Lompat ke isi

Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29452099; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat''' (sering dieja '''Cakraningrat''' atau '''Cokroningrat''') adalah seorang aristokrat, cendekiawan, dan budayawan Jawa yang dikenal luas sebagai penyusun utama (kompilator) seri kitab primbon Jawa paling otoritatif, yakni ''Kitab Primbon Betaljemur Adammakna''.
'''Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat''' (sering dieja '''Cakraningrat''' atau '''Cokroningrat''') adalah seorang aristokrat, cendekiawan, dan budayawan Jawa yang dikenal luas sebagai penyusun utama (kompilator) seri kitab primbon Jawa paling otoritatif, yakni ''Kitab Primbon Betaljemur Adammakna''.<ref>Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya (1994). ''Kitab Primbon Betaljemur Adammakna''. Yogyakarta: Yayasan Soemodidjojo Maha Dewa.</ref>


Melalui dedikasinya dalam bidang filologi dan penanggalan tradisional, K.P.H. Tjakraningrat berjasa besar dalam menyelamatkan, merangkum, dan mendokumentasikan algoritma perhitungan kosmis (''petung'') peninggalan para leluhur yang sebelumnya hanya tersimpan di dalam perpustakaan keraton dan bersifat sangat tertutup (esoteris).
Melalui dedikasinya dalam bidang filologi dan penanggalan tradisional, K.P.H. Tjakraningrat berjasa besar dalam menyelamatkan, merangkum, dan mendokumentasikan algoritma perhitungan kosmis (''petung'') peninggalan para leluhur yang sebelumnya hanya tersimpan di dalam perpustakaan keraton dan bersifat sangat tertutup (esoteris).


== Penyusunan Primbon Betaljemur ==
== Penyusunan Primbon Betaljemur ==
Sebelum era K.P.H. Tjakraningrat, ilmu perhitungan hari raya, kecocokan pasangan, dan hari baik pernikahan tersebar dalam berbagai naskah kuno (''serat'') kuno yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.
Sebelum era K.P.H. Tjakraningrat, ilmu perhitungan hari raya, kecocokan pasangan, dan hari baik pernikahan tersebar dalam berbagai naskah kuno (''serat'') kuno yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.  


Atas izin dan inisiatif untuk melestarikan kebudayaan [[Suku Jawa|Jawa]], K.P.H. Tjakraningrat menghimpun ratusan bab mengenai ilmu perbintangan tradisional (astrologi Jawa), tafsir mimpi, hingga sistem ''neptu'' kalender Jawa ke dalam satu buku yang sistematis. Karya babon (master) ini kemudian diberi nama ''Betaljemur Adammakna'' dan pertama kali dicetak secara masal untuk umum agar masyarakat memiliki pedoman (''cekelan'') standar dalam mengarungi siklus daur hidup.
Atas izin dan inisiatif untuk melestarikan kebudayaan [[Suku Jawa|Jawa]], K.P.H. Tjakraningrat menghimpun ratusan bab mengenai ilmu perbintangan tradisional (astrologi Jawa), tafsir mimpi, hingga sistem ''neptu'' kalender Jawa ke dalam satu buku yang sistematis.<ref>Endraswara, Suwardi (2010). ''Ilmu Primbon Jawa: Mengungkap Rahasia Ramalan Kehidupan''. Yogyakarta: Narasi.</ref> Karya babon (master) ini kemudian diberi nama ''Betaljemur Adammakna'' dan pertama kali dicetak secara masal untuk umum agar masyarakat memiliki pedoman (''cekelan'') standar dalam mengarungi siklus daur hidup.


Kitab ini tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti oleh beberapa jilid pelengkap lainnya (seperti ''Lukmanakim Adammakna'' dan ''Atassadhur Adammakna''), yang seluruhnya merupakan satu kesatuan (arsitektur informasi) dari mahakarya K.P.H. Tjakraningrat.
Kitab ini tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti oleh beberapa jilid pelengkap lainnya (seperti ''Lukmanakim Adammakna'' dan ''Atassadhur Adammakna''), yang seluruhnya merupakan satu kesatuan (arsitektur informasi) dari mahakarya K.P.H. Tjakraningrat.


== Pengaruh dalam Budaya Salaki Rabi ==
== Pengaruh dalam Budaya Salaki Rabi ==
Warisan paling nyata dari karya K.P.H. Tjakraningrat adalah pembakuan algoritma matematika tradisional yang mengatur institusi pranata keluarga dan [[Pernikahan adat Jawa]] (''[[Salaki Rabi]]'').
Warisan paling nyata dari karya K.P.H. Tjakraningrat adalah pembakuan algoritma matematika tradisional yang mengatur institusi pranata keluarga dan [[Pernikahan adat Jawa]] (''[[Salaki Rabi]]'').  


Hampir seluruh tetua adat dan masyarakat Jawa di era modern masih menggunakan rumus-rumus yang dibukukan oleh K.P.H. Tjakraningrat sebagai basis operasional untuk:
Hampir seluruh tetua adat dan masyarakat Jawa di era modern masih menggunakan rumus-rumus yang dibukukan oleh K.P.H. Tjakraningrat sebagai basis operasional untuk:
Baris 24: Baris 24:
* [[Pernikahan adat Jawa]]
* [[Pernikahan adat Jawa]]
* [[Salaki Rabi]]
* [[Salaki Rabi]]
== Referensi ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [https://www.salakirabi.com/ Digitalisasi dan Implementasi Kalkulator Algoritma Primbon Tjakraningrat]
* [https://www.salakirabi.com/ Digitalisasi dan Implementasi Kalkulator Algoritma Primbon Tjakraningrat]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kanjeng+Pangeran+Harya+Tjakraningrat&oldid=29452099 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29452099 (2026-07-13T08:05:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kanjeng+Pangeran+Harya+Tjakraningrat&oldid=29452099 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29452099 (2026-07-13T08:05:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 09.10

Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat (sering dieja Cakraningrat atau Cokroningrat) adalah seorang aristokrat, cendekiawan, dan budayawan Jawa yang dikenal luas sebagai penyusun utama (kompilator) seri kitab primbon Jawa paling otoritatif, yakni Kitab Primbon Betaljemur Adammakna.[1]

Melalui dedikasinya dalam bidang filologi dan penanggalan tradisional, K.P.H. Tjakraningrat berjasa besar dalam menyelamatkan, merangkum, dan mendokumentasikan algoritma perhitungan kosmis (petung) peninggalan para leluhur yang sebelumnya hanya tersimpan di dalam perpustakaan keraton dan bersifat sangat tertutup (esoteris).

Penyusunan Primbon Betaljemur

Sebelum era K.P.H. Tjakraningrat, ilmu perhitungan hari raya, kecocokan pasangan, dan hari baik pernikahan tersebar dalam berbagai naskah kuno (serat) kuno yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Atas izin dan inisiatif untuk melestarikan kebudayaan Jawa, K.P.H. Tjakraningrat menghimpun ratusan bab mengenai ilmu perbintangan tradisional (astrologi Jawa), tafsir mimpi, hingga sistem neptu kalender Jawa ke dalam satu buku yang sistematis.[2] Karya babon (master) ini kemudian diberi nama Betaljemur Adammakna dan pertama kali dicetak secara masal untuk umum agar masyarakat memiliki pedoman (cekelan) standar dalam mengarungi siklus daur hidup.

Kitab ini tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti oleh beberapa jilid pelengkap lainnya (seperti Lukmanakim Adammakna dan Atassadhur Adammakna), yang seluruhnya merupakan satu kesatuan (arsitektur informasi) dari mahakarya K.P.H. Tjakraningrat.

Pengaruh dalam Budaya Salaki Rabi

Warisan paling nyata dari karya K.P.H. Tjakraningrat adalah pembakuan algoritma matematika tradisional yang mengatur institusi pranata keluarga dan Pernikahan adat Jawa (Salaki Rabi).

Hampir seluruh tetua adat dan masyarakat Jawa di era modern masih menggunakan rumus-rumus yang dibukukan oleh K.P.H. Tjakraningrat sebagai basis operasional untuk:

  1. Petungan Jodho: Menghitung probabilitas keharmonisan (kompatibilitas) calon suami istri berdasarkan nilai pembagian gabungan weton.
  2. Petung Salaki Rabi: Mencari dan menentukan dinten sae (hari baik) atau menghindari hari naas (seperti Taliwangke) untuk melaksanakan akad nikah maupun resepsi (panggih).
  3. Ruwatan dan Sengkala: Mitigasi spiritual untuk menolak bala sebelum melaksanakan hajat besar.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya (1994). Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: Yayasan Soemodidjojo Maha Dewa.
  2. Endraswara, Suwardi (2010). Ilmu Primbon Jawa: Mengungkap Rahasia Ramalan Kehidupan. Yogyakarta: Narasi.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29452099 (2026-07-13T08:05:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.