Lalu Kaidah Mele Habirah: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28590630; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Dea Kuasa Lalu Jamalia Mele Habira''' atau '''Lalu Jamila Mele Habirah''' atau '''Lalu Kaidah Dea Mele Habirah''' yang bernama anumerta '''Dea Kuasa [[Unter Iwes, Sumbawa|Unter Iwes]]''' adalah Dea Ranga yakni mangkubumi [[Kesultanan Sumbawa]]. | '''Dea Kuasa Lalu Jamalia Mele Habira'''<ref>Lalu Mantja. [https://www.google.co.id/books/edition/Sumbawa_pada_masa_dulu/G7ceAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&dq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&printsec=frontcover Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah]. Rinta. 1984. hlm. 148.</ref> atau '''Lalu Jamila Mele Habirah''' atau '''Lalu Kaidah Dea Mele Habirah''' yang bernama anumerta '''Dea Kuasa [[Unter Iwes, Sumbawa|Unter Iwes]]''' adalah Dea Ranga yakni mangkubumi [[Kesultanan Sumbawa]].<ref>Lalu Mantja. [https://www.google.co.id/books/edition/Sumbawa_pada_masa_dulu/G7ceAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&dq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&printsec=frontcover Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah]. Rinta. 1984. hlm. 148.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=6yR_CgAAQBAJ&pg=PA56&dq=dea+kuasa&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiJ0Yin0sPjAhUaH48KHf_mDLsQ6AEIKDAA#v=onepage&q=dea%20kuasa&f=false Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 56.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/5 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/34 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/35 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[https://www.sumbawakab.go.id/sejarah-kesultanan-sumbawa.html Sejarah Kesultanan Sumbawa]. ''Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa''.</ref><ref>https://www.scribd.com/document/403789226/Data-Kesejarahan-Kesultanan-Sumbawa-bagian-1-docx</ref> | ||
Kemangkatan Sultan Harunnurrasyid II pada tanggal 8 Dzulkaidah 1205 atau 9 Juli 1791, Shafiatuddin yang bernama asli Masikki dijemput dari Bima untuk menduduki tahta Kesultanan Sumbawa. Pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin antara 1791 – 1792 telah datang ke Kesultanan Sumbawa, Karaeng Bainea Binamu Tenri Ico Dai Karaeng Marabombang, membawa kedua putranya : Saragialu Daeng Talebang dan I Mangalle Daeng Datta, beserta para pengikutnya. Mereka berlabuh di pelabuhan Garegat Bonto Kemase Labuhan Bontong Empang. Kedatangan ke Kesultanan Sumbawa setelah ditinggal mangkat oleh sang suami, Raja Binamu, I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompo Ri Binamu. Di mana terjadi kesalahan dalam pengangkatan raja pengganti yang menyebabkan ketersinggunangannya dan meninggalkan kerajaan Binamu negerinya tercinta menuju ke Sumbawa. Sebagai sesama wanita Sultananh Shafiatuddin lalu menghadiahkan tanah untuk pemukiman dan pertanian. Adipati Kesultanan Sumbawa, Lalu Kaidah Mele Habirah, kemudian mempersunting Saragi Alu Daeng Talebang, Putri Binamu. Melahirkan Lalu Tunji Dea Tane dan Lala Intan Ratu Nong Sasir. Permaisuri Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II, Lala Amatollah adalah putri dari Lala Intan Ratu Nong Sasir buah perkawinannya dengan Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape. Sedangkan keturunan dari Lalu Tunji Dea Tame melahirkan para pembesar dan pemberani Kesultanan Sumbawa antara lain : Lalu Makasau Dea Ranga Rango Berang, dan Adipati Abdul Jabar Lalu Tunruang. Pelaksanaan pemerintahan Sultanah Shafiatuddin tidak terlalu berjalan lancar karena campur tangan yang terlampau jauh dari sang suami Sultan Bima. Gelagat yang kurang menguntungkan ini kemudian membawa permufakatan Pangantong Lima Olas untuk menurunkan Sultanah Shafiatuddin. Kepulangannya ke Bima membawa serta Pusaka Kesultanan Sumbawa yang kemudian didaftar pada dokumen Kesultanan dan dimuat sdalam BUK Kesultanan Sumbawa. Pusaka tersebut telah diminta berkali – kali tetapi Kesultanan Bima enggan mengembalikan. Dalam catatan rahasia Bima tertanggal 15 November 1796, yang diterima Gubernur Belanda Willem Beth di Makassar, diterangkan bahwa seluruh pusaka Kesultanan Sumbawa telah diserahkan melalui utusan Kesultanan Sumbawa ; Datu Busing. Namun barang – barang tersebut tidak pernah sampai ke Istana Kesultanan Sumbawa. Sejak itulah dikeluarkan Maklumat oleh hukum adat Kesultanan Sumbawa untuk tidak lagi menobatkan seorang perempuan menjadi Sultanah. Sultanah Shafiatuddin mangkat di Bima pada tanggal 26 Oktober 1795 dan dimakamkan di Makam Sigi Na’e ( Mesjid Agung Bima). | Kemangkatan Sultan Harunnurrasyid II pada tanggal 8 Dzulkaidah 1205 atau 9 Juli 1791, Shafiatuddin yang bernama asli Masikki dijemput dari Bima untuk menduduki tahta Kesultanan Sumbawa. Pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin antara 1791 – 1792 telah datang ke Kesultanan Sumbawa, Karaeng Bainea Binamu Tenri Ico Dai Karaeng Marabombang, membawa kedua putranya : Saragialu Daeng Talebang dan I Mangalle Daeng Datta, beserta para pengikutnya. Mereka berlabuh di pelabuhan Garegat Bonto Kemase Labuhan Bontong Empang. Kedatangan ke Kesultanan Sumbawa setelah ditinggal mangkat oleh sang suami, Raja Binamu, I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompo Ri Binamu. Di mana terjadi kesalahan dalam pengangkatan raja pengganti yang menyebabkan ketersinggunangannya dan meninggalkan kerajaan Binamu negerinya tercinta menuju ke Sumbawa. Sebagai sesama wanita Sultananh Shafiatuddin lalu menghadiahkan tanah untuk pemukiman dan pertanian. Adipati Kesultanan Sumbawa, Lalu Kaidah Mele Habirah, kemudian mempersunting Saragi Alu Daeng Talebang, Putri Binamu. Melahirkan Lalu Tunji Dea Tane dan Lala Intan Ratu Nong Sasir. Permaisuri Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II, Lala Amatollah adalah putri dari Lala Intan Ratu Nong Sasir buah perkawinannya dengan Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape. Sedangkan keturunan dari Lalu Tunji Dea Tame melahirkan para pembesar dan pemberani Kesultanan Sumbawa antara lain : Lalu Makasau Dea Ranga Rango Berang, dan Adipati Abdul Jabar Lalu Tunruang. Pelaksanaan pemerintahan Sultanah Shafiatuddin tidak terlalu berjalan lancar karena campur tangan yang terlampau jauh dari sang suami Sultan Bima. Gelagat yang kurang menguntungkan ini kemudian membawa permufakatan Pangantong Lima Olas untuk menurunkan Sultanah Shafiatuddin. Kepulangannya ke Bima membawa serta Pusaka Kesultanan Sumbawa yang kemudian didaftar pada dokumen Kesultanan dan dimuat sdalam BUK Kesultanan Sumbawa. Pusaka tersebut telah diminta berkali – kali tetapi Kesultanan Bima enggan mengembalikan. Dalam catatan rahasia Bima tertanggal 15 November 1796, yang diterima Gubernur Belanda Willem Beth di Makassar, diterangkan bahwa seluruh pusaka Kesultanan Sumbawa telah diserahkan melalui utusan Kesultanan Sumbawa ; Datu Busing. Namun barang – barang tersebut tidak pernah sampai ke Istana Kesultanan Sumbawa. Sejak itulah dikeluarkan Maklumat oleh hukum adat Kesultanan Sumbawa untuk tidak lagi menobatkan seorang perempuan menjadi Sultanah. Sultanah Shafiatuddin mangkat di Bima pada tanggal 26 Oktober 1795 dan dimakamkan di Makam Sigi Na’e ( Mesjid Agung Bima).<ref>https://www.scribd.com/document/403789226/Data-Kesejarahan-Kesultanan-Sumbawa-bagian-1-docx</ref> | ||
== Karier politik == | == Karier politik == | ||
=== Menjadi Enti Desa === | === Menjadi Enti Desa === | ||
Mula-mula Lalu Kaidah Mele Habirah menjabat Enti Desa. | Mula-mula Lalu Kaidah Mele Habirah menjabat Enti Desa. | ||
| Baris 19: | Baris 18: | ||
== Pemakaman == | == Pemakaman == | ||
Beliau wafat di [[Kabupaten Sumbawa|Sumbawa]] dan dimakamkan di [[Unter Iwes, Sumbawa|Untir Iwis]], hingga kemudian beliau diabadikan dengan julukan Dea Kuasa Untir (Iwis), berarti bahwa kekuasaan yang tadinya begitu luas kini tinggallah seluas tanah pekuburan.<ref>Lalu Mantja. [https://www.google.co.id/books/edition/Sumbawa_pada_masa_dulu/G7ceAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&dq=Lalu-Jamila-Mele-Habira&printsec=frontcover Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah]. Rinta. 1984. hlm. 148.</ref> | |||
Beliau wafat di [[Kabupaten Sumbawa|Sumbawa]] dan dimakamkan di [[Unter Iwes, Sumbawa|Untir Iwis]], hingga kemudian beliau diabadikan dengan julukan Dea Kuasa Untir (Iwis), berarti bahwa kekuasaan yang tadinya begitu luas kini tinggallah seluas tanah pekuburan. | |||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Pangeran Taliwang]] | * [[Pangeran Taliwang]] | ||
* [[Muhammad Jalaluddin II]] | * [[Muhammad Jalaluddin II]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* https://lombokinsider.com/destination-news/cerita-di-balik-pawai-budaya-fesmo-2016-di-sumbawa-bag/ | * https://lombokinsider.com/destination-news/cerita-di-balik-pawai-budaya-fesmo-2016-di-sumbawa-bag/ | ||
* http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/62 Bala Datu Ranga | * http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/62 Bala Datu Ranga | ||
* https://www.academia.edu/12264639/Sejarah_Fajar_Binamu_dan_Bangkala_Sulawesi_Selatan | * https://www.academia.edu/12264639/Sejarah_Fajar_Binamu_dan_Bangkala_Sulawesi_Selatan | ||
| Baris 37: | Baris 32: | ||
== Kekerabatan dengan Sultan Banjar == | == Kekerabatan dengan Sultan Banjar == | ||
Raja Banjar Sultan [[Sulaiman dari Banjar|Sulaiman Rahmatullah / Sulaiman Saidullah II]] (bin Panembahan Kaharuddin Halilullah, Sultan Tahmidillah II, Sunan Sulaiman Saidullah I, [[Sunan Nata Alam]]) telah menerima sebuah tombak pusaka bernama [[Kaliblah]] dari sepupunya [[Raja Sumbawa]] XIII Dewa Masmawa Sultan [[Muhammad Kaharuddin II]] (bin [[Dewa Masmawa Sultan Mahmud]] anak [[Ratoe Laija]]). | Raja Banjar Sultan [[Sulaiman dari Banjar|Sulaiman Rahmatullah / Sulaiman Saidullah II]] (bin Panembahan Kaharuddin Halilullah, Sultan Tahmidillah II, Sunan Sulaiman Saidullah I, [[Sunan Nata Alam]]) telah menerima sebuah tombak pusaka bernama [[Kaliblah]] dari sepupunya [[Raja Sumbawa]] XIII Dewa Masmawa Sultan [[Muhammad Kaharuddin II]] (bin [[Dewa Masmawa Sultan Mahmud]] anak [[Ratoe Laija]]). | ||
Tertulis dalam buku ''Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde'' volume 14 (1864:503): | Tertulis dalam buku ''Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde'' volume 14 (1864:503):<ref>[https://books.google.co.id/books?id=ZUVBAQAAMAAJ&pg=PA503&dq=Ratoe+Laija&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiWhuSa8vzhAhUN2qwKHZytCYQQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Ratoe%20Laija&f=false Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde]. Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864. Vol. 14. hlm. 503.</ref> | ||
<blockquote>Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren. | <blockquote>Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=ZUVBAQAAMAAJ&pg=PA503&dq=Ratoe+Laija&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiWhuSa8vzhAhUN2qwKHZytCYQQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Ratoe%20Laija&f=false Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde]. Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864. Vol. 14. hlm. 503.</ref> | ||
</blockquote> | </blockquote> | ||
Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah ''Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin'' dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari [[Kesultanan Banjar]] yang bernama [[Raden Subangsa]] bergelar [[Pangeran Taliwang]] yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias [[Amas Mattaram]] yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa [[Mas Bantan]]) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.<ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/34 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>[http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/35 Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2]. Universitas Teknologi Sumbawa.</ref><ref>https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. ''Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography''. Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 1968.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. ''Hikayat Banjar''. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1990. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X</ref><ref>Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia). [https://books.google.co.id/books?id=GxdxAAAAMAAJ&q=mas+bantan+kerajaan+sumbawa&dq=mas+bantan+kerajaan+sumbawa&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj3loHPtqjeAhXMeisKHdDJDPgQ6AEIPzAF Hikayat Banjar dan Kotaringin]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. 1993. hlm. 139.</ref><ref>Anton A. Cense. [https://books.google.co.id/books?id=ctwBAAAAMAAJ&q=soebangsa+taliwang&dq=soebangsa+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjIocbM7NnZAhWMi5QKHTH7CAgQ6AEIJzAA De kroniek van Bandjarmasin]. C.A. Mees. 1928. hlm. 54.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. [https://books.google.co.id/books?id=VxATAQAAIAAJ&q=pangeran+taliwang&dq=pangeran+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjypuWx7dnZAhXIlpQKHSzoA3wQ6AEIMjAC Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography]. Martinus Nijhoff. 1968.</ref><ref>Johannes Jacobus Ras. [https://books.google.co.id/books?id=dUM8AAAAIAAJ&q=pangeran+taliwang&dq=pangeran+taliwang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiil9r4__TiAhVCRKwKHYAtB5MQ6AEIOjADC Bibliotheca Indonesica]. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1968. Vol. 1.</ref><ref>Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. [https://books.google.co.id/books?id=EQMNAQAAMAAJ&q=kasuma+mandura&dq=kasuma+mandura&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGqOu_rLjiAhUQQ6wKHcJmB1IQ6AEINTAC Inti sari karya klasik]. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Vol. 1. ISBN 9836295062. ISBN 9789836295064</ref><ref>Ali Majod. [https://books.google.co.id/books?id=fuFRAQAAMAAJ&q=kasuma+mandura&dq=kasuma+mandura&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGqOu_rLjiAhUQQ6wKHcJmB1IQ6AEIMDAB Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja]. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=ZxkmAQAAIAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiP_JHSqfziAhWFVc0KHTu7DpoQ6AEIKDAA#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=8uNRAQAAMAAJ&q=raden+saradipa&dq=raden+saradipa&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjR2MKJvrjiAhUFLa0KHVVwAjgQ6AEIKDAA Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat]. Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981.</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=JGZfAAAAcAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjhq93VnP_iAhXWWc0KHRlzAlcQ6AEINjAC#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 51. hlm. 199.</ref><ref>Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. [https://books.google.co.id/books?id=JGZfAAAAcAAJ&pg=PA199&dq=Empoe+Djamatka,+of+Djitmaka,+of+Djat+Maka,&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjhq93VnP_iAhXWWc0KHRlzAlcQ6AEINjAC#v=onepage&q=Empoe%20Djamatka%2C%20of%20Djitmaka%2C%20of%20Djat%20Maka%2C&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)]. Becht. 1861. Vol. 51. hlm. 199.</ref><ref>Wolter Robert Hoëvel. [https://books.google.co.id/books?id=PJMKAAAAYAAJ&pg=PA199&dq=Snlthan+Soerian+Sjah,+of+Soeria+Angsa,+(de+genoemde+Samoedra);+1500%E2%80%941540.&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj4qNGrpOvhAhVRMawKHVtXCvcQ6AEIKjAA#v=onepage&q=Snlthan%20Soerian%20Sjah%2C%20of%20Soeria%20Angsa%2C%20(de%20genoemde%20Samoedra)%3B%201500%E2%80%941540.&f=false Tijdschrift voor Nederlandsch Indië]. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.</ref> | |||
Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah ''Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin'' dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari [[Kesultanan Banjar]] yang bernama [[Raden Subangsa]] bergelar [[Pangeran Taliwang]] yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias [[Amas Mattaram]] yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa [[Mas Bantan]]) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3. | |||
}} | }} | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lalu+Kaidah+Mele+Habirah&oldid=28590630 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28590630 (2025-11-21T16:16:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lalu+Kaidah+Mele+Habirah&oldid=28590630 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28590630 (2025-11-21T16:16:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 15.00
Dea Kuasa Lalu Jamalia Mele Habira[1] atau Lalu Jamila Mele Habirah atau Lalu Kaidah Dea Mele Habirah yang bernama anumerta Dea Kuasa Unter Iwes adalah Dea Ranga yakni mangkubumi Kesultanan Sumbawa.[2][3][4][5][6][7][8] Kemangkatan Sultan Harunnurrasyid II pada tanggal 8 Dzulkaidah 1205 atau 9 Juli 1791, Shafiatuddin yang bernama asli Masikki dijemput dari Bima untuk menduduki tahta Kesultanan Sumbawa. Pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin antara 1791 – 1792 telah datang ke Kesultanan Sumbawa, Karaeng Bainea Binamu Tenri Ico Dai Karaeng Marabombang, membawa kedua putranya : Saragialu Daeng Talebang dan I Mangalle Daeng Datta, beserta para pengikutnya. Mereka berlabuh di pelabuhan Garegat Bonto Kemase Labuhan Bontong Empang. Kedatangan ke Kesultanan Sumbawa setelah ditinggal mangkat oleh sang suami, Raja Binamu, I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompo Ri Binamu. Di mana terjadi kesalahan dalam pengangkatan raja pengganti yang menyebabkan ketersinggunangannya dan meninggalkan kerajaan Binamu negerinya tercinta menuju ke Sumbawa. Sebagai sesama wanita Sultananh Shafiatuddin lalu menghadiahkan tanah untuk pemukiman dan pertanian. Adipati Kesultanan Sumbawa, Lalu Kaidah Mele Habirah, kemudian mempersunting Saragi Alu Daeng Talebang, Putri Binamu. Melahirkan Lalu Tunji Dea Tane dan Lala Intan Ratu Nong Sasir. Permaisuri Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II, Lala Amatollah adalah putri dari Lala Intan Ratu Nong Sasir buah perkawinannya dengan Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape. Sedangkan keturunan dari Lalu Tunji Dea Tame melahirkan para pembesar dan pemberani Kesultanan Sumbawa antara lain : Lalu Makasau Dea Ranga Rango Berang, dan Adipati Abdul Jabar Lalu Tunruang. Pelaksanaan pemerintahan Sultanah Shafiatuddin tidak terlalu berjalan lancar karena campur tangan yang terlampau jauh dari sang suami Sultan Bima. Gelagat yang kurang menguntungkan ini kemudian membawa permufakatan Pangantong Lima Olas untuk menurunkan Sultanah Shafiatuddin. Kepulangannya ke Bima membawa serta Pusaka Kesultanan Sumbawa yang kemudian didaftar pada dokumen Kesultanan dan dimuat sdalam BUK Kesultanan Sumbawa. Pusaka tersebut telah diminta berkali – kali tetapi Kesultanan Bima enggan mengembalikan. Dalam catatan rahasia Bima tertanggal 15 November 1796, yang diterima Gubernur Belanda Willem Beth di Makassar, diterangkan bahwa seluruh pusaka Kesultanan Sumbawa telah diserahkan melalui utusan Kesultanan Sumbawa ; Datu Busing. Namun barang – barang tersebut tidak pernah sampai ke Istana Kesultanan Sumbawa. Sejak itulah dikeluarkan Maklumat oleh hukum adat Kesultanan Sumbawa untuk tidak lagi menobatkan seorang perempuan menjadi Sultanah. Sultanah Shafiatuddin mangkat di Bima pada tanggal 26 Oktober 1795 dan dimakamkan di Makam Sigi Na’e ( Mesjid Agung Bima).[9]
Karier politik
Menjadi Enti Desa
Mula-mula Lalu Kaidah Mele Habirah menjabat Enti Desa.
Menjadi Nene Adipati (Menteri Pertahanan)
Lalu Kaidah Mele Habirah kemudian menjabat Adipati (Menteri Pertahanan) Kesultanan Sumbawa dengan gelar Nene Adipati Mele Habira.
Menjadi Dea Ranga (Mangkubumi)
Setelah selesai menduduki jabatan sebagai Adipati (Menteri Pertahanan), Lalu Jamila Mele Habira kemudian dipromosikan menduduki jabatan Dea Ranga yakni mangkubumi Kesultanan Sumbawa.
Keturunan
Lalu Jamila Mele Habira Dea Kuasa memiliki dua isteri, yakni:
- Lala Syarifah
- Lala Saragialu Daeng Talebang
Pemakaman
Beliau wafat di Sumbawa dan dimakamkan di Untir Iwis, hingga kemudian beliau diabadikan dengan julukan Dea Kuasa Untir (Iwis), berarti bahwa kekuasaan yang tadinya begitu luas kini tinggallah seluas tanah pekuburan.[10]
Lihat pula
Pranala luar
- https://lombokinsider.com/destination-news/cerita-di-balik-pawai-budaya-fesmo-2016-di-sumbawa-bag/
- http://kebudayaan.sumbawakab.go.id/objek/id/62 Bala Datu Ranga
- https://www.academia.edu/12264639/Sejarah_Fajar_Binamu_dan_Bangkala_Sulawesi_Selatan
- http://makassar.tribunnews.com/2016/06/16/komplek-makam-raja-raja-binamu-bukti-nyata-kejayaan-kerajaan-di-jeneponto
- http://onesearch.id/Record/IOS3765.SULSE000000000089230
- http://id.rodovid.org/wk/Orang:305086 Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (Gusti Mesir Abdurrahman)
Kekerabatan dengan Sultan Banjar
Raja Banjar Sultan Sulaiman Rahmatullah / Sulaiman Saidullah II (bin Panembahan Kaharuddin Halilullah, Sultan Tahmidillah II, Sunan Sulaiman Saidullah I, Sunan Nata Alam) telah menerima sebuah tombak pusaka bernama Kaliblah dari sepupunya Raja Sumbawa XIII Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II (bin Dewa Masmawa Sultan Mahmud anak Ratoe Laija).
Tertulis dalam buku Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde volume 14 (1864:503):[11]
Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren.[12]
Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III dan Raja-raja di Sumbawa menurut naskah Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin dan Majelis Adat - Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) serta Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, memiliki leluhur seorang bangsawan dari Kesultanan Banjar yang bernama Raden Subangsa bergelar Pangeran Taliwang yang memiliki seorang putra di Taliwang bernama Raden Mataram alias Amas Mattaram yang menjadi Datu Taliwang dan seorang putera lainnya di Sumbawa Besar bernama Raden Bantan (Dewa Mas Bantan) yang menjadi Sultan Sumbawa ke-3.[13][14][15][16][17][18][19][20][21][22][23][24][25][26][27][28]
}}
Referensi
- ↑ Lalu Mantja. Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Rinta. 1984. hlm. 148.
- ↑ Lalu Mantja. Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Rinta. 1984. hlm. 148.
- ↑ Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1978. hlm. 56.
- ↑ Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Sultan-sultan Sumbawa. Universitas Teknologi Sumbawa.
- ↑ Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
- ↑ Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
- ↑ Sejarah Kesultanan Sumbawa. Website Resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
- ↑ https://www.scribd.com/document/403789226/Data-Kesejarahan-Kesultanan-Sumbawa-bagian-1-docx
- ↑ https://www.scribd.com/document/403789226/Data-Kesejarahan-Kesultanan-Sumbawa-bagian-1-docx
- ↑ Lalu Mantja. Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Rinta. 1984. hlm. 148.
- ↑ Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864. Vol. 14. hlm. 503.
- ↑ Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864. Vol. 14. hlm. 503.
- ↑ Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 1. Universitas Teknologi Sumbawa.
- ↑ Ensiklopedia Kebudayaan Sumbawa, Pemerintahan Sultan Bagian 2. Universitas Teknologi Sumbawa.
- ↑ https://www.scribd.com/doc/190123982/Hikayat-Banjar
- ↑ Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A study in Malay historiography. Bibliotheca Indonesica, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), Martinus Nijhoff. 1968.
- ↑ Johannes Jacobus Ras. Hikayat Banjar. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. 1990. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
- ↑ Rosyadi, Sri Mintosih, Soeloso, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Indonesia). Hikayat Banjar dan Kotaringin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. 1993. hlm. 139.
- ↑ Anton A. Cense. De kroniek van Bandjarmasin. C.A. Mees. 1928. hlm. 54.
- ↑ Johannes Jacobus Ras. Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Martinus Nijhoff. 1968.
- ↑ Johannes Jacobus Ras. Bibliotheca Indonesica. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. 1968. Vol. 1.
- ↑ Rogayah A. Hamid, Etty Zalita Zakaria. Inti sari karya klasik. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Vol. 1. ISBN 9836295062. ISBN 9789836295064
- ↑ Ali Majod. Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja. Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 2004. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145
- ↑ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.
- ↑ Hikayat Banjar Volume 1 dari Seri penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat. Museum Negeri Lambung Mangkurat. 1981.
- ↑ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
- ↑ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo). Becht. 1861. Vol. 51. hlm. 199.
- ↑ Wolter Robert Hoëvel. Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Ter Lands-drukkerij. 1861. Vol. 23. hlm. 199.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28590630 (2025-11-21T16:16:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.