dapat diverifikasi]], publik, dan konsensual untuk [[Opini|pendapat]] tersebut.
Dalam arti positifnya, rekomendasi untuk membuat pertimbangan nilai adalah peringatan untuk mempertimbangkan dengan hati-hati, menghindari keinginan dan ketergesa-gesaan, dan mencari kesesuaian dengan keyakinan yang lebih dalam, dan mencari bukti yang objektif, [[Autentikasi|dapat diverifikasi]], publik, dan konsensual untuk [[Opini|pendapat]] tersebut.
Baris 8: Baris 8:
Dalam arti merendahkannya istilah ''pertimbangan nilai'' menyiratkan kesimpulan yang terisolasi, sepihak, dan tidak objektif - berbeda dengan penilaian yang didasarkan pada pertimbangan, keseimbangan dan bukti publik.
Dalam arti merendahkannya istilah ''pertimbangan nilai'' menyiratkan kesimpulan yang terisolasi, sepihak, dan tidak objektif - berbeda dengan penilaian yang didasarkan pada pertimbangan, keseimbangan dan bukti publik.


''Pertimbangan nilai'' juga dapat merujuk pada penilaian sementara berdasarkan penilaian yang dipertimbangkan dari informasi yang ada, yang dianggap tidak lengkap dan berkembang - misalnya, pertimbangan nilai tentang apakah akan meluncurkan serangan militer atau mengenai prosedur dalam keadaan darurat medis. Dalam hal ini kualitas penilaian menurun karena informasi yang tersedia tidak lengkap sebagai akibat dari keadaan darurat, bukan sebagai akibat dari batasan budaya atau pribadi.
''Pertimbangan nilai'' juga dapat merujuk pada penilaian sementara berdasarkan penilaian yang dipertimbangkan dari informasi yang ada, yang dianggap tidak lengkap dan berkembang - misalnya, pertimbangan nilai tentang apakah akan meluncurkan serangan militer atau mengenai prosedur dalam keadaan darurat medis.<ref>Kristin Shrader-Frechette (Cohen, R.S., Gavroglou, K., Stachel, J.J., & Wartofsky, M.W., eds.). [https://books.google.com/books?id=ZIo86_X2FAcC&q=%22value+judgment%22&pg=PA205 The case of Yucca Mountain: Science, politics and social practice]. Springer. 1995. hlm. 204 ff. ISBN 0-7923-2989-9.</ref> Dalam hal ini kualitas penilaian menurun karena informasi yang tersedia tidak lengkap sebagai akibat dari keadaan darurat, bukan sebagai akibat dari batasan budaya atau pribadi.


Umumnya istilah ''pertimbangan nilai'' merujuk pada [[Opini|pendapat]] individu. Tentu saja, pendapat individu dibentuk sampai batas tertentu oleh sistem kepercayaan mereka dan budaya tempat mereka berasal. Jadi perluasan alami dari istilah ''pertimbangan nilai'' adalah untuk memasukkan pernyataan yang dilihat satu arah dari satu sistem nilai tetapi mungkin dilihat berbeda dari yang lain. Secara konseptual perluasan definisi ini terkait dengan aksioma [[Antropologi|antropologis]] “[[relativisme budaya]]” (yaitu, bahwa makna budaya berasal dari konteks) dan dengan istilah “[[relativisme moral]]” (yaitu, bahwa proposisi moral dan etis bukanlah kebenaran universal, tetapi berasal dari konteks budaya). Pertimbangan nilai yang dibentuk dalam sistem nilai tertentu mungkin sempit dan dapat diperdebatkan oleh khalayak yang lebih luas.
Umumnya istilah ''pertimbangan nilai'' merujuk pada [[Opini|pendapat]] individu. Tentu saja, pendapat individu dibentuk sampai batas tertentu oleh sistem kepercayaan mereka dan budaya tempat mereka berasal. Jadi perluasan alami dari istilah ''pertimbangan nilai'' adalah untuk memasukkan pernyataan yang dilihat satu arah dari satu sistem nilai tetapi mungkin dilihat berbeda dari yang lain. Secara konseptual perluasan definisi ini terkait dengan aksioma [[Antropologi|antropologis]] “[[relativisme budaya]]” (yaitu, bahwa makna budaya berasal dari konteks) dan dengan istilah “[[relativisme moral]]” (yaitu, bahwa proposisi moral dan etis bukanlah kebenaran universal, tetapi berasal dari konteks budaya). Pertimbangan nilai yang dibentuk dalam sistem nilai tertentu mungkin sempit dan dapat diperdebatkan oleh khalayak yang lebih luas.
Baris 17: Baris 17:
Max Weber mengemukakan salah satu konsep pertama tentang netralitas nilai.
Max Weber mengemukakan salah satu konsep pertama tentang netralitas nilai.


Sebuah kutipan terkenal dari matematikawan [[Godfrey Harold Hardy|G.H. Hardy]] menunjukkan bagaimana ia menempatkan subjek “netral nilai” matematika ke dalam konteks sosial tertentu: “Ilmu dikatakan berguna jika perkembangannya cenderung menekankan ketidaksetaraan kekayaan yang ada, atau lebih langsung mempromosikan mendorong kehancuran manusia”.
Sebuah kutipan terkenal dari matematikawan [[Godfrey Harold Hardy|G.H. Hardy]] menunjukkan bagaimana ia menempatkan subjek “netral nilai” matematika ke dalam konteks sosial tertentu: “Ilmu dikatakan berguna jika perkembangannya cenderung menekankan ketidaksetaraan kekayaan yang ada, atau lebih langsung mempromosikan mendorong kehancuran manusia”.<ref>Bill Swainson. [https://books.google.com/books?id=Af84fBmzmVYC&q=Hardy+%22a+science+is+said+to+be+useful+if+its+development%22&pg=PA408 Encarta Book of Quotations]. Macmillan. 2000. hlm. 408. ISBN 0312230001.</ref>


Untuk diskusi mengenai apakah teknologi bersifat netral nilai, lihat Martin dan Schinzinger, dan Wallace.
Untuk diskusi mengenai apakah teknologi bersifat netral nilai, lihat Martin dan Schinzinger,<ref>Mike W Martin. [https://books.google.com/books?id=64iYMPnD3X0C&q=centrifugal+turntable Ethics in engineering]. McGraw-Hill Professional. 2005. hlm. 279. ISBN 0-07-283115-4.</ref> dan Wallace.<ref>Philip Russell Wallace. [https://books.google.com/books?id=64iYMPnD3X0C&q=centrifugal+turntable Physics]. World Scientific. 1991. hlm. Chapter 1. ISBN 9971-5-0930-X.</ref>


Sebuah barang mungkin memiliki nilai dan bersifat netral nilai ''terlepas'' dari konteks sosial jika kegunaan atau kepentingannya dapat dipahami dengan mudah, misalnya oksigen mendukung kehidupan di semua masyarakat.
Sebuah barang mungkin memiliki nilai dan bersifat netral nilai ''terlepas'' dari konteks sosial jika kegunaan atau kepentingannya dapat dipahami dengan mudah, misalnya oksigen mendukung kehidupan di semua masyarakat.
Baris 25: Baris 25:
== Pertimbangan nilai dan konteksnya ==
== Pertimbangan nilai dan konteksnya ==
Beberapa berpendapat bahwa objektivitas sejati adalah mustahil, bahkan analisis rasional yang paling ketat didasarkan pada seperangkat nilai yang diterima dalam proses analisis.
Beberapa berpendapat bahwa objektivitas sejati adalah mustahil, bahkan analisis rasional yang paling ketat didasarkan pada seperangkat nilai yang diterima dalam proses analisis.
 
<ref>Michael Scriven. [https://books.google.com/books?id=nhY1vAIbdakC&pg=PA237 Proceedings of the 1972 Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association]. Springer. 1974. hlm. 237 ''ff''. ISBN 9027704082.</ref>
Akibatnya, semua kesimpulan adalah pertimbangan nilai (dan oleh karena itu mungkin sempit). Tentu saja, menempatkan semua kesimpulan dalam satu kategori tidak  membedakannya, dan oleh karena itu, merupakan penggambaran yang tidak berguna. Mengkategorikan kesimpulan sebagai pertimbangan nilai menjadi penting ketika konteks yang membingkai penilaian ditentukan.
Akibatnya, semua kesimpulan adalah pertimbangan nilai (dan oleh karena itu mungkin sempit). Tentu saja, menempatkan semua kesimpulan dalam satu kategori tidak  membedakannya, dan oleh karena itu, merupakan penggambaran yang tidak berguna. Mengkategorikan kesimpulan sebagai pertimbangan nilai menjadi penting ketika konteks yang membingkai penilaian ditentukan.
 
<ref>Anna-Marie Cushan. [http://www.ondwelle.com/ValueJudgements.pdf Investigation into Facts and Values: Groundwork for a theory of moral conflict resolution]. Ondwelle: Melbourne. 2014.</ref>


Sebagai contoh, “kebenaran” ilmiah dianggap objektif tetapi bersifat sementara, dengan pemahaman bahwa bukti yang lebih cermat dan/atau pengalaman yang lebih luas dapat mengubah keadaan. Lebih lanjut, pandangan ilmiah (dalam arti kesimpulan berdasarkan sistem nilai) adalah ''pertimbangan nilai'' yang [[Konstruksionisme sosial|dibangun secara sosial]] berdasarkan evaluasi yang ketat dan konsensus luas. Dengan contoh ini, menggambarkan pandangan sebagai pertimbangan nilai menjadi kabur tanpa deskripsi konteks yang melingkupinya.
Sebagai contoh, “kebenaran” ilmiah dianggap objektif tetapi bersifat sementara, dengan pemahaman bahwa bukti yang lebih cermat dan/atau pengalaman yang lebih luas dapat mengubah keadaan. Lebih lanjut, pandangan ilmiah (dalam arti kesimpulan berdasarkan sistem nilai) adalah ''pertimbangan nilai'' yang [[Konstruksionisme sosial|dibangun secara sosial]] berdasarkan evaluasi yang ketat dan konsensus luas. Dengan contoh ini, menggambarkan pandangan sebagai pertimbangan nilai menjadi kabur tanpa deskripsi konteks yang melingkupinya.
Baris 34: Baris 34:


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
* [[Estetika|Pertimbangan estetis]]
* [[Estetika|Pertimbangan estetis]]
* [[Kritikus]]
* [[Kritikus]]
Baris 43: Baris 42:


== Catatan dan referensi ==
== Catatan dan referensi ==
== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertimbangan+nilai&oldid=28062387 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28062387 (2025-10-17T10:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertimbangan+nilai&oldid=28062387 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28062387 (2025-10-17T10:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 23.01

Pertimbangan nilai adalah penilaian tentang benar atau salahnya sesuatu atau seseorang, atau tentang kegunaan sesuatu atau seseorang, berdasarkan perbandingan atau relatif lainnya. Sebagai generalisasi, pertimbangan nilai dapat merujuk pada penilaian berdasarkan seperangkat nilai tertentu atau pada sistem nilai tertentu. Makna terkait dari pertimbangan nilai adalah evaluasi yang bijaksana berdasarkan informasi terbatas yang ada, di mana evaluasi tersebut dilakukan karena keputusan harus dibuat dalam waktu singkat.

Penjelasan

Pertimbangan nilai adalah pemikiran tentang sesuatu berdasarkan apa yang “seharusnya” atau “sebaiknya” diberikan pendapat tentang apa yang dianggap “baik” atau “buruk” - berbeda dari pemikiran berdasarkan pada fakta-fakta yang ada. Misalnya, “Pemerintah harus meningkatkan akses terhadap pendidikan” adalah pertimbangan nilai (bahwa pendidikan itu baik). “Orang akan membeli lebih sedikit produk kami jika harga kami naik” bukanlah pertimbangan nilai karena didasarkan pada fakta bahwa orang cenderung membeli lebih sedikit produk yang lebih mahal. Ini dapat digunakan baik dalam arti positif, menandakan bahwa suatu penilaian harus dibuat dengan mempertimbangkan sistem nilai, atau dalam arti merendahkan, menandakan penilaian yang dibuat oleh keinginan pribadi daripada pemikiran atau bukti objektif.[1]

Dalam arti positifnya, rekomendasi untuk membuat pertimbangan nilai adalah peringatan untuk mempertimbangkan dengan hati-hati, menghindari keinginan dan ketergesa-gesaan, dan mencari kesesuaian dengan keyakinan yang lebih dalam, dan mencari bukti yang objektif, dapat diverifikasi, publik, dan konsensual untuk pendapat tersebut.

Dalam arti merendahkannya istilah pertimbangan nilai menyiratkan kesimpulan yang terisolasi, sepihak, dan tidak objektif - berbeda dengan penilaian yang didasarkan pada pertimbangan, keseimbangan dan bukti publik.

Pertimbangan nilai juga dapat merujuk pada penilaian sementara berdasarkan penilaian yang dipertimbangkan dari informasi yang ada, yang dianggap tidak lengkap dan berkembang - misalnya, pertimbangan nilai tentang apakah akan meluncurkan serangan militer atau mengenai prosedur dalam keadaan darurat medis.[2] Dalam hal ini kualitas penilaian menurun karena informasi yang tersedia tidak lengkap sebagai akibat dari keadaan darurat, bukan sebagai akibat dari batasan budaya atau pribadi.

Umumnya istilah pertimbangan nilai merujuk pada pendapat individu. Tentu saja, pendapat individu dibentuk sampai batas tertentu oleh sistem kepercayaan mereka dan budaya tempat mereka berasal. Jadi perluasan alami dari istilah pertimbangan nilai adalah untuk memasukkan pernyataan yang dilihat satu arah dari satu sistem nilai tetapi mungkin dilihat berbeda dari yang lain. Secara konseptual perluasan definisi ini terkait dengan aksioma antropologisrelativisme budaya” (yaitu, bahwa makna budaya berasal dari konteks) dan dengan istilah “relativisme moral” (yaitu, bahwa proposisi moral dan etis bukanlah kebenaran universal, tetapi berasal dari konteks budaya). Pertimbangan nilai yang dibentuk dalam sistem nilai tertentu mungkin sempit dan dapat diperdebatkan oleh khalayak yang lebih luas.

Netral nilai

Netral nilai adalah kata sifat terkait yang menunjukkan kemandirian dari sistem nilai. Objek itu sendiri dianggap netral nilai ketika tidak dianggap baik atau buruk, berguna atau tidak berguna, signifikan atau remeh sampai ditempatkan dalam konteks sosial tertentu. Misalnya, klasifikasi suatu objek terkadang tergantung pada konteks: Apakah suatu objek adalah alat atau senjata, atau jika sisa-sisa manusia adalah artefak atau leluhur.

Max Weber mengemukakan salah satu konsep pertama tentang netralitas nilai.

Sebuah kutipan terkenal dari matematikawan G.H. Hardy menunjukkan bagaimana ia menempatkan subjek “netral nilai” matematika ke dalam konteks sosial tertentu: “Ilmu dikatakan berguna jika perkembangannya cenderung menekankan ketidaksetaraan kekayaan yang ada, atau lebih langsung mempromosikan mendorong kehancuran manusia”.[3]

Untuk diskusi mengenai apakah teknologi bersifat netral nilai, lihat Martin dan Schinzinger,[4] dan Wallace.[5]

Sebuah barang mungkin memiliki nilai dan bersifat netral nilai terlepas dari konteks sosial jika kegunaan atau kepentingannya dapat dipahami dengan mudah, misalnya oksigen mendukung kehidupan di semua masyarakat.

Pertimbangan nilai dan konteksnya

Beberapa berpendapat bahwa objektivitas sejati adalah mustahil, bahkan analisis rasional yang paling ketat didasarkan pada seperangkat nilai yang diterima dalam proses analisis. [6] Akibatnya, semua kesimpulan adalah pertimbangan nilai (dan oleh karena itu mungkin sempit). Tentu saja, menempatkan semua kesimpulan dalam satu kategori tidak membedakannya, dan oleh karena itu, merupakan penggambaran yang tidak berguna. Mengkategorikan kesimpulan sebagai pertimbangan nilai menjadi penting ketika konteks yang membingkai penilaian ditentukan. [7]

Sebagai contoh, “kebenaran” ilmiah dianggap objektif tetapi bersifat sementara, dengan pemahaman bahwa bukti yang lebih cermat dan/atau pengalaman yang lebih luas dapat mengubah keadaan. Lebih lanjut, pandangan ilmiah (dalam arti kesimpulan berdasarkan sistem nilai) adalah pertimbangan nilai yang dibangun secara sosial berdasarkan evaluasi yang ketat dan konsensus luas. Dengan contoh ini, menggambarkan pandangan sebagai pertimbangan nilai menjadi kabur tanpa deskripsi konteks yang melingkupinya.

Namun, seperti yang dicatat dalam segmen pertama artikel ini, dalam penggunaan umum istilah pertimbangan nilai memiliki arti yang jauh lebih sederhana dengan konteks yang hanya tersirat, bukan tersurat.

Lihat pula

Catatan dan referensi

Bacaan lebih lanjut

Referensi

  1. Michael Scriven (KF Schaffner & RS Cohen, eds.). Philosophy of Science Association PSA: Boston studies in the philosophy of science, v. 20. Dordrecht:Reidel. 1974. hlm. 219 ff. ISBN 90-277-0408-2.
  2. Kristin Shrader-Frechette (Cohen, R.S., Gavroglou, K., Stachel, J.J., & Wartofsky, M.W., eds.). The case of Yucca Mountain: Science, politics and social practice. Springer. 1995. hlm. 204 ff. ISBN 0-7923-2989-9.
  3. Bill Swainson. Encarta Book of Quotations. Macmillan. 2000. hlm. 408. ISBN 0312230001.
  4. Mike W Martin. Ethics in engineering. McGraw-Hill Professional. 2005. hlm. 279. ISBN 0-07-283115-4.
  5. Philip Russell Wallace. Physics. World Scientific. 1991. hlm. Chapter 1. ISBN 9971-5-0930-X.
  6. Michael Scriven. Proceedings of the 1972 Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association. Springer. 1974. hlm. 237 ff. ISBN 9027704082.
  7. Anna-Marie Cushan. Investigation into Facts and Values: Groundwork for a theory of moral conflict resolution. Ondwelle: Melbourne. 2014.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28062387 (2025-10-17T10:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.