Lompat ke isi

Osilasi Madden–Julian: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29573653; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Osilasi Madden–Julian''' (OMJ) atau '''''Madden–Julian Oscillation''''' ('''MJO''') merupakan elemen variabilitas intramusiman terbesar (berkisar antara 30 hingga 90 hari) pada kondisi atmosfer kawasan [[tropis]].
'''Osilasi Madden–Julian''' (OMJ) atau '''''Madden–Julian Oscillation''''' ('''MJO''') merupakan elemen variabilitas intramusiman terbesar (berkisar antara 30 hingga 90 hari) pada kondisi atmosfer kawasan [[tropis]].  


OMJ diketahui dan diidentifikasi pada tahun 1971 oleh [[Roland Madden]] dan [[Paul Julian]] dari American [[National Center for Atmospheric Research]] (NCAR). Osilasi ini merupakan sebuah fenomena kopling atau gabungan sirkulasi atmosfer dalam skala besar yang menghubungkan sirkulasi atmosfer dengan [[konveksi dalam]] pada iklim tropis.
OMJ diketahui dan diidentifikasi pada tahun 1971 oleh [[Roland Madden]] dan [[Paul Julian]] dari American [[National Center for Atmospheric Research]] (NCAR). Osilasi ini merupakan sebuah fenomena kopling atau gabungan sirkulasi atmosfer dalam skala besar yang menghubungkan sirkulasi atmosfer dengan [[konveksi dalam]] pada iklim tropis.<ref>Chidong Zhang. [https://dx.doi.org/10.1029/2004RG000158 Madden-Julian Oscillation]. 2005.</ref><ref>[http://envam1.env.uea.ac.uk/mjo.html Madden-Julian oscillation forecast research]. University of East Anglia.</ref>


Berbeda halnya dengan [[El Niño–Osilasi Selatan]] (ENSO) yang cenderung statis di satu wilayah memori samudra, osilasi Madden-Julian merupakan pola perpindahan gangguan cuaca yang menyebar dan merambat ke arah timur mengelilingi bola dunia dengan kecepatan sekitar 4 hingga 8 m/s (14 hingga 29 km/jam, 9 hingga 18 mph), melalui atmosfer di atas bagian hangat dari [[Samudra Hindia]] dan [[Samudra Pasifik]]. Pola sirkulasi keseluruhan ini mengejawantahkan dirinya dengan jelas di alam sebagai indikator bervariasinya tingkat [[curah hujan]] yang tidak normal.
Berbeda halnya dengan [[El Niño–Osilasi Selatan]] (ENSO) yang cenderung statis di satu wilayah memori samudra, osilasi Madden-Julian merupakan pola perpindahan gangguan cuaca yang menyebar dan merambat ke arah timur mengelilingi bola dunia dengan kecepatan sekitar 4 hingga 8 m/s (14 hingga 29 km/jam, 9 hingga 18 mph), melalui atmosfer di atas bagian hangat dari [[Samudra Hindia]] dan [[Samudra Pasifik]]. Pola sirkulasi keseluruhan ini mengejawantahkan dirinya dengan jelas di alam sebagai indikator bervariasinya tingkat [[curah hujan]] yang tidak normal.


== Karakteristik perambatan dan siklus ==
== Karakteristik perambatan dan siklus ==
Osilasi Madden–Julian ditandai dengan perkembangan ke arah timur dari wilayah besar yang memuat dua fase kondisi cuaca tropis secara bergantian, yaitu wilayah yang curah hujannya ditingkatkan (fase basah) dan wilayah yang curah hujannya ditekan (fase kering), yang khususnya diamati di atas Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Osilasi Madden–Julian ditandai dengan perkembangan ke arah timur dari wilayah besar yang memuat dua fase kondisi cuaca tropis secara bergantian, yaitu wilayah yang curah hujannya ditingkatkan (fase basah) dan wilayah yang curah hujannya ditekan (fase kering), yang khususnya diamati di atas Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.  


Curah hujan yang tidak normal ini biasanya pertama kali terlihat di Samudra Hindia bagian barat, dan tetap berpengaruh nyata karena merambat di perairan Samudra Pasifik barat dan tengah yang sangat hangat. Pola curah hujan tropis ini kemudian menjadi tidak signifikan atau meluruh ketika bergerak di atas perairan samudra yang lebih dingin di bagian Pasifik timur (kecuali di wilayah perairan yang lebih hangat di lepas pantai barat [[Amerika Tengah]]). Namun, gelombang atmosfer ini kadang-kadang dapat muncul kembali pada amplitudo rendah di atas Atlantik tropis dan muncul dengan amplitudo yang lebih tinggi saat kembali ke Samudra Hindia.
Curah hujan yang tidak normal ini biasanya pertama kali terlihat di Samudra Hindia bagian barat, dan tetap berpengaruh nyata karena merambat di perairan Samudra Pasifik barat dan tengah yang sangat hangat. Pola curah hujan tropis ini kemudian menjadi tidak signifikan atau meluruh ketika bergerak di atas perairan samudra yang lebih dingin di bagian Pasifik timur (kecuali di wilayah perairan yang lebih hangat di lepas pantai barat [[Amerika Tengah]]). Namun, gelombang atmosfer ini kadang-kadang dapat muncul kembali pada amplitudo rendah di atas Atlantik tropis dan muncul dengan amplitudo yang lebih tinggi saat kembali ke Samudra Hindia.  


Fase basah akibat peningkatan [[konveksi]] dan [[curah hujan]] diikuti oleh fase kering di mana aktivitas [[badai petir]] ditekan. Setiap siklus penuh konveksi ini berlangsung sekitar 30–60 hari. Karena polanya yang teratur secara periodik seperti ini, osilasi Madden–Julian juga populer dikenal dalam dunia [[meteorologi]] sebagai '''osilasi 30 - 60 hari''', '''gelombang 30 - 60 hari''', atau '''osilasi intramusiman'''.
Fase basah akibat peningkatan [[konveksi]] dan [[curah hujan]] diikuti oleh fase kering di mana aktivitas [[badai petir]] ditekan. Setiap siklus penuh konveksi ini berlangsung sekitar 30–60 hari. Karena polanya yang teratur secara periodik seperti ini, osilasi Madden–Julian juga populer dikenal dalam dunia [[meteorologi]] sebagai '''osilasi 30 - 60 hari''', '''gelombang 30 - 60 hari''', atau '''osilasi intramusiman'''.


== Delapan fase geografis (Indeks Wheeler-Hendon) ==
== Delapan fase geografis (Indeks Wheeler-Hendon) ==
Untuk memantau pergerakan MJO secara global, para ilmuwan menggunakan indeks khusus yang membagi posisi pusat konveksi aktif (fase basah) MJO ke dalam 8 fase wilayah geografis di sepanjang garis khatulistiwa:
Untuk memantau pergerakan MJO secara global, para ilmuwan menggunakan indeks khusus yang membagi posisi pusat konveksi aktif (fase basah) MJO ke dalam 8 fase wilayah geografis di sepanjang garis khatulistiwa:<ref>Matthew T. Wheeler. [https://archive.org/details/sim_monthly-weather-review_2004-08_132_8/page/1917 An All-Season Real-Time Multivariate MJO Index: Development of an Index for Monitoring and Prediction]. ''Monthly Weather Review''. 2004. Vol. 132 (8). hlm. 1917–1932. doi:10.1175/1520-0493(2004)132 2.0.CO;2.</ref>


{| class="wikitable"
|-
! Fase MJO !! Lokasi Geografis Pusat Aktivitas Konveksi (Fase Basah)
|-
| '''Fase 1''' || Samudra Hindia bagian barat / Benua Afrika bagian timur
|-
| '''Fase 2''' || Samudra Hindia bagian tengah
|-
| '''Fase 3''' || Samudra Hindia bagian timur (mendekati wilayah Sumatera)
|-
| '''Fase 4''' || Kawasan '''Benua Maritim''' bagian barat (wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan)
|-
| '''Fase 5''' || Kawasan '''Benua Maritim''' bagian timur (wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua)
|-
| '''Fase 6''' || Samudra Pasifik bagian barat
|-
| '''Fase 7''' || Samudra Pasifik bagian tengah
|-
| '''Fase 8''' || Belahan Bumi Barat (Samudra Pasifik bagian timur dan Atlantik)
|}


== Dampak cuaca ekstrem di Indonesia ==
== Dampak cuaca ekstrem di Indonesia ==
Sebagai wilayah kepulauan luas yang berada tepat di jalur Fase 4 dan Fase 5, Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergerakan MJO. Ketika gangguan atmosfer MJO berada dalam fase aktif di atas Indonesia, [[uap air]] dalam jumlah raksasa akan terangkat ke atmosfer, memicu pertumbuhan awan [[Kumulonimbus]] yang masif.
Sebagai wilayah kepulauan luas yang berada tepat di jalur Fase 4 dan Fase 5, Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergerakan MJO. Ketika gangguan atmosfer MJO berada dalam fase aktif di atas Indonesia, [[uap air]] dalam jumlah raksasa akan terangkat ke atmosfer, memicu pertumbuhan awan [[Kumulonimbus]] yang masif.  


Kondisi ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem secara signifikan, berupa hujan lebat yang bertahan berhari-hari disertai angin kencang, yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti [[banjir]] bandang, [[tanah longsor]], dan gelombang tinggi. Sebaliknya, ketika MJO berada pada fase konveksi tertekan (fase kering) di atas wilayah Indonesia, cuaca akan menjadi sangat terik dan curah hujan menurun drastis di bawah normal.
Kondisi ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem secara signifikan, berupa hujan lebat yang bertahan berhari-hari disertai angin kencang, yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti [[banjir]] bandang, [[tanah longsor]], dan gelombang tinggi. Sebaliknya, ketika MJO berada pada fase konveksi tertekan (fase kering) di atas wilayah Indonesia, cuaca akan menjadi sangat terik dan curah hujan menurun drastis di bawah normal.
Baris 26: Baris 46:
* [[El Niño–Osilasi Selatan]]
* [[El Niño–Osilasi Selatan]]
* [[Badai petir]]
* [[Badai petir]]
== Referensi ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
*  [http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/daily_mjo_index/mjo_index.html Pemantauan Indeks Harian Osilasi Madden–Julian di NWS Climate Prediction Center NOAA]
*  [http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/daily_mjo_index/mjo_index.html Pemantauan Indeks Harian Osilasi Madden–Julian di NWS Climate Prediction Center NOAA]
*  [http://www.apsru.gov.au/mjo/ Halaman Utama MJO di Agricultural Production Systems Research Unit]
*  [http://www.apsru.gov.au/mjo/ Halaman Utama MJO di Agricultural Production Systems Research Unit]  
*  [http://www.cdc.noaa.gov/spotlight/08012001/index.html Pengaruh Variasi Intramusiman Konveksi Tropis pada Suhu Permukaan Laut Saat Awal Fenomena El Niño 1997–1998; NOAA-CIRES]
*  [http://www.cdc.noaa.gov/spotlight/08012001/index.html Pengaruh Variasi Intramusiman Konveksi Tropis pada Suhu Permukaan Laut Saat Awal Fenomena El Niño 1997–1998; NOAA-CIRES]
*  [https://journals.ametsoc.org/view/journals/clim/19/22/jcli3735.1.xml Lin et al.: Variabilitas Intramusiman Tropis dalam 14 Model Iklim IPCC AR4. Bagian I: Sinyal Konvektif; Journal of Climate]
*  [https://journals.ametsoc.org/view/journals/clim/19/22/jcli3735.1.xml Lin et al.: Variabilitas Intramusiman Tropis dalam 14 Model Iklim IPCC AR4. Bagian I: Sinyal Konvektif; Journal of Climate]
Baris 39: Baris 55:
*  [https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1029/2006JD007289 Variasi Aktivitas Siklon Tropis di Samudra Hindia Selatan: Efek El Niño–Osilasi Selatan dan Osilasi Madden–Julian; Journal of Geophysical Research]
*  [https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1029/2006JD007289 Variasi Aktivitas Siklon Tropis di Samudra Hindia Selatan: Efek El Niño–Osilasi Selatan dan Osilasi Madden–Julian; Journal of Geophysical Research]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Osilasi+Madden%E2%80%93Julian&oldid=29573653 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29573653 (2026-08-13T22:26:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Osilasi+Madden%E2%80%93Julian&oldid=29573653 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29573653 (2026-08-13T22:26:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.00

Osilasi Madden–Julian (OMJ) atau Madden–Julian Oscillation (MJO) merupakan elemen variabilitas intramusiman terbesar (berkisar antara 30 hingga 90 hari) pada kondisi atmosfer kawasan tropis.

OMJ diketahui dan diidentifikasi pada tahun 1971 oleh Roland Madden dan Paul Julian dari American National Center for Atmospheric Research (NCAR). Osilasi ini merupakan sebuah fenomena kopling atau gabungan sirkulasi atmosfer dalam skala besar yang menghubungkan sirkulasi atmosfer dengan konveksi dalam pada iklim tropis.[1][2]

Berbeda halnya dengan El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) yang cenderung statis di satu wilayah memori samudra, osilasi Madden-Julian merupakan pola perpindahan gangguan cuaca yang menyebar dan merambat ke arah timur mengelilingi bola dunia dengan kecepatan sekitar 4 hingga 8 m/s (14 hingga 29 km/jam, 9 hingga 18 mph), melalui atmosfer di atas bagian hangat dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Pola sirkulasi keseluruhan ini mengejawantahkan dirinya dengan jelas di alam sebagai indikator bervariasinya tingkat curah hujan yang tidak normal.

Karakteristik perambatan dan siklus

Osilasi Madden–Julian ditandai dengan perkembangan ke arah timur dari wilayah besar yang memuat dua fase kondisi cuaca tropis secara bergantian, yaitu wilayah yang curah hujannya ditingkatkan (fase basah) dan wilayah yang curah hujannya ditekan (fase kering), yang khususnya diamati di atas Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Curah hujan yang tidak normal ini biasanya pertama kali terlihat di Samudra Hindia bagian barat, dan tetap berpengaruh nyata karena merambat di perairan Samudra Pasifik barat dan tengah yang sangat hangat. Pola curah hujan tropis ini kemudian menjadi tidak signifikan atau meluruh ketika bergerak di atas perairan samudra yang lebih dingin di bagian Pasifik timur (kecuali di wilayah perairan yang lebih hangat di lepas pantai barat Amerika Tengah). Namun, gelombang atmosfer ini kadang-kadang dapat muncul kembali pada amplitudo rendah di atas Atlantik tropis dan muncul dengan amplitudo yang lebih tinggi saat kembali ke Samudra Hindia.

Fase basah akibat peningkatan konveksi dan curah hujan diikuti oleh fase kering di mana aktivitas badai petir ditekan. Setiap siklus penuh konveksi ini berlangsung sekitar 30–60 hari. Karena polanya yang teratur secara periodik seperti ini, osilasi Madden–Julian juga populer dikenal dalam dunia meteorologi sebagai osilasi 30 - 60 hari, gelombang 30 - 60 hari, atau osilasi intramusiman.

Delapan fase geografis (Indeks Wheeler-Hendon)

Untuk memantau pergerakan MJO secara global, para ilmuwan menggunakan indeks khusus yang membagi posisi pusat konveksi aktif (fase basah) MJO ke dalam 8 fase wilayah geografis di sepanjang garis khatulistiwa:[3]

Fase MJO Lokasi Geografis Pusat Aktivitas Konveksi (Fase Basah)
Fase 1 Samudra Hindia bagian barat / Benua Afrika bagian timur
Fase 2 Samudra Hindia bagian tengah
Fase 3 Samudra Hindia bagian timur (mendekati wilayah Sumatera)
Fase 4 Kawasan Benua Maritim bagian barat (wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan)
Fase 5 Kawasan Benua Maritim bagian timur (wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua)
Fase 6 Samudra Pasifik bagian barat
Fase 7 Samudra Pasifik bagian tengah
Fase 8 Belahan Bumi Barat (Samudra Pasifik bagian timur dan Atlantik)

Dampak cuaca ekstrem di Indonesia

Sebagai wilayah kepulauan luas yang berada tepat di jalur Fase 4 dan Fase 5, Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergerakan MJO. Ketika gangguan atmosfer MJO berada dalam fase aktif di atas Indonesia, uap air dalam jumlah raksasa akan terangkat ke atmosfer, memicu pertumbuhan awan Kumulonimbus yang masif.

Kondisi ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem secara signifikan, berupa hujan lebat yang bertahan berhari-hari disertai angin kencang, yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang tinggi. Sebaliknya, ketika MJO berada pada fase konveksi tertekan (fase kering) di atas wilayah Indonesia, cuaca akan menjadi sangat terik dan curah hujan menurun drastis di bawah normal.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Chidong Zhang. Madden-Julian Oscillation. 2005.
  2. Madden-Julian oscillation forecast research. University of East Anglia.
  3. Matthew T. Wheeler. An All-Season Real-Time Multivariate MJO Index: Development of an Index for Monitoring and Prediction. Monthly Weather Review. 2004. Vol. 132 (8). hlm. 1917–1932. doi:10.1175/1520-0493(2004)132 2.0.CO;2.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29573653 (2026-08-13T22:26:29Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.