Lompat ke isi

Aturan Ostwald: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29490873; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[teknik material]], '''aturan Ostwald''' atau '''aturan tahapan Ostwald''', yang dikemukakan oleh [[Wilhelm Ostwald]], menjelaskan proses pembentukan [[polimorf]]. Aturan ini menyatakan bahwa polimorf yang kurang [[stabilitas kimia|stabil]] umumnya akan mengkristal terlebih dahulu. Polimorf tersebut juga sering kali merupakan fase yang paling mudah [[kelarutan|larut]]. Aturan Ostwald bukanlah hukum yang berlaku secara universal, melainkan kecenderungan umum yang sering diamati di alam.
Dalam [[teknik material]], '''aturan Ostwald''' atau '''aturan tahapan Ostwald''', yang dikemukakan oleh [[Wilhelm Ostwald]],<ref>W. Ostwald. ''Studien über die Bildung und Umwandlung fester Körper 1. Abhandlung: Übersättigung und Überkaltung''. ''Zeitschrift für Physikalische Chemie''. 1897. Vol. 22U (1). hlm. 289–330. doi:10.1515/zpch-1897-2233.</ref> menjelaskan proses pembentukan [[polimorf]]. Aturan ini menyatakan bahwa polimorf yang kurang [[stabilitas kimia|stabil]] umumnya akan mengkristal terlebih dahulu.<ref>R. A. Van Stanten. [https://pure.tue.nl/ws/files/1957949/591388.pdf The Ostwald step rule]. ''Journal of Physical Chemistry''. 1 November 1984. Vol. 88 (24). hlm. 5768–6769. doi:10.1021/j150668a002.</ref> Polimorf tersebut juga sering kali merupakan fase yang paling mudah [[kelarutan|larut]]. Aturan Ostwald bukanlah hukum yang berlaku secara universal, melainkan kecenderungan umum yang sering diamati di alam.<ref>T. Threlfall. ''Structural and thermodynamic explanations of Ostwald's Rule''. ''Organic Process Research & Development''. 2003. Vol. 7 (6). hlm. 1017–1027. doi:10.1021/op030026l.</ref>


Fenomena ini dapat dijelaskan berdasarkan [[termodinamika]] ireversibel, hubungan struktural antarfase, atau melalui gabungan [[Mekanika statistika|termodinamika statistika]] dan perubahan struktur akibat pengaruh suhu. Polimorf yang kurang stabil umumnya memiliki struktur yang lebih menyerupai keadaan zat di dalam larutan, sehingga pembentukannya [[Metastabilitas#Fisika dan termodinamika statistika|lebih diuntungkan secara kinetik]].
Fenomena ini dapat dijelaskan berdasarkan [[termodinamika]] ireversibel, hubungan struktural antarfase, atau melalui gabungan [[Mekanika statistika|termodinamika statistika]] dan perubahan struktur akibat pengaruh suhu. Polimorf yang kurang stabil umumnya memiliki struktur yang lebih menyerupai keadaan zat di dalam larutan, sehingga pembentukannya [[Metastabilitas#Fisika dan termodinamika statistika|lebih diuntungkan secara kinetik]].


Sebagai contoh, pada proses kristalisasi [[benzamida]] dari air panas, mula-mula terbentuk kristal [[Metastabilitas|metastabil]] berbentuk serat. Seiring waktu, kristal tersebut secara spontan berubah menjadi polimorf rombus yang lebih stabil. Contoh lain yang lebih mencolok adalah [[fosforus]]. Ketika mengalami sublimasi, fosforus pertama kali membentuk [[fosforus putih]], yang kurang stabil. Selanjutnya, fosforus putih secara perlahan mengalami [[polimerisasi]] menjadi [[Alotropi|alotrop]] [[fosforus merah|merah]] yang lebih stabil. Fenomena serupa juga terjadi pada polimorf [[anatase]] dari [[titanium dioksida]]. Karena memiliki [[energi permukaan]] yang lebih rendah, anatase umumnya menjadi fase pertama yang terbentuk melalui kristalisasi dari prekursor amorf maupun dari larutan, meskipun bersifat metastabil. Sebaliknya, [[rutil]] merupakan fase kesetimbangan yang stabil pada semua suhu dan tekanan.
Sebagai contoh, pada proses kristalisasi [[benzamida]] dari air panas, mula-mula terbentuk kristal [[Metastabilitas|metastabil]] berbentuk serat. Seiring waktu, kristal tersebut secara spontan berubah menjadi polimorf rombus yang lebih stabil. Contoh lain yang lebih mencolok adalah [[fosforus]]. Ketika mengalami sublimasi, fosforus pertama kali membentuk [[fosforus putih]], yang kurang stabil. Selanjutnya, fosforus putih secara perlahan mengalami [[polimerisasi]] menjadi [[Alotropi|alotrop]] [[fosforus merah|merah]] yang lebih stabil. Fenomena serupa juga terjadi pada polimorf [[anatase]] dari [[titanium dioksida]]. Karena memiliki [[energi permukaan]] yang lebih rendah, anatase umumnya menjadi fase pertama yang terbentuk melalui kristalisasi dari prekursor amorf maupun dari larutan, meskipun bersifat metastabil. Sebaliknya, [[rutil]] merupakan fase kesetimbangan yang stabil pada semua suhu dan tekanan.<ref>Dorian A. H. Hanaor. ''Review of the anatase to rutile phase transformation''. ''Journal of Materials Science''. 2011-02-01. Vol. 46 (4). hlm. 855–874. doi:10.1007/s10853-010-5113-0.</ref>


Pada [[reaksi pengendapan|pengendapan]] [[kalsium karbonat]] () dari [[larutan berair]], mula-mula terbentuk [[sistem koloid|koloid]] [[Sol (kloid)|sol]] atau [[gel]] yang tidak stabil sebagai [[Suspensi|suspensi berair]]. Pada suhu kamar, fase tersebut berkembang menjadi [[vaterit]] ([[segi enam|heksagonal]]), yaitu polimorf  yang paling kurang stabil dan paling mudah larut. Selanjutnya, bergantung pada suhu larutan, vaterit akan berubah menjadi [[kalsit]] (heksagonal,  atau [[aragonit]] ([[Sistem kristal ortorombik|ortorombik]],  .
Pada [[reaksi pengendapan|pengendapan]] [[kalsium karbonat]] () dari [[larutan berair]], mula-mula terbentuk [[sistem koloid|koloid]] [[Sol (kloid)|sol]] atau [[gel]] yang tidak stabil sebagai [[Suspensi|suspensi berair]]. Pada suhu kamar, fase tersebut berkembang menjadi [[vaterit]] ([[segi enam|heksagonal]]), yaitu polimorf  yang paling kurang stabil dan paling mudah larut. Selanjutnya, bergantung pada suhu larutan, vaterit akan berubah menjadi [[kalsit]] (heksagonal,  atau [[aragonit]] ([[Sistem kristal ortorombik|ortorombik]],  .<ref>John L. Wray. [https://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/ja01566a001 Precipitation of calcite and aragonite]. ''Journal of the American Chemical Society''. 1957. Vol. 79 (9). hlm. 2031–2034. doi:10.1021/ja01566a001.</ref>
==Lihat pula==
==Lihat pula==
* [[Kristalografi kimia sebelum sinar-X#Polimorf|Kristalografi kimia sebelum sinar-X]]
* [[Kristalografi kimia sebelum sinar-X#Polimorf|Kristalografi kimia sebelum sinar-X]]
Baris 13: Baris 13:
* [[Pemeraman Ostwald]]
* [[Pemeraman Ostwald]]
* [[Reaksi pengendapan#Pencernaan dan Penuaan|Pencernaan dan penuaan endapan]]
* [[Reaksi pengendapan#Pencernaan dan Penuaan|Pencernaan dan penuaan endapan]]
==Referensi==
==Bacaan lebih lanjut==
==Bacaan lebih lanjut==
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aturan+Ostwald&oldid=29490873 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29490873 (2026-07-24T09:44:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aturan+Ostwald&oldid=29490873 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29490873 (2026-07-24T09:44:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.03

Dalam teknik material, aturan Ostwald atau aturan tahapan Ostwald, yang dikemukakan oleh Wilhelm Ostwald,[1] menjelaskan proses pembentukan polimorf. Aturan ini menyatakan bahwa polimorf yang kurang stabil umumnya akan mengkristal terlebih dahulu.[2] Polimorf tersebut juga sering kali merupakan fase yang paling mudah larut. Aturan Ostwald bukanlah hukum yang berlaku secara universal, melainkan kecenderungan umum yang sering diamati di alam.[3]

Fenomena ini dapat dijelaskan berdasarkan termodinamika ireversibel, hubungan struktural antarfase, atau melalui gabungan termodinamika statistika dan perubahan struktur akibat pengaruh suhu. Polimorf yang kurang stabil umumnya memiliki struktur yang lebih menyerupai keadaan zat di dalam larutan, sehingga pembentukannya lebih diuntungkan secara kinetik.

Sebagai contoh, pada proses kristalisasi benzamida dari air panas, mula-mula terbentuk kristal metastabil berbentuk serat. Seiring waktu, kristal tersebut secara spontan berubah menjadi polimorf rombus yang lebih stabil. Contoh lain yang lebih mencolok adalah fosforus. Ketika mengalami sublimasi, fosforus pertama kali membentuk fosforus putih, yang kurang stabil. Selanjutnya, fosforus putih secara perlahan mengalami polimerisasi menjadi alotrop merah yang lebih stabil. Fenomena serupa juga terjadi pada polimorf anatase dari titanium dioksida. Karena memiliki energi permukaan yang lebih rendah, anatase umumnya menjadi fase pertama yang terbentuk melalui kristalisasi dari prekursor amorf maupun dari larutan, meskipun bersifat metastabil. Sebaliknya, rutil merupakan fase kesetimbangan yang stabil pada semua suhu dan tekanan.[4]

Pada pengendapan kalsium karbonat () dari larutan berair, mula-mula terbentuk koloid sol atau gel yang tidak stabil sebagai suspensi berair. Pada suhu kamar, fase tersebut berkembang menjadi vaterit (heksagonal), yaitu polimorf yang paling kurang stabil dan paling mudah larut. Selanjutnya, bergantung pada suhu larutan, vaterit akan berubah menjadi kalsit (heksagonal, atau aragonit (ortorombik, .[5]

Lihat pula

Bacaan lebih lanjut

Referensi

  1. W. Ostwald. Studien über die Bildung und Umwandlung fester Körper 1. Abhandlung: Übersättigung und Überkaltung. Zeitschrift für Physikalische Chemie. 1897. Vol. 22U (1). hlm. 289–330. doi:10.1515/zpch-1897-2233.
  2. R. A. Van Stanten. The Ostwald step rule. Journal of Physical Chemistry. 1 November 1984. Vol. 88 (24). hlm. 5768–6769. doi:10.1021/j150668a002.
  3. T. Threlfall. Structural and thermodynamic explanations of Ostwald's Rule. Organic Process Research & Development. 2003. Vol. 7 (6). hlm. 1017–1027. doi:10.1021/op030026l.
  4. Dorian A. H. Hanaor. Review of the anatase to rutile phase transformation. Journal of Materials Science. 2011-02-01. Vol. 46 (4). hlm. 855–874. doi:10.1007/s10853-010-5113-0.
  5. John L. Wray. Precipitation of calcite and aragonite. Journal of the American Chemical Society. 1957. Vol. 79 (9). hlm. 2031–2034. doi:10.1021/ja01566a001.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29490873 (2026-07-24T09:44:48Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.