Lompat ke isi

Rana Ahmad: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 7: Baris 7:
Ayah Ahmad datang dari Suriah untuk bekerja sebagai manajer konstruksi di Arab Saudi pada pertengahan 1970-an.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Empat tahun kemudian, ia menikahi ibu Ahmad di Suriah dan membawanya ke Riyadh.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Rana Ahmad lahir di sana pada tahun 1985<ref>Céline Lussato. [https://www.nouvelobs.com/monde/20181106.OBS4970/rana-ahmad-athee-en-exil-une-saoudienne-agressee-qui-appelle-la-police-se-fera-embarquer.html Rana Ahmad, athée en exil : "Une Saoudienne agressée qui appelle la police se fera embarquer"]. ''L'Obs''. 10 November 2018.</ref> dan memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Keluarganya sangat religius,<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> dia mendeskripsikan seperti berikut 'keluarga yang ekstremis dibandingkan dengan keluarga lain di masyarakat kita', dimana dia dan saudara-saudaranya diajarkan Al-Quran sejak usia 4 tahun.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref>
Ayah Ahmad datang dari Suriah untuk bekerja sebagai manajer konstruksi di Arab Saudi pada pertengahan 1970-an.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Empat tahun kemudian, ia menikahi ibu Ahmad di Suriah dan membawanya ke Riyadh.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Rana Ahmad lahir di sana pada tahun 1985<ref>Céline Lussato. [https://www.nouvelobs.com/monde/20181106.OBS4970/rana-ahmad-athee-en-exil-une-saoudienne-agressee-qui-appelle-la-police-se-fera-embarquer.html Rana Ahmad, athée en exil : "Une Saoudienne agressée qui appelle la police se fera embarquer"]. ''L'Obs''. 10 November 2018.</ref> dan memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Keluarganya sangat religius,<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> dia mendeskripsikan seperti berikut 'keluarga yang ekstremis dibandingkan dengan keluarga lain di masyarakat kita', dimana dia dan saudara-saudaranya diajarkan Al-Quran sejak usia 4 tahun.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref>


RANA Ahmad pergi ke sekolah negeri khusus puteri, di mana lebih dari seperempat bagian dari semua pendidikan didedikasikan untuk agama.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Di sekolahnya, dia diajarkan bahwa semua non-Muslim akan masuk neraka, dan bahwa membenci orang Kristen dan Yahudi adalah kewajiban agama.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Dia diizinkan berkeliling dengan sepeda, misalnya untuk membeli bahan makanan, ketika keluarga sedang berlibur di rumah orang tua ayahnya di Suriah. Namun, pada usia 10 tahun, kakeknya mengambil sepedanya dan berkata bahwa dia 'sekarang sudah terlalu tua untuk bersepeda', yang membuatnya merasa kebebasannya yang paling penting telah dirampas.<ref>Rana Ahmad. [https://www.youtube.com/watch?v=My4u3_52_Sg Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere)]. Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.</ref> Rana Ahmad tidak mengerti mengapa jika "gadis remaja" yang suka mengendarai sepeda dianggap ''[[haram]]'', tetapi jika anak laki-laki melakukan hal yang sama dianggap tidak haram.<ref>Rana Ahmad. [https://www.youtube.com/watch?v=My4u3_52_Sg Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere)]. Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.</ref> Tepat pada keesokan harinya,<ref>Rana Ahmad. [https://www.youtube.com/watch?v=My4u3_52_Sg Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere)]. Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.</ref> dan juga di usia 10 tahun, Rana Ahmad dipaksa untuk mengenakan [[abaya]]<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> dan [[jilbab]] hitam.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref><ref>Rana Ahmad. [https://www.youtube.com/watch?v=My4u3_52_Sg Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere)]. Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.</ref> Meskipun hukum Saudi tidak mengharuskan wanita untuk mengenakan tutup kepala yang lebih ketat daripada jilbab, pada usia 13 tahun Rana Ahmad dipaksa oleh keluarga dan sekolahnya untuk mengenakan [[niqab]] yang menutupi wajah, yang hanya memperlihatkan kedua matanya.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref> Meskipun dia tidak mengerti akan aturan agama yang kemudian dipaksakan padanya, dia pun menerima dan mematuhi.<ref>Anne-Marie Bissada. [http://en.rfi.fr/20181027-mid-east-junction-27-10-18 Female and atheist in Saudi Arabia]. ''Radio France Internationale''. France Médias Monde. 27 October 2018.</ref> Dia juga belum pernah melakukan kontak dengan anak laki-laki atau laki-laki dewasa yang tidak ada pertalian darah dengannya sampai dia mencapai usia dewasa.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref>


=== Pendidikan tinggi dan eksplorasi online ===
=== Pendidikan tinggi dan eksplorasi online ===
Baris 38: Baris 37:
Kisah hidupnya dituangkan dalam film dokumenter oleh media The Vice News berjudul ''Leaving Islam: Rescuing Ex-Muslims'' yang menggambarkan perjalanan hidup Rana Ahmad dari Arab Saudi ke Jerman yang disiarkan pada 10 Februari 2016.<ref>Poppy Begum. [https://www.youtube.com/watch?v=O1lnxUXWGgE Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam]. ''Vice News''. 10 February 2016.</ref> Pada tanggal 5 Maret 2016, tiga bulan setelah tiba di Jerman, Rana Ahmad mengadakan pidato publik pertamanya di Köln pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Dewan Pusat Eks-Muslim. Dia berbicara dalam bahasa Arab tentang kehidupannya di Arab Saudi, penerbangannya dan pendapatnya tentang bagaimana negara-negara Barat harus memperlakukan para pengungsi seperti dirinya dengan wartawan televisi Libanon-Jerman Imad Karim yang juga membuat terjemahan Jerman.<ref>Rana Ahmad & Imad Karim. [https://www.youtube.com/watch?v=4G5Z2Qy9rMY Rede von Ex-Muslima Rana in Köln - 05.03.2016]. Strong Shadow Media. 15 November 2016.</ref>
Kisah hidupnya dituangkan dalam film dokumenter oleh media The Vice News berjudul ''Leaving Islam: Rescuing Ex-Muslims'' yang menggambarkan perjalanan hidup Rana Ahmad dari Arab Saudi ke Jerman yang disiarkan pada 10 Februari 2016.<ref>Poppy Begum. [https://www.youtube.com/watch?v=O1lnxUXWGgE Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam]. ''Vice News''. 10 February 2016.</ref> Pada tanggal 5 Maret 2016, tiga bulan setelah tiba di Jerman, Rana Ahmad mengadakan pidato publik pertamanya di Köln pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Dewan Pusat Eks-Muslim. Dia berbicara dalam bahasa Arab tentang kehidupannya di Arab Saudi, penerbangannya dan pendapatnya tentang bagaimana negara-negara Barat harus memperlakukan para pengungsi seperti dirinya dengan wartawan televisi Libanon-Jerman Imad Karim yang juga membuat terjemahan Jerman.<ref>Rana Ahmad & Imad Karim. [https://www.youtube.com/watch?v=4G5Z2Qy9rMY Rede von Ex-Muslima Rana in Köln - 05.03.2016]. Strong Shadow Media. 15 November 2016.</ref>


Rana Ahmad memberikan wawancara akbar pertamanya ke Frankfurter Allgemeine Zeitung pada Juni 2016.<ref>[https://atheist-refugees.com/en/the-foundation-story-ranas-escape/ The story of our foundation: Rana's escape]. Atheist Refugee Relief.</ref> Pada saat itu, dia masih berada di kamp pengungsi menunggu untuk ditugaskan di rumahnya. "Saya tidak membenci Muslim, saya juga punya teman-teman Muslim yang baik yang menerima saya apa adanya. Yang saya benci adalah ketika hak kita dirampas atas nama agama, terutama kaum wanita," katanya.<ref>Charlotte Sophie Meyn. [http://www.faz.net/aktuell/politik/saudi-arabien-flucht-vor-der-religion-14286388.html?printPagedArticle=true#pageIndex_0 Flucht vor der Religion]. ''Frankfurter Allgemeine Zeitung''. 16 June 2016.</ref> Meskipun dia tidak memiliki masalah dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan Islam, hal itu membuatnya marah melihat seorang gadis berusia 6 atau 8 tahun dipaksa untuk mengenakan hijab di Jerman, di mana disitu berlaku hukum Jerman, bukan hukum syariah. Hal yang juga membuatnya kesal adalah beberapa orang Muslim tidak mau menerima orang Yahudi.<ref>Maximilan Weigl. [https://www.jetzt.de/politik/flucht-aus-saudi-arabien-interview-mit-rana-ahmad „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“]. ''jetzt''. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.</ref><ref>Heidi Ossenberg. [http://www.badische-zeitung.de/liebe-familie/ich-liebe-deutschland--150030608.html "Ich liebe Deutschland"]. ''Badische Zeitung''. 5 March 2018.</ref>


Pada 15 Agustus 2016, Rana Ahmad diwawancarai di televisi untuk pertama kalinya oleh jurnalis Jaafar Abdul Karim dari [[Deutsche Welle]] dalam bahasa Arab. Kutipannya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa lainnya.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref> 3 juta orang melihatnya di televisi dimana dia menyatakan bahwa dia telah keluar dari Islam, sehingga kesaksiannya menjadi viral di Internet. Hal ini mengakibatkan umat Islam dari seluruh dunia mengirimkan banyak ancaman dan hinaan kepadanya.<ref>Marie Wildermann. [https://www.deutschlandfunk.de/von-saudi-arabien-nach-deutschland-die-flucht-einer.886.de.html?dram:article_id=409071 Von Saudi-Arabien nach Deutschland: Die Flucht einer Atheistin]. ''Deutschlandfunk''. 24 January 2018.</ref>
Pada 15 Agustus 2016, Rana Ahmad diwawancarai di televisi untuk pertama kalinya oleh jurnalis Jaafar Abdul Karim dari [[Deutsche Welle]] dalam bahasa Arab. Kutipannya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa lainnya.<ref>Jaafar Abdul Karim. [https://www.memri.org/tv/saudi-born-atheist-rana-ahmad-my-family-or-state-would-have-killed-me-if-i-hadnt-fled-hijab Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood]. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.</ref> 3 juta orang melihatnya di televisi dimana dia menyatakan bahwa dia telah keluar dari Islam, sehingga kesaksiannya menjadi viral di Internet. Hal ini mengakibatkan umat Islam dari seluruh dunia mengirimkan banyak ancaman dan hinaan kepadanya.<ref>Marie Wildermann. [https://www.deutschlandfunk.de/von-saudi-arabien-nach-deutschland-die-flucht-einer.886.de.html?dram:article_id=409071 Von Saudi-Arabien nach Deutschland: Die Flucht einer Atheistin]. ''Deutschlandfunk''. 24 January 2018.</ref>

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.30

Rana Ahmad Cologne 2017

Rana Ahmad atau Rana Ahmad Hamd[1] (kelahiran 1985[2]) adalah pseudonim[3] dari seorang penggiat hak asasi perempuan kelahiran Arab Saudi dan eks-Muslim, yang melarikan diri ke Jerman pada 2015, dimana ia sekarang bermukim.[4] Pelariannya yang dibantu oleh Atheist Republic dan Faith to Faithless, sebagian didokumentasikan dalam dokumenter Vice News, Leaving Islam: Rescuing Ex-Muslims (2017) dan kemudian dalam autobiografi berbahasa Jerman tahun 2018 buatannya Frauen dürfen hier nicht träumen ('Wanita Tak Boleh Bermimpi Disini'[5]), juga diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.[6] Pada 2017, Ahmad mendirikan Atheist Refugee Relief[7] yang berbasis di Koln dengan tujuan memberikan 'bantuan terapan kepada para pengungsi yang tidak memiliki keyakinan agama dan menunjang hidup mereka melalui karya politik.'[8]

Biografi

Masa kanak-kanak dan remaja

Ayah Ahmad datang dari Suriah untuk bekerja sebagai manajer konstruksi di Arab Saudi pada pertengahan 1970-an.[9] Empat tahun kemudian, ia menikahi ibu Ahmad di Suriah dan membawanya ke Riyadh.[10] Rana Ahmad lahir di sana pada tahun 1985[11] dan memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan.[12] Keluarganya sangat religius,[13] dia mendeskripsikan seperti berikut 'keluarga yang ekstremis dibandingkan dengan keluarga lain di masyarakat kita', dimana dia dan saudara-saudaranya diajarkan Al-Quran sejak usia 4 tahun.[14]


Pendidikan tinggi dan eksplorasi online

Pada usia 19, Rana Ahmad akan dinikahkan, dan pesta pertunangan terjadi di Suriah. Akan tetapi karena calon suaminya menolak untuk pindah ke Arab Saudi dan dia menolak untuk pindah ke Suriah, rencana tersebut tidak terwujud.[15] Sementara itu, suaminya kemudian berubah menjadi berperilaku kasar padanya dan mendorongnya untuk bercerai dan pulang kembali ke rumah orang tuanya, yang akhirnya menodai reputasinya di masyarakat.[16] Dia menolak tiga lamaran pernikahan dari pria-pria Saudi pada tahun-tahun berikutnya dengan alasan ingin melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu.[17] Ahmad menghadiri kursus sekolah kejuruan dalam bahasa Inggris dan EDP, kemudian bekerja sebagai resepsionis dan pekerja kantor di berbagai praktik medis dan rumah sakit.[18] Namun, karena adanya sistem perwalian dari kerabat pria di Saudi, dia hampir tidak bisa meninggalkan rumah dan jika dia ingin bepergian dengan mobil, kerabat prianya harus menyetirnya; dia tidak diizinkan bepergian sendirian.[19]

Namun, batasan dan kewajiban menjadi wanita yang sudah menikah membuatnya mempertanyakan perannya, agamanya dan berkembang menjadi keinginan untuk kebebasan.[20] Dalam mencari jawaban atas pertanyaannya, dia beralih ke internet, menemukan filsafat (yang menurut Ahmad dilarang di Arab Saudi[21][22]) dan ateisme[23] pada usia 25 tahun.[24] Ini terjadi pada 2011, ketika ia menemukan cuitan dari seseorang pengguna Twitter bernama "Arab Atheist", dimana dia harus menggunakan aplikasi Google Terjemahan untuk memahaminya.[25][26] Sontak, Ahmad menghubungi "Arab Atheist", yang merekomendasikan beberapa dokumenternya (misalnya, tentang teori evolusi dan Big Bang) dan buku-buku dari Richard Dawkins, Friedrich Nietzsche, Voltaire dan Charles Darwin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[27][28] "Saya menangis ketika saya menemukan semua hal yang tidak pernah diajarkan pada saya, apa yang mereka sembunyikan dari saya," kata Rana Ahmad dalam sebuah wawancara pada 2016.[29] Setelah sekitar satu tahun, dia menyimpulkan bahwa dia tidak bisa lagi percaya pada agama, karena semua kontradiksi dalam Quran.[30] Hal itu membuatnya merasakan ketakutan dan kesedihan yang sangat mendalam karena dia menyadari konsekuensi ateisme dan kemurtadan di Arab Saudi adalah hukuman mati, dan dia mungkin harus meninggalkan negara dan segala yang dia miliki, untuk bertahan hidup.[31] Dia menyembunyikan pandangannya yang telah berubah dari keluarganya dan terus berdoa lima kali sehari, sementara dia mencari bantuan online dari berbagai organisasi seperti Faith to Faithless, Ex-Muslims of North America dan Atheist Republic.[32] Selama lima tahun, dia hidup sebagai seorang ateis tersamar di Arab Saudi. Dia takut keluarganya akan membunuhnya atau negara akan mengeksekusinya jika ke-ateis-annya diketahui.[33]

Tantangan dari keluarga

Kakak lelaki Rana Ahmad yang mulai mencurigai adiknya diam-diam bertemu dengan laki-laki menempatkan alat perekam rahasia di kamar Rana. Setelah alat perekam tersebut berhasil merekam percakapan Rana dengan seorang teman prianya, dia menyerbu kamarnya dan mencoba membunuhnya. Namun, ayah mereka mendengar teriakan Rana meminta bantuan.[34][35] Setelah kejadian ini, Rana Ahmad mencoba bunuh diri dengan memotong pergelangan tangannya, tetapi sekali lagi ayahnya mendapatinya tepat waktu dan segera membawanya ke rumah sakit untuk menyelamatkan hidupnya.[36][37] Kemudian, Rana Ahmad mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak cacat mental. Sementara itu, ia juga belajar bahasa Inggris.[38]

Ketika ibunya menemukan cuitan Rana Ahmad di Twitter tentang keraguannya terhadap agama, dia sangat marah dan mengurung Rana Ahmad di rumahnya sendiri sebagai tahanan rumah selama sebulan tanpa akses ke laptop atau smartphone.[39] Ibunya memaksanya untuk berdoa dan membaca Alquran.[40] Pada tahun 2014, dia dipaksa oleh keluarganya untuk menunaikan haji.[41][42] Dia mencari dan menemukan bantuan dari Atheist Republic serta organisasi serupa lainnya yang dikenalnya secara online. Ketika sedang berhaji, dia mengambil foto dirinya memegang selembar kertas dengan tulisan "Atheist Republic" yang tertulis di sana, sambil berdiri di dalam Masjid al-Haram di Mekkah, situs Islam paling suci.[43] Dia sangat ketakutan karena dia tahu dia akan dibunuh jika orang-orang di sekitarnya melihat kertas itu dan menemukan keateisannya. Akan tetapi dia juga ingin menunjukkan eksistensinya via internet sebagai seorang ateis di Mekkah, sebagaimana banyak ateis-ateis lainnya di Arab Saudi, bahwa keberadaannya disini bukanlah pilihannya sendiri.[44][45] Pada saat itu juga untuk pertama kalinya ia memutuskan untuk meninggalkan negaranya secepatnya atau mengakhiri hidupnya.[46] Dia meminta Atheist Republic untuk mengunggah foto tersebut ke Facebook setelah dia meninggalkan Mekkah, dan mereka melakukannya pada 3 Agustus 2014; Beberapa hari kemudian dia kewalahan setelah mendapati foto tersebut akhirnya menyebar.[47][48]

Melarikan diri

Rana Ahmad kemudian berencana untuk melarikan diri dari negaranya dengan dibantu oleh organisasi Faith to Faithless. Pada awalnya, Rana Ahmad berusaha melarikan diri ke Belanda, tetapi kedutaan menolak untuk memberinya visa. Setelah itu dia berpikir untuk menikah dengan pria yang memiliki pandangan yang sama untuk meninggalkan negaranya, akan tetapi tidak menemukan calon. Karena paspor Suriahnya akan kedaluwarsa pada akhir 2015 dan kedutaan Suriah di Arab Saudi ditutup (sejak 2012 karena Perang Saudara Suriah), maka Rana Ahmad harus bergegas dan dia hanya bisa melarikan diri ke negara yang tidak membutuhkan persyaratan visa seperti Turki.[49] Sebagai seorang wanita asing dari Suriah, majikannya (dan bukan ayahnya) harus memberikan izin untuk bepergian ke luar negeri, dan dia bisa meyakinkan majikannya bahwa dia akan pergi untuk liburan keluarga sehingga majikannya menandatangani surat-surat untuknya.[50]

Pada 26 Mei 2015, ia naik pesawat terbang dari Riyadh melalui Dubai ke Bandar Udara Internasional Istanbul Atatürk, dengan hanya membawa laptopnya, dokumen-dokumen (termasuk paspor Suriah-nya) dan uang 200 dolar Amerika.[51] Dia melepas jilbab dan abayanya pada saat kedatangannya untuk pertama kalinya sebagai orang dewasa di depan umum, dan sejak saat itu mengadopsi nama samarannya 'Rana Ahmad (Hamd)' untuk menggagalkan upaya keluarganya untuk melacaknya.[52] Setelah empat hari dia naik bus menemui seorang kawannya (eks-Muslim dari Suriah[53]) di Izmir, yang menawarinya sebuah rumah kecil untuk disewakan.[54] Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ahmad menari di jalan dan minum alkohol.[55] Namun, dia menerima kabar bahwa keluarganya mengetahui bahwa dia telah melarikan diri ke Turki dan khawatir mereka akan mengejarnya. Dia memotong pendek rambutnya, mengecatnya pirang dan mengenakan lensa kontak berwarna-warni sebagai penyamaran.[56] Selanjutnya, Armin Navabi, pendiri Atheist Republic, memulai kampanye crowdfunding untuk membiayai akomodasi dan perjalanan yang lebih jauh ke Uni Eropa, yang menghasilkan $ 5.000.[57][58] Pada Agustus 2015, Imtiaz Shams dari Faith to Faithless, bergabung dengan kru kamera Vice News, datang mengunjunginya di Izmir untuk membahas solusi.[59] Setelah sia-sia mencoba mendapatkan visa untuk memasuki Uni Eropa selama lima bulan, Rana Ahmad memutuskan untuk menyeberangi perbatasan Yunani secara ilegal dengan kapal, yang berhasil pada upaya ketiga.[60][61]

Dari Yunani, ia melakukan perjalanan melintasi Makedonia Utara, Serbia, Hungaria, Slowakia, Austria, mencapai Jerman pada November 2015.[62] Sepanjang jalan, dia tinggal di berbagai kamp pengungsi selama beberapa waktu.[63] Dia membatalkan rencana untuk melanjutkan ke Swedia karena dia kehabisan uang, lelah bepergian dan telah mendengar sistem pendidikan Jerman yang baik.[64]

Kehidupan di Jerman

Setibanya di Jerman pada November 2015, Ahmad menghabiskan waktu satu tahun di sebuah kamp pengungsi yang berjarak sekitar satu jam dari Köln, sebelum dia ditugaskan di rumahnya sendiri.[65][66] Pada 31 Desember 2015, Wakil Berita kru kamera mengunjunginya lagi di Köln.[67] Ia menghabiskan tahun pertamanya dengan banyak membaca buku (fisika), dia berkeinginan untuk mempelajari fisika nuklir atau teknik nuklir.[68][69] Selanjutnya dia merasa terancam oleh para pengungsi Muslim di kamp. Banyak dari mereka menganggap kemurtadan sebagai kejahatan mematikan.[70][71] Secara kebetulan, dia diketemukan setelah dia menulis surat kepada Maryam Namazie[72] dan Dewan Pusat Eks-Muslim kebetulan juga bermarkas di Köln. Setelah menghubungi Mina Ahadi, Dewan Pusat Eks Muslim dan Yayasan Giordano Bruno dapat membantunya mendapatkan rumah untuk dirinya.[73]

Pada usia 30, setelah 20 tahun, ia akhirnya dapat membeli dan mengendarai sepeda lagi di Jerman, yang ia anggap sebagai pemulihan penting kebebasannya. Di fotonya yang memperlihatkan dirinya sedang memegang sepeda barunya di Köln digunakan untuk brosur Atheist Refugee Relief.[74]

Dia membuat pernyataan pada bulan Maret 2018 bahwa "Saya mencintai Jerman, saya mencintai kehidupan bebas saya di Jerman."[75] Dia ingin beradaptasi dengan cepat, memperoleh kewarganegaraan Jerman, meningkatkan keterampilan bahasa Jerman, dan mendukung kegiatan Dewan Pusat Eks-Muslim.[76] Sejak akhir 2018, Rana Ahmad telah menekuni ilmu fisika di Köln.[77]

Aktivisme di Jerman

Pada tahun-tahun berikutnya, Rana Ahmad telah memberikan banyak wawancara di beberapa media- terutama media berbahasa Jerman dan Prancis- tentang pengalamannya, opini politik dan keagamaannya, terutama yang berkaitan dengan politik Arab Saudi dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman setelah Pembunuhan Jamal Khashoggi pada Oktober 2018.[78][79][80] Rana Ahmad berkomentar bahwa otoritas Saudi telah gagal dalam mewujudkan emansipasi wanita yang telah dikampanyekan oleh banyak aktivis dan bahkan sering kali memenjarakan para aktivis, dan dengan demikian pemerintah Saudi telah memberikan pesan kepada kaum wanita bahwa mereka tidak memiliki masa depan di Arab Saudi dan hal inilah yang mendorong mereka untuk melarikan diri dari Saudi.[81]

Kisah hidupnya dituangkan dalam film dokumenter oleh media The Vice News berjudul Leaving Islam: Rescuing Ex-Muslims yang menggambarkan perjalanan hidup Rana Ahmad dari Arab Saudi ke Jerman yang disiarkan pada 10 Februari 2016.[82] Pada tanggal 5 Maret 2016, tiga bulan setelah tiba di Jerman, Rana Ahmad mengadakan pidato publik pertamanya di Köln pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Dewan Pusat Eks-Muslim. Dia berbicara dalam bahasa Arab tentang kehidupannya di Arab Saudi, penerbangannya dan pendapatnya tentang bagaimana negara-negara Barat harus memperlakukan para pengungsi seperti dirinya dengan wartawan televisi Libanon-Jerman Imad Karim yang juga membuat terjemahan Jerman.[83]


Pada 15 Agustus 2016, Rana Ahmad diwawancarai di televisi untuk pertama kalinya oleh jurnalis Jaafar Abdul Karim dari Deutsche Welle dalam bahasa Arab. Kutipannya diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa lainnya.[84] 3 juta orang melihatnya di televisi dimana dia menyatakan bahwa dia telah keluar dari Islam, sehingga kesaksiannya menjadi viral di Internet. Hal ini mengakibatkan umat Islam dari seluruh dunia mengirimkan banyak ancaman dan hinaan kepadanya.[85]

Dengan bantuan Dewan Pusat Eks-Muslim dan Yayasan Giordano Bruno, Rana Ahmad mendirikan Atheist Refugee Relief e.V.[86] pada bulan Maret 2017,[87] dan secara resmi dipresentasikan pada peringatan 10 tahun Dewan pada 17 November 2017.[88] Tujuannya adalah untuk memberikan dukungan kepada para pengungsi yang didiskriminasi atau bahkan yang terancam nyawanya karena ke-ateis-an atau sikap kritis mereka terhadap agama.'[89] Relawan Relief bekerja setiap hari untuk melindungi terutama para pengungsi ateis wanita - karena mereka lebih sering menjadi sasaran penganiayaan lebih lanjut (misalnya, 'penyerangan, pengucilan, ancaman dan kekerasan') di Jerman.[90] Pada Desember 2018, organisasi ini telah membantu 37 pengungsi non-religius yang diakui sejak November 2017, tetapi selanjutnya terjadi peningatan permintaan yang sangat cepat.[91] Menurut Dittmar Steiner, Ateist Refugee Relief menerima 'dua hingga tiga permintaan [untuk bantuan] setiap minggu' pada awal pendiriannya. Kemudian terjadi peningkatan menjadi 'antara tujuh dan sembilan hari' setahun kemudian.[92]

Pada 15 Januari 2018, bukunya Frauen dürfen hier nicht träumen: Mein Ausbruch aus Saudi-Arabien, mein Weg in die Freiheit ('Wanita Tidak Diizinkan Bermimpi Di Sini: Pelarian Saya dari Arab Saudi dan Jalan Saya Menuju Kebebasan') diterbitkan di Jerman.[93] Terjemahan bahasa Prancis diterbitkan di Paris pada Oktober 2018 dengan nama Ici, les femmes ne rêvent pas: Récit d'une évasion ('Di Sini, Wanita Jangan Bermimpi: Kisah Pelarian').[94] Menurut Ahmad, "Kami, wanita, kami dapat mengubah hidup kami, bebas. Kami pikir kami lemah, tetapi itu salah; kami kuat, dan buku ini membuktikannya."[95]

Buku

  • Asli Jerman:
  • Terjemahan Perancis:

Catatan

Pranala luar

Referensi

  1. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  2. Céline Lussato. Rana Ahmad, athée en exil : "Une Saoudienne agressée qui appelle la police se fera embarquer". L'Obs. 10 November 2018.
  3. Céline Lussato. Rana Ahmad, athée en exil : "Une Saoudienne agressée qui appelle la police se fera embarquer". L'Obs. 10 November 2018.
  4. Sarah Elzas. Live on Live - Saudi author in exile, Rana Ahmad. RFI English. France Médias Monde. 18 October 2018.
  5. Sarah Elzas. Live on Live - Saudi author in exile, Rana Ahmad. RFI English. France Médias Monde. 18 October 2018.
  6. Anne-Marie Bissada. Female and atheist in Saudi Arabia. Radio France Internationale. France Médias Monde. 27 October 2018.
  7. Astrid Prange. Germany's atheist refugees: When not believing is life-threatening. Deutsche Welle. 20 December 2018.
  8. Our concept and practical work. Atheist Refugee Relief.
  9. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  10. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  11. Céline Lussato. Rana Ahmad, athée en exil : "Une Saoudienne agressée qui appelle la police se fera embarquer". L'Obs. 10 November 2018.
  12. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  13. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  14. Jaafar Abdul Karim. Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.
  15. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  16. Anne-Marie Bissada. Female and atheist in Saudi Arabia. Radio France Internationale. France Médias Monde. 27 October 2018.
  17. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  18. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  19. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  20. Anne-Marie Bissada. Female and atheist in Saudi Arabia. Radio France Internationale. France Médias Monde. 27 October 2018.
  21. Sarah Elzas. Live on Live - Saudi author in exile, Rana Ahmad. RFI English. France Médias Monde. 18 October 2018.
  22. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  23. Anne-Marie Bissada. Female and atheist in Saudi Arabia. Radio France Internationale. France Médias Monde. 27 October 2018.
  24. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  25. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  26. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  27. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  28. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  29. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  30. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  31. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  32. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  33. Jaafar Abdul Karim. Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.
  34. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  35. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  36. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  37. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  38. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  39. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  40. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  41. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  42. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  43. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  44. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  45. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  46. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  47. Rana Ahmad. Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere). Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.
  48. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  49. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  50. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  51. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  52. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  53. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  54. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  55. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  56. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  57. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  58. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  59. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  60. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  61. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  62. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  63. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  64. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  65. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  66. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  67. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  68. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  69. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  70. Charlotte Sophie Meyn. Flucht vor der Religion. Frankfurter Allgemeine Zeitung. 16 June 2016.
  71. The story of our foundation: Rana's escape. Atheist Refugee Relief.
  72. Rana Ahmad. Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere). Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.
  73. The story of our foundation: Rana's escape. Atheist Refugee Relief.
  74. Rana Ahmad. Frauen dürfen hier nicht träumen (Lesung - Buchpremiere). Giordano Bruno Foundation. 30 January 2018.
  75. Heidi Ossenberg. "Ich liebe Deutschland". Badische Zeitung. 5 March 2018.
  76. Heidi Ossenberg. "Ich liebe Deutschland". Badische Zeitung. 5 March 2018.
  77. Sarah Elzas. Live on Live - Saudi author in exile, Rana Ahmad. RFI English. France Médias Monde. 18 October 2018.
  78. Rana Ahmad, opposante saoudienne : "Khashoggi a été tué parce qu'il décrivait la réalité en Arabie saoudite". Le Dauphiné libéré. 19 October 2018.
  79. Antoine Malo. Arabie saoudite : "Mohammed ben Salman n’a rien changé au système", selon l'exilée Rana Ahmad. Le Journal du Dimanche. 21 October 2018.
  80. Rana Ahmad zu den Ermittlungsergebnissen im Fall Khashoggi am 23.10.18. Der Tag. Phoenix. 23 October 2018.
  81. Hilary Whiteman, Ivan Watson and Sandi Sidhu. Desperate and alone, Saudi sisters risk everything to flee oppression. CNN International. 21 February 2019.
  82. Poppy Begum. Rescuing Ex-Muslims: Leaving Islam. Vice News. 10 February 2016.
  83. Rana Ahmad & Imad Karim. Rede von Ex-Muslima Rana in Köln - 05.03.2016. Strong Shadow Media. 15 November 2016.
  84. Jaafar Abdul Karim. Saudi-born atheist Rana Ahmad: my family or the state would have killed me if I hadn't fled; the hijab robbed me of my childhood. Middle East Media Research Institute. 15 August 2016.
  85. Marie Wildermann. Von Saudi-Arabien nach Deutschland: Die Flucht einer Atheistin. Deutschlandfunk. 24 January 2018.
  86. The story of our foundation: Rana's escape. Atheist Refugee Relief.
  87. Statutes of Säkulare Flüchtlingshilfe e.V. – Atheisten helfen. Atheist Refugee Relief. March 2017.
  88. Atheist Refugee Relief is presented to the public. Atheist Refugee Relief. 25 November 2017.
  89. Statutes of Säkulare Flüchtlingshilfe e.V. – Atheisten helfen. Atheist Refugee Relief. March 2017.
  90. Astrid Prange. Germany's atheist refugees: When not believing is life-threatening. Deutsche Welle. 20 December 2018.
  91. Astrid Prange. Germany's atheist refugees: When not believing is life-threatening. Deutsche Welle. 20 December 2018.
  92. Astrid Prange. Germany's atheist refugees: When not believing is life-threatening. Deutsche Welle. 20 December 2018.
  93. Maximilan Weigl. „In Saudi-Arabien bist du als Frau ein Mensch zweiter Klasse“. jetzt. Süddeutsche Zeitung. 15 January 2018.
  94. Thierry Godefridi. Ici, les femmes ne rêvent pas, de Rana Ahmad. Contrepoints. 8 December 2018.
  95. Floriane Valdayron. Rana Ahmad a risqué sa vie pour fuir l'Arabie saoudite et vivre libre. Cheek Magazine. 26 October 2018.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29202963 (2026-05-08T05:49:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.