Lompat ke isi

Mesoderm: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27872389; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Mesoderm''' adalah sel-sel yang berada pada lapisan tengah saat fase [[embrionik]] dalam perkembangan makhluk hidup.
[[File:Mesoderm.png|thumb|right|280px|Jaringan-jaringan tubuh yang dihasilkan dari jaringan mesoderm]]
 
'''Mesoderm''' adalah sel-sel yang berada pada lapisan tengah saat fase [[embrionik]] dalam perkembangan makhluk hidup.<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref>


== Pendahuluan ==
== Pendahuluan ==
Saat terjadi fase pembuahan atau [[fertilisasi]] yang ditandai dengan bertemunya sel [[gamet]] atau sel kelamin jantan dan betina, maka akan dihasilkan satu sel yang disebut [[zigot]]. Sel zigot ini akan mengalami pembelahan menjadi 2 sel, hingga 32 sel. Kemudian sel akan mencapai fase [[gastrulasi]] di mana sejumlah sel yang dihasilkan dari tahap pembelahan terus membelah dan bergerak menata dirinya menjadi lapisan-lapisan dan kumpulan yang berbeda. Pada fase ini terbentuk lapisan sesuai jenis hewannya. Jika [[hewan]] bersifat [[tripoblastik]] maka akan tersusun atas 3 lapisan, yaitu [[ektoderm]], mesoderm, dan [[endoderm]]. Jika hewan bersifat [[dipoblastik]] maka akan tersusun atas 2 lapisan, yaitu ektoderm dan endoderm. Lapisan mesoderm ini yang akan membentuk [[struktur]] [[organ]] penyusun bentuk tubuh atau struktur berongga seperti [[tulang belakang]], [[rongga perut]], dan [[rongga dada]].
Saat terjadi fase pembuahan atau [[fertilisasi]] yang ditandai dengan bertemunya sel [[gamet]] atau sel kelamin jantan dan betina, maka akan dihasilkan satu sel yang disebut [[zigot]].<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Sel zigot ini akan mengalami pembelahan menjadi 2 sel, hingga 32 sel.<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Kemudian sel akan mencapai fase [[gastrulasi]] di mana sejumlah sel yang dihasilkan dari tahap pembelahan terus membelah dan bergerak menata dirinya menjadi lapisan-lapisan dan kumpulan yang berbeda.<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Pada fase ini terbentuk lapisan sesuai jenis hewannya.<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Jika [[hewan]] bersifat [[tripoblastik]] maka akan tersusun atas 3 lapisan, yaitu [[ektoderm]], mesoderm, dan [[endoderm]].<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Jika hewan bersifat [[dipoblastik]] maka akan tersusun atas 2 lapisan, yaitu ektoderm dan endoderm.<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref> Lapisan mesoderm ini yang akan membentuk [[struktur]] [[organ]] penyusun bentuk tubuh atau struktur berongga seperti [[tulang belakang]], [[rongga perut]], dan [[rongga dada]].<ref>Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. ''IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII''. Jakarta: Grasindo.</ref>


== Faktor ==
== Faktor ==
Ada berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan jaringan mesoderm, salah satunya adalah faktor [[parakrin]]. Yang termasuk dalam faktor parakrin adalah [[hormon]] dan [[protein]] sinyal lainnya. Contoh faktor parakrin yang paling penting adalah [[famili-FGF]] (''Fibroblast Growth Factor''). Faktor ini berguna untuk menginduksi jaringan mesoderm sehingga dapat berdiferensiasi.
Ada berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan jaringan mesoderm, salah satunya adalah faktor [[parakrin]].<ref>Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. ''Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia''. Jakarta: EGC.</ref> Yang termasuk dalam faktor parakrin adalah [[hormon]] dan [[protein]] sinyal lainnya.<ref>Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. ''Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia''. Jakarta: EGC.</ref> Contoh faktor parakrin yang paling penting adalah [[famili-FGF]] (''Fibroblast Growth Factor'').<ref>Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. ''Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia''. Jakarta: EGC.</ref> Faktor ini berguna untuk menginduksi jaringan mesoderm sehingga dapat berdiferensiasi.<ref>Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. ''Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia''. Jakarta: EGC.</ref>


= Rujukan =
= Rujukan =


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mesoderm&oldid=27872389 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27872389 (2025-09-23T02:56:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mesoderm&oldid=27872389 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27872389 (2025-09-23T02:56:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 23.07

Jaringan-jaringan tubuh yang dihasilkan dari jaringan mesoderm

Mesoderm adalah sel-sel yang berada pada lapisan tengah saat fase embrionik dalam perkembangan makhluk hidup.[1]

Pendahuluan

Saat terjadi fase pembuahan atau fertilisasi yang ditandai dengan bertemunya sel gamet atau sel kelamin jantan dan betina, maka akan dihasilkan satu sel yang disebut zigot.[2] Sel zigot ini akan mengalami pembelahan menjadi 2 sel, hingga 32 sel.[3] Kemudian sel akan mencapai fase gastrulasi di mana sejumlah sel yang dihasilkan dari tahap pembelahan terus membelah dan bergerak menata dirinya menjadi lapisan-lapisan dan kumpulan yang berbeda.[4] Pada fase ini terbentuk lapisan sesuai jenis hewannya.[5] Jika hewan bersifat tripoblastik maka akan tersusun atas 3 lapisan, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm.[6] Jika hewan bersifat dipoblastik maka akan tersusun atas 2 lapisan, yaitu ektoderm dan endoderm.[7] Lapisan mesoderm ini yang akan membentuk struktur organ penyusun bentuk tubuh atau struktur berongga seperti tulang belakang, rongga perut, dan rongga dada.[8]

Faktor

Ada berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan jaringan mesoderm, salah satunya adalah faktor parakrin.[9] Yang termasuk dalam faktor parakrin adalah hormon dan protein sinyal lainnya.[10] Contoh faktor parakrin yang paling penting adalah famili-FGF (Fibroblast Growth Factor).[11] Faktor ini berguna untuk menginduksi jaringan mesoderm sehingga dapat berdiferensiasi.[12]

Rujukan

Referensi

  1. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  2. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  3. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  4. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  5. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  6. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  7. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  8. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. 2006. IPA Terpadu SMP/MTs Kls VIII. Jakarta: Grasindo.
  9. Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia. Jakarta: EGC.
  10. Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia. Jakarta: EGC.
  11. Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia. Jakarta: EGC.
  12. Rohen JW, Lütjen-Drecoll E. 2003. Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia. Jakarta: EGC.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27872389 (2025-09-23T02:56:35Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.