Informasi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29454575; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Informasi''' adalah sebuah [[Abstraksi|konsep abstrak]] yang merujuk pada sesuatu yang memiliki kekuatan [[Komunikasi|untuk memberi tahu]]. Pada tingkat yang paling mendasar, istilah ini berkaitan dengan [[Interpretasi (filsafat)|penafsiran]] (mungkin juga [[Interpretasi (logika)|secara formal]]) atas sesuatu yang dapat [[indra|diindra]] atau atas [[abstraksi]] dari hal-hal tersebut. Setiap proses alami yang tidak sepenuhnya [[acak]] serta setiap [[pola]] yang dapat diamati dalam suatu [[Media (komunikasi)|medium]] dapat dikatakan memuat sejumlah informasi. Jika [[sinyal digital]] dan berbagai bentuk [[data]] menyampaikan informasi melalui [[Tanda (semiotika)|tanda-tanda]] diskret, maka fenomena dan artefak lain seperti [[sinyal analog]], [[puisi]], [[gambar]], [[musik]] atau bunyi-bunyian lain, serta [[arus]] menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih kontinu. Informasi bukanlah [[pengetahuan]] itu sendiri, melainkan [[makna (filsafat)|makna]] yang dapat diperoleh dari suatu [[representasi (matematika)|representasi]] melalui proses penafsiran. | '''Informasi''' adalah sebuah [[Abstraksi|konsep abstrak]] yang merujuk pada sesuatu yang memiliki kekuatan [[Komunikasi|untuk memberi tahu]]. Pada tingkat yang paling mendasar, istilah ini berkaitan dengan [[Interpretasi (filsafat)|penafsiran]] (mungkin juga [[Interpretasi (logika)|secara formal]]) atas sesuatu yang dapat [[indra|diindra]] atau atas [[abstraksi]] dari hal-hal tersebut. Setiap proses alami yang tidak sepenuhnya [[acak]] serta setiap [[pola]] yang dapat diamati dalam suatu [[Media (komunikasi)|medium]] dapat dikatakan memuat sejumlah informasi. Jika [[sinyal digital]] dan berbagai bentuk [[data]] menyampaikan informasi melalui [[Tanda (semiotika)|tanda-tanda]] diskret, maka fenomena dan artefak lain seperti [[sinyal analog]], [[puisi]], [[gambar]], [[musik]] atau bunyi-bunyian lain, serta [[arus]] menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih kontinu.<ref name="Anderson">John B. Anderson. ''Understanding Information Transmission''. Ieee Press. 1996. ISBN 978-0-471-71120-9.</ref> Informasi bukanlah [[pengetahuan]] itu sendiri, melainkan [[makna (filsafat)|makna]] yang dapat diperoleh dari suatu [[representasi (matematika)|representasi]] melalui proses penafsiran.<ref name="Yockey">Hubert P. Yockey. ''Information Theory, Evolution, and the Origin of Life''. Cambridge University Press. 2005. hlm. 7. ISBN 978-0-511-54643-3.</ref> | ||
Konsep ''informasi'' memiliki keterkaitan dengan berbagai gagasan lain, antara lain [[Kendala (teori informasi)|kendala]], [[komunikasi]], [[sistem kendali|pengendalian]], [[data]], [[bentuk]], [[pendidikan]], [[pengetahuan]], [[Makna (linguistik)|makna]], [[pemahaman]], [[rangsangan|rangsangan mental]], [[teori pola|pola]], [[persepsi]], [[Proposisi#Treatment in logic|proposisi]], [[representasi pengetahuan|representasi]], dan [[Entropi (teori informasi)|entropi]]. | Konsep ''informasi'' memiliki keterkaitan dengan berbagai gagasan lain,<ref name="Floridi">Luciano Floridi. [https://books.google.com/books?id=Ak__GBAcHU0C Information – A Very Short Introduction]. Oxford University Press. 2010. ISBN 978-0-19-160954-1.</ref> antara lain [[Kendala (teori informasi)|kendala]], [[komunikasi]], [[sistem kendali|pengendalian]], [[data]], [[bentuk]], [[pendidikan]], [[pengetahuan]], [[Makna (linguistik)|makna]], [[pemahaman]], [[rangsangan|rangsangan mental]], [[teori pola|pola]], [[persepsi]], [[Proposisi#Treatment in logic|proposisi]], [[representasi pengetahuan|representasi]], dan [[Entropi (teori informasi)|entropi]]. | ||
Informasi sering kali diproses secara bertahap dan berulang: data yang tersedia pada satu tahap akan [[pemrosesan data|diproses]] menjadi informasi, yang kemudian ditafsirkan dan diproses kembali pada tahap berikutnya. Misalnya, dalam [[teks tertulis]], setiap [[simbol]] atau [[huruf (alfabet)|huruf]] menyampaikan informasi yang relevan dengan kata tempatnya berada; setiap kata menyampaikan informasi yang relevan dengan frasa yang dibentuknya; setiap frasa mengandung informasi yang relevan dengan kalimatnya, dan seterusnya, hingga pada tahap akhir informasi ditafsirkan dan menjadi pengetahuan dalam suatu [[domain pengetahuan|ranah tertentu]]. Dalam [[sinyal digital]], [[bit]] dapat ditafsirkan menjadi simbol, huruf, angka, atau struktur yang membawa informasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ciri utama dari informasi adalah bahwa ia selalu tunduk pada proses penafsiran dan pemrosesan. | Informasi sering kali diproses secara bertahap dan berulang: data yang tersedia pada satu tahap akan [[pemrosesan data|diproses]] menjadi informasi, yang kemudian ditafsirkan dan diproses kembali pada tahap berikutnya. Misalnya, dalam [[teks tertulis]], setiap [[simbol]] atau [[huruf (alfabet)|huruf]] menyampaikan informasi yang relevan dengan kata tempatnya berada; setiap kata menyampaikan informasi yang relevan dengan frasa yang dibentuknya; setiap frasa mengandung informasi yang relevan dengan kalimatnya, dan seterusnya, hingga pada tahap akhir informasi ditafsirkan dan menjadi pengetahuan dalam suatu [[domain pengetahuan|ranah tertentu]]. Dalam [[sinyal digital]], [[bit]] dapat ditafsirkan menjadi simbol, huruf, angka, atau struktur yang membawa informasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ciri utama dari informasi adalah bahwa ia selalu tunduk pada proses penafsiran dan pemrosesan. | ||
Proses memperoleh informasi dari suatu sinyal atau pesan dapat dipahami sebagai upaya untuk menyelesaikan [[ambiguitas]] atau [[ketidakpastian]] yang timbul selama proses penafsiran pola-pola dalam sinyal atau pesan tersebut. Informasi dapat disusun dalam bentuk [[data]]. Data yang berulang atau berlebihan dapat [[kompresi data|dikompresi]] hingga mencapai ukuran optimal, yakni batas teoretis dari kompresi tersebut. Informasi yang tersirat dalam sekumpulan data dapat diperoleh melalui analisis. Sebagai contoh, sebuah restoran mengumpulkan data dari setiap pesanan pelanggan. Data tersebut kemudian dapat dianalisis untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna, misalnya untuk menentukan hidangan yang paling populer atau paling jarang dipesan. | Proses memperoleh informasi dari suatu sinyal atau pesan dapat dipahami sebagai upaya untuk menyelesaikan [[ambiguitas]] atau [[ketidakpastian]] yang timbul selama proses penafsiran pola-pola dalam sinyal atau pesan tersebut.<ref>Forrest Webler. ''Measurement in the Age of Information''. ''Information''. 25 Februari 2022. Vol. 13 (3). hlm. 111. doi:10.3390/info13030111.</ref> Informasi dapat disusun dalam bentuk [[data]]. Data yang berulang atau berlebihan dapat [[kompresi data|dikompresi]] hingga mencapai ukuran optimal, yakni batas teoretis dari kompresi tersebut. Informasi yang tersirat dalam sekumpulan data dapat diperoleh melalui analisis. Sebagai contoh, sebuah restoran mengumpulkan data dari setiap pesanan pelanggan. Data tersebut kemudian dapat dianalisis untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna, misalnya untuk menentukan hidangan yang paling populer atau paling jarang dipesan. | ||
Informasi dapat ditransmisikan melalui waktu, lewat [[penyimpanan data]], dan melalui ruang, lewat [[komunikasi]] serta [[telekomunikasi]]. Informasi dapat diekspresikan baik sebagai isi dari sebuah [[pesan]] maupun melalui [[pengamatan]] langsung atau tidak langsung. Apa pun yang dapat [[persepsi|dipersepsi]] dapat dianggap sebagai pesan itu sendiri; dalam pengertian ini, segala informasi senantiasa disampaikan sebagai isi dari suatu pesan. Informasi dapat [[pengkodean|dikodekan]] dalam berbagai bentuk untuk [[Transmisi (telekomunikasi)|transmisi]] dan [[Interpretasi bahasa|penafsiran]]. Misalnya, informasi dapat dikodekan ke dalam [[urutan]] [[tanda (semiotika)|tanda-tanda]] atau dikirimkan melalui [[sinyal]]. Informasi juga dapat [[enkripsi|dienkripsi]] untuk disimpan atau dikomunikasikan dengan aman. | Informasi dapat ditransmisikan melalui waktu, lewat [[penyimpanan data]], dan melalui ruang, lewat [[komunikasi]] serta [[telekomunikasi]].<ref name="Hilbertvideo2011">[https://www.youtube.com/watch?v=iIKPjOuwqHo World_info_capacity_animation]. YouTube. 11 Juni 2011.</ref> Informasi dapat diekspresikan baik sebagai isi dari sebuah [[pesan]] maupun melalui [[pengamatan]] langsung atau tidak langsung. Apa pun yang dapat [[persepsi|dipersepsi]] dapat dianggap sebagai pesan itu sendiri; dalam pengertian ini, segala informasi senantiasa disampaikan sebagai isi dari suatu pesan. Informasi dapat [[pengkodean|dikodekan]] dalam berbagai bentuk untuk [[Transmisi (telekomunikasi)|transmisi]] dan [[Interpretasi bahasa|penafsiran]]. Misalnya, informasi dapat dikodekan ke dalam [[urutan]] [[tanda (semiotika)|tanda-tanda]] atau dikirimkan melalui [[sinyal]]. Informasi juga dapat [[enkripsi|dienkripsi]] untuk disimpan atau dikomunikasikan dengan aman. | ||
Ketidakpastian suatu peristiwa diukur berdasarkan probabilitas kemungkinannya. Ketidakpastian berbanding lurus dengan logaritma negatif dari probabilitas kejadian tersebut. [[Teori informasi]] memanfaatkan prinsip ini untuk menyimpulkan bahwa peristiwa yang lebih tidak pasti memerlukan lebih banyak informasi guna mengurangi ketidakpastian itu. [[Bit]] merupakan [[satuan informasi]] yang umum digunakan, yakni satuan yang "mengurangi ketidakpastian sebesar separuh." Satuan lain seperti [[Nat (satuan)|nat]] juga dapat digunakan. Sebagai contoh, informasi yang dikodekan dalam satu kali pelemparan koin "adil" adalah log<sub>2</sub>(2/1) = 1 bit, dan dalam dua kali pelemparan adalah log<sub>2</sub>(4/1) = 2 bit. Sebuah artikel ''[[Science (jurnal)|Science]]'' tahun 2011 memperkirakan bahwa 97% informasi yang tersimpan secara teknologi pada tahun 2007 sudah berbentuk [[bit]] digital, serta bahwa tahun 2002 menandai awal [[era digital]] dalam penyimpanan informasi (karena kapasitas penyimpanan digital untuk pertama kalinya melampaui analog). | Ketidakpastian suatu peristiwa diukur berdasarkan probabilitas kemungkinannya. Ketidakpastian berbanding lurus dengan logaritma negatif dari probabilitas kejadian tersebut. [[Teori informasi]] memanfaatkan prinsip ini untuk menyimpulkan bahwa peristiwa yang lebih tidak pasti memerlukan lebih banyak informasi guna mengurangi ketidakpastian itu. [[Bit]] merupakan [[satuan informasi]] yang umum digunakan, yakni satuan yang "mengurangi ketidakpastian sebesar separuh."<ref>[https://www.youtube.com/watch?v=9qanHTredVE&list=PLtjBSCvWCU3rNm46D3R85efM0hrzjuAIg&index=42 DT&SC 4-5: Information Theory Primer, Online Course]. ''YouTube''. University of California. 2015.</ref> Satuan lain seperti [[Nat (satuan)|nat]] juga dapat digunakan. Sebagai contoh, informasi yang dikodekan dalam satu kali pelemparan koin "adil" adalah log<sub>2</sub>(2/1) = 1 bit, dan dalam dua kali pelemparan adalah log<sub>2</sub>(4/1) = 2 bit. Sebuah artikel ''[[Science (jurnal)|Science]]'' tahun 2011 memperkirakan bahwa 97% informasi yang tersimpan secara teknologi pada tahun 2007 sudah berbentuk [[bit]] digital, serta bahwa tahun 2002 menandai awal [[era digital]] dalam penyimpanan informasi (karena kapasitas penyimpanan digital untuk pertama kalinya melampaui analog).<ref name="HilbertLopez2011">Martin Hilbert. ''The World's Technological Capacity to Store, Communicate, and Compute Information''. ''Science''. 2011. Vol. 332 (6025). hlm. 60–65. doi:10.1126/science.1200970. Akses bebas terhadap artikel tersedia di martinhilbert.net/WorldInfoCapacity.html</ref> | ||
== Teori informasi == | == Teori informasi == | ||
'''Teori informasi''' adalah kajian ilmiah mengenai [[kuantisasi (sains)|kuantisasi]], [[penyimpanan data komputer|penyimpanan]], dan [[telekomunikasi|komunikasi]] informasi. Bidang ini pertama kali diletakkan secara mendasar melalui karya [[Claude Shannon]] pada tahun 1940-an, dengan kontribusi awal dari [[Harry Nyquist]] dan [[Ralph Hartley]] pada dekade 1920-an.<ref>Mario Pérez-Montoro Gutiérrez. [https://archive.org/details/phenomenonofinfo0000pere The Phenomenon of Information: A Conceptual Approach to Information Flow]. Scarecrow Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/phenomenonofinfo0000pere/page/20 21]–22. ISBN 978-0-8108-5942-5.</ref><ref>Krzysztof Wesołowski. [http://ndl.ethernet.edu.et/bitstream/123456789/54386/1/33pdf.pdf Introduction to Digital Communication Systems]. Wiley. 2009. hlm. 2. ISBN 978-0-470-98629-5.</ref> Teori ini berada pada perpotongan antara [[teori probabilitas]], [[statistika]], ilmu komputer, [[mekanika statistik]], [[rekayasa informasi]], dan [[teknik elektro]]. | |||
'''Teori informasi''' adalah kajian ilmiah mengenai [[kuantisasi (sains)|kuantisasi]], [[penyimpanan data komputer|penyimpanan]], dan [[telekomunikasi|komunikasi]] informasi. Bidang ini pertama kali diletakkan secara mendasar melalui karya [[Claude Shannon]] pada tahun 1940-an, dengan kontribusi awal dari [[Harry Nyquist]] dan [[Ralph Hartley]] pada dekade 1920-an. Teori ini berada pada perpotongan antara [[teori probabilitas]], [[statistika]], ilmu komputer, [[mekanika statistik]], [[rekayasa informasi]], dan [[teknik elektro]]. | |||
Ukuran utama dalam teori informasi adalah [[entropi informasi|entropi]]. Entropi mengukur tingkat ketidakpastian yang terkait dengan nilai suatu [[variabel acak]] atau hasil dari suatu [[proses acak]]. Sebagai contoh, menentukan hasil dari [[lemparan koin]] yang adil (dengan dua kemungkinan yang sama besar) menghasilkan lebih sedikit informasi (entropi lebih rendah) dibandingkan dengan menentukan hasil dari [[dadu|lemparan dadu]] (dengan enam kemungkinan yang sama besar). Ukuran penting lainnya dalam teori informasi mencakup [[informasi mutual]], kapasitas kanal, [[eksponen kesalahan]], dan [[entropi relatif]]. Sub-bidang penting dalam teori ini antara lain [[pengkodean sumber]], [[teori kompleksitas algoritmik]], [[teori informasi algoritmik]], dan [[keamanan berbasis teori informasi]]. | Ukuran utama dalam teori informasi adalah [[entropi informasi|entropi]]. Entropi mengukur tingkat ketidakpastian yang terkait dengan nilai suatu [[variabel acak]] atau hasil dari suatu [[proses acak]]. Sebagai contoh, menentukan hasil dari [[lemparan koin]] yang adil (dengan dua kemungkinan yang sama besar) menghasilkan lebih sedikit informasi (entropi lebih rendah) dibandingkan dengan menentukan hasil dari [[dadu|lemparan dadu]] (dengan enam kemungkinan yang sama besar). Ukuran penting lainnya dalam teori informasi mencakup [[informasi mutual]], kapasitas kanal, [[eksponen kesalahan]], dan [[entropi relatif]]. Sub-bidang penting dalam teori ini antara lain [[pengkodean sumber]], [[teori kompleksitas algoritmik]], [[teori informasi algoritmik]], dan [[keamanan berbasis teori informasi]]. | ||
Penerapan utama teori informasi meliputi [[pengkodean sumber]] atau [[kompresi data]] (misalnya pada [[berkas ZIP]]), serta [[pengkodean kanal]] untuk [[pendeteksian dan koreksi kesalahan]] (seperti pada [[DSL]]). Dampaknya sangat penting bagi keberhasilan misi [[program Voyager|Voyager]] ke ruang angkasa jauh, penemuan [[cakram padat]], keberfungsian [[telepon seluler]], dan pengembangan [[Internet]]. Teori ini juga memiliki penerapan luas di bidang lain, termasuk [[inferensi statistik]], [[kriptografi]], [[neurobiologi]], [[persepsi]], [[linguistik]], [[evolusi]] dan fungsi dari kode molekuler ([[bioinformatika]]), [[fisika termal]], [[komputasi kuantum]], [[paradoks informasi lubang hitam|lubang hitam]], [[pencarian informasi]], [[pengumpulan intelijen]], [[deteksi plagiarisme]], [[pengenalan pola]], [[deteksi anomali]] bahkan dalam penciptaan karya seni. | Penerapan utama teori informasi meliputi [[pengkodean sumber]] atau [[kompresi data]] (misalnya pada [[berkas ZIP]]), serta [[pengkodean kanal]] untuk [[pendeteksian dan koreksi kesalahan]] (seperti pada [[DSL]]). Dampaknya sangat penting bagi keberhasilan misi [[program Voyager|Voyager]] ke ruang angkasa jauh, penemuan [[cakram padat]], keberfungsian [[telepon seluler]], dan pengembangan [[Internet]]. Teori ini juga memiliki penerapan luas di bidang lain, termasuk [[inferensi statistik]],<ref>Burnham, K. P. dan Anderson D. R. (2002) ''Model Selection and Multimodel Inference: A Practical Information-Theoretic Approach, Second Edition'' (Springer Science, New York) .</ref> [[kriptografi]], [[neurobiologi]],<ref name="Spikes">F. Rieke. [https://archive.org/details/spikesexploringn0000unse Spikes: Exploring the Neural Code]. The MIT press. 1997. ISBN 978-0-262-68108-7.</ref> [[persepsi]],<ref>Alfonso Delgado-Bonal. ''Human vision is determined based on information theory''. ''Scientific Reports''. 2016-11-03. Vol. 6 (1). doi:10.1038/srep36038.</ref> [[linguistik]], [[evolusi]]<ref>cf. ''Bayesian inference of phylogeny and its impact on evolutionary biology''. ''Science''. 2001. Vol. 294 (5550). hlm. 2310–2314. doi:10.1126/science.1065889.</ref> dan fungsi<ref>Rando Allikmets. [http://alum.mit.edu/www/toms/ Thomas D. Schneider], Michael Dean (1998) Organization of the ABCR gene: analysis of promoter and splice junction sequences]. ''Gene''. 1998. Vol. 215 (1). hlm. 111–122. doi:10.1016/s0378-1119(98)00269-8.</ref> dari kode molekuler ([[bioinformatika]]), [[fisika termal]],<ref>E. T. Jaynes. [http://bayes.wustl.edu/ Information Theory and Statistical Mechanics]. ''Phys. Rev''. 1957. Vol. 106 (4). hlm. 620. doi:10.1103/physrev.106.620.</ref> [[komputasi kuantum]], [[paradoks informasi lubang hitam|lubang hitam]], [[pencarian informasi]], [[pengumpulan intelijen]], [[deteksi plagiarisme]],<ref>Charles H. Bennett. [http://sciamdigital.com/index.cfm?fa=Products.ViewIssuePreview&ARTICLEID_CHAR=08B64096-0772-4904-9D48227D5C9FAC75 Chain Letters and Evolutionary Histories]. ''Scientific American''. 2003. Vol. 288 (6). hlm. 76–81. doi:10.1038/scientificamerican0603-76.</ref> [[pengenalan pola]], [[deteksi anomali]]<ref>David R. Anderson. [http://aicanderson2.home.comcast.net/~aicanderson2/home.pdf Some background on why people in the empirical sciences may want to better understand the information-theoretic methods]. November 1, 2003.</ref> bahkan dalam penciptaan karya seni. | ||
== Sebagai masukan sensorik == | == Sebagai masukan sensorik == | ||
Sering kali, informasi dapat dipandang sebagai bentuk masukan bagi suatu [[organisme]] atau [[sistem]]. Masukan ini terbagi menjadi dua jenis. Sebagian masukan bersifat penting secara langsung bagi fungsi organisme (misalnya makanan) atau sistem ([[energi]]). Dalam bukunya ''Sensory Ecology'', ahli biofisika [[David B. Dusenbery]] menyebut masukan jenis ini sebagai masukan kausal. Masukan lainnya (yakni informasi) penting bukan karena nilainya sendiri, melainkan karena berkaitan dengan masukan kausal dan dapat digunakan untuk [[prediksi|memperkirakan]] kemunculan masukan kausal pada waktu (atau tempat) yang berbeda. Beberapa jenis informasi penting karena asosiasinya dengan informasi lain, tetapi pada akhirnya harus selalu terkait dengan masukan kausal. | Sering kali, informasi dapat dipandang sebagai bentuk masukan bagi suatu [[organisme]] atau [[sistem]]. Masukan ini terbagi menjadi dua jenis. Sebagian masukan bersifat penting secara langsung bagi fungsi organisme (misalnya makanan) atau sistem ([[energi]]). Dalam bukunya ''Sensory Ecology'',<ref>David B. Dusenbery. [https://archive.org/details/sensoryecologyho0000duse Sensory Ecology]. W.H. Freeman. 1992. ISBN 978-0-7167-2333-2.</ref> ahli biofisika [[David B. Dusenbery]] menyebut masukan jenis ini sebagai masukan kausal. Masukan lainnya (yakni informasi) penting bukan karena nilainya sendiri, melainkan karena berkaitan dengan masukan kausal dan dapat digunakan untuk [[prediksi|memperkirakan]] kemunculan masukan kausal pada waktu (atau tempat) yang berbeda. Beberapa jenis informasi penting karena asosiasinya dengan informasi lain, tetapi pada akhirnya harus selalu terkait dengan masukan kausal. | ||
Dalam praktiknya, informasi biasanya dibawa oleh rangsangan lemah yang perlu dideteksi oleh sistem sensorik khusus dan diperkuat dengan masukan energi agar dapat berfungsi bagi organisme atau sistem tersebut. Misalnya, cahaya pada tumbuhan umumnya (meski tidak selalu) merupakan masukan kausal yang memengaruhi pertumbuhan ke arah sumber cahaya, sementara bagi hewan, cahaya berfungsi sebagai pembawa informasi. Cahaya berwarna yang dipantulkan dari bunga terlalu lemah untuk fotosintesis, tetapi sistem penglihatan lebah mampu mendeteksinya, dan sistem saraf lebah menggunakan informasi tersebut untuk menuntunnya ke bunga, tempat lebah biasanya memperoleh nektar atau serbuk sari, yakni masukan kausal yang memiliki fungsi nutrisi. | Dalam praktiknya, informasi biasanya dibawa oleh rangsangan lemah yang perlu dideteksi oleh sistem sensorik khusus dan diperkuat dengan masukan energi agar dapat berfungsi bagi organisme atau sistem tersebut. Misalnya, cahaya pada tumbuhan umumnya (meski tidak selalu) merupakan masukan kausal yang memengaruhi pertumbuhan ke arah sumber cahaya, sementara bagi hewan, cahaya berfungsi sebagai pembawa informasi. Cahaya berwarna yang dipantulkan dari bunga terlalu lemah untuk fotosintesis, tetapi sistem penglihatan lebah mampu mendeteksinya, dan sistem saraf lebah menggunakan informasi tersebut untuk menuntunnya ke bunga, tempat lebah biasanya memperoleh nektar atau serbuk sari, yakni masukan kausal yang memiliki fungsi nutrisi. | ||
== Sebagai pengaruh yang menuntun pada transformasi == | == Sebagai pengaruh yang menuntun pada transformasi == | ||
Informasi dapat dipahami sebagai setiap bentuk pola yang memengaruhi pembentukan atau transformasi pola lainnya. Dalam pengertian ini, keberadaan pikiran sadar tidaklah diperlukan untuk mengenali, apalagi menghargai, pola tersebut. Sebagai contoh, [[DNA]] memiliki urutan [[nukleotida]] yang merupakan pola yang mengatur pembentukan dan perkembangan [[organisme]] tanpa memerlukan kesadaran. Namun, ketika manusia secara sadar mendefinisikan pola semacam itu (misalnya nukleotida) proses tersebut secara alami melibatkan pemrosesan informasi secara sadar. Meski demikian, keberadaan [[organisme uniseluler]] dan [[organisme multiseluler]] dengan [[biokimia]] yang kompleks (yang memungkinkan terbentuknya [[enzim]] dan polinukleotida yang saling berinteraksi menjaga keteraturan biologis serta berperan dalam perkembangan organisme) telah mendahului munculnya kesadaran manusia dan budaya ilmiah selama jutaan tahun. | Informasi dapat dipahami sebagai setiap bentuk pola yang memengaruhi pembentukan atau transformasi pola lainnya.<ref>Claude E. Shannon. ''The Mathematical Theory of Communication''. 1949.</ref><ref>David Casagrande. [http://www.lehigh.edu/~dac511/literature/casagrande1999.pdf Information as verb: Re-conceptualizing information for cognitive and ecological models]. ''Journal of Ecological Anthropology''. 1999. Vol. 3 (1). hlm. 4–13. doi:10.5038/2162-4593.3.1.1.</ref> Dalam pengertian ini, keberadaan pikiran sadar tidaklah diperlukan untuk mengenali, apalagi menghargai, pola tersebut. Sebagai contoh, [[DNA]] memiliki urutan [[nukleotida]] yang merupakan pola yang mengatur pembentukan dan perkembangan [[organisme]] tanpa memerlukan kesadaran. Namun, ketika manusia secara sadar mendefinisikan pola semacam itu (misalnya nukleotida) proses tersebut secara alami melibatkan pemrosesan informasi secara sadar. Meski demikian, keberadaan [[organisme uniseluler]] dan [[organisme multiseluler]] dengan [[biokimia]] yang kompleks (yang memungkinkan terbentuknya [[enzim]] dan polinukleotida yang saling berinteraksi menjaga keteraturan biologis serta berperan dalam perkembangan organisme) telah mendahului munculnya kesadaran manusia dan budaya ilmiah selama jutaan tahun. | ||
[[Teori sistem]] kadang menggunakan istilah "informasi" dalam pengertian ini, dengan asumsi bahwa informasi tidak selalu melibatkan kesadaran, dan pola-pola yang beredar dalam sistem melalui [[umpan balik]] dapat dianggap sebagai informasi. Dengan kata lain, informasi dalam konteks ini merupakan sesuatu yang berpotensi dipersepsikan sebagai representasi, meski tidak diciptakan dengan tujuan demikian. Sebagai contoh, [[Gregory Bateson]] mendefinisikan "informasi" sebagai "perbedaan yang menimbulkan perbedaan". | [[Teori sistem]] kadang menggunakan istilah "informasi" dalam pengertian ini, dengan asumsi bahwa informasi tidak selalu melibatkan kesadaran, dan pola-pola yang beredar dalam sistem melalui [[umpan balik]] dapat dianggap sebagai informasi. Dengan kata lain, informasi dalam konteks ini merupakan sesuatu yang berpotensi dipersepsikan sebagai representasi, meski tidak diciptakan dengan tujuan demikian. Sebagai contoh, [[Gregory Bateson]] mendefinisikan "informasi" sebagai "perbedaan yang menimbulkan perbedaan".<ref>Gregory Bateson. ''Form, Substance, and Difference, in Steps to an Ecology of Mind''. University of Chicago Press. 1972. hlm. 448–466.</ref> | ||
Namun, bila pengaruh tersebut diartikan sebagai hasil persepsi dan penafsiran oleh pikiran sadar, maka [[konteks (linguistik)|konteks]] tertentu yang melekat pada penafsiran itu dapat mengubah informasi menjadi [[pengetahuan]]. Definisi yang kompleks atas "informasi" dan "pengetahuan" sering kali menyulitkan analisis semantik dan logisnya, tetapi kondisi "transformasi" tetap menjadi aspek penting dalam studi hubungan antara informasi dan pengetahuan, terutama dalam bidang [[manajemen pengetahuan]]. Dalam praktik ini, berbagai alat dan proses digunakan untuk membantu seorang [[pekerja pengetahuan]] dalam melakukan penelitian dan pengambilan keputusan, mencakup langkah-langkah seperti: | Namun, bila pengaruh tersebut diartikan sebagai hasil persepsi dan penafsiran oleh pikiran sadar, maka [[konteks (linguistik)|konteks]] tertentu yang melekat pada penafsiran itu dapat mengubah informasi menjadi [[pengetahuan]]. Definisi yang kompleks atas "informasi" dan "pengetahuan" sering kali menyulitkan analisis semantik dan logisnya, tetapi kondisi "transformasi" tetap menjadi aspek penting dalam studi hubungan antara informasi dan pengetahuan, terutama dalam bidang [[manajemen pengetahuan]]. Dalam praktik ini, berbagai alat dan proses digunakan untuk membantu seorang [[pekerja pengetahuan]] dalam melakukan penelitian dan pengambilan keputusan, mencakup langkah-langkah seperti: | ||
| Baris 38: | Baris 37: | ||
Stewart (2001) berpendapat bahwa transformasi informasi menjadi pengetahuan adalah inti dari penciptaan nilai dan [[keunggulan kompetitif]] bagi organisasi modern. | Stewart (2001) berpendapat bahwa transformasi informasi menjadi pengetahuan adalah inti dari penciptaan nilai dan [[keunggulan kompetitif]] bagi organisasi modern. | ||
Dalam kerangka biologis, Mizraji mendeskripsikan informasi sebagai entitas yang muncul dari interaksi antara pola dengan sistem reseptor (misalnya reseptor molekuler atau saraf yang berinteraksi dengan pola tertentu). Ia juga memperkenalkan gagasan tentang "katalis informasi", yaitu struktur tempat informasi yang muncul mendorong transisi dari pengenalan pola menuju tindakan yang berorientasi pada tujuan, seperti transformasi substrat menjadi produk oleh enzim, atau resepsi auditori kata-kata yang diikuti oleh respons verbal. | Dalam kerangka biologis, Mizraji<ref>E. Mizraji. ''The biological Maxwell's demons: exploring ideas about the information processing in biological systems''. ''Theory in Biosciences''. 2021. Vol. 140 (3). hlm. 307–318. doi:10.1007/s12064-021-00354-6.</ref> mendeskripsikan informasi sebagai entitas yang muncul dari interaksi antara pola dengan sistem reseptor (misalnya reseptor molekuler atau saraf yang berinteraksi dengan pola tertentu). Ia juga memperkenalkan gagasan tentang "katalis informasi", yaitu struktur tempat informasi yang muncul mendorong transisi dari pengenalan pola menuju tindakan yang berorientasi pada tujuan, seperti transformasi substrat menjadi produk oleh enzim, atau resepsi auditori kata-kata yang diikuti oleh respons verbal. | ||
''Kamus Istilah Informasi Denmark'' menyatakan bahwa informasi hanya menyediakan jawaban bagi pertanyaan yang diajukan. Apakah jawaban itu menghasilkan pengetahuan bergantung pada pihak yang menerima informasi. Maka, definisi umum dari konsep ini dapat dirumuskan sebagai: "Informasi = jawaban atas suatu pertanyaan tertentu." | ''Kamus Istilah Informasi Denmark''<ref>Bo Krantz Simonsen. [http://www.informationsordbogen.dk/concept.php?cid=902 Informationsordbogen – vis begreb]. ''Informationsordbogen.dk''.</ref> menyatakan bahwa informasi hanya menyediakan jawaban bagi pertanyaan yang diajukan. Apakah jawaban itu menghasilkan pengetahuan bergantung pada pihak yang menerima informasi. Maka, definisi umum dari konsep ini dapat dirumuskan sebagai: "Informasi = jawaban atas suatu pertanyaan tertentu." | ||
Ketika [[Marshall McLuhan]] berbicara tentang [[media (komunikasi)|media]] dan dampaknya terhadap kebudayaan manusia, ia merujuk pada struktur [[artefak budaya]] yang membentuk perilaku serta cara berpikir kita. Dalam pengertian ini, [[feromon]] juga kerap disebut sebagai bentuk "informasi". | Ketika [[Marshall McLuhan]] berbicara tentang [[media (komunikasi)|media]] dan dampaknya terhadap kebudayaan manusia, ia merujuk pada struktur [[artefak budaya]] yang membentuk perilaku serta cara berpikir kita. Dalam pengertian ini, [[feromon]] juga kerap disebut sebagai bentuk "informasi". | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Ketepatan dan presisi]] | * [[Ketepatan dan presisi]] | ||
* [[Sistem adaptif kompleks]] | * [[Sistem adaptif kompleks]] | ||
| Baris 80: | Baris 78: | ||
* [[Karakteristik pengoperasian penerima]] | * [[Karakteristik pengoperasian penerima]] | ||
* [[Satisficing]] | * [[Satisficing]] | ||
==Bacaan lanjutan== | ==Bacaan lanjutan== | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* Machlup, F. and U. Mansfield, ''The Study of information : interdisciplinary messages''. 1983, New York: Wiley. xxii, 743 p. | * Machlup, F. and U. Mansfield, ''The Study of information : interdisciplinary messages''. 1983, New York: Wiley. xxii, 743 p. | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
* | * | ||
==Pranala luar== | ==Pranala luar== | ||
* [http://plato.stanford.edu/entries/information-semantic/ Semantic Conceptions of Information] Review by [[Luciano Floridi]] for the [[Stanford Encyclopedia of Philosophy]] | * [http://plato.stanford.edu/entries/information-semantic/ Semantic Conceptions of Information] Review by [[Luciano Floridi]] for the [[Stanford Encyclopedia of Philosophy]] | ||
* [http://pespmc1.vub.ac.be/ASC/NEGENTROPY.html Principia Cybernetica entry on negentropy] | * [http://pespmc1.vub.ac.be/ASC/NEGENTROPY.html Principia Cybernetica entry on negentropy] | ||
* [http://www2.sims.berkeley.edu/research/projects/how-much-info-2003/index.htm How Much Information? 2003] an attempt to estimate how much new information is created each year (study was produced by faculty and students at the [[UC Berkeley School of Information|School of Information Management and Systems]] at the [[University of California at Berkeley]]) | * [http://www2.sims.berkeley.edu/research/projects/how-much-info-2003/index.htm How Much Information? 2003] an attempt to estimate how much new information is created each year (study was produced by faculty and students at the [[UC Berkeley School of Information|School of Information Management and Systems]] at the [[University of California at Berkeley]]) | ||
* [http://www.informationsordbogen.dk Informationsordbogen.dk] The Danish Dictionary of Information Terms / Informationsordbogen | * [http://www.informationsordbogen.dk Informationsordbogen.dk] The Danish Dictionary of Information Terms / Informationsordbogen | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Informasi&oldid=29454575 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29454575 (2026-07-13T21:50:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Informasi&oldid=29454575 Wikipedia bahasa Indonesia], | |||
revisi 29454575 (2026-07-13T21:50:17Z) | <!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | ||
Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA) | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 03.05
Informasi adalah sebuah konsep abstrak yang merujuk pada sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memberi tahu. Pada tingkat yang paling mendasar, istilah ini berkaitan dengan penafsiran (mungkin juga secara formal) atas sesuatu yang dapat diindra atau atas abstraksi dari hal-hal tersebut. Setiap proses alami yang tidak sepenuhnya acak serta setiap pola yang dapat diamati dalam suatu medium dapat dikatakan memuat sejumlah informasi. Jika sinyal digital dan berbagai bentuk data menyampaikan informasi melalui tanda-tanda diskret, maka fenomena dan artefak lain seperti sinyal analog, puisi, gambar, musik atau bunyi-bunyian lain, serta arus menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih kontinu.[1] Informasi bukanlah pengetahuan itu sendiri, melainkan makna yang dapat diperoleh dari suatu representasi melalui proses penafsiran.[2]
Konsep informasi memiliki keterkaitan dengan berbagai gagasan lain,[3] antara lain kendala, komunikasi, pengendalian, data, bentuk, pendidikan, pengetahuan, makna, pemahaman, rangsangan mental, pola, persepsi, proposisi, representasi, dan entropi.
Informasi sering kali diproses secara bertahap dan berulang: data yang tersedia pada satu tahap akan diproses menjadi informasi, yang kemudian ditafsirkan dan diproses kembali pada tahap berikutnya. Misalnya, dalam teks tertulis, setiap simbol atau huruf menyampaikan informasi yang relevan dengan kata tempatnya berada; setiap kata menyampaikan informasi yang relevan dengan frasa yang dibentuknya; setiap frasa mengandung informasi yang relevan dengan kalimatnya, dan seterusnya, hingga pada tahap akhir informasi ditafsirkan dan menjadi pengetahuan dalam suatu ranah tertentu. Dalam sinyal digital, bit dapat ditafsirkan menjadi simbol, huruf, angka, atau struktur yang membawa informasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ciri utama dari informasi adalah bahwa ia selalu tunduk pada proses penafsiran dan pemrosesan.
Proses memperoleh informasi dari suatu sinyal atau pesan dapat dipahami sebagai upaya untuk menyelesaikan ambiguitas atau ketidakpastian yang timbul selama proses penafsiran pola-pola dalam sinyal atau pesan tersebut.[4] Informasi dapat disusun dalam bentuk data. Data yang berulang atau berlebihan dapat dikompresi hingga mencapai ukuran optimal, yakni batas teoretis dari kompresi tersebut. Informasi yang tersirat dalam sekumpulan data dapat diperoleh melalui analisis. Sebagai contoh, sebuah restoran mengumpulkan data dari setiap pesanan pelanggan. Data tersebut kemudian dapat dianalisis untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna, misalnya untuk menentukan hidangan yang paling populer atau paling jarang dipesan.
Informasi dapat ditransmisikan melalui waktu, lewat penyimpanan data, dan melalui ruang, lewat komunikasi serta telekomunikasi.[5] Informasi dapat diekspresikan baik sebagai isi dari sebuah pesan maupun melalui pengamatan langsung atau tidak langsung. Apa pun yang dapat dipersepsi dapat dianggap sebagai pesan itu sendiri; dalam pengertian ini, segala informasi senantiasa disampaikan sebagai isi dari suatu pesan. Informasi dapat dikodekan dalam berbagai bentuk untuk transmisi dan penafsiran. Misalnya, informasi dapat dikodekan ke dalam urutan tanda-tanda atau dikirimkan melalui sinyal. Informasi juga dapat dienkripsi untuk disimpan atau dikomunikasikan dengan aman.
Ketidakpastian suatu peristiwa diukur berdasarkan probabilitas kemungkinannya. Ketidakpastian berbanding lurus dengan logaritma negatif dari probabilitas kejadian tersebut. Teori informasi memanfaatkan prinsip ini untuk menyimpulkan bahwa peristiwa yang lebih tidak pasti memerlukan lebih banyak informasi guna mengurangi ketidakpastian itu. Bit merupakan satuan informasi yang umum digunakan, yakni satuan yang "mengurangi ketidakpastian sebesar separuh."[6] Satuan lain seperti nat juga dapat digunakan. Sebagai contoh, informasi yang dikodekan dalam satu kali pelemparan koin "adil" adalah log2(2/1) = 1 bit, dan dalam dua kali pelemparan adalah log2(4/1) = 2 bit. Sebuah artikel Science tahun 2011 memperkirakan bahwa 97% informasi yang tersimpan secara teknologi pada tahun 2007 sudah berbentuk bit digital, serta bahwa tahun 2002 menandai awal era digital dalam penyimpanan informasi (karena kapasitas penyimpanan digital untuk pertama kalinya melampaui analog).[7]
Teori informasi
Teori informasi adalah kajian ilmiah mengenai kuantisasi, penyimpanan, dan komunikasi informasi. Bidang ini pertama kali diletakkan secara mendasar melalui karya Claude Shannon pada tahun 1940-an, dengan kontribusi awal dari Harry Nyquist dan Ralph Hartley pada dekade 1920-an.[8][9] Teori ini berada pada perpotongan antara teori probabilitas, statistika, ilmu komputer, mekanika statistik, rekayasa informasi, dan teknik elektro.
Ukuran utama dalam teori informasi adalah entropi. Entropi mengukur tingkat ketidakpastian yang terkait dengan nilai suatu variabel acak atau hasil dari suatu proses acak. Sebagai contoh, menentukan hasil dari lemparan koin yang adil (dengan dua kemungkinan yang sama besar) menghasilkan lebih sedikit informasi (entropi lebih rendah) dibandingkan dengan menentukan hasil dari lemparan dadu (dengan enam kemungkinan yang sama besar). Ukuran penting lainnya dalam teori informasi mencakup informasi mutual, kapasitas kanal, eksponen kesalahan, dan entropi relatif. Sub-bidang penting dalam teori ini antara lain pengkodean sumber, teori kompleksitas algoritmik, teori informasi algoritmik, dan keamanan berbasis teori informasi.
Penerapan utama teori informasi meliputi pengkodean sumber atau kompresi data (misalnya pada berkas ZIP), serta pengkodean kanal untuk pendeteksian dan koreksi kesalahan (seperti pada DSL). Dampaknya sangat penting bagi keberhasilan misi Voyager ke ruang angkasa jauh, penemuan cakram padat, keberfungsian telepon seluler, dan pengembangan Internet. Teori ini juga memiliki penerapan luas di bidang lain, termasuk inferensi statistik,[10] kriptografi, neurobiologi,[11] persepsi,[12] linguistik, evolusi[13] dan fungsi[14] dari kode molekuler (bioinformatika), fisika termal,[15] komputasi kuantum, lubang hitam, pencarian informasi, pengumpulan intelijen, deteksi plagiarisme,[16] pengenalan pola, deteksi anomali[17] bahkan dalam penciptaan karya seni.
Sebagai masukan sensorik
Sering kali, informasi dapat dipandang sebagai bentuk masukan bagi suatu organisme atau sistem. Masukan ini terbagi menjadi dua jenis. Sebagian masukan bersifat penting secara langsung bagi fungsi organisme (misalnya makanan) atau sistem (energi). Dalam bukunya Sensory Ecology,[18] ahli biofisika David B. Dusenbery menyebut masukan jenis ini sebagai masukan kausal. Masukan lainnya (yakni informasi) penting bukan karena nilainya sendiri, melainkan karena berkaitan dengan masukan kausal dan dapat digunakan untuk memperkirakan kemunculan masukan kausal pada waktu (atau tempat) yang berbeda. Beberapa jenis informasi penting karena asosiasinya dengan informasi lain, tetapi pada akhirnya harus selalu terkait dengan masukan kausal.
Dalam praktiknya, informasi biasanya dibawa oleh rangsangan lemah yang perlu dideteksi oleh sistem sensorik khusus dan diperkuat dengan masukan energi agar dapat berfungsi bagi organisme atau sistem tersebut. Misalnya, cahaya pada tumbuhan umumnya (meski tidak selalu) merupakan masukan kausal yang memengaruhi pertumbuhan ke arah sumber cahaya, sementara bagi hewan, cahaya berfungsi sebagai pembawa informasi. Cahaya berwarna yang dipantulkan dari bunga terlalu lemah untuk fotosintesis, tetapi sistem penglihatan lebah mampu mendeteksinya, dan sistem saraf lebah menggunakan informasi tersebut untuk menuntunnya ke bunga, tempat lebah biasanya memperoleh nektar atau serbuk sari, yakni masukan kausal yang memiliki fungsi nutrisi.
Sebagai pengaruh yang menuntun pada transformasi
Informasi dapat dipahami sebagai setiap bentuk pola yang memengaruhi pembentukan atau transformasi pola lainnya.[19][20] Dalam pengertian ini, keberadaan pikiran sadar tidaklah diperlukan untuk mengenali, apalagi menghargai, pola tersebut. Sebagai contoh, DNA memiliki urutan nukleotida yang merupakan pola yang mengatur pembentukan dan perkembangan organisme tanpa memerlukan kesadaran. Namun, ketika manusia secara sadar mendefinisikan pola semacam itu (misalnya nukleotida) proses tersebut secara alami melibatkan pemrosesan informasi secara sadar. Meski demikian, keberadaan organisme uniseluler dan organisme multiseluler dengan biokimia yang kompleks (yang memungkinkan terbentuknya enzim dan polinukleotida yang saling berinteraksi menjaga keteraturan biologis serta berperan dalam perkembangan organisme) telah mendahului munculnya kesadaran manusia dan budaya ilmiah selama jutaan tahun.
Teori sistem kadang menggunakan istilah "informasi" dalam pengertian ini, dengan asumsi bahwa informasi tidak selalu melibatkan kesadaran, dan pola-pola yang beredar dalam sistem melalui umpan balik dapat dianggap sebagai informasi. Dengan kata lain, informasi dalam konteks ini merupakan sesuatu yang berpotensi dipersepsikan sebagai representasi, meski tidak diciptakan dengan tujuan demikian. Sebagai contoh, Gregory Bateson mendefinisikan "informasi" sebagai "perbedaan yang menimbulkan perbedaan".[21]
Namun, bila pengaruh tersebut diartikan sebagai hasil persepsi dan penafsiran oleh pikiran sadar, maka konteks tertentu yang melekat pada penafsiran itu dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan. Definisi yang kompleks atas "informasi" dan "pengetahuan" sering kali menyulitkan analisis semantik dan logisnya, tetapi kondisi "transformasi" tetap menjadi aspek penting dalam studi hubungan antara informasi dan pengetahuan, terutama dalam bidang manajemen pengetahuan. Dalam praktik ini, berbagai alat dan proses digunakan untuk membantu seorang pekerja pengetahuan dalam melakukan penelitian dan pengambilan keputusan, mencakup langkah-langkah seperti:
- Meninjau informasi untuk menurunkan nilai dan makna yang efektif
- Merujuk pada metadata bila tersedia
- Menetapkan konteks relevan, sering kali di antara berbagai kemungkinan konteks
- Menurunkan pengetahuan baru dari informasi yang ada
- Mengambil keputusan atau membuat rekomendasi berdasarkan pengetahuan yang dihasilkan
Stewart (2001) berpendapat bahwa transformasi informasi menjadi pengetahuan adalah inti dari penciptaan nilai dan keunggulan kompetitif bagi organisasi modern.
Dalam kerangka biologis, Mizraji[22] mendeskripsikan informasi sebagai entitas yang muncul dari interaksi antara pola dengan sistem reseptor (misalnya reseptor molekuler atau saraf yang berinteraksi dengan pola tertentu). Ia juga memperkenalkan gagasan tentang "katalis informasi", yaitu struktur tempat informasi yang muncul mendorong transisi dari pengenalan pola menuju tindakan yang berorientasi pada tujuan, seperti transformasi substrat menjadi produk oleh enzim, atau resepsi auditori kata-kata yang diikuti oleh respons verbal.
Kamus Istilah Informasi Denmark[23] menyatakan bahwa informasi hanya menyediakan jawaban bagi pertanyaan yang diajukan. Apakah jawaban itu menghasilkan pengetahuan bergantung pada pihak yang menerima informasi. Maka, definisi umum dari konsep ini dapat dirumuskan sebagai: "Informasi = jawaban atas suatu pertanyaan tertentu."
Ketika Marshall McLuhan berbicara tentang media dan dampaknya terhadap kebudayaan manusia, ia merujuk pada struktur artefak budaya yang membentuk perilaku serta cara berpikir kita. Dalam pengertian ini, feromon juga kerap disebut sebagai bentuk "informasi".
Lihat pula
- Ketepatan dan presisi
- Sistem adaptif kompleks
- Sistem kompleks
- Penyimpanan data
- Engram
- Infrastruktur Informasi Bebas
- Kebebasan informasi
- Informatika
- Teknologi informasi dan komunikasi
- Arsitektur informasi
- Pialang informasi
- Kontinuum informasi
- Ekologi informasi
- Rekayasa informasi
- Geometri informasi
- Ketimpangan informasi
- Infrastruktur informasi
- Manajemen informasi
- Metabolisme informasi
- Kelebihan informasi
- Kualitas informasi (InfoQ)
- Ilmu informasi
- Sensitivitas informasi
- Teknologi informasi
- Teori informasi
- Perang informasi
- Infosfer
- Biaya informasi leksikografis
- Ilmu perpustakaan
- Meme
- Filsafat informasi
- Informasi kuantum
- Karakteristik pengoperasian penerima
- Satisficing
Bacaan lanjutan
- Machlup, F. and U. Mansfield, The Study of information : interdisciplinary messages. 1983, New York: Wiley. xxii, 743 p.
Pranala luar
- Semantic Conceptions of Information Review by Luciano Floridi for the Stanford Encyclopedia of Philosophy
- Principia Cybernetica entry on negentropy
- How Much Information? 2003 an attempt to estimate how much new information is created each year (study was produced by faculty and students at the School of Information Management and Systems at the University of California at Berkeley)
- Informationsordbogen.dk The Danish Dictionary of Information Terms / Informationsordbogen
Referensi
- ↑ John B. Anderson. Understanding Information Transmission. Ieee Press. 1996. ISBN 978-0-471-71120-9.
- ↑ Hubert P. Yockey. Information Theory, Evolution, and the Origin of Life. Cambridge University Press. 2005. hlm. 7. ISBN 978-0-511-54643-3.
- ↑ Luciano Floridi. Information – A Very Short Introduction. Oxford University Press. 2010. ISBN 978-0-19-160954-1.
- ↑ Forrest Webler. Measurement in the Age of Information. Information. 25 Februari 2022. Vol. 13 (3). hlm. 111. doi:10.3390/info13030111.
- ↑ World_info_capacity_animation. YouTube. 11 Juni 2011.
- ↑ DT&SC 4-5: Information Theory Primer, Online Course. YouTube. University of California. 2015.
- ↑ Martin Hilbert. The World's Technological Capacity to Store, Communicate, and Compute Information. Science. 2011. Vol. 332 (6025). hlm. 60–65. doi:10.1126/science.1200970. Akses bebas terhadap artikel tersedia di martinhilbert.net/WorldInfoCapacity.html
- ↑ Mario Pérez-Montoro Gutiérrez. The Phenomenon of Information: A Conceptual Approach to Information Flow. Scarecrow Press. 2007. hlm. 21–22. ISBN 978-0-8108-5942-5.
- ↑ Krzysztof Wesołowski. Introduction to Digital Communication Systems. Wiley. 2009. hlm. 2. ISBN 978-0-470-98629-5.
- ↑ Burnham, K. P. dan Anderson D. R. (2002) Model Selection and Multimodel Inference: A Practical Information-Theoretic Approach, Second Edition (Springer Science, New York) .
- ↑ F. Rieke. Spikes: Exploring the Neural Code. The MIT press. 1997. ISBN 978-0-262-68108-7.
- ↑ Alfonso Delgado-Bonal. Human vision is determined based on information theory. Scientific Reports. 2016-11-03. Vol. 6 (1). doi:10.1038/srep36038.
- ↑ cf. Bayesian inference of phylogeny and its impact on evolutionary biology. Science. 2001. Vol. 294 (5550). hlm. 2310–2314. doi:10.1126/science.1065889.
- ↑ Rando Allikmets. Thomas D. Schneider, Michael Dean (1998) Organization of the ABCR gene: analysis of promoter and splice junction sequences]. Gene. 1998. Vol. 215 (1). hlm. 111–122. doi:10.1016/s0378-1119(98)00269-8.
- ↑ E. T. Jaynes. Information Theory and Statistical Mechanics. Phys. Rev. 1957. Vol. 106 (4). hlm. 620. doi:10.1103/physrev.106.620.
- ↑ Charles H. Bennett. Chain Letters and Evolutionary Histories. Scientific American. 2003. Vol. 288 (6). hlm. 76–81. doi:10.1038/scientificamerican0603-76.
- ↑ David R. Anderson. Some background on why people in the empirical sciences may want to better understand the information-theoretic methods. November 1, 2003.
- ↑ David B. Dusenbery. Sensory Ecology. W.H. Freeman. 1992. ISBN 978-0-7167-2333-2.
- ↑ Claude E. Shannon. The Mathematical Theory of Communication. 1949.
- ↑ David Casagrande. Information as verb: Re-conceptualizing information for cognitive and ecological models. Journal of Ecological Anthropology. 1999. Vol. 3 (1). hlm. 4–13. doi:10.5038/2162-4593.3.1.1.
- ↑ Gregory Bateson. Form, Substance, and Difference, in Steps to an Ecology of Mind. University of Chicago Press. 1972. hlm. 448–466.
- ↑ E. Mizraji. The biological Maxwell's demons: exploring ideas about the information processing in biological systems. Theory in Biosciences. 2021. Vol. 140 (3). hlm. 307–318. doi:10.1007/s12064-021-00354-6.
- ↑ Bo Krantz Simonsen. Informationsordbogen – vis begreb. Informationsordbogen.dk.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29454575 (2026-07-13T21:50:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.