Mappuka': Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29076134; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Mappuka'''' adalah upacara tradisional nelayan di pesisir [[Sulawesi Selatan]]. ''Mappuka'' berasal dari kata ''puka'' atau pukat, yaitu alat tangkap ikan nelayan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat [[Luwu Utara]], [[suku Bajo]], dan [[suku Mandar]]. Di daerah [[Kajang]] Kabupaten [[Kabupaten Bulukumba|Bulukumba]], terdapat ritual adat serupa yang dikenal dengan nama ''Attahuru Bente''. Perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat menjadikan upacara ini jarang dilangsungkan. | '''Mappuka'''' adalah upacara tradisional nelayan di pesisir [[Sulawesi Selatan]]. ''Mappuka'' berasal dari kata ''puka'' atau pukat, yaitu alat tangkap ikan nelayan.<ref>Halilintar Lathief. [https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8277/1/TARI%20DAERAH%20BUGIS.pdf Tari Daerah Bugis]. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.</ref> Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat [[Luwu Utara]],<ref>Rini Pratini. [https://johnson.co.id/evaluasi-perikanan-lutra-idp-ikut-mappuka-di-teluk-bone/,%20https://johnson.co.id/evaluasi-perikanan-lutra-idp-ikut-mappuka-di-teluk-bone/ Evaluasi Perikanan Lutra, IDP Ikut ‘Mappuka’ di Teluk Bone johnson.co.id]. 2020-06-20.</ref> [[suku Bajo]],<ref>Muhammad Syukur. ''Sistem Sosial dan Kepercayaan Suku Bajo''. ''Attoriolong''. 2007. Vol. 4 (1). hlm. 86-96.</ref> dan [[suku Mandar]].<ref>Sewang Anwar. ''Bunga Rampai Bahari Mandar''. Wineka Media. 2018.</ref> Di daerah [[Kajang]] Kabupaten [[Kabupaten Bulukumba|Bulukumba]], terdapat ritual adat serupa yang dikenal dengan nama ''Attahuru Bente''. Perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat menjadikan upacara ini jarang dilangsungkan.<ref>Halilintar Lathief. [https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8277/1/TARI%20DAERAH%20BUGIS.pdf Tari Daerah Bugis]. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.</ref> | ||
== Pelaksanaan == | == Pelaksanaan == | ||
Mappuka dilangsungkan di pantai selama tujuh hari tujuh malam sebagai peresmian atau doa keselamatan bagi [[Pukat, Utan, Sumbawa|pukat]] baru. Jauh sebelum waktu pelaksanaan upacara, pukat baru dipasang di laut dekat pantai. | Mappuka dilangsungkan di pantai selama tujuh hari tujuh malam sebagai peresmian atau doa keselamatan bagi [[Pukat, Utan, Sumbawa|pukat]] baru. Jauh sebelum waktu pelaksanaan upacara, pukat baru dipasang di laut dekat pantai.<ref>Halilintar Lathief. [https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8277/1/TARI%20DAERAH%20BUGIS.pdf Tari Daerah Bugis]. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.</ref> | ||
Pada hari acara, raja beserta wakilnya dan para masyarakat hadir untuk menyaksikan upacara. Masyarakat menyiapkan konsumsi acara berupa nasi. Sementara itu, lauknya berupa ikan yang diambil oleh para pria. Sambil menunggu ikan ditangkap, diadakan pula kegiatan lain seperti sabung ayam dan pertunjukan kesenian rakyat seperti ''ammencak'', ''pelanca'', serta ''paraga assemba''. Di Baruga, raja, anggota Hadat, Sanro, dan pemilik pukat berkumpul menyaksikan jalannya acara. | Pada hari acara, raja beserta wakilnya dan para masyarakat hadir untuk menyaksikan upacara. Masyarakat menyiapkan konsumsi acara berupa nasi. Sementara itu, lauknya berupa ikan yang diambil oleh para pria. Sambil menunggu ikan ditangkap, diadakan pula kegiatan lain seperti sabung ayam dan pertunjukan kesenian rakyat seperti ''ammencak'', ''pelanca'', serta ''paraga assemba''. Di Baruga, raja, anggota Hadat, Sanro, dan pemilik pukat berkumpul menyaksikan jalannya acara.<ref>Halilintar Lathief. [https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8277/1/TARI%20DAERAH%20BUGIS.pdf Tari Daerah Bugis]. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.</ref> | ||
Dari hulu sungai, para pria memainkan [[gendang]] di atas perahu untuk menggiring ikan ke muara tempat pukat dipasang. Ketika air laut surut dan perahu tiba di muara, pengunjung turun ke laut dengan alat tangkap masing-masing, seperti [[Jalan Tol Trans-Jawa|jala]], sero, tombak, atau panah. Ikan terbesar yang diperoleh dipersembahkan kepada raja, sedangkan ikan-ikan lainnya menjadi milik warga. Sementara itu, kaum perempuan bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan memasak. Puncak upacara ditandai dengan makan bersama, didahului doa untuk keselamatan nelayan dan keberkahan pukat baru. Pembacaan doa berlangsung di Baruga dan dipimpin oleh sanro. | Dari hulu sungai, para pria memainkan [[gendang]] di atas perahu untuk menggiring ikan ke muara tempat pukat dipasang. Ketika air laut surut dan perahu tiba di muara, pengunjung turun ke laut dengan alat tangkap masing-masing, seperti [[Jalan Tol Trans-Jawa|jala]], sero, tombak, atau panah. Ikan terbesar yang diperoleh dipersembahkan kepada raja, sedangkan ikan-ikan lainnya menjadi milik warga. Sementara itu, kaum perempuan bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan memasak. Puncak upacara ditandai dengan makan bersama, didahului doa untuk keselamatan nelayan dan keberkahan pukat baru. Pembacaan doa berlangsung di Baruga dan dipimpin oleh sanro.<ref>Halilintar Lathief. [https://repositori.kemendikdasmen.go.id/8277/1/TARI%20DAERAH%20BUGIS.pdf Tari Daerah Bugis]. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.</ref> | ||
== Dalam budaya Mandar == | == Dalam budaya Mandar == | ||
Bagi masyarakat Mandar, Mappuka’ merupakan kegiatan menangkap ikan dengan jaring insang yang oleh nelayan Mandar disebut ''puka'' atau pukat. Alat ini dipakai khusus oleh nelayan untuk menangkap ikan terbang menggunakan perahu jenis ''katitting''. Nelayan berangkat menuju habitat ikan terbang, lalu menghadang dan menggiringnya masuk ke dalam pukat. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh dua hingga tiga orang nelayan pada waktu subuh dan berakhir sekitar tengah hari. | Bagi masyarakat Mandar, Mappuka’ merupakan kegiatan menangkap ikan dengan jaring insang yang oleh nelayan Mandar disebut ''puka'' atau pukat. Alat ini dipakai khusus oleh nelayan untuk menangkap ikan terbang menggunakan perahu jenis ''katitting''. Nelayan berangkat menuju habitat ikan terbang, lalu menghadang dan menggiringnya masuk ke dalam pukat. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh dua hingga tiga orang nelayan pada waktu subuh dan berakhir sekitar tengah hari.<ref>Sewang Anwar. ''Bunga Rampai Bahari Mandar''. Wineka Media. 2018.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mappuka%27&oldid=29076134 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29076134 (2026-03-27T09:16:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mappuka%27&oldid=29076134 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29076134 (2026-03-27T09:16:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.14
Mappuka' adalah upacara tradisional nelayan di pesisir Sulawesi Selatan. Mappuka berasal dari kata puka atau pukat, yaitu alat tangkap ikan nelayan.[1] Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Luwu Utara,[2] suku Bajo,[3] dan suku Mandar.[4] Di daerah Kajang Kabupaten Bulukumba, terdapat ritual adat serupa yang dikenal dengan nama Attahuru Bente. Perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat menjadikan upacara ini jarang dilangsungkan.[5]
Pelaksanaan
Mappuka dilangsungkan di pantai selama tujuh hari tujuh malam sebagai peresmian atau doa keselamatan bagi pukat baru. Jauh sebelum waktu pelaksanaan upacara, pukat baru dipasang di laut dekat pantai.[6]
Pada hari acara, raja beserta wakilnya dan para masyarakat hadir untuk menyaksikan upacara. Masyarakat menyiapkan konsumsi acara berupa nasi. Sementara itu, lauknya berupa ikan yang diambil oleh para pria. Sambil menunggu ikan ditangkap, diadakan pula kegiatan lain seperti sabung ayam dan pertunjukan kesenian rakyat seperti ammencak, pelanca, serta paraga assemba. Di Baruga, raja, anggota Hadat, Sanro, dan pemilik pukat berkumpul menyaksikan jalannya acara.[7]
Dari hulu sungai, para pria memainkan gendang di atas perahu untuk menggiring ikan ke muara tempat pukat dipasang. Ketika air laut surut dan perahu tiba di muara, pengunjung turun ke laut dengan alat tangkap masing-masing, seperti jala, sero, tombak, atau panah. Ikan terbesar yang diperoleh dipersembahkan kepada raja, sedangkan ikan-ikan lainnya menjadi milik warga. Sementara itu, kaum perempuan bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan memasak. Puncak upacara ditandai dengan makan bersama, didahului doa untuk keselamatan nelayan dan keberkahan pukat baru. Pembacaan doa berlangsung di Baruga dan dipimpin oleh sanro.[8]
Dalam budaya Mandar
Bagi masyarakat Mandar, Mappuka’ merupakan kegiatan menangkap ikan dengan jaring insang yang oleh nelayan Mandar disebut puka atau pukat. Alat ini dipakai khusus oleh nelayan untuk menangkap ikan terbang menggunakan perahu jenis katitting. Nelayan berangkat menuju habitat ikan terbang, lalu menghadang dan menggiringnya masuk ke dalam pukat. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh dua hingga tiga orang nelayan pada waktu subuh dan berakhir sekitar tengah hari.[9]
Referensi
- ↑ Halilintar Lathief. Tari Daerah Bugis. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.
- ↑ Rini Pratini. Evaluasi Perikanan Lutra, IDP Ikut ‘Mappuka’ di Teluk Bone johnson.co.id. 2020-06-20.
- ↑ Muhammad Syukur. Sistem Sosial dan Kepercayaan Suku Bajo. Attoriolong. 2007. Vol. 4 (1). hlm. 86-96.
- ↑ Sewang Anwar. Bunga Rampai Bahari Mandar. Wineka Media. 2018.
- ↑ Halilintar Lathief. Tari Daerah Bugis. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.
- ↑ Halilintar Lathief. Tari Daerah Bugis. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.
- ↑ Halilintar Lathief. Tari Daerah Bugis. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.
- ↑ Halilintar Lathief. Tari Daerah Bugis. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. 2000.
- ↑ Sewang Anwar. Bunga Rampai Bahari Mandar. Wineka Media. 2018.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29076134 (2026-03-27T09:16:51Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.