Pertempuran Muzayyah: Perbedaan antara revisi
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Pertempuran Muzayyah''' (Arab: معركة المصيخ) atau Mazayah (Mushayyakh), terjadi antara pasukan Muslim Arab [[Khulafaur Rasyidin|Khalifah Rasyidin]] dan [[Kekaisaran Sasaniyah|Kekaisaran Sassaniyah]] [[Kekaisaran Sasaniyah|Persia]]. Ketika [[Khalid bin Walid]] berangkat dari [[Pertempuran Ain Al-Tamur|Ain al-Tamr]] ke [[Dumat al-Jandal|Dumat Al-Jandal]] untuk meminta bantuan [[Iyadh bin Ghanam|Iyad bin Ghanm]], istana Persia yakin bahwa Khalid telah kembali ke Arabia dengan sebagian besar pasukannya.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> Persia memutuskan untuk mengusir pasukan Muslim kembali ke padang gurun dan merebut kembali wilayah serta prestise yang telah hilang dari Kekaisaran Persia. Persia telah memutuskan untuk tidak melawan Khalid lagi, tetapi mereka siap untuk melawan pasukan Muslim tanpa Khalid bin al-Walid. | '''Pertempuran Muzayyah''' (Arab: معركة المصيخ) atau Mazayah (Mushayyakh), terjadi antara pasukan Muslim Arab [[Khulafaur Rasyidin|Khalifah Rasyidin]] dan [[Kekaisaran Sasaniyah|Kekaisaran Sassaniyah]] [[Kekaisaran Sasaniyah|Persia]]. Ketika [[Khalid bin Walid]] berangkat dari [[Pertempuran Ain Al-Tamur|Ain al-Tamr]] ke [[Dumat al-Jandal|Dumat Al-Jandal]] untuk meminta bantuan [[Iyadh bin Ghanam|Iyad bin Ghanm]], istana Persia yakin bahwa Khalid telah kembali ke Arabia dengan sebagian besar pasukannya.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> Persia memutuskan untuk mengusir pasukan Muslim kembali ke padang gurun dan merebut kembali wilayah serta prestise yang telah hilang dari Kekaisaran Persia. Persia telah memutuskan untuk tidak melawan Khalid lagi, tetapi mereka siap untuk melawan pasukan Muslim tanpa Khalid bin al-Walid. | ||
== Persiapan == | == Persiapan == | ||
Khalid memutuskan untuk melawan dan menghancurkan setiap pasukan kekaisaran secara terpisah. Dengan strategi ini, ia membagi garnisun Muslim Hira menjadi dua korps, yang satu ia tempatkan di bawah pimpinan [[Qa'qa bin Amru|Al-Qa'qa'a bin Amr at-Tamimi]] dan yang lainnya di bawah pimpinan Abu Laila. Khalid mengirim mereka berdua ke Ain al-Tamr, di mana ia akan bergabung dengan mereka beberapa saat kemudian, setelah pasukan yang bertempur di Dumat Al-Jandal diistirahatkan.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> | Khalid memutuskan untuk melawan dan menghancurkan setiap pasukan kekaisaran secara terpisah. Dengan strategi ini, ia membagi garnisun Muslim Hira menjadi dua korps, yang satu ia tempatkan di bawah pimpinan [[Qa'qa bin Amru|Al-Qa'qa'a bin Amr at-Tamimi]] dan yang lainnya di bawah pimpinan Abu Laila. Khalid mengirim mereka berdua ke Ain al-Tamr, di mana ia akan bergabung dengan mereka beberapa saat kemudian, setelah pasukan yang bertempur di Dumat Al-Jandal diistirahatkan.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> | ||
Sasaran yang tersisa adalah Muzayyah, Saniyy, dan Zumail. Khalid ibn al-Walid memilih Muzayyah; sisanya adalah sasaran yang lebih kecil yang dapat ditangani nanti tanpa kesulitan. Saat itu, lokasi pasti kamp kekaisaran di Muzayyah telah ditentukan oleh agen-agen Khalid. Untuk menghadapi sasaran ini, ia merancang sebuah manuver yang, jarang dipraktikkan dalam sejarah, merupakan salah satu yang paling sulit dikendalikan dan dikoordinasikan—serangan konvergen serentak dari tiga arah yang dilakukan pada malam hari. | Sasaran yang tersisa adalah Muzayyah, Saniyy, dan Zumail. Khalid ibn al-Walid memilih Muzayyah; sisanya adalah sasaran yang lebih kecil yang dapat ditangani nanti tanpa kesulitan. Saat itu, lokasi pasti kamp kekaisaran di Muzayyah telah ditentukan oleh agen-agen Khalid. Untuk menghadapi sasaran ini, ia merancang sebuah manuver yang, jarang dipraktikkan dalam sejarah, merupakan salah satu yang paling sulit dikendalikan dan dikoordinasikan—serangan konvergen serentak dari tiga arah yang dilakukan pada malam hari. | ||
| Baris 16: | Baris 11: | ||
Khalid bin al-Walid mengeluarkan perintah untuk bergerak. Ketiga korps akan bergerak dari lokasi masing-masing di Husaid, Khanafis, dan Ain-ut-Tamr melalui rute terpisah yang telah ditentukannya dan bertemu pada malam dan jam tertentu di suatu tempat beberapa mil sebelum Muzayyah. Pergerakan ini dilaksanakan sesuai rencana, dan ketiga korps terkonsentrasi di tempat yang telah ditentukan. Ia menetapkan waktu serangan dan tiga arah terpisah dari mana ketiga korps akan menyerang musuh yang tidak menaruh curiga. Tentara kekaisaran baru mengetahui serangan itu ketika tiga massa prajurit Muslim yang meraung menyerbu kamp. Dalam kekacauan malam itu, tentara kekaisaran tak pernah menemukan pijakannya. Teror menjadi suasana kamp ketika tentara yang melarikan diri dari satu korps Muslim bertemu dengan korps Muslim lainnya. Ribuan orang dibantai. Pasukan Muslim mencoba menghabisi pasukan ini, tetapi sejumlah besar pasukan Persia dan Arab berhasil melarikan diri, dibantu oleh kegelapan yang telah menyelimuti serangan mendadak itu.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> | Khalid bin al-Walid mengeluarkan perintah untuk bergerak. Ketiga korps akan bergerak dari lokasi masing-masing di Husaid, Khanafis, dan Ain-ut-Tamr melalui rute terpisah yang telah ditentukannya dan bertemu pada malam dan jam tertentu di suatu tempat beberapa mil sebelum Muzayyah. Pergerakan ini dilaksanakan sesuai rencana, dan ketiga korps terkonsentrasi di tempat yang telah ditentukan. Ia menetapkan waktu serangan dan tiga arah terpisah dari mana ketiga korps akan menyerang musuh yang tidak menaruh curiga. Tentara kekaisaran baru mengetahui serangan itu ketika tiga massa prajurit Muslim yang meraung menyerbu kamp. Dalam kekacauan malam itu, tentara kekaisaran tak pernah menemukan pijakannya. Teror menjadi suasana kamp ketika tentara yang melarikan diri dari satu korps Muslim bertemu dengan korps Muslim lainnya. Ribuan orang dibantai. Pasukan Muslim mencoba menghabisi pasukan ini, tetapi sejumlah besar pasukan Persia dan Arab berhasil melarikan diri, dibantu oleh kegelapan yang telah menyelimuti serangan mendadak itu.<ref>Katsir, Ibnu (2012). ''Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.25
Pertempuran Muzayyah (Arab: معركة المصيخ) atau Mazayah (Mushayyakh), terjadi antara pasukan Muslim Arab Khalifah Rasyidin dan Kekaisaran Sassaniyah Persia. Ketika Khalid bin Walid berangkat dari Ain al-Tamr ke Dumat Al-Jandal untuk meminta bantuan Iyad bin Ghanm, istana Persia yakin bahwa Khalid telah kembali ke Arabia dengan sebagian besar pasukannya.[1] Persia memutuskan untuk mengusir pasukan Muslim kembali ke padang gurun dan merebut kembali wilayah serta prestise yang telah hilang dari Kekaisaran Persia. Persia telah memutuskan untuk tidak melawan Khalid lagi, tetapi mereka siap untuk melawan pasukan Muslim tanpa Khalid bin al-Walid.
Persiapan
Khalid memutuskan untuk melawan dan menghancurkan setiap pasukan kekaisaran secara terpisah. Dengan strategi ini, ia membagi garnisun Muslim Hira menjadi dua korps, yang satu ia tempatkan di bawah pimpinan Al-Qa'qa'a bin Amr at-Tamimi dan yang lainnya di bawah pimpinan Abu Laila. Khalid mengirim mereka berdua ke Ain al-Tamr, di mana ia akan bergabung dengan mereka beberapa saat kemudian, setelah pasukan yang bertempur di Dumat Al-Jandal diistirahatkan.[2]
Sasaran yang tersisa adalah Muzayyah, Saniyy, dan Zumail. Khalid ibn al-Walid memilih Muzayyah; sisanya adalah sasaran yang lebih kecil yang dapat ditangani nanti tanpa kesulitan. Saat itu, lokasi pasti kamp kekaisaran di Muzayyah telah ditentukan oleh agen-agen Khalid. Untuk menghadapi sasaran ini, ia merancang sebuah manuver yang, jarang dipraktikkan dalam sejarah, merupakan salah satu yang paling sulit dikendalikan dan dikoordinasikan—serangan konvergen serentak dari tiga arah yang dilakukan pada malam hari.
Pertempuran
Khalid bin al-Walid mengeluarkan perintah untuk bergerak. Ketiga korps akan bergerak dari lokasi masing-masing di Husaid, Khanafis, dan Ain-ut-Tamr melalui rute terpisah yang telah ditentukannya dan bertemu pada malam dan jam tertentu di suatu tempat beberapa mil sebelum Muzayyah. Pergerakan ini dilaksanakan sesuai rencana, dan ketiga korps terkonsentrasi di tempat yang telah ditentukan. Ia menetapkan waktu serangan dan tiga arah terpisah dari mana ketiga korps akan menyerang musuh yang tidak menaruh curiga. Tentara kekaisaran baru mengetahui serangan itu ketika tiga massa prajurit Muslim yang meraung menyerbu kamp. Dalam kekacauan malam itu, tentara kekaisaran tak pernah menemukan pijakannya. Teror menjadi suasana kamp ketika tentara yang melarikan diri dari satu korps Muslim bertemu dengan korps Muslim lainnya. Ribuan orang dibantai. Pasukan Muslim mencoba menghabisi pasukan ini, tetapi sejumlah besar pasukan Persia dan Arab berhasil melarikan diri, dibantu oleh kegelapan yang telah menyelimuti serangan mendadak itu.[3]
Referensi
- ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
- ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
- ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28874024 (2026-01-20T11:45:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.