Kapas: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28478987; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:CottonPlant.JPG|thumb|right|280px|Kapas yang siap dipanen]] | |||
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri [[tekstil]]. Serat itu dapat di[[pemintalan|pintal]] menjadi [[benang]] dan di[[penenunan|tenun]] menjadi [[kain]]. Produk [[tekstil]] dari serat kapas biasa disebut sebagai '''katun''' (benang maupun kainnya). Kain katun yang terbuat dari [[kapas]] berasal dari kata Arab '','' ‘qutun’ atau ‘kutun’, yang digunakan untuk menggambarkan jenis tekstil yang halus. Kapas berasal dari setidaknya 7.000 tahun yang lalu menjadikannya salah satu serat tertua di dunia. | '''Kapas''' (dari [[bahasa Hindi]] ''kapas'', sendirinya dari [[bahasa Sanskerta]] ''karpasa''<ref>James A. B. Scherer, ''Cotton as World Power''</ref>) adalah [[serat]] halus yang menyelubungi [[biji]] beberapa jenis ''[[Tanaman kapas|Gossypium]]'' (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan '[[semak]]' yang berasal dari daerah [[tropika]] dan [[subtropika]]. Di [[Pulau Ambon]] kapas dikenal dengan istilah lokal ''aha'', dan dalam [[Bahasa Banda (Maluku)|bahasa Banda]] disebut dengan ''karamboa''.<ref>John Crawfurd. ''Sejarah Kepulauan Nusantara: Kajian Budaya, Agama, Politik, Hukum dan Ekonomi''. Penerbit Ombak. 2017. Vol. 1. hlm. 318. ISBN 9786022584698.</ref> | ||
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri [[tekstil]]. Serat itu dapat di[[pemintalan|pintal]] menjadi [[benang]] dan di[[penenunan|tenun]] menjadi [[kain]]. Produk [[tekstil]] dari serat kapas biasa disebut sebagai '''katun''' (benang maupun kainnya). Kain katun yang terbuat dari [[kapas]] berasal dari kata Arab '','' ‘qutun’ atau ‘kutun’,<ref>Ismail ibn Hammad al-Jawhari, ''"Al-Sihah"'', 1000 M</ref><ref>Ibn Manzur, ''"Lisan Al-Arab"'', 1290 M</ref> yang digunakan untuk menggambarkan jenis tekstil yang halus. Kapas berasal dari setidaknya 7.000 tahun yang lalu menjadikannya salah satu serat tertua di dunia.<ref>[https://www.cotton.org/pubs/cottoncounts/story/ The Story of Cotton- History of Cotton]. ''www.cotton.org''.</ref> | |||
Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila [[lemak]], [[protein]], [[malam (zat)|malam]] (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah [[polimer]] [[selulosa]] murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik tetapi disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat). | Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila [[lemak]], [[protein]], [[malam (zat)|malam]] (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah [[polimer]] [[selulosa]] murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik tetapi disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat). | ||
| Baris 11: | Baris 13: | ||
* ''[[Gossypium|G. arboreum]]'', asli dari lembah [[Sungai Indus]] di [[Pakistan]] dan [[India]] | * ''[[Gossypium|G. arboreum]]'', asli dari lembah [[Sungai Indus]] di [[Pakistan]] dan [[India]] | ||
* ''[[Gossypium|G. herbaceum]]'', asli dari wilayah [[Levantia]] (hulu [[Sungai Tigris]]) | * ''[[Gossypium|G. herbaceum]]'', asli dari wilayah [[Levantia]] (hulu [[Sungai Tigris]]) | ||
== Produksi == | == Produksi == | ||
Sekarang ini kapas diproduksi di banyak tempat di dunia, termasuk [[Eropa]], [[Asia]], [[Afrika]], [[Benua Amerika|Amerika]], dan [[Australia]], menggunakan tanaman kapas yang telah dipilih jadi dapat menghasilkan lebih banyak fiber. Pada 2002, kapas ditumbuhkan di 330.000km² [[ladang]], 47 miliar pon kapas mentah seharga 20 miliar [[dolar AS]] ditumbuhkan tahun tersebut. | Sekarang ini kapas diproduksi di banyak tempat di dunia, termasuk [[Eropa]], [[Asia]], [[Afrika]], [[Benua Amerika|Amerika]], dan [[Australia]], menggunakan tanaman kapas yang telah dipilih jadi dapat menghasilkan lebih banyak fiber. Pada 2002, kapas ditumbuhkan di 330.000km² [[ladang]], 47 miliar pon kapas mentah seharga 20 miliar [[dolar AS]] ditumbuhkan tahun tersebut. | ||
Pengusahaan tanaman kapas di Indonesia didominasi oleh [[perkebunan rakyat]]. Adapun jumlah areal luas lahan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2018 luas lahan mencapai 5.162 Ha, sedangkan di tahun 2024 diperkirakan 612 Ha. Adapun produksi kapas di tahun 2018 yaitu 353 ton, dan di tahun 2024 diestimasi 146 ton. Sebaran produksi kapas ada di Jateng (31 Ton), Sulsel (24 Ton), Jawa Timur (20 Ton), Bali (16 Ton), NTT (16 Ton), dan DIY (3 Ton). | Pengusahaan tanaman kapas di Indonesia didominasi oleh [[perkebunan rakyat]]. Adapun jumlah areal luas lahan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2018 luas lahan mencapai 5.162 Ha, sedangkan di tahun 2024 diperkirakan 612 Ha. Adapun produksi kapas di tahun 2018 yaitu 353 ton, dan di tahun 2024 diestimasi 146 ton. Sebaran produksi kapas ada di Jateng (31 Ton), Sulsel (24 Ton), Jawa Timur (20 Ton), Bali (16 Ton), NTT (16 Ton), dan DIY (3 Ton).<ref>Cahyono, S.E., M.Sc. (ed) Adi. [https://ditjenbun.pertanian.go.id/buku-statistik-perkebunan-jilid-i-2022-2024/ Statistik Perkebunan Jilid I 2022-2024]. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2024. hlm. 973-974.</ref> | ||
== Kegunaan == | == Kegunaan == | ||
Serat kapas merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan kain dalam industri tekstil di Indonesia.<ref>Musaddad, M.A. 2007. Agribisnis Tanaman Rami. Jakarta. Disadur dalam Yan Orgianus (2008) "[https://www.neliti.com/id/publications/7347/rekayasa-model-bagi-hasil-dan-risiko-pembiayaan-usaha-pengolahan-tanaman-rami-de Rekayasa Model Bagi Hasil dan Risiko Pembiayaan Usaha Pengolahan Tanaman Rami dengan Pola Syariah]" Mimbar : Jurnal Sosial dan Pembangunan</ref> Berikut adalah sifat serat kapas:<ref>Musaddad, M.A. 2007. Agribisnis Tanaman Rami. Jakarta. Disadur dalam Yan Orgianus (2008) "[https://www.neliti.com/id/publications/7347/rekayasa-model-bagi-hasil-dan-risiko-pembiayaan-usaha-pengolahan-tanaman-rami-de Rekayasa Model Bagi Hasil dan Risiko Pembiayaan Usaha Pengolahan Tanaman Rami dengan Pola Syariah]" Mimbar : Jurnal Sosial dan Pembangunan</ref> | |||
Serat kapas merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan kain dalam industri tekstil di Indonesia. Berikut adalah sifat serat kapas: | |||
# Panjang serat: 20 – 30mm | # Panjang serat: 20 – 30mm | ||
| Baris 34: | Baris 31: | ||
== Dampak perubahan iklim == | == Dampak perubahan iklim == | ||
Perubahan iklim memberikan dampak besar dan saling berkaitan terhadap produksi kapas, mulai dari pertumbuhan tanaman hingga penghidupan petani dan rantai pasok global. Di banyak daerah penghasil kapas utama, musim tanam menjadi lebih singkat sehingga kesehatan tanaman, hasil panen, dan kualitas serat menurun. Gelombang panas ekstrem dengan suhu di atas 40°C semakin sering terjadi di semua wilayah penghasil kapas, terutama di [[Afrika Sub-Sahara]], [[Timur Tengah]], [[India]], dan [[Pakistan]]. Kondisi ini menimbulkan risiko serius bagi hasil panen. Kekurangan air akibat kekeringan jangka pendek maupun panjang membuat kapas tadah hujan semakin tidak layak dibudidayakan dan memberi tekanan pada sistem irigasi, seperti yang terjadi di [[Gujarat]], India. Pada saat yang sama, curah hujan ekstrem, banjir, dan tanah longsor merusak akar tanaman, tanah, dan infrastruktur pertanian di beberapa wilayah Asia, Afrika, dan Amerika. Angin kencang dan badai juga semakin sering terjadi, merusak tanaman kapas di daerah rentan seperti [[Sudan]], [[Brasil]], [[Madagaskar]], [[Turki]], [[Iran]], dan sebagian wilayah [[Amerika Serikat]]. | Perubahan iklim memberikan dampak besar dan saling berkaitan terhadap produksi kapas, mulai dari pertumbuhan tanaman hingga penghidupan petani dan rantai pasok global. Di banyak daerah penghasil kapas utama, musim tanam menjadi lebih singkat sehingga kesehatan tanaman, hasil panen, dan kualitas serat menurun. Gelombang panas ekstrem dengan suhu di atas 40°C semakin sering terjadi di semua wilayah penghasil kapas, terutama di [[Afrika Sub-Sahara]], [[Timur Tengah]], [[India]], dan [[Pakistan]]. Kondisi ini menimbulkan risiko serius bagi hasil panen. Kekurangan air akibat kekeringan jangka pendek maupun panjang membuat kapas tadah hujan semakin tidak layak dibudidayakan dan memberi tekanan pada sistem irigasi, seperti yang terjadi di [[Gujarat]], India. Pada saat yang sama, curah hujan ekstrem, banjir, dan tanah longsor merusak akar tanaman, tanah, dan infrastruktur pertanian di beberapa wilayah Asia, Afrika, dan Amerika. Angin kencang dan badai juga semakin sering terjadi, merusak tanaman kapas di daerah rentan seperti [[Sudan]], [[Brasil]], [[Madagaskar]], [[Turki]], [[Iran]], dan sebagian wilayah [[Amerika Serikat]].<ref>Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [https://www.solidaridadnetwork.org/wp-content/uploads/2023/11/Cotton-and-Climate-Paper_-Solidaridad-Nov-2023.pdf]</ref> | ||
Peningkatan suhu membuat kebutuhan air kapas semakin besar, sementara ketersediaan air menjadi sulit diprediksi. Hal ini mengancam keandalan irigasi dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan air bersih antara sektor pertanian, industri, dan masyarakat, yang berpotensi memicu konflik. Kesehatan tanah juga menurun akibat erosi, banjir, serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan yang mengurangi kesuburan dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi yang lebih hangat mempermudah penyebaran hama dan penyakit ke wilayah baru serta memperpanjang masa hidupnya. Beberapa hama seperti [[ulat grayak]] kapas mungkin tidak lagi memerlukan fase dorman sehingga populasinya meningkat. Kadar karbon dioksida yang lebih tinggi juga mendorong pertumbuhan jamur, produksi spora, dan kerusakan jaringan tanaman, sementara efektivitas pestisida kimia bisa berkurang pada suhu tinggi. | Peningkatan suhu membuat kebutuhan air kapas semakin besar, sementara ketersediaan air menjadi sulit diprediksi. Hal ini mengancam keandalan irigasi dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan air bersih antara sektor pertanian, industri, dan masyarakat, yang berpotensi memicu konflik. Kesehatan tanah juga menurun akibat erosi, banjir, serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan yang mengurangi kesuburan dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi yang lebih hangat mempermudah penyebaran hama dan penyakit ke wilayah baru serta memperpanjang masa hidupnya. Beberapa hama seperti [[ulat grayak]] kapas mungkin tidak lagi memerlukan fase dorman sehingga populasinya meningkat. Kadar karbon dioksida yang lebih tinggi juga mendorong pertumbuhan jamur, produksi spora, dan kerusakan jaringan tanaman, sementara efektivitas pestisida kimia bisa berkurang pada suhu tinggi.<ref>Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [https://www.solidaridadnetwork.org/wp-content/uploads/2023/11/Cotton-and-Climate-Paper_-Solidaridad-Nov-2023.pdf]</ref> | ||
Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan hasil panen dan kualitas serat, merugikan pendapatan petani, dan mengganggu rantai pasok kapas, yang pada akhirnya memicu fluktuasi pasar global. Petani dan pekerja juga menghadapi risiko kesehatan tambahan akibat stres panas, dehidrasi, dan paparan penyakit seperti malaria. Petani kecil, yang umumnya memiliki sedikit alat mekanisasi dan sumber daya untuk beradaptasi, menjadi kelompok paling rentan. Menjelang tahun 2040, semua wilayah penghasil kapas diperkirakan akan menghadapi peningkatan risiko dari setidaknya satu bahaya iklim utama. Tanpa investasi besar dalam langkah adaptasi seperti penggunaan air berkelanjutan, pengelolaan tanah, pengendalian hama, dan varietas tanaman yang tahan iklim, produksi kapas akan sulit bertahan secara berkelanjutan dan bisa kalah bersaing dengan serat sintetis yang lebih mudah diproduksi tetapi lebih merusak lingkungan. | Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan hasil panen dan kualitas serat, merugikan pendapatan petani, dan mengganggu rantai pasok kapas, yang pada akhirnya memicu fluktuasi pasar global. Petani dan pekerja juga menghadapi risiko kesehatan tambahan akibat stres panas, dehidrasi, dan paparan penyakit seperti malaria. Petani kecil, yang umumnya memiliki sedikit alat mekanisasi dan sumber daya untuk beradaptasi, menjadi kelompok paling rentan. Menjelang tahun 2040, semua wilayah penghasil kapas diperkirakan akan menghadapi peningkatan risiko dari setidaknya satu bahaya iklim utama. Tanpa investasi besar dalam langkah adaptasi seperti penggunaan air berkelanjutan, pengelolaan tanah, pengendalian hama, dan varietas tanaman yang tahan iklim, produksi kapas akan sulit bertahan secara berkelanjutan dan bisa kalah bersaing dengan serat sintetis yang lebih mudah diproduksi tetapi lebih merusak lingkungan.<ref>Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [https://www.solidaridadnetwork.org/wp-content/uploads/2023/11/Cotton-and-Climate-Paper_-Solidaridad-Nov-2023.pdf]</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 45: | Baris 42: | ||
== Catatan == | == Catatan == | ||
== Referensi dan bacaan lebih lanjut == | == Referensi dan bacaan lebih lanjut == | ||
* ''The Thames and Hudson Manual of Dyes and Fabrics'', Joyce Storey, 1978 | * ''The Thames and Hudson Manual of Dyes and Fabrics'', Joyce Storey, 1978 | ||
| Baris 59: | Baris 54: | ||
* [http://www.tfc-charts.w2d.com/ Commodity Futures & Financial Market Charts] | * [http://www.tfc-charts.w2d.com/ Commodity Futures & Financial Market Charts] | ||
* [http://www.usda.gov/ U.S. Department of Agriculture] | * [http://www.usda.gov/ U.S. Department of Agriculture] | ||
* [http://www.cottonusa.org/index.htm Cotton Council International] | * [http://www.cottonusa.org/index.htm Cotton Council International] | ||
* [http://www.cotton.org/cf/index.htm Cotton Foundation] | * [http://www.cotton.org/cf/index.htm Cotton Foundation] | ||
* [http://www.meeman.rhodes.edu/institutes/cotton/default.html ACSA International Cotton Institute] | * [http://www.meeman.rhodes.edu/institutes/cotton/default.html ACSA International Cotton Institute] | ||
* [http://www.supimacotton.org/ The Supima Association] | * [http://www.supimacotton.org/ The Supima Association] | ||
* [http://www.acsa-cotton.org/ American Cotton Shippers Association] | * [http://www.acsa-cotton.org/ American Cotton Shippers Association] | ||
| Baris 77: | Baris 72: | ||
* [http://www.lca.org.uk International Cotton Association] | * [http://www.lca.org.uk International Cotton Association] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kapas&oldid=28478987 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28478987 (2025-11-14T06:25:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 22.58
Kapas (dari bahasa Hindi kapas, sendirinya dari bahasa Sanskerta karpasa[1]) adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan subtropika. Di Pulau Ambon kapas dikenal dengan istilah lokal aha, dan dalam bahasa Banda disebut dengan karamboa.[2]
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun kainnya). Kain katun yang terbuat dari kapas berasal dari kata Arab , ‘qutun’ atau ‘kutun’,[3][4] yang digunakan untuk menggambarkan jenis tekstil yang halus. Kapas berasal dari setidaknya 7.000 tahun yang lalu menjadikannya salah satu serat tertua di dunia.[5]
Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik tetapi disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).
Sumber utama
Sumber utama serat kapas komersial (perdagangan) adalah empat jenis Gossypium, yaitu
- G. hirsutum, asli Meksiko, Amerika Tengah, Karibia, dan Florida, menghasilkan 90% serat yang diperdagangkan
- G. barbadense, asli dari Amerika Selatan tropika
- G. arboreum, asli dari lembah Sungai Indus di Pakistan dan India
- G. herbaceum, asli dari wilayah Levantia (hulu Sungai Tigris)
Produksi
Sekarang ini kapas diproduksi di banyak tempat di dunia, termasuk Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia, menggunakan tanaman kapas yang telah dipilih jadi dapat menghasilkan lebih banyak fiber. Pada 2002, kapas ditumbuhkan di 330.000km² ladang, 47 miliar pon kapas mentah seharga 20 miliar dolar AS ditumbuhkan tahun tersebut.
Pengusahaan tanaman kapas di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat. Adapun jumlah areal luas lahan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2018 luas lahan mencapai 5.162 Ha, sedangkan di tahun 2024 diperkirakan 612 Ha. Adapun produksi kapas di tahun 2018 yaitu 353 ton, dan di tahun 2024 diestimasi 146 ton. Sebaran produksi kapas ada di Jateng (31 Ton), Sulsel (24 Ton), Jawa Timur (20 Ton), Bali (16 Ton), NTT (16 Ton), dan DIY (3 Ton).[6]
Kegunaan
Serat kapas merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan kain dalam industri tekstil di Indonesia.[7] Berikut adalah sifat serat kapas:[8]
- Panjang serat: 20 – 30mm
- Diameter: 14 – 16mm
- Kekuatan serat: 45kg/mm2
- Kekuatan rata-rata: 5,3mN/tex
- Mulur: 7,2%
- Kehalusan: 2,0ng/cm
Selain untuk keperluan tekstil kapas juga digunakan sebagai alat pembersih make up, jaring ikan, saringan kopi, tenda, dan pembatas buku. Uang Cina pertama terbuat dari fiber kapas, dan juga uang dollar AS modern. Denim, sebuah jenis pakaian 'durable', sebagian besar terbuat dari kapas, dan juga kebanyakan T-shirt.
Dampak perubahan iklim
Perubahan iklim memberikan dampak besar dan saling berkaitan terhadap produksi kapas, mulai dari pertumbuhan tanaman hingga penghidupan petani dan rantai pasok global. Di banyak daerah penghasil kapas utama, musim tanam menjadi lebih singkat sehingga kesehatan tanaman, hasil panen, dan kualitas serat menurun. Gelombang panas ekstrem dengan suhu di atas 40°C semakin sering terjadi di semua wilayah penghasil kapas, terutama di Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, India, dan Pakistan. Kondisi ini menimbulkan risiko serius bagi hasil panen. Kekurangan air akibat kekeringan jangka pendek maupun panjang membuat kapas tadah hujan semakin tidak layak dibudidayakan dan memberi tekanan pada sistem irigasi, seperti yang terjadi di Gujarat, India. Pada saat yang sama, curah hujan ekstrem, banjir, dan tanah longsor merusak akar tanaman, tanah, dan infrastruktur pertanian di beberapa wilayah Asia, Afrika, dan Amerika. Angin kencang dan badai juga semakin sering terjadi, merusak tanaman kapas di daerah rentan seperti Sudan, Brasil, Madagaskar, Turki, Iran, dan sebagian wilayah Amerika Serikat.[9]
Peningkatan suhu membuat kebutuhan air kapas semakin besar, sementara ketersediaan air menjadi sulit diprediksi. Hal ini mengancam keandalan irigasi dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan air bersih antara sektor pertanian, industri, dan masyarakat, yang berpotensi memicu konflik. Kesehatan tanah juga menurun akibat erosi, banjir, serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan yang mengurangi kesuburan dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi yang lebih hangat mempermudah penyebaran hama dan penyakit ke wilayah baru serta memperpanjang masa hidupnya. Beberapa hama seperti ulat grayak kapas mungkin tidak lagi memerlukan fase dorman sehingga populasinya meningkat. Kadar karbon dioksida yang lebih tinggi juga mendorong pertumbuhan jamur, produksi spora, dan kerusakan jaringan tanaman, sementara efektivitas pestisida kimia bisa berkurang pada suhu tinggi.[10]
Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan hasil panen dan kualitas serat, merugikan pendapatan petani, dan mengganggu rantai pasok kapas, yang pada akhirnya memicu fluktuasi pasar global. Petani dan pekerja juga menghadapi risiko kesehatan tambahan akibat stres panas, dehidrasi, dan paparan penyakit seperti malaria. Petani kecil, yang umumnya memiliki sedikit alat mekanisasi dan sumber daya untuk beradaptasi, menjadi kelompok paling rentan. Menjelang tahun 2040, semua wilayah penghasil kapas diperkirakan akan menghadapi peningkatan risiko dari setidaknya satu bahaya iklim utama. Tanpa investasi besar dalam langkah adaptasi seperti penggunaan air berkelanjutan, pengelolaan tanah, pengendalian hama, dan varietas tanaman yang tahan iklim, produksi kapas akan sulit bertahan secara berkelanjutan dan bisa kalah bersaing dengan serat sintetis yang lebih mudah diproduksi tetapi lebih merusak lingkungan.[11]
Lihat pula
- Gin kapas
- Pemetik kapas, mesin yang digunakan untuk memanen kapas
Catatan
Referensi dan bacaan lebih lanjut
- The Thames and Hudson Manual of Dyes and Fabrics, Joyce Storey, 1978
- Photo documentation and commentary on collateral damage to the environment from cotton spraying
Pranala luar
- Cotton Incorporated - a cotton industry trade group
- New York Cotton Futures Prices (30 Minute Delay)
- New York Board of Trade
- Cotton on the Net: The Cotton Market Directory
- USDA AMS - Market News Reports - Cotton Reports
- Commodity Futures & Financial Market Charts
- U.S. Department of Agriculture
- Cotton Council International
- Cotton Foundation
- ACSA International Cotton Institute
- The Supima Association
- American Cotton Shippers Association
- American Textile Manufactures Institute
- Cotton Incorporated
- International Cotton Advisory Committee
- Cotton on the Net Home Page
- National Cotton Council News and Current Events
- The Land of Cotton News Magazine
- The Seam
- eCotton
- Plains Cotton Cooperative Association
- American Cotton Shippers Association
- Agricultural Marketing Service
- International Cotton Association
Referensi
- ↑ James A. B. Scherer, Cotton as World Power
- ↑ John Crawfurd. Sejarah Kepulauan Nusantara: Kajian Budaya, Agama, Politik, Hukum dan Ekonomi. Penerbit Ombak. 2017. Vol. 1. hlm. 318. ISBN 9786022584698.
- ↑ Ismail ibn Hammad al-Jawhari, "Al-Sihah", 1000 M
- ↑ Ibn Manzur, "Lisan Al-Arab", 1290 M
- ↑ The Story of Cotton- History of Cotton. www.cotton.org.
- ↑ Cahyono, S.E., M.Sc. (ed) Adi. Statistik Perkebunan Jilid I 2022-2024. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2024. hlm. 973-974.
- ↑ Musaddad, M.A. 2007. Agribisnis Tanaman Rami. Jakarta. Disadur dalam Yan Orgianus (2008) "Rekayasa Model Bagi Hasil dan Risiko Pembiayaan Usaha Pengolahan Tanaman Rami dengan Pola Syariah" Mimbar : Jurnal Sosial dan Pembangunan
- ↑ Musaddad, M.A. 2007. Agribisnis Tanaman Rami. Jakarta. Disadur dalam Yan Orgianus (2008) "Rekayasa Model Bagi Hasil dan Risiko Pembiayaan Usaha Pengolahan Tanaman Rami dengan Pola Syariah" Mimbar : Jurnal Sosial dan Pembangunan
- ↑ Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [1]
- ↑ Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [2]
- ↑ Solidaridad (November 2023) ‘Cotton and Climate’ [3]
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28478987 (2025-11-14T06:25:18Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.