Lompat ke isi

Jukung tambangan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28468494; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Jukung tambangan''' adalah sebuah perahu tradisional buatan [[suku Banjar]] dari [[Kalimantan Selatan]]. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai. Perahu tersebut telah ada sejak setidaknya pertengahan abad ke-18. Perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar 1950-an dan sekitar 1970-an di [[Sungai Nagara]], [[Kabupaten Hulu Sungai Selatan]].
[[File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Prauwen_op_de_Martapura-rivier_Bandjermasin_TMnr_10032319.jpg|thumb|right|280px|COLLECTIE TROPENMUSEUM Prauwen op de Martapura-rivier Bandjermasin TMnr 10032319]]
 
'''Jukung tambangan''' adalah sebuah perahu tradisional buatan [[suku Banjar]] dari [[Kalimantan Selatan]]. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai. Perahu tersebut telah ada sejak setidaknya pertengahan abad ke-18.<ref>H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “''Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi''”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.</ref> Perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar 1950-an<ref>Syarifuddin and M. Saperi Kadir (1990). ''Mengenal Koleksi Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat''. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat.</ref> dan sekitar 1970-an di [[Sungai Nagara]], [[Kabupaten Hulu Sungai Selatan]].<ref>Erik Petersen. ''Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo''. The Viking Ship Museum. 2000.</ref>


== Etimologi ==
== Etimologi ==
Kata jukung digunakan sebagai istilah umum untuk mendeskripsikan semua jenis perahu, terutama untuk [[perahu lesung]]. Karenanya, pada kata bahasa Dayak dan [[bahasa Banjar|Banjar]] jukung secara khusus dikaitkan dengan jenis-jenis perahu itu. Ini mungkin berasal dari kata [[bahasa Austronesia|Austronesia]] ''d’u(n)kung''.
Kata jukung digunakan sebagai istilah umum untuk mendeskripsikan semua jenis perahu, terutama untuk [[perahu lesung]]. Karenanya, pada kata bahasa Dayak dan [[bahasa Banjar|Banjar]] jukung secara khusus dikaitkan dengan jenis-jenis perahu itu. Ini mungkin berasal dari kata [[bahasa Austronesia|Austronesia]] ''d’u(n)kung''.<ref>H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “''Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi''”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.</ref>


== Deskripsi ==
== Deskripsi ==
 
Jukung tambangan terbuat dari [[Ulin|kayu ulin]] (kayu besi Kalimantan).<ref>Helius Sjamsuddin. ''Pegustian dan Tumenggung. Akar Sosial, Politik, Etnis dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906''. PT. Balai Pustaka. 2001.</ref> Ada ukiran daun jaruju melayap ([[Acanthus ilicifolius]]) di dekat garis air.<ref>Triatno, Agus, Siti Hadijah and H. Syarifuddin (1998). ''Perahu Tradisional Kalimantan Selatan''. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat.</ref> Jukung tambangan bukanlah [[perahu kayu]] (''dugout canoe''), karena ia membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Ia sengaja tidak dibangun menggunakan paku besi, tetapi menggunakan teknik pasak. Susunan papan menggunakan [[Carvel (pembuatan kapal)|''carvel built'']] (susun rata). Pada pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu ulin digunakan dan diperdagangkan. Atap itu diproduksi di [[Distrik Dusun Ulu|Dusun Hulu]] dan dijual atau dibarter ke Banjarmasin. Atap sirap itu hanya dapat dipasang dengan sejenis paku besi, bukan dengan pasak kayu.<ref>H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “''Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi''”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.</ref> Salah satu contoh jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.<ref>Anonim (3 February 2010). "Perahu Tambangan Tambah Koleksi Museum Lambung Mangkurat". ''Barito Post.''</ref>
Jukung tambangan terbuat dari [[Ulin|kayu ulin]] (kayu besi Kalimantan). Ada ukiran daun jaruju melayap ([[Acanthus ilicifolius]]) di dekat garis air. Jukung tambangan bukanlah [[perahu kayu]] (''dugout canoe''), karena ia membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Ia sengaja tidak dibangun menggunakan paku besi, tetapi menggunakan teknik pasak. Susunan papan menggunakan [[Carvel (pembuatan kapal)|''carvel built'']] (susun rata). Pada pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu ulin digunakan dan diperdagangkan. Atap itu diproduksi di [[Distrik Dusun Ulu|Dusun Hulu]] dan dijual atau dibarter ke Banjarmasin. Atap sirap itu hanya dapat dipasang dengan sejenis paku besi, bukan dengan pasak kayu. Salah satu contoh jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.


== Peran ==
== Peran ==
Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi, sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Namun, sejak awal abad ke-20 (atau setidaknya akhir abad ke-19), mereka telah secara luas digunakan oleh orang biasa untuk transportasi penumpang, reuni keluarga, acara [[pemakaman]], [[pernikahan]], dan banyak lagi. Mereka juga mengambil bagian dalam pasar terapung setempat. Pasar terapung orang Banjar sudah ada sejak setidaknya tahun 1600-an.
Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi, sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Namun, sejak awal abad ke-20 (atau setidaknya akhir abad ke-19), mereka telah secara luas digunakan oleh orang biasa untuk transportasi penumpang, reuni keluarga, acara [[pemakaman]], [[pernikahan]], dan banyak lagi.<ref>H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “''Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi''”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.</ref> Mereka juga mengambil bagian dalam pasar terapung setempat. Pasar terapung orang Banjar sudah ada sejak setidaknya tahun 1600-an.<ref>Ditjen Pariwisata. ''Indonesia''. Depparpostel. 1991.</ref>


Selama [[Perang Banjar]] (1859–1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain, ketika mereka menyerang [[orang Belanda|Belanda]] di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke sungai Jaya, anak sungai Nagara.
Selama [[Perang Banjar]] (1859–1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain, ketika mereka menyerang [[orang Belanda|Belanda]] di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke sungai Jaya, anak sungai Nagara.<ref>Ideham, M. Suriansyah, H. Syarifuddin, HA. Gazali Usman, M. Zainal Arifin Anis, and Wajidi. ''Sejarah Banjar''. Balitbangda Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 2003.</ref><ref>M. Idwar Saleh. ''Lukisan Perang Banjar''. Museum Lambung Mangkurat. 1985.</ref>


== Galeri ==
== Galeri ==
== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
* [[Sampan panjang]], perahu balap abad ke-19
* [[Sampan panjang]], perahu balap abad ke-19
* [[Perahu toop]], perahu niaga yang digunakan secara umum pada kepulauan Nusantara abad ke-19
* [[Perahu toop]], perahu niaga yang digunakan secara umum pada kepulauan Nusantara abad ke-19
Baris 26: Baris 24:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jukung+tambangan&oldid=28468494 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28468494 (2025-11-14T01:12:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jukung+tambangan&oldid=28468494 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28468494 (2025-11-14T01:12:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 30 Agustus 2026 04.05

COLLECTIE TROPENMUSEUM Prauwen op de Martapura-rivier Bandjermasin TMnr 10032319

Jukung tambangan adalah sebuah perahu tradisional buatan suku Banjar dari Kalimantan Selatan. Perahu tersebut biasanya dipakai untuk transportasi sungai. Perahu tersebut telah ada sejak setidaknya pertengahan abad ke-18.[1] Perahu tersebut tak lagi terlihat di Banjarmasin sejak sekitar 1950-an[2] dan sekitar 1970-an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.[3]

Etimologi

Kata jukung digunakan sebagai istilah umum untuk mendeskripsikan semua jenis perahu, terutama untuk perahu lesung. Karenanya, pada kata bahasa Dayak dan Banjar jukung secara khusus dikaitkan dengan jenis-jenis perahu itu. Ini mungkin berasal dari kata Austronesia d’u(n)kung.[4]

Deskripsi

Jukung tambangan terbuat dari kayu ulin (kayu besi Kalimantan).[5] Ada ukiran daun jaruju melayap (Acanthus ilicifolius) di dekat garis air.[6] Jukung tambangan bukanlah perahu kayu (dugout canoe), karena ia membutuhkan lunas dalam konstruksinya. Ia sengaja tidak dibangun menggunakan paku besi, tetapi menggunakan teknik pasak. Susunan papan menggunakan carvel built (susun rata). Pada pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu ulin digunakan dan diperdagangkan. Atap itu diproduksi di Dusun Hulu dan dijual atau dibarter ke Banjarmasin. Atap sirap itu hanya dapat dipasang dengan sejenis paku besi, bukan dengan pasak kayu.[7] Salah satu contoh jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.[8]

Peran

Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi, sebelumnya hanya digunakan oleh pedagang, bangsawan, dan orang kaya. Namun, sejak awal abad ke-20 (atau setidaknya akhir abad ke-19), mereka telah secara luas digunakan oleh orang biasa untuk transportasi penumpang, reuni keluarga, acara pemakaman, pernikahan, dan banyak lagi.[9] Mereka juga mengambil bagian dalam pasar terapung setempat. Pasar terapung orang Banjar sudah ada sejak setidaknya tahun 1600-an.[10]

Selama Perang Banjar (1859–1906), jukung tambangan digunakan oleh para pejuang Banjar, antara lain, ketika mereka menyerang Belanda di Margasari pada malam 16 Desember 1861, dan digunakan untuk melarikan diri ke sungai Jaya, anak sungai Nagara.[11][12]

Galeri

Lihat juga

Referensi

  1. H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.
  2. Syarifuddin and M. Saperi Kadir (1990). Mengenal Koleksi Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat.
  3. Erik Petersen. Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo. The Viking Ship Museum. 2000.
  4. H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.
  5. Helius Sjamsuddin. Pegustian dan Tumenggung. Akar Sosial, Politik, Etnis dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906. PT. Balai Pustaka. 2001.
  6. Triatno, Agus, Siti Hadijah and H. Syarifuddin (1998). Perahu Tradisional Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat.
  7. H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.
  8. Anonim (3 February 2010). "Perahu Tambangan Tambah Koleksi Museum Lambung Mangkurat". Barito Post.
  9. H. Achmad Mawardi, cultural and environmental observer; advisor of LMMC (Lambung Mangkurat Museum Community) Kalimantan Selatan, in his paper: “Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), 2011.
  10. Ditjen Pariwisata. Indonesia. Depparpostel. 1991.
  11. Ideham, M. Suriansyah, H. Syarifuddin, HA. Gazali Usman, M. Zainal Arifin Anis, and Wajidi. Sejarah Banjar. Balitbangda Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 2003.
  12. M. Idwar Saleh. Lukisan Perang Banjar. Museum Lambung Mangkurat. 1985.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28468494 (2025-11-14T01:12:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.