Lompat ke isi

Selektivitas pengikatan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29221525; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[kimia]], '''selektivitas pengikatan''' didefinisikan berkaitan dengan pengikatan [[ligan (biokimia)|ligan]] ke [[substrat]] yang membentuk [[kompleks koordinasi|kompleks]]. Selektivitas pengikatan menggambarkan bagaimana ligan dapat mengikat lebih disukai ke satu [[reseptor (biokimia)|reseptor]] daripada yang lain. Koefisien selektivitas adalah [[konstanta kesetimbangan]] untuk reaksi penggantian oleh satu ligan terhadap ligan lain dalam kompleks dengan substrat. Selektivitas pengikatan sangat penting dalam [[biokimia]] dan dalam [[proses pemisahan]] kimia.
Dalam [[kimia]], '''selektivitas pengikatan''' didefinisikan berkaitan dengan pengikatan [[ligan (biokimia)|ligan]] ke [[substrat]] yang membentuk [[kompleks koordinasi|kompleks]]. Selektivitas pengikatan menggambarkan bagaimana ligan dapat mengikat lebih disukai ke satu [[reseptor (biokimia)|reseptor]] daripada yang lain. Koefisien selektivitas adalah [[konstanta kesetimbangan]] untuk reaksi penggantian oleh satu ligan terhadap ligan lain dalam kompleks dengan substrat. Selektivitas pengikatan sangat penting dalam [[biokimia]]<ref>I.M. Klotz. [https://archive.org/details/ligandreceptoren0000klot Ligand-Receptor Energetics: A Guide for the Perplexed]. Wiley. 1997. ISBN 978-0-471-17626-8.</ref> dan dalam [[proses pemisahan]] kimia.


==Koefisien selektivitas==
==Koefisien selektivitas==
Konsep selektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana satu zat kimia, A, mengikat masing-masing dari dua zat kimia lainnya, B dan C. Kasus paling sederhana adalah ketika kompleks yang terbentuk memiliki [[stoikiometri]] 1:1. Kemudian, kedua interaksi tersebut dapat dikarakterisasi oleh [[konstanta kesetimbangan]]  dan .
Konsep selektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana satu zat kimia, A, mengikat masing-masing dari dua zat kimia lainnya, B dan C. Kasus paling sederhana adalah ketika kompleks yang terbentuk memiliki [[stoikiometri]] 1:1. Kemudian, kedua interaksi tersebut dapat dikarakterisasi oleh [[konstanta kesetimbangan]]  dan .<ref>Konstanta yang digunakan di sini adalah konstanta "asosiasi". Konstanta "disosiasi" digunakan dalam beberapa konteks. Konstanta disosiasi adalah kebalikan dari konstanta asosiasi.</ref>
<math chem display=block> \begin{align}
<math chem display=block> \begin{align}
   \ce{A + B <=> AB};& \quad K_{\rm AB} = \frac{[\ce{AB}]}{\ce{[A][B]}} \\
   \ce{A + B <=> AB};& \quad K_{\rm AB} = \frac{[\ce{AB}]}{\ce{[A][B]}} \\
Baris 17: Baris 17:
==Penggunaan==
==Penggunaan==
===Biokimia===
===Biokimia===
 
Dalam [[biokimia]], [[substrat]] dikenal sebagai "[[reseptor (biokimia)|reseptor]]". Reseptor adalah molekul [[protein]], yang tertanam di [[membran sel|membran plasma]] atau [[sitoplasma]] sel, tempat satu atau lebih jenis molekul sinyal tertentu dapat berikatan. Ligan dapat berupa [[peptida]] atau molekul kecil lainnya seperti [[neurotransmiter]], [[hormon]], obat farmasi, atau toksin. Spesifisitas reseptor ditentukan oleh geometri spasialnya dan cara ia berikatan dengan ligan melalui [[ikatan non kovalen|interaksi non-kovalen]], seperti [[ikatan hidrogen]] atau [[gaya Van der Waals]].<ref>[https://archive.org/details/textbookofrecept0000unse Textbook of receptor pharmacology]. CRC Press. 2003. ISBN 978-0-8493-1029-4.</ref>
Dalam [[biokimia]], [[substrat]] dikenal sebagai "[[reseptor (biokimia)|reseptor]]". Reseptor adalah molekul [[protein]], yang tertanam di [[membran sel|membran plasma]] atau [[sitoplasma]] sel, tempat satu atau lebih jenis molekul sinyal tertentu dapat berikatan. Ligan dapat berupa [[peptida]] atau molekul kecil lainnya seperti [[neurotransmiter]], [[hormon]], obat farmasi, atau toksin. Spesifisitas reseptor ditentukan oleh geometri spasialnya dan cara ia berikatan dengan ligan melalui [[ikatan non kovalen|interaksi non-kovalen]], seperti [[ikatan hidrogen]] atau [[gaya Van der Waals]].


Jika reseptor dapat diisolasi, obat sintetis dapat dikembangkan baik untuk menstimulasi reseptor ([[agonis (farmakologi)|agonis]]) atau untuk memblokirnya ([[antagonis reseptor|antagonis]]). Obat [[tukak lambung]] [[simetidin]] dikembangkan sebagai [[antagonis reseptor H2|antagonis reseptor H<sub>2</sub>]] dengan merekayasa molekul secara kimia untuk spesifisitas maksimum terhadap jaringan terisolasi yang mengandung reseptor. Penggunaan lebih lanjut dari [[hubungan kuantitatif struktur-aktivitas]] (QSAR) mengarah pada pengembangan agen lain seperti [[ranitidin]].
Jika reseptor dapat diisolasi, obat sintetis dapat dikembangkan baik untuk menstimulasi reseptor ([[agonis (farmakologi)|agonis]]) atau untuk memblokirnya ([[antagonis reseptor|antagonis]]). Obat [[tukak lambung]] [[simetidin]] dikembangkan sebagai [[antagonis reseptor H2|antagonis reseptor H<sub>2</sub>]] dengan merekayasa molekul secara kimia untuk spesifisitas maksimum terhadap jaringan terisolasi yang mengandung reseptor. Penggunaan lebih lanjut dari [[hubungan kuantitatif struktur-aktivitas]] (QSAR) mengarah pada pengembangan agen lain seperti [[ranitidin]].
Baris 25: Baris 24:


===Terapi khelasi===
===Terapi khelasi===
Terapi [[pengelatan|khelasi]] adalah bentuk pengobatan medis di mana ligan pengkhelat<ref>Istilah "ligan" di sini merujuk pada pengikatan pada logam. Dalam definisi koefisien selektivitas, "ligan" ini sebenarnya adalah substrat dan ligan dalam definisi tersebut adalah ion logam.</ref> digunakan untuk secara selektif menghilangkan logam dari tubuh. Ketika logam tersebut ada sebagai ion divalen seperti [[timbal]] (Pb<sup>2+</sup>) atau [[raksa]] (Hg<sup>2+</sup>) selektivitas terhadap [[kalsium]] (Ca<sup>2+</sup>) dan [[magnesium]] (Mg<sup>2+</sup>) sangat penting agar pengobatan tidak menghilangkan logam esensial.<ref>M. Walker. [https://archive.org/details/everythingyousho0000walk Everything you should know about chelation therapy]. Keats Pub. 1997. ISBN 978-0-87983-730-3.</ref>


Selektivitas ditentukan oleh berbagai faktor. Dalam kasus kelebihan zat besi, yang mungkin terjadi pada individu dengan β-[[talasemia]] yang telah menerima [[transfusi darah]], ion logam target berada dalam [[bilangan oksidasi]] +3 dan karenanya membentuk kompleks yang lebih kuat daripada ion divalen. [[Deferoksamin]] juga membentuk kompleks yang lebih kuat dengan ligan pendonor oksigen daripada dengan ligan pendonor nitrogen. [[Siderofor]] alami yang diproduksi oleh bakteri ''Streptomyces pilosus'' awalnya digunakan sebagai agen [[terapi khelasi]]. Siderofor sintetis seperti [[deferipron]] dan [[deferasiroks]] telah dikembangkan, menggunakan struktur deferoksamin yang diketahui sebagai titik awal.<ref>Iron-Selective Chelators With Therapeutic Potential in Robert C. Hider. ''Interrelations between Essential Metal Ions and Human Diseases''. Springer. 2013. Vol. 13. hlm. 229–294. doi:10.1007/978-94-007-7500-8_8. ISBN 9789400774995.</ref><ref>Marvin J. Miller. ''Syntheses and therapeutic potential of hydroxamic acid-based siderophores and analogs''. ''Chemical Reviews''. 1989. Vol. 89 (7). hlm. 1563–1579. doi:10.1021/cr00097a011.</ref> Khelasi terjadi dengan dua atom oksigen.


Terapi [[pengelatan|khelasi]] adalah bentuk pengobatan medis di mana ligan pengkhelat digunakan untuk secara selektif menghilangkan logam dari tubuh. Ketika logam tersebut ada sebagai ion divalen seperti [[timbal]] (Pb<sup>2+</sup>) atau [[raksa]] (Hg<sup>2+</sup>) selektivitas terhadap [[kalsium]] (Ca<sup>2+</sup>) dan [[magnesium]] (Mg<sup>2+</sup>) sangat penting agar pengobatan tidak menghilangkan logam esensial.
[[Penyakit Wilson]] disebabkan oleh cacat dalam metabolisme [[tembaga]] yang mengakibatkan akumulasi logam tembaga di berbagai organ tubuh. Ion target dalam kasus ini adalah ion divalen, yakni Cu<sup>2+</sup>. Ion ini diklasifikasikan sebagai ambang batas dalam skema Ahrland, Chatt, dan Davies.<ref>S. Ahrland. ''The relative affinities of ligand atoms for acceptor molecules and ions''. ''Quart. Rev''. 1958. Vol. 12 (3). hlm. 265–276. doi:10.1039/QR9581200265.</ref> Ini berarti bahwa ia membentuk kompleks yang kira-kira sama kuatnya dengan ligan yang atom donornya adalah N, O atau F seperti halnya dengan ligan yang atom donornya adalah P, S atau Cl. [[Penisilamina]], yang mengandung atom donor nitrogen dan belerang, digunakan karena jenis ligan ini mengikat ion tembaga lebih kuat daripada ion kalsium dan magnesium.


Selektivitas ditentukan oleh berbagai faktor. Dalam kasus kelebihan zat besi, yang mungkin terjadi pada individu dengan β-[[talasemia]] yang telah menerima [[transfusi darah]], ion logam target berada dalam [[bilangan oksidasi]] +3 dan karenanya membentuk kompleks yang lebih kuat daripada ion divalen. [[Deferoksamin]] juga membentuk kompleks yang lebih kuat dengan ligan pendonor oksigen daripada dengan ligan pendonor nitrogen. [[Siderofor]] alami yang diproduksi oleh bakteri ''Streptomyces pilosus'' awalnya digunakan sebagai agen [[terapi khelasi]]. Siderofor sintetis seperti [[deferipron]] dan [[deferasiroks]] telah dikembangkan, menggunakan struktur deferoksamin yang diketahui sebagai titik awal. Khelasi terjadi dengan dua atom oksigen.
Pengobatan keracunan logam berat seperti timbal dan raksasa lebih bermasalah, karena ligan yang digunakan tidak memiliki spesifisitas tinggi relatif terhadap kalsium. Misalnya, [[asam etilenadiaminatetraasetat|EDTA]] dapat diberikan sebagai garam kalsium untuk mengurangi pengeluaran kalsium dari tulang bersama dengan logam berat. Faktor-faktor yang menentukan selektivitas timbal terhadap seng, kadmium, dan kalsium telah ditinjau.<ref>Etelka Farkas. ''Lead: Its Effects on Environment and Health''. de Gruyter. 2017. Vol. 17. hlm. 201–240. doi:10.1515/9783110434330-008. ISBN 9783110434330.</ref>
 
[[Penyakit Wilson]] disebabkan oleh cacat dalam metabolisme [[tembaga]] yang mengakibatkan akumulasi logam tembaga di berbagai organ tubuh. Ion target dalam kasus ini adalah ion divalen, yakni Cu<sup>2+</sup>. Ion ini diklasifikasikan sebagai ambang batas dalam skema Ahrland, Chatt, dan Davies. Ini berarti bahwa ia membentuk kompleks yang kira-kira sama kuatnya dengan ligan yang atom donornya adalah N, O atau F seperti halnya dengan ligan yang atom donornya adalah P, S atau Cl. [[Penisilamina]], yang mengandung atom donor nitrogen dan belerang, digunakan karena jenis ligan ini mengikat ion tembaga lebih kuat daripada ion kalsium dan magnesium.
 
Pengobatan keracunan logam berat seperti timbal dan raksasa lebih bermasalah, karena ligan yang digunakan tidak memiliki spesifisitas tinggi relatif terhadap kalsium. Misalnya, [[asam etilenadiaminatetraasetat|EDTA]] dapat diberikan sebagai garam kalsium untuk mengurangi pengeluaran kalsium dari tulang bersama dengan logam berat. Faktor-faktor yang menentukan selektivitas timbal terhadap seng, kadmium, dan kalsium telah ditinjau.


===Kromatografi===
===Kromatografi===
 
Dalam [[kromatografi kolom]], campuran zat dilarutkan dalam fase gerak dan dilewatkan melalui fase diam dalam kolom. Faktor selektivitas didefinisikan sebagai rasio [[koefisien partisi|koefisien distribusi]], yang menggambarkan distribusi kesetimbangan [[analit]] antara fase diam dan fase gerak. Faktor selektivitas sama dengan koefisien selektivitas dengan asumsi tambahan bahwa [[aktivitas termodinamika|aktivitas]] fase diam (substrat dalam hal ini) sama dengan 1, asumsi standar untuk fase murni.<ref>D.A Skoog. ''Fundamentals of Analytical Chemistry''. Thomson Brooks/Cole. 2004. ISBN 978-0-03-035523-3. Section 30E</ref> Resolusi kolom kromatografi (''R''<sub>S<sub/>) berhubungan dengan faktor selektivitas dengan:
Dalam [[kromatografi kolom]], campuran zat dilarutkan dalam fase gerak dan dilewatkan melalui fase diam dalam kolom. Faktor selektivitas didefinisikan sebagai rasio [[koefisien partisi|koefisien distribusi]], yang menggambarkan distribusi kesetimbangan [[analit]] antara fase diam dan fase gerak. Faktor selektivitas sama dengan koefisien selektivitas dengan asumsi tambahan bahwa [[aktivitas termodinamika|aktivitas]] fase diam (substrat dalam hal ini) sama dengan 1, asumsi standar untuk fase murni. Resolusi kolom kromatografi (''R''<sub>S<sub/>) berhubungan dengan faktor selektivitas dengan:
:<math>R_S=\frac{\sqrt N}{4}\left(\frac{\alpha-1}{\alpha}\right)\left(\frac{k_B}{1+k_B}\right)
:<math>R_S=\frac{\sqrt N}{4}\left(\frac{\alpha-1}{\alpha}\right)\left(\frac{k_B}{1+k_B}\right)
</math>
</math>
Baris 43: Baris 39:
di mana α adalah faktor selektivitas, N adalah jumlah [[pelat teoretis]], ''k''<sub>A</sub> dan ''k''<sub>B</sub> adalah [[faktor retardasi|faktor retensi]] dari kedua analit. Faktor retensi berbanding lurus dengan koefisien distribusi. Dalam praktiknya, zat dengan faktor selektivitas yang sangat mendekati 1 dapat dipisahkan. Hal ini terutama berlaku pada [[kromatografi gas]]-cair di mana panjang kolom hingga 60 m dimungkinkan, memberikan jumlah pelat teoritis yang sangat besar.
di mana α adalah faktor selektivitas, N adalah jumlah [[pelat teoretis]], ''k''<sub>A</sub> dan ''k''<sub>B</sub> adalah [[faktor retardasi|faktor retensi]] dari kedua analit. Faktor retensi berbanding lurus dengan koefisien distribusi. Dalam praktiknya, zat dengan faktor selektivitas yang sangat mendekati 1 dapat dipisahkan. Hal ini terutama berlaku pada [[kromatografi gas]]-cair di mana panjang kolom hingga 60 m dimungkinkan, memberikan jumlah pelat teoritis yang sangat besar.


Dalam kromatografi pertukaran ion, koefisien selektivitas didefinisikan dengan cara yang sedikit berbeda
Dalam kromatografi pertukaran ion, koefisien selektivitas didefinisikan dengan cara yang sedikit berbeda<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selektivitas+pengikatan&oldid=29221525 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


===Ekstraksi pelarut===
===Ekstraksi pelarut===
Ekstraksi pelarut digunakan untuk mengekstrak unsur [[lantanida]] individual dari campuran yang ditemukan di alam dalam bijih seperti [[monasit|monazit][. Dalam satu proses, ion logam dalam larutan berair dibuat membentuk kompleks dengan [[tributil fosfat]] (TBP), yang diekstraksi ke dalam pelarut organik seperti [[minyak tanah]]. Pemisahan lengkap dilakukan dengan menggunakan metode pertukaran arus berlawanan. Sejumlah sel disusun sebagai kaskade. Setelah mencapai kesetimbangan, komponen air dari setiap sel dipindahkan ke sel sebelumnya dan komponen organik dipindahkan ke sel berikutnya, yang awalnya hanya berisi air. Dengan cara ini, ion logam dengan kompleks yang paling stabil melewati [[cegaran|kaskade]] dalam fase organik dan logam dengan kompleks yang paling tidak stabil melewati kaskade dalam fase air.
Ekstraksi pelarut<ref>N.M. Rice. ''Nomenclature for liquid-liquid distribution (solvent extraction)''. ''Pure Appl. Chem''. IUPAC. 1993. Vol. 65 (11). hlm. 2373–2396. doi:10.1351/pac199365112373.</ref> digunakan untuk mengekstrak unsur [[lantanida]] individual dari campuran yang ditemukan di alam dalam bijih seperti [[monasit|monazit][. Dalam satu proses, ion logam dalam larutan berair dibuat membentuk kompleks dengan [[tributil fosfat]] (TBP), yang diekstraksi ke dalam pelarut organik seperti [[minyak tanah]]. Pemisahan lengkap dilakukan dengan menggunakan metode pertukaran arus berlawanan. Sejumlah sel disusun sebagai kaskade. Setelah mencapai kesetimbangan, komponen air dari setiap sel dipindahkan ke sel sebelumnya dan komponen organik dipindahkan ke sel berikutnya, yang awalnya hanya berisi air. Dengan cara ini, ion logam dengan kompleks yang paling stabil melewati [[cegaran|kaskade]] dalam fase organik dan logam dengan kompleks yang paling tidak stabil melewati kaskade dalam fase air.<ref>''Solvent Extraction Principles and Practice (''. CRC Press. 2004. ISBN 978-0-8247-5063-3.</ref>


Jika kelarutan dalam fase organik bukan masalah, koefisien selektivitas sama dengan rasio konstanta stabilitas kompleks TBP dari dua ion logam. Untuk unsur lantanida yang berdekatan dalam [[tabel periodik]], rasio ini tidak jauh lebih besar dari 1, sehingga dibutuhkan banyak sel dalam kaskade.
Jika kelarutan dalam fase organik bukan masalah, koefisien selektivitas sama dengan rasio konstanta stabilitas kompleks TBP dari dua ion logam. Untuk unsur lantanida yang berdekatan dalam [[tabel periodik]], rasio ini tidak jauh lebih besar dari 1, sehingga dibutuhkan banyak sel dalam kaskade.
Baris 52: Baris 48:
===Sensor kimia===
===Sensor kimia===
[[File:Sensing.png|thumb|250px|right|Jenis-jenis Sensor Kimia. (1.) Indikator-''spacer''-reseptor (ISR) (2.) ''Indicator-Displacement Assay'' (IDA)]]
[[File:Sensing.png|thumb|250px|right|Jenis-jenis Sensor Kimia. (1.) Indikator-''spacer''-reseptor (ISR) (2.) ''Indicator-Displacement Assay'' (IDA)]]
Koefisien selektivitas potensiometrik mendefinisikan kemampuan elektroda selektif ion untuk membedakan satu ion tertentu dari ion lainnya. Koefisien selektivitas yakni K<sub>B,C</sub> dievaluasi melalui respons emf elektroda selektif ion dalam larutan campuran ion utama, B, dan ion pengganggu, C (metode interferensi tetap) atau, yang kurang diinginkan, dalam larutan terpisah B dan C (metode larutan terpisah). Misalnya, elektroda membran selektif ion [[kalium]] menggunakan [[antibiotik]] makrosiklik alami [[valinomisin]]. Dalam hal ini, rongga dalam cincin makrosiklik memiliki ukuran yang tepat untuk membungkus ion kalium, tetapi terlalu besar untuk mengikat ion natrium, yang kemungkinan besar merupakan pengganggu, dengan kuat.
Koefisien selektivitas potensiometrik mendefinisikan kemampuan elektroda selektif ion untuk membedakan satu ion tertentu dari ion lainnya. Koefisien selektivitas yakni K<sub>B,C</sub> dievaluasi melalui respons emf elektroda selektif ion dalam larutan campuran ion utama, B, dan ion pengganggu, C (metode interferensi tetap) atau, yang kurang diinginkan, dalam larutan terpisah B dan C (metode larutan terpisah).<ref>R. P. Buck. ''Recommendations for nomenclature of ion-selective electrodes''. ''Pure Appl. Chem''. IUPAC. 1994. Vol. 66 (12). hlm. 2527–2536. doi:10.1351/Pac199466122527.</ref> Misalnya, elektroda membran selektif ion [[kalium]] menggunakan [[antibiotik]] makrosiklik alami [[valinomisin]]. Dalam hal ini, rongga dalam cincin makrosiklik memiliki ukuran yang tepat untuk membungkus ion kalium, tetapi terlalu besar untuk mengikat ion natrium, yang kemungkinan besar merupakan pengganggu, dengan kuat.


Sensor kimia sedang dikembangkan untuk molekul dan ion target spesifik di mana target ("tamu") membentuk kompleks dengan sensor ("tuan rumah"). Sensor dirancang agar sangat cocok dalam hal ukuran dan bentuk target untuk memberikan selektivitas pengikatan maksimum. Indikator dikaitkan dengan sensor yang mengalami perubahan ketika target membentuk kompleks dengan sensor. Perubahan indikator biasanya berupa perubahan warna (abu-abu menjadi kuning dalam ilustrasi) yang terlihat pada [[absorbansi]], atau dengan sensitivitas yang lebih besar, [[luminesensi]]. Indikator dapat dihubungkan ke sensor melalui ''spacer'', dalam susunan ISR, atau dapat dipindahkan dari sensor, susunan IDA.
Sensor kimia<ref>Florinel-Gabriel Bănică, Chemical Sensors and Biosensors: Fundamentals and Applications, John Wiley and Sons, Chichester, 2012, Print</ref><ref>R.W. Cattrall. [https://archive.org/details/chemicalsensors0000catt Chemical sensors]. Oxford University Press. 1997. ISBN 978-0-19-850090-2.</ref> sedang dikembangkan untuk molekul dan ion target spesifik di mana target ("tamu") membentuk kompleks dengan sensor ("tuan rumah"). Sensor dirancang agar sangat cocok dalam hal ukuran dan bentuk target untuk memberikan selektivitas pengikatan maksimum. Indikator dikaitkan dengan sensor yang mengalami perubahan ketika target membentuk kompleks dengan sensor. Perubahan indikator biasanya berupa perubahan warna (abu-abu menjadi kuning dalam ilustrasi) yang terlihat pada [[absorbansi]], atau dengan sensitivitas yang lebih besar, [[luminesensi]]. Indikator dapat dihubungkan ke sensor melalui ''spacer'', dalam susunan ISR, atau dapat dipindahkan dari sensor, susunan IDA.


== Catatan ==
== Catatan ==


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 
[[Kategori:Kimia kesetimbangan]]
[[Kategori:Farmakodinamika]]
 
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selektivitas+pengikatan&oldid=29221525 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29221525 (2026-05-13T00:55:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selektivitas+pengikatan&oldid=29221525 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29221525 (2026-05-13T00:55:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.02

Dalam kimia, selektivitas pengikatan didefinisikan berkaitan dengan pengikatan ligan ke substrat yang membentuk kompleks. Selektivitas pengikatan menggambarkan bagaimana ligan dapat mengikat lebih disukai ke satu reseptor daripada yang lain. Koefisien selektivitas adalah konstanta kesetimbangan untuk reaksi penggantian oleh satu ligan terhadap ligan lain dalam kompleks dengan substrat. Selektivitas pengikatan sangat penting dalam biokimia[1] dan dalam proses pemisahan kimia.

Koefisien selektivitas

Konsep selektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana satu zat kimia, A, mengikat masing-masing dari dua zat kimia lainnya, B dan C. Kasus paling sederhana adalah ketika kompleks yang terbentuk memiliki stoikiometri 1:1. Kemudian, kedua interaksi tersebut dapat dikarakterisasi oleh konstanta kesetimbangan dan .[2] A+BAB;KAB=[AB][A][B]A+CAC;KAC=[AC][A][C] di mana [X] mewakili konsentrasi zat X (A, B, C, …).

Koefisien selektivitas didefinisikan sebagai rasio dari dua konstanta kesetimbangan. KB,C=KACKAB. Koefisien selektivitas ini sebenarnya adalah konstanta kesetimbangan untuk reaksi substitusi:

AB+CAC+B;KB,C=[AC][B][AB][C]=KAC[A][B][C]KAB[A][B][C]=KACKAB

Mudah untuk menunjukkan bahwa definisi yang sama berlaku untuk kompleks dengan stoikiometri yang berbeda, yakni ApBq dan ApCq.. Semakin besar koefisien selektivitas, semakin banyak ligan C yang akan menggantikan ligan B dari kompleks yang terbentuk dengan substrat A. Interpretasi alternatifnya adalah bahwa semakin besar koefisien selektivitas, semakin rendah konsentrasi C yang dibutuhkan untuk menggantikan B dari AB. Koefisien selektivitas ditentukan secara eksperimental dengan mengukur dua konstanta kesetimbangan, yakni dan .

Penggunaan

Biokimia

Dalam biokimia, substrat dikenal sebagai "reseptor". Reseptor adalah molekul protein, yang tertanam di membran plasma atau sitoplasma sel, tempat satu atau lebih jenis molekul sinyal tertentu dapat berikatan. Ligan dapat berupa peptida atau molekul kecil lainnya seperti neurotransmiter, hormon, obat farmasi, atau toksin. Spesifisitas reseptor ditentukan oleh geometri spasialnya dan cara ia berikatan dengan ligan melalui interaksi non-kovalen, seperti ikatan hidrogen atau gaya Van der Waals.[3]

Jika reseptor dapat diisolasi, obat sintetis dapat dikembangkan baik untuk menstimulasi reseptor (agonis) atau untuk memblokirnya (antagonis). Obat tukak lambung simetidin dikembangkan sebagai antagonis reseptor H2 dengan merekayasa molekul secara kimia untuk spesifisitas maksimum terhadap jaringan terisolasi yang mengandung reseptor. Penggunaan lebih lanjut dari hubungan kuantitatif struktur-aktivitas (QSAR) mengarah pada pengembangan agen lain seperti ranitidin.

"Selektivitas" ketika merujuk pada obat bersifat relatif. Misalnya, pada dosis yang lebih tinggi, molekul obat tertentu juga dapat berikatan dengan reseptor lain selain yang dikatakan "selektif".

Terapi khelasi

Terapi khelasi adalah bentuk pengobatan medis di mana ligan pengkhelat[4] digunakan untuk secara selektif menghilangkan logam dari tubuh. Ketika logam tersebut ada sebagai ion divalen seperti timbal (Pb2+) atau raksa (Hg2+) selektivitas terhadap kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) sangat penting agar pengobatan tidak menghilangkan logam esensial.[5]

Selektivitas ditentukan oleh berbagai faktor. Dalam kasus kelebihan zat besi, yang mungkin terjadi pada individu dengan β-talasemia yang telah menerima transfusi darah, ion logam target berada dalam bilangan oksidasi +3 dan karenanya membentuk kompleks yang lebih kuat daripada ion divalen. Deferoksamin juga membentuk kompleks yang lebih kuat dengan ligan pendonor oksigen daripada dengan ligan pendonor nitrogen. Siderofor alami yang diproduksi oleh bakteri Streptomyces pilosus awalnya digunakan sebagai agen terapi khelasi. Siderofor sintetis seperti deferipron dan deferasiroks telah dikembangkan, menggunakan struktur deferoksamin yang diketahui sebagai titik awal.[6][7] Khelasi terjadi dengan dua atom oksigen.

Penyakit Wilson disebabkan oleh cacat dalam metabolisme tembaga yang mengakibatkan akumulasi logam tembaga di berbagai organ tubuh. Ion target dalam kasus ini adalah ion divalen, yakni Cu2+. Ion ini diklasifikasikan sebagai ambang batas dalam skema Ahrland, Chatt, dan Davies.[8] Ini berarti bahwa ia membentuk kompleks yang kira-kira sama kuatnya dengan ligan yang atom donornya adalah N, O atau F seperti halnya dengan ligan yang atom donornya adalah P, S atau Cl. Penisilamina, yang mengandung atom donor nitrogen dan belerang, digunakan karena jenis ligan ini mengikat ion tembaga lebih kuat daripada ion kalsium dan magnesium.

Pengobatan keracunan logam berat seperti timbal dan raksasa lebih bermasalah, karena ligan yang digunakan tidak memiliki spesifisitas tinggi relatif terhadap kalsium. Misalnya, EDTA dapat diberikan sebagai garam kalsium untuk mengurangi pengeluaran kalsium dari tulang bersama dengan logam berat. Faktor-faktor yang menentukan selektivitas timbal terhadap seng, kadmium, dan kalsium telah ditinjau.[9]

Kromatografi

Dalam kromatografi kolom, campuran zat dilarutkan dalam fase gerak dan dilewatkan melalui fase diam dalam kolom. Faktor selektivitas didefinisikan sebagai rasio koefisien distribusi, yang menggambarkan distribusi kesetimbangan analit antara fase diam dan fase gerak. Faktor selektivitas sama dengan koefisien selektivitas dengan asumsi tambahan bahwa aktivitas fase diam (substrat dalam hal ini) sama dengan 1, asumsi standar untuk fase murni.[10] Resolusi kolom kromatografi (RS) berhubungan dengan faktor selektivitas dengan:

RS=N4(α1α)(kB1+kB)

di mana α adalah faktor selektivitas, N adalah jumlah pelat teoretis, kA dan kB adalah faktor retensi dari kedua analit. Faktor retensi berbanding lurus dengan koefisien distribusi. Dalam praktiknya, zat dengan faktor selektivitas yang sangat mendekati 1 dapat dipisahkan. Hal ini terutama berlaku pada kromatografi gas-cair di mana panjang kolom hingga 60 m dimungkinkan, memberikan jumlah pelat teoritis yang sangat besar.

Dalam kromatografi pertukaran ion, koefisien selektivitas didefinisikan dengan cara yang sedikit berbeda[11]

Ekstraksi pelarut

Ekstraksi pelarut[12] digunakan untuk mengekstrak unsur lantanida individual dari campuran yang ditemukan di alam dalam bijih seperti [[monasit|monazit][. Dalam satu proses, ion logam dalam larutan berair dibuat membentuk kompleks dengan tributil fosfat (TBP), yang diekstraksi ke dalam pelarut organik seperti minyak tanah. Pemisahan lengkap dilakukan dengan menggunakan metode pertukaran arus berlawanan. Sejumlah sel disusun sebagai kaskade. Setelah mencapai kesetimbangan, komponen air dari setiap sel dipindahkan ke sel sebelumnya dan komponen organik dipindahkan ke sel berikutnya, yang awalnya hanya berisi air. Dengan cara ini, ion logam dengan kompleks yang paling stabil melewati kaskade dalam fase organik dan logam dengan kompleks yang paling tidak stabil melewati kaskade dalam fase air.[13]

Jika kelarutan dalam fase organik bukan masalah, koefisien selektivitas sama dengan rasio konstanta stabilitas kompleks TBP dari dua ion logam. Untuk unsur lantanida yang berdekatan dalam tabel periodik, rasio ini tidak jauh lebih besar dari 1, sehingga dibutuhkan banyak sel dalam kaskade.

Sensor kimia

Jenis-jenis Sensor Kimia. (1.) Indikator-spacer-reseptor (ISR) (2.) Indicator-Displacement Assay (IDA)

Koefisien selektivitas potensiometrik mendefinisikan kemampuan elektroda selektif ion untuk membedakan satu ion tertentu dari ion lainnya. Koefisien selektivitas yakni KB,C dievaluasi melalui respons emf elektroda selektif ion dalam larutan campuran ion utama, B, dan ion pengganggu, C (metode interferensi tetap) atau, yang kurang diinginkan, dalam larutan terpisah B dan C (metode larutan terpisah).[14] Misalnya, elektroda membran selektif ion kalium menggunakan antibiotik makrosiklik alami valinomisin. Dalam hal ini, rongga dalam cincin makrosiklik memiliki ukuran yang tepat untuk membungkus ion kalium, tetapi terlalu besar untuk mengikat ion natrium, yang kemungkinan besar merupakan pengganggu, dengan kuat.

Sensor kimia[15][16] sedang dikembangkan untuk molekul dan ion target spesifik di mana target ("tamu") membentuk kompleks dengan sensor ("tuan rumah"). Sensor dirancang agar sangat cocok dalam hal ukuran dan bentuk target untuk memberikan selektivitas pengikatan maksimum. Indikator dikaitkan dengan sensor yang mengalami perubahan ketika target membentuk kompleks dengan sensor. Perubahan indikator biasanya berupa perubahan warna (abu-abu menjadi kuning dalam ilustrasi) yang terlihat pada absorbansi, atau dengan sensitivitas yang lebih besar, luminesensi. Indikator dapat dihubungkan ke sensor melalui spacer, dalam susunan ISR, atau dapat dipindahkan dari sensor, susunan IDA.

Catatan

Referensi

  1. I.M. Klotz. Ligand-Receptor Energetics: A Guide for the Perplexed. Wiley. 1997. ISBN 978-0-471-17626-8.
  2. Konstanta yang digunakan di sini adalah konstanta "asosiasi". Konstanta "disosiasi" digunakan dalam beberapa konteks. Konstanta disosiasi adalah kebalikan dari konstanta asosiasi.
  3. Textbook of receptor pharmacology. CRC Press. 2003. ISBN 978-0-8493-1029-4.
  4. Istilah "ligan" di sini merujuk pada pengikatan pada logam. Dalam definisi koefisien selektivitas, "ligan" ini sebenarnya adalah substrat dan ligan dalam definisi tersebut adalah ion logam.
  5. M. Walker. Everything you should know about chelation therapy. Keats Pub. 1997. ISBN 978-0-87983-730-3.
  6. Iron-Selective Chelators With Therapeutic Potential in Robert C. Hider. Interrelations between Essential Metal Ions and Human Diseases. Springer. 2013. Vol. 13. hlm. 229–294. doi:10.1007/978-94-007-7500-8_8. ISBN 9789400774995.
  7. Marvin J. Miller. Syntheses and therapeutic potential of hydroxamic acid-based siderophores and analogs. Chemical Reviews. 1989. Vol. 89 (7). hlm. 1563–1579. doi:10.1021/cr00097a011.
  8. S. Ahrland. The relative affinities of ligand atoms for acceptor molecules and ions. Quart. Rev. 1958. Vol. 12 (3). hlm. 265–276. doi:10.1039/QR9581200265.
  9. Etelka Farkas. Lead: Its Effects on Environment and Health. de Gruyter. 2017. Vol. 17. hlm. 201–240. doi:10.1515/9783110434330-008. ISBN 9783110434330.
  10. D.A Skoog. Fundamentals of Analytical Chemistry. Thomson Brooks/Cole. 2004. ISBN 978-0-03-035523-3. Section 30E
  11. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  12. N.M. Rice. Nomenclature for liquid-liquid distribution (solvent extraction). Pure Appl. Chem. IUPAC. 1993. Vol. 65 (11). hlm. 2373–2396. doi:10.1351/pac199365112373.
  13. Solvent Extraction Principles and Practice (. CRC Press. 2004. ISBN 978-0-8247-5063-3.
  14. R. P. Buck. Recommendations for nomenclature of ion-selective electrodes. Pure Appl. Chem. IUPAC. 1994. Vol. 66 (12). hlm. 2527–2536. doi:10.1351/Pac199466122527.
  15. Florinel-Gabriel Bănică, Chemical Sensors and Biosensors: Fundamentals and Applications, John Wiley and Sons, Chichester, 2012, Print
  16. R.W. Cattrall. Chemical sensors. Oxford University Press. 1997. ISBN 978-0-19-850090-2.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29221525 (2026-05-13T00:55:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.