Prinsip Thomsen–Berthelot: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 22444807; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Prinsip Thomsen–Berthelot''', dalam [[termokimia]], merupakan [[hipotesis]] dalam [[sejarah kimia]] yang menyatakan bahwa semua perubahan kimia disertai dengan produksi panas dan bahwa proses di mana hal ini terjadi akan menghasilkan lebih banyak panas. Prinsip ini dirumuskan dalam versi yang sedikit berbeda oleh [[kimiawan]] [[Denmark]] [[Hans Peter Jørgen Julius Thomsen]] pada [[1854]] dan oleh kimiawan [[Prancis]] [[Marcellin Berthelot]] pada [[1864]]. Postulat awal termokimia klasik ini menjadi dasar dari program penelitian kontroversial yang akan berlangsung selama tiga dekade. | '''Prinsip Thomsen–Berthelot''', dalam [[termokimia]], merupakan [[hipotesis]] dalam [[sejarah kimia]] yang menyatakan bahwa semua perubahan kimia disertai dengan produksi panas dan bahwa proses di mana hal ini terjadi akan menghasilkan lebih banyak panas.<ref>William H. Cropper. [https://books.google.com/books?id=UqbxZpELwHYC&pg=PA128 Great Physicists: The Life and Times of Leading Physicists from Galileo to Hawking]. Oxford University Press. 2004. hlm. 128–. ISBN 978-0-19-517324-6.</ref> Prinsip ini dirumuskan dalam versi yang sedikit berbeda oleh [[kimiawan]] [[Denmark]] [[Hans Peter Jørgen Julius Thomsen]] pada [[1854]] dan oleh kimiawan [[Prancis]] [[Marcellin Berthelot]] pada [[1864]]. Postulat awal termokimia klasik ini menjadi dasar dari program penelitian kontroversial yang akan berlangsung selama tiga dekade. | ||
Prinsip ini kemudian dihubungkan dengan apa yang disebut ''teori afinitas termal'', yang mendalilkan bahwa panas yang berkembang dalam reaksi kimia adalah ukuran sebenarnya dari afinitasnya. Hipotesis ini kemudian dibantah, tetapi, ketika pada [[1882]] [[ilmuwan]] [[Jerman]] [[Hermann von Helmholtz]] membuktikan bahwa afinitas tidak diberikan oleh panas yang dikembangkan dalam reaksi kimia, melainkan oleh kerja maksimum, atau energi bebas, yang dihasilkan ketika reaksi dilakukan, secara reversibel. | Prinsip ini kemudian dihubungkan dengan apa yang disebut ''teori afinitas termal'', yang mendalilkan bahwa panas yang berkembang dalam reaksi kimia adalah ukuran sebenarnya dari afinitasnya. Hipotesis ini kemudian dibantah, tetapi, ketika pada [[1882]] [[ilmuwan]] [[Jerman]] [[Hermann von Helmholtz]] membuktikan bahwa afinitas tidak diberikan oleh panas yang dikembangkan dalam reaksi kimia, melainkan oleh kerja maksimum, atau energi bebas, yang dihasilkan ketika reaksi dilakukan, secara reversibel. | ||
==Referensi== | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prinsip+Thomsen%E2%80%93Berthelot&oldid=22444807 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 22444807 (2022-12-22T21:36:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prinsip+Thomsen%E2%80%93Berthelot&oldid=22444807 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 22444807 (2022-12-22T21:36:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 23.12
Prinsip Thomsen–Berthelot, dalam termokimia, merupakan hipotesis dalam sejarah kimia yang menyatakan bahwa semua perubahan kimia disertai dengan produksi panas dan bahwa proses di mana hal ini terjadi akan menghasilkan lebih banyak panas.[1] Prinsip ini dirumuskan dalam versi yang sedikit berbeda oleh kimiawan Denmark Hans Peter Jørgen Julius Thomsen pada 1854 dan oleh kimiawan Prancis Marcellin Berthelot pada 1864. Postulat awal termokimia klasik ini menjadi dasar dari program penelitian kontroversial yang akan berlangsung selama tiga dekade.
Prinsip ini kemudian dihubungkan dengan apa yang disebut teori afinitas termal, yang mendalilkan bahwa panas yang berkembang dalam reaksi kimia adalah ukuran sebenarnya dari afinitasnya. Hipotesis ini kemudian dibantah, tetapi, ketika pada 1882 ilmuwan Jerman Hermann von Helmholtz membuktikan bahwa afinitas tidak diberikan oleh panas yang dikembangkan dalam reaksi kimia, melainkan oleh kerja maksimum, atau energi bebas, yang dihasilkan ketika reaksi dilakukan, secara reversibel.
Referensi
- ↑ William H. Cropper. Great Physicists: The Life and Times of Leading Physicists from Galileo to Hawking. Oxford University Press. 2004. hlm. 128–. ISBN 978-0-19-517324-6.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 22444807 (2022-12-22T21:36:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.