Penyulingan tumpak: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29465084; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Penyulingan tumpak''' atau '''distilasi tumpak''' () adalah salah satu jenis [[penyulingan]] atau pemisahan suatu campuran antara dua cairan berdasarkan titik didihnya. Dalam skala laboratorium, [[proses pemisahan]] secara penyulingan dapat dilakukan dalam sebuah kolom pengepakan yang dioperasikan secara tumpak. Sedangkan dalam skala industri dapat dilakukan dengan kolom pengepakan maupun ''tray''. Dalam operasi penyulingan tumpak, sejumlah massa larutan dimasukkan ke dalam labu didih dan dipanaskan. Selama proses dilakukan, larutan akan menguap dan uap yang terbentuk secara kontinu mengalir meninggalkan labu didih (reboiler) untuk kemudian diembunkan pada kondenser. | '''Penyulingan tumpak''' atau '''distilasi tumpak''' () adalah salah satu jenis [[penyulingan]] atau pemisahan suatu campuran antara dua cairan berdasarkan titik didihnya. Dalam skala laboratorium, [[proses pemisahan]] secara penyulingan dapat dilakukan dalam sebuah kolom pengepakan yang dioperasikan secara tumpak. Sedangkan dalam skala industri dapat dilakukan dengan kolom pengepakan maupun ''tray''. Dalam operasi penyulingan tumpak, sejumlah massa larutan dimasukkan ke dalam labu didih dan dipanaskan. Selama proses dilakukan, larutan akan menguap dan uap yang terbentuk secara kontinu mengalir meninggalkan labu didih (reboiler) untuk kemudian diembunkan pada kondenser.<ref>Ratih; Atlway, Ali; Susianto, Susianto Permatasari. ''Pemodelan dan Simulasi Distilasi Batch Broth Fermentasi Tray Column dengan Serabut Wool''. ''Teknik Kimia''. 19 Juni 2016. Vol. 9 (2). hlm. 44-49. doi:doi:10.33005/jurnal_tekkim.v9i2.544. ISSN 2655-8394.</ref> | ||
Pada skala laboratorium, panas disuplai melalui pemanas mantel atau ''waterbath''. Sedangkan dalam skala industri, panas disuplai melalui kumparan atau dinding bejana hingga mencapat titik didihnya. Ciri utama dari operasi ini adalah tidak adanya aliran umpan masuk selama proses operasi penyulingan berjalan. Selama berjalannya waktu, terjadi perubahan komposisi dan suhu. Uap akan mengalir meninggalkan reboiler saat berada dalam kesetimbangan dengan cairannya, tetapi karena didalam uap mengandung lebih banyak senyawa yang volatil, komposisi cairan dan uap tidak konstan. Dalam industri, penyulingan tumpak digunakan dalam pemisahan [[Minyak bumi|minyak mentah]] menjadi bagian-bagian khusus seperti transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Selain itu, distilasi tumpak juga digunakan dalam bidang farmasi dan [[minyak asiri]] seperti pemisahan minyak [[kemiri]] dari biji kemiri hingga pembuatan bahan bakar nabati hasil [[fermentasi]] yang prosesnya menggunakan operasi penyulingan tumpak multikomponen. | Pada skala laboratorium, panas disuplai melalui pemanas mantel atau ''waterbath''. Sedangkan dalam skala industri, panas disuplai melalui kumparan atau dinding bejana hingga mencapat titik didihnya. Ciri utama dari operasi ini adalah tidak adanya aliran umpan masuk selama proses operasi penyulingan berjalan. Selama berjalannya waktu, terjadi perubahan komposisi dan suhu. Uap akan mengalir meninggalkan reboiler saat berada dalam kesetimbangan dengan cairannya, tetapi karena didalam uap mengandung lebih banyak senyawa yang volatil, komposisi cairan dan uap tidak konstan. Dalam industri, penyulingan tumpak digunakan dalam pemisahan [[Minyak bumi|minyak mentah]] menjadi bagian-bagian khusus seperti transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Selain itu, distilasi tumpak juga digunakan dalam bidang farmasi dan [[minyak asiri]] seperti pemisahan minyak [[kemiri]] dari biji kemiri hingga pembuatan bahan bakar nabati hasil [[fermentasi]] yang prosesnya menggunakan operasi penyulingan tumpak multikomponen.<ref>Herry Santosa. ''“Distilasi Multistage dengan Sistem Refluk”''. ''Operasi Teknik Kimia Distilasi,Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro''. 2002.</ref> | ||
==Rumus== | ==Rumus== | ||
Persamaan yang menggambarkan proses penyulingan tumpak adalah sebagai berikut : | Persamaan yang menggambarkan proses penyulingan tumpak adalah sebagai berikut :<ref>P.W., Atkins,. ''Kimia Fisika Jilid II''. ''Erlangga, Jakarta''. 1999.</ref> | ||
- Neraca Massa Total | - Neraca Massa Total | ||
| Baris 38: | Baris 38: | ||
xi = Fraksi mol komponen i pada larutan bottom, mol/mol | xi = Fraksi mol komponen i pada larutan bottom, mol/mol | ||
==Kesetimbangan fase == | ==Kesetimbangan fase<ref>; Baimaganbetova, Zh.T.; Bekmurzaeva, R.A.; Nurgaliyeva, S.A. Abilkhairova, Zh.A. ''Bulletin of the Karaganda University''. ''Pedagogy series''. 29-12-2021. Vol. 104 (4). hlm. 101-107. doi:doi:10.31489/2021ped4/101-107. ISSN 2518-7937.</ref> == | ||
Kesetimbangan fase terjadi apabila sistem terdiri atas lebih dari satu fase. Keadaan setimbang dapat dicapai ketika suhu dan tekanan di dalam sistem tidak lagi mengalami perubahan sehingga nilainya seragam di seluruh sistem. Pada keadaan setimbang, fraksi mol suatu komponen dalam campuran akan memiliki nilai tertentu. Terdapat beberapa syarat yang menentukan apakah suatu sistem berada dalam keadaan setimbang, antara lain: | Kesetimbangan fase terjadi apabila sistem terdiri atas lebih dari satu fase. Keadaan setimbang dapat dicapai ketika suhu dan tekanan di dalam sistem tidak lagi mengalami perubahan sehingga nilainya seragam di seluruh sistem. Pada keadaan setimbang, fraksi mol suatu komponen dalam campuran akan memiliki nilai tertentu. Terdapat beberapa syarat yang menentukan apakah suatu sistem berada dalam keadaan setimbang, antara lain: | ||
| Baris 53: | Baris 53: | ||
Kesetimbangan uap-cair merupakan kondisi dimana fase uap berkesetimbangan dengan fasa cairnya. Kesetimbangan uap-cair dapat dianalisis dan diprediksi dengan persamaan termodinamika. Pada kondisi yang belum disediakan dalam eksperimen, perlu dilakukan ekstrapolasi dan interpolasi. Dalam wadah tertutup untuk sistem fase uap-cair akan terbentuk paling sedikit dua fase pada keadaan setimbang. | Kesetimbangan uap-cair merupakan kondisi dimana fase uap berkesetimbangan dengan fasa cairnya. Kesetimbangan uap-cair dapat dianalisis dan diprediksi dengan persamaan termodinamika. Pada kondisi yang belum disediakan dalam eksperimen, perlu dilakukan ekstrapolasi dan interpolasi. Dalam wadah tertutup untuk sistem fase uap-cair akan terbentuk paling sedikit dua fase pada keadaan setimbang. | ||
==Larutan ideal dan non-ideal == | ==Larutan ideal dan non-ideal<ref>E Kurniati. ''Kesetimbangan Uap Cair Sistem Binair Pada Distilasi Batch N-Hexane-Air,''. ''UPN Press, Surabaya''. 2011.</ref> == | ||
Larutan ideal merupakan larutan yang memenuhi hukum Raoult. Hal ini disebabkan karena gaya antar molekul seluruh komponen-komponennya sama, misalnya zat A dan zat B, gaya antar partikel adalah sama. Fenomena tersebut menyebabkan volume larutan sama dengan jumlah volume pelarut dan terlarut yang dicampur. Selain itu, pada proses pencampuran antara zat pelarut dan terlarutnya tidak menghasillkan [[entalpi]]. | Larutan ideal merupakan larutan yang memenuhi hukum Raoult. Hal ini disebabkan karena gaya antar molekul seluruh komponen-komponennya sama, misalnya zat A dan zat B, gaya antar partikel adalah sama. Fenomena tersebut menyebabkan volume larutan sama dengan jumlah volume pelarut dan terlarut yang dicampur. Selain itu, pada proses pencampuran antara zat pelarut dan terlarutnya tidak menghasillkan [[entalpi]]. | ||
| Baris 60: | Baris 60: | ||
Pada kenyataannya, tidak ada larutan yang benar-benar ideal. Oleh karena itu, diperlukan fugasitas untuk menghubungkan penyimpangan suatu larutan dari kondisi idealnya. Perbandingan antara fugasitas dalam keadaan tertentu terhadap fugasitas dalam keadaan standar pada [[suhu]] yang sama disebut dengan aktivitas. [[Koefisien aktivitas]] (γ) merupakan bilangan yang menunjukkan penyimpangan pada suatu larutan dan digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi proses sesungguhnya dari perilaku ideal. Apabila suatu larutan bersifat ideal, maka γ = 1. | Pada kenyataannya, tidak ada larutan yang benar-benar ideal. Oleh karena itu, diperlukan fugasitas untuk menghubungkan penyimpangan suatu larutan dari kondisi idealnya. Perbandingan antara fugasitas dalam keadaan tertentu terhadap fugasitas dalam keadaan standar pada [[suhu]] yang sama disebut dengan aktivitas. [[Koefisien aktivitas]] (γ) merupakan bilangan yang menunjukkan penyimpangan pada suatu larutan dan digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi proses sesungguhnya dari perilaku ideal. Apabila suatu larutan bersifat ideal, maka γ = 1. | ||
==Model koefisien aktivitas == | ==Model koefisien aktivitas<ref>Yustia Wulandari Agung Rasmito. ''The Use Of Wilson Equation, NRTL, and Uniquac In Predicting VLE Of Ternary Systems''. ''Jurnal Teknik Kimia''. April 2010. Vol. 4 (2). hlm. 305-306.</ref> == | ||
===Persamaan Wilson=== | ===Persamaan Wilson=== | ||
[[Persamaan Wilson]] menyatakan nilai kesetimbangan uap-cair pada campuran dua zat atau lebih dengan cara menurunkan persamaan ''excess'' energi ''gibbs''. Persamaan Wilson dapat digunakan untuk persamaan non-ideal tetapi tidak dapat digunakan pada sistem cair-cair. | [[Persamaan Wilson]] menyatakan nilai kesetimbangan uap-cair pada campuran dua zat atau lebih dengan cara menurunkan persamaan ''excess'' energi ''gibbs''. Persamaan Wilson dapat digunakan untuk persamaan non-ideal tetapi tidak dapat digunakan pada sistem cair-cair. | ||
| Baris 116: | Baris 115: | ||
==Lihat pula== | ==Lihat pula== | ||
* [[Penyulingan azeotropik]] | * [[Penyulingan azeotropik]] | ||
* [[Penyulingan ekstraktif]] | * [[Penyulingan ekstraktif]] | ||
| Baris 123: | Baris 121: | ||
* [[Penyulingan vakum]] | * [[Penyulingan vakum]] | ||
* [[Heteroazeotropi]] | * [[Heteroazeotropi]] | ||
==Bacaan lebih lanjut== | ==Bacaan lebih lanjut== | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* Hilmen Eva-Katrine, ''Separation of Azeotropic Mixtures:Tools for Analysis and Studies on Batch Distillation Operation'', Thesis, Norwegian University of Science and Technology Department of Chemical Engineering, (2000). | * Hilmen Eva-Katrine, ''Separation of Azeotropic Mixtures:Tools for Analysis and Studies on Batch Distillation Operation'', Thesis, Norwegian University of Science and Technology Department of Chemical Engineering, (2000). | ||
* | * | ||
| Baris 137: | Baris 132: | ||
*[http://petrochemical.gronerth.com/linkus.php?link=22 Program simulasi penyulingan tumpak] untuk senyawa-senyawa hidrokarbon. | *[http://petrochemical.gronerth.com/linkus.php?link=22 Program simulasi penyulingan tumpak] untuk senyawa-senyawa hidrokarbon. | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penyulingan+tumpak&oldid=29465084 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29465084 (2026-07-16T09:54:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penyulingan+tumpak&oldid=29465084 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29465084 (2026-07-16T09:54:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 13.57
Penyulingan tumpak atau distilasi tumpak () adalah salah satu jenis penyulingan atau pemisahan suatu campuran antara dua cairan berdasarkan titik didihnya. Dalam skala laboratorium, proses pemisahan secara penyulingan dapat dilakukan dalam sebuah kolom pengepakan yang dioperasikan secara tumpak. Sedangkan dalam skala industri dapat dilakukan dengan kolom pengepakan maupun tray. Dalam operasi penyulingan tumpak, sejumlah massa larutan dimasukkan ke dalam labu didih dan dipanaskan. Selama proses dilakukan, larutan akan menguap dan uap yang terbentuk secara kontinu mengalir meninggalkan labu didih (reboiler) untuk kemudian diembunkan pada kondenser.[1]
Pada skala laboratorium, panas disuplai melalui pemanas mantel atau waterbath. Sedangkan dalam skala industri, panas disuplai melalui kumparan atau dinding bejana hingga mencapat titik didihnya. Ciri utama dari operasi ini adalah tidak adanya aliran umpan masuk selama proses operasi penyulingan berjalan. Selama berjalannya waktu, terjadi perubahan komposisi dan suhu. Uap akan mengalir meninggalkan reboiler saat berada dalam kesetimbangan dengan cairannya, tetapi karena didalam uap mengandung lebih banyak senyawa yang volatil, komposisi cairan dan uap tidak konstan. Dalam industri, penyulingan tumpak digunakan dalam pemisahan minyak mentah menjadi bagian-bagian khusus seperti transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Selain itu, distilasi tumpak juga digunakan dalam bidang farmasi dan minyak asiri seperti pemisahan minyak kemiri dari biji kemiri hingga pembuatan bahan bakar nabati hasil fermentasi yang prosesnya menggunakan operasi penyulingan tumpak multikomponen.[2]
Rumus
Persamaan yang menggambarkan proses penyulingan tumpak adalah sebagai berikut :[3]
- Neraca Massa Total
dengan,
ROMI = Rate of Mass Input
ROMO = Rate of Mass Output
ROMA = Rate of Mass Accumulation
dengan,
- Neraca Massa Komponen
dengan,
D = Laju aliran produk sulingan, mol/jam
W = Mol total larutan bottom, mol
yi = Fraksi mol komponen i pada distilat, mol/mol
xi = Fraksi mol komponen i pada larutan bottom, mol/mol
Kesetimbangan fase[4]
Kesetimbangan fase terjadi apabila sistem terdiri atas lebih dari satu fase. Keadaan setimbang dapat dicapai ketika suhu dan tekanan di dalam sistem tidak lagi mengalami perubahan sehingga nilainya seragam di seluruh sistem. Pada keadaan setimbang, fraksi mol suatu komponen dalam campuran akan memiliki nilai tertentu. Terdapat beberapa syarat yang menentukan apakah suatu sistem berada dalam keadaan setimbang, antara lain:
1. Suhu dan tekanan sistem tetap.
2. Nilai fungsi Gibbs total bernilai minimum.
3. Potensial kimia pada setiap komponen di setiap fase seragam
Sistem biner
Larutan merupakan campuran homogen yang memiliki komposisi seragam di seluruh titik volumenya. Suatu larutan dapat terdiri dari beberapa macam zat terlarut dan satu pelarut. Apabila larutan terdiri dari padatan atau gas dalam cairan, maka pelarut umumnya digunakan untuk mendefinisikan cairan. Pelarut adalah zat yang memiliki jumlah lebih banyak di dalam campuran, sedangkan zat terlarut berjumlah lebih sedikit. Larutan yang terdiri atas dua komponen dapat disebut dengan larutan biner. Pada realitasnya, banyak larutan biner yang tidak sesuai dengan Hukum Raoult.
Sistem kesetimbangan uap-cair
Kesetimbangan uap-cair merupakan kondisi dimana fase uap berkesetimbangan dengan fasa cairnya. Kesetimbangan uap-cair dapat dianalisis dan diprediksi dengan persamaan termodinamika. Pada kondisi yang belum disediakan dalam eksperimen, perlu dilakukan ekstrapolasi dan interpolasi. Dalam wadah tertutup untuk sistem fase uap-cair akan terbentuk paling sedikit dua fase pada keadaan setimbang.
Larutan ideal dan non-ideal[5]
Larutan ideal merupakan larutan yang memenuhi hukum Raoult. Hal ini disebabkan karena gaya antar molekul seluruh komponen-komponennya sama, misalnya zat A dan zat B, gaya antar partikel adalah sama. Fenomena tersebut menyebabkan volume larutan sama dengan jumlah volume pelarut dan terlarut yang dicampur. Selain itu, pada proses pencampuran antara zat pelarut dan terlarutnya tidak menghasillkan entalpi.
Larutan nonideal merupakan larutan yang menyimpang dari hukum Raoult karena seluruh gaya antar molekulnya harus dipertimbangkan ke dalam perhitungan. Hal ini mengakibatkan adanya beda volume pada saat pencampuran, artinya penjumlahan volume zat terlarut dengan zat pelarut tidak sama dengan volume larutannya. Selain itu, pada saat pencampuran menghasilkan efek kalor atau entalpi.
Pada kenyataannya, tidak ada larutan yang benar-benar ideal. Oleh karena itu, diperlukan fugasitas untuk menghubungkan penyimpangan suatu larutan dari kondisi idealnya. Perbandingan antara fugasitas dalam keadaan tertentu terhadap fugasitas dalam keadaan standar pada suhu yang sama disebut dengan aktivitas. Koefisien aktivitas (γ) merupakan bilangan yang menunjukkan penyimpangan pada suatu larutan dan digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi proses sesungguhnya dari perilaku ideal. Apabila suatu larutan bersifat ideal, maka γ = 1.
Model koefisien aktivitas[6]
Persamaan Wilson
Persamaan Wilson menyatakan nilai kesetimbangan uap-cair pada campuran dua zat atau lebih dengan cara menurunkan persamaan excess energi gibbs. Persamaan Wilson dapat digunakan untuk persamaan non-ideal tetapi tidak dapat digunakan pada sistem cair-cair.
Seperti persamaan Margules dan Van Laar, persamaan ini menggunakan dua parameter untuk sistem biner dan
Rumus yang digunakan :
Persamaan tersebut dapat dikembangan dari persamaan umum koefisien aktivitas:
Persamaan NRTL
Persamaan NRTL (nonrandom two-liquid) menyatakan kesetimbangan uap-cair dan cair-cair baik pada campuran dua zat atau lebih. Kelebihan dari persamaan ini adalah bisa digunakan untuk kesetimbangan uap cair, cair-cair, serta uap cair-cair. Sedangkan kekurangan dari persamaan ini adalah memiliki tiga parameter yang digunakan untuk setiap pasangan komponennya.
dengan,
Persamaan koefisien aktivitas untuk sistem biner dan multikomponen lain dapat diturunkan dari persamaan dasarnya:
Persamaan TPM
Persamaan ini menyatakan excess Gibss energi dari campuran cairan. Kelebihan dari persamaan ini adalah mudah digunakan karena tidak memerlukan banyak basis perhitungan. Sedangkan kekurangan dari persamaan ini adalah memiliki keakuratan yang masih terbilang rendah dalam menyatakan kondisi campuran dua zat (biner).
Lihat pula
- Penyulingan azeotropik
- Penyulingan ekstraktif
- Penyulingan fraksional
- Penyulingan uap
- Penyulingan vakum
- Heteroazeotropi
Bacaan lebih lanjut
- Hilmen Eva-Katrine, Separation of Azeotropic Mixtures:Tools for Analysis and Studies on Batch Distillation Operation, Thesis, Norwegian University of Science and Technology Department of Chemical Engineering, (2000).
Pranala luar
- Program simulasi penyulingan tumpak untuk senyawa-senyawa hidrokarbon.
Referensi
- ↑ Ratih; Atlway, Ali; Susianto, Susianto Permatasari. Pemodelan dan Simulasi Distilasi Batch Broth Fermentasi Tray Column dengan Serabut Wool. Teknik Kimia. 19 Juni 2016. Vol. 9 (2). hlm. 44-49. doi:doi:10.33005/jurnal_tekkim.v9i2.544. ISSN 2655-8394.
- ↑ Herry Santosa. “Distilasi Multistage dengan Sistem Refluk”. Operasi Teknik Kimia Distilasi,Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro. 2002.
- ↑ P.W., Atkins,. Kimia Fisika Jilid II. Erlangga, Jakarta. 1999.
- ↑ ; Baimaganbetova, Zh.T.; Bekmurzaeva, R.A.; Nurgaliyeva, S.A. Abilkhairova, Zh.A. Bulletin of the Karaganda University. Pedagogy series. 29-12-2021. Vol. 104 (4). hlm. 101-107. doi:doi:10.31489/2021ped4/101-107. ISSN 2518-7937.
- ↑ E Kurniati. Kesetimbangan Uap Cair Sistem Binair Pada Distilasi Batch N-Hexane-Air,. UPN Press, Surabaya. 2011.
- ↑ Yustia Wulandari Agung Rasmito. The Use Of Wilson Equation, NRTL, and Uniquac In Predicting VLE Of Ternary Systems. Jurnal Teknik Kimia. April 2010. Vol. 4 (2). hlm. 305-306.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29465084 (2026-07-16T09:54:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.