Lompat ke isi

Agonis (farmakologi): Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28954708; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Inverse_agonist_3.svg|thumb|right|280px|Inverse agonist 3]]
Dalam [[farmakologi]], '''agonis''' adalah zat kimia yang mengaktifkan [[reseptor (biokimia)|reseptor]] untuk menghasilkan respons biologis. Reseptor adalah [[protein]] [[sel (biologi)|seluler]] yang aktivasinya menyebabkan sel mengubah apa yang sedang dilakukannya. Sebaliknya, [[antagonis reseptor|antagonis]] menghalangi aksi agonis, sementara agonis terbalik menyebabkan aksi yang berlawanan dengan agonis.
Dalam [[farmakologi]], '''agonis''' adalah zat kimia yang mengaktifkan [[reseptor (biokimia)|reseptor]] untuk menghasilkan respons biologis. Reseptor adalah [[protein]] [[sel (biologi)|seluler]] yang aktivasinya menyebabkan sel mengubah apa yang sedang dilakukannya. Sebaliknya, [[antagonis reseptor|antagonis]] menghalangi aksi agonis, sementara agonis terbalik menyebabkan aksi yang berlawanan dengan agonis.


Baris 6: Baris 8:
==Tipe agonis==
==Tipe agonis==
[[Reseptor (biokimia)|Reseptor]] dapat diaktifkan oleh agonis [[endogeni (biologi)|endogen]] (seperti [[hormon]] dan [[neurotransmiter]]) atau agonis eksogen (seperti [[obat]]-obatan), yang menghasilkan respons biologis. Agonis fisiologis adalah zat yang menciptakan respons tubuh yang sama tetapi tidak mengikat reseptor yang sama.
[[Reseptor (biokimia)|Reseptor]] dapat diaktifkan oleh agonis [[endogeni (biologi)|endogen]] (seperti [[hormon]] dan [[neurotransmiter]]) atau agonis eksogen (seperti [[obat]]-obatan), yang menghasilkan respons biologis. Agonis fisiologis adalah zat yang menciptakan respons tubuh yang sama tetapi tidak mengikat reseptor yang sama.
*Agonis endogen untuk reseptor tertentu adalah senyawa yang diproduksi secara alami oleh tubuh yang mengikat dan mengaktifkan reseptor tersebut. Misalnya, agonis endogen untuk [[reseptor serotonin]] adalah [[serotonin]], dan agonis endogen untuk [[reseptor dopamin]] adalah [[dopamin]].
*Agonis endogen untuk reseptor tertentu adalah senyawa yang diproduksi secara alami oleh tubuh yang mengikat dan mengaktifkan reseptor tersebut. Misalnya, agonis endogen untuk [[reseptor serotonin]] adalah [[serotonin]], dan agonis endogen untuk [[reseptor dopamin]] adalah [[dopamin]].<ref>Goodman and Gilman's Manual of Pharmacology and Therapeutics. (11th edition, 2008). p14.</ref>
*Seorang ko-agonis bekerja dengan ko-agonis lain untuk menghasilkan efek yang diinginkan bersama-sama. Aktivasi reseptor NMDA memerlukan pengikatan ko-agonis [[asam glutamat|glutamat]], glisina, dan D-[[serina]]. Kalsium juga dapat bertindak sebagai ko-agonis pada reseptor IP3. Agonis selektif bersifat selektif untuk jenis reseptor tertentu. Misalnya, [[buspiron]] merupakan agonis selektif untuk serotonin 5-HT1A.
*Seorang ko-agonis bekerja dengan ko-agonis lain untuk menghasilkan efek yang diinginkan bersama-sama. Aktivasi reseptor NMDA memerlukan pengikatan ko-agonis [[asam glutamat|glutamat]], glisina, dan D-[[serina]]. Kalsium juga dapat bertindak sebagai ko-agonis pada reseptor IP3. Agonis selektif bersifat selektif untuk jenis reseptor tertentu. Misalnya, [[buspiron]] merupakan agonis selektif untuk serotonin 5-HT1A.
*Agonis parsial (seperti buspiron, [[aripiprazol]], [[buprenorfin]], atau [[norklozapin]]) juga mengikat dan mengaktifkan reseptor tertentu, tetapi hanya memiliki kemanjuran parsial pada reseptor tersebut relatif terhadap agonis penuh, bahkan pada okupansi reseptor maksimal. Agen seperti buprenorfin digunakan untuk mengobati ketergantungan [[opiat]] karena alasan ini, karena menghasilkan efek yang lebih ringan pada reseptor opioid dengan ketergantungan dan potensi penyalahgunaan yang lebih rendah.
*Agonis parsial (seperti buspiron, [[aripiprazol]], [[buprenorfin]], atau [[norklozapin]]) juga mengikat dan mengaktifkan reseptor tertentu, tetapi hanya memiliki kemanjuran parsial pada reseptor tersebut relatif terhadap agonis penuh, bahkan pada okupansi reseptor maksimal. Agen seperti buprenorfin digunakan untuk mengobati ketergantungan [[opiat]] karena alasan ini, karena menghasilkan efek yang lebih ringan pada reseptor opioid dengan ketergantungan dan potensi penyalahgunaan yang lebih rendah.
*Agonis terbalik adalah agen yang mengikat ke situs pengikatan reseptor yang sama dengan agonis untuk reseptor tersebut dan menghambat aktivitas konstitutif reseptor tersebut. Agonis terbalik memberikan efek farmakologis yang berlawanan dengan agonis reseptor, bukan hanya tidak adanya efek agonis seperti yang terlihat pada antagonis. Contohnya adalah agonis terbalik [[kanabinoid]] [[rimonabant]].
*Agonis terbalik adalah agen yang mengikat ke situs pengikatan reseptor yang sama dengan agonis untuk reseptor tersebut dan menghambat aktivitas konstitutif reseptor tersebut. Agonis terbalik memberikan efek farmakologis yang berlawanan dengan agonis reseptor, bukan hanya tidak adanya efek agonis seperti yang terlihat pada antagonis. Contohnya adalah agonis terbalik [[kanabinoid]] [[rimonabant]].
*Superagonis adalah istilah yang digunakan oleh beberapa orang untuk mengidentifikasi senyawa yang mampu menghasilkan respons yang lebih besar daripada agonis endogen untuk reseptor target. Dapat dikatakan bahwa agonis endogen hanyalah agonis parsial dalam jaringan tersebut.
*Superagonis adalah istilah yang digunakan oleh beberapa orang untuk mengidentifikasi senyawa yang mampu menghasilkan respons yang lebih besar daripada agonis endogen untuk reseptor target. Dapat dikatakan bahwa agonis endogen hanyalah agonis parsial dalam jaringan tersebut.
*Agonis ireversibel adalah jenis agonis yang mengikat secara permanen ke reseptor melalui pembentukan [[ikatan kovalen]].
*Agonis ireversibel adalah jenis agonis yang mengikat secara permanen ke reseptor melalui pembentukan [[ikatan kovalen]].<ref>''Endothelin-1, an Endogenous Irreversible Agonist in Search of an Allosteric Inhibitor''. ''Mol Cell Pharmacol''. 2009. Vol. 1 (5). hlm. 246–257.</ref><ref>''Structure and function of an irreversible agonist-β(2) adrenoceptor complex''. ''Nature''. January 2011. Vol. 469 (7329). hlm. 236–240. doi:10.1038/nature09665.</ref>
*Agonis bias adalah agen yang mengikat reseptor tanpa memengaruhi jalur transduksi sinyal yang sama.  [[Oliseridin]] adalah agonis reseptor μ-opioid yang telah dijelaskan bersifat selektif secara fungsional terhadap protein G dan menjauhi jalur β-arrestin2.
*Agonis bias adalah agen yang mengikat reseptor tanpa memengaruhi jalur transduksi sinyal yang sama.  [[Oliseridin]] adalah agonis reseptor μ-opioid yang telah dijelaskan bersifat selektif secara fungsional terhadap protein G dan menjauhi jalur β-arrestin2.<ref>''A G protein-biased ligand at the μ-opioid receptor is potently analgesic with reduced gastrointestinal and respiratory dysfunction compared with morphine''. ''The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics''. March 2013. Vol. 344 (3). hlm. 708–717. doi:10.1124/jpet.112.201616.</ref>


Temuan baru yang memperluas definisi konvensional farmakologi menunjukkan bahwa [[ligan (biokimia)|ligan]] dapat secara bersamaan berperilaku sebagai agonis dan antagonis pada reseptor yang sama, tergantung pada jalur efektor atau jenis jaringan. Istilah yang menggambarkan fenomena ini adalah "selektivitas fungsional", "agonis protean", atau modulator reseptor selektif.
Temuan baru yang memperluas definisi konvensional farmakologi menunjukkan bahwa [[ligan (biokimia)|ligan]] dapat secara bersamaan berperilaku sebagai agonis dan antagonis pada reseptor yang sama, tergantung pada jalur efektor atau jenis jaringan. Istilah yang menggambarkan fenomena ini adalah "selektivitas fungsional", "agonis protean",<ref>''Inverse, protean, and ligand-selective agonism: matters of receptor conformation''. ''FASEB Journal''. March 2001. Vol. 15 (3). hlm. 598–611. doi:10.1096/fj.00-0438rev.</ref><ref>[https://cdr.lib.unc.edu/downloads/j9602272s Functional selectivity and classical concepts of quantitative pharmacology]. ''The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics''. January 2007. Vol. 320 (1). hlm. 1–13. doi:10.1124/jpet.106.104463.</ref><ref>''A New Molecular Mechanism To Engineer Protean Agonism at a G Protein-Coupled Receptor''. ''Molecular Pharmacology''. April 2017. Vol. 91 (4). hlm. 348–356. doi:10.1124/mol.116.107276.</ref> atau modulator reseptor selektif.<ref>''Coregulator function: a key to understanding tissue specificity of selective receptor modulators''. ''Endocrine Reviews''. February 2004. Vol. 25 (1). hlm. 45–71. doi:10.1210/er.2003-0023.</ref>


==Mekanisme kerja==
==Mekanisme kerja==
Seperti disebutkan di atas, agonis memiliki potensi untuk mengikat di lokasi yang berbeda dan dengan cara yang berbeda tergantung pada jenis agonis dan jenis reseptor. Proses pengikatan bersifat unik pada hubungan reseptor-agonis, tetapi pengikatan menginduksi perubahan konformasi dan mengaktifkan reseptor. Perubahan konformasi ini sering kali merupakan hasil dari perubahan kecil pada muatan atau perubahan pada [[pelipatan protein]] saat agonis terikat. Dua contoh yang menunjukkan proses ini adalah reseptor asetilkolin muskarinik dan reseptor NMDA serta agonisnya masing-masing.
Seperti disebutkan di atas, agonis memiliki potensi untuk mengikat di lokasi yang berbeda dan dengan cara yang berbeda tergantung pada jenis agonis dan jenis reseptor.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref> Proses pengikatan bersifat unik pada hubungan reseptor-agonis, tetapi pengikatan menginduksi perubahan konformasi dan mengaktifkan reseptor.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref><ref>''Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor''. ''Nature''. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.</ref> Perubahan konformasi ini sering kali merupakan hasil dari perubahan kecil pada muatan atau perubahan pada [[pelipatan protein]] saat agonis terikat.<ref>''Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor''. ''Nature''. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.</ref><ref>''Mechanism of NMDA Receptor Inhibition and Activation''. ''Cell''. April 2016. Vol. 165 (3). hlm. 704–714. doi:10.1016/j.cell.2016.03.028.</ref> Dua contoh yang menunjukkan proses ini adalah reseptor asetilkolin muskarinik dan reseptor NMDA serta agonisnya masing-masing.


Untuk reseptor asetilkolina muskarinik, yang merupakan [[reseptor terhubung protein G]](GPCR), agonis endogennya adalah [[asetilkolina]]. Pengikatan [[neurotransmiter]] ini menyebabkan perubahan konformasi yang menyebarkan sinyal ke dalam sel. Perubahan konformasi adalah efek utama agonis, dan terkait dengan afinitas pengikatan agonis dan efikasi agonis. Agonis lain yang mengikat reseptor ini akan termasuk dalam salah satu kategori agonis yang disebutkan di atas berdasarkan afinitas pengikatan dan efikasi spesifiknya.
Untuk reseptor asetilkolina muskarinik, yang merupakan [[reseptor terhubung protein G]](GPCR), agonis endogennya adalah [[asetilkolina]]. Pengikatan [[neurotransmiter]] ini menyebabkan perubahan konformasi yang menyebarkan sinyal ke dalam sel.<ref>''Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor''. ''Nature''. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.</ref> Perubahan konformasi adalah efek utama agonis, dan terkait dengan afinitas pengikatan agonis dan efikasi agonis.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref><ref>''Agonist binding, agonist affinity and agonist efficacy at G protein-coupled receptors''. ''British Journal of Pharmacology''. April 2008. Vol. 153 (7). hlm. 1353–1363. doi:10.1038/sj.bjp.0707672.</ref> Agonis lain yang mengikat reseptor ini akan termasuk dalam salah satu kategori agonis yang disebutkan di atas berdasarkan afinitas pengikatan dan efikasi spesifiknya.


Reseptor NMDA adalah contoh [[mekanisme aksi]] alternatif, karena reseptor NMDA memerlukan ko-agonis untuk aktivasi.  Alih-alih hanya membutuhkan satu agonis spesifik, reseptor NMDA membutuhkan agonis endogen, N-metil-D-aspartat (NMDA) dan [[glisina]]. Kedua agonis ini diperlukan untuk menginduksi perubahan konformasi yang dibutuhkan reseptor NMDA untuk memungkinkan aliran melalui [[saluran ion]], dalam hal ini [[kalsium]]. Aspek yang ditunjukkan oleh reseptor NMDA adalah bahwa mekanisme atau respons agonis dapat diblokir oleh berbagai faktor kimia dan biologis. Reseptor NMDA secara khusus diblokir oleh ion [[magnesium]] kecuali sel tersebut juga mengalami depolarisasi.
Reseptor NMDA adalah contoh [[mekanisme aksi]] alternatif, karena reseptor NMDA memerlukan ko-agonis untuk aktivasi.  Alih-alih hanya membutuhkan satu agonis spesifik, reseptor NMDA membutuhkan agonis endogen, N-metil-D-aspartat (NMDA) dan [[glisina]]. Kedua agonis ini diperlukan untuk menginduksi perubahan konformasi yang dibutuhkan reseptor NMDA untuk memungkinkan aliran melalui [[saluran ion]], dalam hal ini [[kalsium]]. Aspek yang ditunjukkan oleh reseptor NMDA adalah bahwa mekanisme atau respons agonis dapat diblokir oleh berbagai faktor kimia dan biologis. Reseptor NMDA secara khusus diblokir oleh ion [[magnesium]] kecuali sel tersebut juga mengalami depolarisasi.<ref>''Mechanism of NMDA Receptor Inhibition and Activation''. ''Cell''. April 2016. Vol. 165 (3). hlm. 704–714. doi:10.1016/j.cell.2016.03.028.</ref>


Perbedaan ini menunjukkan bahwa agonis memiliki mekanisme aksi yang unik tergantung pada reseptor yang diaktifkan dan respons yang dibutuhkan. Namun, tujuan dan prosesnya secara umum tetap konsisten, dengan mekanisme aksi utama yang memerlukan pengikatan agonis dan perubahan konformasi berikutnya untuk menyebabkan respons yang diinginkan pada reseptor. Respons ini seperti yang dibahas di atas dapat bervariasi dari membiarkan aliran ion hingga mengaktifkan [[reseptor terhubung protein G|GPCR]] dan mengirimkan sinyal ke dalam sel.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa agonis memiliki mekanisme aksi yang unik tergantung pada reseptor yang diaktifkan dan respons yang dibutuhkan.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref><ref>''Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor''. ''Nature''. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.</ref> Namun, tujuan dan prosesnya secara umum tetap konsisten, dengan mekanisme aksi utama yang memerlukan pengikatan agonis dan perubahan konformasi berikutnya untuk menyebabkan respons yang diinginkan pada reseptor.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref><ref>''Agonist binding, agonist affinity and agonist efficacy at G protein-coupled receptors''. ''British Journal of Pharmacology''. April 2008. Vol. 153 (7). hlm. 1353–1363. doi:10.1038/sj.bjp.0707672.</ref> Respons ini seperti yang dibahas di atas dapat bervariasi dari membiarkan aliran ion hingga mengaktifkan [[reseptor terhubung protein G|GPCR]] dan mengirimkan sinyal ke dalam sel.<ref>''Agonist-activated ion channels''. ''British Journal of Pharmacology''. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.</ref><ref>''Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor''. ''Nature''. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.</ref>


==Aktivitas==
==Aktivitas==
===Potensi===
===Potensi===
Potensi adalah jumlah agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh respons yang diinginkan. Potensi agonis berbanding terbalik dengan nilai setengah konsentrasi efektif maksimal (TD<sub>50</sub>). TD<sub>50</sub> dapat diukur untuk agonis tertentu dengan menentukan konsentrasi agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh setengah dari respons biologis maksimum agonis. Nilai TD<sub>50</sub> berguna untuk membandingkan potensi obat dengan [[efikasi]] serupa yang menghasilkan efek fisiologis serupa. Semakin kecil nilai TD<sub>50</sub>, semakin besar potensi agonis, semakin rendah konsentrasi obat yang dibutuhkan untuk memperoleh respons biologis maksimum.
Potensi adalah jumlah agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh respons yang diinginkan. Potensi agonis berbanding terbalik dengan nilai setengah konsentrasi efektif maksimal (TD<sub>50</sub>). TD<sub>50</sub> dapat diukur untuk agonis tertentu dengan menentukan konsentrasi agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh setengah dari respons biologis maksimum agonis. Nilai TD<sub>50</sub> berguna untuk membandingkan potensi obat dengan [[efikasi]] serupa yang menghasilkan efek fisiologis serupa. Semakin kecil nilai TD<sub>50</sub>, semakin besar potensi agonis, semakin rendah konsentrasi obat yang dibutuhkan untuk memperoleh respons biologis maksimum.
Baris 34: Baris 35:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agonis+%28farmakologi%29&oldid=28954708 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28954708 (2026-02-12T23:20:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agonis+%28farmakologi%29&oldid=28954708 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28954708 (2026-02-12T23:20:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 23.04

Inverse agonist 3

Dalam farmakologi, agonis adalah zat kimia yang mengaktifkan reseptor untuk menghasilkan respons biologis. Reseptor adalah protein seluler yang aktivasinya menyebabkan sel mengubah apa yang sedang dilakukannya. Sebaliknya, antagonis menghalangi aksi agonis, sementara agonis terbalik menyebabkan aksi yang berlawanan dengan agonis.

Etimologi

Namanya berasal dari kata Yunani ἀγωνιστής (agōnistēs; artinya "peserta", "juara", atau "saingan"). < ἀγών (agōn; artinya "pertandingan", "pertarungan", "pengerahan tenaga", atau perjuangan") dan < ἄγω (agō. Artinya "Saya pimpin"; "pimpin ke arah"; "atur, kendalikan").

Tipe agonis

Reseptor dapat diaktifkan oleh agonis endogen (seperti hormon dan neurotransmiter) atau agonis eksogen (seperti obat-obatan), yang menghasilkan respons biologis. Agonis fisiologis adalah zat yang menciptakan respons tubuh yang sama tetapi tidak mengikat reseptor yang sama.

  • Agonis endogen untuk reseptor tertentu adalah senyawa yang diproduksi secara alami oleh tubuh yang mengikat dan mengaktifkan reseptor tersebut. Misalnya, agonis endogen untuk reseptor serotonin adalah serotonin, dan agonis endogen untuk reseptor dopamin adalah dopamin.[1]
  • Seorang ko-agonis bekerja dengan ko-agonis lain untuk menghasilkan efek yang diinginkan bersama-sama. Aktivasi reseptor NMDA memerlukan pengikatan ko-agonis glutamat, glisina, dan D-serina. Kalsium juga dapat bertindak sebagai ko-agonis pada reseptor IP3. Agonis selektif bersifat selektif untuk jenis reseptor tertentu. Misalnya, buspiron merupakan agonis selektif untuk serotonin 5-HT1A.
  • Agonis parsial (seperti buspiron, aripiprazol, buprenorfin, atau norklozapin) juga mengikat dan mengaktifkan reseptor tertentu, tetapi hanya memiliki kemanjuran parsial pada reseptor tersebut relatif terhadap agonis penuh, bahkan pada okupansi reseptor maksimal. Agen seperti buprenorfin digunakan untuk mengobati ketergantungan opiat karena alasan ini, karena menghasilkan efek yang lebih ringan pada reseptor opioid dengan ketergantungan dan potensi penyalahgunaan yang lebih rendah.
  • Agonis terbalik adalah agen yang mengikat ke situs pengikatan reseptor yang sama dengan agonis untuk reseptor tersebut dan menghambat aktivitas konstitutif reseptor tersebut. Agonis terbalik memberikan efek farmakologis yang berlawanan dengan agonis reseptor, bukan hanya tidak adanya efek agonis seperti yang terlihat pada antagonis. Contohnya adalah agonis terbalik kanabinoid rimonabant.
  • Superagonis adalah istilah yang digunakan oleh beberapa orang untuk mengidentifikasi senyawa yang mampu menghasilkan respons yang lebih besar daripada agonis endogen untuk reseptor target. Dapat dikatakan bahwa agonis endogen hanyalah agonis parsial dalam jaringan tersebut.
  • Agonis ireversibel adalah jenis agonis yang mengikat secara permanen ke reseptor melalui pembentukan ikatan kovalen.[2][3]
  • Agonis bias adalah agen yang mengikat reseptor tanpa memengaruhi jalur transduksi sinyal yang sama. Oliseridin adalah agonis reseptor μ-opioid yang telah dijelaskan bersifat selektif secara fungsional terhadap protein G dan menjauhi jalur β-arrestin2.[4]

Temuan baru yang memperluas definisi konvensional farmakologi menunjukkan bahwa ligan dapat secara bersamaan berperilaku sebagai agonis dan antagonis pada reseptor yang sama, tergantung pada jalur efektor atau jenis jaringan. Istilah yang menggambarkan fenomena ini adalah "selektivitas fungsional", "agonis protean",[5][6][7] atau modulator reseptor selektif.[8]

Mekanisme kerja

Seperti disebutkan di atas, agonis memiliki potensi untuk mengikat di lokasi yang berbeda dan dengan cara yang berbeda tergantung pada jenis agonis dan jenis reseptor.[9] Proses pengikatan bersifat unik pada hubungan reseptor-agonis, tetapi pengikatan menginduksi perubahan konformasi dan mengaktifkan reseptor.[10][11] Perubahan konformasi ini sering kali merupakan hasil dari perubahan kecil pada muatan atau perubahan pada pelipatan protein saat agonis terikat.[12][13] Dua contoh yang menunjukkan proses ini adalah reseptor asetilkolin muskarinik dan reseptor NMDA serta agonisnya masing-masing.

Untuk reseptor asetilkolina muskarinik, yang merupakan reseptor terhubung protein G(GPCR), agonis endogennya adalah asetilkolina. Pengikatan neurotransmiter ini menyebabkan perubahan konformasi yang menyebarkan sinyal ke dalam sel.[14] Perubahan konformasi adalah efek utama agonis, dan terkait dengan afinitas pengikatan agonis dan efikasi agonis.[15][16] Agonis lain yang mengikat reseptor ini akan termasuk dalam salah satu kategori agonis yang disebutkan di atas berdasarkan afinitas pengikatan dan efikasi spesifiknya.

Reseptor NMDA adalah contoh mekanisme aksi alternatif, karena reseptor NMDA memerlukan ko-agonis untuk aktivasi. Alih-alih hanya membutuhkan satu agonis spesifik, reseptor NMDA membutuhkan agonis endogen, N-metil-D-aspartat (NMDA) dan glisina. Kedua agonis ini diperlukan untuk menginduksi perubahan konformasi yang dibutuhkan reseptor NMDA untuk memungkinkan aliran melalui saluran ion, dalam hal ini kalsium. Aspek yang ditunjukkan oleh reseptor NMDA adalah bahwa mekanisme atau respons agonis dapat diblokir oleh berbagai faktor kimia dan biologis. Reseptor NMDA secara khusus diblokir oleh ion magnesium kecuali sel tersebut juga mengalami depolarisasi.[17]

Perbedaan ini menunjukkan bahwa agonis memiliki mekanisme aksi yang unik tergantung pada reseptor yang diaktifkan dan respons yang dibutuhkan.[18][19] Namun, tujuan dan prosesnya secara umum tetap konsisten, dengan mekanisme aksi utama yang memerlukan pengikatan agonis dan perubahan konformasi berikutnya untuk menyebabkan respons yang diinginkan pada reseptor.[20][21] Respons ini seperti yang dibahas di atas dapat bervariasi dari membiarkan aliran ion hingga mengaktifkan GPCR dan mengirimkan sinyal ke dalam sel.[22][23]

Aktivitas

Potensi

Potensi adalah jumlah agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh respons yang diinginkan. Potensi agonis berbanding terbalik dengan nilai setengah konsentrasi efektif maksimal (TD50). TD50 dapat diukur untuk agonis tertentu dengan menentukan konsentrasi agonis yang dibutuhkan untuk memperoleh setengah dari respons biologis maksimum agonis. Nilai TD50 berguna untuk membandingkan potensi obat dengan efikasi serupa yang menghasilkan efek fisiologis serupa. Semakin kecil nilai TD50, semakin besar potensi agonis, semakin rendah konsentrasi obat yang dibutuhkan untuk memperoleh respons biologis maksimum.

Indeks terapi

Ketika suatu obat digunakan secara terapeutik, penting untuk memahami batas keamanan yang ada antara dosis yang dibutuhkan untuk efek yang diinginkan dan dosis yang menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan dan mungkin berbahaya (diukur dengan TD50, dosis yang menghasilkan toksisitas pada 50% individu). Hubungan ini, yang disebut indeks terapi, didefinisikan sebagai rasio TD50:ED50. Secara umum, semakin sempit batas ini, semakin besar kemungkinan obat tersebut akan menghasilkan efek yang tidak diinginkan. Indeks terapi menekankan pentingnya batas keamanan, yang berbeda dari potensi, dalam menentukan kegunaan suatu obat.

Referensi

  1. Goodman and Gilman's Manual of Pharmacology and Therapeutics. (11th edition, 2008). p14.
  2. Endothelin-1, an Endogenous Irreversible Agonist in Search of an Allosteric Inhibitor. Mol Cell Pharmacol. 2009. Vol. 1 (5). hlm. 246–257.
  3. Structure and function of an irreversible agonist-β(2) adrenoceptor complex. Nature. January 2011. Vol. 469 (7329). hlm. 236–240. doi:10.1038/nature09665.
  4. A G protein-biased ligand at the μ-opioid receptor is potently analgesic with reduced gastrointestinal and respiratory dysfunction compared with morphine. The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. March 2013. Vol. 344 (3). hlm. 708–717. doi:10.1124/jpet.112.201616.
  5. Inverse, protean, and ligand-selective agonism: matters of receptor conformation. FASEB Journal. March 2001. Vol. 15 (3). hlm. 598–611. doi:10.1096/fj.00-0438rev.
  6. Functional selectivity and classical concepts of quantitative pharmacology. The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. January 2007. Vol. 320 (1). hlm. 1–13. doi:10.1124/jpet.106.104463.
  7. A New Molecular Mechanism To Engineer Protean Agonism at a G Protein-Coupled Receptor. Molecular Pharmacology. April 2017. Vol. 91 (4). hlm. 348–356. doi:10.1124/mol.116.107276.
  8. Coregulator function: a key to understanding tissue specificity of selective receptor modulators. Endocrine Reviews. February 2004. Vol. 25 (1). hlm. 45–71. doi:10.1210/er.2003-0023.
  9. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  10. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  11. Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor. Nature. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.
  12. Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor. Nature. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.
  13. Mechanism of NMDA Receptor Inhibition and Activation. Cell. April 2016. Vol. 165 (3). hlm. 704–714. doi:10.1016/j.cell.2016.03.028.
  14. Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor. Nature. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.
  15. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  16. Agonist binding, agonist affinity and agonist efficacy at G protein-coupled receptors. British Journal of Pharmacology. April 2008. Vol. 153 (7). hlm. 1353–1363. doi:10.1038/sj.bjp.0707672.
  17. Mechanism of NMDA Receptor Inhibition and Activation. Cell. April 2016. Vol. 165 (3). hlm. 704–714. doi:10.1016/j.cell.2016.03.028.
  18. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  19. Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor. Nature. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.
  20. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  21. Agonist binding, agonist affinity and agonist efficacy at G protein-coupled receptors. British Journal of Pharmacology. April 2008. Vol. 153 (7). hlm. 1353–1363. doi:10.1038/sj.bjp.0707672.
  22. Agonist-activated ion channels. British Journal of Pharmacology. January 2006. Vol. 147 (S1). hlm. S17–S26. doi:10.1038/sj.bjp.0706502.
  23. Activation and allosteric modulation of a muscarinic acetylcholine receptor. Nature. December 2013. Vol. 504 (7478). hlm. 101–106. doi:10.1038/nature12735.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28954708 (2026-02-12T23:20:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.