Lompat ke isi

Rasa asin: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29319032; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Rasa asin''' adalah salah satu dari [[rasa dasar]]. Sensasi ini tampaknya terdiri atas dua komponen: sinyal kadar garam rendah dan sinyal kadar garam tinggi. Sinyal kadar garam rendah memicu persepsi kelezatan, sedangkan sinyal kadar garam tinggi umumnya menimbulkan sensasi "kelebihan garam".
[[File:SaltInWaterSolutionLiquid.jpg|thumb|right|280px|470x470px]]


Sinyal kadar garam rendah dipahami dimediasi oleh [[saluran natrium epitel]] (ENaC), yang tersusun atas tiga subunit. ENaC pada sel pengecap memungkinkan kation [[natrium]] untuk masuk ke dalam sel. Hal ini selanjutnya mendepolarisasi sel dan membuka saluran kalsium bergerbang tegangan, membanjiri sel dengan ion kalsium positif dan memicu pelepasan [[neurotransmiter]]. ENaC dapat dihambat oleh obat [[amilorida]] pada banyak mamalia, khususnya tikus. Sensitivitas rasa asin kadar rendah terhadap amilorida pada manusia jauh lebih lemah, yang memunculkan spekulasi bahwa mungkin terdapat reseptor garam rendah tambahan selain ENaC yang belum ditemukan.
'''Rasa asin''' adalah salah satu dari [[rasa dasar]]. Sensasi ini tampaknya terdiri atas dua komponen: sinyal kadar garam rendah dan sinyal kadar garam tinggi. Sinyal kadar garam rendah memicu persepsi kelezatan, sedangkan sinyal kadar garam tinggi umumnya menimbulkan sensasi "kelebihan garam".<ref>Akiyuki Taruno. ''Molecular and Cellular Mechanisms of Salt Taste''. ''Annual Review of Physiology''. 10 February 2023. Vol. 85 (1). hlm. 25–45. doi:10.1146/annurev-physiol-031522-075853.</ref>


Sejumlah kation serupa juga mengaktifkan sinyal garam rendah. Ukuran ion [[litium]] dan kalium paling mirip dengan natrium, sehingga rasa asinnya pun paling mirip. Sebaliknya, ion [[rubidium]] dan [[cesium]] berukuran jauh lebih besar, sehingga rasa asinnya berbeda secara proporsional. Rasa asin suatu zat dinilai relatif terhadap [[natrium klorida]] (NaCl), yang memiliki indeks 1. [[Kalium]], dalam bentuk [[kalium klorida]] (KCl), merupakan bahan utama dalam [[pengganti garam]] dan memiliki indeks rasa asin 0,6.
Sinyal kadar garam rendah dipahami dimediasi oleh [[saluran natrium epitel]] (ENaC), yang tersusun atas tiga subunit. ENaC pada sel pengecap memungkinkan kation [[natrium]] untuk masuk ke dalam sel. Hal ini selanjutnya mendepolarisasi sel dan membuka saluran kalsium bergerbang tegangan, membanjiri sel dengan ion kalsium positif dan memicu pelepasan [[neurotransmiter]]. ENaC dapat dihambat oleh obat [[amilorida]] pada banyak mamalia, khususnya tikus. Sensitivitas rasa asin kadar rendah terhadap amilorida pada manusia jauh lebih lemah, yang memunculkan spekulasi bahwa mungkin terdapat reseptor garam rendah tambahan selain ENaC yang belum ditemukan.<ref>Akiyuki Taruno. ''Molecular and Cellular Mechanisms of Salt Taste''. ''Annual Review of Physiology''. 10 February 2023. Vol. 85 (1). hlm. 25–45. doi:10.1146/annurev-physiol-031522-075853.</ref>
 
Sejumlah kation serupa juga mengaktifkan sinyal garam rendah. Ukuran ion [[litium]] dan kalium paling mirip dengan natrium, sehingga rasa asinnya pun paling mirip. Sebaliknya, ion [[rubidium]] dan [[cesium]] berukuran jauh lebih besar, sehingga rasa asinnya berbeda secara proporsional. Rasa asin suatu zat dinilai relatif terhadap [[natrium klorida]] (NaCl), yang memiliki indeks 1.<ref>Guyton, Arthur C. (1991) ''Textbook of Medical Physiology''. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders</ref><ref>McLaughlin, Susan. ''The Sense of Taste''. ''American Scientist''. November–December 1994. Vol. 82 (6). hlm. 538–545.</ref> [[Kalium]], dalam bentuk [[kalium klorida]] (KCl), merupakan bahan utama dalam [[pengganti garam]] dan memiliki indeks rasa asin 0,6.<ref>Guyton, Arthur C. (1991) ''Textbook of Medical Physiology''. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders</ref><ref>McLaughlin, Susan. ''The Sense of Taste''. ''American Scientist''. November–December 1994. Vol. 82 (6). hlm. 538–545.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rasa+asin&oldid=29319032 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29319032 (2026-06-06T06:48:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rasa+asin&oldid=29319032 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29319032 (2026-06-06T06:48:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.11

Berkas:SaltInWaterSolutionLiquid.jpg

Rasa asin adalah salah satu dari rasa dasar. Sensasi ini tampaknya terdiri atas dua komponen: sinyal kadar garam rendah dan sinyal kadar garam tinggi. Sinyal kadar garam rendah memicu persepsi kelezatan, sedangkan sinyal kadar garam tinggi umumnya menimbulkan sensasi "kelebihan garam".[1]

Sinyal kadar garam rendah dipahami dimediasi oleh saluran natrium epitel (ENaC), yang tersusun atas tiga subunit. ENaC pada sel pengecap memungkinkan kation natrium untuk masuk ke dalam sel. Hal ini selanjutnya mendepolarisasi sel dan membuka saluran kalsium bergerbang tegangan, membanjiri sel dengan ion kalsium positif dan memicu pelepasan neurotransmiter. ENaC dapat dihambat oleh obat amilorida pada banyak mamalia, khususnya tikus. Sensitivitas rasa asin kadar rendah terhadap amilorida pada manusia jauh lebih lemah, yang memunculkan spekulasi bahwa mungkin terdapat reseptor garam rendah tambahan selain ENaC yang belum ditemukan.[2]

Sejumlah kation serupa juga mengaktifkan sinyal garam rendah. Ukuran ion litium dan kalium paling mirip dengan natrium, sehingga rasa asinnya pun paling mirip. Sebaliknya, ion rubidium dan cesium berukuran jauh lebih besar, sehingga rasa asinnya berbeda secara proporsional. Rasa asin suatu zat dinilai relatif terhadap natrium klorida (NaCl), yang memiliki indeks 1.[3][4] Kalium, dalam bentuk kalium klorida (KCl), merupakan bahan utama dalam pengganti garam dan memiliki indeks rasa asin 0,6.[5][6]

Referensi

  1. Akiyuki Taruno. Molecular and Cellular Mechanisms of Salt Taste. Annual Review of Physiology. 10 February 2023. Vol. 85 (1). hlm. 25–45. doi:10.1146/annurev-physiol-031522-075853.
  2. Akiyuki Taruno. Molecular and Cellular Mechanisms of Salt Taste. Annual Review of Physiology. 10 February 2023. Vol. 85 (1). hlm. 25–45. doi:10.1146/annurev-physiol-031522-075853.
  3. Guyton, Arthur C. (1991) Textbook of Medical Physiology. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders
  4. McLaughlin, Susan. The Sense of Taste. American Scientist. November–December 1994. Vol. 82 (6). hlm. 538–545.
  5. Guyton, Arthur C. (1991) Textbook of Medical Physiology. (8th ed). Philadelphia: W.B. Saunders
  6. McLaughlin, Susan. The Sense of Taste. American Scientist. November–December 1994. Vol. 82 (6). hlm. 538–545.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29319032 (2026-06-06T06:48:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.