Realisme pascaklasik: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 11767501; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Realisme pascaklasik''' adalah [[teori hubungan internasional]] yang dicetuskan oleh [[Stephen Brooks (akademisi)|Stephen Brooks]]. Teori ini mengacu pada jenis pemikiran realis yang bisa dibedakan dengan pemikiran neorealis [[Kenneth Waltz]]. Realisme pascaklasik mirip dengan [[realisme defensif]]. | '''Realisme pascaklasik''' adalah [[teori hubungan internasional]] yang dicetuskan oleh [[Stephen Brooks (akademisi)|Stephen Brooks]]. Teori ini mengacu pada jenis pemikiran realis yang bisa dibedakan dengan pemikiran neorealis [[Kenneth Waltz]].<ref>Brooks, Stephen, Dueling Realisms, International Organisation, Vol 51, 3, July 1997 pp.445-477</ref> Realisme pascaklasik mirip dengan [[realisme defensif]].<ref>Taliaferro, Jeffrey, Security Seeking Under Anarchy: Defensive Realism Revisited, International Security, Vol 25, 3, Winter 2001 pp.134</ref> | ||
Berbeda dengan [[neorealisme (hubungan internasional)|neorealisme]], realisme pascaklasik menyatakan bahwa negara tidak perlu selalu memaksimalkan keamanannya. Bukannya berfokus pada kemungkinan konflik, negara justru lebih mengutamakan kemungkinan pecahnya konflik. Karena itu, konflik bisa terjadi apabila keadaan saat itu membuat teknologi militer dan geografi unggul secara ofensif (menyerang) alih-alih defensif (bertahan). Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, negara akan mengabaikan keunggulan jangka pendek (pembangunan militer) demi meraih keunggulan jangka panjang (pertumbuhan ekonomi). Negara adalah pencari kekuasaan yang baru memaksimalkan keamanannya ketika keadaan sangat mengancam. Tidak seperti realisme klasik, realisme pascaklasik tidak berasumsi bahwa kekuasaan adalah tujuan akhir, justru kekuasaan memberikan negara fleksibilitas yang tinggi sehingga mampu mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh negara. | Berbeda dengan [[neorealisme (hubungan internasional)|neorealisme]], realisme pascaklasik menyatakan bahwa negara tidak perlu selalu memaksimalkan keamanannya. Bukannya berfokus pada kemungkinan konflik, negara justru lebih mengutamakan kemungkinan pecahnya konflik. Karena itu, konflik bisa terjadi apabila keadaan saat itu membuat teknologi militer dan geografi unggul secara ofensif (menyerang) alih-alih defensif (bertahan). Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, negara akan mengabaikan keunggulan jangka pendek (pembangunan militer) demi meraih keunggulan jangka panjang (pertumbuhan ekonomi). Negara adalah pencari kekuasaan yang baru memaksimalkan keamanannya ketika keadaan sangat mengancam. Tidak seperti realisme klasik, realisme pascaklasik tidak berasumsi bahwa kekuasaan adalah tujuan akhir, justru kekuasaan memberikan negara fleksibilitas yang tinggi sehingga mampu mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh negara. | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Realisme+pascaklasik&oldid=11767501 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 11767501 (2016-08-02T13:51:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Realisme+pascaklasik&oldid=11767501 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 11767501 (2016-08-02T13:51:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.13
Realisme pascaklasik adalah teori hubungan internasional yang dicetuskan oleh Stephen Brooks. Teori ini mengacu pada jenis pemikiran realis yang bisa dibedakan dengan pemikiran neorealis Kenneth Waltz.[1] Realisme pascaklasik mirip dengan realisme defensif.[2]
Berbeda dengan neorealisme, realisme pascaklasik menyatakan bahwa negara tidak perlu selalu memaksimalkan keamanannya. Bukannya berfokus pada kemungkinan konflik, negara justru lebih mengutamakan kemungkinan pecahnya konflik. Karena itu, konflik bisa terjadi apabila keadaan saat itu membuat teknologi militer dan geografi unggul secara ofensif (menyerang) alih-alih defensif (bertahan). Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, negara akan mengabaikan keunggulan jangka pendek (pembangunan militer) demi meraih keunggulan jangka panjang (pertumbuhan ekonomi). Negara adalah pencari kekuasaan yang baru memaksimalkan keamanannya ketika keadaan sangat mengancam. Tidak seperti realisme klasik, realisme pascaklasik tidak berasumsi bahwa kekuasaan adalah tujuan akhir, justru kekuasaan memberikan negara fleksibilitas yang tinggi sehingga mampu mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh negara.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 11767501 (2016-08-02T13:51:57Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.