Klasifikasi tanah: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28395367; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 2: | Baris 2: | ||
== Prasyarat == | == Prasyarat == | ||
[[Manusia]] memiliki tabiat untuk memberi [[nama]] kepada apa saja yang ada di [[alam]]. Tujuannya untuk mempermudah pengenalan dan pembedaan suatu [[benda]] dengan benda lainnya dengan cara yang sistematis. Manusia juga mengelompokkan benda-benda yang memiliki kemiripan. Semua pengelompokan benda oleh manusia bertujuan untuk [[kesejahteraan]] manusia, begitu pula untuk [[sumber daya]] [[tanah]]. Secara visual, manusia telah membuat klasifikasi tanah sederhana. Manusia menawai suatu jenis tanah berdasarkan kawasannya, misalnya tanah rawa, tanah hutan, tanah ladang, tanah sawah dan tanah darat. Namun, seluruh penamaan ini sifatnya umum dan tidak mewakili ciri dan sifat dari tanah tersebut. | [[Manusia]] memiliki tabiat untuk memberi [[nama]] kepada apa saja yang ada di [[alam]]. Tujuannya untuk mempermudah pengenalan dan pembedaan suatu [[benda]] dengan benda lainnya dengan cara yang sistematis. Manusia juga mengelompokkan benda-benda yang memiliki kemiripan. Semua pengelompokan benda oleh manusia bertujuan untuk [[kesejahteraan]] manusia, begitu pula untuk [[sumber daya]] [[tanah]]. Secara visual, manusia telah membuat klasifikasi tanah sederhana. Manusia menawai suatu jenis tanah berdasarkan kawasannya, misalnya tanah rawa, tanah hutan, tanah ladang, tanah sawah dan tanah darat. Namun, seluruh penamaan ini sifatnya umum dan tidak mewakili ciri dan sifat dari tanah tersebut.<ref>Muhajir Utomo. [https://www.google.co.id/books/edition/Ilmu_Tanah_Dasar_Dasar_dan_Pengelolaan/i1e-DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&printsec=frontcover Ilmu Tanah: Dasar-Dasar dan Pengelolaan]. Kencana. 2016. hlm. 277. ISBN 978-602-0895-92-5.</ref> | ||
Klasifikasi tanah dapat dilakukan karena tanah sendiri terbentuk melalui banyak faktor. Lima faktor utama yang membuat klasifikasi tanah dapat terjadi adalah bahan induk tanah, iklim, [[makhluk hidup]], relief permukaan Bumi dan waktu. | Klasifikasi tanah dapat dilakukan karena tanah sendiri terbentuk melalui banyak faktor. Lima faktor utama yang membuat klasifikasi tanah dapat terjadi adalah bahan induk tanah, iklim, [[makhluk hidup]], relief permukaan Bumi dan waktu.<ref>Latarus Fangohoi. [http://repository.pertanian.go.id/bitstream/handle/123456789/14270/2.%20BA%20PENGELOLAAN%20MEDIA%20TANAM.pdf Pengelolaan Media Tanam]. Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. 2019. hlm. 26. ISBN 978-602-6367-56-3.</ref> | ||
Klasifikasi tanah merupakan cara cerdas yang dibuat oleh para ahli [[tanah]] dalam memudahkan [[identifikasi]] jenis tanah. Tujuannya untuk mengatasi masalah pembedaan jenis tanah yang jumlahnya dapat mencapai jutaan jenis pada skala pengenalan yang terkecil. Caranya dengan mengumpulkan dan mengelompokkan tanah berdasarkan kriteria-kriteria mengenai kesamaan dan kemiripan. Melalui klasifikasi tanah, [[sistematika]] pengelompokan tanah dapat diketahui. | Klasifikasi tanah merupakan cara cerdas yang dibuat oleh para ahli [[tanah]] dalam memudahkan [[identifikasi]] jenis tanah. Tujuannya untuk mengatasi masalah pembedaan jenis tanah yang jumlahnya dapat mencapai jutaan jenis pada skala pengenalan yang terkecil.<ref>Abdul Kadir Salam. [http://repository.lppm.unila.ac.id/30475/1/2020%20Ilmu%20Tanah.pdf Ilmu Tanah]. Global Madani Press. 2020. hlm. 205. ISBN 978-602-19849-9-4.</ref> Caranya dengan mengumpulkan dan mengelompokkan tanah berdasarkan kriteria-kriteria mengenai kesamaan dan kemiripan. Melalui klasifikasi tanah, [[sistematika]] pengelompokan tanah dapat diketahui.<ref>Dian Fiantis. [http://carano.pustaka.unand.ac.id/index.php/car/catalog/view/4/2/11-2 Morfologi dan Klasifikasi Tanah]. Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas. hlm. 2.</ref> | ||
Kesamaan dan kemiripan dapat ditinjau dari segi sifat dan ciri [[Morfologi (disambiguasi)|morfologi]], [[fisika]] dan [[kimia]], serta [[mineralogi]]. Setelah dikelompokkan, masing-masing jenis tanah diberi nama agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan digunakan. Penamaan juga bertujuan untuk dapat membedakan jenis tanah yang satu dengan yang lainnya. Klasifikasi tanah berlaku pada tanah yang berbentuk padatan dan terbuat secara alami. Bahan penyusunnya berupa bahan mineral dan bahan organik. Selain itu, klasifikasi tanah juga berlaku pada cairan dan gas yang terbentuk di [[Litosfer|permukaan Bumi]]. Syaratnya adalag gas dan cairan ini harus merupakan hasil dari [[pelapukan]] bahan induk. Pelapukan ini juga harus melalui proses interaksi faktor [[iklim]], relief, makhluk hidup dan waktu serta terjadi secara berlapis-lapis. Hasil pelapukan juga harus mampu mendukung pertumbuhan [[tumbuhan]] sedalam 2 meter atau sampai batas aktivitas [[biologi]] tanah. | Kesamaan dan kemiripan dapat ditinjau dari segi sifat dan ciri [[Morfologi (disambiguasi)|morfologi]], [[fisika]] dan [[kimia]], serta [[mineralogi]]. Setelah dikelompokkan, masing-masing jenis tanah diberi nama agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan digunakan. Penamaan juga bertujuan untuk dapat membedakan jenis tanah yang satu dengan yang lainnya. Klasifikasi tanah berlaku pada tanah yang berbentuk padatan dan terbuat secara alami. Bahan penyusunnya berupa bahan mineral dan bahan organik. Selain itu, klasifikasi tanah juga berlaku pada cairan dan gas yang terbentuk di [[Litosfer|permukaan Bumi]]. Syaratnya adalag gas dan cairan ini harus merupakan hasil dari [[pelapukan]] bahan induk. Pelapukan ini juga harus melalui proses interaksi faktor [[iklim]], relief, makhluk hidup dan waktu serta terjadi secara berlapis-lapis. Hasil pelapukan juga harus mampu mendukung pertumbuhan [[tumbuhan]] sedalam 2 meter atau sampai batas aktivitas [[biologi]] tanah.<ref>Subardja, S., D., dkk. [https://www.researchgate.net/profile/Sukarman-Kartawisastra/publication/323402274_KLASIFIKASI_TANAH_NASIONAL/links/5a948c030f7e9ba42970cd91/KLASIFIKASI-TANAH-NASIONAL.pdf Petunjuk Teknis Klasifikasi Tanah Nasional]. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. hlm. 1. ISBN 978-602-8977-85-2.</ref> | ||
Perluasan definisi tanah hingga ke wujud gas dan cairan dan pertumbuhan tanaman bertujuan agar klasifikasi tanah dapat mencakup tanah-tanah di wilayah [[Antarktika]]. Di Antarktika, iklim bersifat ekstrem tetapu proses pedogenesis tetap dapat berlangsung. Definisi ini membuat cakupan klasifikasi tanah termasuk pada tanaman tingkat tinggi. | Perluasan definisi tanah hingga ke wujud gas dan cairan dan pertumbuhan tanaman bertujuan agar klasifikasi tanah dapat mencakup tanah-tanah di wilayah [[Antarktika]]. Di Antarktika, iklim bersifat ekstrem tetapu proses pedogenesis tetap dapat berlangsung. Definisi ini membuat cakupan klasifikasi tanah termasuk pada tanaman tingkat tinggi.<ref>Soil Survey Staff. [https://www.academia.edu/41759616/Kunci_Taksonomi_Tanah Kunci Taksonomi Tanah]. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2015. hlm. 1. ISBN 978-602-6759-08-5.</ref> | ||
== Jenis == | == Jenis == | ||
Klasifikasi tanah pada umumnya dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi teknis. Klasifikasi alami merupakan klasifikasi yang hanya dilakukan berdasarkan pada sifat tanah. Sementara tujuan dari penggunaan tanah tidak dimasukkan sebagai pertimbangan klasifikasi. Klasifikasi alami memberikan informasi dasar mengenai sifat fisika, kimia, dan mineralogi tanah pada tiap kelas tanah. Informasi ini kemudian digunakan sebagai landasan pengelolaan tanah. Sementara klasifikasi teknis memperhatikan sifat-sifat tanah yang berkaitan dengan penggunaannya pada suatu kepentingan tertentu. Misalnya pada tanah yang akan digunakan sebagai lahan [[perkebunan]]. | Klasifikasi tanah pada umumnya dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi teknis. Klasifikasi alami merupakan klasifikasi yang hanya dilakukan berdasarkan pada sifat tanah. Sementara tujuan dari penggunaan tanah tidak dimasukkan sebagai pertimbangan klasifikasi. Klasifikasi alami memberikan informasi dasar mengenai sifat fisika, kimia, dan mineralogi tanah pada tiap kelas tanah. Informasi ini kemudian digunakan sebagai landasan pengelolaan tanah. Sementara klasifikasi teknis memperhatikan sifat-sifat tanah yang berkaitan dengan penggunaannya pada suatu kepentingan tertentu. Misalnya pada tanah yang akan digunakan sebagai lahan [[perkebunan]].<ref>Fiqriah Hanum Khumairah. [https://www.google.co.id/books/edition/Pengantar_Ilmu_Tanah/L2JUEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA125&printsec=frontcover Pengantar Ilmu Tanah]. Tanesa. 2021. hlm. 126. ISBN 978-623-985-185-9.</ref> | ||
=== Klasifikasi tanah tererosi === | === Klasifikasi tanah tererosi === | ||
Sifat tanah dapat berubah secara kuantitatif maupun kualitatif pada kondisi [[erosi]] dalam jangka waktu yang lama. Kedalaman tanah pada bagian permukaan akan berkurang selama erosi berlangsung secara terus-menerus. Sementara sifat tanah dan kesuburan tanah berubah akibat erosi. Pada tanah yang tererosi, klasifikasi tanah memerlukan pertimbangan atas proporsi tanah di permukaan yang hilang beserta tingkat kehilangannya. | Sifat tanah dapat berubah secara kuantitatif maupun kualitatif pada kondisi [[erosi]] dalam jangka waktu yang lama. Kedalaman tanah pada bagian permukaan akan berkurang selama erosi berlangsung secara terus-menerus. Sementara sifat tanah dan kesuburan tanah berubah akibat erosi. Pada tanah yang tererosi, klasifikasi tanah memerlukan pertimbangan atas proporsi tanah di permukaan yang hilang beserta tingkat kehilangannya.<ref>Sutikno, Dibyosaputro, S., dan Haryono, E. [https://www.google.co.id/books/edition/Geomorfologi_Dasar/Za3qDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA142&printsec=frontcover Geomorfologi Dasar Bagian 1]. Gadjah Mada University Press. 2020. hlm. 142. ISBN 978-602-386-396-9.</ref> | ||
== Kategori == | == Kategori == | ||
Dalam kalsifikasi tanah, terdapat beberapa tingkatan. Tingkatan yang tertinggi disebut orde. Setiap tipe dari orde diberi akhiran -sol. Setelah orde, tingkatan klasifikasi tanah meliputi suborde, agrik, oksik, grup besar, subgrup, famili dan seri. Suborde ditentukan berdasarkan tingkat kelembapan tanah, bahan induk dan pengaruh regitasi. Agrik ditetapkan berdasarkan jumlah bahan organik di bawah lapisan bajak. Oksik ditetapkan berdasarkan tingkat pencampuran [[aluminium]], [[besi]] dan [[mineral]] dengan proporsi 1:1. Grup besar ditentukan berdasarkan variasi dan karakteristik hoprison. Subgrup ditentukan berdasarkan perbedaan konsep pada taksa dan gradasi. Famili ditentukan berdasarkan ciri penting pada tanah yang berkaitan dengan pertumbuhan akar tanaman. Sedangkan seri ditentukan variasi jumlah, susunan dan ciri horison dalam profit tanah. | Dalam kalsifikasi tanah, terdapat beberapa tingkatan. Tingkatan yang tertinggi disebut orde. Setiap tipe dari orde diberi akhiran -sol.<ref>Djauhari Noor. [https://www.google.co.id/books/edition/Geomorfologi/GRJADAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA14-IA10&printsec=frontcover Geomorfologi]. Deepublish. 2014. hlm. 51. ISBN 978-602-280-242-6.</ref> Setelah orde, tingkatan klasifikasi tanah meliputi suborde, agrik, oksik, grup besar, subgrup, famili dan seri. Suborde ditentukan berdasarkan tingkat kelembapan tanah, bahan induk dan pengaruh regitasi. Agrik ditetapkan berdasarkan jumlah bahan organik di bawah lapisan bajak. Oksik ditetapkan berdasarkan tingkat pencampuran [[aluminium]], [[besi]] dan [[mineral]] dengan proporsi 1:1. Grup besar ditentukan berdasarkan variasi dan karakteristik hoprison. Subgrup ditentukan berdasarkan perbedaan konsep pada taksa dan gradasi. Famili ditentukan berdasarkan ciri penting pada tanah yang berkaitan dengan pertumbuhan akar tanaman. Sedangkan seri ditentukan variasi jumlah, susunan dan ciri horison dalam profit tanah.<ref>Kuswaji Dwi Priyono. [https://www.google.co.id/books/edition/Kajian_Tanah_dalam_Perspektif_Geografi/YdFcEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA561&printsec=frontcover Kajian Tanah dalam Perspektif Geografi]. Penerbit Insania. 2021. hlm. 564-565. ISBN 978-623-5770-05-5.</ref> | ||
== Sistem klasifikasi == | == Sistem klasifikasi == | ||
[[Rekayasa geoteknik|Insinyur geoteknik]] umumnya mengklasifikasikan tanah berdasarkan karakteristik tekniknya dan hubungannya dalam membangun pondasi dan bangunan di atasnya. Sistem klasifikasi modern didesain untuk memudahkan perkiraan sifat dan perilaku tanah berdasarkan observasi di lapangan. | [[Rekayasa geoteknik|Insinyur geoteknik]] umumnya mengklasifikasikan tanah berdasarkan karakteristik tekniknya dan hubungannya dalam membangun pondasi dan bangunan di atasnya. Sistem klasifikasi modern didesain untuk memudahkan perkiraan sifat dan perilaku tanah berdasarkan observasi di lapangan. | ||
Sistem klasifikasi keteknikan yang paling banyak digunakan adalah [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]]. memiliki tiga kelompok utama, yaitu tanah dengan ukuran partikel kasar (mengandung [[pasir]] dan [[kerikil]]), partikel halus (tanah [[lempung]] dan [[tanah liat]]), dan tanah dengan kadar organik tinggi (misal tanah [[gambut]]). Sistem tanah untuk keteknikan lainnya yaitu Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) dan the Modified Burmister. | Sistem klasifikasi keteknikan yang paling banyak digunakan adalah [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]]. memiliki tiga kelompok utama, yaitu tanah dengan ukuran partikel kasar (mengandung [[pasir]] dan [[kerikil]]), partikel halus (tanah [[lempung]] dan [[tanah liat]]), dan tanah dengan kadar organik tinggi (misal tanah [[gambut]]). Sistem tanah untuk keteknikan lainnya yaitu Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) dan the Modified Burmister.<ref>[http://www.civil.columbia.edu/ling/burmister/burmister.html Salinan arsip].</ref> | ||
=== Sistem Klasifikasi AASHTO === | === Sistem Klasifikasi AASHTO === | ||
Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) adalah sebuah sistem klasifikasi tanah yang dibuat pada tahun 1929. Pada tahun 1945, Sistem AASHTO telah disempurnakan dengan berbagai [[perbaikan]]. Perbaikan ini dikerjakan oleh Komite Klasifikasi Bahan untuk Tipe Jalan Tanah dan Butiran pada Badan Penelitian Jalan Raya. Tanah diklasifikan dengan kode A-1 hingga A-7. Kriteria ukuran butir standar berdasarkan kepada ayakan nomor 20. Kriteria A-4 sampai A-7 umumnya adalah lanau dan lempung. Sistem AASHTO umumnya digunakan untuk perencanaan timbunan jalan sebagai penentu kualitas tanah. | Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) adalah sebuah sistem klasifikasi tanah yang dibuat pada tahun 1929. Pada tahun 1945, Sistem AASHTO telah disempurnakan dengan berbagai [[perbaikan]]. Perbaikan ini dikerjakan oleh Komite Klasifikasi Bahan untuk Tipe Jalan Tanah dan Butiran pada Badan Penelitian Jalan Raya. Tanah diklasifikan dengan kode A-1 hingga A-7. Kriteria ukuran butir standar berdasarkan kepada ayakan nomor 20. Kriteria A-4 sampai A-7 umumnya adalah lanau dan lempung.<ref>Putri, A. M., dan Adinegoro, Y. [https://www.google.co.id/books/edition/Mekanika_Tanah_I/tBH5DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA31&printsec=frontcover Mekanika Tanah 1]. Yayasan Kita Menulis. 2020. hlm. 32. ISBN 978-623-6512-83-8.</ref> Sistem AASHTO umumnya digunakan untuk perencanaan timbunan jalan sebagai penentu kualitas tanah.<ref>M. Sang Gumilang Panca Putra. [https://www.google.co.id/books/edition/TANAH_LONGSOR_DAN_UPAYA_PENCEGAHANNYA/h_g-EAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA5&printsec=frontcover Tanah Longsor dan Upaya Pencegahannya]. CV. Media Sarana Sejahtera. 2020. hlm. 6. ISBN 978-623-937-265-1.</ref> | ||
=== Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah === | === Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah === | ||
Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah disempurnakan oleh Biro Reklamasi Amerika Serikat pada tahun 1952. Landasan penyempurnaannya dari Sistem Klasifikasi Lapangan Udara Sistem Klasifikasi Lapangan Udara awalnya dibuat oleh Arthur Casagrande pada awal tahun 1940. Tujuan pembuatannya sebagai pedoman pembuatan lapangan terbang bagi [[Korps Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat]] pada tahun 1942. Sistem Klasifikasi Lapangan Udara hanya digunakan selama [[Perang Dunia II]]. Pada tahun 1969, [[American Standard Testing and Material]] mengadopsi Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah sebagai metode standar klasifikasi tanah. Adopsi secara resmi dinyatakan melalui penerbitan ASTM 2487. | Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah disempurnakan oleh Biro Reklamasi Amerika Serikat pada tahun 1952.<ref>Mina, E., Kusuma, R. I., dan Susilo, R. E. [https://www.google.co.id/books/edition/Teknika_Jurnal_Sains_dan_Teknologi_Vol_1/iL4WEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA86&printsec=frontcover Pemanfaatan Abu Sisa Pembakaran Daun Bambu untuk Stabilisasi Tanah dan Pengaruhnya terhadap Nilai Kuat Tekan Bebas (Studi Kasus: Jl. Munjul–Malingpin, Desa Pasir Tenjo, Kecamatan Sindang Resmi, Kabupaten Pandeglang]. ''Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi''. 2019. Vol. 15 (2). hlm. 86.</ref> Landasan penyempurnaannya dari Sistem Klasifikasi Lapangan Udara Sistem Klasifikasi Lapangan Udara awalnya dibuat oleh Arthur Casagrande pada awal tahun 1940.<ref>[https://binamarga.pu.go.id/uploads/files/554/sni-6371-2015-tata-cara-pengklasifikasian-tanah-untuk-keperluan-teknik-dengan-sistem-klasifikasi-unifikasi-tanah.pdf Tata Cara Pengklasifikasian Tanah untuk Keperluan Teknik dengan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]. Badan Standardisasi Nasional. 2015. hlm. 1.</ref> Tujuan pembuatannya sebagai pedoman pembuatan lapangan terbang bagi [[Korps Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat]] pada tahun 1942. Sistem Klasifikasi Lapangan Udara hanya digunakan selama [[Perang Dunia II]]. Pada tahun 1969, [[American Standard Testing and Material]] mengadopsi Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah sebagai metode standar klasifikasi tanah. Adopsi secara resmi dinyatakan melalui penerbitan ASTM 2487.<ref>Fathurrozi dan Rezqi, F. [https://media.neliti.com/media/publications/125477-ID-sifat-sifat-fisis-dan-mekanis-tanah-timb.pdf Sifat-Sifat Fisis dan Mekanis Tanah Timbunan Badan Jalan Kuala Kapuas]. ''Jurnal Poros Teknik''. 2016. Vol. 8 (1). hlm. 17.</ref> | ||
Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah mengelompokkan tanah dengan menggunakan [[simbol]] huruf tertentu. Simbol yang digunakan sebanyak dua huruf. Susunan simbol dalam Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah berlaku secara universal. Penerapan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah pada mekanika tanah. Acuan dasar untuk klasifikasi tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah adalah ukuran butir [[partikel]] tanah, gradasi dan plastisitas tanah. Pengelompokan tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah terbagi menjadi tanah berbutir kasar, tanah berbutir halus dan tanah dengan kadar organik yang tinggi. | Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah mengelompokkan tanah dengan menggunakan [[simbol]] huruf tertentu.<ref>Encu Sutarman. ''Konsep & Aplikasi Pengantar Teknik Sipil''. Penerbit ANDI. 2013. hlm. 152. ISBN 978-979-29-2295-0.</ref> Simbol yang digunakan sebanyak dua huruf.<ref>Rinaldi, A., dan Irawan, D. E. [https://www.google.co.id/books/edition/Hidrogeologi_Tanah_Tak_Jenuh_Air_Unsatur/E-QNEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA9&printsec=frontcover Hidrogeologi Tanah Tak Jenuh Air]. ITB Press. 2020. hlm. 10. ISBN 978-623-297-011-3.</ref> Susunan simbol dalam Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah berlaku secara universal.<ref>Edward Allen. [https://www.google.co.id/books/edition/Dasar_2_Konstruksi_Jl_1/tSxaXogX1X4C?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA19&printsec=frontcover Dasar-Dasar Konstruksi Bangunan: Bahan-Bahan dan Metodenya]. Erlangga. 2005. hlm. 19. ISBN 979-741-906-1.</ref> Penerapan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah pada mekanika tanah.<ref>Laurence D. Wesley. [http://web.ipb.ac.id/~erizal/mektan/2010_Mekanika%20Tanah%20untuk%20Tanah%20endapan%20dan%20residu.pdf Mekanika Tanah untukTanah EndaPan dan Residu]. Penerbit ANDI. 2010. hlm. 45. ISBN 978-979-29-2633-0.</ref> Acuan dasar untuk klasifikasi tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah adalah ukuran butir [[partikel]] tanah, gradasi dan plastisitas tanah. Pengelompokan tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah terbagi menjadi tanah berbutir kasar, tanah berbutir halus dan tanah dengan kadar organik yang tinggi. | ||
=== Sistem Klasifikasi USDA === | === Sistem Klasifikasi USDA === | ||
Sistem Klasifikasi USDA adalah sistem klasifikasi yang dibuat oleh [[Departemen Pertanian Amerika Serikat]]. Klasifikasi berlaku pada tingkat subgrup tanah. | Sistem Klasifikasi USDA adalah sistem klasifikasi yang dibuat oleh [[Departemen Pertanian Amerika Serikat]]. Klasifikasi berlaku pada tingkat subgrup tanah.<ref>Notohadiprawiro, T., dkk. [https://books.google.co.id/books?id=cJCGEAAAQBAJ&newbks=0&printsec=frontcover&pg=PA43&dq=klasifikasi+tanah&hl=id&source=newbks_fb&redir_esc=y#v=onepage&q=klasifikasi%20tanah&f=false Tantangan Pengembangan Sumberdaya Lahan Rawa Dan Gambut]. Deepublish. 2022. hlm. 43. ISBN 978-623-02-5126-9.</ref> | ||
=== Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo === | === Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo === | ||
Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo didasarkan pada sifat-sifat [[morfologi]] tanah yang dapat diukur dan dikuantifikasi. Syarat klasifikasi ada tiga, yaitu jenis bahan induk tanah, iklim dan ketinggian tempat. | Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo didasarkan pada sifat-sifat [[morfologi]] tanah yang dapat diukur dan dikuantifikasi. Syarat klasifikasi ada tiga, yaitu jenis bahan induk tanah, iklim dan ketinggian tempat.<ref>Sukarman dan Dariah, A. [https://www.researchgate.net/profile/Sukarman-Kartawisastra/publication/323398785_TANAH_ANDOSOL_DI_INDONESIA_Karakteristik_Potensi_Kendala_dan_Pengelolaannya_untuk_Pertanian/links/5a941563a6fdccecff063dd1/TANAH-ANDOSOL-DI-INDONESIA-Karakteristik-Potensi-Kendala-dan-Pengelolaannya-untuk-Pertanian.pdf Yanah Andosol di Indonesia: Karakteristik, Potensi, Kendala, dan Pengelolaannya untuk Pertanian]. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2014. hlm. 4. ISBN 978-602-8977-84-5.</ref> | ||
=== Sistem Tekstur Segitiga === | === Sistem Tekstur Segitiga === | ||
Sistem Tekstur Segitiga merupakan salah satu sistem klasifikasi tanah pada geoteknik. Penggunaannya umum bersama dengan Sistem Klasifikasi AASHTO dan [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]]. | Sistem Tekstur Segitiga merupakan salah satu sistem klasifikasi tanah pada geoteknik. Penggunaannya umum bersama dengan Sistem Klasifikasi AASHTO dan [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]].<ref>Kurniawan, P., dan Hadimujono, B. [https://www.google.co.id/books/edition/Applied_Geotechnics_for_Engineers_1/Bn8GEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PR12&printsec=frontcover Applied Geotechnics for Engineers 1]. Penerbit ANDI. 2020. hlm. 149. ISBN 978-623-01-1036-8.</ref> | ||
=== Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO === | === Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO === | ||
Sistem Klasifikasi Tanah [[Organisasi Pangan dan Pertanian|FAO]]/[[Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNESCO]] menggunakan hierarki tanah hingga subunit tanah tingkat ketiga. Penetapan nama untuk subunit tidak diberikan, tetapi pedoman untuk pemberian nama disediakan. Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO direvisi pada tahun 1990 dan dapat diterapkan pada skala global dalam penggambaran legenda. | Sistem Klasifikasi Tanah [[Organisasi Pangan dan Pertanian|FAO]]/[[Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNESCO]] menggunakan hierarki tanah hingga subunit tanah tingkat ketiga. Penetapan nama untuk subunit tidak diberikan, tetapi pedoman untuk pemberian nama disediakan. Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO direvisi pada tahun 1990 dan dapat diterapkan pada skala global dalam penggambaran legenda.<ref>Hariyanto, S., dkk. [https://www.google.co.id/books/edition/Lingkungan_Abiotik_Jilid_2/JZmwDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA109&printsec=frontcover Lingkungan Abiotik Jilid II: Mineral, Batuan, Gempa, Tanah dan Iklim]. Airlangga University Press. 2016. hlm. 110. ISBN 978-602-7924-94-9.</ref> | ||
== Ciri pembeda == | == Ciri pembeda == | ||
| Baris 51: | Baris 50: | ||
=== Warna tanah === | === Warna tanah === | ||
Dalam sistem klasifikasi tanah, warna tanah menjadi salah satu ciri pembeda tanah. Warna tanah dijadikan sebagai salah satu penciri pada Sistem Taksonomi [[Departemen Pertanian Amerika Serikat]]. Penerapannya misalnya pada orde tanah Mollisol. Tanah yang berwarna gelap ditetapkan memiliki kualitas baik. Karena tanah yang gelap memiliki kandungan bahan organik yang relatif tinggi, agregat yang stabil dan tingkat kesuburan yang tinggi. | Dalam sistem klasifikasi tanah, warna tanah menjadi salah satu ciri pembeda tanah. Warna tanah dijadikan sebagai salah satu penciri pada Sistem Taksonomi [[Departemen Pertanian Amerika Serikat]]. Penerapannya misalnya pada orde tanah Mollisol. Tanah yang berwarna gelap ditetapkan memiliki kualitas baik. Karena tanah yang gelap memiliki kandungan bahan organik yang relatif tinggi, agregat yang stabil dan tingkat kesuburan yang tinggi.<ref>Akhmad Rizalli Saidy. [http://eprints.ulm.ac.id/4505/1/Buku%20-%20Bahan%20Organik%20Tanah.pdf Bahan Organik Tanah: Klasifikasi, Fungsi dan Metode Studi]. Lambung Mangkurat University Press. 2018. hlm. 38. ISBN 978-602-6483-65-2.</ref> | ||
=== pH tanah === | === pH tanah === | ||
Klasifikasi tanah berdasarkan [[pH]] dapat terbagi menjadi 4 macam, yaitu tanah netral, tanah [[basa]], tanah asam dan tanah sangat asam. Tanah netral memiliki pH sebesar 6,5–7,5 pH. Tanah basa memiliki pH lebih dari 7,5 pH. Tanah asam memiliki pH kurang dari 6,5 pH. Tanah yang sangat masam memiliki pH kurang dari 5,5 pH. | Klasifikasi tanah berdasarkan [[pH]] dapat terbagi menjadi 4 macam, yaitu tanah netral, tanah [[basa]], tanah asam dan tanah sangat asam. Tanah netral memiliki pH sebesar 6,5–7,5 pH. Tanah basa memiliki pH lebih dari 7,5 pH. Tanah asam memiliki pH kurang dari 6,5 pH. Tanah yang sangat masam memiliki pH kurang dari 5,5 pH.<ref>Taisa, R., dkk. [https://www.researchgate.net/profile/Abdus-Junaedi/publication/357680441_Ilmu_Kesuburan_Tanah_dan_Pemupukan/links/61d9e0bada5d105e552964a1/Ilmu-Kesuburan-Tanah-dan-Pemupukan.pdf Ilmu Kesuburan Tanah dan Pemupukan]. Yayasan Kita Menulis. 2021. hlm. 31. ISBN 978-623-342-165-2.</ref> | ||
=== Kematangan tanah === | === Kematangan tanah === | ||
| Baris 62: | Baris 61: | ||
=== Diameter butiran === | === Diameter butiran === | ||
[[Diameter]] butiran tanah dijadikan sebagai ciri klasifikasi dengan mengamati kelipatan nilainya. Pada klasifikasi ini, pengelompokan berdasarkan kepada persentase jumlah kerikil, pasir, lanau dan lempung. | [[Diameter]] butiran tanah dijadikan sebagai ciri klasifikasi dengan mengamati kelipatan nilainya. Pada klasifikasi ini, pengelompokan berdasarkan kepada persentase jumlah kerikil, pasir, lanau dan lempung.<ref>Robert J. Kodoatie. [https://www.google.co.id/books/edition/Tata_Ruang_Air_Tanah/eDMhEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA113&printsec=frontcover Tata Ruang Air Tanah]. Penerbit ANDI. 2012. hlm. 113. ISBN 978-979-29-3250-8.</ref> | ||
== Perlengkapan == | == Perlengkapan == | ||
=== Alat uji penetrasi konus === | === Alat uji penetrasi konus === | ||
Alat uji penetrasi konus berbentuk kerucut. Diameter alat ini adalah 35,7 mm dengan sudut segitiga sebesar 60º. Penggunaan alat ini dengan cara menekan tanah secara terus-menerus dengan kecepatan 20 mm/detik secara konstan. Data hasil pengujian alat uji penetrasi konus digunakan untuk klasifikasi tanah. Jenis data yang dihasilkan oleh alat ini meliputi tahanan ujung konus, gesekan lengan, dan rasio gesekan. Alat uji penetrasi konus berfungsi dengan menggunakan energi listrik. | Alat uji penetrasi konus berbentuk kerucut. Diameter alat ini adalah 35,7 mm dengan sudut segitiga sebesar 60º. Penggunaan alat ini dengan cara menekan tanah secara terus-menerus dengan kecepatan 20 mm/detik secara konstan. Data hasil pengujian alat uji penetrasi konus digunakan untuk klasifikasi tanah. Jenis data yang dihasilkan oleh alat ini meliputi tahanan ujung konus, gesekan lengan, dan rasio gesekan.<ref>Siska Triwahyuni Suhartati. [https://www.trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id/index.php/sim/article/view/5907/4658 Pembuatan Program Bantu Klasifikasi Jenis Tanah Berdasarkan Uji CPT(u) engan Metode Robertson (1990) Menggunakan Microsoft Excel]. ''Prosiding Seminar Intelektual Muda''. 2019. Vol. 1. hlm. 85. ISBN 978-623-91368-0-2.</ref> Alat uji penetrasi konus berfungsi dengan menggunakan energi listrik.<ref>Gultom, T. H. M., dan Daniel, C. G. [https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/16837/Mekanika%20Tanah%20ok.pdf Mekanika Tanah]. Penerbit CV. Pena Persada. 2021. hlm. 174. ISBN 978-623-315-553-3.</ref> | ||
== Pengumpulan data == | == Pengumpulan data == | ||
[[Pengumpulan Data Dalam Penelitian|Pengumpulan data]] tanah melalui analisis tanah. Data yang dikumpulkan berupa [[sifat kimia]], status [[unsur hara]] dan sifat fisika dari tanah. Analisis tanah setelah uji tanah kemudian digunakan untuk klasifikasi tanah. Analisis kimi dan analisis fisika pada tanah dibutuhkan untuk klasifikasi taksonomi tanah secara lengkap. | [[Pengumpulan Data Dalam Penelitian|Pengumpulan data]] tanah melalui analisis tanah. Data yang dikumpulkan berupa [[sifat kimia]], status [[unsur hara]] dan sifat fisika dari tanah. Analisis tanah setelah uji tanah kemudian digunakan untuk klasifikasi tanah.<ref>Eviati dan Sulaeman. [http://repository.pertanian.go.id/bitstream/handle/123456789/14956/JUKNIS%20ANALIS%20KIMIA.pdf Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk]. Balai Penelitian Tanah. 2009. hlm. i. ISBN 978-602-8039-21-5.</ref> Analisis kimi dan analisis fisika pada tanah dibutuhkan untuk klasifikasi taksonomi tanah secara lengkap.<ref>[https://www.google.co.id/books/edition/Ekologi_Papua/AqfUCwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PT134&printsec=frontcover Ekologi Papua]. Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Conservation International. 2007. hlm. 92. ISBN 978-979-461-796-0.</ref> | ||
== Manfaat == | == Manfaat == | ||
Klasifikasi tanah diperlukan jika tanah yang diberi deskripsi digunakan untuk tujuan tertentu. Bagi perencana di bidang [[teknik sipil]], klasifikasi tanah membantu pengarahan secara empiris atas pengalaman yang telah lalu. Namun, bantuan ini tidak bersifat mutlak karena tanah memiliki perilaku yang sukar diperkirakan. Permasalahan perilaku tanah yang tidak terduga tetap menjadi penyebab kegagalan konstruksi. | Klasifikasi tanah diperlukan jika tanah yang diberi deskripsi digunakan untuk tujuan tertentu.<ref>Panjaitan, N. H., Suhairiani, dan Sinaga, E. K. [https://www.google.co.id/books/edition/Modul_Pembelajaran_Stabilisasi_Tanah_Lem/_mLLDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA4&printsec=frontcover Modul Pembelajaran Stabilisasi Tanah Lempung]. Yayasan Kita Menulis. 2020. hlm. 4. ISBN 978-623-764-526-9.</ref> Bagi perencana di bidang [[teknik sipil]], klasifikasi tanah membantu pengarahan secara empiris atas pengalaman yang telah lalu. Namun, bantuan ini tidak bersifat mutlak karena tanah memiliki perilaku yang sukar diperkirakan. Permasalahan perilaku tanah yang tidak terduga tetap menjadi penyebab kegagalan konstruksi.<ref>Diah Novianti. [https://www.google.co.id/books/edition/Implementasi_Teori_Cracked_Soil_Pada_Ide/un8jEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PR2-IA7&printsec=frontcover Implementasi Teori "Cracked Soil" pada Identifikasi Kelongsoran]. CV. Kajad Media Publishing. 2020. hlm. 16. ISBN 978-623-6551-95-0.</ref> | ||
== Ilmu terkait == | == Ilmu terkait == | ||
=== Pedogenesis === | === Pedogenesis === | ||
[[Pedogenesis]] adalah ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta dengan faktor-faktor pembentuknya. Perubahan-perubahan atau evolusi yang terjadi dalam tubuh tanah juga dipelajari bersama dengan deskripsi dan interpretasi sifat-sifat profil tanah. Dalam pedogenesisi juga dipelajari pola penyebaran dari jenis-jenis tanah. Selama pembahasan pedogenesis, klasifikasi tanah dan survei tanah juga dibahas. Dalam pedogenesis, kalsifikasi tanah masuk dalam bidang [[pedologi]]. Karena adanya klasifikasi tanha, pedologi umumnya digunakan sebagai kata yang setara untuk [[ilmu tanah]]. | [[Pedogenesis]] adalah ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta dengan faktor-faktor pembentuknya. Perubahan-perubahan atau evolusi yang terjadi dalam tubuh tanah juga dipelajari bersama dengan deskripsi dan interpretasi sifat-sifat profil tanah. Dalam pedogenesisi juga dipelajari pola penyebaran dari jenis-jenis tanah. Selama pembahasan pedogenesis, klasifikasi tanah dan survei tanah juga dibahas. Dalam pedogenesis, kalsifikasi tanah masuk dalam bidang [[pedologi]]. Karena adanya klasifikasi tanha, pedologi umumnya digunakan sebagai kata yang setara untuk [[ilmu tanah]].<ref>Gunawan, J., Hazriani, R., dan Mahardika, R. Y. [https://www.researchgate.net/profile/Rabbirl-Mahardika/publication/340339075_Morfologi_dan_Klasifikasi_Tanah_-_Buku_Ajar/links/5e8458044585150839b2dc65/Morfologi-dan-Klasifikasi-Tanah-Buku-Ajar.pdf Buku Ajar Morfologi dan Klasifikasi Tanah]. Jurusan dan Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. hlm. 1.</ref> | ||
== Permasalahan == | == Permasalahan == | ||
Klasifikasi tanah yang berbeda-beda pada tiap ahli tanah menimbulkan masalah bagi pengembangan [[teknologi]] tanah. Keberagaman konsep mengenai tanah telah menjadi pengakuan umum. Karena para ahli memberikan konsepnya masing-masing atas tanah. Beberapa istilah baku telah diusulkan untuk membedakan jenis-jenis tanah termasuk pedon. Tujuannya untuk mengatasi permasalaahan penamaan tanah yang tidak konsisten oleh para ahli tanah. | Klasifikasi tanah yang berbeda-beda pada tiap ahli tanah menimbulkan masalah bagi pengembangan [[teknologi]] tanah. Keberagaman konsep mengenai tanah telah menjadi pengakuan umum. Karena para ahli memberikan konsepnya masing-masing atas tanah. Beberapa istilah baku telah diusulkan untuk membedakan jenis-jenis tanah termasuk pedon. Tujuannya untuk mengatasi permasalaahan penamaan tanah yang tidak konsisten oleh para ahli tanah.<ref>Tejoyuwono Notohadiprawiro. [https://www.google.co.id/books/edition/Tanah_Lingkungan_Dan_Pertanian_Berkelanj/C9tGEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=klasifikasi+tanah&pg=PA39&printsec=frontcover Tanah. Lingkungan dan Pertanian Berkelanjutan]. Deepublish. 2021. hlm. 39. ISBN 978-623-02-3392-0.</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]] | * [[Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
* [http://www.itc.nl/personal/rossiter/research/rsrch_ss_class.html A Compendium of On-Line Soil Survey Information - Soil Classification for Soil Survey by D. G. Rossiter] | * [http://www.itc.nl/personal/rossiter/research/rsrch_ss_class.html A Compendium of On-Line Soil Survey Information - Soil Classification for Soil Survey by D. G. Rossiter] | ||
* [http://fbe.uwe.ac.uk/public/geocal/SoilMech/classification/ Engineering soil description and classification] | * [http://fbe.uwe.ac.uk/public/geocal/SoilMech/classification/ Engineering soil description and classification] | ||
* [http://www.osha.gov/pls/oshaweb/owadisp.show_document?p_table=STANDARDS&p_id=10931 OSHA Soil Classification] | * [http://www.osha.gov/pls/oshaweb/owadisp.show_document?p_table=STANDARDS&p_id=10931 OSHA Soil Classification] | ||
== Bahan bacaan terkait == | == Bahan bacaan terkait == | ||
=== Sistem klasifikasi internasional === | === Sistem klasifikasi internasional === | ||
* Eswaran, H., Rice, T., Ahrens, R., & Stewart, B. A. (Eds.). (2002). Soil classification: a global desk reference. Boca Raton, Fla.: CRC Press. | * Eswaran, H., Rice, T., Ahrens, R., & Stewart, B. A. (Eds.). (2002). Soil classification: a global desk reference. Boca Raton, Fla.: CRC Press. | ||
* Buol, S.W., Southard, R.J., Graham, R.C., and McDaniel, P.A. (2003). Soil Genesis and Classification, 5th Edition. Iowa State Press - Blackwell, Ames, IA. | * Buol, S.W., Southard, R.J., Graham, R.C., and McDaniel, P.A. (2003). Soil Genesis and Classification, 5th Edition. Iowa State Press - Blackwell, Ames, IA. | ||
* Driessen, P., Deckers, J., Spaargaren, O., & Nachtergaele, F. (Eds.). (2001). Lecture notes on the major soils of the world. Rome: FAO. | * Driessen, P., Deckers, J., Spaargaren, O., & Nachtergaele, F. (Eds.). (2001). Lecture notes on the major soils of the world. Rome: FAO. | ||
* Zech, W., Schad, P., Hintermaier-Erhard, G.: Soils of the World. Springer, Berlin 2022. | * Zech, W., Schad, P., Hintermaier-Erhard, G.: Soils of the World. Springer, Berlin 2022. | ||
* IUSS Working Group WRB: World Reference Base for Soil Resources, fourth edition. International Union of Soil Sciences, Vienna 2022. ([https://wrb.isric.org/files/WRB_fourth_edition_2022-12-18.pdf]). | * IUSS Working Group WRB: World Reference Base for Soil Resources, fourth edition. International Union of Soil Sciences, Vienna 2022. ([https://wrb.isric.org/files/WRB_fourth_edition_2022-12-18.pdf]). | ||
| Baris 117: | Baris 102: | ||
* Sanchez, P. A., Palm, C. A., & Buol, S. W. (2003). Fertility capability soil classification: a tool to help assess soil quality in the tropics. Geoderma, 114(3-4), 157-185. | * Sanchez, P. A., Palm, C. A., & Buol, S. W. (2003). Fertility capability soil classification: a tool to help assess soil quality in the tropics. Geoderma, 114(3-4), 157-185. | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Klasifikasi+tanah&oldid=28395367 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28395367 (2025-11-10T05:59:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Klasifikasi+tanah&oldid=28395367 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28395367 (2025-11-10T05:59:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 13.56
Klasifikasi tanah adalah ilmu yang berhubungan dengan kategorisasi tanah berdasarkan karakteristik yang membedakan masing-masing jenis tanah. Klasifikasi tanah merupakan sebuah subjek yang dinamis yang mempelajari struktur dari sistem klasifikasi tanah, definisi dari kelas-kelas yang digunakan untuk penggolongan tanah, kriteria yang menentukan penggolongan tanah, hingga penerapannya di lapangan. Tanah sendiri dapat dipandang sebagai material maupun sumber daya.
Prasyarat
Manusia memiliki tabiat untuk memberi nama kepada apa saja yang ada di alam. Tujuannya untuk mempermudah pengenalan dan pembedaan suatu benda dengan benda lainnya dengan cara yang sistematis. Manusia juga mengelompokkan benda-benda yang memiliki kemiripan. Semua pengelompokan benda oleh manusia bertujuan untuk kesejahteraan manusia, begitu pula untuk sumber daya tanah. Secara visual, manusia telah membuat klasifikasi tanah sederhana. Manusia menawai suatu jenis tanah berdasarkan kawasannya, misalnya tanah rawa, tanah hutan, tanah ladang, tanah sawah dan tanah darat. Namun, seluruh penamaan ini sifatnya umum dan tidak mewakili ciri dan sifat dari tanah tersebut.[1]
Klasifikasi tanah dapat dilakukan karena tanah sendiri terbentuk melalui banyak faktor. Lima faktor utama yang membuat klasifikasi tanah dapat terjadi adalah bahan induk tanah, iklim, makhluk hidup, relief permukaan Bumi dan waktu.[2]
Klasifikasi tanah merupakan cara cerdas yang dibuat oleh para ahli tanah dalam memudahkan identifikasi jenis tanah. Tujuannya untuk mengatasi masalah pembedaan jenis tanah yang jumlahnya dapat mencapai jutaan jenis pada skala pengenalan yang terkecil.[3] Caranya dengan mengumpulkan dan mengelompokkan tanah berdasarkan kriteria-kriteria mengenai kesamaan dan kemiripan. Melalui klasifikasi tanah, sistematika pengelompokan tanah dapat diketahui.[4]
Kesamaan dan kemiripan dapat ditinjau dari segi sifat dan ciri morfologi, fisika dan kimia, serta mineralogi. Setelah dikelompokkan, masing-masing jenis tanah diberi nama agar mudah dikenal, diingat, dipahami dan digunakan. Penamaan juga bertujuan untuk dapat membedakan jenis tanah yang satu dengan yang lainnya. Klasifikasi tanah berlaku pada tanah yang berbentuk padatan dan terbuat secara alami. Bahan penyusunnya berupa bahan mineral dan bahan organik. Selain itu, klasifikasi tanah juga berlaku pada cairan dan gas yang terbentuk di permukaan Bumi. Syaratnya adalag gas dan cairan ini harus merupakan hasil dari pelapukan bahan induk. Pelapukan ini juga harus melalui proses interaksi faktor iklim, relief, makhluk hidup dan waktu serta terjadi secara berlapis-lapis. Hasil pelapukan juga harus mampu mendukung pertumbuhan tumbuhan sedalam 2 meter atau sampai batas aktivitas biologi tanah.[5]
Perluasan definisi tanah hingga ke wujud gas dan cairan dan pertumbuhan tanaman bertujuan agar klasifikasi tanah dapat mencakup tanah-tanah di wilayah Antarktika. Di Antarktika, iklim bersifat ekstrem tetapu proses pedogenesis tetap dapat berlangsung. Definisi ini membuat cakupan klasifikasi tanah termasuk pada tanaman tingkat tinggi.[6]
Jenis
Klasifikasi tanah pada umumnya dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi teknis. Klasifikasi alami merupakan klasifikasi yang hanya dilakukan berdasarkan pada sifat tanah. Sementara tujuan dari penggunaan tanah tidak dimasukkan sebagai pertimbangan klasifikasi. Klasifikasi alami memberikan informasi dasar mengenai sifat fisika, kimia, dan mineralogi tanah pada tiap kelas tanah. Informasi ini kemudian digunakan sebagai landasan pengelolaan tanah. Sementara klasifikasi teknis memperhatikan sifat-sifat tanah yang berkaitan dengan penggunaannya pada suatu kepentingan tertentu. Misalnya pada tanah yang akan digunakan sebagai lahan perkebunan.[7]
Klasifikasi tanah tererosi
Sifat tanah dapat berubah secara kuantitatif maupun kualitatif pada kondisi erosi dalam jangka waktu yang lama. Kedalaman tanah pada bagian permukaan akan berkurang selama erosi berlangsung secara terus-menerus. Sementara sifat tanah dan kesuburan tanah berubah akibat erosi. Pada tanah yang tererosi, klasifikasi tanah memerlukan pertimbangan atas proporsi tanah di permukaan yang hilang beserta tingkat kehilangannya.[8]
Kategori
Dalam kalsifikasi tanah, terdapat beberapa tingkatan. Tingkatan yang tertinggi disebut orde. Setiap tipe dari orde diberi akhiran -sol.[9] Setelah orde, tingkatan klasifikasi tanah meliputi suborde, agrik, oksik, grup besar, subgrup, famili dan seri. Suborde ditentukan berdasarkan tingkat kelembapan tanah, bahan induk dan pengaruh regitasi. Agrik ditetapkan berdasarkan jumlah bahan organik di bawah lapisan bajak. Oksik ditetapkan berdasarkan tingkat pencampuran aluminium, besi dan mineral dengan proporsi 1:1. Grup besar ditentukan berdasarkan variasi dan karakteristik hoprison. Subgrup ditentukan berdasarkan perbedaan konsep pada taksa dan gradasi. Famili ditentukan berdasarkan ciri penting pada tanah yang berkaitan dengan pertumbuhan akar tanaman. Sedangkan seri ditentukan variasi jumlah, susunan dan ciri horison dalam profit tanah.[10]
Sistem klasifikasi
Insinyur geoteknik umumnya mengklasifikasikan tanah berdasarkan karakteristik tekniknya dan hubungannya dalam membangun pondasi dan bangunan di atasnya. Sistem klasifikasi modern didesain untuk memudahkan perkiraan sifat dan perilaku tanah berdasarkan observasi di lapangan.
Sistem klasifikasi keteknikan yang paling banyak digunakan adalah Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah. memiliki tiga kelompok utama, yaitu tanah dengan ukuran partikel kasar (mengandung pasir dan kerikil), partikel halus (tanah lempung dan tanah liat), dan tanah dengan kadar organik tinggi (misal tanah gambut). Sistem tanah untuk keteknikan lainnya yaitu Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) dan the Modified Burmister.[11]
Sistem Klasifikasi AASHTO
Sistem Klasifikasi Asosiasi Jalan Raya Negara Bagian Amerika Serikat dan Pejabat Transportasi (Sistem Klasifikasi AASHTO) adalah sebuah sistem klasifikasi tanah yang dibuat pada tahun 1929. Pada tahun 1945, Sistem AASHTO telah disempurnakan dengan berbagai perbaikan. Perbaikan ini dikerjakan oleh Komite Klasifikasi Bahan untuk Tipe Jalan Tanah dan Butiran pada Badan Penelitian Jalan Raya. Tanah diklasifikan dengan kode A-1 hingga A-7. Kriteria ukuran butir standar berdasarkan kepada ayakan nomor 20. Kriteria A-4 sampai A-7 umumnya adalah lanau dan lempung.[12] Sistem AASHTO umumnya digunakan untuk perencanaan timbunan jalan sebagai penentu kualitas tanah.[13]
Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah
Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah disempurnakan oleh Biro Reklamasi Amerika Serikat pada tahun 1952.[14] Landasan penyempurnaannya dari Sistem Klasifikasi Lapangan Udara Sistem Klasifikasi Lapangan Udara awalnya dibuat oleh Arthur Casagrande pada awal tahun 1940.[15] Tujuan pembuatannya sebagai pedoman pembuatan lapangan terbang bagi Korps Zeni Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 1942. Sistem Klasifikasi Lapangan Udara hanya digunakan selama Perang Dunia II. Pada tahun 1969, American Standard Testing and Material mengadopsi Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah sebagai metode standar klasifikasi tanah. Adopsi secara resmi dinyatakan melalui penerbitan ASTM 2487.[16]
Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah mengelompokkan tanah dengan menggunakan simbol huruf tertentu.[17] Simbol yang digunakan sebanyak dua huruf.[18] Susunan simbol dalam Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah berlaku secara universal.[19] Penerapan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah pada mekanika tanah.[20] Acuan dasar untuk klasifikasi tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah adalah ukuran butir partikel tanah, gradasi dan plastisitas tanah. Pengelompokan tanah pada Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah terbagi menjadi tanah berbutir kasar, tanah berbutir halus dan tanah dengan kadar organik yang tinggi.
Sistem Klasifikasi USDA
Sistem Klasifikasi USDA adalah sistem klasifikasi yang dibuat oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat. Klasifikasi berlaku pada tingkat subgrup tanah.[21]
Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo
Sistem Klasifikasi Dudal–Soepraptohardjo didasarkan pada sifat-sifat morfologi tanah yang dapat diukur dan dikuantifikasi. Syarat klasifikasi ada tiga, yaitu jenis bahan induk tanah, iklim dan ketinggian tempat.[22]
Sistem Tekstur Segitiga
Sistem Tekstur Segitiga merupakan salah satu sistem klasifikasi tanah pada geoteknik. Penggunaannya umum bersama dengan Sistem Klasifikasi AASHTO dan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah.[23]
Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO
Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO menggunakan hierarki tanah hingga subunit tanah tingkat ketiga. Penetapan nama untuk subunit tidak diberikan, tetapi pedoman untuk pemberian nama disediakan. Sistem Klasifikasi Tanah FAO/UNESCO direvisi pada tahun 1990 dan dapat diterapkan pada skala global dalam penggambaran legenda.[24]
Ciri pembeda
Klasifikasi secara menyeluruh membutuhkan banyak data yang terdiri dari warna, kadar air, kekuatan tekan, dan sifat lainnya.
Warna tanah
Dalam sistem klasifikasi tanah, warna tanah menjadi salah satu ciri pembeda tanah. Warna tanah dijadikan sebagai salah satu penciri pada Sistem Taksonomi Departemen Pertanian Amerika Serikat. Penerapannya misalnya pada orde tanah Mollisol. Tanah yang berwarna gelap ditetapkan memiliki kualitas baik. Karena tanah yang gelap memiliki kandungan bahan organik yang relatif tinggi, agregat yang stabil dan tingkat kesuburan yang tinggi.[25]
pH tanah
Klasifikasi tanah berdasarkan pH dapat terbagi menjadi 4 macam, yaitu tanah netral, tanah basa, tanah asam dan tanah sangat asam. Tanah netral memiliki pH sebesar 6,5–7,5 pH. Tanah basa memiliki pH lebih dari 7,5 pH. Tanah asam memiliki pH kurang dari 6,5 pH. Tanah yang sangat masam memiliki pH kurang dari 5,5 pH.[26]
Kematangan tanah
Kematangan tanah dapat diketahui dengan cara meremas bagian tanah yang dalam keadaan basah. Tujuan klasifikasi kematangan tanah untuk mengetahui kestabilan tanah. Informasi ini berguna untuk keperluan mekanis dan teknis. Pada tanah Andosol, klasifikasi kematangan tanah penting untuk mengetahui sifat licin dari tanah.
Kematangan tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu tanah matang, tanah agak matang dan tanah mentah.Tanah yang diremas dengan kekuatan penuh dan tidak ada bagian tanah yang jatuh melalui sela-sela jari, maka disebut tanah matang. Jika tanah termasuk tanah agak matang, setelah diperas akan berjatuhan beberapa bagian tanah di sela-sela tangan. Namun, sebagian besar masih berada di telapak tangan. Sedangkan ciri tanah mentah adalah jatuh ketika sedikit tenaga diberikan untuk memerasnya dan tanah jatuh dari sela-sela jari. Tanah yang tertinggal sangat sedikit di telapak tangan.
Diameter butiran
Diameter butiran tanah dijadikan sebagai ciri klasifikasi dengan mengamati kelipatan nilainya. Pada klasifikasi ini, pengelompokan berdasarkan kepada persentase jumlah kerikil, pasir, lanau dan lempung.[27]
Perlengkapan
Alat uji penetrasi konus
Alat uji penetrasi konus berbentuk kerucut. Diameter alat ini adalah 35,7 mm dengan sudut segitiga sebesar 60º. Penggunaan alat ini dengan cara menekan tanah secara terus-menerus dengan kecepatan 20 mm/detik secara konstan. Data hasil pengujian alat uji penetrasi konus digunakan untuk klasifikasi tanah. Jenis data yang dihasilkan oleh alat ini meliputi tahanan ujung konus, gesekan lengan, dan rasio gesekan.[28] Alat uji penetrasi konus berfungsi dengan menggunakan energi listrik.[29]
Pengumpulan data
Pengumpulan data tanah melalui analisis tanah. Data yang dikumpulkan berupa sifat kimia, status unsur hara dan sifat fisika dari tanah. Analisis tanah setelah uji tanah kemudian digunakan untuk klasifikasi tanah.[30] Analisis kimi dan analisis fisika pada tanah dibutuhkan untuk klasifikasi taksonomi tanah secara lengkap.[31]
Manfaat
Klasifikasi tanah diperlukan jika tanah yang diberi deskripsi digunakan untuk tujuan tertentu.[32] Bagi perencana di bidang teknik sipil, klasifikasi tanah membantu pengarahan secara empiris atas pengalaman yang telah lalu. Namun, bantuan ini tidak bersifat mutlak karena tanah memiliki perilaku yang sukar diperkirakan. Permasalahan perilaku tanah yang tidak terduga tetap menjadi penyebab kegagalan konstruksi.[33]
Ilmu terkait
Pedogenesis
Pedogenesis adalah ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta dengan faktor-faktor pembentuknya. Perubahan-perubahan atau evolusi yang terjadi dalam tubuh tanah juga dipelajari bersama dengan deskripsi dan interpretasi sifat-sifat profil tanah. Dalam pedogenesisi juga dipelajari pola penyebaran dari jenis-jenis tanah. Selama pembahasan pedogenesis, klasifikasi tanah dan survei tanah juga dibahas. Dalam pedogenesis, kalsifikasi tanah masuk dalam bidang pedologi. Karena adanya klasifikasi tanha, pedologi umumnya digunakan sebagai kata yang setara untuk ilmu tanah.[34]
Permasalahan
Klasifikasi tanah yang berbeda-beda pada tiap ahli tanah menimbulkan masalah bagi pengembangan teknologi tanah. Keberagaman konsep mengenai tanah telah menjadi pengakuan umum. Karena para ahli memberikan konsepnya masing-masing atas tanah. Beberapa istilah baku telah diusulkan untuk membedakan jenis-jenis tanah termasuk pedon. Tujuannya untuk mengatasi permasalaahan penamaan tanah yang tidak konsisten oleh para ahli tanah.[35]
Lihat pula
Pranala luar
- A Compendium of On-Line Soil Survey Information - Soil Classification for Soil Survey by D. G. Rossiter
- Engineering soil description and classification
- OSHA Soil Classification
Bahan bacaan terkait
Sistem klasifikasi internasional
- Eswaran, H., Rice, T., Ahrens, R., & Stewart, B. A. (Eds.). (2002). Soil classification: a global desk reference. Boca Raton, Fla.: CRC Press.
- Buol, S.W., Southard, R.J., Graham, R.C., and McDaniel, P.A. (2003). Soil Genesis and Classification, 5th Edition. Iowa State Press - Blackwell, Ames, IA.
- Driessen, P., Deckers, J., Spaargaren, O., & Nachtergaele, F. (Eds.). (2001). Lecture notes on the major soils of the world. Rome: FAO.
- Zech, W., Schad, P., Hintermaier-Erhard, G.: Soils of the World. Springer, Berlin 2022.
- IUSS Working Group WRB: World Reference Base for Soil Resources, fourth edition. International Union of Soil Sciences, Vienna 2022. ([1]).
Sistem klasifikasi teknik
- American Society for Testing and Materials, 1985, D 2487-83, Classification of Soils for Engineering Purposes: Annual Book of ASTM Standards. Vol. 04.08, pp 395–408.
- Boorman, D. B., Hollis, J. M., & Lilly, A. (1995). Hydrology of soil types: a hydrologically-based classification of the soils of the United Kingdom (No. 126): UK Institute of Hydrology.
- Klingebiel, A. A., & Montgomery, P. H. (1961). Land capability classification. Washington, DC: US Government Printing Office.
- Sanchez, P. A., Palm, C. A., & Buol, S. W. (2003). Fertility capability soil classification: a tool to help assess soil quality in the tropics. Geoderma, 114(3-4), 157-185.
Referensi
- ↑ Muhajir Utomo. Ilmu Tanah: Dasar-Dasar dan Pengelolaan. Kencana. 2016. hlm. 277. ISBN 978-602-0895-92-5.
- ↑ Latarus Fangohoi. Pengelolaan Media Tanam. Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. 2019. hlm. 26. ISBN 978-602-6367-56-3.
- ↑ Abdul Kadir Salam. Ilmu Tanah. Global Madani Press. 2020. hlm. 205. ISBN 978-602-19849-9-4.
- ↑ Dian Fiantis. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas. hlm. 2.
- ↑ Subardja, S., D., dkk. Petunjuk Teknis Klasifikasi Tanah Nasional. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. hlm. 1. ISBN 978-602-8977-85-2.
- ↑ Soil Survey Staff. Kunci Taksonomi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2015. hlm. 1. ISBN 978-602-6759-08-5.
- ↑ Fiqriah Hanum Khumairah. Pengantar Ilmu Tanah. Tanesa. 2021. hlm. 126. ISBN 978-623-985-185-9.
- ↑ Sutikno, Dibyosaputro, S., dan Haryono, E. Geomorfologi Dasar Bagian 1. Gadjah Mada University Press. 2020. hlm. 142. ISBN 978-602-386-396-9.
- ↑ Djauhari Noor. Geomorfologi. Deepublish. 2014. hlm. 51. ISBN 978-602-280-242-6.
- ↑ Kuswaji Dwi Priyono. Kajian Tanah dalam Perspektif Geografi. Penerbit Insania. 2021. hlm. 564-565. ISBN 978-623-5770-05-5.
- ↑ Salinan arsip.
- ↑ Putri, A. M., dan Adinegoro, Y. Mekanika Tanah 1. Yayasan Kita Menulis. 2020. hlm. 32. ISBN 978-623-6512-83-8.
- ↑ M. Sang Gumilang Panca Putra. Tanah Longsor dan Upaya Pencegahannya. CV. Media Sarana Sejahtera. 2020. hlm. 6. ISBN 978-623-937-265-1.
- ↑ Mina, E., Kusuma, R. I., dan Susilo, R. E. Pemanfaatan Abu Sisa Pembakaran Daun Bambu untuk Stabilisasi Tanah dan Pengaruhnya terhadap Nilai Kuat Tekan Bebas (Studi Kasus: Jl. Munjul–Malingpin, Desa Pasir Tenjo, Kecamatan Sindang Resmi, Kabupaten Pandeglang. Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi. 2019. Vol. 15 (2). hlm. 86.
- ↑ Tata Cara Pengklasifikasian Tanah untuk Keperluan Teknik dengan Sistem Klasifikasi Unifikasi Tanah. Badan Standardisasi Nasional. 2015. hlm. 1.
- ↑ Fathurrozi dan Rezqi, F. Sifat-Sifat Fisis dan Mekanis Tanah Timbunan Badan Jalan Kuala Kapuas. Jurnal Poros Teknik. 2016. Vol. 8 (1). hlm. 17.
- ↑ Encu Sutarman. Konsep & Aplikasi Pengantar Teknik Sipil. Penerbit ANDI. 2013. hlm. 152. ISBN 978-979-29-2295-0.
- ↑ Rinaldi, A., dan Irawan, D. E. Hidrogeologi Tanah Tak Jenuh Air. ITB Press. 2020. hlm. 10. ISBN 978-623-297-011-3.
- ↑ Edward Allen. Dasar-Dasar Konstruksi Bangunan: Bahan-Bahan dan Metodenya. Erlangga. 2005. hlm. 19. ISBN 979-741-906-1.
- ↑ Laurence D. Wesley. Mekanika Tanah untukTanah EndaPan dan Residu. Penerbit ANDI. 2010. hlm. 45. ISBN 978-979-29-2633-0.
- ↑ Notohadiprawiro, T., dkk. Tantangan Pengembangan Sumberdaya Lahan Rawa Dan Gambut. Deepublish. 2022. hlm. 43. ISBN 978-623-02-5126-9.
- ↑ Sukarman dan Dariah, A. Yanah Andosol di Indonesia: Karakteristik, Potensi, Kendala, dan Pengelolaannya untuk Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2014. hlm. 4. ISBN 978-602-8977-84-5.
- ↑ Kurniawan, P., dan Hadimujono, B. Applied Geotechnics for Engineers 1. Penerbit ANDI. 2020. hlm. 149. ISBN 978-623-01-1036-8.
- ↑ Hariyanto, S., dkk. Lingkungan Abiotik Jilid II: Mineral, Batuan, Gempa, Tanah dan Iklim. Airlangga University Press. 2016. hlm. 110. ISBN 978-602-7924-94-9.
- ↑ Akhmad Rizalli Saidy. Bahan Organik Tanah: Klasifikasi, Fungsi dan Metode Studi. Lambung Mangkurat University Press. 2018. hlm. 38. ISBN 978-602-6483-65-2.
- ↑ Taisa, R., dkk. Ilmu Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Yayasan Kita Menulis. 2021. hlm. 31. ISBN 978-623-342-165-2.
- ↑ Robert J. Kodoatie. Tata Ruang Air Tanah. Penerbit ANDI. 2012. hlm. 113. ISBN 978-979-29-3250-8.
- ↑ Siska Triwahyuni Suhartati. Pembuatan Program Bantu Klasifikasi Jenis Tanah Berdasarkan Uji CPT(u) engan Metode Robertson (1990) Menggunakan Microsoft Excel. Prosiding Seminar Intelektual Muda. 2019. Vol. 1. hlm. 85. ISBN 978-623-91368-0-2.
- ↑ Gultom, T. H. M., dan Daniel, C. G. Mekanika Tanah. Penerbit CV. Pena Persada. 2021. hlm. 174. ISBN 978-623-315-553-3.
- ↑ Eviati dan Sulaeman. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. 2009. hlm. i. ISBN 978-602-8039-21-5.
- ↑ Ekologi Papua. Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Conservation International. 2007. hlm. 92. ISBN 978-979-461-796-0.
- ↑ Panjaitan, N. H., Suhairiani, dan Sinaga, E. K. Modul Pembelajaran Stabilisasi Tanah Lempung. Yayasan Kita Menulis. 2020. hlm. 4. ISBN 978-623-764-526-9.
- ↑ Diah Novianti. Implementasi Teori "Cracked Soil" pada Identifikasi Kelongsoran. CV. Kajad Media Publishing. 2020. hlm. 16. ISBN 978-623-6551-95-0.
- ↑ Gunawan, J., Hazriani, R., dan Mahardika, R. Y. Buku Ajar Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Jurusan dan Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. hlm. 1.
- ↑ Tejoyuwono Notohadiprawiro. Tanah. Lingkungan dan Pertanian Berkelanjutan. Deepublish. 2021. hlm. 39. ISBN 978-623-02-3392-0.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28395367 (2025-11-10T05:59:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.