Lompat ke isi

Sejarah perpustakaan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29294134; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Baris 1: Baris 1:
'''Perpustakaan''' adalah sebuah gedung atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan kumpulan pustaka yang berupa [[buku]], [[monograf]], terbitan berseri, [[brosur]], atau [[pamflet]] dan bahan non pustaka lainnya yang relevan. Kumpulan bahan pustaka pada sebuah perpustakaan digunakan oleh pemustaka (pengguna dan pembaca) bukan untuk diperjual-belikan, yang mana itulah perpustakaan dalam [[paradigma]] lama. Sedangkan dalam paradigma baru Perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi menarik, mendidik, interaktif, dan menghibur bagi pengunjungnya. Dalam struktur [[bahasa]] ([[etimologi]]), Perpustakaan dalam bahasa [[Indonesia]] berasal dari kata dasar [[pustaka]]. Dalam berbagai bahasa yang lain, seperti dalam bahasa [[Ingris|Inggris]] Perpustakaan disebut [[Library]], dalam bahasa [[Belanda]] disebut [[Bibliotheek]], dalam bahasa [[Jerman]] disebut [[Bibliothek]], bahasa [[Prancis]], menyebutnya dengan [[Bibliotheque]], bahasa [[Italia]], menyebut dengan [[Biblioteca]], bahasa [[Spanyol]] dan [[Portugis]] menyebut dengan [[Bibliotheca]], dan dalam bahasa [[Arab]], menyebutnya dengan istilah [[al-Maktabah]].
[[File:Old_Library,_History_Reading_Room,_1964_(3926511830).jpg|thumb|right|280px|Old Library, History Reading Room, 1964 (3926511830)]]


Dari berbagai [[struktur]] dan asal kata 'Perpustakaan' tadi, bisa dinilai bahwa pada dasarnya memiliki makna yang sama seperti Library yang berasal dari akar kata [[Liber]] bahasa [[Yunani]] yang artinya buku. Begitupun dengan akar kata dari [[Bibliotheek]] adalah [[biblos]] dalam bahasa Yunani yang artinya juga buku. Kemudian berkembang pula [[biblos]] itu dengan sebutan [[bible]] yang artinya [[kitab]]. Sedangkan al-Maktabah sendiri yang berasal dari bahasa Arab akar katanya adalah [[ka-ta-ba]] yang berarti menulis. Dari itu, Perpustakaan sendiri selalu berkaitan dengan buku dan tulis-menulis.
'''Perpustakaan''' adalah sebuah gedung atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan kumpulan pustaka yang berupa [[buku]], [[monograf]], terbitan berseri, [[brosur]], atau [[pamflet]] dan bahan non pustaka lainnya yang relevan.<ref>Tine Silvana dan Tati Sumiati. ''Modul Pembelajaran Mata Kuliah Katalogisasi Deskriptif''. Bandung: Kementerian Pendidikan Nasional Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. 2011. hlm. 18.</ref> Kumpulan bahan pustaka pada sebuah perpustakaan digunakan oleh pemustaka (pengguna dan pembaca) bukan untuk diperjual-belikan, yang mana itulah perpustakaan dalam [[paradigma]] lama.<ref>Sulistyo Basuki. ''Pengantar Ilmu Perpustakaan''. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1991. hlm. 3.</ref> Sedangkan dalam paradigma baru Perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi menarik, mendidik, interaktif, dan menghibur bagi pengunjungnya.<ref>Rachman Hermawan dan Zulfikar Zen. ''Etika Kepustakawanan:Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia''. Jakarta:Sagung Seto (Anggota Ikapi). 2010. hlm. 7.</ref> Dalam struktur [[bahasa]] ([[etimologi]]), Perpustakaan dalam bahasa [[Indonesia]] berasal dari kata dasar [[pustaka]].<ref>Sulistyo Basuki. ''Periodisasi Perpustakaan Indonesia''. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.</ref> Dalam berbagai bahasa yang lain, seperti dalam bahasa [[Ingris|Inggris]] Perpustakaan disebut [[Library]], dalam bahasa [[Belanda]] disebut [[Bibliotheek]], dalam bahasa [[Jerman]] disebut [[Bibliothek]], bahasa [[Prancis]], menyebutnya dengan [[Bibliotheque]], bahasa [[Italia]], menyebut dengan [[Biblioteca]], bahasa [[Spanyol]] dan [[Portugis]] menyebut dengan [[Bibliotheca]], dan dalam bahasa [[Arab]], menyebutnya dengan istilah [[al-Maktabah]].<ref>P. Sumardji. ''Perpustakaan:Organisasi dan Tatakerjanya''. Yogyakarta:Kanisius (Anggota Ikapi). 2010. hlm. 11.</ref><ref>Asad M. Alkalali. ''Kamus Indonesia-Arab''. Jakarta: Bulan Bintang (Anggota Ikapi). 1997. hlm. 427.</ref>


Menurut [[Muljani A. Nurhadi]], terkait pengertian Perpustakaan ada lima unsur yang perlu dalam pengertian Perpustakaan, yaitu:
Dari berbagai [[struktur]] dan asal kata 'Perpustakaan' tadi, bisa dinilai bahwa pada dasarnya memiliki makna yang sama seperti Library yang berasal dari akar kata [[Liber]] bahasa [[Yunani]] yang artinya buku.<ref>Sulistyo Basuki. ''Periodisasi Perpustakaan Indonesia''. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.</ref> Begitupun dengan akar kata dari [[Bibliotheek]] adalah [[biblos]] dalam bahasa Yunani yang artinya juga buku.<ref>Sulistyo Basuki. ''Periodisasi Perpustakaan Indonesia''. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.</ref> Kemudian berkembang pula [[biblos]] itu dengan sebutan [[bible]] yang artinya [[kitab]]. Sedangkan al-Maktabah sendiri yang berasal dari bahasa Arab akar katanya adalah [[ka-ta-ba]] yang berarti menulis. Dari itu, Perpustakaan sendiri selalu berkaitan dengan buku dan tulis-menulis.<ref>Sulistyo Basuki. ''Periodisasi Perpustakaan Indonesia''. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.</ref><ref>Asad M. Alkalali. ''Kamus Indonesia-Arab''. Jakarta: Bulan Bintang (Anggota Ikapi). 1997. hlm. 427.</ref>
 
Menurut [[Muljani A. Nurhadi]], terkait pengertian Perpustakaan ada lima unsur yang perlu dalam pengertian Perpustakaan, yaitu:<ref>Muljani A. Nurhadi. ''Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia''. Yogyakarta: Andi Offset. 1983. hlm. 4.</ref>
* Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka.
* Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka.
* Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara [[sistematis]].
* Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara [[sistematis]].
Baris 9: Baris 11:
* Sebagai [[sumber informasi]], dan
* Sebagai [[sumber informasi]], dan
* Merupakan suatu [[unit kerja]].
* Merupakan suatu [[unit kerja]].
Penjelasan lain, Michael H. Harris memberikan definisi bahwa Perpustakaan adalah sekumpulan koleksi bahan grafis yang diatur untuk dipergunakan dengan mudah, dikelola oleh perseorangan atau lebih yang sudah mengenal, terbiasa dan memahami tata kelolanya dengan baik yang bertujuan untuk dipergunakan oleh sejumlah orang.
Penjelasan lain, Michael H. Harris memberikan definisi bahwa Perpustakaan adalah sekumpulan koleksi bahan grafis yang diatur untuk dipergunakan dengan mudah, dikelola oleh perseorangan atau lebih yang sudah mengenal, terbiasa dan memahami tata kelolanya dengan baik yang bertujuan untuk dipergunakan oleh sejumlah orang.<ref>Michael H. Harris. [https://archive.org/details/historyoflibrari0000harr History of Libraries in the Western World]. Londen:The Scarecrow Press. 1984. hlm. [https://archive.org/details/historyoflibrari0000harr/page/3 3].</ref>


== Perpustakaan awal ==
== Perpustakaan awal ==
Perpustakaan pertama pada dasarnya terdiri dari arsip bentuk tulisan paling awal, yaitu tablet tanah liat dengan [[aksara paku]] (''cuneiform'') yang ditemukan di [[Ebla]] ([[Suriah]] modern) serta di ruang-ruang kuil di [[Sumer]] ([[Irak]] modern). Tablet-tablet ini memiliki ketebalan sekitar satu inci dan hadir dalam berbagai bentuk serta ukuran. Tanah liat yang menyerupai lumpur ditempatkan dalam bingkai kayu, permukaannya diratakan untuk penulisan, lalu dibiarkan mengering hingga mencapai kondisi lembap-kering yang stabil. Setelah ditulisi, tablet kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau, untuk hasil yang lebih keras, dibakar dalam kiln. Untuk penyimpanan, tablet dapat disusun berdiri pada sisi tepinya atau berjajar berdampingan, dengan isi atau judulnya dituliskan pada bagian tepi yang menghadap ke luar agar mudah terlihat dan diidentifikasi. Perpustakaan-perpustakaan awal ini muncul sekitar lima ribu tahun yang lalu di kawasan ''Fertile Crescent'' di Asia Barat Daya, wilayah yang membentang dari Mesopotamia hingga Sungai Nil di Afrika. Kawasan ini dikenal sebagai ''“cradle of civilization”'' dan merupakan tempat lahirnya sistem tulisan sekitar sebelum 3000 SM (Murray, Stuart A.P.). Arsip-arsip tersebut terutama terdiri atas catatan transaksi komersial atau inventaris, dan keberadaannya menandai peralihan dari masa prasejarah ke masa sejarah.
Perpustakaan pertama pada dasarnya terdiri dari arsip bentuk tulisan paling awal, yaitu tablet tanah liat dengan [[aksara paku]] (''cuneiform'') yang ditemukan di [[Ebla]] ([[Suriah]] modern) serta di ruang-ruang kuil di [[Sumer]] ([[Irak]] modern).<ref>Lionel Casson. [http://archive.org/details/librariesinancie00cass Libraries in the Ancient World]. Yale University Press. 2002. ISBN 978-0-300-09721-4.</ref><ref>Barbara Krasner-Khait. [http://www.history-magazine.com/libraries.html Survivor: The History of the Library]. ''History Magazine''. 2001.</ref><ref>Kathleen Maclay. [http://berkeley.edu/news/media/releases/2003/05/06_tablet.shtml Clay cuneiform tablets from ancient Mesopotamia to be placed online]. ''University of California, Berkeley''. 6 May 2003.</ref><ref>Sidnie White Crawford. [https://books.google.com/books?id=g6y8CgAAQBAJ&dq=ebla+library+older&pg=PA58 The Dead Sea Scrolls at Qumran and the Concept of a Library]. BRILL. 2015-10-14. ISBN 978-90-04-30506-9.</ref><ref>ò Lorenzo Vigan. [https://www.journals.uchicago.edu/doi/10.2307/3209872 Literary Sources for the History of Palestine and Syria: The Ebla Tablets]. ''The Biblical Archaeologist''. 1984-03. Vol. 47 (1). hlm. 6–16. doi:10.2307/3209872.</ref><ref>Hans H. Wellisch. [https://www.jstor.org/stable/25541212 Ebla: The World's Oldest Library]. ''The Journal of Library History (1974-1987)''. 1981. Vol. 16 (3). hlm. 488–500.</ref> Tablet-tablet ini memiliki ketebalan sekitar satu inci dan hadir dalam berbagai bentuk serta ukuran. Tanah liat yang menyerupai lumpur ditempatkan dalam bingkai kayu, permukaannya diratakan untuk penulisan, lalu dibiarkan mengering hingga mencapai kondisi lembap-kering yang stabil. Setelah ditulisi, tablet kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau, untuk hasil yang lebih keras, dibakar dalam kiln. Untuk penyimpanan, tablet dapat disusun berdiri pada sisi tepinya atau berjajar berdampingan, dengan isi atau judulnya dituliskan pada bagian tepi yang menghadap ke luar agar mudah terlihat dan diidentifikasi. Perpustakaan-perpustakaan awal ini muncul sekitar lima ribu tahun yang lalu di kawasan ''Fertile Crescent'' di Asia Barat Daya, wilayah yang membentang dari Mesopotamia hingga Sungai Nil di Afrika. Kawasan ini dikenal sebagai ''“cradle of civilization”'' dan merupakan tempat lahirnya sistem tulisan sekitar sebelum 3000 SM (Murray, Stuart A.P.). Arsip-arsip tersebut terutama terdiri atas catatan transaksi komersial atau inventaris, dan keberadaannya menandai peralihan dari masa prasejarah ke masa sejarah.<ref>John Morris Roberts. [https://books.google.com/books?id=3QZXvUhGwhAC&pg=PA35 A Short History of the World]. Oxford University Press. 1997. ISBN 978-0-19-511504-8.</ref><ref>Colin Renfrew. [http://archive.org/details/prehistorymaking0000renf Prehistory : the making of the human mind]. New York : Modern Library, Random House Pub. Group. 2007. ISBN 978-0-679-64097-4.</ref>


Kondisi yang serupa juga ditemukan dalam arsip pemerintahan dan kuil di Mesir Kuno yang menggunakan papirus. Arsip pribadi paling awal yang diketahui berasal dari Ugarit; selain berisi surat-menyurat dan inventaris, juga terdapat teks-teks mitologi yang kemungkinan telah distandardisasi sebagai teks praktik untuk pelatihan juru tulis baru.
Kondisi yang serupa juga ditemukan dalam arsip pemerintahan dan kuil di Mesir Kuno yang menggunakan papirus.<ref>Barbara Krasner-Khait. [http://www.history-magazine.com/libraries.html Survivor: The History of the Library]. ''History Magazine''. 2001.</ref> Arsip pribadi paling awal yang diketahui berasal dari Ugarit; selain berisi surat-menyurat dan inventaris, juga terdapat teks-teks mitologi yang kemungkinan telah distandardisasi sebagai teks praktik untuk pelatihan juru tulis baru.  


Lebih dari 30.000 tablet tanah liat dari [[Perpustakaan Asyurbanipal|Perpustakaan Ashurbanipal]] di [[Niniwe|Ninewe]] telah ditemukan, temuan ini memberikan sumber kaya bagi para sarjana modern mengenai karya-karya Mesopotamia dalam bidang sastra, agama, dan administrasi. Di antara temuan tersebut terdapat ''Enuma Elish'', yang juga dikenal sebagai Epos Penciptaan dan menggambarkan pandangan tradisional Babilonia tentang penciptaan, ''Epic of Gilgamesh'', serta berbagai “teks pertanda” (''omen texts'') termasuk ''Enuma Anu Enlil'' yang memuat ramalan terkait bulan (visibilitas, gerhana, dan konjungsi dengan planet serta bintang tetap), matahari (korona, bintik, dan gerhana), cuaca (petir, guntur, dan awan), serta planet-planet dan karakteristik penampakannya. Selain itu, terdapat pula teks astronomi dan astrologi, serta daftar standar yang digunakan oleh juru tulis dan cendekiawan seperti daftar kata, kosakata dwibahasa, daftar tanda, sinonim, dan daftar diagnosis medis.
Lebih dari 30.000 tablet tanah liat dari [[Perpustakaan Asyurbanipal|Perpustakaan Ashurbanipal]] di [[Niniwe|Ninewe]] telah ditemukan,<ref>[https://www.britishmuseum.org/research/projects/what-was-ashurbanipals-library What was Ashurbanipal's Library? British Museum]. ''www.britishmuseum.org''.</ref> temuan ini memberikan sumber kaya bagi para sarjana modern mengenai karya-karya Mesopotamia dalam bidang sastra, agama, dan administrasi. Di antara temuan tersebut terdapat ''Enuma Elish'', yang juga dikenal sebagai Epos Penciptaan dan menggambarkan pandangan tradisional Babilonia tentang penciptaan,<ref>''"Epic of Creation,"'' dalam Dalley, Stephanie. ''[https://books.google.co.id/books?id=7ERp_y_w1nIC Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others.]'' Oxford, 1989; hlm. 233–281</ref> ''Epic of Gilgamesh'',<ref>''"Epic of Gilgamesh,"'' dalam Dalley, Stephanie. ''[https://books.google.co.id/books?id=7ERp_y_w1nIC Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others.]'' Oxford, 1989; hlm. 50-135</ref> serta berbagai “teks pertanda” (''omen texts'') termasuk ''Enuma Anu Enlil'' yang memuat ramalan terkait bulan (visibilitas, gerhana, dan konjungsi dengan planet serta bintang tetap), matahari (korona, bintik, dan gerhana), cuaca (petir, guntur, dan awan), serta planet-planet dan karakteristik penampakannya.<ref>Marc Van de Mieroop. [http://archive.org/details/historyofancient0000vand_w8g2 A history of the ancient Near East ca. 3000-323 BC]. Chichester, West Sussex, UK : John Wiley & Sons Inc. 2016. hlm. 263. ISBN 978-1-118-71817-9.</ref> Selain itu, terdapat pula teks astronomi dan astrologi, serta daftar standar yang digunakan oleh juru tulis dan cendekiawan seperti daftar kata, kosakata dwibahasa, daftar tanda, sinonim, dan daftar diagnosis medis.


Tablet-tablet tersebut disimpan dalam berbagai wadah seperti kotak kayu, keranjang anyaman dari alang-alang, atau rak tanah liat. “Perpustakaan” ini juga dikatalogkan menggunakan kolofon, yaitu semacam imprint penerbit pada punggung buku, atau dalam konteks ini pada tablet itu sendiri. Kolofon mencantumkan nama seri, judul tablet, serta informasi tambahan yang diperlukan oleh juru tulis untuk identifikasi. Seiring waktu, tablet-tablet tersebut diorganisasi berdasarkan subjek dan ukuran, namun keterbatasan ruang penyimpanan menyebabkan sebagian tablet lama dikeluarkan dari koleksi, sehingga menjelaskan mengapa sejumlah tablet tidak ditemukan kembali dalam penggalian kota-kota Mesopotamia. Menurut legenda, filsuf mitologis Laozi pernah menjadi penjaga buku di perpustakaan paling awal di Tiongkok yang dimiliki oleh Dinasti Zhou Kekaisaran. Selain itu, bukti berupa katalog yang ditemukan di beberapa perpustakaan kuno yang telah hancur juga menunjukkan adanya keberadaan pustakawan dalam sistem pengelolaan arsip tersebut.
Tablet-tablet tersebut disimpan dalam berbagai wadah seperti kotak kayu, keranjang anyaman dari alang-alang, atau rak tanah liat. “Perpustakaan” ini juga dikatalogkan menggunakan kolofon, yaitu semacam imprint penerbit pada punggung buku, atau dalam konteks ini pada tablet itu sendiri. Kolofon mencantumkan nama seri, judul tablet, serta informasi tambahan yang diperlukan oleh juru tulis untuk identifikasi. Seiring waktu, tablet-tablet tersebut diorganisasi berdasarkan subjek dan ukuran, namun keterbatasan ruang penyimpanan menyebabkan sebagian tablet lama dikeluarkan dari koleksi, sehingga menjelaskan mengapa sejumlah tablet tidak ditemukan kembali dalam penggalian kota-kota Mesopotamia.<ref>Weitemeyer, M. (1956). [https://www.semanticscholar.org/paper/ARCHIVE-AND-LIBRARY-TECHNIQUE-IN-ANCIENT-Weitemeyer/c9f180044a76088e60af8d77510161a80ea0f5ce#citing-papers Archive and Library Technique in Ancient Mesopotamia.]</ref> Menurut legenda, filsuf mitologis Laozi pernah menjadi penjaga buku di perpustakaan paling awal di Tiongkok yang dimiliki oleh Dinasti Zhou Kekaisaran. Selain itu, bukti berupa katalog yang ditemukan di beberapa perpustakaan kuno yang telah hancur juga menunjukkan adanya keberadaan pustakawan dalam sistem pengelolaan arsip tersebut.<ref>A. K. Mukherjee. [http://archive.org/details/librarianshipits00akmu Librarianship: Its Philosophy And History]. Asia Publishing House. 1966. hlm. 86.</ref>


== Sejarah Perpustakaan di Indonesia ==
== Sejarah Perpustakaan di Indonesia ==
Perpustakaan Tanoh Abee sebagai salah satu perpustakaan klasik di Indonesia yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda
Perpustakaan Tanoh Abee sebagai salah satu perpustakaan klasik di Indonesia yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda
().
().<ref>Redaksi. [https://www.noa.co.id/perpustakaan-kuno-tanoh-abee-warisan-endatu-yang-melegenda-di-nusantara/ Perpustakaan Kuno Tanoh Abee, Warisan Endatu Yang Melegenda di Nusantara]. ''NOA.co.id''. 2022-10-15.</ref>


Selanjutnya pada masa penjajahan Belanda juga membangun perpustakaan di Indonesia, misalnya Bataviaasche Genootschap Van Kunstenen en Wetenschappen di Jakarta dan [[Perpustakaan ITB]] di Bandung.
Selanjutnya pada masa penjajahan Belanda juga membangun perpustakaan di Indonesia, misalnya Bataviaasche Genootschap Van Kunstenen en Wetenschappen di Jakarta<ref>Redaksi. [https://www.senibudayabetawi.com/7572/muasal-perpustakaan-pertama-di-indonesia.html Muasal Perpustakaan Pertama di Indonesia]. ''Seni Budaya Betawi''. 2023-05-25.</ref> dan [[Perpustakaan ITB]] di Bandung.<ref>[https://lib.itb.ac.id/sejarah-perpustakaan/ Sejarah Perpustakaan]. ''Perpustakaan ITB''.</ref>


== Jenis-Jenis Perpustakaan ==
== Jenis-Jenis Perpustakaan ==
Dalam Undang-Undang RI No. 43 tahun 2007 Pasal 20 disebutkan bahwa Perpustakaan terdiri atas:
Dalam Undang-Undang RI No. 43 tahun 2007 Pasal 20 disebutkan bahwa Perpustakaan terdiri atas:  


# [[Perpustakaan nasional|Perpustakaan Nasional]]
# [[Perpustakaan nasional|Perpustakaan Nasional]]
Baris 37: Baris 38:


== Lima Perpustakaan Tertua ==
== Lima Perpustakaan Tertua ==
== Jenis Koleksi Bahan Pustaka di Perpustakaan ==
== Jenis Koleksi Bahan Pustaka di Perpustakaan ==


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah+perpustakaan&oldid=29294134 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29294134 (2026-05-30T16:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah+perpustakaan&oldid=29294134 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29294134 (2026-05-30T16:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi per 23 Agustus 2026 04.19

Old Library, History Reading Room, 1964 (3926511830)

Perpustakaan adalah sebuah gedung atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan kumpulan pustaka yang berupa buku, monograf, terbitan berseri, brosur, atau pamflet dan bahan non pustaka lainnya yang relevan.[1] Kumpulan bahan pustaka pada sebuah perpustakaan digunakan oleh pemustaka (pengguna dan pembaca) bukan untuk diperjual-belikan, yang mana itulah perpustakaan dalam paradigma lama.[2] Sedangkan dalam paradigma baru Perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanan yang inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi menarik, mendidik, interaktif, dan menghibur bagi pengunjungnya.[3] Dalam struktur bahasa (etimologi), Perpustakaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar pustaka.[4] Dalam berbagai bahasa yang lain, seperti dalam bahasa Inggris Perpustakaan disebut Library, dalam bahasa Belanda disebut Bibliotheek, dalam bahasa Jerman disebut Bibliothek, bahasa Prancis, menyebutnya dengan Bibliotheque, bahasa Italia, menyebut dengan Biblioteca, bahasa Spanyol dan Portugis menyebut dengan Bibliotheca, dan dalam bahasa Arab, menyebutnya dengan istilah al-Maktabah.[5][6]

Dari berbagai struktur dan asal kata 'Perpustakaan' tadi, bisa dinilai bahwa pada dasarnya memiliki makna yang sama seperti Library yang berasal dari akar kata Liber bahasa Yunani yang artinya buku.[7] Begitupun dengan akar kata dari Bibliotheek adalah biblos dalam bahasa Yunani yang artinya juga buku.[8] Kemudian berkembang pula biblos itu dengan sebutan bible yang artinya kitab. Sedangkan al-Maktabah sendiri yang berasal dari bahasa Arab akar katanya adalah ka-ta-ba yang berarti menulis. Dari itu, Perpustakaan sendiri selalu berkaitan dengan buku dan tulis-menulis.[9][10]

Menurut Muljani A. Nurhadi, terkait pengertian Perpustakaan ada lima unsur yang perlu dalam pengertian Perpustakaan, yaitu:[11]

  • Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka.
  • Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis.
  • Untuk digunakan secara berkelanjutan oleh pembaca.
  • Sebagai sumber informasi, dan
  • Merupakan suatu unit kerja.

Penjelasan lain, Michael H. Harris memberikan definisi bahwa Perpustakaan adalah sekumpulan koleksi bahan grafis yang diatur untuk dipergunakan dengan mudah, dikelola oleh perseorangan atau lebih yang sudah mengenal, terbiasa dan memahami tata kelolanya dengan baik yang bertujuan untuk dipergunakan oleh sejumlah orang.[12]

Perpustakaan awal

Perpustakaan pertama pada dasarnya terdiri dari arsip bentuk tulisan paling awal, yaitu tablet tanah liat dengan aksara paku (cuneiform) yang ditemukan di Ebla (Suriah modern) serta di ruang-ruang kuil di Sumer (Irak modern).[13][14][15][16][17][18] Tablet-tablet ini memiliki ketebalan sekitar satu inci dan hadir dalam berbagai bentuk serta ukuran. Tanah liat yang menyerupai lumpur ditempatkan dalam bingkai kayu, permukaannya diratakan untuk penulisan, lalu dibiarkan mengering hingga mencapai kondisi lembap-kering yang stabil. Setelah ditulisi, tablet kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau, untuk hasil yang lebih keras, dibakar dalam kiln. Untuk penyimpanan, tablet dapat disusun berdiri pada sisi tepinya atau berjajar berdampingan, dengan isi atau judulnya dituliskan pada bagian tepi yang menghadap ke luar agar mudah terlihat dan diidentifikasi. Perpustakaan-perpustakaan awal ini muncul sekitar lima ribu tahun yang lalu di kawasan Fertile Crescent di Asia Barat Daya, wilayah yang membentang dari Mesopotamia hingga Sungai Nil di Afrika. Kawasan ini dikenal sebagai “cradle of civilization” dan merupakan tempat lahirnya sistem tulisan sekitar sebelum 3000 SM (Murray, Stuart A.P.). Arsip-arsip tersebut terutama terdiri atas catatan transaksi komersial atau inventaris, dan keberadaannya menandai peralihan dari masa prasejarah ke masa sejarah.[19][20]

Kondisi yang serupa juga ditemukan dalam arsip pemerintahan dan kuil di Mesir Kuno yang menggunakan papirus.[21] Arsip pribadi paling awal yang diketahui berasal dari Ugarit; selain berisi surat-menyurat dan inventaris, juga terdapat teks-teks mitologi yang kemungkinan telah distandardisasi sebagai teks praktik untuk pelatihan juru tulis baru.

Lebih dari 30.000 tablet tanah liat dari Perpustakaan Ashurbanipal di Ninewe telah ditemukan,[22] temuan ini memberikan sumber kaya bagi para sarjana modern mengenai karya-karya Mesopotamia dalam bidang sastra, agama, dan administrasi. Di antara temuan tersebut terdapat Enuma Elish, yang juga dikenal sebagai Epos Penciptaan dan menggambarkan pandangan tradisional Babilonia tentang penciptaan,[23] Epic of Gilgamesh,[24] serta berbagai “teks pertanda” (omen texts) termasuk Enuma Anu Enlil yang memuat ramalan terkait bulan (visibilitas, gerhana, dan konjungsi dengan planet serta bintang tetap), matahari (korona, bintik, dan gerhana), cuaca (petir, guntur, dan awan), serta planet-planet dan karakteristik penampakannya.[25] Selain itu, terdapat pula teks astronomi dan astrologi, serta daftar standar yang digunakan oleh juru tulis dan cendekiawan seperti daftar kata, kosakata dwibahasa, daftar tanda, sinonim, dan daftar diagnosis medis.

Tablet-tablet tersebut disimpan dalam berbagai wadah seperti kotak kayu, keranjang anyaman dari alang-alang, atau rak tanah liat. “Perpustakaan” ini juga dikatalogkan menggunakan kolofon, yaitu semacam imprint penerbit pada punggung buku, atau dalam konteks ini pada tablet itu sendiri. Kolofon mencantumkan nama seri, judul tablet, serta informasi tambahan yang diperlukan oleh juru tulis untuk identifikasi. Seiring waktu, tablet-tablet tersebut diorganisasi berdasarkan subjek dan ukuran, namun keterbatasan ruang penyimpanan menyebabkan sebagian tablet lama dikeluarkan dari koleksi, sehingga menjelaskan mengapa sejumlah tablet tidak ditemukan kembali dalam penggalian kota-kota Mesopotamia.[26] Menurut legenda, filsuf mitologis Laozi pernah menjadi penjaga buku di perpustakaan paling awal di Tiongkok yang dimiliki oleh Dinasti Zhou Kekaisaran. Selain itu, bukti berupa katalog yang ditemukan di beberapa perpustakaan kuno yang telah hancur juga menunjukkan adanya keberadaan pustakawan dalam sistem pengelolaan arsip tersebut.[27]

Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Perpustakaan Tanoh Abee sebagai salah satu perpustakaan klasik di Indonesia yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ().[28]

Selanjutnya pada masa penjajahan Belanda juga membangun perpustakaan di Indonesia, misalnya Bataviaasche Genootschap Van Kunstenen en Wetenschappen di Jakarta[29] dan Perpustakaan ITB di Bandung.[30]

Jenis-Jenis Perpustakaan

Dalam Undang-Undang RI No. 43 tahun 2007 Pasal 20 disebutkan bahwa Perpustakaan terdiri atas:

  1. Perpustakaan Nasional
  2. Perpustakaan Umum
  3. Perpustakaan Sekolah/Madrasah
  4. Perpustakaan Perguruan Tinggi
  5. Perpustakaan Khusus.

Lima Perpustakaan Tertua

Jenis Koleksi Bahan Pustaka di Perpustakaan

Referensi

  1. Tine Silvana dan Tati Sumiati. Modul Pembelajaran Mata Kuliah Katalogisasi Deskriptif. Bandung: Kementerian Pendidikan Nasional Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. 2011. hlm. 18.
  2. Sulistyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 1991. hlm. 3.
  3. Rachman Hermawan dan Zulfikar Zen. Etika Kepustakawanan:Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta:Sagung Seto (Anggota Ikapi). 2010. hlm. 7.
  4. Sulistyo Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.
  5. P. Sumardji. Perpustakaan:Organisasi dan Tatakerjanya. Yogyakarta:Kanisius (Anggota Ikapi). 2010. hlm. 11.
  6. Asad M. Alkalali. Kamus Indonesia-Arab. Jakarta: Bulan Bintang (Anggota Ikapi). 1997. hlm. 427.
  7. Sulistyo Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.
  8. Sulistyo Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.
  9. Sulistyo Basuki. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). 1994. hlm. 1.
  10. Asad M. Alkalali. Kamus Indonesia-Arab. Jakarta: Bulan Bintang (Anggota Ikapi). 1997. hlm. 427.
  11. Muljani A. Nurhadi. Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. 1983. hlm. 4.
  12. Michael H. Harris. History of Libraries in the Western World. Londen:The Scarecrow Press. 1984. hlm. 3.
  13. Lionel Casson. Libraries in the Ancient World. Yale University Press. 2002. ISBN 978-0-300-09721-4.
  14. Barbara Krasner-Khait. Survivor: The History of the Library. History Magazine. 2001.
  15. Kathleen Maclay. Clay cuneiform tablets from ancient Mesopotamia to be placed online. University of California, Berkeley. 6 May 2003.
  16. Sidnie White Crawford. The Dead Sea Scrolls at Qumran and the Concept of a Library. BRILL. 2015-10-14. ISBN 978-90-04-30506-9.
  17. ò Lorenzo Vigan. Literary Sources for the History of Palestine and Syria: The Ebla Tablets. The Biblical Archaeologist. 1984-03. Vol. 47 (1). hlm. 6–16. doi:10.2307/3209872.
  18. Hans H. Wellisch. Ebla: The World's Oldest Library. The Journal of Library History (1974-1987). 1981. Vol. 16 (3). hlm. 488–500.
  19. John Morris Roberts. A Short History of the World. Oxford University Press. 1997. ISBN 978-0-19-511504-8.
  20. Colin Renfrew. Prehistory : the making of the human mind. New York : Modern Library, Random House Pub. Group. 2007. ISBN 978-0-679-64097-4.
  21. Barbara Krasner-Khait. Survivor: The History of the Library. History Magazine. 2001.
  22. What was Ashurbanipal's Library? British Museum. www.britishmuseum.org.
  23. "Epic of Creation," dalam Dalley, Stephanie. Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others. Oxford, 1989; hlm. 233–281
  24. "Epic of Gilgamesh," dalam Dalley, Stephanie. Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others. Oxford, 1989; hlm. 50-135
  25. Marc Van de Mieroop. A history of the ancient Near East ca. 3000-323 BC. Chichester, West Sussex, UK : John Wiley & Sons Inc. 2016. hlm. 263. ISBN 978-1-118-71817-9.
  26. Weitemeyer, M. (1956). Archive and Library Technique in Ancient Mesopotamia.
  27. A. K. Mukherjee. Librarianship: Its Philosophy And History. Asia Publishing House. 1966. hlm. 86.
  28. Redaksi. Perpustakaan Kuno Tanoh Abee, Warisan Endatu Yang Melegenda di Nusantara. NOA.co.id. 2022-10-15.
  29. Redaksi. Muasal Perpustakaan Pertama di Indonesia. Seni Budaya Betawi. 2023-05-25.
  30. Sejarah Perpustakaan. Perpustakaan ITB.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29294134 (2026-05-30T16:24:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.