Pancawara: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28997020; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan, satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Sementara dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran. Nama-nama hari dalam sistem pancawara (pasaran) ini adalah: [[pahing]]–[[pon]]–[[wage]]–[[kliwon]]–[[legi]]<sup>1</sup>/[[umanis]]<sup>2</sup>. Kombinasi dari keduanya akan membentuk siklus 35 hari (bahasa Jawa: selapan dina) yaitu 7 x 5 hari (lihat [[hari pasaran]]) | Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan, satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Sementara dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran. Nama-nama hari dalam sistem pancawara (pasaran) ini adalah: [[pahing]]–[[pon]]–[[wage]]–[[kliwon]]–[[legi]]<sup>1</sup>/[[umanis]]<sup>2</sup>. Kombinasi dari keduanya akan membentuk siklus 35 hari (bahasa Jawa: selapan dina) yaitu 7 x 5 hari (lihat [[hari pasaran]]) | ||
Di wilayah Jawa, tiap hari dan tanggal dalam sistem kalender saat ini selalu mempunyai dua macam nama hari dari siklus 35 hari tersebut. Misalnya 1 Januari 2001 adalah hari Senin - Paing, berikutnya tanggal 2 Januari 2001 adalah hari Selasa - Pon, kemudian diikuti hari Rabu - Wage, disusul hari Kamis - Kliwon, Jumat - Legi, Sabtu - Paing, Minggu - Pon, Senin - Wage, Selasa - Kliwon, dan seterusnya. Kombinasi dua macam hari ini sampai sekarang masih dipakai dalam penerbitan surat kabar berbahasa Jawa, seperti harian [[Kedaulatan Rakyat]] yang terbit di kota [[Yogyakarta]], misalnya. Selain dari itu, sebagai contoh lain, setiap hari Kamis Pahing (misalnya pada tanggal 4 Des 2014, ..., 28 Agust 2025, 2 Okt 2025, dan 6 Nov 2025) merupakan hari pada saat seluruh pedagang di 31 pasar tradisional sekota [[Yogyakarta]] disarankan untuk menggunakan pakaian tradisional sebagai seragam mereka dalam melayani pembeli, seperti yang terjadi di Pasar Talok yang ada di Gendeng [[Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta]]. | Di wilayah Jawa, tiap hari dan tanggal dalam sistem kalender saat ini selalu mempunyai dua macam nama hari dari siklus 35 hari tersebut. Misalnya 1 Januari 2001 adalah hari Senin - Paing, berikutnya tanggal 2 Januari 2001 adalah hari Selasa - Pon, kemudian diikuti hari Rabu - Wage, disusul hari Kamis - Kliwon, Jumat - Legi, Sabtu - Paing, Minggu - Pon, Senin - Wage, Selasa - Kliwon, dan seterusnya. Kombinasi dua macam hari ini sampai sekarang masih dipakai dalam penerbitan surat kabar berbahasa Jawa, seperti harian [[Kedaulatan Rakyat]] yang terbit di kota [[Yogyakarta]], misalnya. Selain dari itu, sebagai contoh lain, setiap hari Kamis Pahing (misalnya pada tanggal 4 Des 2014, ..., 28 Agust 2025, 2 Okt 2025, dan 6 Nov 2025) merupakan hari pada saat seluruh pedagang di 31 pasar tradisional sekota [[Yogyakarta]] disarankan untuk menggunakan pakaian tradisional sebagai seragam mereka dalam melayani pembeli, seperti yang terjadi di Pasar Talok yang ada di Gendeng [[Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta]].<ref>[https://warta.jogjakota.go.id/detail/index/3946 Seluruh Pedagang Pasar Tradisonal Se Kota Yogya Kenakan Pakaian Tradisional Tiap Kamis Pahing]. ''warta.jogjakota.go.id''.</ref> | ||
== Hari Nepton/Neptu == | == Hari Nepton/Neptu == | ||
| Baris 23: | Baris 23: | ||
Seperti disebutkan di atas, tanggal 1 Januari 2001 (awal [[abad]] ke-21 dan awal [[alaf]] ke-3) adalah hari Senin-Paing, dan mempunyai bobot/neptu angka 13, karena Senin = 4 + Paing = 9. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. | Seperti disebutkan di atas, tanggal 1 Januari 2001 (awal [[abad]] ke-21 dan awal [[alaf]] ke-3) adalah hari Senin-Paing, dan mempunyai bobot/neptu angka 13, karena Senin = 4 + Paing = 9. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 35: | Baris 32: | ||
* [https://hgunarto.github.io/neptu.html Situs untuk menghitung/menentukan hari pasaran dalam kalender Jawa] | * [https://hgunarto.github.io/neptu.html Situs untuk menghitung/menentukan hari pasaran dalam kalender Jawa] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pancawara&oldid=28997020 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28997020 (2026-02-27T11:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pancawara&oldid=28997020 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28997020 (2026-02-27T11:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 03.56
Pancawara adalah periode satu pekan atau satu minggu yang terdiri dari 5 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Sehingga Pancawara ini merupakan siklus lima hari dalam kalender Jawa, terdiri dari: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pancawara juga sering disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa karena beberapa pasar tradisional hanya buka pada hari tertentu saja misalkan Pasar Legi, Pasar Pahing,Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Kliwon, Surakarta yang buka pada hari pasaran di hari Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon saja dalam satu minggu kalender Jawa (siklus 5 hari).
Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan, satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Sementara dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran. Nama-nama hari dalam sistem pancawara (pasaran) ini adalah: pahing–pon–wage–kliwon–legi1/umanis2. Kombinasi dari keduanya akan membentuk siklus 35 hari (bahasa Jawa: selapan dina) yaitu 7 x 5 hari (lihat hari pasaran)
Di wilayah Jawa, tiap hari dan tanggal dalam sistem kalender saat ini selalu mempunyai dua macam nama hari dari siklus 35 hari tersebut. Misalnya 1 Januari 2001 adalah hari Senin - Paing, berikutnya tanggal 2 Januari 2001 adalah hari Selasa - Pon, kemudian diikuti hari Rabu - Wage, disusul hari Kamis - Kliwon, Jumat - Legi, Sabtu - Paing, Minggu - Pon, Senin - Wage, Selasa - Kliwon, dan seterusnya. Kombinasi dua macam hari ini sampai sekarang masih dipakai dalam penerbitan surat kabar berbahasa Jawa, seperti harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di kota Yogyakarta, misalnya. Selain dari itu, sebagai contoh lain, setiap hari Kamis Pahing (misalnya pada tanggal 4 Des 2014, ..., 28 Agust 2025, 2 Okt 2025, dan 6 Nov 2025) merupakan hari pada saat seluruh pedagang di 31 pasar tradisional sekota Yogyakarta disarankan untuk menggunakan pakaian tradisional sebagai seragam mereka dalam melayani pembeli, seperti yang terjadi di Pasar Talok yang ada di Gendeng Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.[1]
Hari Nepton/Neptu
Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neptu, misalnya:
- Paing mempunyai bobot/neptu angka 9
- Pon mempunyai bobot/neptu angka 7
- Wage mempunyai bobot/neptu angka 4
- Kliwon mempunyai bobot/neptu angka 8, dan
- Legi mempunyai bobot/neptu angka 5.
Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb:
- Senin mempunyai bobot/neptu angka 4
- Selasa mempunyai bobot/neptu angka 3
- Rabu mempunyai bobot/neptu angka 7
- Kamis mempunyai bobot/neptu angka 8
- Jumat mempunyai bobot/neptu angka 6
- Sabtu mempunyai bobot/neptu angka 9, dan
- Ahad/Minggu mempunyai bobot/neptu angka 5.
Seperti disebutkan di atas, tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing, dan mempunyai bobot/neptu angka 13, karena Senin = 4 + Paing = 9. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa.
Lihat pula
Pranala luar
Referensi
- ↑ Seluruh Pedagang Pasar Tradisonal Se Kota Yogya Kenakan Pakaian Tradisional Tiap Kamis Pahing. warta.jogjakota.go.id.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28997020 (2026-02-27T11:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.