Favipiravir: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29036313; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Favipiravir.svg|thumb|right|280px|Favipiravir]] | |||
Pada Februari 2020, favipiravir sedang diteliti di Tiongkok sebagai pengobatan terhadap [[penyakit koronavirus 2019]]. Pada 17 Maret, pejabat pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa favipiravir efektif dalam mengobati penyakit koronavirus di Wuhan dan Shenzhen. | '''Favipiravir''', atau yang dikenal dengan nama '''Avigan''' dan '''favilavir''' adalah [[obat antivirus]] yang dikembangkan oleh [[FUJIFILM Toyama Chemical Co, Ltd|Toyama Chemical]] (anak perusahaan [[Fujifilm]]). Obat ini memiliki aktivitas melawan berbagai [[virus RNA]]. Senyawa antivirus ini merupakan turunan dari [[Pirazinamid|pirazinkarboksamida]]. Dalam percobaan yang dilakukan pada hewan, favipiravir menunjukkan adanya aktivitas melawan [[Orthomyxoviridae|virus influenza]], [[virus West Nile]], [[Demam kuning|virus demam kuning]], [[virus penyakit mulut dan kuku]], [[flavivirus]], [[arenavirus]], [[bunyavirus]], dan [[alphavirus]].<ref>''T-705 (favipiravir) and related compounds: Novel broad-spectrum inhibitors of RNA viral infections''. ''Antiviral Research''. Juni 2009. Vol. 82 (3). hlm. 95–102. doi:10.1016/j.antiviral.2009.02.198.</ref> Selain itu, favipiravir juga menunjukkan adanya aktivitas melawan [[enterovirus]]<ref>''Favipiravir (T-705), a novel viral RNA polymerase inhibitor''. ''Antiviral Research''. November 2013. Vol. 100 (2). hlm. 446–54. doi:10.1016/j.antiviral.2013.09.015.</ref> dan virus [[demam lembah rift]].<ref>''Broad spectrum antiviral activity of favipiravir (T-705): protection from highly lethal inhalational Rift Valley Fever''. ''PLoS Neglected Tropical Diseases''. April 2014. Vol. 8 (4). hlm. e2790. doi:10.1371/journal.pntd.0002790.</ref> Favipiravir juga memiliki efektivitas yang terbatas terhadap [[virus Zika]] dalam penelitian pada hewan.<ref>''Zika Virus: Where Is the Treatment?''. ''Current Treatment Options in Infectious Diseases''. 2016. Vol. 8 (3). hlm. 208–11. doi:10.1007/s40506-016-0083-7.</ref> Obat ini juga menunjukkan efektivitas melawan [[rabies]].<ref>''Efficacy of Favipiravir (T-705) in Rabies Postexposure Prophylaxis''. ''The Journal of Infectious Diseases''. April 2016. Vol. 213 (8). hlm. 1253–61. doi:10.1093/infdis/jiv586.</ref> Favipiravir telah digunakan secara eksperimental pada beberapa pasien yang terinfeksi virus.<ref>''Human Rabies - Virginia, 2017''. ''MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report''. Januari 2019. Vol. 67 (5152). hlm. 1410–14. doi:10.15585/mmwr.mm675152a2.</ref> | ||
Pada Februari 2020, favipiravir sedang diteliti di Tiongkok sebagai pengobatan terhadap [[penyakit koronavirus 2019]].<ref>Li G, De Clercq E. Therapeutic options for the 2019 novel coronavirus (2019-nCoV). ''Nature Reviews Drug Discovery'' 2020 Feb</ref><ref>[https://www.reuters.com/article/brief-corrected-zhejiang-hisun-pharma-ge/brief-corrected-zhejiang-hisun-pharma-gets-approval-for-clinical-trial-to-test-flu-drug-favipiravir-for-pneumonia-caused-by-new-coronavirus-idUSL4N2AH0C8 BRIEF-Corrected-Zhejiang Hisun Pharma gets approval for clinical trial to test flu drug Favipiravir for pneumonia caused by new coronavirus] . Reuters Healthcare, 20 Maret 2020.</ref> Pada 17 Maret, pejabat pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa favipiravir efektif dalam mengobati penyakit koronavirus di Wuhan dan Shenzhen.<ref>[https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/20200317_48/ NHK World News ‘China: Avigan effective in tackling coronavirus’].</ref><ref>[http://www.xinhuanet.com/english/2020-03/17/c_138887971.htm Huaxia. "Favipiravir shows good clinical efficacy in treating COVID-19: official." Xinhuanet.com, 17 Maret 2020].</ref> | |||
== Mekanisme kerja == | == Mekanisme kerja == | ||
Mekanisme kerja obat ini diduga dengan menghambat secara selektif polimerase RNA dependen RNA dari virus. Penelitian lain menunjukkan bahwa favipiravir merangsang [[mutasi]] transversi RNA yang mematikan bagi virus. Favipiravir merupakan [[bakal obat]] yang harus melewati proses [[metabolisme]] sebelum dapat memberikan efek antivirus. Metabolit tersebut adalah favipiravir-ribofuranosil-5'-trifosfat (favipiravir-RTP). Favipiravir tersedia dalam bentuk tablet dan injeksi intravena. ''Hipoxantin guanin fosforibosiltransferase'' (HGPRT) diyakini memegang peran utama dalam proses metabolisme. Favipiravir tidak menghambat sintesis RNA atau DNA dalam sel mamalia, sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Pada tahun 2014, favipiravir mendapat izin edar di Jepang untuk persediaan obat jika terjadi [[pandemi influenza]]. Namun, favipiravir belum terbukti efektif pada sel di saluran pernapasan, sehingga terdapat keraguan mengenai efektivitas dalam pengobatan influenza. | Mekanisme kerja obat ini diduga dengan menghambat secara selektif polimerase RNA dependen RNA dari virus.<ref>''The ambiguous base-pairing and high substrate efficiency of T-705 (Favipiravir) Ribofuranosyl 5'-triphosphate towards influenza A virus polymerase''. ''PLOS ONE''. 2013. Vol. 8 (7). hlm. e68347. doi:10.1371/journal.pone.0068347.</ref> Penelitian lain menunjukkan bahwa favipiravir merangsang [[mutasi]] transversi RNA yang mematikan bagi virus.<ref>[https://archive.org/details/sim_journal-of-virology_2013-04_87_7/page/3740 T-705 (favipiravir) induces lethal mutagenesis in influenza A H1N1 viruses in vitro]. ''Journal of Virology''. April 2013. Vol. 87 (7). hlm. 3741–51. doi:10.1128/JVI.02346-12.</ref> Favipiravir merupakan [[bakal obat]] yang harus melewati proses [[metabolisme]] sebelum dapat memberikan efek antivirus. Metabolit tersebut adalah favipiravir-ribofuranosil-5'-trifosfat (favipiravir-RTP). Favipiravir tersedia dalam bentuk tablet dan injeksi intravena.<ref>''Antiviral efficacy of favipiravir against Ebola virus: A translational study in cynomolgus macaques''. ''PLoS Medicine''. Maret 2018. Vol. 15 (3). hlm. e1002535. doi:10.1371/journal.pmed.1002535.</ref><ref>''Intracellular metabolism of favipiravir (T-705) in uninfected and influenza A (H5N1) virus-infected cells''. ''The Journal of Antimicrobial Chemotherapy''. Oktober 2009. Vol. 64 (4). hlm. 741–46. doi:10.1093/jac/dkp274.</ref> ''Hipoxantin guanin fosforibosiltransferase'' (HGPRT) diyakini memegang peran utama dalam proses metabolisme.<ref>''Role of human hypoxanthine guanine phosphoribosyltransferase in activation of the antiviral agent T-705 (favipiravir)''. ''Molecular Pharmacology''. Oktober 2013. Vol. 84 (4). hlm. 615–29. doi:10.1124/mol.113.087247.</ref> Favipiravir tidak menghambat sintesis RNA atau DNA dalam sel mamalia, sehingga tidak berbahaya bagi manusia.<ref>''T-705 (favipiravir) and related compounds: Novel broad-spectrum inhibitors of RNA viral infections''. ''Antiviral Research''. Juni 2009. Vol. 82 (3). hlm. 95–102. doi:10.1016/j.antiviral.2009.02.198.</ref> Pada tahun 2014, favipiravir mendapat izin edar di Jepang untuk persediaan obat jika terjadi [[pandemi influenza]].<ref>Cynthia Koons. [https://www.bloomberg.com/news/2014-08-07/ebola-drug-from-japan-may-emerge-among-key-candidates.html Ebola Drug From Japan May Emerge Among Key Candidates]. Bloomberg.com. 7 Agustus 2014.</ref> Namun, favipiravir belum terbukti efektif pada sel di saluran pernapasan, sehingga terdapat keraguan mengenai efektivitas dalam pengobatan influenza.<ref>''Orally Efficacious Broad-Spectrum Ribonucleoside Analog Inhibitor of Influenza and Respiratory Syncytial Viruses''. ''Antimicrobial Agents and Chemotherapy''. Agustus 2018. Vol. 62 (8). hlm. e00766–18. doi:10.1128/AAC.00766-18.</ref> | ||
== Status persetujuan == | == Status persetujuan == | ||
Pada tahun 2014, Jepang memberikan izin edar pada Favipiravir untuk mengobati virus yang tidak mempan terhadap antivirus yang ada saat ini. Awalnya Toyama Chemical berharap bahwa Avigan akan menjadi obat influenza pengganti [[Tamiflu]]. Namun, percobaan pada hewan menunjukkan adanya efek [[teratogenik]] pada janin. Hal tersebut membuat pemberian izin edar oleh Kementerian Kesehatan Jepang tertunda lama. Selain itu, produksi obat ini hanya terbatas ketika terjadi keadaan darurat di Jepang. | Pada tahun 2014, Jepang memberikan izin edar pada Favipiravir untuk mengobati virus yang tidak mempan terhadap antivirus yang ada saat ini.<ref>Frederick Hayden. [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6416007/ Influenza virus polymerase inhibitors in clinical development]. ''Current Opinion in Infectious Diseases''. doi:10.1097/QCO.0000000000000532.</ref> Awalnya Toyama Chemical berharap bahwa Avigan akan menjadi obat influenza pengganti [[Tamiflu]]. Namun, percobaan pada hewan menunjukkan adanya efek [[teratogenik]] pada janin. Hal tersebut membuat pemberian izin edar oleh Kementerian Kesehatan Jepang tertunda lama. Selain itu, produksi obat ini hanya terbatas ketika terjadi keadaan darurat di Jepang.<ref>[https://diamond.jp/articles/-/49229 sumber].</ref> | ||
Pada Maret 2015, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan AS]] telah meninjau hasil dari [[uji klinis]] fase III yang meneliti keamanan dan efektivitas Favipiravir dalam pengobatan influenza. | Pada Maret 2015, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan AS]] telah meninjau hasil dari [[uji klinis]] fase III yang meneliti keamanan dan efektivitas Favipiravir dalam pengobatan influenza.<ref>[https://clinicaltrials.gov/ct2/show/results/NCT02026349 Phase 3 Efficacy and Safety Study of Favipiravir for Treatment of Uncomplicated Influenza in Adults - T705US316]. FDA.</ref> | ||
== Uji coba virus Ebola == | == Uji coba virus Ebola == | ||
Beberapa penelitian [[Organisme model|pada mencit]] menunjukkan bahwa Favipiravir mungkin efektif melawan [[Penyakit virus ebola|Ebola]]. Namun, obat ini tidak terbukti efektif melawan Ebola pada manusia. Selama [[Wabah virus Ebola di Afrika Barat|wabah virus Ebola di Afrika Barat tahun 2014]], terdapat laporan yang menyatakan seorang perawat [[Dokter Lintas Batas|MSF]] dari [[Prancis]] yang terkena Ebola di Liberia pulih setelah mendapat pengobatan dengan favipiravir. Pada Desember 2014, dilakukan uji klinis yang meneliti efektivitas favipiravir terhadap penyakit virus Ebola. Penelitian ini dimulai [[Guéckédougou|Guéckédou]], Guinea. Hasil awal menunjukkan penurunan tingkat kematian pada pasien Ebola dengan jumlah virus yang rendah-sedang dalam darah. Namun, Favipiravir tidak memiliki dampak yang signifikan pada pasien dengan jumlah virus yang tinggi. Desain penelitian ini dikritik oleh peneliti lainnya karena hanya menggunakan kontrol historis. | Beberapa penelitian [[Organisme model|pada mencit]] menunjukkan bahwa Favipiravir mungkin efektif melawan [[Penyakit virus ebola|Ebola]]. Namun, obat ini tidak terbukti efektif melawan Ebola pada manusia.<ref>''The 2014 Ebola virus disease outbreak in West Africa''. ''The Journal of General Virology''. Agustus 2014. Vol. 95 (Pt 8). hlm. 1619–24. doi:10.1099/vir.0.067199-0.</ref><ref>''Successful treatment of advanced Ebola virus infection with T-705 (favipiravir) in a small animal model''. ''Antiviral Research''. Mei 2014. Vol. 105. hlm. 17–21. doi:10.1016/j.antiviral.2014.02.014.</ref><ref>''Post-exposure efficacy of oral T-705 (Favipiravir) against inhalational Ebola virus infection in a mouse model''. ''Antiviral Research''. April 2014. Vol. 104. hlm. 153–55. doi:10.1016/j.antiviral.2014.01.012.</ref> Selama [[Wabah virus Ebola di Afrika Barat|wabah virus Ebola di Afrika Barat tahun 2014]], terdapat laporan yang menyatakan seorang perawat [[Dokter Lintas Batas|MSF]] dari [[Prancis]] yang terkena Ebola di Liberia pulih setelah mendapat pengobatan dengan favipiravir.<ref>[https://www.reuters.com/article/us-health-ebola-france-idUSKCN0HT0D720141004 First French Ebola patient leaves hospital]. ''Reuters''. 4 Oktober 2016.</ref> Pada Desember 2014, dilakukan uji klinis yang meneliti efektivitas favipiravir terhadap penyakit virus Ebola. Penelitian ini dimulai [[Guéckédougou|Guéckédou]], Guinea.<ref>[http://allafrica.com/stories/201412260651.html Guinea: Clinical Trial for Potential Ebola Treatment Started in MSF Clinic in Guinea]. AllAfrica – All the Time.</ref> Hasil awal menunjukkan penurunan tingkat kematian pada pasien Ebola dengan jumlah virus yang rendah-sedang dalam darah. Namun, Favipiravir tidak memiliki dampak yang signifikan pada pasien dengan jumlah virus yang tinggi.<ref>Sheri Fink. [https://www.nytimes.com/2015/02/05/science/ebola-drug-has-encouraging-early-results-and-questions-follow.html?smid=tw-share&_r=0 Ebola Drug Aids Some in a Study in West Africa]. ''The New York Times''. 4 Februari 2015.</ref> Desain penelitian ini dikritik oleh peneliti lainnya karena hanya menggunakan kontrol historis.<ref>Jon Cohen. [http://www.sciencemag.org/news/2015/02/results-encouraging-ebola-trial-scrutinized Results from encouraging Ebola trial scrutinized]. ''Science''. 26 Februari 2015. doi:10.1126/science.aaa7912.</ref> | ||
== Uji coba untuk COVID-19 == | == Uji coba untuk COVID-19 == | ||
Pada uji coba dengan sampel subjek sebanyak 80 orang, favipiravir memiliki aktivitas antivirus yang lebih kuat dibandingkan [[lopinavir/ritonavir]] dalam melawan [[SARS-CoV-2]] | Pada uji coba dengan sampel subjek sebanyak 80 orang, favipiravir memiliki aktivitas antivirus yang lebih kuat dibandingkan [[lopinavir/ritonavir]] dalam melawan [[SARS-CoV-2]] <ref>L Dong. ''Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19)''. ''Drug discoveries & therapeutics''. 2020. Vol. 14 (1). hlm. 58-60. doi:10.5582/ddt.2020.01012.</ref> Pada Maret 2020, pejabat pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa favipiravir efektif dalam mengobati penyakit koronavirus 2019.<ref>[https://www.theguardian.com/world/2020/mar/18/japanese-flu-drug-clearly-effective-in-treating-coronavirus-says-china Japanese flu drug 'clearly effective' in treating coronavirus, says China]. ''The Guardian''. 2020-03-18.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Favipiravir&oldid=29036313 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29036313 (2026-03-14T12:43:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.01
Favipiravir, atau yang dikenal dengan nama Avigan dan favilavir adalah obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical (anak perusahaan Fujifilm). Obat ini memiliki aktivitas melawan berbagai virus RNA. Senyawa antivirus ini merupakan turunan dari pirazinkarboksamida. Dalam percobaan yang dilakukan pada hewan, favipiravir menunjukkan adanya aktivitas melawan virus influenza, virus West Nile, virus demam kuning, virus penyakit mulut dan kuku, flavivirus, arenavirus, bunyavirus, dan alphavirus.[1] Selain itu, favipiravir juga menunjukkan adanya aktivitas melawan enterovirus[2] dan virus demam lembah rift.[3] Favipiravir juga memiliki efektivitas yang terbatas terhadap virus Zika dalam penelitian pada hewan.[4] Obat ini juga menunjukkan efektivitas melawan rabies.[5] Favipiravir telah digunakan secara eksperimental pada beberapa pasien yang terinfeksi virus.[6]
Pada Februari 2020, favipiravir sedang diteliti di Tiongkok sebagai pengobatan terhadap penyakit koronavirus 2019.[7][8] Pada 17 Maret, pejabat pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa favipiravir efektif dalam mengobati penyakit koronavirus di Wuhan dan Shenzhen.[9][10]
Mekanisme kerja
Mekanisme kerja obat ini diduga dengan menghambat secara selektif polimerase RNA dependen RNA dari virus.[11] Penelitian lain menunjukkan bahwa favipiravir merangsang mutasi transversi RNA yang mematikan bagi virus.[12] Favipiravir merupakan bakal obat yang harus melewati proses metabolisme sebelum dapat memberikan efek antivirus. Metabolit tersebut adalah favipiravir-ribofuranosil-5'-trifosfat (favipiravir-RTP). Favipiravir tersedia dalam bentuk tablet dan injeksi intravena.[13][14] Hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) diyakini memegang peran utama dalam proses metabolisme.[15] Favipiravir tidak menghambat sintesis RNA atau DNA dalam sel mamalia, sehingga tidak berbahaya bagi manusia.[16] Pada tahun 2014, favipiravir mendapat izin edar di Jepang untuk persediaan obat jika terjadi pandemi influenza.[17] Namun, favipiravir belum terbukti efektif pada sel di saluran pernapasan, sehingga terdapat keraguan mengenai efektivitas dalam pengobatan influenza.[18]
Status persetujuan
Pada tahun 2014, Jepang memberikan izin edar pada Favipiravir untuk mengobati virus yang tidak mempan terhadap antivirus yang ada saat ini.[19] Awalnya Toyama Chemical berharap bahwa Avigan akan menjadi obat influenza pengganti Tamiflu. Namun, percobaan pada hewan menunjukkan adanya efek teratogenik pada janin. Hal tersebut membuat pemberian izin edar oleh Kementerian Kesehatan Jepang tertunda lama. Selain itu, produksi obat ini hanya terbatas ketika terjadi keadaan darurat di Jepang.[20]
Pada Maret 2015, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah meninjau hasil dari uji klinis fase III yang meneliti keamanan dan efektivitas Favipiravir dalam pengobatan influenza.[21]
Uji coba virus Ebola
Beberapa penelitian pada mencit menunjukkan bahwa Favipiravir mungkin efektif melawan Ebola. Namun, obat ini tidak terbukti efektif melawan Ebola pada manusia.[22][23][24] Selama wabah virus Ebola di Afrika Barat tahun 2014, terdapat laporan yang menyatakan seorang perawat MSF dari Prancis yang terkena Ebola di Liberia pulih setelah mendapat pengobatan dengan favipiravir.[25] Pada Desember 2014, dilakukan uji klinis yang meneliti efektivitas favipiravir terhadap penyakit virus Ebola. Penelitian ini dimulai Guéckédou, Guinea.[26] Hasil awal menunjukkan penurunan tingkat kematian pada pasien Ebola dengan jumlah virus yang rendah-sedang dalam darah. Namun, Favipiravir tidak memiliki dampak yang signifikan pada pasien dengan jumlah virus yang tinggi.[27] Desain penelitian ini dikritik oleh peneliti lainnya karena hanya menggunakan kontrol historis.[28]
Uji coba untuk COVID-19
Pada uji coba dengan sampel subjek sebanyak 80 orang, favipiravir memiliki aktivitas antivirus yang lebih kuat dibandingkan lopinavir/ritonavir dalam melawan SARS-CoV-2 [29] Pada Maret 2020, pejabat pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa favipiravir efektif dalam mengobati penyakit koronavirus 2019.[30]
Referensi
- ↑ T-705 (favipiravir) and related compounds: Novel broad-spectrum inhibitors of RNA viral infections. Antiviral Research. Juni 2009. Vol. 82 (3). hlm. 95–102. doi:10.1016/j.antiviral.2009.02.198.
- ↑ Favipiravir (T-705), a novel viral RNA polymerase inhibitor. Antiviral Research. November 2013. Vol. 100 (2). hlm. 446–54. doi:10.1016/j.antiviral.2013.09.015.
- ↑ Broad spectrum antiviral activity of favipiravir (T-705): protection from highly lethal inhalational Rift Valley Fever. PLoS Neglected Tropical Diseases. April 2014. Vol. 8 (4). hlm. e2790. doi:10.1371/journal.pntd.0002790.
- ↑ Zika Virus: Where Is the Treatment?. Current Treatment Options in Infectious Diseases. 2016. Vol. 8 (3). hlm. 208–11. doi:10.1007/s40506-016-0083-7.
- ↑ Efficacy of Favipiravir (T-705) in Rabies Postexposure Prophylaxis. The Journal of Infectious Diseases. April 2016. Vol. 213 (8). hlm. 1253–61. doi:10.1093/infdis/jiv586.
- ↑ Human Rabies - Virginia, 2017. MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. Januari 2019. Vol. 67 (5152). hlm. 1410–14. doi:10.15585/mmwr.mm675152a2.
- ↑ Li G, De Clercq E. Therapeutic options for the 2019 novel coronavirus (2019-nCoV). Nature Reviews Drug Discovery 2020 Feb
- ↑ BRIEF-Corrected-Zhejiang Hisun Pharma gets approval for clinical trial to test flu drug Favipiravir for pneumonia caused by new coronavirus . Reuters Healthcare, 20 Maret 2020.
- ↑ NHK World News ‘China: Avigan effective in tackling coronavirus’.
- ↑ Huaxia. "Favipiravir shows good clinical efficacy in treating COVID-19: official." Xinhuanet.com, 17 Maret 2020.
- ↑ The ambiguous base-pairing and high substrate efficiency of T-705 (Favipiravir) Ribofuranosyl 5'-triphosphate towards influenza A virus polymerase. PLOS ONE. 2013. Vol. 8 (7). hlm. e68347. doi:10.1371/journal.pone.0068347.
- ↑ T-705 (favipiravir) induces lethal mutagenesis in influenza A H1N1 viruses in vitro. Journal of Virology. April 2013. Vol. 87 (7). hlm. 3741–51. doi:10.1128/JVI.02346-12.
- ↑ Antiviral efficacy of favipiravir against Ebola virus: A translational study in cynomolgus macaques. PLoS Medicine. Maret 2018. Vol. 15 (3). hlm. e1002535. doi:10.1371/journal.pmed.1002535.
- ↑ Intracellular metabolism of favipiravir (T-705) in uninfected and influenza A (H5N1) virus-infected cells. The Journal of Antimicrobial Chemotherapy. Oktober 2009. Vol. 64 (4). hlm. 741–46. doi:10.1093/jac/dkp274.
- ↑ Role of human hypoxanthine guanine phosphoribosyltransferase in activation of the antiviral agent T-705 (favipiravir). Molecular Pharmacology. Oktober 2013. Vol. 84 (4). hlm. 615–29. doi:10.1124/mol.113.087247.
- ↑ T-705 (favipiravir) and related compounds: Novel broad-spectrum inhibitors of RNA viral infections. Antiviral Research. Juni 2009. Vol. 82 (3). hlm. 95–102. doi:10.1016/j.antiviral.2009.02.198.
- ↑ Cynthia Koons. Ebola Drug From Japan May Emerge Among Key Candidates. Bloomberg.com. 7 Agustus 2014.
- ↑ Orally Efficacious Broad-Spectrum Ribonucleoside Analog Inhibitor of Influenza and Respiratory Syncytial Viruses. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Agustus 2018. Vol. 62 (8). hlm. e00766–18. doi:10.1128/AAC.00766-18.
- ↑ Frederick Hayden. Influenza virus polymerase inhibitors in clinical development. Current Opinion in Infectious Diseases. doi:10.1097/QCO.0000000000000532.
- ↑ sumber.
- ↑ Phase 3 Efficacy and Safety Study of Favipiravir for Treatment of Uncomplicated Influenza in Adults - T705US316. FDA.
- ↑ The 2014 Ebola virus disease outbreak in West Africa. The Journal of General Virology. Agustus 2014. Vol. 95 (Pt 8). hlm. 1619–24. doi:10.1099/vir.0.067199-0.
- ↑ Successful treatment of advanced Ebola virus infection with T-705 (favipiravir) in a small animal model. Antiviral Research. Mei 2014. Vol. 105. hlm. 17–21. doi:10.1016/j.antiviral.2014.02.014.
- ↑ Post-exposure efficacy of oral T-705 (Favipiravir) against inhalational Ebola virus infection in a mouse model. Antiviral Research. April 2014. Vol. 104. hlm. 153–55. doi:10.1016/j.antiviral.2014.01.012.
- ↑ First French Ebola patient leaves hospital. Reuters. 4 Oktober 2016.
- ↑ Guinea: Clinical Trial for Potential Ebola Treatment Started in MSF Clinic in Guinea. AllAfrica – All the Time.
- ↑ Sheri Fink. Ebola Drug Aids Some in a Study in West Africa. The New York Times. 4 Februari 2015.
- ↑ Jon Cohen. Results from encouraging Ebola trial scrutinized. Science. 26 Februari 2015. doi:10.1126/science.aaa7912.
- ↑ L Dong. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug discoveries & therapeutics. 2020. Vol. 14 (1). hlm. 58-60. doi:10.5582/ddt.2020.01012.
- ↑ Japanese flu drug 'clearly effective' in treating coronavirus, says China. The Guardian. 2020-03-18.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29036313 (2026-03-14T12:43:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.