Lompat ke isi

Leyand International: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29516315; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''PT Leyand International Tbk''' adalah sebuah [[perusahaan publik]] di [[Indonesia]] () yang bergerak sebagai perusahaan [[investasi]]. Berkantor pusat di [[Panin Tower]] [[Senayan City]], Jl. Asia Afrika, [[Jakarta Pusat]], perusahaan ini tercatat sempat beberapa kali mengganti nama dan usahanya sejak awal berdiri.
'''PT Leyand International Tbk''' adalah sebuah [[perusahaan publik]] di [[Indonesia]] () yang bergerak sebagai perusahaan [[investasi]]. Berkantor pusat di [[Panin Tower]] [[Senayan City]], Jl. Asia Afrika, [[Jakarta Pusat]],<ref>[http://www.leyand.co.id/~file/ar_leyand_2020-d8c80-2474_249.pdf?b Lapkeu LAPD 2020]</ref> perusahaan ini tercatat sempat beberapa kali mengganti nama dan usahanya sejak awal berdiri.


==Manajemen==
==Manajemen==
* Presiden Komisaris: Bobby Alianto
* Presiden Komisaris: Bobby Alianto
* Komisaris: Ferry Hadi Saputra
* Komisaris: Ferry Hadi Saputra
* Direktur Utama: Risming Andyanto
* Direktur Utama: Risming Andyanto
* Direktur: Djoko Purwanto
* Direktur: Djoko Purwanto
* Direktur: Toto Iriyanto
* Direktur: Toto Iriyanto<ref>[https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/profil-perusahaan-tercatat/detail-profile-perusahaan-tercatat/?kodeEmiten=LAPD Detail Profile Perusahaan Tercatat]</ref>


==Kepemilikan==
==Kepemilikan==
*JSI Sinergi Mas: 51%
*JSI Sinergi Mas: 51%
*Publik: 49%
*Publik: 49%<ref>[https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/profil-perusahaan-tercatat/detail-profile-perusahaan-tercatat/?kodeEmiten=LAPD Detail Profile Perusahaan Tercatat]</ref>


==Anak usaha==
==Anak usaha==
* PT Asta Keramasan Energi: Mengoperasikan tiga pembangkit listrik, yaitu PLTD Sicanang dan [[Pembangkit listrik tenaga diesel|PLTD]] Siantan sejak bulan Mei 2008 serta [[PLTG]] Palembang pada paruh awal 2010. Kini, hanya PLTD Sicanang yang aktif, dengan kapasitas 107,3v MW.
* PT Asta Keramasan Energi: Mengoperasikan tiga pembangkit listrik, yaitu PLTD Sicanang dan [[Pembangkit listrik tenaga diesel|PLTD]] Siantan sejak bulan Mei 2008 serta [[PLTG]] Palembang pada paruh awal 2010. Kini, hanya PLTD Sicanang yang aktif, dengan kapasitas 107,3v MW.
* Sumatera Energy Capital Pte. Ltd.
* Sumatera Energy Capital Pte. Ltd.<ref>[http://www.leyand.co.id/~file/ar_leyand_2020-d8c80-2474_249.pdf?b Lapkeu LAPD 2020]</ref>


==Sejarah==
==Sejarah==
===Produsen kantong plastik===
===Produsen kantong plastik===
Cikal-bakal dari perusahaan ini dapat ditarik pada sebuah perusahaan [[kantong plastik]] rumahan yang berada di [[Jakarta Barat]], didirikan pada tahun 1969, yang berbahan dasar [[polipropilena]] (PP) dan [[LDPE]] khusus kebutuhan pengemasan bahan-bahan makanan seperti [[tepung]] dan [[gula]]. Mulai 7 Juni 1990, bisnis ini ditransformasikan dalam sebuah [[perseroan terbatas]] bernama '''PT Lemahabang Perkasa''', didirikan pada 7 Juni 1990 yang memiliki pabrik di [[Cibitung, Bekasi]], [[Jawa Barat]]. Perusahaan ini masih memproduksi plastik, tetapi kali ini menggunakan jenis [[HDPE]] yang berteknologi ''heat seal'' yang diklaim lebih kuat, praktis dan tipis. Sebagai salah satu penyedia pertama, produk PT Lemahabang kemudian mendapat respon yang positif di pasar lokal. PT Lemahabang kemudian memproduksi varian-varian seperti [[jas hujan]], pembungkus roti dan makanan, pembungkus pakaian, kantong sampah, dan lainnya dan menargetkan pasar ekspor, seperti [[Jepang]] dan [[Amerika Serikat]] yang kemudian mencapai 30% dari penjualannya.
Cikal-bakal dari perusahaan ini dapat ditarik pada sebuah perusahaan [[kantong plastik]] rumahan yang berada di [[Jakarta Barat]], didirikan pada tahun 1969, yang berbahan dasar [[polipropilena]] (PP) dan [[LDPE]] khusus kebutuhan pengemasan bahan-bahan makanan seperti [[tepung]] dan [[gula]].<ref>[https://web.archive.org/web/20040327022729fw_/http://www.lapindo.com/id_History.html Sejarah Perseroan]</ref> Mulai 7 Juni 1990, bisnis ini ditransformasikan dalam sebuah [[perseroan terbatas]] bernama '''PT Lemahabang Perkasa''', didirikan pada 7 Juni 1990 yang memiliki pabrik di [[Cibitung, Bekasi]], [[Jawa Barat]].<ref>[http://www.leyand.co.id/~file/ar_leyand_2020-d8c80-2474_249.pdf?b Lapkeu LAPD 2020]</ref><ref>[https://web.archive.org/web/20040327022729fw_/http://www.lapindo.com/id_History.html Sejarah Perseroan]</ref><ref>[https://123dok.com/document/yj7984ky-penerapan-kebangkrutan-altman-lapindo-international-empiris-lapindo-international.html Penerapan "Model Kebangkrutan Altman pada PT Lapindo International Tbk (Suatu Studi Empiris pada PT Lapindo International).]</ref> Perusahaan ini masih memproduksi plastik, tetapi kali ini menggunakan jenis [[HDPE]] yang berteknologi ''heat seal'' yang diklaim lebih kuat, praktis dan tipis. Sebagai salah satu penyedia pertama, produk PT Lemahabang kemudian mendapat respon yang positif di pasar lokal. PT Lemahabang kemudian memproduksi varian-varian seperti [[jas hujan]], pembungkus roti dan makanan, pembungkus pakaian, kantong sampah, dan lainnya dan menargetkan pasar ekspor, seperti [[Jepang]] dan [[Amerika Serikat]] yang kemudian mencapai 30% dari penjualannya.<ref>[https://web.archive.org/web/20040327022729fw_/http://www.lapindo.com/id_History.html Sejarah Perseroan]</ref>


Munculnya [[krisis finansial Asia 1997|krisis moneter pada akhir 1990-an]] sendiri rupanya memberi peluang baru bagi perusahaan ini, seiring munculnya pemain ritel baru. Perusahaan memproduksi ''soft loop handle bag'', ''patch handle bag'', kantong ''roll'', ''star sealed bag'' dan varian lainnya bagi kebutuhan ritel, baik itu [[toko serba ada]], [[supermarket]], restoran, dll. Beberapa konsumennya seperti [[Transmart|Carrefour]], [[Ramayana Lestari Sentosa|Ramayana]] dan [[Hero Supermarket|Hero]]. Sejak 13 Maret 2001, nama perusahaan diganti menjadi '''PT Lapindo Packaging''' (bisa diartikan Lemahabang Perkasa Indonesia Packaging) dan 17 Juli 2001 telah melepas 60 juta sahamnya di [[Bursa Efek Jakarta]] dengan harga penawaran Rp 200/lembar. Kode sahamnya, '''LAPD''' berasal dari singkatan nama perusahaan saat itu. Pasca-[[IPO]], perusahaan mendapatkan penjualan Rp 21 miliar dan keuntungan Rp 1,13 miliar. Kemudian, pada 22 November 2002, nama perusahaan berganti lagi menjadi '''PT Lapindo International Tbk'''. Pada periode ini, perusahaan dibantu oleh sekitar 250 karyawan untuk memenuhi pasar lokal maupun ekspor. Diperkirakan, pada Januari-September 2007, penjualan perusahaan mencapai Rp 40 miliar.
Munculnya [[krisis finansial Asia 1997|krisis moneter pada akhir 1990-an]] sendiri rupanya memberi peluang baru bagi perusahaan ini, seiring munculnya pemain ritel baru. Perusahaan memproduksi ''soft loop handle bag'', ''patch handle bag'', kantong ''roll'', ''star sealed bag'' dan varian lainnya bagi kebutuhan ritel, baik itu [[toko serba ada]], [[supermarket]], restoran, dll. Beberapa konsumennya seperti [[Transmart|Carrefour]], [[Ramayana Lestari Sentosa|Ramayana]] dan [[Hero Supermarket|Hero]].<ref>[https://web.archive.org/web/20040327022729fw_/http://www.lapindo.com/id_History.html Sejarah Perseroan]</ref><ref>[https://web.archive.org/web/20040606071624/http://www.lapindo.com/id_home.html PT Lapindo International Tbk. adalah perusahaa]</ref><ref>[https://web.archive.org/web/20040327022821fw_/http://www.lapindo.com/id_Products.html Produk]</ref> Sejak 13 Maret 2001, nama perusahaan diganti menjadi '''PT Lapindo Packaging'''<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref> (bisa diartikan Lemahabang Perkasa Indonesia Packaging) dan 17 Juli 2001 telah melepas 60 juta sahamnya di [[Bursa Efek Jakarta]] dengan harga penawaran Rp 200/lembar. Kode sahamnya, '''LAPD''' berasal dari singkatan nama perusahaan saat itu.<ref>[https://britama.com/index.php/2012/11/sejarah-dan-profil-singkat-lapd/ Sejarah dan Profil Singkat LAPD (Leyand International Tbk)]</ref> Pasca-[[IPO]], perusahaan mendapatkan penjualan Rp 21 miliar dan keuntungan Rp 1,13 miliar.<ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=cCxYAAAAMAAJ&dq=PT+LAPINDOPACKAGING+2001&focus=searchwithinvolume&q=Lemahabang Indonesian Capital Market Directory]</ref> Kemudian, pada 22 November 2002, nama perusahaan berganti lagi menjadi '''PT Lapindo International Tbk'''.<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref> Pada periode ini, perusahaan dibantu oleh sekitar 250 karyawan untuk memenuhi pasar lokal maupun ekspor.<ref>[https://web.archive.org/web/20040327022729fw_/http://www.lapindo.com/id_History.html Sejarah Perseroan]</ref> Diperkirakan, pada Januari-September 2007, penjualan perusahaan mencapai Rp 40 miliar.<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref>


===Perubahan nama dan pergantian usaha===
===Perubahan nama dan pergantian usaha===
Pada tahun 2006, muncul kasus [[Banjir lumpur panas Sidoarjo|lumpur panas]] di daerah [[Sidoarjo]], [[Jawa Timur]] yang melibatkan perusahaan bernama sama ([[Lapindo Brantas|Lapindo Brantas Inc.]]). Walaupun Lapindo International dan Lapindo Brantas tidak berhubungan sama sekali, tetapi kekhawatiran akan citra buruk dari kasus tersebut membuat manajemen perusahaan ini mengganti nama dari PT Lapindo International Tbk menjadi '''PT Leyand International Tbk''' pada 20 November 2007. Tidak lama setelah itu, pada 9 Mei 2008, dilakukan ''[[rights issue]]'' yang mendilusi penguasaan kepemilikan dari sebelumnya oleh PT Intiputra Bumitirta (62%) menjadi didominasi oleh Layman Holdings Pte. Ltd. (30%). ''Rights isssue'' berharga Rp 407 miliar itu kemudian diiringi akuisisi pada beberapa perusahaan [[pembangkit listrik]], yaitu PT Aneka Kerasaman Energi dan Sumatera Energy Capital Pte. Ltd. yang memiliki pembangkit listrik di [[Medan]], [[Palembang]] dan [[Pontianak]]. Akuisisi ini diklaim dapat meningkatkan keuangan perseroan karena bisnisnya lebih prospektif. Maka, kemudian juga dilakukan perubahan usaha menjadi ke bisnis energi dari sebelumnya produksi plastik. Bisnis plastik perusahaan akhirnya dilepas, mulai dari pelepasan PT Buana Tirta Niaga ([[anak usaha]] yang bergerak pada perdagangan plastik) pada 31 Agustus 2007 dan pelepasan seluruh bisnis dan aset produksi plastik Leyand ke pihak ketiga sejak 31 Desember 2009, yang berarti menyelesaikan proses ''backdoor listing'' di perusahaan ini.
Pada tahun 2006, muncul kasus [[Banjir lumpur panas Sidoarjo|lumpur panas]] di daerah [[Sidoarjo]], [[Jawa Timur]] yang melibatkan perusahaan bernama sama ([[Lapindo Brantas|Lapindo Brantas Inc.]]). Walaupun Lapindo International dan Lapindo Brantas tidak berhubungan sama sekali, tetapi kekhawatiran akan citra buruk dari kasus tersebut membuat manajemen perusahaan ini mengganti nama dari PT Lapindo International Tbk menjadi '''PT Leyand International Tbk''' pada 20 November 2007.<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref><ref>[http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127773-T%2026498-Analisis%20kredit-Pendahuluan.pdf Pendahuluan]</ref> Tidak lama setelah itu, pada 9 Mei 2008, dilakukan ''[[rights issue]]''<ref>[https://britama.com/index.php/2012/11/sejarah-dan-profil-singkat-lapd/ Sejarah dan Profil Singkat LAPD (Leyand International Tbk)]</ref> yang mendilusi penguasaan kepemilikan dari sebelumnya oleh PT Intiputra Bumitirta (62%)<ref>[https://books.google.co.id/books?id=KJ2yAAAAIAAJ&q=Lapindo+intiputera&dq=Lapindo+intiputera&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwi41PeNzOb3AhVklNgFHZlBA9oQ6AF6BAgDEAI Major Companies of Asia and Australasia, Volume 1]</ref> menjadi didominasi oleh Layman Holdings Pte. Ltd. (30%).<ref>[https://adoc.pub/download/pt-leyand-international-tbk-dan-perusahaan-anak.html Lapkeu LAPD 2010]</ref> ''Rights isssue'' berharga Rp 407 miliar itu<ref>[https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-1268036/rights-issue-2009-capai-rp-87-triliun Rights Issue 2009 Capai Rp 8,7 Triliun]</ref> kemudian diiringi akuisisi pada beberapa perusahaan [[pembangkit listrik]], yaitu PT Aneka Kerasaman Energi dan Sumatera Energy Capital Pte. Ltd. yang memiliki pembangkit listrik di [[Medan]], [[Palembang]] dan [[Pontianak]].<ref>[https://adoc.pub/download/pt-leyand-international-tbk-dan-perusahaan-anak.html Lapkeu LAPD 2010]</ref> Akuisisi ini diklaim dapat meningkatkan keuangan perseroan karena bisnisnya lebih prospektif.<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref> Maka, kemudian juga dilakukan perubahan usaha menjadi ke bisnis energi dari sebelumnya produksi plastik.<ref>[https://economy.okezone.com/read/2009/06/15/278/229538/ganti-usaha-leyand-tunda-bagi-dividen Ganti Usaha, Leyand Tunda Bagi Dividen]</ref> Bisnis plastik perusahaan akhirnya dilepas, mulai dari pelepasan PT Buana Tirta Niaga ([[anak usaha]] yang bergerak pada perdagangan plastik) pada 31 Agustus 2007<ref>[https://adoc.pub/bab-iii-sumatera-energy-capital-pte-ltd-sebelum-akuisisi.html BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI]</ref> dan pelepasan seluruh bisnis dan aset produksi plastik Leyand ke pihak ketiga sejak 31 Desember 2009,<ref>[https://adoc.pub/download/pt-leyand-international-tbk-dan-perusahaan-anak.html Lapkeu LAPD 2010]</ref> yang berarti menyelesaikan proses ''backdoor listing'' di perusahaan ini.


Perusahaan ini dalam perkembangannya kemudian sempat berencana akan membeli PT [[Nusantara Infrastructure]] Tbk dalam ''rights issue''-nya senilai Rp 500 miliar yang dilakukan pada 2009, namun gagal karena kemudian tidak disetujui pemegang sahamnya. Kemudian, Shandong Machinery Corporation Pte. Ltd. masuk sebagai pemegang 13,4% saham di Leyand. Lewat bisnis pembangkit listriknya, perusahaan sendiri menjual listriknya ke [[PLN]] di tiga daerah. Untuk menunjang operasionalnya, Leyand juga menargetkan pembangunan pembangkit listrik lagi di Pontianak, dengan target pendapatan pada 2012 mencapai Rp 400 miliar. Akan tetapi, dalam periode yang hampir berdekatan (2012-2013), perusahaan melepas kepemilikan di PT Dharma Bumi Mekongga senilai Rp 4,8 miliar dan PT Leyand Pontianak Power di tanggal 26 Maret 2013.
Perusahaan ini dalam perkembangannya kemudian sempat berencana akan membeli PT [[Nusantara Infrastructure]] Tbk dalam ''rights issue''-nya senilai Rp 500 miliar yang dilakukan pada 2009, namun gagal karena kemudian tidak disetujui pemegang sahamnya. Kemudian, Shandong Machinery Corporation Pte. Ltd. masuk sebagai pemegang 13,4% saham di Leyand.<ref>[https://investasi.kontan.co.id/news/shandong-gaet-1387-saham-leyandShandong Gaet 13,87% Saham Leyand]</ref><ref>[https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-1192597/leyand-siap-eksekusi-80-rights-issue-nusantara-infrastructure Leyand Siap Eksekusi 80% Rights Issue Nusantara Infrastructure]</ref> Lewat bisnis pembangkit listriknya, perusahaan sendiri menjual listriknya ke [[PLN]] di tiga daerah. Untuk menunjang operasionalnya, Leyand juga menargetkan pembangunan pembangkit listrik lagi di Pontianak, dengan target pendapatan pada 2012 mencapai Rp 400 miliar.<ref>[https://www.beritasatu.com/ekonomi/55406/pt-leyand-targetkan-pendapatan-2012-rp400-miliar PT Leyand Targetkan Pendapatan 2012 Rp400 Miliar]</ref><ref>[https://www.tribunnews.com/bisnis/2012/06/25/leyand-bangun-pembangkit-listrik-di-pontianak-us-1008-juta Leyand Bangun Pembangkit Listrik di Pontianak US$ 100,8 Juta]</ref> Akan tetapi, dalam periode yang hampir berdekatan (2012-2013), perusahaan melepas kepemilikan di PT Dharma Bumi Mekongga senilai Rp 4,8 miliar<ref>[https://economy.okezone.com/read/2012/07/18/278/665105/leyand-international-jual-saham-dharma-bumi-mekongga-rp4-8-m Leyand International Jual Saham Dharma Bumi Mekongga Rp4,8 M]</ref> dan PT Leyand Pontianak Power di tanggal 26 Maret 2013.<ref>[http://www.leyand.co.id/About-Us/Profil-Perusahaan.html Profil Perusahaan]</ref>


Sayangnya, dalam perkembangannya bisnis LAPD cenderung stagnan, bahkan sejak 2014 mengalami penurunan pendapatan dan aset. Malahan, belakangan ini ekuitasnya terus menunjukkan tanda negatif, dan opini dari [[akuntan publik]] menyatakan ''disclaimer'' pada [[laporan keuangan]]nya. Penurunan ini dikarenakan konsumen utamanya, PLN sudah menghentikan kontraknya dengan anak usaha PT Leyand International Tbk (PT Asta Keramasan Energi), sehingga perusahaan tidak mendapatkan pendapatan apapun. Akibatnya, perusahaan terpaksa menjual aset-asetnya seperti mesin dan peralatan pembangkit listrik untuk menutupi kesulitan keuangan. PT Asta pun juga direncanakan akan mengubah bisnis ke bidang transportasi dan dilepas oleh LAPD. Hal ini belum ditambah hutang yang tidak terbayar, seperti ke [[Panin Bank]]. Sejak Juli 2020, saham LAPD sudah disuspensi perdagangannya dari [[Bursa Efek Indonesia]], dan pada 2 Juli 2022 akan mencapai 2 tahun yang bermakna perusahaan ini dapat di-''delisting'' (dihapus pencatatannya) dari BEI.
Sayangnya, dalam perkembangannya bisnis LAPD cenderung stagnan, bahkan sejak 2014 mengalami penurunan pendapatan dan aset.<ref>[http://www.analisafundamentalsaham.com/2017/11/lapd-pt-leyand-international-tbk.html Analisa Fundamental Saham LAPD]</ref> Malahan, belakangan ini ekuitasnya terus menunjukkan tanda negatif,<ref>[https://investor.id/market-and-corporate/261262/81-saham-kena-39tato39-beinbsp-2-keluarnbsp1-masuk 81 Saham Kena 'Tato' BEI, 2 Keluar, 1 Masuk]</ref> dan opini dari [[akuntan publik]] menyatakan ''disclaimer'' pada [[laporan keuangan]]nya. Penurunan ini dikarenakan konsumen utamanya, PLN sudah menghentikan kontraknya dengan anak usaha PT Leyand International Tbk (PT Asta Keramasan Energi), sehingga perusahaan tidak mendapatkan pendapatan apapun. Akibatnya, perusahaan terpaksa menjual aset-asetnya seperti mesin dan peralatan pembangkit listrik untuk menutupi kesulitan keuangan.<ref>[http://www.emitennews.com/news/nasib-diujung-tanduk-delisting-anak-usaha-lapd-jual-9-unit-mesin-di-medan Nasib Diujung Tanduk Delisting, Anak Usaha LAPD Jual 9 Unit Mesin di Medan]</ref><ref>[https://investor.id/market-and-corporate/290031/leyand-lapd-tak-bukukan-pendapatan-hingga-terpaksa-jual-aset-sahamnya-pun-disuspensi Leyand (LAPD) Tak Bukukan Pendapatan hingga Terpaksa Jual Aset, Sahamnya pun Disuspensi]</ref> PT Asta pun juga direncanakan akan mengubah bisnis ke bidang transportasi dan dilepas oleh LAPD. Hal ini belum ditambah hutang yang tidak terbayar, seperti ke [[Panin Bank]]. Sejak Juli 2020, saham LAPD sudah disuspensi perdagangannya dari [[Bursa Efek Indonesia]], dan pada 2 Juli 2022 akan mencapai 2 tahun yang bermakna perusahaan ini dapat di-''delisting'' (dihapus pencatatannya) dari BEI.<ref>[https://www.liputan6.com/saham/read/4861260/bei-ingatkan-7-emiten-berpotensi-delisting BEI Ingatkan 7 Emiten Berpotensi Delisting]</ref><ref>[https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-5344020/giliran-saham-lapd-yang-terancam-didepak-dari-pasar-modal Giliran Saham LAPD yang Terancam Didepak dari Pasar Modal]</ref><ref>[https://www.cnbcindonesia.com/market/20220203004754-17-312466/nahas-tak-memiliki-pendapatan-3-emiten-terancam-delisting Nahas! Tak Memiliki Pendapatan, 3 Emiten Terancam Delisting]</ref>
 
Untuk mencegah ''delisting'' tersebut, perseroan akan mengubah bisnisnya menjadi perusahaan investasi bagi anak-anak usaha yang bergerak di bidang distribusi, logistik dan [[kawasan industri]]. Akhirnya, pada September 2025 51% saham perusahaan diakuisisi PT JSI Sinergi Mas, sebuah perusahaan induk yang bergerak di bidang pertambangan sejak 2012 milik Jamal Abdul Naser Benhadj. Setelah itu Leyand ditargetkan akan menjadi kendaraan JSI untuk berekspansi ke bisnis pertambangan, logistik dan green energy.
 
==Rujukan==


Untuk mencegah ''delisting'' tersebut, perseroan akan mengubah bisnisnya menjadi perusahaan investasi bagi anak-anak usaha yang bergerak di bidang distribusi, logistik dan [[kawasan industri]].<ref>[https://insight.kontan.co.id/news/ikhtiar-lapd-mengubah-nasib-ganti-pengendali-rights-issue-dan-akuisisi-3-perusahaan Ikhtiar LAPD Mengubah Nasib,...]</ref> Akhirnya, pada September 2025 51% saham perusahaan diakuisisi PT JSI Sinergi Mas, sebuah perusahaan induk yang bergerak di bidang pertambangan sejak 2012 milik Jamal Abdul Naser Benhadj.<ref>[https://wartaekonomi.co.id/read595317/jelang-rupslb-leyand-international-ajukan-nama-nama-direksi-baruJelang RUPSLB, Leyand International Ajukan Nama-Nama Direksi Baru]</ref> Setelah itu Leyand ditargetkan akan menjadi kendaraan JSI untuk berekspansi ke bisnis pertambangan, logistik dan green energy.<ref>[https://investasi.kontan.co.id/news/leyand-international-lapd-baru-diakusisi-begini-rencana-pengendali-barunya Leyand International (LAPD) Baru Diakusisi, Begini Rencana Pengendali Barunya]</ref>


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [http://www.leyand.co.id/ Situs resmi]
* [http://www.leyand.co.id/ Situs resmi]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Leyand+International&oldid=29516315 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29516315 (2026-08-02T15:47:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Leyand+International&oldid=29516315 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29516315 (2026-08-02T15:47:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.08

PT Leyand International Tbk adalah sebuah perusahaan publik di Indonesia () yang bergerak sebagai perusahaan investasi. Berkantor pusat di Panin Tower Senayan City, Jl. Asia Afrika, Jakarta Pusat,[1] perusahaan ini tercatat sempat beberapa kali mengganti nama dan usahanya sejak awal berdiri.

Manajemen

  • Presiden Komisaris: Bobby Alianto
  • Komisaris: Ferry Hadi Saputra
  • Direktur Utama: Risming Andyanto
  • Direktur: Djoko Purwanto
  • Direktur: Toto Iriyanto[2]

Kepemilikan

  • JSI Sinergi Mas: 51%
  • Publik: 49%[3]

Anak usaha

  • PT Asta Keramasan Energi: Mengoperasikan tiga pembangkit listrik, yaitu PLTD Sicanang dan PLTD Siantan sejak bulan Mei 2008 serta PLTG Palembang pada paruh awal 2010. Kini, hanya PLTD Sicanang yang aktif, dengan kapasitas 107,3v MW.
  • Sumatera Energy Capital Pte. Ltd.[4]

Sejarah

Produsen kantong plastik

Cikal-bakal dari perusahaan ini dapat ditarik pada sebuah perusahaan kantong plastik rumahan yang berada di Jakarta Barat, didirikan pada tahun 1969, yang berbahan dasar polipropilena (PP) dan LDPE khusus kebutuhan pengemasan bahan-bahan makanan seperti tepung dan gula.[5] Mulai 7 Juni 1990, bisnis ini ditransformasikan dalam sebuah perseroan terbatas bernama PT Lemahabang Perkasa, didirikan pada 7 Juni 1990 yang memiliki pabrik di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.[6][7][8] Perusahaan ini masih memproduksi plastik, tetapi kali ini menggunakan jenis HDPE yang berteknologi heat seal yang diklaim lebih kuat, praktis dan tipis. Sebagai salah satu penyedia pertama, produk PT Lemahabang kemudian mendapat respon yang positif di pasar lokal. PT Lemahabang kemudian memproduksi varian-varian seperti jas hujan, pembungkus roti dan makanan, pembungkus pakaian, kantong sampah, dan lainnya dan menargetkan pasar ekspor, seperti Jepang dan Amerika Serikat yang kemudian mencapai 30% dari penjualannya.[9]

Munculnya krisis moneter pada akhir 1990-an sendiri rupanya memberi peluang baru bagi perusahaan ini, seiring munculnya pemain ritel baru. Perusahaan memproduksi soft loop handle bag, patch handle bag, kantong roll, star sealed bag dan varian lainnya bagi kebutuhan ritel, baik itu toko serba ada, supermarket, restoran, dll. Beberapa konsumennya seperti Carrefour, Ramayana dan Hero.[10][11][12] Sejak 13 Maret 2001, nama perusahaan diganti menjadi PT Lapindo Packaging[13] (bisa diartikan Lemahabang Perkasa Indonesia Packaging) dan 17 Juli 2001 telah melepas 60 juta sahamnya di Bursa Efek Jakarta dengan harga penawaran Rp 200/lembar. Kode sahamnya, LAPD berasal dari singkatan nama perusahaan saat itu.[14] Pasca-IPO, perusahaan mendapatkan penjualan Rp 21 miliar dan keuntungan Rp 1,13 miliar.[15] Kemudian, pada 22 November 2002, nama perusahaan berganti lagi menjadi PT Lapindo International Tbk.[16] Pada periode ini, perusahaan dibantu oleh sekitar 250 karyawan untuk memenuhi pasar lokal maupun ekspor.[17] Diperkirakan, pada Januari-September 2007, penjualan perusahaan mencapai Rp 40 miliar.[18]

Perubahan nama dan pergantian usaha

Pada tahun 2006, muncul kasus lumpur panas di daerah Sidoarjo, Jawa Timur yang melibatkan perusahaan bernama sama (Lapindo Brantas Inc.). Walaupun Lapindo International dan Lapindo Brantas tidak berhubungan sama sekali, tetapi kekhawatiran akan citra buruk dari kasus tersebut membuat manajemen perusahaan ini mengganti nama dari PT Lapindo International Tbk menjadi PT Leyand International Tbk pada 20 November 2007.[19][20] Tidak lama setelah itu, pada 9 Mei 2008, dilakukan rights issue[21] yang mendilusi penguasaan kepemilikan dari sebelumnya oleh PT Intiputra Bumitirta (62%)[22] menjadi didominasi oleh Layman Holdings Pte. Ltd. (30%).[23] Rights isssue berharga Rp 407 miliar itu[24] kemudian diiringi akuisisi pada beberapa perusahaan pembangkit listrik, yaitu PT Aneka Kerasaman Energi dan Sumatera Energy Capital Pte. Ltd. yang memiliki pembangkit listrik di Medan, Palembang dan Pontianak.[25] Akuisisi ini diklaim dapat meningkatkan keuangan perseroan karena bisnisnya lebih prospektif.[26] Maka, kemudian juga dilakukan perubahan usaha menjadi ke bisnis energi dari sebelumnya produksi plastik.[27] Bisnis plastik perusahaan akhirnya dilepas, mulai dari pelepasan PT Buana Tirta Niaga (anak usaha yang bergerak pada perdagangan plastik) pada 31 Agustus 2007[28] dan pelepasan seluruh bisnis dan aset produksi plastik Leyand ke pihak ketiga sejak 31 Desember 2009,[29] yang berarti menyelesaikan proses backdoor listing di perusahaan ini.

Perusahaan ini dalam perkembangannya kemudian sempat berencana akan membeli PT Nusantara Infrastructure Tbk dalam rights issue-nya senilai Rp 500 miliar yang dilakukan pada 2009, namun gagal karena kemudian tidak disetujui pemegang sahamnya. Kemudian, Shandong Machinery Corporation Pte. Ltd. masuk sebagai pemegang 13,4% saham di Leyand.[30][31] Lewat bisnis pembangkit listriknya, perusahaan sendiri menjual listriknya ke PLN di tiga daerah. Untuk menunjang operasionalnya, Leyand juga menargetkan pembangunan pembangkit listrik lagi di Pontianak, dengan target pendapatan pada 2012 mencapai Rp 400 miliar.[32][33] Akan tetapi, dalam periode yang hampir berdekatan (2012-2013), perusahaan melepas kepemilikan di PT Dharma Bumi Mekongga senilai Rp 4,8 miliar[34] dan PT Leyand Pontianak Power di tanggal 26 Maret 2013.[35]

Sayangnya, dalam perkembangannya bisnis LAPD cenderung stagnan, bahkan sejak 2014 mengalami penurunan pendapatan dan aset.[36] Malahan, belakangan ini ekuitasnya terus menunjukkan tanda negatif,[37] dan opini dari akuntan publik menyatakan disclaimer pada laporan keuangannya. Penurunan ini dikarenakan konsumen utamanya, PLN sudah menghentikan kontraknya dengan anak usaha PT Leyand International Tbk (PT Asta Keramasan Energi), sehingga perusahaan tidak mendapatkan pendapatan apapun. Akibatnya, perusahaan terpaksa menjual aset-asetnya seperti mesin dan peralatan pembangkit listrik untuk menutupi kesulitan keuangan.[38][39] PT Asta pun juga direncanakan akan mengubah bisnis ke bidang transportasi dan dilepas oleh LAPD. Hal ini belum ditambah hutang yang tidak terbayar, seperti ke Panin Bank. Sejak Juli 2020, saham LAPD sudah disuspensi perdagangannya dari Bursa Efek Indonesia, dan pada 2 Juli 2022 akan mencapai 2 tahun yang bermakna perusahaan ini dapat di-delisting (dihapus pencatatannya) dari BEI.[40][41][42]

Untuk mencegah delisting tersebut, perseroan akan mengubah bisnisnya menjadi perusahaan investasi bagi anak-anak usaha yang bergerak di bidang distribusi, logistik dan kawasan industri.[43] Akhirnya, pada September 2025 51% saham perusahaan diakuisisi PT JSI Sinergi Mas, sebuah perusahaan induk yang bergerak di bidang pertambangan sejak 2012 milik Jamal Abdul Naser Benhadj.[44] Setelah itu Leyand ditargetkan akan menjadi kendaraan JSI untuk berekspansi ke bisnis pertambangan, logistik dan green energy.[45]

Pranala luar

Referensi

  1. Lapkeu LAPD 2020
  2. Detail Profile Perusahaan Tercatat
  3. Detail Profile Perusahaan Tercatat
  4. Lapkeu LAPD 2020
  5. Sejarah Perseroan
  6. Lapkeu LAPD 2020
  7. Sejarah Perseroan
  8. Penerapan "Model Kebangkrutan Altman pada PT Lapindo International Tbk (Suatu Studi Empiris pada PT Lapindo International).
  9. Sejarah Perseroan
  10. Sejarah Perseroan
  11. PT Lapindo International Tbk. adalah perusahaa
  12. Produk
  13. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  14. Sejarah dan Profil Singkat LAPD (Leyand International Tbk)
  15. Indonesian Capital Market Directory
  16. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  17. Sejarah Perseroan
  18. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  19. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  20. Pendahuluan
  21. Sejarah dan Profil Singkat LAPD (Leyand International Tbk)
  22. Major Companies of Asia and Australasia, Volume 1
  23. Lapkeu LAPD 2010
  24. Rights Issue 2009 Capai Rp 8,7 Triliun
  25. Lapkeu LAPD 2010
  26. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  27. Ganti Usaha, Leyand Tunda Bagi Dividen
  28. BAB III. SUMATERA ENERGY CAPITAL PTE. LTD. SEBELUM AKUISISI
  29. Lapkeu LAPD 2010
  30. Gaet 13,87% Saham Leyand
  31. Leyand Siap Eksekusi 80% Rights Issue Nusantara Infrastructure
  32. PT Leyand Targetkan Pendapatan 2012 Rp400 Miliar
  33. Leyand Bangun Pembangkit Listrik di Pontianak US$ 100,8 Juta
  34. Leyand International Jual Saham Dharma Bumi Mekongga Rp4,8 M
  35. Profil Perusahaan
  36. Analisa Fundamental Saham LAPD
  37. 81 Saham Kena 'Tato' BEI, 2 Keluar, 1 Masuk
  38. Nasib Diujung Tanduk Delisting, Anak Usaha LAPD Jual 9 Unit Mesin di Medan
  39. Leyand (LAPD) Tak Bukukan Pendapatan hingga Terpaksa Jual Aset, Sahamnya pun Disuspensi
  40. BEI Ingatkan 7 Emiten Berpotensi Delisting
  41. Giliran Saham LAPD yang Terancam Didepak dari Pasar Modal
  42. Nahas! Tak Memiliki Pendapatan, 3 Emiten Terancam Delisting
  43. Ikhtiar LAPD Mengubah Nasib,...
  44. RUPSLB, Leyand International Ajukan Nama-Nama Direksi Baru
  45. Leyand International (LAPD) Baru Diakusisi, Begini Rencana Pengendali Barunya

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29516315 (2026-08-02T15:47:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.