Bioturbasi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29375444; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Walrus_(Odobenus_rosmarus)_resting_in_a_crowd_on_Wahlbergøya,_Svalbard_(3).jpg|thumb|right|280px|Walrus (Odobenus rosmarus) resting in a crowd on Wahlbergøya, Svalbard (3)]] | |||
'''Bioturbasi''' adalah salah satu proses pelapukan [[tanah]] dan sedimen secara biologi. | '''Bioturbasi''' adalah salah satu proses pelapukan [[tanah]] dan sedimen secara biologi. | ||
Bioturbasi merupakan istilah yang diberikan terhadap destabilisasi substrat oleh aktivitas [[fauna]] juga dapat mengganggu keadaan di dasar laut. Bioturbasi (gangguan biologi) penting dalam struktur komunitas bentik laut, termasuk meiofauna. Dalam kasus lingkungan sedimen, hal ini dapat terjadi melalui aksi penggalian oleh [[Kopepoda|Copepoda]] atau [[Polychaeta]] pemakan deposit. Faktor yang dapat memengaruhi komunitas meiofauna adalah kehadiran makroinvertebrata, seperti [[kepiting]] penggali ''[[Chasnagnathus granulata]]'' (Dana) di habitat tersebut. Kepiting ini menggali dan mempertahankan liang yang terbuka semi permanen, dan memindahkan sejumlah besar sedimen selama proses makan sehingga terbentuk gundukan di permukaan sedimen dan memelihara liang yang terbentuk pada permukaan sedimen di sekitar galian. | Bioturbasi merupakan istilah yang diberikan terhadap destabilisasi substrat oleh aktivitas [[fauna]] juga dapat mengganggu keadaan di dasar laut. Bioturbasi (gangguan biologi) penting dalam struktur komunitas bentik laut,<ref>Rosa & Bemvenuti 2005</ref> termasuk meiofauna. Dalam kasus lingkungan sedimen, hal ini dapat terjadi melalui aksi penggalian oleh [[Kopepoda|Copepoda]] atau [[Polychaeta]] pemakan deposit.<ref>Lindsay & Woodin 1996</ref> Faktor yang dapat memengaruhi komunitas meiofauna adalah kehadiran makroinvertebrata, seperti [[kepiting]] penggali ''[[Chasnagnathus granulata]]'' (Dana) di habitat tersebut. Kepiting ini menggali dan mempertahankan liang yang terbuka semi permanen, dan memindahkan sejumlah besar sedimen selama proses makan sehingga terbentuk gundukan di permukaan sedimen dan memelihara liang yang terbentuk pada permukaan sedimen di sekitar galian.<ref>Hines 1991; Iribarne et al. 1997; Rosa & Bemvenuti 2005</ref> | ||
Bioturbasi umumnya terjadi pada sekuen sedimen yang berada pada lingkungan yang mengandung [[oksigen]], terrestrial maupun laut di mana masih memungkinkan biota hidup. Pada zona yang tidak mengandung atau terdapat sedikit sekali oksigen, di mana biota tidak dapat tumbuh, kemungkinan tidak terjadi perusakan oleh biota, tetapi di lingkungan kryosfer, perusakan sangat mungkin terjadi. Kedua jenis mekanisme perusakan tersebut sangat mengganggu usaha perekaan ulang dinamika lingkungan yang membentuk endapan tersebut. Karena kondisi yang tidak teratur tersebut, material berikut fosil biota teraduk sehingga tidak terdapat pada posisi yang mewakili saat (kejadian) pembentukannya. Analisis temporal tidak mungkin dilakukan pada sekuen ini. Perusakan oleh biota juga sering ditemukan pada [[koral]], berupa lubang-lubang cacing atau binatang lain sehingga mengganggu analisis temporal. | Bioturbasi umumnya terjadi pada sekuen sedimen yang berada pada lingkungan yang mengandung [[oksigen]], terrestrial maupun laut di mana masih memungkinkan biota hidup. Pada zona yang tidak mengandung atau terdapat sedikit sekali oksigen, di mana biota tidak dapat tumbuh, kemungkinan tidak terjadi perusakan oleh biota, tetapi di lingkungan kryosfer, perusakan sangat mungkin terjadi. Kedua jenis mekanisme perusakan tersebut sangat mengganggu usaha perekaan ulang dinamika lingkungan yang membentuk endapan tersebut. Karena kondisi yang tidak teratur tersebut, material berikut fosil biota teraduk sehingga tidak terdapat pada posisi yang mewakili saat (kejadian) pembentukannya. Analisis temporal tidak mungkin dilakukan pada sekuen ini. Perusakan oleh biota juga sering ditemukan pada [[koral]], berupa lubang-lubang cacing atau binatang lain sehingga mengganggu analisis temporal. | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bioturbasi&oldid=29375444 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29375444 (2026-06-22T07:45:41Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 23.07

Bioturbasi adalah salah satu proses pelapukan tanah dan sedimen secara biologi.
Bioturbasi merupakan istilah yang diberikan terhadap destabilisasi substrat oleh aktivitas fauna juga dapat mengganggu keadaan di dasar laut. Bioturbasi (gangguan biologi) penting dalam struktur komunitas bentik laut,[1] termasuk meiofauna. Dalam kasus lingkungan sedimen, hal ini dapat terjadi melalui aksi penggalian oleh Copepoda atau Polychaeta pemakan deposit.[2] Faktor yang dapat memengaruhi komunitas meiofauna adalah kehadiran makroinvertebrata, seperti kepiting penggali Chasnagnathus granulata (Dana) di habitat tersebut. Kepiting ini menggali dan mempertahankan liang yang terbuka semi permanen, dan memindahkan sejumlah besar sedimen selama proses makan sehingga terbentuk gundukan di permukaan sedimen dan memelihara liang yang terbentuk pada permukaan sedimen di sekitar galian.[3]
Bioturbasi umumnya terjadi pada sekuen sedimen yang berada pada lingkungan yang mengandung oksigen, terrestrial maupun laut di mana masih memungkinkan biota hidup. Pada zona yang tidak mengandung atau terdapat sedikit sekali oksigen, di mana biota tidak dapat tumbuh, kemungkinan tidak terjadi perusakan oleh biota, tetapi di lingkungan kryosfer, perusakan sangat mungkin terjadi. Kedua jenis mekanisme perusakan tersebut sangat mengganggu usaha perekaan ulang dinamika lingkungan yang membentuk endapan tersebut. Karena kondisi yang tidak teratur tersebut, material berikut fosil biota teraduk sehingga tidak terdapat pada posisi yang mewakili saat (kejadian) pembentukannya. Analisis temporal tidak mungkin dilakukan pada sekuen ini. Perusakan oleh biota juga sering ditemukan pada koral, berupa lubang-lubang cacing atau binatang lain sehingga mengganggu analisis temporal.
Pada sedimen pengendapan laut dalam, masih mungkin ditemukan sisa-sisa bioturbasi ini, bisa terjadi secara lokal (di tempat tersebut) namun kemungkinan merupakan sedimen yang mengalami bioturbasi di zona yang mengandung oksigen di laut dangkal yang kemudian terjadi longsor yang sangat besar secara utuh masuk ke kedalaman palung. Sisa-sisa kryoturbasi dapat ditemukan di sedimen Kuarter maupun yang lebih tua, yang saat atau setelah pembentukannya mengalami tutupan tudung es.
Perusakan juga dapat terjadi oleh proses lain, seperti rekahan pada permukaan endapan yang mengering, atau mengalami pelarutan (batugamping) yang kemudian terisi oleh material lain (lumpur, pasir, dll).
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29375444 (2026-06-22T07:45:41Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.