Lompat ke isi

Wayang kulit: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
Baris 5: Baris 5:
Wayang memiliki beberapa pengertian dari beberapa bahasa, seperti bahasa Jawa, bahasa Aceh, bahasa Bugis, [[bahasa Jawa Kuno]] (Bikol)  dan bahasa indonesia.<ref>Paskalis Ronaldo. [https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/24349/9854 KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA]. ''Jurnal Ilmu Budaya''. 2023. Vol. 10 (1).</ref> Secara umum, wayang berasal dari kata "Ma [[Hyang]]" yang artinya menuju kepada roh [[spiritual]], [[dewa]], atau [[Tuhan]] Yang Maha Esa.Dalam bahasa Jawa, yang bermakna "bayangan", hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang [[kelir]] atau hanya bayangannya saja. Sedangkan dalam [[bahasa Aceh]] dan [[bahasa Bugis]] wayang memiliki arti bayang-banyang.<ref>Paskalis Ronaldo. [https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/24349/9854 KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA]. ''Jurnal Ilmu Budaya''. 2023. Vol. 10 (1).</ref>  Wayang kulit dimainkan oleh seorang [[dalang]] yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik [[gamelan]] yang dimainkan sekelompok [[nayaga]] dan [[tembang]] yang dinyanyikan oleh para [[pesinden]]. Dalang memainkan wayang kulit di balik [[kelir]], yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak ([[blencong]]), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang ([[lakon]]), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Wayang memiliki beberapa pengertian dari beberapa bahasa, seperti bahasa Jawa, bahasa Aceh, bahasa Bugis, [[bahasa Jawa Kuno]] (Bikol)  dan bahasa indonesia.<ref>Paskalis Ronaldo. [https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/24349/9854 KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA]. ''Jurnal Ilmu Budaya''. 2023. Vol. 10 (1).</ref> Secara umum, wayang berasal dari kata "Ma [[Hyang]]" yang artinya menuju kepada roh [[spiritual]], [[dewa]], atau [[Tuhan]] Yang Maha Esa.Dalam bahasa Jawa, yang bermakna "bayangan", hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang [[kelir]] atau hanya bayangannya saja. Sedangkan dalam [[bahasa Aceh]] dan [[bahasa Bugis]] wayang memiliki arti bayang-banyang.<ref>Paskalis Ronaldo. [https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/24349/9854 KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA]. ''Jurnal Ilmu Budaya''. 2023. Vol. 10 (1).</ref>  Wayang kulit dimainkan oleh seorang [[dalang]] yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik [[gamelan]] yang dimainkan sekelompok [[nayaga]] dan [[tembang]] yang dinyanyikan oleh para [[pesinden]]. Dalang memainkan wayang kulit di balik [[kelir]], yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak ([[blencong]]), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang ([[lakon]]), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.


Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah [[Mahabharata]] dan [[Ramayana]], tetapi tak dibatasi hanya dengan [[pakem]] (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari [[cerita Panji]], maupun kisah Rohani dari agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha.


Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh [[UNESCO]] pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (''[[Karya Agung Warisan Budaya Oral dan Nonbendawi Manusia|Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity]]''). Wayang kulit lebih populer di [[Jawa]] bagian tengah-timur dan Madura, sedangkan [[wayang golek]] lebih sering dimainkan di [[Jawa Barat]].
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh [[UNESCO]] pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (''[[Karya Agung Warisan Budaya Oral dan Nonbendawi Manusia|Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity]]''). Wayang kulit lebih populer di [[Jawa]] bagian tengah-timur dan Madura, sedangkan [[wayang golek]] lebih sering dimainkan di [[Jawa Barat]].

Revisi per 9 September 2026 06.25

Dalang cilik di Pasar Malam Semawis, Semarang

Wayang kulit (aksara Jawa: ꦮꦪꦁꦏꦸ ꦭꦶꦠ꧀) adalah bentuk kesenian pewayangan yang menggunakan karakter atau tokoh berbahan kulit hewan. Kesenian ini berasal dari budaya Jawa di Indonesia.[1] Narasi wayang kulit disebut lakon, yang umumnya berisi cerita berdasarkan naskah Mahabharata dan Ramayana, maupun cerita rekaan seniman itu sendiri.

Wayang memiliki beberapa pengertian dari beberapa bahasa, seperti bahasa Jawa, bahasa Aceh, bahasa Bugis, bahasa Jawa Kuno (Bikol) dan bahasa indonesia.[2] Secara umum, wayang berasal dari kata "Ma Hyang" yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa.Dalam bahasa Jawa, yang bermakna "bayangan", hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Sedangkan dalam bahasa Aceh dan bahasa Bugis wayang memiliki arti bayang-banyang.[3] Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.


Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah-timur dan Madura, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

Sejarah

Seni pewayangan, khususnya wayang kulit, diperkirakan sudah lahir di Nusantara pada masa pemerintahan Raja Airlangga yang memimpin Kerajaan Kahuripan (1019–1046). Karya sastra Jawa yang menjadi sumber cerita wayang telah ditulis oleh para pujangga Indonesia sejak abad ke-10, salah satunya adalah Kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (898–910). Kitab ini diperkirakan merupakan gubahan dari kitab Ramayana karya pujangga India, Walmiki. Pada masa itu, para pujangga tidak hanya menyadur kisah dari mancanegara, tetapi juga mengubah dan menciptakan karya sastra bersendikan falsafah Jawa. Pertunjukan wayang kulit sendiri mulai dipertontonkan pada era Airlangga, sebagaimana tercatat dalam beberapa prasasti zaman tersebut yang memuat istilah mawayang dan aringgit, keduanya merujuk pada pertunjukan wayang kulit. Dengan demikian, kesenian wayang kulit telah ada sejak zaman Airlangga dan terus lestari hingga saat ini.[4]

Dalam kepercayaan dan sastra Jawa, wayang kulit dengan filosofi Islam diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo keturunan dari bangsawan Arya Wiraraja. Berawal dari pengamatannya terhadap masyarakat Jawa yang sangat menggemari pertunjukan wayang beber, beliau memanfaatkan seni tersebut sebagai media dakwah.

Karena ajaran Islam melarang penggambaran makhluk hidup secara realistis, Sunan Kalijaga mengubah bahan pembuatan wayang yang awalnya menggunakan daluang (kertas Ponoragan) menjadi kulit sapi atau kerbau. Wujudnya pun diubah menjadi stilasi visual atau bentuk abstrak. Sejak saat itu, wayang kulit digunakan sebagai media syiar agama Islam melalui pendekatan budaya, lengkap dengan penyempurnaan karakter punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Pembuatan

Wayang kulit dibuat dari bahan kulit Kambing, Sapi Dan Kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, per buah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.

Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya, dilakukan pemasangan pada bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerakkan bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada[5] yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.

Jenis

Makna

Kesenian wayang kulit manjadi bagian dari kebudayaan dan tradisi yang masih dilestarikan karena memiliki nilai-nilai adiluhung dan filosofis yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusia.[7] Lebih lajut, dunia pewayangan sangat erat kaitannya dengan sejarah dan falsafah hidup bangsa, terutama nilai falsafat Nusantara.[8] Keterkaitan antara seni pewayangan dengan kehidupan manusia menjadikan seni pewayangan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia, sebab di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya dan religiusitas yang dijunjung dan di hormati.[9] Hal tersebut bisa terjadi karena dalam kesenian wayang kulit terdapat simbol yang memiliki makna tersirat dan dapat dijadikan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu simbol yang familiar dalam seni pewayangan adalah Hyang atau Di-Hyang yang dikenal dengan nama gunungan.[10] Gegunungan dalam seni pewayangan digambarkan dalam bentu pohon-pohon dan bintang-bintang, di mana pohon merepresentasikan toh atau arwah dari leluhur yang telah meninggal dan binatang merepresentasikan kehidupan yang dengan berlangsung.[11] Selain itu, gunungan atau kayon sebagai pembuka pertunjukan seni wayang kulit yang ditampilkan ketika kelir masih kosong melambangkan jahat raya atau alam semesta yang masih kosong pada awal kehidupan manusia di muka bumi.[12]

Pertunjukan

Dalang

Dalang adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bahasa Jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal piwulang. Ngudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, di samping menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh baik pada permainan tersebut.

Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Klaten, Surakarta), almarhum Ki Surono (Banjarnegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogyakarta), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Yogyakarta), Ki Soeparman (gaya Yogyakarta), Ki Anom Suroto (gaya Solo), almarhum Ki Manteb Soedharsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur), almarhum Ki Sugino Siswocarito (gaya Banyumas). Sedangkan pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.

Galeri

Dewa-Dewi

Ramayana

Mahabharata

Pandawa

Kurawa

Lain-lain

Setelah Mahabarata

Punakawan

Lihat pula

Referensi

  1. Edward C. Van Ness. Javanese Wayang Kulit: An Introduction. Oxford University Press. 1980. ISBN 9780195804140.
  2. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  3. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  4. Warta Hindu Dharma. Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. 2003. hlm. 8.
  5. Sendie Yuliarto Margen. Pengaruh Variasi Waktu Electroplating Terhadap Warna Emas Antik (Antique Gold) Pada Medali Dengan Material Zinc Alloy. Jurnal Ilmiah MOMENTUM. 2022-04-30. Vol. 18 (1). hlm. 68. doi:10.36499/jim.v18i1.5991.
  6. Punakawan dalam satire dayak besar (Wayang buntok).
  7. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  8. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  9. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  10. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).
  11. Ir. Sri Mulyono. Wayang Asal-usul, Falsafat dan Masa Depannya. CV Haji Masagung. 1989. ISBN 979-412-038-3.
  12. Paskalis Ronaldo. KAJIAN NILAI-NILAI FILOSOFIS KESENIAN WAYANG KULIT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. Jurnal Ilmu Budaya. 2023. Vol. 10 (1).

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29549568 (2026-08-10T02:35:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.