Lompat ke isi

Bias politik: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27502581; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Bias politik''' adalah sebuah bias  yang melibatkan penyusunan atau perubahan informasi untuk membuat posisi [[politik]] atau [[kandidat]] politik terlihat lebih menarik.  Bias muncul dalam konteks politik ketika individu atau kelompok terlibat dalam ketidakmampuan atau ketidakinginan untuk memahami sudut pandang politik yang berlawanan. Bias ini di tingkat individu dapat memiliki akar dalam sifat kepribadian mereka dan gaya berpikir.  Masih belum jelas apakah individu di posisi tertentu dalam spektrum politik lebih bias dibandingkan dengan individu lainnya.
'''Bias politik''' adalah sebuah bias  yang melibatkan penyusunan atau perubahan informasi untuk membuat posisi [[politik]] atau [[kandidat]] politik terlihat lebih menarik.  Bias muncul dalam konteks politik ketika individu atau kelompok terlibat dalam ketidakmampuan atau ketidakinginan untuk memahami sudut pandang politik yang berlawanan. Bias ini di tingkat individu dapat memiliki akar dalam sifat kepribadian mereka dan gaya berpikir.  Masih belum jelas apakah individu di posisi tertentu dalam spektrum politik lebih bias dibandingkan dengan individu lainnya.<ref>Marc kreidler. [https://skepticalinquirer.org/exclusive/who-are-more-biased-liberals-or-conservatives/?/specialarticles/show/who-are-more-biased-liberals-or-conservatives/ Who Are More Biased: Liberals or Conservatives? Skeptical Inquirer]. 2019-03-19.</ref>


== Tipe bias politik ==
== Tipe bias politik ==
Bias konsisi terjadi ketika politikus atau media hanya fokus pada informasi yang mudah dipahami, mengabaikan pandangan yang lebih rumit. Contohnya adalah penggunaan petikan suara yang sering diambil tanpa konteks lengkap. Ini bisa membuat isu yang kompleks menjadi lebih memecah pendapat dan memperburuk perbedaan pendapat.
Bias konsisi terjadi ketika politikus atau media hanya fokus pada informasi yang mudah dipahami, mengabaikan pandangan yang lebih rumit. Contohnya adalah penggunaan petikan suara yang sering diambil tanpa konteks lengkap. Ini bisa membuat isu yang kompleks menjadi lebih memecah pendapat dan memperburuk perbedaan pendapat.<ref>Marcus Lu. [https://www.weforum.org/stories/2020/08/11-cognitive-biases-that-influence-political-outcomes/ 11 cognitive biases that influence politics]. ''Weforum''. 3 Agustus 2020.</ref>


Bias konfirmasi merupakan bias yang terjadi ketika orang hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada, membuat mereka kaku dalam pandangan politik meskipun ada ide atau bukti yang bertentangan. Hal ini menghambat kemajuan dalam menyelesaikan masalah sosial-politik yang kompleks karena memerlukan kerja sama dari kedua pihak.
Bias konfirmasi merupakan bias yang terjadi ketika orang hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada, membuat mereka kaku dalam pandangan politik meskipun ada ide atau bukti yang bertentangan. Hal ini menghambat kemajuan dalam menyelesaikan masalah sosial-politik yang kompleks karena memerlukan kerja sama dari kedua pihak.<ref>Marcus Lu. [https://www.weforum.org/stories/2020/08/11-cognitive-biases-that-influence-political-outcomes/ 11 cognitive biases that influence politics]. ''Weforum''. 3 Agustus 2020.</ref>


Bias cakupan dalam konteks politik adalah bentuk bias media saat politikus atau topik tertentu mendapatkan liputan yang tidak proporsional. Dalam beberapa kasus, media bahkan bisa memutarbalikkan cerita untuk menyesuaikan dengan narasi yang mereka inginkan.
Bias cakupan dalam konteks politik adalah bentuk bias media saat politikus atau topik tertentu mendapatkan liputan yang tidak proporsional. Dalam beberapa kasus, media bahkan bisa memutarbalikkan cerita untuk menyesuaikan dengan narasi yang mereka inginkan.<ref>Marcus Lu. [https://www.weforum.org/stories/2020/08/11-cognitive-biases-that-influence-political-outcomes/ 11 cognitive biases that influence politics]. ''Weforum''. 3 Agustus 2020.</ref>


Bias konsensus palsu adalah bias saat seseorang menganggap opini, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi mereka adalah hal yang umum dan diterima oleh banyak orang. Dalam konteks elit politik, bias ini berarti bahwa para politikus atau tokoh politik mungkin berpikir bahwa masyarakat umum setuju dengan pandangan politik mereka atau pandangan yang mereka dengar dalam lingkaran partainya. Mereka mungkin percaya bahwa orang lain melihat hal yang sama seperti mereka, meskipun pandangan tersebut terbentuk dari sumber informasi yang spesifik dan sering kali timpang.
Bias konsensus palsu adalah bias saat seseorang menganggap opini, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi mereka adalah hal yang umum dan diterima oleh banyak orang. Dalam konteks elit politik, bias ini berarti bahwa para politikus atau tokoh politik mungkin berpikir bahwa masyarakat umum setuju dengan pandangan politik mereka atau pandangan yang mereka dengar dalam lingkaran partainya. Mereka mungkin percaya bahwa orang lain melihat hal yang sama seperti mereka, meskipun pandangan tersebut terbentuk dari sumber informasi yang spesifik dan sering kali timpang.<ref>Alexander C. Furnas. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ajps.12833 The people think what I think: False consensus and unelected elite misperception of public opinion]. ''American Journal of Political Science''. 2024. Vol. 68 (3). hlm. 958–971. doi:10.1111/ajps.12833.</ref>


== Netralitas politik ==
== Netralitas politik ==
Netralitas politik adalah tindakan yang berlawanan dengan bias politik, yang bertujuan untuk memastikan kemampuan [[Pegawai negeri sipil|pegawai negri]] menjalankan tugas resmi mereka secara tidak memihak, terkait dengan keyakinan politik mereka. Di bidang seperti liputan media, keputusan hukum dan birokrasi, serta lingkungan akademik, kebutuhan untuk mengambil tindakan korektif terhadap tindakan yang bias secara politik adalah dasar dari penegakan netralitas politik.
Netralitas politik adalah tindakan yang berlawanan dengan bias politik, yang bertujuan untuk memastikan kemampuan [[Pegawai negeri sipil|pegawai negri]] menjalankan tugas resmi mereka secara tidak memihak, terkait dengan keyakinan politik mereka.<ref>Kenneth Kernaghan. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1754-7121.1986.tb00205.x Political rights and political neutrality: finding the balance point]. ''Canadian Public Administration''. 1986. Vol. 29 (4). hlm. 639–652. doi:10.1111/j.1754-7121.1986.tb00205.x.</ref> Di bidang seperti liputan media, keputusan hukum dan birokrasi, serta lingkungan akademik, kebutuhan untuk mengambil tindakan korektif terhadap tindakan yang bias secara politik adalah dasar dari penegakan netralitas politik.<ref>Omer Yair. [https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0196674 When do we care about political neutrality? The hypocritical nature of reaction to political bias]. ''PLOS ONE''. 2018-05-03. Vol. 13 (5). hlm. e0196674. doi:10.1371/journal.pone.0196674.</ref>


== Bias politik dan pembingkaian ==
== Bias politik dan pembingkaian ==
[[Pembingkaian]] adalah konstruksi sosial dari gerakan politik atau sosial dengan representasi positif atau negatif. Bias politik dalam konteks ini terjadi ketika pemimpin politik dan partai menyajikan informasi untuk menyoroti suatu masalah dan menawarkan solusi yang mendukung posisi politik mereka. Hal ini membuat posisi mereka terlihat lebih menguntungkan dan kebijakan mereka dianggap sebagai langkah yang diharapkan.
[[Pembingkaian]] adalah konstruksi sosial dari gerakan politik atau sosial dengan representasi positif atau negatif. Bias politik dalam konteks ini terjadi ketika pemimpin politik dan partai menyajikan informasi untuk menyoroti suatu masalah dan menawarkan solusi yang mendukung posisi politik mereka.<ref>Dietram A. Scheufele. [https://academic.oup.com/joc/article-abstract/49/1/103/4110088?redirectedFrom=fulltext Framing as a Theory of Media Effects]. ''Journal of Communication''. 1999-03-01. Vol. 49 (1). hlm. 103–122. doi:10.1111/j.1460-2466.1999.tb02784.x.</ref> Hal ini membuat posisi mereka terlihat lebih menguntungkan dan kebijakan mereka dianggap sebagai langkah yang diharapkan.<ref>Robert M. Entman. [https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1464884910367587 Media framing biases and political power: Explaining slant in news of Campaign 2008]. ''Journalism''. 2010-08-01. Vol. 11 (4). hlm. 389–408. doi:10.1177/1464884910367587.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+politik&oldid=27502581 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27502581 (2025-07-06T02:18:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bias+politik&oldid=27502581 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27502581 (2025-07-06T02:18:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 23.07

Bias politik adalah sebuah bias yang melibatkan penyusunan atau perubahan informasi untuk membuat posisi politik atau kandidat politik terlihat lebih menarik. Bias muncul dalam konteks politik ketika individu atau kelompok terlibat dalam ketidakmampuan atau ketidakinginan untuk memahami sudut pandang politik yang berlawanan. Bias ini di tingkat individu dapat memiliki akar dalam sifat kepribadian mereka dan gaya berpikir. Masih belum jelas apakah individu di posisi tertentu dalam spektrum politik lebih bias dibandingkan dengan individu lainnya.[1]

Tipe bias politik

Bias konsisi terjadi ketika politikus atau media hanya fokus pada informasi yang mudah dipahami, mengabaikan pandangan yang lebih rumit. Contohnya adalah penggunaan petikan suara yang sering diambil tanpa konteks lengkap. Ini bisa membuat isu yang kompleks menjadi lebih memecah pendapat dan memperburuk perbedaan pendapat.[2]

Bias konfirmasi merupakan bias yang terjadi ketika orang hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada, membuat mereka kaku dalam pandangan politik meskipun ada ide atau bukti yang bertentangan. Hal ini menghambat kemajuan dalam menyelesaikan masalah sosial-politik yang kompleks karena memerlukan kerja sama dari kedua pihak.[3]

Bias cakupan dalam konteks politik adalah bentuk bias media saat politikus atau topik tertentu mendapatkan liputan yang tidak proporsional. Dalam beberapa kasus, media bahkan bisa memutarbalikkan cerita untuk menyesuaikan dengan narasi yang mereka inginkan.[4]

Bias konsensus palsu adalah bias saat seseorang menganggap opini, keyakinan, dan nilai-nilai pribadi mereka adalah hal yang umum dan diterima oleh banyak orang. Dalam konteks elit politik, bias ini berarti bahwa para politikus atau tokoh politik mungkin berpikir bahwa masyarakat umum setuju dengan pandangan politik mereka atau pandangan yang mereka dengar dalam lingkaran partainya. Mereka mungkin percaya bahwa orang lain melihat hal yang sama seperti mereka, meskipun pandangan tersebut terbentuk dari sumber informasi yang spesifik dan sering kali timpang.[5]

Netralitas politik

Netralitas politik adalah tindakan yang berlawanan dengan bias politik, yang bertujuan untuk memastikan kemampuan pegawai negri menjalankan tugas resmi mereka secara tidak memihak, terkait dengan keyakinan politik mereka.[6] Di bidang seperti liputan media, keputusan hukum dan birokrasi, serta lingkungan akademik, kebutuhan untuk mengambil tindakan korektif terhadap tindakan yang bias secara politik adalah dasar dari penegakan netralitas politik.[7]

Bias politik dan pembingkaian

Pembingkaian adalah konstruksi sosial dari gerakan politik atau sosial dengan representasi positif atau negatif. Bias politik dalam konteks ini terjadi ketika pemimpin politik dan partai menyajikan informasi untuk menyoroti suatu masalah dan menawarkan solusi yang mendukung posisi politik mereka.[8] Hal ini membuat posisi mereka terlihat lebih menguntungkan dan kebijakan mereka dianggap sebagai langkah yang diharapkan.[9]

Referensi

  1. Marc kreidler. Who Are More Biased: Liberals or Conservatives? Skeptical Inquirer. 2019-03-19.
  2. Marcus Lu. 11 cognitive biases that influence politics. Weforum. 3 Agustus 2020.
  3. Marcus Lu. 11 cognitive biases that influence politics. Weforum. 3 Agustus 2020.
  4. Marcus Lu. 11 cognitive biases that influence politics. Weforum. 3 Agustus 2020.
  5. Alexander C. Furnas. The people think what I think: False consensus and unelected elite misperception of public opinion. American Journal of Political Science. 2024. Vol. 68 (3). hlm. 958–971. doi:10.1111/ajps.12833.
  6. Kenneth Kernaghan. Political rights and political neutrality: finding the balance point. Canadian Public Administration. 1986. Vol. 29 (4). hlm. 639–652. doi:10.1111/j.1754-7121.1986.tb00205.x.
  7. Omer Yair. When do we care about political neutrality? The hypocritical nature of reaction to political bias. PLOS ONE. 2018-05-03. Vol. 13 (5). hlm. e0196674. doi:10.1371/journal.pone.0196674.
  8. Dietram A. Scheufele. Framing as a Theory of Media Effects. Journal of Communication. 1999-03-01. Vol. 49 (1). hlm. 103–122. doi:10.1111/j.1460-2466.1999.tb02784.x.
  9. Robert M. Entman. Media framing biases and political power: Explaining slant in news of Campaign 2008. Journalism. 2010-08-01. Vol. 11 (4). hlm. 389–408. doi:10.1177/1464884910367587.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27502581 (2025-07-06T02:18:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.