Lompat ke isi

Tailing: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29481617; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Air_pollution3.jpg|thumb|right|280px|Air pollution3]]
Dalam [[pertambangan]], '''tailing''' adalah material yang tersisa setelah proses [[pengolahan mineral|pemisahan]] fraksi yang bernilai ekonomis dari fraksi yang tidak bernilai ekonomis ([[gangue]]) dalam suatu [[bijih]]. Tailing berbeda dengan [[lapisan penutup]], yaitu [[limbah|batuan limbah]] atau material lain yang menutupi suatu endapan bijih atau tubuh mineral dan dipindahkan selama kegiatan penambangan tanpa melalui proses pengolahan. [[Valorisasi limbah]] merupakan proses penilaian terhadap limbah dan [[residu (kimia)|residu]] yang dihasilkan dari suatu proses ekonomi untuk menentukan nilai potensialnya bagi [[penggunaan kembali]] atau [[daur ulang]], karena material yang pada saat pemisahan dianggap sebagai gangue dapat menjadi bernilai seiring berjalannya waktu atau dengan berkembangnya teknologi pemulihan yang lebih canggih.
Dalam [[pertambangan]], '''tailing''' adalah material yang tersisa setelah proses [[pengolahan mineral|pemisahan]] fraksi yang bernilai ekonomis dari fraksi yang tidak bernilai ekonomis ([[gangue]]) dalam suatu [[bijih]]. Tailing berbeda dengan [[lapisan penutup]], yaitu [[limbah|batuan limbah]] atau material lain yang menutupi suatu endapan bijih atau tubuh mineral dan dipindahkan selama kegiatan penambangan tanpa melalui proses pengolahan. [[Valorisasi limbah]] merupakan proses penilaian terhadap limbah dan [[residu (kimia)|residu]] yang dihasilkan dari suatu proses ekonomi untuk menentukan nilai potensialnya bagi [[penggunaan kembali]] atau [[daur ulang]], karena material yang pada saat pemisahan dianggap sebagai gangue dapat menjadi bernilai seiring berjalannya waktu atau dengan berkembangnya teknologi pemulihan yang lebih canggih.


Ekstraksi mineral dari bijih dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu [[penambangan aluvial]], yang memanfaatkan air dan gaya gravitasi untuk mengonsentrasikan mineral berharga, atau [[penambangan batuan keras]], yang menghancurkan batuan pembawa bijih, kemudian mengandalkan reaksi kimia untuk mengonsentrasikan mineral yang diinginkan. Pada metode yang terakhir, ekstraksi mineral dari bijih memerlukan [[kominusi]], yaitu proses memperkecil ukuran bijih hingga menjadi partikel-partikel halus guna mempermudah pemisahan unsur target. Akibat proses kominusi ini, tailing terdiri atas [[sluri]] partikel halus yang ukurannya berkisar dari sebesar butiran pasir hingga beberapa mikrometer. Tailing tambang umumnya dihasilkan dari [[pabrik penggerusan|pabrik pengolahan]] dalam bentuk sluri, yaitu campuran antara partikel mineral halus dan air.
Ekstraksi mineral dari bijih dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu [[penambangan aluvial]], yang memanfaatkan air dan gaya gravitasi untuk mengonsentrasikan mineral berharga, atau [[penambangan batuan keras]], yang menghancurkan batuan pembawa bijih, kemudian mengandalkan reaksi kimia untuk mengonsentrasikan mineral yang diinginkan. Pada metode yang terakhir, ekstraksi mineral dari bijih memerlukan [[kominusi]], yaitu proses memperkecil ukuran bijih hingga menjadi partikel-partikel halus guna mempermudah pemisahan unsur target. Akibat proses kominusi ini, tailing terdiri atas [[sluri]] partikel halus yang ukurannya berkisar dari sebesar butiran pasir hingga beberapa mikrometer. Tailing tambang umumnya dihasilkan dari [[pabrik penggerusan|pabrik pengolahan]] dalam bentuk sluri, yaitu campuran antara partikel mineral halus dan air.<ref>V. P. Zvereva. [https://mst.misis.ru/jour/article/view/289 Chemical reactions and conditions of mineral formation at tailings storage facilities of the Russian Far East]. ''Gornye Nauki I Tekhnologii = Mining Science and Technology (Russia)''. 2021-10-13. Vol. 6 (3). hlm. 181–191. doi:10.17073/2500-0632-2021-3-181-191.</ref>


Tailing berpotensi menjadi sumber bahan kimia beracun yang berbahaya, seperti [[logam berat]], [[sulfida]], dan bahan [[radioaktivitas|radioaktif]]. Bahan-bahan tersebut menjadi sangat berbahaya apabila disimpan di dalam kolam yang berada di balik [[bendungan tailing]]. Kolam-kolam ini juga rentan mengalami jebol atau kebocoran bendungan yang dapat memicu [[dampak lingkungan akibat pertambangan|bencana lingkungan]], seperti [[bencana Mount Polley]] di [[British Columbia]]. Akibat permasalahan tersebut, ditambah berbagai isu lingkungan lainnya seperti [[pencemaran air tanah|kebocoran air tanah]], emisi zat beracun, dan kematian burung, timbunan serta kolam tailing semakin mendapat perhatian, khususnya di negara-negara maju. Meskipun demikian, standar pengelolaan tailing pertama di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa baru ditetapkan pada tahun 2020.
Tailing berpotensi menjadi sumber bahan kimia beracun yang berbahaya, seperti [[logam berat]], [[sulfida]], dan bahan [[radioaktivitas|radioaktif]]. Bahan-bahan tersebut menjadi sangat berbahaya apabila disimpan di dalam kolam yang berada di balik [[bendungan tailing]]. Kolam-kolam ini juga rentan mengalami jebol atau kebocoran bendungan yang dapat memicu [[dampak lingkungan akibat pertambangan|bencana lingkungan]], seperti [[bencana Mount Polley]] di [[British Columbia]]. Akibat permasalahan tersebut, ditambah berbagai isu lingkungan lainnya seperti [[pencemaran air tanah|kebocoran air tanah]], emisi zat beracun, dan kematian burung, timbunan serta kolam tailing semakin mendapat perhatian, khususnya di negara-negara maju. Meskipun demikian, standar pengelolaan tailing pertama di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa baru ditetapkan pada tahun 2020.
Baris 7: Baris 9:
Terdapat beragam metode untuk memulihkan nilai ekonomis dari tailing, mengisolasinya secara aman, maupun mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Namun, secara internasional, penerapan praktik-praktik tersebut masih tergolong kurang memadai, dan dalam beberapa kasus bahkan melanggar hak asasi manusia.
Terdapat beragam metode untuk memulihkan nilai ekonomis dari tailing, mengisolasinya secara aman, maupun mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Namun, secara internasional, penerapan praktik-praktik tersebut masih tergolong kurang memadai, dan dalam beberapa kasus bahkan melanggar hak asasi manusia.


==Referensi==
== Referensi ==
 
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tailing&oldid=29481617 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29481617 (2026-07-21T03:32:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tailing&oldid=29481617 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29481617 (2026-07-21T03:32:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 18.08

Air pollution3

Dalam pertambangan, tailing adalah material yang tersisa setelah proses pemisahan fraksi yang bernilai ekonomis dari fraksi yang tidak bernilai ekonomis (gangue) dalam suatu bijih. Tailing berbeda dengan lapisan penutup, yaitu batuan limbah atau material lain yang menutupi suatu endapan bijih atau tubuh mineral dan dipindahkan selama kegiatan penambangan tanpa melalui proses pengolahan. Valorisasi limbah merupakan proses penilaian terhadap limbah dan residu yang dihasilkan dari suatu proses ekonomi untuk menentukan nilai potensialnya bagi penggunaan kembali atau daur ulang, karena material yang pada saat pemisahan dianggap sebagai gangue dapat menjadi bernilai seiring berjalannya waktu atau dengan berkembangnya teknologi pemulihan yang lebih canggih.

Ekstraksi mineral dari bijih dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu penambangan aluvial, yang memanfaatkan air dan gaya gravitasi untuk mengonsentrasikan mineral berharga, atau penambangan batuan keras, yang menghancurkan batuan pembawa bijih, kemudian mengandalkan reaksi kimia untuk mengonsentrasikan mineral yang diinginkan. Pada metode yang terakhir, ekstraksi mineral dari bijih memerlukan kominusi, yaitu proses memperkecil ukuran bijih hingga menjadi partikel-partikel halus guna mempermudah pemisahan unsur target. Akibat proses kominusi ini, tailing terdiri atas sluri partikel halus yang ukurannya berkisar dari sebesar butiran pasir hingga beberapa mikrometer. Tailing tambang umumnya dihasilkan dari pabrik pengolahan dalam bentuk sluri, yaitu campuran antara partikel mineral halus dan air.[1]

Tailing berpotensi menjadi sumber bahan kimia beracun yang berbahaya, seperti logam berat, sulfida, dan bahan radioaktif. Bahan-bahan tersebut menjadi sangat berbahaya apabila disimpan di dalam kolam yang berada di balik bendungan tailing. Kolam-kolam ini juga rentan mengalami jebol atau kebocoran bendungan yang dapat memicu bencana lingkungan, seperti bencana Mount Polley di British Columbia. Akibat permasalahan tersebut, ditambah berbagai isu lingkungan lainnya seperti kebocoran air tanah, emisi zat beracun, dan kematian burung, timbunan serta kolam tailing semakin mendapat perhatian, khususnya di negara-negara maju. Meskipun demikian, standar pengelolaan tailing pertama di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa baru ditetapkan pada tahun 2020.

Terdapat beragam metode untuk memulihkan nilai ekonomis dari tailing, mengisolasinya secara aman, maupun mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Namun, secara internasional, penerapan praktik-praktik tersebut masih tergolong kurang memadai, dan dalam beberapa kasus bahkan melanggar hak asasi manusia.

Referensi

  1. V. P. Zvereva. Chemical reactions and conditions of mineral formation at tailings storage facilities of the Russian Far East. Gornye Nauki I Tekhnologii = Mining Science and Technology (Russia). 2021-10-13. Vol. 6 (3). hlm. 181–191. doi:10.17073/2500-0632-2021-3-181-191.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29481617 (2026-07-21T03:32:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.