Sifat koligatif larutan: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28593481; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Sifat koligatif larutan''' adalah sifat fisik [[larutan]] yang tidak bergantung pada identitas [[zat terlarut]], tetapi hanya bergantung pada [[Konsentrasi Larutan|konsentrasi]] partikel zat terlarutnya relatif terhadap larutan atau pelarut. Konsentrasi yang dimaksud dapat berupa molaritas, molalitas, dan fraksi mol. | [[File:SaltInWaterSolutionLiquid.jpg|thumb|right|280px|Larutan garam]] | ||
'''Sifat koligatif larutan''' adalah sifat fisik [[larutan]] yang tidak bergantung pada identitas [[zat terlarut]], tetapi hanya bergantung pada [[Konsentrasi Larutan|konsentrasi]] partikel zat terlarutnya relatif terhadap larutan atau pelarut.<ref>Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama</ref> Konsentrasi yang dimaksud dapat berupa molaritas, molalitas, dan fraksi mol. | |||
Sifat koligatif larutan didasari oleh keadaan ideal larutan, yakni keadaan ketika larutan mencerminkan sifat termodinamika yang ideal. Dalam hal ini, sifat-sifat larutan yang sangat encer mirip dengan larutan ideal sehingga sifat-sifat koligatif dihitung seperti seolah-olah larutan ideal. | Sifat koligatif larutan didasari oleh keadaan ideal larutan, yakni keadaan ketika larutan mencerminkan sifat termodinamika yang ideal. Dalam hal ini, sifat-sifat larutan yang sangat encer mirip dengan larutan ideal sehingga sifat-sifat koligatif dihitung seperti seolah-olah larutan ideal. | ||
Sifat koligatif larutan digunakan untuk menjelaskan karakter larutan yang terdiri dari pelarut volatil 'mudah menguap' dan zat terlarut nonvolatil. Senyawa yang tidak terdisosiasi, atau nonelektrolit, dapat langsung ditentukan dengan mudah, tetapi untuk senyawa yang terdisosiasi, seperti larutan garam, maka terdapat faktor van't Hoff. | Sifat koligatif larutan digunakan untuk menjelaskan karakter larutan yang terdiri dari pelarut volatil 'mudah menguap' dan zat terlarut nonvolatil. Senyawa yang tidak terdisosiasi, atau nonelektrolit, dapat langsung ditentukan dengan mudah, tetapi untuk senyawa yang terdisosiasi, seperti larutan garam, maka terdapat faktor van't Hoff.<ref>Jago Kimia SMA. Penulis Esvandiari. Penerbit Niaga Swadaya. ISBN 979-3567-54-6, 9789793567549</ref> | ||
Sifat koligatif larutan terdiri dari empat macam, yaitu: | Sifat koligatif larutan terdiri dari empat macam, yaitu: | ||
| Baris 20: | Baris 22: | ||
=== Molalitas (m) === | === Molalitas (m) === | ||
Molalitas (kemolalan) adalah jumlah [[mol]] zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut. Molalitas didefinisikan dengan persamaan berikut: | Molalitas (kemolalan) adalah jumlah [[mol]] zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut. Molalitas didefinisikan dengan persamaan berikut: | ||
| Baris 27: | Baris 28: | ||
=== Fraksi mol === | === Fraksi mol === | ||
Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang semua komponen (senyawa, ion, atau zat) larutannya dinyatakan berdasarkan mol.<ref>Praktis Belajar Kimia.Penulis Imam Rahayu.Penerbit PT Grafindo Media Pratama</ref> Fraksi mol komponen <math>i</math>, dilambangkan dengan <math>x_i</math> adalah jumlah mol komponen <math>i</math> dibagi dengan jumlah mol semua komponen dalam larutan. Fraksi mol dari komponen <math>j</math> adalah <math>x_j</math> dan seterusnya.<ref>Praktis Belajar Kimia.Penulis Imam Rahayu.Penerbit PT Grafindo Media Pratama</ref> Jumlah fraksi mol dari semua komponen adalah 1. Persamaannya dapat ditulis dengan: | |||
Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang semua komponen (senyawa, ion, atau zat) larutannya dinyatakan berdasarkan mol. Fraksi mol komponen <math>i</math>, dilambangkan dengan <math>x_i</math> adalah jumlah mol komponen <math>i</math> dibagi dengan jumlah mol semua komponen dalam larutan. Fraksi mol dari komponen <math>j</math> adalah <math>x_j</math> dan seterusnya. Jumlah fraksi mol dari semua komponen adalah 1. Persamaannya dapat ditulis dengan: | |||
:<math>x_i = \frac{n_i}{n_i+n_j}</math> | :<math>x_i = \frac{n_i}{n_i+n_j}</math> | ||
== Penurunan tekanan uap == | == Penurunan tekanan uap == | ||
[[Molekul]]-molekul yang menyusun [[zat cair]], apabila memiliki energi yang cukup, dapat keluar dari permukaan menjadi gas yang memiliki [[tekanan]] sehingga menghasilkan [[tekanan uap]].<ref>Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481</ref> Tekanan uap mencerminkan volatilitas zat cair tersebut, atau dengan kata lain, seberapa mudah zat cair tersebut berubah menjadi uap pada [[suhu]] tertentu. Makin mudah suatu cairan menguap, makin tinggi tekanan uap yang dimiliki cairan tersebut, dan makin rendah pula titik didihnya.<ref>Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481</ref> | |||
Apabila zat cair tersebut ditambahkan zat terlarut yang tidak menguap, maka partikel-partikel zat terlarut ini akan mengurangi [[penguapan]] molekul-molekul zat cair.<ref>Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481</ref> Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis: | |||
Apabila zat cair tersebut ditambahkan zat terlarut yang tidak menguap, maka partikel-partikel zat terlarut ini akan mengurangi [[penguapan]] molekul-molekul zat cair. Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis: | |||
:<math>\Delta P = P^{\circ} - P</math> | :<math>\Delta P = P^{\circ} - P</math> | ||
| Baris 44: | Baris 43: | ||
* P = tekanan uap larutan | * P = tekanan uap larutan | ||
Pada tahun 1878, Marie Francois Raoult, seorang [[kimiawan]] asal [[Prancis]], melakukan percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan (keadaan ketika nilai tekanan uap tidak berubah lagi). Ia menyimpulkan adanya hubungan antara tekanan uap jenuh larutan dengan fraksi mol pelarut dan tekanan uap jenuh pelarut murni. Penemuannya ini dirumuskan dalam '''[[Hukum Raoult]]''' sebagai berikut: | Pada tahun 1878, Marie Francois Raoult, seorang [[kimiawan]] asal [[Prancis]], melakukan percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan (keadaan ketika nilai tekanan uap tidak berubah lagi). Ia menyimpulkan adanya hubungan antara tekanan uap jenuh larutan dengan fraksi mol pelarut dan tekanan uap jenuh pelarut murni.<ref>Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481</ref> Penemuannya ini dirumuskan dalam '''[[Hukum Raoult]]''' sebagai berikut: | ||
:<math>P = P^{\circ} \times X_\text{p} </math> | :<math>P = P^{\circ} \times X_\text{p} </math> | ||
| Baris 53: | Baris 52: | ||
* X<sub>p</sub> = fraksi mol zat pelarut | * X<sub>p</sub> = fraksi mol zat pelarut | ||
* X<sub>t</sub> = fraksi mol zat terlarut | * X<sub>t</sub> = fraksi mol zat terlarut | ||
[[Laut mati]] adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. [[Air]] berkadar [[garam]] sangat tinggi ini terletak di daerah [[gurun]] yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan [[laut]] bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi. | [[Laut mati]] adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. [[Air]] berkadar [[garam]] sangat tinggi ini terletak di daerah [[gurun]] yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan [[laut]] bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi.<ref>Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481</ref> | ||
== Kenaikan titik didih == | == Kenaikan titik didih == | ||
[[Titik didih]] zat cair adalah [[suhu]] tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Keberadaan zat terlarut menyebabkan larutan memiliki titik didih lebih tinggi daripada pelarut murni. Partikel-partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan pelarut sehingga partikel pelarut membutuhkan [[energi]] yang lebih besar dan suhu lebih tinggi untuk mendidih. | [[Titik didih]] zat cair adalah [[suhu]] tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya.<ref>Kimia Sma.Penerbit Galangpress Group.ISBN 602-8276-35-9, 9786028276351</ref> Keberadaan zat terlarut menyebabkan larutan memiliki titik didih lebih tinggi daripada pelarut murni. Partikel-partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan pelarut sehingga partikel pelarut membutuhkan [[energi]] yang lebih besar dan suhu lebih tinggi untuk mendidih.<ref>Kimia Sma.Penerbit Galangpress Group.ISBN 602-8276-35-9, 9786028276351</ref> | ||
Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih dan dinyatakan dengan <math>\Delta T_\text{b}</math>. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: | Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih dan dinyatakan dengan <math>\Delta T_\text{b}</math>. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: | ||
| Baris 68: | Baris 67: | ||
* M<sub>r</sub> = massa molekul relatif | * M<sub>r</sub> = massa molekul relatif | ||
{| class="wikitable" | |||
|+'''Tabel Tetapan Kenaikan Titik Didih (K<sub>b</sub>) Beberapa Pelarut'''<ref>Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277</ref> | |||
|- | |||
! Pelarut | |||
! Titik Didih (°C) | |||
! Tetapan (K<sub>b</sub>) | |||
|- | |||
| [[Aseton]] | |||
| 56,2 | |||
| 1,71 | |||
|- | |||
| [[Benzena]] | |||
| 80,1 | |||
| 2,53 | |||
|- | |||
| [[wikt:kamper|Kamper]] | |||
| 204,0 | |||
| 5,61 | |||
|- | |||
| [[Karbon tetraklorida]] | |||
| 76,5 | |||
| 4,95 | |||
|- | |||
| [[Sikloheksana]] | |||
| 80,7 | |||
| 2,79 | |||
|- | |||
| [[Naftalena]] | |||
| 217,7 | |||
| 5,80 | |||
|- | |||
| [[Fenol]] | |||
| 182 | |||
| 3,04 | |||
|- | |||
| Air | |||
| 100,0 | |||
| 0,52 | |||
|} | |||
== Penurunan titik beku == | == Penurunan titik beku == | ||
Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih kecil daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: | Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih kecil daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:<ref>Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277</ref> | ||
:<math>\Delta T_\text{f} = K_\text{f} \ \times \ m</math> | :<math>\Delta T_\text{f} = K_\text{f} \ \times \ m</math> | ||
| Baris 79: | Baris 117: | ||
* m = molalitas larutan (mol/kg) | * m = molalitas larutan (mol/kg) | ||
{| class="wikitable" | |||
|+'''Tabel Tetapan Penurunan Titik Beku (K<sub>f</sub>) Beberapa Pelarut'''<ref>Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277</ref> | |||
|- | |||
! Pelarut | |||
! Titik Beku (°C) | |||
! Tetapan (K<sub>f</sub>) | |||
|- | |||
| [[Aseton]] | |||
| -95,35 | |||
| 2,40 | |||
|- | |||
| [[Benzena]] | |||
| 5,45 | |||
| 5,12 | |||
|- | |||
| [[Kapur barus|Kamper]] | |||
| 179,8 | |||
| 39,7 | |||
|- | |||
| [[Karbon tetraklorida]] | |||
| -23 | |||
| 29,8 | |||
|- | |||
| [[Sikloheksana]] | |||
| 6,5 | |||
| 20,1 | |||
|- | |||
| [[Naftalena]] | |||
| 80,5 | |||
| 6,94 | |||
|- | |||
| [[Fenol]] | |||
| 43 | |||
| 7,27 | |||
|- | |||
| [[Air]] | |||
| 0 | |||
| 1,86 | |||
|} | |||
== Tekanan osmotik == | == Tekanan osmotik == | ||
Apabila suatu larutan disimpan di dalam selaput semipermeabel (dapat dilalui pelarut, tetapi tidak oleh terlarut) dan dikelilingi oleh pelarut, terdapat aliran zat pelarut ke dalam larutan melalui peristiwa [[osmosis]]. Tekanan osmotik adalah tekanan yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat pelarut yang masuk melalui peristiwa tersebut<ref>Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277</ref> Menurut van't Hoff, tekanan osmotik larutan dirumuskan sebagai berikut: | |||
Apabila suatu larutan disimpan di dalam selaput semipermeabel (dapat dilalui pelarut, tetapi tidak oleh terlarut) dan dikelilingi oleh pelarut, terdapat aliran zat pelarut ke dalam larutan melalui peristiwa [[osmosis]]. Tekanan osmotik adalah tekanan yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat pelarut yang masuk melalui peristiwa tersebut Menurut van't Hoff, tekanan osmotik larutan dirumuskan sebagai berikut: | |||
:<math>\Pi = M \times R \times T </math> | :<math>\Pi = M \times R \times T </math> | ||
| Baris 94: | Baris 170: | ||
Beberapa senyawa di dalam air mengalami disosiasi di dalam air. Hal ini khususnya terjadi pada larutan garam yang membentuk ion-ion sehingga membentuk larutan [[elektrolit]]. Misalnya, larutan 100 mL glukosa 1 M memiliki 100 mmol molekul glukosa, tetapi 100 mL NaCl 1 M memiliki 200 mmol partikel terlarut (100 mmol ion Na<sup>+</sup> dan 100 mmol ion Cl<sup>-</sup>). Akibatnya, zat yang berlebih di dalam larutan elektrolit menyebabkan sifat koligatif larutan tersebut lebih besar daripada sifat koligatif larutan nonelektrolit. | Beberapa senyawa di dalam air mengalami disosiasi di dalam air. Hal ini khususnya terjadi pada larutan garam yang membentuk ion-ion sehingga membentuk larutan [[elektrolit]]. Misalnya, larutan 100 mL glukosa 1 M memiliki 100 mmol molekul glukosa, tetapi 100 mL NaCl 1 M memiliki 200 mmol partikel terlarut (100 mmol ion Na<sup>+</sup> dan 100 mmol ion Cl<sup>-</sup>). Akibatnya, zat yang berlebih di dalam larutan elektrolit menyebabkan sifat koligatif larutan tersebut lebih besar daripada sifat koligatif larutan nonelektrolit. | ||
Jumlah partikel zat terlarut setelah terjadi [[reaksi ionisasi]] dalam elektrolit dirumuskan dalam faktor van't Hoff (<math>i</math>) dengan persamaan sebagai berikut: | Jumlah partikel zat terlarut setelah terjadi [[reaksi ionisasi]] dalam elektrolit dirumuskan dalam faktor van't Hoff (<math>i</math>) dengan persamaan sebagai berikut: | ||
:<math>i = 1 + (n - 1)\alpha </math> | :<math>i = 1 + (n - 1)\alpha </math> | ||
| Baris 100: | Baris 176: | ||
Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor van't Hoff ini, sebagaimana berikut: | Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor van't Hoff ini, sebagaimana berikut: | ||
{| class="wikitable" | |||
|+ | |||
!Sifat koligatif | |||
!Persamaan larutan nonelektrolit | |||
!Persamaan larutan elektrolit | |||
|- | |||
|Penurunan tekanan uap | |||
|<math>\Delta P = P^{\circ} \times X_\text{t}</math> | |||
|<math>\Delta P = P^{\circ} \times X_\text{t} \times i </math> | |||
|- | |||
|Kenaikan titik didih | |||
|<math>\Delta T_\text{b} = K_\text{b} \times m</math> | |||
|<math>\Delta T_\text{b} = K_\text{b} \times m \times i</math> | |||
|- | |||
|Penurunan titik beku | |||
|<math>\Delta T_\text{f} = K_\text{f} \times m</math> | |||
|<math>\Delta T_\text{f} = K_\text{f} \times m \times i</math> | |||
|- | |||
|Tekanan osmotik | |||
|<math>\Pi = M \times R \times T </math> | |||
|<math>\Pi = M \times R \times T \times i </math> | |||
|} | |||
== Lihat Pula == | == Lihat Pula == | ||
| Baris 107: | Baris 204: | ||
* [[Kelarutan Nonelektrolit]] | * [[Kelarutan Nonelektrolit]] | ||
* [[Larutan]] | * [[Larutan]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [http://www.ilmukimia.org/2012/12/sifat-koligatif-larutan.html Sifat Koligatif Larutan] | * [http://www.ilmukimia.org/2012/12/sifat-koligatif-larutan.html Sifat Koligatif Larutan] | ||
* [http://www.e-dukasi.net Materi Kimia] | * [http://www.e-dukasi.net Materi Kimia] | ||
* [http://www.chemguide.co.uk/physical/phaseeqia/raoultnonvol.html Raoult Law] | * [http://www.chemguide.co.uk/physical/phaseeqia/raoultnonvol.html Raoult Law] | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sifat+koligatif+larutan&oldid=28593481 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28593481 (2025-11-21T20:29:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 09.12

Sifat koligatif larutan adalah sifat fisik larutan yang tidak bergantung pada identitas zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya relatif terhadap larutan atau pelarut.[1] Konsentrasi yang dimaksud dapat berupa molaritas, molalitas, dan fraksi mol.
Sifat koligatif larutan didasari oleh keadaan ideal larutan, yakni keadaan ketika larutan mencerminkan sifat termodinamika yang ideal. Dalam hal ini, sifat-sifat larutan yang sangat encer mirip dengan larutan ideal sehingga sifat-sifat koligatif dihitung seperti seolah-olah larutan ideal.
Sifat koligatif larutan digunakan untuk menjelaskan karakter larutan yang terdiri dari pelarut volatil 'mudah menguap' dan zat terlarut nonvolatil. Senyawa yang tidak terdisosiasi, atau nonelektrolit, dapat langsung ditentukan dengan mudah, tetapi untuk senyawa yang terdisosiasi, seperti larutan garam, maka terdapat faktor van't Hoff.[2]
Sifat koligatif larutan terdiri dari empat macam, yaitu:
- Penurunan tekanan uap larutan
- Kenaikan titik didih
- Penurunan titik beku
- Tekanan osmotik
Molaritas, molalitas dan fraksi mol
Molaritas (M)
Molaritas (kemolaran) adalah jumlah mol zat yang terlarut dalam 1 liter (L) larutan. Apabila volume larutan tersebut masih dalam mililiter (mL), ada baiknya dikonversi terlebih dahulu dengan membaginya dengan 1000 (1 mL = 1/1000 L). Molaritas didefinisikan dengan persamaan berikut:
Keterangan: M = molaritas, n = jumlah zat (mol), V = volume larutan (L), w = massa (gram), dan Mr = massa molar zat terlarut (g/mol)
Molalitas (m)
Molalitas (kemolalan) adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut. Molalitas didefinisikan dengan persamaan berikut:
Keterangan: m = molalitas (mol/kg), n = jumlah zat (mol), wpelarut = massa zat pelarut (kg), wpelarut = massa zat terlarut (g), dan Mr = massa molar zat terlarut (g/mol).
Fraksi mol
Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang semua komponen (senyawa, ion, atau zat) larutannya dinyatakan berdasarkan mol.[3] Fraksi mol komponen , dilambangkan dengan adalah jumlah mol komponen dibagi dengan jumlah mol semua komponen dalam larutan. Fraksi mol dari komponen adalah dan seterusnya.[4] Jumlah fraksi mol dari semua komponen adalah 1. Persamaannya dapat ditulis dengan:
Penurunan tekanan uap
Molekul-molekul yang menyusun zat cair, apabila memiliki energi yang cukup, dapat keluar dari permukaan menjadi gas yang memiliki tekanan sehingga menghasilkan tekanan uap.[5] Tekanan uap mencerminkan volatilitas zat cair tersebut, atau dengan kata lain, seberapa mudah zat cair tersebut berubah menjadi uap pada suhu tertentu. Makin mudah suatu cairan menguap, makin tinggi tekanan uap yang dimiliki cairan tersebut, dan makin rendah pula titik didihnya.[6]
Apabila zat cair tersebut ditambahkan zat terlarut yang tidak menguap, maka partikel-partikel zat terlarut ini akan mengurangi penguapan molekul-molekul zat cair.[7] Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis:
- P° = tekanan uap zat cair murni (pelarut)
- P = tekanan uap larutan
Pada tahun 1878, Marie Francois Raoult, seorang kimiawan asal Prancis, melakukan percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan (keadaan ketika nilai tekanan uap tidak berubah lagi). Ia menyimpulkan adanya hubungan antara tekanan uap jenuh larutan dengan fraksi mol pelarut dan tekanan uap jenuh pelarut murni.[8] Penemuannya ini dirumuskan dalam Hukum Raoult sebagai berikut:
- P = tekanan uap jenuh larutan
- P° = tekanan uap jenuh pelarut murni
- Xp = fraksi mol zat pelarut
- Xt = fraksi mol zat terlarut
Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan laut bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi.[9]
Kenaikan titik didih
Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya.[10] Keberadaan zat terlarut menyebabkan larutan memiliki titik didih lebih tinggi daripada pelarut murni. Partikel-partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan pelarut sehingga partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar dan suhu lebih tinggi untuk mendidih.[11]
Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih dan dinyatakan dengan . Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:
- Tb = kenaikan titik didih (°C)
- Kb = tetapan kenaikan titik didih molal (°C kg/mol)
- m = molalitas larutan (mol/kg)
- Mr = massa molekul relatif
| Pelarut | Titik Didih (°C) | Tetapan (Kb) |
|---|---|---|
| Aseton | 56,2 | 1,71 |
| Benzena | 80,1 | 2,53 |
| Kamper | 204,0 | 5,61 |
| Karbon tetraklorida | 76,5 | 4,95 |
| Sikloheksana | 80,7 | 2,79 |
| Naftalena | 217,7 | 5,80 |
| Fenol | 182 | 3,04 |
| Air | 100,0 | 0,52 |
Penurunan titik beku
Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih kecil daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:[13]
- Tf = penurunan titik beku (°C)
- Kf = tetapan perubahan titik beku (°C kg/mol)
- m = molalitas larutan (mol/kg)
| Pelarut | Titik Beku (°C) | Tetapan (Kf) |
|---|---|---|
| Aseton | -95,35 | 2,40 |
| Benzena | 5,45 | 5,12 |
| Kamper | 179,8 | 39,7 |
| Karbon tetraklorida | -23 | 29,8 |
| Sikloheksana | 6,5 | 20,1 |
| Naftalena | 80,5 | 6,94 |
| Fenol | 43 | 7,27 |
| Air | 0 | 1,86 |
Tekanan osmotik
Apabila suatu larutan disimpan di dalam selaput semipermeabel (dapat dilalui pelarut, tetapi tidak oleh terlarut) dan dikelilingi oleh pelarut, terdapat aliran zat pelarut ke dalam larutan melalui peristiwa osmosis. Tekanan osmotik adalah tekanan yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat pelarut yang masuk melalui peristiwa tersebut[15] Menurut van't Hoff, tekanan osmotik larutan dirumuskan sebagai berikut:
- = tekanan osmotik (atm)
- M = molaritas larutan (M)
- R = tetapan gas (0,082 L atm/mol K)
- T = suhu mutlak (K)
Faktor van't Hoff
Beberapa senyawa di dalam air mengalami disosiasi di dalam air. Hal ini khususnya terjadi pada larutan garam yang membentuk ion-ion sehingga membentuk larutan elektrolit. Misalnya, larutan 100 mL glukosa 1 M memiliki 100 mmol molekul glukosa, tetapi 100 mL NaCl 1 M memiliki 200 mmol partikel terlarut (100 mmol ion Na+ dan 100 mmol ion Cl-). Akibatnya, zat yang berlebih di dalam larutan elektrolit menyebabkan sifat koligatif larutan tersebut lebih besar daripada sifat koligatif larutan nonelektrolit.
Jumlah partikel zat terlarut setelah terjadi reaksi ionisasi dalam elektrolit dirumuskan dalam faktor van't Hoff () dengan persamaan sebagai berikut:
Keterangan: = faktor Van't Hoff, n = jumlah ion terbentuk, dan = derajat ionisasi
Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor van't Hoff ini, sebagaimana berikut:
| Sifat koligatif | Persamaan larutan nonelektrolit | Persamaan larutan elektrolit |
|---|---|---|
| Penurunan tekanan uap | ||
| Kenaikan titik didih | ||
| Penurunan titik beku | ||
| Tekanan osmotik |
Lihat Pula
Pranala luar
Referensi
- ↑ Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama
- ↑ Jago Kimia SMA. Penulis Esvandiari. Penerbit Niaga Swadaya. ISBN 979-3567-54-6, 9789793567549
- ↑ Praktis Belajar Kimia.Penulis Imam Rahayu.Penerbit PT Grafindo Media Pratama
- ↑ Praktis Belajar Kimia.Penulis Imam Rahayu.Penerbit PT Grafindo Media Pratama
- ↑ Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481
- ↑ Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481
- ↑ Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481
- ↑ Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481
- ↑ Cerdas Belajar Kimia.Penulis Nana Sutresna.Penerbit PT Grafindo Media Pratama.ISBN 979-758-448-8, 9789797584481
- ↑ Kimia Sma.Penerbit Galangpress Group.ISBN 602-8276-35-9, 9786028276351
- ↑ Kimia Sma.Penerbit Galangpress Group.ISBN 602-8276-35-9, 9786028276351
- ↑ Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277
- ↑ Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277
- ↑ Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277
- ↑ Kimia SMA/MA Kls XII (Diknas).Penulis Suyatno.Penerbit Grasindo.ISBN 979-025-027-4, 9789790250277
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28593481 (2025-11-21T20:29:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.