Teori konspirasi perusahaan farmasi besar: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29517764; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Teori konspirasi perusahaan farmasi besar''' adalah [[teori konspirasi]] yang mengacu pada keyakinan atau spekulasi yang menyatakan bahwa perusahaan farmasi besar (dikenal dengan istilah "Big Pharma") terlibat dalam konspirasi untuk menyembunyikan informasi, memperburuk penyakit, atau mencegah penyembuhan, dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial yang tidak wajar. | '''Teori konspirasi perusahaan farmasi besar''' adalah [[teori konspirasi]] yang mengacu pada keyakinan atau spekulasi yang menyatakan bahwa perusahaan farmasi besar (dikenal dengan istilah "Big Pharma") terlibat dalam konspirasi untuk menyembunyikan informasi, memperburuk penyakit, atau mencegah penyembuhan, dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial yang tidak wajar.<ref>Robert Blaskiewicz. ''The Big Pharma conspiracy theory''. ''Medical Writing''. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.</ref><ref>''Religious and conspiracist? An analysis of the relationship between the dimensions of individual religiosity and belief in a big pharma conspiracy theory''. ''Italian Political Science Review/Rivista Italiana di Scienza Politica''. 12 May 2021. Vol. 52 (1). hlm. 33–50. doi:10.1017/ipo.2021.15.</ref> | ||
==Variasi== | ==Variasi== | ||
Salah satu tuduhan yang sering muncul adalah perusahaan farmasi selama ini membiayai banyak sekali biaya pendidikan, pelatihan, bahkan gaya hidup dokter dalam bentuk beasiswa atau gratifikasi lainnya, sehingga mau tidak mau dokter merasa terikat untuk meresepkan hanya obat-obatan dari perusahaan tersebut. Tuduhan ini sebenarnya sudah dibantah langsung oleh PB IDI, dan dengan keras melarang adanya konflik kepentingan seperti itu terjadi di kalangan dokter dan industri farmasi | Salah satu tuduhan yang sering muncul adalah perusahaan farmasi selama ini membiayai banyak sekali biaya pendidikan, pelatihan, bahkan gaya hidup dokter dalam bentuk beasiswa atau gratifikasi lainnya, sehingga mau tidak mau dokter merasa terikat untuk meresepkan hanya obat-obatan dari perusahaan tersebut. Tuduhan ini sebenarnya sudah dibantah langsung oleh PB IDI, dan dengan keras melarang adanya konflik kepentingan seperti itu terjadi di kalangan dokter dan industri farmasi<ref>[https://news.detik.com/berita/d-3139719/idi-sponsorship-ke-dokter-hanya-transportasi-akomodasi-dan-daftar-seminar ''IDI: Sponsorship Hanya Transporatasi, Akomodasi, dan Daftar Seminar''.] dari situs detik</ref> | ||
Beberapa teori menggabungkan pernyataan bahwa pengobatan alami dan alternatif untuk berbagai masalah kesehatan sedang tekanan dan penzaliman, bahwa pengobatan [[HIV/AIDS]] sebenarnya tidak efektif dan berbahaya, bahwa obat yang efektif untuk semua jenis kanker sebenarnya telah ditemukan, tetapi disembunyikan dari publik, bahwa [[vaksin COVID-19]] tidak efektif, atau bahwa [[pengobatan alternatif]] untuk [[COVID-19]] itu sendiri ada. Dalam sebagian besar kasus, para penganut teori konspirasi menyalahkan pencarian keuntungan secara serakah oleh perusahaan farmasi. Sejumlah analisis telah mengakui dan menentukan bahwa klaim-klaim ini salah, meskipun pada ujungnya mereka tetap menyatakan bahwa kritik terhadap [[industri farmasi]] adalah sah. | Beberapa teori menggabungkan pernyataan bahwa pengobatan alami dan alternatif untuk berbagai masalah kesehatan sedang tekanan dan penzaliman, bahwa pengobatan [[HIV/AIDS]] sebenarnya tidak efektif dan berbahaya, bahwa obat yang efektif untuk semua jenis kanker sebenarnya telah ditemukan, tetapi disembunyikan dari publik, bahwa [[vaksin COVID-19]] tidak efektif, atau bahwa [[pengobatan alternatif]] untuk [[COVID-19]] itu sendiri ada. Dalam sebagian besar kasus, para penganut teori konspirasi menyalahkan pencarian keuntungan secara serakah oleh perusahaan farmasi. Sejumlah analisis telah mengakui dan menentukan bahwa klaim-klaim ini salah, meskipun pada ujungnya mereka tetap menyatakan bahwa kritik terhadap [[industri farmasi]] adalah sah.<ref>Benjamin Radford. [https://centerforinquiry.org/blog/big_pharma_conspiracy_debunked/ Big Pharma Conspiracy Debunked]. ''centerforinquiry.org''. 12 January 2016.</ref><ref>Ben Goldacre. ''Bad Pharma''. Fourth Estate. 2008. ISBN 978-0-00-735074-2.</ref><ref>Steven Novella. [http://www.sciencebasedmedicine.org/demonizing-big-pharma/ Demonizing 'Big Pharma']. ''Science-Based Medicine''. 22 April 2010.</ref><ref>Steven Novella. [http://www.skepticblog.org/2011/05/16/another-cure-for-cancer/ ANOTHER CURE FOR CANCER?]. ''skepticblog.org''.</ref><ref>Dave Roos. [https://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/everyday-myths/no-there-is-no-hidden-cancer-cure.htm Is There a Hidden Cure for Cancer?]. ''howstuffworks.com''. 5 June 2018.</ref><ref>Childs, Oliver. [https://scienceblog.cancerresearchuk.org/2014/03/24/dont-believe-the-hype-10-persistent-cancer-myths-debunked/#miracle-cure Don't believe the hype – 10 persistent cancer myths debunked]. ''Cancer Research UK''. 24 March 2014.</ref><ref>Dina Fine Maron. [https://www.scientificamerican.com/article/can-we-truly-cure-cancer/ Can We Truly "Cure" Cancer?]. ''scientificamerican.com''.</ref> | ||
==Pengaruh internet dan media sosial== | ==Pengaruh internet dan media sosial== | ||
[[André Picard]] menulis pada tahun 2009 bahwa internet telah mengubah secara radikal sifat diskursus ilmiah populer dari yang jarang dan penuh rasa hormat menjadi luas dan sebaliknya, malah menjadi berbasis konspirasi. Debat ilmiah sering digantikan dengan penolakan terhadap sains sebagai "bagian dari konspirasi besar". Dalam [[pandangan dunia]] konspirasi, "Dokter, perawat, apoteker, ahli farmasi, ahli biokimia, ahli imunologi, ahli genetika, dan jurnalis tidak bisa dipercaya. Mereka semua terlibat dalam jejaring korupsi". | [[André Picard]] menulis pada tahun 2009 bahwa internet telah mengubah secara radikal sifat diskursus ilmiah populer dari yang jarang dan penuh rasa hormat menjadi luas dan sebaliknya, malah menjadi berbasis konspirasi. Debat ilmiah sering digantikan dengan penolakan terhadap sains sebagai "bagian dari konspirasi besar". Dalam [[pandangan dunia]] konspirasi, "Dokter, perawat, apoteker, ahli farmasi, ahli biokimia, ahli imunologi, ahli genetika, dan jurnalis tidak bisa dipercaya. Mereka semua terlibat dalam jejaring korupsi".<ref>[https://www.theglobeandmail.com/life/health-and-fitness/bloggers-theres-no-big-pharma-conspiracy/article20445149/ Bloggers, there's no Big Pharma conspiracy]. ''Globe & Mail (Toronto, Canada)''. 5 March 2009.</ref> | ||
==Sejarah== | ==Sejarah== | ||
Menurut [[Steven Novella]], penggunaan istilah seperti ''Big Pharma'' (secara harfiah berarti perusahaan farmasi besar) pada masa kini mengandung mengandung motif demonisasi terhadap [[industri farmasi]], yang digambarkan dengan cara yang emosional, mengabaikan kompleksitas sejarah bisnis yang sebenarnya. Profesor Robert Blaskiewicz menulis bahwa penganut teori konspirasi menggunakan istilah ''Big Pharma'' sebagai "singkatan untuk entitas abstrak perusahaan, regulator, LSM, politikus, dan sering kali malah menuduh dokter, bahwa mereka semua memiliki kepentingan dalam kue farmasi [[resep dokter]], senilai triliunan dolar". | Menurut [[Steven Novella]], penggunaan istilah seperti ''Big Pharma'' (secara harfiah berarti perusahaan farmasi besar) pada masa kini mengandung mengandung motif demonisasi terhadap [[industri farmasi]], yang digambarkan dengan cara yang emosional, mengabaikan kompleksitas sejarah bisnis yang sebenarnya.<ref>Steven Novella. [http://www.sciencebasedmedicine.org/demonizing-big-pharma/ Demonizing 'Big Pharma']. ''Science-Based Medicine''. 22 April 2010.</ref> Profesor Robert Blaskiewicz menulis bahwa penganut teori konspirasi menggunakan istilah ''Big Pharma'' sebagai "singkatan untuk entitas abstrak perusahaan, regulator, LSM, politikus, dan sering kali malah menuduh dokter, bahwa mereka semua memiliki kepentingan dalam kue farmasi [[resep dokter]], senilai triliunan dolar".<ref>Robert Blaskiewicz. ''The Big Pharma conspiracy theory''. ''Medical Writing''. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.</ref> | ||
Menurut Blaskiewicz, teori konspirasi Big Pharma memiliki empat ciri klasik, yaitu: | Menurut Blaskiewicz, teori konspirasi Big Pharma memiliki empat ciri klasik, yaitu: | ||
*Pertama, asumsi bahwa konspirasi dilakukan oleh kelompok kecil, tetapi memonopoli pengetahuan, yang jahatnya luar biasa. | *Pertama, asumsi bahwa konspirasi dilakukan oleh kelompok kecil, tetapi memonopoli pengetahuan, yang jahatnya luar biasa. | ||
*Kedua, keyakinan bahwa masyarakat umum tidak tahu kebenaran yang pasti. | *Kedua, keyakinan bahwa masyarakat umum tidak tahu kebenaran yang pasti. | ||
*Ketiga, bahwa para penganutnya memperlakukan kurangnya bukti sebagai bukti itu sendiri, mirip dengan apa yang dilakukan penganut teori [[bumi datar]]. | *Ketiga, bahwa para penganutnya memperlakukan kurangnya bukti sebagai bukti itu sendiri, mirip dengan apa yang dilakukan penganut teori [[bumi datar]]. | ||
*Keempat, bahwa argumen yang diajukan untuk mendukung teori ini tidak rasional, salah pengertian, atau keliru. | *Keempat, bahwa argumen yang diajukan untuk mendukung teori ini tidak rasional, salah pengertian, atau keliru.<ref>Robert Blaskiewicz. ''The Big Pharma conspiracy theory''. ''Medical Writing''. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.</ref> | ||
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, teori konspirasi ini dipromosikan oleh [[Ann Wigmore]] yang berpendapat bahwa penyakit, termasuk kanker dan [[HIV/AIDS]], dapat diobati secara efektif dengan diet makanan mentah. Dalam konteks ini, Wigmore percaya bahwa industri farmasi adalah bagian dari konspirasi untuk membuat masyarakat tetap sakit agar tetap meraup keuntungan dari penjualan obat. | Pada tahun 1970-an dan 1980-an, teori konspirasi ini dipromosikan oleh [[Ann Wigmore]] yang berpendapat bahwa penyakit, termasuk kanker dan [[HIV/AIDS]], dapat diobati secara efektif dengan diet makanan mentah. Dalam konteks ini, Wigmore percaya bahwa industri farmasi adalah bagian dari konspirasi untuk membuat masyarakat tetap sakit agar tetap meraup keuntungan dari penjualan obat.<ref>[https://www.theguardian.com/world/2021/nov/11/injecting-poison-will-never-make-you-healthy-how-the-wellness-industry-turned-its-back-on-covid-science Chakras, crystals and conspiracy theories: how the wellness industry turned its back on Covid science]. ''The Guardian''. 11 November 2021.</ref> | ||
Penelitian di Italia pada tahun 2016 menemukan bahwa hampir setengah dari populasi dewasa percaya bahwa perusahaan farmasi menghambat pengembangan obat-obatan efektif untuk menyembuhkan penyakit serius, yang menurut para penulis adalah sebuah teori konspirasi, dan bahwa kepercayaan tersebut berkorelasi negatif dengan kepercayaan dan keimanan mainstream sambil terus menganut dasar anti-sains dan anti-elitisme. | Penelitian di Italia pada tahun 2016 menemukan bahwa hampir setengah dari populasi dewasa percaya bahwa perusahaan farmasi menghambat pengembangan obat-obatan efektif untuk menyembuhkan penyakit serius, yang menurut para penulis adalah sebuah teori konspirasi, dan bahwa kepercayaan tersebut berkorelasi negatif dengan kepercayaan dan keimanan mainstream sambil terus menganut dasar anti-sains dan anti-elitisme.<ref>''Religious and conspiracist? An analysis of the relationship between the dimensions of individual religiosity and belief in a big pharma conspiracy theory''. ''Italian Political Science Review/Rivista Italiana di Scienza Politica''. 12 May 2021. Vol. 52 (1). hlm. 33–50. doi:10.1017/ipo.2021.15.</ref> | ||
==Penerapan== | ==Penerapan== | ||
Teori konspirasi ini memiliki berbagai manifestasi spesifik yang berbeda. Masing-masing teori memiliki narasi yang berbeda, tetapi selalu menggambarkan perusahaan farmasi besar sebagai penjahat dalam cerita ini. | Teori konspirasi ini memiliki berbagai manifestasi spesifik yang berbeda. Masing-masing teori memiliki narasi yang berbeda, tetapi selalu menggambarkan perusahaan farmasi besar sebagai penjahat dalam cerita ini.<ref>Robert Blaskiewicz. ''The Big Pharma conspiracy theory''. ''Medical Writing''. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.</ref> | ||
===Serangan terhadap pengobatan HIV/AIDS=== | ===Serangan terhadap pengobatan HIV/AIDS=== | ||
Sejak awal [[epidemi AIDS]], banyak hipotesa berbahaya yang diajukan untuk menjelaskan asal-usul dan sifat penyakit ini. Salah satu teori konspirasi mengklaim bahwa AIDS diciptakan oleh [[Pemerintah federal Amerika Serikat|pemerintah AS]] untuk mengendalikan dan/atau memberantas [[Pria gay|kaum gay]] dan [[Afrika Amerika]]. Selain itu, ada obat untuk HIV/AIDS yang sebenarnya efektif tetapi disembunyikan dari orang miskin. Teori lainnya mengatakan bahwa meskipun virus ini berbahaya, risiko dari [[obat antiretroviral]] lebih besar daripada manfaatnya. Obat-obat ini dianggap sebagai racun yang disebarkan oleh dokter yang telah terkorupsi oleh industri farmasi besar. | Sejak awal [[epidemi AIDS]], banyak hipotesa berbahaya yang diajukan untuk menjelaskan asal-usul dan sifat penyakit ini. Salah satu teori konspirasi mengklaim bahwa AIDS diciptakan oleh [[Pemerintah federal Amerika Serikat|pemerintah AS]] untuk mengendalikan dan/atau memberantas [[Pria gay|kaum gay]] dan [[Afrika Amerika]]. Selain itu, ada obat untuk HIV/AIDS yang sebenarnya efektif tetapi disembunyikan dari orang miskin.<ref>The Lancet. ''Conspiracy theories of HIV/AIDS''. ''The Lancet''. 2005-02-05. Vol. 365 (9458). hlm. 448. doi:10.1016/S0140-6736(05)17875-1.</ref><ref>Jacob Heller. ''Rumors and Realities: Making Sense of HIV/AIDS Conspiracy Narratives and Contemporary Legends''. ''American Journal of Public Health''. January 2015. Vol. 105 (1). hlm. e43–e50. doi:10.2105/AJPH.2014.302284.</ref> Teori lainnya mengatakan bahwa meskipun virus ini berbahaya, risiko dari [[obat antiretroviral]] lebih besar daripada manfaatnya. Obat-obat ini dianggap sebagai racun yang disebarkan oleh dokter yang telah terkorupsi oleh industri farmasi besar.<ref>Michael Specter. [http://www.newyorker.com/magazine/2007/03/12/the-denialists The AIDS Denialists]. 2007-03-05.</ref> | ||
Dalam kolomnya pada tahun 2006 untuk ''[[Harper's Magazine]]'', jurnalis [[Celia Farber]] mengklaim bahwa obat antiretroviral [[nevirapine]] adalah bagian dari konspirasi oleh "kompleks ilmiah-medis" untuk menyebarkan obat beracun. Farber mengatakan bahwa AIDS bukan disebabkan oleh HIV dan bahwa nevirapine telah diberikan secara tidak etis kepada wanita hamil dalam uji klinis, yang mengarah pada kematian. Teori dan klaim Farber dibantah oleh para ilmuwan, tetapi, menurut peneliti [[Seth Kalichman]], publisitas yang dihasilkan telah membuka jalan bagi [[penyangkalan AIDS]]. | Dalam kolomnya pada tahun 2006 untuk ''[[Harper's Magazine]]'', jurnalis [[Celia Farber]] mengklaim bahwa obat antiretroviral [[nevirapine]] adalah bagian dari konspirasi oleh "kompleks ilmiah-medis" untuk menyebarkan obat beracun.<ref>A. (2006) Schaffer. [http://www.technologyreview.com/review/405744/drug-trials-and-error/ Drug trials and error: conspiracy theories about big pharma would amuse, if they were not a matter of life and death]. ''MIT Technology Review''. Vol. 109 (2). hlm. 70, May 1.</ref> Farber mengatakan bahwa AIDS bukan disebabkan oleh HIV dan bahwa nevirapine telah diberikan secara tidak etis kepada wanita hamil dalam uji klinis, yang mengarah pada kematian.<ref>A. (2006) Schaffer. [http://www.technologyreview.com/review/405744/drug-trials-and-error/ Drug trials and error: conspiracy theories about big pharma would amuse, if they were not a matter of life and death]. ''MIT Technology Review''. Vol. 109 (2). hlm. 70, May 1.</ref> Teori dan klaim Farber dibantah oleh para ilmuwan, tetapi, menurut peneliti [[Seth Kalichman]], publisitas yang dihasilkan telah membuka jalan bagi [[penyangkalan AIDS]].<ref>N. Nattrass. [https://books.google.com/books?id=_mtDBCDwxugC&pg=PA183 Denying AIDS: conspiracy theories, pseudoscience, and human tragedy]. Springer. 2009. hlm. 183. ISBN 9780387794754.</ref> | ||
Mantan Presiden [[Afrika Selatan]] [[Thabo Mbeki]], yang dipengaruhi oleh penyangkal AIDS [[Peter Duesberg]], memperkenalkan kebijakan yang menolak pengobatan bagi pasien AIDS. Menurut perkiraan, keputusan bodoh ini menyebabkan, antara lain, lebih dari 300.000 orang meninggal terlalu cepat. | Mantan Presiden [[Afrika Selatan]] [[Thabo Mbeki]], yang dipengaruhi oleh penyangkal AIDS [[Peter Duesberg]], memperkenalkan kebijakan yang menolak pengobatan bagi pasien AIDS. Menurut perkiraan, keputusan bodoh ini menyebabkan, antara lain, lebih dari 300.000 orang meninggal terlalu cepat.<ref>Pride Chigwedere. [https://journals.lww.com/jaids/Fulltext/2008/12010/Estimating_the_Lost_Benefits_of_Antiretroviral.10.aspx Estimating the Lost Benefits of Antiretroviral Drug Use in South Africa]. ''Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes''. 2008-12-01. Vol. 49 (4). hlm. 410–415. doi:10.1097/QAI.0b013e31818a6cd5.</ref><ref>Katrin Weigmann. ''The genesis of a conspiracy theory''. ''EMBO Reports''. 2018-02-28. Vol. 19 (4). hlm. e45935. doi:10.15252/embr.201845935.</ref> | ||
===Pandemi COVID-19=== | ===Pandemi COVID-19=== | ||
Merebaknya pandemi [[COVID-19]] dirubungi pula oleh berbagai teori konspirasi, termasuk dugaan bahwa COVID-19 sama sekali tidak ada atau hanya flu ringan [[Influenza|flu]]. | Merebaknya pandemi [[COVID-19]] dirubungi pula oleh berbagai teori konspirasi, termasuk dugaan bahwa COVID-19 sama sekali tidak ada atau hanya flu ringan [[Influenza|flu]].<ref>[https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-flu-mortality-idUSKCN26E3FL Fact check: Flu does not kill 14 times more people than COVID-19]. ''Reuters''. 2020-09-23.</ref><ref>[https://www.reuters.com/article/uk-factcheck-covid-flu-idUSKBN2613BS Fact check: The virus that causes COVID-19 exists, can be tested for and is not the flu]. ''Reuters''. 2020-09-10.</ref> | ||
Selama pandemi, ada lonjakan teori konspirasi tentang asal-usul penyakit ini, seperti klaim bahwa virus ini diciptakan dengan sengaja di laboratorium, sekalipun bukti kuat menunjukkan bahwa virus penyebab penyakit, [[SARS-CoV-2]], adalah strain yang berkembang secara alami yang termasuk dalam [[Coronavirus|subfamili coronavirus]]. | Selama pandemi, ada lonjakan teori konspirasi tentang asal-usul penyakit ini, seperti klaim bahwa virus ini diciptakan dengan sengaja di laboratorium, sekalipun bukti kuat menunjukkan bahwa virus penyebab penyakit, [[SARS-CoV-2]], adalah strain yang berkembang secara alami yang termasuk dalam [[Coronavirus|subfamili coronavirus]].<ref>[https://allianceforscience.cornell.edu/blog/2020/04/covid-top-10-current-conspiracy-theories/ COVID: Top 10 current conspiracy theories]. ''Alliance for Science''.</ref><ref>[https://www.bbc.com/news/world-asia-china-55996728 Covid: WHO says 'extremely unlikely' virus leaked from lab in China]. ''BBC News''. 2021-02-09.</ref> | ||
Video tahun 2020 ''[[Plandemic: The Hidden Agenda Behind Covid-19]]'', mempromosikan klaim konspirasi bahwa vaksin adalah "usaha menghasilkan uang yang menyebabkan kerugian medis". Dalam video tersebut, mantan ilmuwan riset [[Judy Mikovits]] menyebarkan gagasan bahwa penguasa "Big Pharma", [[Bill Gates]], dan [[World Health Organization]] memimpin konspirasi, di mana mereka bertindak bersama sebagai "kelompok cabal" dengan tujuan untuk membunuhi warga negara Amerika Serikat yang tidak bersalah. Video ini dirilis pada 4 Mei 2020, dan mendapatkan jutaan tampilan, menjadikannya salah satu informasi palsu COVID-19 yang paling tersebar. | Video tahun 2020 ''[[Plandemic: The Hidden Agenda Behind Covid-19]]'', mempromosikan klaim konspirasi bahwa vaksin adalah "usaha menghasilkan uang yang menyebabkan kerugian medis". Dalam video tersebut, mantan ilmuwan riset [[Judy Mikovits]] menyebarkan gagasan bahwa penguasa "Big Pharma", [[Bill Gates]], dan [[World Health Organization]] memimpin konspirasi, di mana mereka bertindak bersama sebagai "kelompok cabal" dengan tujuan untuk membunuhi warga negara Amerika Serikat yang tidak bersalah.<ref>[https://www.theguardian.com/world/2020/may/14/coronavirus-viral-video-plandemic-judy-mikovits-conspiracy-theories A disgraced scientist and a viral video: how a Covid conspiracy theory started]. ''The Guardian''. 14 May 2020.</ref> Video ini dirilis pada 4 Mei 2020, dan mendapatkan jutaan tampilan, menjadikannya salah satu informasi palsu COVID-19 yang paling tersebar. | ||
===Serangan terhadap vaksinasi=== | ===Serangan terhadap vaksinasi=== | ||
Gagasan bahwa vaksin diciptakan oleh industri farmasi besar justru untuk membuat orang sakit, atau untuk mengubah [[DNA manusia]], sebenrnya telah ada sejak lama tetapi mendapatkan nyawa baru sejak pandemi COVID-19 merebak. | Gagasan bahwa vaksin diciptakan oleh industri farmasi besar justru untuk membuat orang sakit, atau untuk mengubah [[DNA manusia]],<ref>[https://www.unicef.org/montenegro/en/stories/covid-19-vaccine-does-not-change-human-dna The COVID-19 vaccine does not change human DNA]. ''www.unicef.org''.</ref><ref>Victoria Forster. [https://www.forbes.com/sites/victoriaforster/2021/01/11/covid-19-vaccines-cant-alter-your-dna-heres-why/ Covid-19 Vaccines Can't Alter Your DNA, Here's Why]. ''Forbes''.</ref> sebenrnya telah ada sejak lama tetapi mendapatkan nyawa baru sejak pandemi COVID-19 merebak.<ref>[https://time.com/6141699/anti-vaccine-mandate-movement-rally/ How the Anti-Vax Movement Is Taking Over the Right].</ref><ref>Jon D. Lee. [https://www.theatlantic.com/ideas/archive/2021/01/familiarity-strangest-vaccine-conspiracy-theories/617572/ The Utter Familiarity of Even the Strangest Vaccine Conspiracy Theories]. ''The Atlantic''. 2021-01-11.</ref> | ||
Teori konspirasi bahwa [[Vaksin dan autisme|vaksin menyebabkan autisme]] dapat ditelusuri kembali ke sebuah studi yang diterbitkan di [[The Lancet]] pada Februari 1998. [[Andrew Wakefield]] mengklaim bahwa ada hubungan antara [[vaksin MMR dan autisme]]. Studi tersebut kemudian terbukti palsu, dan menyebabkan Wakefield dicabut dari daftar tenaga medis yang bisa dipercaya. Organisasi The Lancet juga telah menarik artikel tersebut secara resmi. Meskipun sejumlah studi telah membantah hubungan antara autisme dan vaksin, teori konspirasi ini tetap saja bertahan dalam berbagai bentuk, dan telah disebarkan oleh, antara lain, bahkan oleh [[Donald Trump]]. | Teori konspirasi bahwa [[Vaksin dan autisme|vaksin menyebabkan autisme]] dapat ditelusuri kembali ke sebuah studi yang diterbitkan di [[The Lancet]] pada Februari 1998.<ref>[https://cpp-hov.netlify.app//getting-vaccinated/vaccine-faq/do-vaccines-cause-autism Do Vaccines Cause Autism?]. ''cpp-hov.netlify.app''.</ref><ref>Eleanor Cummins. [https://www.popsci.com/timeline-autism-myth-anti-vaccine/ How autism myths came to fuel anti-vaccination movements]. ''Popular Science''. 2019-02-02.</ref> [[Andrew Wakefield]] mengklaim bahwa ada hubungan antara [[vaksin MMR dan autisme]]. Studi tersebut kemudian terbukti palsu, dan menyebabkan Wakefield dicabut dari daftar tenaga medis yang bisa dipercaya. Organisasi The Lancet juga telah menarik artikel tersebut secara resmi.<ref>[https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(10)60175-4/abstract Retraction—Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children]. ''The Lancet''. 2010-02-06. Vol. 375 (9713). hlm. 445. doi:10.1016/S0140-6736(10)60175-4.</ref> Meskipun sejumlah studi telah membantah hubungan antara autisme dan vaksin,<ref>Jeffrey S. Gerber. ''Vaccines and Autism: A Tale of Shifting Hypotheses''. ''Clinical Infectious Diseases''. 2010-07-22. Vol. 48 (4). hlm. 456–461. doi:10.1086/596476.</ref> teori konspirasi ini tetap saja bertahan dalam berbagai bentuk, dan telah disebarkan oleh, antara lain, bahkan oleh [[Donald Trump]].<ref>[https://www.independent.co.uk/news/world/americas/trump-vaccines-autism-links-anti-vaxxer-us-president-false-vaccine-a8331836.html Trump claims vaccines and autism are linked - but his own experts vehemently disagree]. ''The Independent''. 2018-05-05.</ref><ref>J. K. Trotter, Nicole Einbinder. [https://www.insider.com/how-donald-trump-became-an-anti-vaccinationist-2019-9 The powerful media mogul at the core of Trump's debunked views on vaccines and autism]. ''Insider''.</ref> | ||
Teori konspirasi lainnya mengklaim bahwa vaksin digunakan untuk menanamkan [[mikrochip]] untuk kepentingan [[pengawasan]] dan [[Pengendalian Pikiran|pengendalian pikiran]]. Antara lain, [[Bill & Melinda Gates Foundation]] dituduh ingin memprogram mikrochip ke populasi dunia melalui program vaksinasi global. | Teori konspirasi lainnya mengklaim bahwa vaksin digunakan untuk menanamkan [[mikrochip]] untuk kepentingan [[pengawasan]] dan [[Pengendalian Pikiran|pengendalian pikiran]].<ref>Ike Sriskandarajah. [https://www.theverge.com/22516823/covid-vaccine-microchip-conspiracy-theory-explained-reddit Where did the microchip vaccine conspiracy theory come from anyway?]. ''The Verge''. 2021-06-05.</ref> Antara lain, [[Bill & Melinda Gates Foundation]] dituduh ingin memprogram mikrochip ke populasi dunia melalui program vaksinasi global.<ref>Kathryn Joyce. [https://www.typeinvestigations.org/investigation/2020/05/12/the-long-strange-history-of-bill-gates-population-control-conspiracy-theories/ The Long, Strange History of Bill Gates Population Control Conspiracy Theories]. ''Type Investigations''. 12 May 2020.</ref><ref>[https://www.snopes.com/fact-check/bill-gates-id2020/ Are Bill Gates and the ID2020 Coalition Using COVID-19 To Build Global Surveillance State?]. ''Snopes.com''. 22 April 2020.</ref><ref>[https://twitter.com/cbsnews/status/1286073735561322505 CBS News The posts on social media about you and coronavirus are considered the most widespread coronavirus falsehoods that exist ... To be clear, do you want a vaccine so that you can implant microchips into people?]. ''Twitter''.</ref> | ||
==Penerimaan== | ==Penerimaan== | ||
Salah satu klaim umum di kalangan pendukung teori konspirasi adalah bahwa perusahaan farmasi menekan penelitian tentang obat-obat mereka dengan memberi tekanan finansial pada peneliti dan jurnal. Penganut pemikiran skeptis, [[Benjamin Radford]], meskipun mengakui bahwa "pasti ada butir kebenaran" dalam klaim ini, dan mencatat bahwa sebenarnya ada makalah yang mengkritik obat-obat tertentu yang diterbitkan di jurnal-jurnal top secara teratur. Contoh penting yang dicatat oleh Radford adalah tinjauan sistematis yang diterbitkan di ''[[British Medical Journal]]'' yang menunjukkan bahwa [[paracetamol]] sebenarnya tidak efektif untuk nyeri punggung bawah dan memiliki efektivitas minimal untuk [[osteoarthritis]]. | Salah satu klaim umum di kalangan pendukung teori konspirasi adalah bahwa perusahaan farmasi menekan penelitian tentang obat-obat mereka dengan memberi tekanan finansial pada peneliti dan jurnal. Penganut pemikiran skeptis, [[Benjamin Radford]], meskipun mengakui bahwa "pasti ada butir kebenaran" dalam klaim ini, dan mencatat bahwa sebenarnya ada makalah yang mengkritik obat-obat tertentu yang diterbitkan di jurnal-jurnal top secara teratur.<ref>Benjamin Radford. [https://centerforinquiry.org/blog/big_pharma_conspiracy_debunked/ Big Pharma Conspiracy Debunked]. ''centerforinquiry.org''. 12 January 2016.</ref> Contoh penting yang dicatat oleh Radford adalah tinjauan sistematis yang diterbitkan di ''[[British Medical Journal]]'' yang menunjukkan bahwa [[paracetamol]] sebenarnya tidak efektif untuk nyeri punggung bawah dan memiliki efektivitas minimal untuk [[osteoarthritis]].<ref>Benjamin Radford. [https://centerforinquiry.org/blog/big_pharma_conspiracy_debunked/ Big Pharma Conspiracy Debunked]. ''centerforinquiry.org''. 12 January 2016.</ref><ref>G. C. Machado. ''Efficacy and safety of paracetamol for spinal pain and osteoarthritis: systematic review and meta-analysis of randomised placebo controlled trials''. ''BMJ''. 31 March 2015. Vol. 350 (mar31 2). hlm. h1225. doi:10.1136/bmj.h1225.</ref> | ||
Dalam bukunya tahun 2012 ''[[Bad Pharma]]'', [[Ben Goldacre]] secara keras mengkritik industri farmasi, tetapi menolak anggapan bahwa tulisannya adalah bentuk teori konspirasi. Dia berpendapat bahwa masalah-masalah ini bisa ikut dipikirkan sekalipun oleh orang-orang biasa, tetapi banyak dari mereka mungkin bahkan tidak tahu apa yang telah mereka lakukan". | Dalam bukunya tahun 2012 ''[[Bad Pharma]]'', [[Ben Goldacre]] secara keras mengkritik industri farmasi, tetapi menolak anggapan bahwa tulisannya adalah bentuk teori konspirasi. Dia berpendapat bahwa masalah-masalah ini bisa ikut dipikirkan sekalipun oleh orang-orang biasa, tetapi banyak dari mereka mungkin bahkan tidak tahu apa yang telah mereka lakukan".<ref>Ben Goldacre. ''Bad Pharma''. Fourth Estate. 2008. ISBN 978-0-00-735074-2.</ref> | ||
[[Steven Novella]] menulis bahwa meskipun industri farmasi memiliki sejumlah aspek yang memang layak dikritik, ''demonisasi'' terhadapnya adalah tindakan yang sinis dan malas secara intelektual. Dia tetap untuk mempertimbangkan bahwa serangan berlebihan terhadap "Big Pharma" justru membebaskan industri farmasi "dari tanggung jawab" karena hal itu mengalihkan perhatian dari dan merusak kritik terhadap masalah-masalah yang lebih penting. Dia juga menulis, di [[Skepticblog]], tentang salah pengertian umum dan sensasionalisasi penelitian kanker yang biasanya menyertai pola pikir konspiratorial. Dia menunjukkan bahwa obat-obatan untuk kanker, daripada disembunyikan, bukanlah obat yang seperti yang awalnya disorot media dan malah berujung pada jalan buntu, tujuan penelitian lebih lanjut, atau penurunan angka kematian untuk jenis kanker tertentu. | [[Steven Novella]] menulis bahwa meskipun industri farmasi memiliki sejumlah aspek yang memang layak dikritik, ''demonisasi'' terhadapnya adalah tindakan yang sinis dan malas secara intelektual.<ref>Steven Novella. [http://www.sciencebasedmedicine.org/demonizing-big-pharma/ Demonizing 'Big Pharma']. ''Science-Based Medicine''. 22 April 2010.</ref> Dia tetap untuk mempertimbangkan bahwa serangan berlebihan terhadap "Big Pharma" justru membebaskan industri farmasi "dari tanggung jawab" karena hal itu mengalihkan perhatian dari dan merusak kritik terhadap masalah-masalah yang lebih penting.<ref>Steven Novella. [http://www.sciencebasedmedicine.org/demonizing-big-pharma/ Demonizing 'Big Pharma']. ''Science-Based Medicine''. 22 April 2010.</ref> Dia juga menulis, di [[Skepticblog]], tentang salah pengertian umum dan sensasionalisasi penelitian kanker yang biasanya menyertai pola pikir konspiratorial. Dia menunjukkan bahwa obat-obatan untuk kanker, daripada disembunyikan, bukanlah obat yang seperti yang awalnya disorot media dan malah berujung pada jalan buntu, tujuan penelitian lebih lanjut, atau penurunan angka kematian untuk jenis kanker tertentu.<ref>Steven Novella. [http://www.skepticblog.org/2011/05/16/another-cure-for-cancer/ ANOTHER CURE FOR CANCER?]. ''skepticblog.org''.</ref> | ||
Dave Roos dan Oliver Childs mengkritisi gagasan bahwa menahan obat untuk kanker akan menghasilkan lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan menyajikan obat tersebut. Dina Fine Maron lebih lanjut mencatat bahwa pandangan ini sebagian besar mengabaikan kenyataan bahwa kanker bukanlah satu penyakit, melainkan banyak penyakit, dan kenyataan bahwa langkah besar telah diambil dalam perjuangan melawan kanker. | Dave Roos dan Oliver Childs mengkritisi gagasan bahwa menahan obat untuk kanker akan menghasilkan lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan menyajikan obat tersebut.<ref>Dave Roos. [https://science.howstuffworks.com/science-vs-myth/everyday-myths/no-there-is-no-hidden-cancer-cure.htm Is There a Hidden Cure for Cancer?]. ''howstuffworks.com''. 5 June 2018.</ref><ref>Childs, Oliver. [https://scienceblog.cancerresearchuk.org/2014/03/24/dont-believe-the-hype-10-persistent-cancer-myths-debunked/#miracle-cure Don't believe the hype – 10 persistent cancer myths debunked]. ''Cancer Research UK''. 24 March 2014.</ref> Dina Fine Maron lebih lanjut mencatat bahwa pandangan ini sebagian besar mengabaikan kenyataan bahwa kanker bukanlah satu penyakit, melainkan banyak penyakit, dan kenyataan bahwa langkah besar telah diambil dalam perjuangan melawan kanker.<ref>Dina Fine Maron. [https://www.scientificamerican.com/article/can-we-truly-cure-cancer/ Can We Truly "Cure" Cancer?]. ''scientificamerican.com''.</ref> | ||
Pada tahun 2016, [[David Robert Grimes]] menerbitkan sebuah makalah penelitian yang menjelaskan tentang ketidakmampuan membahas secara matematis oleh para pencipta teori konspirasi pada umumnya. Dia memperkirakan bahwa jika ada konspirasi Big Pharma untuk menyembunyikan obat kanker, konspirasi itu akan terbongkar setelah sekitar 3,2 tahun karena jumlah orang yang diperlukan untuk menjaga kerahasiaannya. | Pada tahun 2016, [[David Robert Grimes]] menerbitkan sebuah makalah penelitian yang menjelaskan tentang ketidakmampuan membahas secara matematis oleh para pencipta teori konspirasi pada umumnya.<ref>David Robert Grimes. ''On the Viability of Conspiratorial Beliefs''. ''PLOS ONE''. Public Library of Science (PLoS). 26 January 2016. Vol. 11 (1). hlm. e0147905. doi:10.1371/journal.pone.0147905.</ref> Dia memperkirakan bahwa jika ada konspirasi Big Pharma untuk menyembunyikan obat kanker, konspirasi itu akan terbongkar setelah sekitar 3,2 tahun karena jumlah orang yang diperlukan untuk menjaga kerahasiaannya.<ref>Alex Berezow. [https://www.bbc.com/news/science-environment-35411684 Maths study shows conspiracies 'prone to unravelling']. BBC.</ref> | ||
==Di Indonesia== | ==Di Indonesia== | ||
Karena masalah kesehatan di Indonesia sering kali terikat erat dengan kebijakan pemerintah, maka konspirasi Big Pharma biasanya melekat kepada isu dan agenda politik. Hal ini misalnya diperlihatkan oleh situs PinterPolitik, yang seharusnya memberikan edukasi secara objektif dan berimbang, malah ikut membuat bahasa yang bernada mendukung teori konspirasi "Big Pharma". | Karena masalah kesehatan di Indonesia sering kali terikat erat dengan kebijakan pemerintah, maka konspirasi Big Pharma biasanya melekat kepada isu dan agenda politik. Hal ini misalnya diperlihatkan oleh situs PinterPolitik, yang seharusnya memberikan edukasi secara objektif dan berimbang, malah ikut membuat bahasa yang bernada mendukung teori konspirasi "Big Pharma".<ref>[https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/big-pharma-dan-revolusi-sains-ini-alasan-mereka-powerful/ ''Big Pharma dan Revolusi Sains. Ini Alasan Mereka Powerful."] dari situs pinterpolitik</ref> | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teori+konspirasi+perusahaan+farmasi+besar&oldid=29517764 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29517764 (2026-08-03T05:49:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teori+konspirasi+perusahaan+farmasi+besar&oldid=29517764 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29517764 (2026-08-03T05:49:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 15.01
Teori konspirasi perusahaan farmasi besar adalah teori konspirasi yang mengacu pada keyakinan atau spekulasi yang menyatakan bahwa perusahaan farmasi besar (dikenal dengan istilah "Big Pharma") terlibat dalam konspirasi untuk menyembunyikan informasi, memperburuk penyakit, atau mencegah penyembuhan, dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial yang tidak wajar.[1][2]
Variasi
Salah satu tuduhan yang sering muncul adalah perusahaan farmasi selama ini membiayai banyak sekali biaya pendidikan, pelatihan, bahkan gaya hidup dokter dalam bentuk beasiswa atau gratifikasi lainnya, sehingga mau tidak mau dokter merasa terikat untuk meresepkan hanya obat-obatan dari perusahaan tersebut. Tuduhan ini sebenarnya sudah dibantah langsung oleh PB IDI, dan dengan keras melarang adanya konflik kepentingan seperti itu terjadi di kalangan dokter dan industri farmasi[3]
Beberapa teori menggabungkan pernyataan bahwa pengobatan alami dan alternatif untuk berbagai masalah kesehatan sedang tekanan dan penzaliman, bahwa pengobatan HIV/AIDS sebenarnya tidak efektif dan berbahaya, bahwa obat yang efektif untuk semua jenis kanker sebenarnya telah ditemukan, tetapi disembunyikan dari publik, bahwa vaksin COVID-19 tidak efektif, atau bahwa pengobatan alternatif untuk COVID-19 itu sendiri ada. Dalam sebagian besar kasus, para penganut teori konspirasi menyalahkan pencarian keuntungan secara serakah oleh perusahaan farmasi. Sejumlah analisis telah mengakui dan menentukan bahwa klaim-klaim ini salah, meskipun pada ujungnya mereka tetap menyatakan bahwa kritik terhadap industri farmasi adalah sah.[4][5][6][7][8][9][10]
Pengaruh internet dan media sosial
André Picard menulis pada tahun 2009 bahwa internet telah mengubah secara radikal sifat diskursus ilmiah populer dari yang jarang dan penuh rasa hormat menjadi luas dan sebaliknya, malah menjadi berbasis konspirasi. Debat ilmiah sering digantikan dengan penolakan terhadap sains sebagai "bagian dari konspirasi besar". Dalam pandangan dunia konspirasi, "Dokter, perawat, apoteker, ahli farmasi, ahli biokimia, ahli imunologi, ahli genetika, dan jurnalis tidak bisa dipercaya. Mereka semua terlibat dalam jejaring korupsi".[11]
Sejarah
Menurut Steven Novella, penggunaan istilah seperti Big Pharma (secara harfiah berarti perusahaan farmasi besar) pada masa kini mengandung mengandung motif demonisasi terhadap industri farmasi, yang digambarkan dengan cara yang emosional, mengabaikan kompleksitas sejarah bisnis yang sebenarnya.[12] Profesor Robert Blaskiewicz menulis bahwa penganut teori konspirasi menggunakan istilah Big Pharma sebagai "singkatan untuk entitas abstrak perusahaan, regulator, LSM, politikus, dan sering kali malah menuduh dokter, bahwa mereka semua memiliki kepentingan dalam kue farmasi resep dokter, senilai triliunan dolar".[13]
Menurut Blaskiewicz, teori konspirasi Big Pharma memiliki empat ciri klasik, yaitu:
- Pertama, asumsi bahwa konspirasi dilakukan oleh kelompok kecil, tetapi memonopoli pengetahuan, yang jahatnya luar biasa.
- Kedua, keyakinan bahwa masyarakat umum tidak tahu kebenaran yang pasti.
- Ketiga, bahwa para penganutnya memperlakukan kurangnya bukti sebagai bukti itu sendiri, mirip dengan apa yang dilakukan penganut teori bumi datar.
- Keempat, bahwa argumen yang diajukan untuk mendukung teori ini tidak rasional, salah pengertian, atau keliru.[14]
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, teori konspirasi ini dipromosikan oleh Ann Wigmore yang berpendapat bahwa penyakit, termasuk kanker dan HIV/AIDS, dapat diobati secara efektif dengan diet makanan mentah. Dalam konteks ini, Wigmore percaya bahwa industri farmasi adalah bagian dari konspirasi untuk membuat masyarakat tetap sakit agar tetap meraup keuntungan dari penjualan obat.[15]
Penelitian di Italia pada tahun 2016 menemukan bahwa hampir setengah dari populasi dewasa percaya bahwa perusahaan farmasi menghambat pengembangan obat-obatan efektif untuk menyembuhkan penyakit serius, yang menurut para penulis adalah sebuah teori konspirasi, dan bahwa kepercayaan tersebut berkorelasi negatif dengan kepercayaan dan keimanan mainstream sambil terus menganut dasar anti-sains dan anti-elitisme.[16]
Penerapan
Teori konspirasi ini memiliki berbagai manifestasi spesifik yang berbeda. Masing-masing teori memiliki narasi yang berbeda, tetapi selalu menggambarkan perusahaan farmasi besar sebagai penjahat dalam cerita ini.[17]
Serangan terhadap pengobatan HIV/AIDS
Sejak awal epidemi AIDS, banyak hipotesa berbahaya yang diajukan untuk menjelaskan asal-usul dan sifat penyakit ini. Salah satu teori konspirasi mengklaim bahwa AIDS diciptakan oleh pemerintah AS untuk mengendalikan dan/atau memberantas kaum gay dan Afrika Amerika. Selain itu, ada obat untuk HIV/AIDS yang sebenarnya efektif tetapi disembunyikan dari orang miskin.[18][19] Teori lainnya mengatakan bahwa meskipun virus ini berbahaya, risiko dari obat antiretroviral lebih besar daripada manfaatnya. Obat-obat ini dianggap sebagai racun yang disebarkan oleh dokter yang telah terkorupsi oleh industri farmasi besar.[20]
Dalam kolomnya pada tahun 2006 untuk Harper's Magazine, jurnalis Celia Farber mengklaim bahwa obat antiretroviral nevirapine adalah bagian dari konspirasi oleh "kompleks ilmiah-medis" untuk menyebarkan obat beracun.[21] Farber mengatakan bahwa AIDS bukan disebabkan oleh HIV dan bahwa nevirapine telah diberikan secara tidak etis kepada wanita hamil dalam uji klinis, yang mengarah pada kematian.[22] Teori dan klaim Farber dibantah oleh para ilmuwan, tetapi, menurut peneliti Seth Kalichman, publisitas yang dihasilkan telah membuka jalan bagi penyangkalan AIDS.[23]
Mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki, yang dipengaruhi oleh penyangkal AIDS Peter Duesberg, memperkenalkan kebijakan yang menolak pengobatan bagi pasien AIDS. Menurut perkiraan, keputusan bodoh ini menyebabkan, antara lain, lebih dari 300.000 orang meninggal terlalu cepat.[24][25]
Pandemi COVID-19
Merebaknya pandemi COVID-19 dirubungi pula oleh berbagai teori konspirasi, termasuk dugaan bahwa COVID-19 sama sekali tidak ada atau hanya flu ringan flu.[26][27]
Selama pandemi, ada lonjakan teori konspirasi tentang asal-usul penyakit ini, seperti klaim bahwa virus ini diciptakan dengan sengaja di laboratorium, sekalipun bukti kuat menunjukkan bahwa virus penyebab penyakit, SARS-CoV-2, adalah strain yang berkembang secara alami yang termasuk dalam subfamili coronavirus.[28][29]
Video tahun 2020 Plandemic: The Hidden Agenda Behind Covid-19, mempromosikan klaim konspirasi bahwa vaksin adalah "usaha menghasilkan uang yang menyebabkan kerugian medis". Dalam video tersebut, mantan ilmuwan riset Judy Mikovits menyebarkan gagasan bahwa penguasa "Big Pharma", Bill Gates, dan World Health Organization memimpin konspirasi, di mana mereka bertindak bersama sebagai "kelompok cabal" dengan tujuan untuk membunuhi warga negara Amerika Serikat yang tidak bersalah.[30] Video ini dirilis pada 4 Mei 2020, dan mendapatkan jutaan tampilan, menjadikannya salah satu informasi palsu COVID-19 yang paling tersebar.
Serangan terhadap vaksinasi
Gagasan bahwa vaksin diciptakan oleh industri farmasi besar justru untuk membuat orang sakit, atau untuk mengubah DNA manusia,[31][32] sebenrnya telah ada sejak lama tetapi mendapatkan nyawa baru sejak pandemi COVID-19 merebak.[33][34]
Teori konspirasi bahwa vaksin menyebabkan autisme dapat ditelusuri kembali ke sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet pada Februari 1998.[35][36] Andrew Wakefield mengklaim bahwa ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Studi tersebut kemudian terbukti palsu, dan menyebabkan Wakefield dicabut dari daftar tenaga medis yang bisa dipercaya. Organisasi The Lancet juga telah menarik artikel tersebut secara resmi.[37] Meskipun sejumlah studi telah membantah hubungan antara autisme dan vaksin,[38] teori konspirasi ini tetap saja bertahan dalam berbagai bentuk, dan telah disebarkan oleh, antara lain, bahkan oleh Donald Trump.[39][40]
Teori konspirasi lainnya mengklaim bahwa vaksin digunakan untuk menanamkan mikrochip untuk kepentingan pengawasan dan pengendalian pikiran.[41] Antara lain, Bill & Melinda Gates Foundation dituduh ingin memprogram mikrochip ke populasi dunia melalui program vaksinasi global.[42][43][44]
Penerimaan
Salah satu klaim umum di kalangan pendukung teori konspirasi adalah bahwa perusahaan farmasi menekan penelitian tentang obat-obat mereka dengan memberi tekanan finansial pada peneliti dan jurnal. Penganut pemikiran skeptis, Benjamin Radford, meskipun mengakui bahwa "pasti ada butir kebenaran" dalam klaim ini, dan mencatat bahwa sebenarnya ada makalah yang mengkritik obat-obat tertentu yang diterbitkan di jurnal-jurnal top secara teratur.[45] Contoh penting yang dicatat oleh Radford adalah tinjauan sistematis yang diterbitkan di British Medical Journal yang menunjukkan bahwa paracetamol sebenarnya tidak efektif untuk nyeri punggung bawah dan memiliki efektivitas minimal untuk osteoarthritis.[46][47]
Dalam bukunya tahun 2012 Bad Pharma, Ben Goldacre secara keras mengkritik industri farmasi, tetapi menolak anggapan bahwa tulisannya adalah bentuk teori konspirasi. Dia berpendapat bahwa masalah-masalah ini bisa ikut dipikirkan sekalipun oleh orang-orang biasa, tetapi banyak dari mereka mungkin bahkan tidak tahu apa yang telah mereka lakukan".[48]
Steven Novella menulis bahwa meskipun industri farmasi memiliki sejumlah aspek yang memang layak dikritik, demonisasi terhadapnya adalah tindakan yang sinis dan malas secara intelektual.[49] Dia tetap untuk mempertimbangkan bahwa serangan berlebihan terhadap "Big Pharma" justru membebaskan industri farmasi "dari tanggung jawab" karena hal itu mengalihkan perhatian dari dan merusak kritik terhadap masalah-masalah yang lebih penting.[50] Dia juga menulis, di Skepticblog, tentang salah pengertian umum dan sensasionalisasi penelitian kanker yang biasanya menyertai pola pikir konspiratorial. Dia menunjukkan bahwa obat-obatan untuk kanker, daripada disembunyikan, bukanlah obat yang seperti yang awalnya disorot media dan malah berujung pada jalan buntu, tujuan penelitian lebih lanjut, atau penurunan angka kematian untuk jenis kanker tertentu.[51]
Dave Roos dan Oliver Childs mengkritisi gagasan bahwa menahan obat untuk kanker akan menghasilkan lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan menyajikan obat tersebut.[52][53] Dina Fine Maron lebih lanjut mencatat bahwa pandangan ini sebagian besar mengabaikan kenyataan bahwa kanker bukanlah satu penyakit, melainkan banyak penyakit, dan kenyataan bahwa langkah besar telah diambil dalam perjuangan melawan kanker.[54]
Pada tahun 2016, David Robert Grimes menerbitkan sebuah makalah penelitian yang menjelaskan tentang ketidakmampuan membahas secara matematis oleh para pencipta teori konspirasi pada umumnya.[55] Dia memperkirakan bahwa jika ada konspirasi Big Pharma untuk menyembunyikan obat kanker, konspirasi itu akan terbongkar setelah sekitar 3,2 tahun karena jumlah orang yang diperlukan untuk menjaga kerahasiaannya.[56]
Di Indonesia
Karena masalah kesehatan di Indonesia sering kali terikat erat dengan kebijakan pemerintah, maka konspirasi Big Pharma biasanya melekat kepada isu dan agenda politik. Hal ini misalnya diperlihatkan oleh situs PinterPolitik, yang seharusnya memberikan edukasi secara objektif dan berimbang, malah ikut membuat bahasa yang bernada mendukung teori konspirasi "Big Pharma".[57]
Referensi
- ↑ Robert Blaskiewicz. The Big Pharma conspiracy theory. Medical Writing. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.
- ↑ Religious and conspiracist? An analysis of the relationship between the dimensions of individual religiosity and belief in a big pharma conspiracy theory. Italian Political Science Review/Rivista Italiana di Scienza Politica. 12 May 2021. Vol. 52 (1). hlm. 33–50. doi:10.1017/ipo.2021.15.
- ↑ IDI: Sponsorship Hanya Transporatasi, Akomodasi, dan Daftar Seminar. dari situs detik
- ↑ Benjamin Radford. Big Pharma Conspiracy Debunked. centerforinquiry.org. 12 January 2016.
- ↑ Ben Goldacre. Bad Pharma. Fourth Estate. 2008. ISBN 978-0-00-735074-2.
- ↑ Steven Novella. Demonizing 'Big Pharma'. Science-Based Medicine. 22 April 2010.
- ↑ Steven Novella. ANOTHER CURE FOR CANCER?. skepticblog.org.
- ↑ Dave Roos. Is There a Hidden Cure for Cancer?. howstuffworks.com. 5 June 2018.
- ↑ Childs, Oliver. Don't believe the hype – 10 persistent cancer myths debunked. Cancer Research UK. 24 March 2014.
- ↑ Dina Fine Maron. Can We Truly "Cure" Cancer?. scientificamerican.com.
- ↑ Bloggers, there's no Big Pharma conspiracy. Globe & Mail (Toronto, Canada). 5 March 2009.
- ↑ Steven Novella. Demonizing 'Big Pharma'. Science-Based Medicine. 22 April 2010.
- ↑ Robert Blaskiewicz. The Big Pharma conspiracy theory. Medical Writing. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.
- ↑ Robert Blaskiewicz. The Big Pharma conspiracy theory. Medical Writing. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.
- ↑ Chakras, crystals and conspiracy theories: how the wellness industry turned its back on Covid science. The Guardian. 11 November 2021.
- ↑ Religious and conspiracist? An analysis of the relationship between the dimensions of individual religiosity and belief in a big pharma conspiracy theory. Italian Political Science Review/Rivista Italiana di Scienza Politica. 12 May 2021. Vol. 52 (1). hlm. 33–50. doi:10.1017/ipo.2021.15.
- ↑ Robert Blaskiewicz. The Big Pharma conspiracy theory. Medical Writing. 2013. Vol. 22 (4). hlm. 259. doi:10.1179/2047480613Z.000000000142.
- ↑ The Lancet. Conspiracy theories of HIV/AIDS. The Lancet. 2005-02-05. Vol. 365 (9458). hlm. 448. doi:10.1016/S0140-6736(05)17875-1.
- ↑ Jacob Heller. Rumors and Realities: Making Sense of HIV/AIDS Conspiracy Narratives and Contemporary Legends. American Journal of Public Health. January 2015. Vol. 105 (1). hlm. e43–e50. doi:10.2105/AJPH.2014.302284.
- ↑ Michael Specter. The AIDS Denialists. 2007-03-05.
- ↑ A. (2006) Schaffer. Drug trials and error: conspiracy theories about big pharma would amuse, if they were not a matter of life and death. MIT Technology Review. Vol. 109 (2). hlm. 70, May 1.
- ↑ A. (2006) Schaffer. Drug trials and error: conspiracy theories about big pharma would amuse, if they were not a matter of life and death. MIT Technology Review. Vol. 109 (2). hlm. 70, May 1.
- ↑ N. Nattrass. Denying AIDS: conspiracy theories, pseudoscience, and human tragedy. Springer. 2009. hlm. 183. ISBN 9780387794754.
- ↑ Pride Chigwedere. Estimating the Lost Benefits of Antiretroviral Drug Use in South Africa. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes. 2008-12-01. Vol. 49 (4). hlm. 410–415. doi:10.1097/QAI.0b013e31818a6cd5.
- ↑ Katrin Weigmann. The genesis of a conspiracy theory. EMBO Reports. 2018-02-28. Vol. 19 (4). hlm. e45935. doi:10.15252/embr.201845935.
- ↑ Fact check: Flu does not kill 14 times more people than COVID-19. Reuters. 2020-09-23.
- ↑ Fact check: The virus that causes COVID-19 exists, can be tested for and is not the flu. Reuters. 2020-09-10.
- ↑ COVID: Top 10 current conspiracy theories. Alliance for Science.
- ↑ Covid: WHO says 'extremely unlikely' virus leaked from lab in China. BBC News. 2021-02-09.
- ↑ A disgraced scientist and a viral video: how a Covid conspiracy theory started. The Guardian. 14 May 2020.
- ↑ The COVID-19 vaccine does not change human DNA. www.unicef.org.
- ↑ Victoria Forster. Covid-19 Vaccines Can't Alter Your DNA, Here's Why. Forbes.
- ↑ How the Anti-Vax Movement Is Taking Over the Right.
- ↑ Jon D. Lee. The Utter Familiarity of Even the Strangest Vaccine Conspiracy Theories. The Atlantic. 2021-01-11.
- ↑ Do Vaccines Cause Autism?. cpp-hov.netlify.app.
- ↑ Eleanor Cummins. How autism myths came to fuel anti-vaccination movements. Popular Science. 2019-02-02.
- ↑ Retraction—Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children. The Lancet. 2010-02-06. Vol. 375 (9713). hlm. 445. doi:10.1016/S0140-6736(10)60175-4.
- ↑ Jeffrey S. Gerber. Vaccines and Autism: A Tale of Shifting Hypotheses. Clinical Infectious Diseases. 2010-07-22. Vol. 48 (4). hlm. 456–461. doi:10.1086/596476.
- ↑ Trump claims vaccines and autism are linked - but his own experts vehemently disagree. The Independent. 2018-05-05.
- ↑ J. K. Trotter, Nicole Einbinder. The powerful media mogul at the core of Trump's debunked views on vaccines and autism. Insider.
- ↑ Ike Sriskandarajah. Where did the microchip vaccine conspiracy theory come from anyway?. The Verge. 2021-06-05.
- ↑ Kathryn Joyce. The Long, Strange History of Bill Gates Population Control Conspiracy Theories. Type Investigations. 12 May 2020.
- ↑ Are Bill Gates and the ID2020 Coalition Using COVID-19 To Build Global Surveillance State?. Snopes.com. 22 April 2020.
- ↑ CBS News The posts on social media about you and coronavirus are considered the most widespread coronavirus falsehoods that exist ... To be clear, do you want a vaccine so that you can implant microchips into people?. Twitter.
- ↑ Benjamin Radford. Big Pharma Conspiracy Debunked. centerforinquiry.org. 12 January 2016.
- ↑ Benjamin Radford. Big Pharma Conspiracy Debunked. centerforinquiry.org. 12 January 2016.
- ↑ G. C. Machado. Efficacy and safety of paracetamol for spinal pain and osteoarthritis: systematic review and meta-analysis of randomised placebo controlled trials. BMJ. 31 March 2015. Vol. 350 (mar31 2). hlm. h1225. doi:10.1136/bmj.h1225.
- ↑ Ben Goldacre. Bad Pharma. Fourth Estate. 2008. ISBN 978-0-00-735074-2.
- ↑ Steven Novella. Demonizing 'Big Pharma'. Science-Based Medicine. 22 April 2010.
- ↑ Steven Novella. Demonizing 'Big Pharma'. Science-Based Medicine. 22 April 2010.
- ↑ Steven Novella. ANOTHER CURE FOR CANCER?. skepticblog.org.
- ↑ Dave Roos. Is There a Hidden Cure for Cancer?. howstuffworks.com. 5 June 2018.
- ↑ Childs, Oliver. Don't believe the hype – 10 persistent cancer myths debunked. Cancer Research UK. 24 March 2014.
- ↑ Dina Fine Maron. Can We Truly "Cure" Cancer?. scientificamerican.com.
- ↑ David Robert Grimes. On the Viability of Conspiratorial Beliefs. PLOS ONE. Public Library of Science (PLoS). 26 January 2016. Vol. 11 (1). hlm. e0147905. doi:10.1371/journal.pone.0147905.
- ↑ Alex Berezow. Maths study shows conspiracies 'prone to unravelling'. BBC.
- ↑ Big Pharma dan Revolusi Sains. Ini Alasan Mereka Powerful." dari situs pinterpolitik
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29517764 (2026-08-03T05:49:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.