Londe: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 26190886; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Londe''' atau '''londi''' adalah perahu tradisional dari [[Sulawesi Utara]], [[Indonesia]]. Mereka diperkirakan telah ada sejak tahun 1500-an, dikembangkan dari perahu kuno pulau Sangir yang disebut ''bininta'' yang sekarang diabadikan dalam lambang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangir. | [[File:Model_of_a_Londi.jpg|thumb|right|280px|Model of a Londi]] | ||
'''Londe''' atau '''londi''' adalah perahu tradisional dari [[Sulawesi Utara]], [[Indonesia]]. Mereka diperkirakan telah ada sejak tahun 1500-an,<ref>Alffian Walukow. ''Kebudayaan Sangihe''. 2009.</ref> dikembangkan dari perahu kuno pulau Sangir yang disebut ''bininta'' yang sekarang diabadikan dalam lambang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangir.<ref>Salam (2018). p. 4.</ref> | |||
== Deskripsi == | == Deskripsi == | ||
Panjangnya sekitar 5 m,<ref>Salam (2018). p. 4.</ref> umumnya mereka didorong oleh dayung pendek tetapi layar juga dapat digunakan.<ref>Alfred Cort Haddon. ''The Outriggers of Indonesian Canoes''. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=Fmy7CgAAQBAJ&pg=PA104&lpg=PA104&dq=perahu+londe&source=bl&ots=0e6-ciEtV7&sig=ACfU3U22ivyizhy6DC24EXhTrJpTjPGAaQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiFk_Hro5XpAhUc6nMBHeO7CsA4ChDoATAAegQIChAB#v=onepage&q=perahu%20londe&f=false Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.</ref> Londe modern dapat dilengkapi dengan [[mesin tempel]].<ref>[https://books.google.co.id/books?id=Fmy7CgAAQBAJ&pg=PA104&lpg=PA104&dq=perahu+londe&source=bl&ots=0e6-ciEtV7&sig=ACfU3U22ivyizhy6DC24EXhTrJpTjPGAaQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiFk_Hro5XpAhUc6nMBHeO7CsA4ChDoATAAegQIChAB#v=onepage&q=perahu%20londe&f=false Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.</ref> Layarnya dapat berasal dari jenis [[layar tanja|tanja]], [[Layar lete|lete]], atau [[layar lug]].<ref>Salam (2018). p. 7.</ref> Kadang-kadang panjangnya 25-30 kaki (7,6-9,1 m) dengan lebar 30 inci (76,2 cm).<ref>Sydney John Hickson. [https://archive.org/details/anaturalistinno00hickgoog A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited]. J. Murray. 1889.</ref> Mereka biasanya dioperasikan oleh 1-3 orang,<ref>Salam (2018). p. 4.</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=Fmy7CgAAQBAJ&pg=PA104&lpg=PA104&dq=perahu+londe&source=bl&ots=0e6-ciEtV7&sig=ACfU3U22ivyizhy6DC24EXhTrJpTjPGAaQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiFk_Hro5XpAhUc6nMBHeO7CsA4ChDoATAAegQIChAB#v=onepage&q=perahu%20londe&f=false Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara]. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.</ref> tapi yang besar bisa membawa 5 orang.<ref>[https://www.mongabay.co.id/2019/12/29/ini-program-pemberdayaan-nelayan-pengganti-tradisi-bahari-seke-maneke-di-kepulauan-sangihe-2/ Ini Program Pemberdayaan Nelayan Pengganti Tradisi Bahari ‘Seke-Maneke’ di Kepulauan Sangihe [2]]. ''Mongabay Environmental News''. 2019-12-29.</ref> Londe dapat diidentifikasi dengan haluan dan buritannya yang unik. Semacam "tanduk" menyembul keluar dari dasar haluan yang menjulur ke depan dan melengkung ke atas seperti gading gajah. Di buritan, tanduknya tidak begitu menonjol tetapi bentuknya bisa dilihat, menonjol ke belakang.<ref>Salam (2018). p. 6.</ref> Pendahulunya, ''bininta'', memiliki tanduk haluan dan buritan yang menusuk ke depan dan belakang.<ref>Salam (2018). p. 4.</ref> Fitur lain yang membedakan dari perahu cadik lainnya, londe memiliki ''bahateng'' ([[cadik]]) yang berbeda di bagian depan dan belakang.<ref>Salam (2018). p. 6.</ref> Cadik depan berupa sepotong kayu melengkung kuat ke ''atiq'' (katir atau pelampung cadik yang terbuat dari bambu) tanpa sebuah ''tadiq'' (bagian yang menghubungkan antara ''bahateng'' dan ''atiq'').<ref>Alfred Cort Haddon. ''The Outriggers of Indonesian Canoes''. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.</ref><ref>Salam (2018). p. 6.</ref> ''Atiq'' dibuat oleh dua atau tiga potong bambu tebal yang diikat bersama.<ref>Alfred Cort Haddon. ''The Outriggers of Indonesian Canoes''. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.</ref> Sementara cadik belakangnya adalah sepotong kayu lurus yang dihubungkan dengan ''atiq'' dengan ''tadiq'' melengkung dari [[rotan]], yang biasa disebut penghubung [[Halmahera]] berbentuk S.<ref>Alfred Cort Haddon. ''The Outriggers of Indonesian Canoes''. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.</ref><ref>Salam (2018). p. 6.</ref> Londe dibangun dengan papan tambahan di sisi ''mahera''-nya (mahera berarti bagian dasar [[perahu lesung]]).<ref>Salam (2018). p. 6.</ref> Bahan utamanya adalah kayu nantu/nato, kayu gopasa, atau kayu kapuraca.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=chx5UGZc4IkC&pg=PA8&lpg=PA8&dq=perahu+londe&source=bl&ots=FneZX7ZcIM&sig=ACfU3U3itgUqtbBpR8ZryrrZd_u5CnTBjQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiilaGsp5XpAhUUheYKHereDu44FBDoATACegQICBAB#v=onepage&q=perahu%20londe&f=false Majalah Tabea]. steven.</ref> Dengan angin sepoi-sepoi, londe bisa bergerak sangat cepat tetapi agak sulit untuk melakukan gerakan ''tack'' dan tidak bisa berlayar sangat dekat dengan angin.<ref>Sydney John Hickson. [https://archive.org/details/anaturalistinno00hickgoog A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited]. J. Murray. 1889.</ref> | |||
Panjangnya sekitar 5 m, umumnya mereka didorong oleh dayung pendek tetapi layar juga dapat digunakan. Londe modern dapat dilengkapi dengan [[mesin tempel]]. Layarnya dapat berasal dari jenis [[layar tanja|tanja]], [[Layar lete|lete]], atau [[layar lug]]. Kadang-kadang panjangnya 25-30 kaki (7,6-9,1 m) dengan lebar 30 inci (76,2 cm). Mereka biasanya dioperasikan oleh 1-3 orang, tapi yang besar bisa membawa 5 orang. Londe dapat diidentifikasi dengan haluan dan buritannya yang unik. Semacam "tanduk" menyembul keluar dari dasar haluan yang menjulur ke depan dan melengkung ke atas seperti gading gajah. Di buritan, tanduknya tidak begitu menonjol tetapi bentuknya bisa dilihat, menonjol ke belakang. Pendahulunya, ''bininta'', memiliki tanduk haluan dan buritan yang menusuk ke depan dan belakang. Fitur lain yang membedakan dari perahu cadik lainnya, londe memiliki ''bahateng'' ([[cadik]]) yang berbeda di bagian depan dan belakang. Cadik depan berupa sepotong kayu melengkung kuat ke ''atiq'' (katir atau pelampung cadik yang terbuat dari bambu) tanpa sebuah ''tadiq'' (bagian yang menghubungkan antara ''bahateng'' dan ''atiq''). ''Atiq'' dibuat oleh dua atau tiga potong bambu tebal yang diikat bersama. Sementara cadik belakangnya adalah sepotong kayu lurus yang dihubungkan dengan ''atiq'' dengan ''tadiq'' melengkung dari [[rotan]], yang biasa disebut penghubung [[Halmahera]] berbentuk S. Londe dibangun dengan papan tambahan di sisi ''mahera''-nya (mahera berarti bagian dasar [[perahu lesung]]). Bahan utamanya adalah kayu nantu/nato, kayu gopasa, atau kayu kapuraca. Dengan angin sepoi-sepoi, londe bisa bergerak sangat cepat tetapi agak sulit untuk melakukan gerakan ''tack'' dan tidak bisa berlayar sangat dekat dengan angin. | |||
== Distribusi == | == Distribusi == | ||
Dalam dekade 80-an perahu londe masih banyak ditemukan di sepanjang pantai [[Manado]] dari Ranayapo, Poopo, Sario (Manado), Likupang sampai ke Batulubang dekat [[Bitung]]. Juga ditemukan di Barangka, Tahuna, Naha dan Lirung di Kepulauan Sangihe. Perahu londe pada waktu itu adalah perahu layar yang digunakan secara luas di permukiman nelayan orang-orang Sangir.<ref>Masengi W. K. A. and Keishi Shibata (1990). ''JIN''. '''83'''. p. 203–211.</ref> Pada 2012, di [[Pulau Miangas]], pulau terluar di perbatasan dengan [[Filipina]], masih ada banyak perahu londe.<ref>Hoetagaol S. M., N. S. A. Sumampouw, J. Parauba, R. Tuage and M. Pontororing (2012). ''Studi tentang Aspek-aspek Sosial-budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Miangas''. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.</ref> Namun, pada tahun yang sama, di pulau Marore di [[Kepulauan Talaud]] londe tidak lagi ditemukan yang menurut penduduk setempat ada banyak di pulau itu di masa lalu.<ref>Hoetagaol S. M., N. S. A. Sumampouw, J. Parauba, R. Tuage and M. Pontororing (2012). ''Studi tentang Aspek-aspek Sosial-budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Miangas''. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.</ref><ref>Ulaen A. J., P. Nugrahini, C. Setiawan, A. Dukalang and Alinabur (2012). ''Studi tentang Sosial Budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe''. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.</ref> | |||
Kepunahan perahu londe bukan karena nelayan tidak lagi membutuhkan perahu dengan ukuran dan fungsi yang sama. Jenis londe mulai punah karena nelayan sekarang tidak lagi membutuhkan fungsi "tanduk"nya, sehingga mereka tidak lagi memesan perahu seperti itu. Tanduk digunakan sebagai tempat untuk menahan atau untuk melihat ke laut pada saat mengumpulkan atau menangkap ikan dengan menyelam.<ref>Masengi W. K. A. and Keishi Shibata (1990). ''JIN''. '''83'''. p. 203–211.</ref> | |||
Kepunahan perahu londe bukan karena nelayan tidak lagi membutuhkan perahu dengan ukuran dan fungsi yang sama. Jenis londe mulai punah karena nelayan sekarang tidak lagi membutuhkan fungsi "tanduk"nya, sehingga mereka tidak lagi memesan perahu seperti itu. Tanduk digunakan sebagai tempat untuk menahan atau untuk melihat ke laut pada saat mengumpulkan atau menangkap ikan dengan menyelam. | |||
== Lihat juga == | == Lihat juga == | ||
| Baris 17: | Baris 17: | ||
* [[Paduwang]] | * [[Paduwang]] | ||
* [[Knabat bogolu]] | * [[Knabat bogolu]] | ||
== Bacaan lanjutan == | == Bacaan lanjutan == | ||
* Salam, Aziz (2018). "Technological Adaptation in Traditional Fisheries: Way to Survive". ''IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science''. '''139'''. | * Salam, Aziz (2018). "Technological Adaptation in Traditional Fisheries: Way to Survive". ''IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science''. '''139'''. | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Londe&oldid=26190886 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 26190886 (2024-08-19T13:31:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 30 Agustus 2026 04.03
Londe atau londi adalah perahu tradisional dari Sulawesi Utara, Indonesia. Mereka diperkirakan telah ada sejak tahun 1500-an,[1] dikembangkan dari perahu kuno pulau Sangir yang disebut bininta yang sekarang diabadikan dalam lambang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangir.[2]
Deskripsi
Panjangnya sekitar 5 m,[3] umumnya mereka didorong oleh dayung pendek tetapi layar juga dapat digunakan.[4][5] Londe modern dapat dilengkapi dengan mesin tempel.[6] Layarnya dapat berasal dari jenis tanja, lete, atau layar lug.[7] Kadang-kadang panjangnya 25-30 kaki (7,6-9,1 m) dengan lebar 30 inci (76,2 cm).[8] Mereka biasanya dioperasikan oleh 1-3 orang,[9][10] tapi yang besar bisa membawa 5 orang.[11] Londe dapat diidentifikasi dengan haluan dan buritannya yang unik. Semacam "tanduk" menyembul keluar dari dasar haluan yang menjulur ke depan dan melengkung ke atas seperti gading gajah. Di buritan, tanduknya tidak begitu menonjol tetapi bentuknya bisa dilihat, menonjol ke belakang.[12] Pendahulunya, bininta, memiliki tanduk haluan dan buritan yang menusuk ke depan dan belakang.[13] Fitur lain yang membedakan dari perahu cadik lainnya, londe memiliki bahateng (cadik) yang berbeda di bagian depan dan belakang.[14] Cadik depan berupa sepotong kayu melengkung kuat ke atiq (katir atau pelampung cadik yang terbuat dari bambu) tanpa sebuah tadiq (bagian yang menghubungkan antara bahateng dan atiq).[15][16] Atiq dibuat oleh dua atau tiga potong bambu tebal yang diikat bersama.[17] Sementara cadik belakangnya adalah sepotong kayu lurus yang dihubungkan dengan atiq dengan tadiq melengkung dari rotan, yang biasa disebut penghubung Halmahera berbentuk S.[18][19] Londe dibangun dengan papan tambahan di sisi mahera-nya (mahera berarti bagian dasar perahu lesung).[20] Bahan utamanya adalah kayu nantu/nato, kayu gopasa, atau kayu kapuraca.[21] Dengan angin sepoi-sepoi, londe bisa bergerak sangat cepat tetapi agak sulit untuk melakukan gerakan tack dan tidak bisa berlayar sangat dekat dengan angin.[22]
Distribusi
Dalam dekade 80-an perahu londe masih banyak ditemukan di sepanjang pantai Manado dari Ranayapo, Poopo, Sario (Manado), Likupang sampai ke Batulubang dekat Bitung. Juga ditemukan di Barangka, Tahuna, Naha dan Lirung di Kepulauan Sangihe. Perahu londe pada waktu itu adalah perahu layar yang digunakan secara luas di permukiman nelayan orang-orang Sangir.[23] Pada 2012, di Pulau Miangas, pulau terluar di perbatasan dengan Filipina, masih ada banyak perahu londe.[24] Namun, pada tahun yang sama, di pulau Marore di Kepulauan Talaud londe tidak lagi ditemukan yang menurut penduduk setempat ada banyak di pulau itu di masa lalu.[25][26]
Kepunahan perahu londe bukan karena nelayan tidak lagi membutuhkan perahu dengan ukuran dan fungsi yang sama. Jenis londe mulai punah karena nelayan sekarang tidak lagi membutuhkan fungsi "tanduk"nya, sehingga mereka tidak lagi memesan perahu seperti itu. Tanduk digunakan sebagai tempat untuk menahan atau untuk melihat ke laut pada saat mengumpulkan atau menangkap ikan dengan menyelam.[27]
Lihat juga
Bacaan lanjutan
- Salam, Aziz (2018). "Technological Adaptation in Traditional Fisheries: Way to Survive". IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science. 139.
Referensi
- ↑ Alffian Walukow. Kebudayaan Sangihe. 2009.
- ↑ Salam (2018). p. 4.
- ↑ Salam (2018). p. 4.
- ↑ Alfred Cort Haddon. The Outriggers of Indonesian Canoes. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.
- ↑ Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.
- ↑ Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.
- ↑ Salam (2018). p. 7.
- ↑ Sydney John Hickson. A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited. J. Murray. 1889.
- ↑ Salam (2018). p. 4.
- ↑ Kearifan Tradisional Masyarakat Nelayan Kampung Batunderang Yang Berkaitan dengan Pemeliharaan Lingkungan Alam di Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 2007-01-01.
- ↑ Ini Program Pemberdayaan Nelayan Pengganti Tradisi Bahari ‘Seke-Maneke’ di Kepulauan Sangihe [2]. Mongabay Environmental News. 2019-12-29.
- ↑ Salam (2018). p. 6.
- ↑ Salam (2018). p. 4.
- ↑ Salam (2018). p. 6.
- ↑ Alfred Cort Haddon. The Outriggers of Indonesian Canoes. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.
- ↑ Salam (2018). p. 6.
- ↑ Alfred Cort Haddon. The Outriggers of Indonesian Canoes. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.
- ↑ Alfred Cort Haddon. The Outriggers of Indonesian Canoes. Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 1920.
- ↑ Salam (2018). p. 6.
- ↑ Salam (2018). p. 6.
- ↑ Majalah Tabea. steven.
- ↑ Sydney John Hickson. A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited. J. Murray. 1889.
- ↑ Masengi W. K. A. and Keishi Shibata (1990). JIN. 83. p. 203–211.
- ↑ Hoetagaol S. M., N. S. A. Sumampouw, J. Parauba, R. Tuage and M. Pontororing (2012). Studi tentang Aspek-aspek Sosial-budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Miangas. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.
- ↑ Hoetagaol S. M., N. S. A. Sumampouw, J. Parauba, R. Tuage and M. Pontororing (2012). Studi tentang Aspek-aspek Sosial-budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Miangas. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.
- ↑ Ulaen A. J., P. Nugrahini, C. Setiawan, A. Dukalang and Alinabur (2012). Studi tentang Sosial Budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe. Manado: KEPEL Press Balai Pelestarian Nilai Budaya Manado.
- ↑ Masengi W. K. A. and Keishi Shibata (1990). JIN. 83. p. 203–211.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26190886 (2024-08-19T13:31:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.