Lompat ke isi

Kekeliruan tentang dunia yang adil: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26105081; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Hipotesis dunia yang adil''' atau '''kekeliruan dunia yang adil''' adalah [[bias kognitif]] yang mengasumsikan bahwa "orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan"—bahwa setiap tindakan akan memiliki konsekuensi yang adil dan sesuai secara moral bagi pelaku. Misalnya, asumsi bahwa tindakan mulia pada akhirnya akan dihargai dan tindakan jahat pada akhirnya akan dihukum termasuk dalam [[hipotesis]] ini. Dengan kata lain, hipotesis dunia yang adil adalah kecenderungan untuk mengaitkan konsekuensi dengan—atau mengharapkan konsekuensi sebagai hasil dari—kekuatan universal yang memulihkan keseimbangan moral, atau hubungan universal antara sifat tindakan dan hasilnya. Keyakinan ini umumnya menyiratkan adanya keadilan kosmik, [[takdir]], [[providensi ilahi]], ganjaran, stabilitas, dan/atau keteraturan. Hal ini sering dikaitkan dengan berbagai kekeliruan mendasar, terutama dalam hal merasionalisasi penderitaan dengan alasan bahwa penderita "pantas" menerimanya.
'''Hipotesis dunia yang adil''' atau '''kekeliruan dunia yang adil''' adalah [[bias kognitif]] yang mengasumsikan bahwa "orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan"—bahwa setiap tindakan akan memiliki konsekuensi yang adil dan sesuai secara moral bagi pelaku. Misalnya, asumsi bahwa tindakan mulia pada akhirnya akan dihargai dan tindakan jahat pada akhirnya akan dihukum termasuk dalam [[hipotesis]] ini. Dengan kata lain, hipotesis dunia yang adil adalah kecenderungan untuk mengaitkan konsekuensi dengan—atau mengharapkan konsekuensi sebagai hasil dari—kekuatan universal yang memulihkan keseimbangan moral, atau hubungan universal antara sifat tindakan dan hasilnya. Keyakinan ini umumnya menyiratkan adanya keadilan kosmik, [[takdir]], [[providensi ilahi]], ganjaran, stabilitas, dan/atau keteraturan. Hal ini sering dikaitkan dengan berbagai kekeliruan mendasar, terutama dalam hal merasionalisasi penderitaan dengan alasan bahwa penderita "pantas" menerimanya.


Konsep ini muncul dalam berbagai ungkapan yang menyiratkan jaminan hukuman bagi pembuat kesalahan, seperti: "segala sesuatu terjadi karena suatu alasan", dan "Anda akan menuai apa yang Anda tabur". Hipotesis ini telah dipelajari secara luas oleh para psikolog sosial sejak Melvin J. Lerner melakukan karya seminar tentang keyakinan dunia yang adil pada awal 1960-an. Penelitian terus berlanjut sejak saat itu, memeriksa kapasitas prediksi hipotesis dalam berbagai situasi dan lintas budaya, dan mengklarifikasi dan memperluas pemahaman teoretis tentang keyakinan akan dunia yang adil.
Konsep ini muncul dalam berbagai ungkapan yang menyiratkan jaminan hukuman bagi pembuat kesalahan, seperti: "segala sesuatu terjadi karena suatu alasan", dan "Anda akan menuai apa yang Anda tabur". Hipotesis ini telah dipelajari secara luas oleh para psikolog sosial sejak Melvin J. Lerner melakukan karya seminar tentang keyakinan dunia yang adil pada awal 1960-an.<ref>Melvin J. Lerner. ''Responses to Victimizations and Belief in a Just World''. Plenum. 1998. hlm. 1–7. doi:10.1007/978-1-4757-6418-5_1. ISBN 978-1-4419-3306-5.</ref> Penelitian terus berlanjut sejak saat itu, memeriksa kapasitas prediksi hipotesis dalam berbagai situasi dan lintas budaya, dan mengklarifikasi dan memperluas pemahaman teoretis tentang keyakinan akan dunia yang adil.<ref>Adrian Furnham. ''Belief in a just world: research progress over the past decade''. ''Personality and Individual Differences''. 2003. Vol. 34 (5). hlm. 795–817. doi:10.1016/S0191-8869(02)00072-7.</ref>
 
==Referensi==
 


==Bacaan lanjutan==
==Bacaan lanjutan==
Baris 18: Baris 15:
*[http://www.scu.edu/ethics/publications/iie/v3n2/justworld.html Issues in Ethics: The Just World Theory]
*[http://www.scu.edu/ethics/publications/iie/v3n2/justworld.html Issues in Ethics: The Just World Theory]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kekeliruan+tentang+dunia+yang+adil&oldid=26105081 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26105081 (2024-07-31T06:19:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kekeliruan+tentang+dunia+yang+adil&oldid=26105081 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26105081 (2024-07-31T06:19:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 14.09

Hipotesis dunia yang adil atau kekeliruan dunia yang adil adalah bias kognitif yang mengasumsikan bahwa "orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan"—bahwa setiap tindakan akan memiliki konsekuensi yang adil dan sesuai secara moral bagi pelaku. Misalnya, asumsi bahwa tindakan mulia pada akhirnya akan dihargai dan tindakan jahat pada akhirnya akan dihukum termasuk dalam hipotesis ini. Dengan kata lain, hipotesis dunia yang adil adalah kecenderungan untuk mengaitkan konsekuensi dengan—atau mengharapkan konsekuensi sebagai hasil dari—kekuatan universal yang memulihkan keseimbangan moral, atau hubungan universal antara sifat tindakan dan hasilnya. Keyakinan ini umumnya menyiratkan adanya keadilan kosmik, takdir, providensi ilahi, ganjaran, stabilitas, dan/atau keteraturan. Hal ini sering dikaitkan dengan berbagai kekeliruan mendasar, terutama dalam hal merasionalisasi penderitaan dengan alasan bahwa penderita "pantas" menerimanya.

Konsep ini muncul dalam berbagai ungkapan yang menyiratkan jaminan hukuman bagi pembuat kesalahan, seperti: "segala sesuatu terjadi karena suatu alasan", dan "Anda akan menuai apa yang Anda tabur". Hipotesis ini telah dipelajari secara luas oleh para psikolog sosial sejak Melvin J. Lerner melakukan karya seminar tentang keyakinan dunia yang adil pada awal 1960-an.[1] Penelitian terus berlanjut sejak saat itu, memeriksa kapasitas prediksi hipotesis dalam berbagai situasi dan lintas budaya, dan mengklarifikasi dan memperluas pemahaman teoretis tentang keyakinan akan dunia yang adil.[2]

Bacaan lanjutan

  • Reprinted (1977) in Reflections, XII(1), 1–26.

Pranala luar

Referensi

  1. Melvin J. Lerner. Responses to Victimizations and Belief in a Just World. Plenum. 1998. hlm. 1–7. doi:10.1007/978-1-4757-6418-5_1. ISBN 978-1-4419-3306-5.
  2. Adrian Furnham. Belief in a just world: research progress over the past decade. Personality and Individual Differences. 2003. Vol. 34 (5). hlm. 795–817. doi:10.1016/S0191-8869(02)00072-7.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26105081 (2024-07-31T06:19:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.