Wanamina: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29425838; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Wanamina''' () adalah sistem [[tambak|pertambakan]] teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha [[perikanan]] dengan penanaman [[bakau]], yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. | [[File:Mahakam_Delta_Map.png|thumb|right|280px|Mahakam Delta Map]] | ||
'''Wanamina'''<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wanamina&oldid=29425838 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> () adalah sistem [[tambak|pertambakan]] teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha [[perikanan]] dengan penanaman [[bakau]], yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.<ref>Carolus P. Paruntu. [https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lppmsains/article/view/15212 Mangrove Dan Pengembangan Silvofishery Di Wilayah Pesisir Desa Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan Sebagai Iptek Bagi Masrakat]. ''Jurnal LPPMBidang Sains dan Teknologi''. 2016. Vol. 3 (2). hlm. 1–25. doi:10.35801/jlppmsains.3.2.2016.15212.</ref> | |||
== Latar belakang == | == Latar belakang == | ||
Di [[Asia Tenggara]], penerapan sistem wanamina semakin giat untuk digalakkan, hal ini disebabkan pesatnya [[deforestasi|penebangan hutan]] ekosistem bakau. Kajian terbaru mengungkapkan bahwa hutan bakau [[ekosistem]] telah terdegradasi secara signifikan karena Perubahan Penggunaan Lahan dan Penutupan (LUCC) belakangan ini. Bahkan antara tahun 2000-2012, tutupan [[hutan bakau]] global telah berkurang 164.600 ha (1,97%) dengan perkiraan tingkat kerugian global 13.700 ha atau 0,16% per tahun. Kegiatan antropogenik yang sering menjadi penyebabnya deforestasi adalah konversi penggunaan lahan menjadi [[pertanian]] dan [[Budi daya perairan|akuakultur]] (yang paling umum adalah [[tambak udang]] dan [[bandeng]]). Sejak tahun 2000 hingga 2012, akuakultur adalah pendorong utama perubahan ekosistem bakau. | Di [[Asia Tenggara]], penerapan sistem wanamina semakin giat untuk digalakkan, hal ini disebabkan pesatnya [[deforestasi|penebangan hutan]] ekosistem bakau. Kajian terbaru mengungkapkan bahwa hutan bakau [[ekosistem]] telah terdegradasi secara signifikan karena Perubahan Penggunaan Lahan dan Penutupan (LUCC) belakangan ini. Bahkan antara tahun 2000-2012, tutupan [[hutan bakau]] global telah berkurang 164.600 ha (1,97%) dengan perkiraan tingkat kerugian global 13.700 ha atau 0,16% per tahun. Kegiatan antropogenik yang sering menjadi penyebabnya deforestasi adalah konversi penggunaan lahan menjadi [[pertanian]] dan [[Budi daya perairan|akuakultur]] (yang paling umum adalah [[tambak udang]] dan [[bandeng]]). Sejak tahun 2000 hingga 2012, akuakultur adalah pendorong utama perubahan ekosistem bakau.<ref>Samuel Gading. [https://kaltimkece.id/warta/lingkungan/mengenal-silvofishery-metode-menyelamatkan-delta-mahakam-yang-hampir-lenyap-karena-tambak-udang Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang]. ''Kaltim Kece''.</ref><ref>Bambang Irawan. [https://news.unair.ac.id/2019/10/30/penyebab-deforestasi-hutan-bakau-di-asia-tenggara/?lang=id Penyebab Deforestasi Hutan Bakau di Asia Tenggara]. ''Unair News''. 2019-10-30.</ref> | ||
Maka dari itu, terciptalah gagasan budi daya perikanan dengan sistem wanamina di mana penerapannya mengurangi dampak terhadap lingkungan dengan usaha pembudidayaan bakau yang berkesinambungan dengan pembudidayaan perikanan. | Maka dari itu, terciptalah gagasan budi daya perikanan dengan sistem wanamina di mana penerapannya mengurangi dampak terhadap lingkungan dengan usaha pembudidayaan bakau yang berkesinambungan dengan pembudidayaan perikanan.<ref>Muhamad Iqbal. [https://lindungihutan.com/blog/sistem-pertambakan-silvofishery/ Mengenal Silvofishery atau Wanamina, Solusi Tambak Perikanan yang Aman bagi Kawasan Mangrove (2023)]. 2023-01-28.</ref> | ||
== Potensi budi daya == | == Potensi budi daya == | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
== Konsep == | == Konsep == | ||
=== Konsep lama === | === Konsep lama === | ||
Konsep lama disebut ''Low External Input Sustainable Aquaculture'' (LEISA) yang menghasikan potensi rendah baik ekonomi maupun ekologi. Pada konsep lama, bakau dibiarkan tumbuh di pematang tambak sehingga menghambat pertumbuhan budi daya tambak dikarenakan tajuk-tajuknya akan menghalangi cahaya masuk ke dasar air yang membuat asupan O2 ke dalamnya sedikit, sehingga kemampuan bakau dalam menyerap karbon menjadi lemah. | Konsep lama disebut ''Low External Input Sustainable Aquaculture'' (LEISA) yang menghasikan potensi rendah baik ekonomi maupun ekologi. Pada konsep lama, bakau dibiarkan tumbuh di pematang tambak sehingga menghambat pertumbuhan budi daya tambak dikarenakan tajuk-tajuknya akan menghalangi cahaya masuk ke dasar air yang membuat asupan O2 ke dalamnya sedikit, sehingga kemampuan bakau dalam menyerap karbon menjadi lemah.<ref>Rama Maulana. [https://www.forestdigest.com/detail/1510/apa-itu-wanamina Konsep Baru Wanamina]. ''Forest Digest''. 25 Desember 2021.</ref> | ||
Akibat oksigen minim, serasah bakau yang jatuh ke dasar tambak tidak terurai dengan sempurna sehingga berpotensi menjadi racun bagi mahluk hidup air karena mengandung tanin. Selain itu, dalam konsep lama, bakau tak ditata (ditanam secara tidak beraturan) sehingga mempersempit ruang gerak satwa di bawahnya, bahkan menyulitkan pergantian air. | Akibat oksigen minim, serasah bakau yang jatuh ke dasar tambak tidak terurai dengan sempurna sehingga berpotensi menjadi racun bagi mahluk hidup air karena mengandung tanin. Selain itu, dalam konsep lama, bakau tak ditata (ditanam secara tidak beraturan) sehingga mempersempit ruang gerak satwa di bawahnya, bahkan menyulitkan pergantian air.<ref>Rama Maulana. [https://www.forestdigest.com/detail/1510/apa-itu-wanamina Konsep Baru Wanamina]. ''Forest Digest''. 25 Desember 2021.</ref> | ||
=== Konsep baru === | === Konsep baru === | ||
Konsep baru disebut sistem ''Integrated Multi Trophic Aquaculture'' (IMTA) yang mengandalkan [[Pertanaman campuran|polikultur]] (budi daya beragam) sehingga jasa ekosistemnya lebih tinggi. Dengan jasa ekosistem wanamina polikultur, budi daya tambak juga akan menghasilkan ragam ikan sehingga potensi ekonominya juga meningkat. Dalam konsep baru, bakau diatur tempat tumbuhnya sehingga ada ruang bagi proses fotosintesis yang cukup. Bakau dibuat seperti tanaman pagar yang dapat mencegah daerah pesisir dari abrasi. Dengan cara ini juga tersedia ruang untuk endapan sehingga ekosistem bakau terjaga kesuburannya. | Konsep baru disebut sistem ''Integrated Multi Trophic Aquaculture'' (IMTA) yang mengandalkan [[Pertanaman campuran|polikultur]] (budi daya beragam) sehingga jasa ekosistemnya lebih tinggi. Dengan jasa ekosistem wanamina polikultur, budi daya tambak juga akan menghasilkan ragam ikan sehingga potensi ekonominya juga meningkat. Dalam konsep baru, bakau diatur tempat tumbuhnya sehingga ada ruang bagi proses fotosintesis yang cukup. Bakau dibuat seperti tanaman pagar yang dapat mencegah daerah pesisir dari abrasi. Dengan cara ini juga tersedia ruang untuk endapan sehingga ekosistem bakau terjaga kesuburannya.<ref>Rama Maulana. [https://www.forestdigest.com/detail/1510/apa-itu-wanamina Konsep Baru Wanamina]. ''Forest Digest''. 25 Desember 2021.</ref> | ||
== Metode == | == Metode == | ||
=== Empang parit === | === Empang parit === | ||
Sistem empang parit mampu mereforestasi lahan hingga 80 persen dari luas tambak. Bakau ditanam dengan jarak 1 x 1 meter antarpohon. Lebar kanal pemeliharaan adalah 3-5 meter dengan kedalaman sekitar 40-80 sentimeter dari muka pelataran. Dengan rancangan dasar tersebut, berbagai jenis ikan seperti bandeng, kerapu lumpur, kakap putih, baronang, hingga kepiting bakau, dapat dipelihara secara intensif di dalam kanal. | Sistem empang parit mampu mereforestasi lahan hingga 80 persen dari luas tambak. Bakau ditanam dengan jarak 1 x 1 meter antarpohon. Lebar kanal pemeliharaan adalah 3-5 meter dengan kedalaman sekitar 40-80 sentimeter dari muka pelataran. Dengan rancangan dasar tersebut, berbagai jenis ikan seperti bandeng, kerapu lumpur, kakap putih, baronang, hingga kepiting bakau, dapat dipelihara secara intensif di dalam kanal.<ref>Samuel Gading. [https://kaltimkece.id/warta/lingkungan/mengenal-silvofishery-metode-menyelamatkan-delta-mahakam-yang-hampir-lenyap-karena-tambak-udang Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang]. ''Kaltim Kece''.</ref> | ||
Pola ini lahan bakau dan empang berada dalam satu hamparan dan pengelolaan air diatur dengan satu buah pintu air. Keuntungan dari penerapan pola ini adalah bentuknya yang sederhana, sehingga biaya rekonstruksinya relatif lebih murah. Kelemahannya, karena letak hutan dan empang berada dalam satu hamparan, kemungkinan hama pengganggu ikan cukup tinggi, serasah dan dedaunan yang jatuh ke empang dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan ikan. | Pola ini lahan bakau dan empang berada dalam satu hamparan dan pengelolaan air diatur dengan satu buah pintu air. Keuntungan dari penerapan pola ini adalah bentuknya yang sederhana, sehingga biaya rekonstruksinya relatif lebih murah. Kelemahannya, karena letak hutan dan empang berada dalam satu hamparan, kemungkinan hama pengganggu ikan cukup tinggi, serasah dan dedaunan yang jatuh ke empang dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan ikan. | ||
| Baris 28: | Baris 28: | ||
Fungsi hutan sebagai penyedia pakan alami tak terpenuhi dengan baik karena pertumbuhan ganggang dan plankton kurang, akibat sinar matahari tak dapat mencapai permukaan empang. Namun, hal ini bisa diatasi dengan dilakukan penjarangan atau pengaturan jarak tanam yang lebih lebar. | Fungsi hutan sebagai penyedia pakan alami tak terpenuhi dengan baik karena pertumbuhan ganggang dan plankton kurang, akibat sinar matahari tak dapat mencapai permukaan empang. Namun, hal ini bisa diatasi dengan dilakukan penjarangan atau pengaturan jarak tanam yang lebih lebar. | ||
Dengan menggunakan sistem empang parit ini, maka lahan yang akan direforestasi dapat mencapai sekitar 80% dari luasan tambak. Penanaman bakau dapat dilakukan dengan jarak tanam 1 x 1 meter antar individu bakau (Bengen 2000 dalam Miasto,2010). Namun demikian, menurut Fitzgerald (1997 dalam Miasto,2010), kepadatan bakau yang ditanam dapat bervariasi antara 0.17-2.5 pohon/m². | Dengan menggunakan sistem empang parit ini, maka lahan yang akan direforestasi dapat mencapai sekitar 80% dari luasan tambak. Penanaman bakau dapat dilakukan dengan jarak tanam 1 x 1 meter antar individu bakau (Bengen 2000 dalam Miasto,2010). Namun demikian, menurut Fitzgerald (1997 dalam Miasto,2010), kepadatan bakau yang ditanam dapat bervariasi antara 0.17-2.5 pohon/m².<ref>Adnan Ardhana. [https://foreibanjarbaru.or.id/archives/1144 Silvofishery Sebagai Pilihan strategi Rehabilitasi Mangrove – Oleh Adnan Ardhana – BPSILHK Banjarbaru].</ref> | ||
=== Empang parit yang disempurnakan === | === Empang parit yang disempurnakan === | ||
| Baris 34: | Baris 34: | ||
=== Komplangan === | === Komplangan === | ||
Rancangan tambak dibuat berselang-seling atau bersebelahan dengan lahan yang ditanami bakau. Lahan dibuat terpisah dalam dua hamparan yang diatur saluran air dengan dua pintu. Luas arealnya rata-rata 2-4 hektare. Model ini merupakan metode budi daya air payau dengan input rendah. Metode ini mampu mereduksi dampak negatif terhadap ekosistem bakau. | Rancangan tambak dibuat berselang-seling atau bersebelahan dengan lahan yang ditanami bakau. Lahan dibuat terpisah dalam dua hamparan yang diatur saluran air dengan dua pintu. Luas arealnya rata-rata 2-4 hektare. Model ini merupakan metode budi daya air payau dengan input rendah. Metode ini mampu mereduksi dampak negatif terhadap ekosistem bakau.<ref>Samuel Gading. [https://kaltimkece.id/warta/lingkungan/mengenal-silvofishery-metode-menyelamatkan-delta-mahakam-yang-hampir-lenyap-karena-tambak-udang Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang]. ''Kaltim Kece''.</ref> | ||
Pada pola komplangan, areal pemeliharaan ikan dengan lahan hutan bakau terpisah oleh pematang dan dilengkapi dengan 2 buah pintu air masing-masing untuk pemasukan dan pengeluaran air. Pada lahan hutan terdapat pintu air pasang surut bebas. | Pada pola komplangan, areal pemeliharaan ikan dengan lahan hutan bakau terpisah oleh pematang dan dilengkapi dengan 2 buah pintu air masing-masing untuk pemasukan dan pengeluaran air. Pada lahan hutan terdapat pintu air pasang surut bebas. | ||
| Baris 41: | Baris 41: | ||
=== Jalur === | === Jalur === | ||
Model tambak ini sebenarnya sama seperti model empang parit, tapi ukuran tambaknya dibuat lebih besar, yaitu sekitar 3-5 meter dan kedalaman hingga 80 cm. | Model tambak ini sebenarnya sama seperti model empang parit, tapi ukuran tambaknya dibuat lebih besar, yaitu sekitar 3-5 meter dan kedalaman hingga 80 cm.<ref>Nadia Farah. [https://econusa.id/id/ecodefender/mengenal-wanamina/ Mengenal Wanamina: Pengintegrasian Budidaya Perikanan dan Pelestarian Mangrove]. ''EcoNusa''. 2021-11-05.</ref> | ||
=== Tanggul === | === Tanggul === | ||
Hutan bakau hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak wanamina jenis ini yang berkembang di [[Gresik, Gresik|kelurahan Gresik]] dan [[Kariangau, Balikpapan Barat, Balikpapan|Kariangau Kota Balikpapan]]. | Hutan bakau hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak wanamina jenis ini yang berkembang di [[Gresik, Gresik|kelurahan Gresik]] dan [[Kariangau, Balikpapan Barat, Balikpapan|Kariangau Kota Balikpapan]]. | ||
== Keunggulan == | == Keunggulan == | ||
# Bakau yang subur membawa dampak positif bagi biota air yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem di atasnya. | # Bakau yang subur membawa dampak positif bagi biota air yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem di atasnya. | ||
# Adanya penanaman/pemeliharaan bakau dapat meningkatkan daya dukung (''carrying capacity'') tambak, sehingga mampu menjaga mutu air. | # Adanya penanaman/pemeliharaan bakau dapat meningkatkan daya dukung (''carrying capacity'') tambak, sehingga mampu menjaga mutu air. | ||
# Sementara racun yang mengancam mahluk hidup akan terserap oleh akar bakau yang rakus pada logam berat lalu melepasnya menjadi zat dan gas yang bermanfaat bagi renik di sekitarnya. | # Sementara racun yang mengancam mahluk hidup akan terserap oleh akar bakau yang rakus pada logam berat lalu melepasnya menjadi zat dan gas yang bermanfaat bagi renik di sekitarnya. | ||
# Bakau merupakan tanaman dengan kemampuan menyerap dan menyimpan karbon yang kuat dan banyak | # Bakau merupakan tanaman dengan kemampuan menyerap dan menyimpan karbon yang kuat dan banyak | ||
# Tidak perlu memberi pakan ikan secara teratur, karena bakau telah memasok pakan alami. | # Tidak perlu memberi pakan ikan secara teratur, karena bakau telah memasok pakan alami. | ||
| Baris 56: | Baris 55: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wanamina&oldid=29425838 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29425838 (2026-07-06T13:57:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.03

Wanamina[1] () adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman bakau, yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.[2]
Latar belakang
Di Asia Tenggara, penerapan sistem wanamina semakin giat untuk digalakkan, hal ini disebabkan pesatnya penebangan hutan ekosistem bakau. Kajian terbaru mengungkapkan bahwa hutan bakau ekosistem telah terdegradasi secara signifikan karena Perubahan Penggunaan Lahan dan Penutupan (LUCC) belakangan ini. Bahkan antara tahun 2000-2012, tutupan hutan bakau global telah berkurang 164.600 ha (1,97%) dengan perkiraan tingkat kerugian global 13.700 ha atau 0,16% per tahun. Kegiatan antropogenik yang sering menjadi penyebabnya deforestasi adalah konversi penggunaan lahan menjadi pertanian dan akuakultur (yang paling umum adalah tambak udang dan bandeng). Sejak tahun 2000 hingga 2012, akuakultur adalah pendorong utama perubahan ekosistem bakau.[3][4]
Maka dari itu, terciptalah gagasan budi daya perikanan dengan sistem wanamina di mana penerapannya mengurangi dampak terhadap lingkungan dengan usaha pembudidayaan bakau yang berkesinambungan dengan pembudidayaan perikanan.[5]
Potensi budi daya
Hasil perikanan yang dapat dibudidayakan antara lain berbagai udang (udang lumpur, udang windu, udang galah, udang kaki putih), krustasea selain udang juga ada seperti udang barong dan kepiting bakau, lalu ada ikan tambakan seperti ikan kembung, kerapu, bandeng, patin, kakap, dan moluska air (tidak umum dibudidayakan) seperti kerang, teripang, dan landak laut, serta rumput laut.
Konsep
Konsep lama
Konsep lama disebut Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA) yang menghasikan potensi rendah baik ekonomi maupun ekologi. Pada konsep lama, bakau dibiarkan tumbuh di pematang tambak sehingga menghambat pertumbuhan budi daya tambak dikarenakan tajuk-tajuknya akan menghalangi cahaya masuk ke dasar air yang membuat asupan O2 ke dalamnya sedikit, sehingga kemampuan bakau dalam menyerap karbon menjadi lemah.[6]
Akibat oksigen minim, serasah bakau yang jatuh ke dasar tambak tidak terurai dengan sempurna sehingga berpotensi menjadi racun bagi mahluk hidup air karena mengandung tanin. Selain itu, dalam konsep lama, bakau tak ditata (ditanam secara tidak beraturan) sehingga mempersempit ruang gerak satwa di bawahnya, bahkan menyulitkan pergantian air.[7]
Konsep baru
Konsep baru disebut sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) yang mengandalkan polikultur (budi daya beragam) sehingga jasa ekosistemnya lebih tinggi. Dengan jasa ekosistem wanamina polikultur, budi daya tambak juga akan menghasilkan ragam ikan sehingga potensi ekonominya juga meningkat. Dalam konsep baru, bakau diatur tempat tumbuhnya sehingga ada ruang bagi proses fotosintesis yang cukup. Bakau dibuat seperti tanaman pagar yang dapat mencegah daerah pesisir dari abrasi. Dengan cara ini juga tersedia ruang untuk endapan sehingga ekosistem bakau terjaga kesuburannya.[8]
Metode
Empang parit
Sistem empang parit mampu mereforestasi lahan hingga 80 persen dari luas tambak. Bakau ditanam dengan jarak 1 x 1 meter antarpohon. Lebar kanal pemeliharaan adalah 3-5 meter dengan kedalaman sekitar 40-80 sentimeter dari muka pelataran. Dengan rancangan dasar tersebut, berbagai jenis ikan seperti bandeng, kerapu lumpur, kakap putih, baronang, hingga kepiting bakau, dapat dipelihara secara intensif di dalam kanal.[9]
Pola ini lahan bakau dan empang berada dalam satu hamparan dan pengelolaan air diatur dengan satu buah pintu air. Keuntungan dari penerapan pola ini adalah bentuknya yang sederhana, sehingga biaya rekonstruksinya relatif lebih murah. Kelemahannya, karena letak hutan dan empang berada dalam satu hamparan, kemungkinan hama pengganggu ikan cukup tinggi, serasah dan dedaunan yang jatuh ke empang dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan ikan.
Fungsi hutan sebagai penyedia pakan alami tak terpenuhi dengan baik karena pertumbuhan ganggang dan plankton kurang, akibat sinar matahari tak dapat mencapai permukaan empang. Namun, hal ini bisa diatasi dengan dilakukan penjarangan atau pengaturan jarak tanam yang lebih lebar.
Dengan menggunakan sistem empang parit ini, maka lahan yang akan direforestasi dapat mencapai sekitar 80% dari luasan tambak. Penanaman bakau dapat dilakukan dengan jarak tanam 1 x 1 meter antar individu bakau (Bengen 2000 dalam Miasto,2010). Namun demikian, menurut Fitzgerald (1997 dalam Miasto,2010), kepadatan bakau yang ditanam dapat bervariasi antara 0.17-2.5 pohon/m².[10]
Empang parit yang disempurnakan
Pola ini merupakan pengembangan dari pola empang parit tradisional, perbedaannya terletak pada jumlah pintu air yaitu 2 buah untuk pemasukan dan 1 buah untuk pengeluaran, serta terdapatnya saluran air tersendiri untuk hutan. Pada pola ini biaya rekonstruksi khususnya untuk pembuatan pematang cukup besar, untuk itu pengerjaannya dapat dilakukan secara bertahap. Produktivitas empang lebih optimal, karena permasalahan seperti pola tradisional dapat dihilangkan. Hambatannya, lahan pemeliharaan ikan kurang terintegrasi dan luasnya terbatas.
Komplangan
Rancangan tambak dibuat berselang-seling atau bersebelahan dengan lahan yang ditanami bakau. Lahan dibuat terpisah dalam dua hamparan yang diatur saluran air dengan dua pintu. Luas arealnya rata-rata 2-4 hektare. Model ini merupakan metode budi daya air payau dengan input rendah. Metode ini mampu mereduksi dampak negatif terhadap ekosistem bakau.[11]
Pada pola komplangan, areal pemeliharaan ikan dengan lahan hutan bakau terpisah oleh pematang dan dilengkapi dengan 2 buah pintu air masing-masing untuk pemasukan dan pengeluaran air. Pada lahan hutan terdapat pintu air pasang surut bebas.
Keuntungan dari pola ini adalah bentuknya yang lebih terpadu, cukup memperoleh sinar matahari sehingga dapat digunakan untuk budi daya semi intensif.
Jalur
Model tambak ini sebenarnya sama seperti model empang parit, tapi ukuran tambaknya dibuat lebih besar, yaitu sekitar 3-5 meter dan kedalaman hingga 80 cm.[12]
Tanggul
Hutan bakau hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak wanamina jenis ini yang berkembang di kelurahan Gresik dan Kariangau Kota Balikpapan.
Keunggulan
- Bakau yang subur membawa dampak positif bagi biota air yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem di atasnya.
- Adanya penanaman/pemeliharaan bakau dapat meningkatkan daya dukung (carrying capacity) tambak, sehingga mampu menjaga mutu air.
- Sementara racun yang mengancam mahluk hidup akan terserap oleh akar bakau yang rakus pada logam berat lalu melepasnya menjadi zat dan gas yang bermanfaat bagi renik di sekitarnya.
- Bakau merupakan tanaman dengan kemampuan menyerap dan menyimpan karbon yang kuat dan banyak
- Tidak perlu memberi pakan ikan secara teratur, karena bakau telah memasok pakan alami.
- Bakau berperan baik sebagai tempat asuhan ikan.
- Tanaman bakau yang ada dalam tambak wanamina berfungsi sebagai penyaring hayati bagi buangan tambak. Hal ini bertujuan agar buangan tambak tidak melampaui kemampuan asimilasi lingkungan.
Referensi
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Carolus P. Paruntu. Mangrove Dan Pengembangan Silvofishery Di Wilayah Pesisir Desa Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan Sebagai Iptek Bagi Masrakat. Jurnal LPPMBidang Sains dan Teknologi. 2016. Vol. 3 (2). hlm. 1–25. doi:10.35801/jlppmsains.3.2.2016.15212.
- ↑ Samuel Gading. Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang. Kaltim Kece.
- ↑ Bambang Irawan. Penyebab Deforestasi Hutan Bakau di Asia Tenggara. Unair News. 2019-10-30.
- ↑ Muhamad Iqbal. Mengenal Silvofishery atau Wanamina, Solusi Tambak Perikanan yang Aman bagi Kawasan Mangrove (2023). 2023-01-28.
- ↑ Rama Maulana. Konsep Baru Wanamina. Forest Digest. 25 Desember 2021.
- ↑ Rama Maulana. Konsep Baru Wanamina. Forest Digest. 25 Desember 2021.
- ↑ Rama Maulana. Konsep Baru Wanamina. Forest Digest. 25 Desember 2021.
- ↑ Samuel Gading. Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang. Kaltim Kece.
- ↑ Adnan Ardhana. Silvofishery Sebagai Pilihan strategi Rehabilitasi Mangrove – Oleh Adnan Ardhana – BPSILHK Banjarbaru.
- ↑ Samuel Gading. Mengenal Silvofishery, Metode Menyelamatkan Delta Mahakam yang Hampir Lenyap karena Tambak Udang. Kaltim Kece.
- ↑ Nadia Farah. Mengenal Wanamina: Pengintegrasian Budidaya Perikanan dan Pelestarian Mangrove. EcoNusa. 2021-11-05.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29425838 (2026-07-06T13:57:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.