Tanaman serat: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27723557; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Tamaman serat''' adalah tanaman yang ditumbuhkan untuk menghasilkan [[serat]] yang umumnya akan dijadikan berbagai macam komoditas, seperti [[kertas]], [[pakaian]], dan [[tali]]. | [[File:Coir_fibery.jpg|thumb|right|280px|Coir fibery]] | ||
'''Tamaman serat''' adalah tanaman yang ditumbuhkan untuk menghasilkan [[serat]] yang umumnya akan dijadikan berbagai macam komoditas, seperti [[kertas]], [[pakaian]], dan [[tali]].<ref>Estelle Levetin. [https://archive.org/details/plantssociety0000leve_e2d8 Plants and Society]. McGraw-Hill. 2012. hlm. [https://archive.org/details/plantssociety0000leve_e2d8/page/297 297]. ISBN 978-0-07-352422-1.</ref> | |||
Tanaman serat dicirikan dengan kandungan [[selulosa]] yang relatif tinggi dan menguatkan struktur mereka. Serat tersebut dapat dimodifikasi secara kimia, seperti serat selulosa [[viskos]] yang digunakan untuk membuat [[rayon]] dan [[selofan]]. [[Ilmu bahan]] telah berkembang beberapa tahun terakhir dan mulai mengembangkan beberapa jenis serat untuk dijadikan bahan atau [[material komposit]]. Selulosa merupakan faktor utama penentu kekuatan serat tanaman sehingga menjadi target riset dan pengembangan oleh para ilmuwan untuk menemukan jenis serat baru. | Tanaman serat dicirikan dengan kandungan [[selulosa]] yang relatif tinggi dan menguatkan struktur mereka. Serat tersebut dapat dimodifikasi secara kimia, seperti serat selulosa [[viskos]] yang digunakan untuk membuat [[rayon]] dan [[selofan]]. [[Ilmu bahan]] telah berkembang beberapa tahun terakhir dan mulai mengembangkan beberapa jenis serat untuk dijadikan bahan atau [[material komposit]]. Selulosa merupakan faktor utama penentu kekuatan serat tanaman sehingga menjadi target riset dan pengembangan oleh para ilmuwan untuk menemukan jenis serat baru. | ||
Tanaman serat juga umumnya dapat dipanen setelah satu musim berlalu; tidak sama dengan [[pohon]] yang membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum bisa dipanen. Dalam kasus tertentu, serat yang dihasilkan tanaman semusim tersebut dapat berkualitas lebih baik dalam hal performa teknis, [[degradasi lingkungan|dampak lingkungan]], dan biaya jika dibandingkan dengan [[pulp]] dari [[kayu]]. | Tanaman serat juga umumnya dapat dipanen setelah satu musim berlalu; tidak sama dengan [[pohon]] yang membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum bisa dipanen. Dalam kasus tertentu, serat yang dihasilkan tanaman semusim tersebut dapat berkualitas lebih baik dalam hal performa teknis, [[degradasi lingkungan|dampak lingkungan]], dan biaya jika dibandingkan dengan [[pulp]] dari [[kayu]].<ref>[http://www.agripulp.com/index.html Agripulp: pulping agricultural crops].</ref> | ||
Beberapa masalah terkait pemanfaatan tanaman serat diantaranya ketersediaannya yang bersifat musiman. Pohon dapat dipanen pada musim apapun sehingga dapat tersedia di pasar kapan saja. Namun beberapa tanaman serat hanya bisa ditanam dan tumbuh pada musim tertentu saja. Penyimpanan serat tanaman musiman tersebut harus dilakukan dengan saksama agar tidak membusuk. Begitu banyak mesin pembuat pulp berkapasitas ribuan ton per sehari sehingga jika serat tidak tersedia sepanjang tahun, akan merugikan perusahaan. | Beberapa masalah terkait pemanfaatan tanaman serat diantaranya ketersediaannya yang bersifat musiman. Pohon dapat dipanen pada musim apapun sehingga dapat tersedia di pasar kapan saja. Namun beberapa tanaman serat hanya bisa ditanam dan tumbuh pada musim tertentu saja. Penyimpanan serat tanaman musiman tersebut harus dilakukan dengan saksama agar tidak membusuk. Begitu banyak mesin pembuat pulp berkapasitas ribuan ton per sehari sehingga jika serat tidak tersedia sepanjang tahun, akan merugikan perusahaan.<ref>[http://www.bc.com/environment/positionNonwood.jsp Nonwood Alternatives to Wood Fiber in Paper].</ref> | ||
Secara botani, bagian tanaman yang dipanen seratnya adalah bagian [[serat kulit kayu]], serat yang datang dari jaringan [[floem]] tanaman. Bagian tanaman berserat lainnya adalah serat daun yang keras yang terbuat dari seluruh jaringan pembuluh, dan serat permukaan yang datang dari jaringan epidermal tanaman. | Secara botani, bagian tanaman yang dipanen seratnya adalah bagian [[serat kulit kayu]], serat yang datang dari jaringan [[floem]] tanaman. Bagian tanaman berserat lainnya adalah serat daun yang keras yang terbuat dari seluruh jaringan pembuluh, dan serat permukaan yang datang dari jaringan epidermal tanaman.<ref>Estelle Levetin. [https://archive.org/details/plantssociety0000leve_e2d8 Plants and Society]. McGraw-Hill. 2012. hlm. [https://archive.org/details/plantssociety0000leve_e2d8/page/297 297]. ISBN 978-0-07-352422-1.</ref> | ||
==Sumber serat== | ==Sumber serat== | ||
Sebelum industrialisasi, sumber serat untuk [[industri kertas dan pulp|produksi kertas]] datang dari tekstil bekas yang terbuat dari [[rami]], [[hemp]], [[linen]], dan [[katun]]. Proses untuk menghilangkan zat pewarna dari serat-serat tersebut dikembangkan oleh [[Justus Claproth]] di tahun 1774. Metodenya disebut dengan [[pengawatintaan]] (''deinking''). [[Pulp]] kayu diperkenalkan pada tahun 1843 sehingga produksi kertas tidak lagi menggunakan serat tekstil bekas. | Sebelum industrialisasi, sumber serat untuk [[industri kertas dan pulp|produksi kertas]] datang dari tekstil bekas yang terbuat dari [[rami]], [[hemp]], [[linen]], dan [[katun]].<ref>Lothar Göttsching. ''Recycled Fiber and Deinking''. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.</ref> Proses untuk menghilangkan zat pewarna dari serat-serat tersebut dikembangkan oleh [[Justus Claproth]] di tahun 1774.<ref>Lothar Göttsching. ''Recycled Fiber and Deinking''. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.</ref> Metodenya disebut dengan [[pengawatintaan]] (''deinking''). [[Pulp]] kayu diperkenalkan pada tahun 1843 sehingga produksi kertas tidak lagi menggunakan serat tekstil bekas.<ref>Lothar Göttsching. ''Recycled Fiber and Deinking''. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.</ref> | ||
Untuk dapat dimanfaatkan industri, serat harus diekstrasi dari tumbuhan. Ekstraksi dilakukan dengan berbagai metode, tergantung jenis seratnya. | Untuk dapat dimanfaatkan industri, serat harus diekstrasi dari tumbuhan. Ekstraksi dilakukan dengan berbagai metode, tergantung jenis seratnya. | ||
===Tanaman serat=== | ===Tanaman serat=== | ||
* [[Serat kulit kayu]] | * [[Serat kulit kayu]] | ||
** [[Boehmeria nivea|Rami]], | ** [[Boehmeria nivea|Rami]], | ||
** [[Esparto]] | ** [[Esparto]] | ||
** [[Jute]] | ** [[Jute]] | ||
| Baris 43: | Baris 44: | ||
** ''[[Asclepias]]'' | ** ''[[Asclepias]]'' | ||
** ''[[Luffa]]'' | ** ''[[Luffa]]'' | ||
==Pranala luar== | ==Pranala luar== | ||
*[http://waynesword.palomar.edu/traug99.htm Waynesword Plant Fibers] Accessed 2010-11-23 | *[http://waynesword.palomar.edu/traug99.htm Waynesword Plant Fibers] Accessed 2010-11-23 | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanaman+serat&oldid=27723557 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27723557 (2025-08-24T03:11:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 23.08

Tamaman serat adalah tanaman yang ditumbuhkan untuk menghasilkan serat yang umumnya akan dijadikan berbagai macam komoditas, seperti kertas, pakaian, dan tali.[1]
Tanaman serat dicirikan dengan kandungan selulosa yang relatif tinggi dan menguatkan struktur mereka. Serat tersebut dapat dimodifikasi secara kimia, seperti serat selulosa viskos yang digunakan untuk membuat rayon dan selofan. Ilmu bahan telah berkembang beberapa tahun terakhir dan mulai mengembangkan beberapa jenis serat untuk dijadikan bahan atau material komposit. Selulosa merupakan faktor utama penentu kekuatan serat tanaman sehingga menjadi target riset dan pengembangan oleh para ilmuwan untuk menemukan jenis serat baru.
Tanaman serat juga umumnya dapat dipanen setelah satu musim berlalu; tidak sama dengan pohon yang membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum bisa dipanen. Dalam kasus tertentu, serat yang dihasilkan tanaman semusim tersebut dapat berkualitas lebih baik dalam hal performa teknis, dampak lingkungan, dan biaya jika dibandingkan dengan pulp dari kayu.[2]
Beberapa masalah terkait pemanfaatan tanaman serat diantaranya ketersediaannya yang bersifat musiman. Pohon dapat dipanen pada musim apapun sehingga dapat tersedia di pasar kapan saja. Namun beberapa tanaman serat hanya bisa ditanam dan tumbuh pada musim tertentu saja. Penyimpanan serat tanaman musiman tersebut harus dilakukan dengan saksama agar tidak membusuk. Begitu banyak mesin pembuat pulp berkapasitas ribuan ton per sehari sehingga jika serat tidak tersedia sepanjang tahun, akan merugikan perusahaan.[3]
Secara botani, bagian tanaman yang dipanen seratnya adalah bagian serat kulit kayu, serat yang datang dari jaringan floem tanaman. Bagian tanaman berserat lainnya adalah serat daun yang keras yang terbuat dari seluruh jaringan pembuluh, dan serat permukaan yang datang dari jaringan epidermal tanaman.[4]
Sumber serat
Sebelum industrialisasi, sumber serat untuk produksi kertas datang dari tekstil bekas yang terbuat dari rami, hemp, linen, dan katun.[5] Proses untuk menghilangkan zat pewarna dari serat-serat tersebut dikembangkan oleh Justus Claproth di tahun 1774.[6] Metodenya disebut dengan pengawatintaan (deinking). Pulp kayu diperkenalkan pada tahun 1843 sehingga produksi kertas tidak lagi menggunakan serat tekstil bekas.[7]
Untuk dapat dimanfaatkan industri, serat harus diekstrasi dari tumbuhan. Ekstraksi dilakukan dengan berbagai metode, tergantung jenis seratnya.
Tanaman serat
Pranala luar
- Waynesword Plant Fibers Accessed 2010-11-23
Referensi
- ↑ Estelle Levetin. Plants and Society. McGraw-Hill. 2012. hlm. 297. ISBN 978-0-07-352422-1.
- ↑ Agripulp: pulping agricultural crops.
- ↑ Nonwood Alternatives to Wood Fiber in Paper.
- ↑ Estelle Levetin. Plants and Society. McGraw-Hill. 2012. hlm. 297. ISBN 978-0-07-352422-1.
- ↑ Lothar Göttsching. Recycled Fiber and Deinking. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.
- ↑ Lothar Göttsching. Recycled Fiber and Deinking. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.
- ↑ Lothar Göttsching. Recycled Fiber and Deinking. Fapet Oy. 2000. Vol. 7. hlm. 12–14. ISBN 952-5216-07-1.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27723557 (2025-08-24T03:11:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.