Lompat ke isi

Serangan disinformasi: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 11: Baris 11:
Alat-alat digital seperti [[Bot sosial|bot]], [[algoritma]], teknologi AI, dapat dijadikan oleh para [[influencer]] sebagai media dalam menyebar disinformasi diberbagai media sosial yang banyak digunakan pengguna internet seperti [[Twitter]], [[Instagram]], [[Facebook]], [[Google]], [[YouTube]], dan lainnya.<ref>Sonia K. Katyal. [https://muse.jhu.edu/article/745987 Artificial Intelligence, Advertising, and Disinformation]. ''Advertising & Society Quarterly''. 2019. Vol. 20 (4). doi:10.1353/asr.2019.0026.</ref>
Alat-alat digital seperti [[Bot sosial|bot]], [[algoritma]], teknologi AI, dapat dijadikan oleh para [[influencer]] sebagai media dalam menyebar disinformasi diberbagai media sosial yang banyak digunakan pengguna internet seperti [[Twitter]], [[Instagram]], [[Facebook]], [[Google]], [[YouTube]], dan lainnya.<ref>Sonia K. Katyal. [https://muse.jhu.edu/article/745987 Artificial Intelligence, Advertising, and Disinformation]. ''Advertising & Society Quarterly''. 2019. Vol. 20 (4). doi:10.1353/asr.2019.0026.</ref>


== Penyebab tersebarnya disinformasi ==
[[Tom Buchanan]], seorang [[akademisi]] dari [[Universitas Westminster]] di [[London]], [[Inggris]], melakukan riset terkait mengapa disinformasi dapat menyebar. Tom melakukan riset terhadap 2.634 orang yang kebanyakan berada di [[Inggris]], dan 638 orang diantaranya berada di [[Amerika Serikat]]. Dalam studi tersebut, ia menemukan alasan utama peluang disinformasi dapat tersebar, yang hasil risetnya ia tulis dalam buku berjudul ''Why Do People Spread False Information Online?'', diterbitkan pada September 2020. Menurut Tom, ada dua aspek utama yang menyebabkan disinfromasi tersebar, yakni karakter pesan dan kondisi pengguna.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref>
=== Karakter pesan ===
Pola penyebaran pesan disinformasi yakni konsisten, adanya kesepakatan, dan sebuah otoritas. Karakter pesan yang disampaikan secara konsisten dan terus menerus, dapat membuat seseorang percaya pada informasi yang salah. Sebelum menerima pesan itu, seseorang bisa mengetahui bahwa itu adalah [[Hoax|informasi palsu]], dan jika diterima terus menerus, perlahan akan dianggap sebagai kebenaran.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref> Menteri Propaganda [[Nazi]], [[Joseph Goebbels]], mengatakan jika kebohongan besar disampaikan terus menerus, orang akan percaya pada hal tersebut.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref>
Konten yang mendapat banyak "suka" atau juga ''retweet'' dapat menarik minat seseorang, padahal indikator partisipasi dapat dipalsukan. Aspek kesepakatan ini menjadi pola kerja disinformasi. Sebuah disinformasi dapat dipercaya, ketika disampaikan oleh seorang [[influencer]] atau sebuah lembaga yang kredibel. Pengaruh sebuah otoritas adalah pola penyebaran disinformasi.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref>
=== Kondisi pengguna ===
Latar belakang keyakinan atau [[agama]] dan afiliasi [[politik]] seseorang, dapat menjadi penyebab terpengaruh [[disinformasi]].<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref> Dalam proses [[Pemilihan umum Presiden Indonesia 2019]], dapat menjadi pelajaran dalam konteks masyarakat [[Indonesia]]. Banyak tersebar [[berita hoax]] terkait kandidat antara [[Joko Widodo]] dan [[Prabowo Subianto]]. Masyarakat Indonesia terpecah belah karena pandangan politik, yang disertai tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref> Selain latar belakang agama dan pandangan politik, sifat [[spontan]] dan sifat kemalasan juga dapat menjadi penyebab. Banyak pengguna internet menyerap informasi hanya dengan melihat judul, dan kalimat awal saja, tanpa membaca keseluruhan konten yang dilihat.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref>


== Tindakan pencegahan ==
== Tindakan pencegahan ==
Baris 29: Baris 19:
Di [[Indonesia]], seorang staf dari [[Mafindo|Masyarakat Anti Fitnah Indonesia]] (MAFINDO) bernama Adi Syafitrah telah terlibat dalam kegiatan periksa fakta. Sejak 2019, ia telah melakukan 1.400 pemeriksaan tentang kebenaran sebuah informasi, [[video]], [[foto]], dan [[narasi]] palsu di media sosial. Adi menggunakan alat-alat yang tersedia di internet untuk dapat meneliti kebenaran sebuah informasi. Setelah kebenaran informasi ditemukan, MAFINDO akan menyampaikannya ke masyarakat berupa artikel. Melakukan pengecekan sendiri dengan memeriksa fakta sebuah informasi di media sosial, adalah cara yang paling tepat untuk bisa terhindar dari disinformasi.<ref>Jimmy Manna. [https://www.voaindonesia.com/a/disinformasi-bagaimana-cara-menanggulanginya-/7103878.html Disinformasi, Bagaimana Cara Menanggulanginya?]. ''www.voaindonesia.com''. 23 Mei 2023.</ref>
Di [[Indonesia]], seorang staf dari [[Mafindo|Masyarakat Anti Fitnah Indonesia]] (MAFINDO) bernama Adi Syafitrah telah terlibat dalam kegiatan periksa fakta. Sejak 2019, ia telah melakukan 1.400 pemeriksaan tentang kebenaran sebuah informasi, [[video]], [[foto]], dan [[narasi]] palsu di media sosial. Adi menggunakan alat-alat yang tersedia di internet untuk dapat meneliti kebenaran sebuah informasi. Setelah kebenaran informasi ditemukan, MAFINDO akan menyampaikannya ke masyarakat berupa artikel. Melakukan pengecekan sendiri dengan memeriksa fakta sebuah informasi di media sosial, adalah cara yang paling tepat untuk bisa terhindar dari disinformasi.<ref>Jimmy Manna. [https://www.voaindonesia.com/a/disinformasi-bagaimana-cara-menanggulanginya-/7103878.html Disinformasi, Bagaimana Cara Menanggulanginya?]. ''www.voaindonesia.com''. 23 Mei 2023.</ref>


=== Menurut Tom Buchanan ===
Cara yang bisa dilakukan untuk mencegah disinformasi tersebar menurut Tom Buchanan yakni dengan membuat konten dan informasi yang formatnya menyerupai [[Hoax|informasi palsu]]. Kuantitas konten bermutu harus dapat mengungguli konten disinformasi. Hal ini dilakukan agar konten yang tersaji ke masyarakat didominasi oleh konten yang benar dan positif. Tom juga berpendapat agar masyarakat tidak menggunakan jasa "suka" demi popularitas. Pemerintah, [[tokoh publik]], [[media massa]], serta lembaga-lembaga penyiaran dan berita, seharusnya fokus pada isu-isu spesifik.<ref>Yohanes Advent Krisdamarjati. [https://www.kompas.id/baca/riset/2020/10/21/mengapa-disinformasi-mudah-tersebar/ Mengapa Disinfromasi Mudah Tersebar]. ''www.kompas.id''. 21 Oktober 2020.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.39

Serangan disinformasi (Inggris: Disinformation attact) adalah sebuah strategi penipuan melibatkan manipulasi media dan manipulasi internet dalam menyebarkan informasi palsu yang bertujuan untuk membingungkan, dan mempolarisasi masyarakat.[1][2]

Sangat penting adanya sebuah tindakan yang dapat mencegah tersebarnya sebuah disinformasi. Secara umum, program pendidikan sedang dikembangkan guna mengajari masyarakat agar dapat membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang palsu. Mesin teknologi di platform digital yang dapat menandai disinformasi juga diperlukan untuk menghentikan disinformasi.[3]

Arti

Disinformasi dapat diartikan sebagai informasi salah yang sengaja dibuat agar mengelabui orang yang menerima informasi tersebut. Penyebar atau pembuat informasi itu mengetahui bahwa itu adalah salah, akan tetapi sengaja menyebarkannya untuk memengaruhi opini publik serta mendapatkan keuntungan dari hal tersebut. Penyebaran disinformasi biasanya terkait tiga hal yakni data palsu, foto palsu dan video palsu.[4] Serangan disinformasi berarti penyebaran sebuah informasi palsu terhadap target tertentu.

Target

Pihak-pihak yang menjadi target dan sering mendapat serangan disinformasi yakni pemerintah, perusahaan, jurnalis, ilmuwan, aktivis, dan pihak swasta lainnya.[5] Berdasarkan data Komisi Eropa pada tahun 2018, serangan disinformasi dapat mengancam nilai-nilai demokrasi dan dapat mengurangi ligitimasi suatu proses pemilihan, terkhusus pada saat pemilu diadakan di suatu negara.[6]

Alat-alat digital seperti bot, algoritma, teknologi AI, dapat dijadikan oleh para influencer sebagai media dalam menyebar disinformasi diberbagai media sosial yang banyak digunakan pengguna internet seperti Twitter, Instagram, Facebook, Google, YouTube, dan lainnya.[7]


Tindakan pencegahan

Pew Research Center dalam penelitiannya menemukan bahwa 50% penduduk Amerika Serikat berpendapat bahwa disinformasi yang berisi berita palsu lebih berbahaya jika dibandingkan dengan persoalan imigran ilegal, terorisme, dan tindakan kekerasan. Tentu ada daya dan upaya yang dilakukan masyarakat agar dapat terhindar dari disinformasi.[8]

Jessica Brandt, seorang direktur kebijakan di Brooking Institution berpendapat bahwa masyarakat dapat terlibat dalam organisasi "fact check" atau periksa fakta. Organisasi ini melakukan kampanye literasi media melalui penyuluhan dan memberi pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara kerja media sosial. Jessica mengatakan bahwa kegiatan melalui organisai ini dapat membantu masyarakat terhindar dari informasi yang tidak benar.[9]

Di Indonesia, seorang staf dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) bernama Adi Syafitrah telah terlibat dalam kegiatan periksa fakta. Sejak 2019, ia telah melakukan 1.400 pemeriksaan tentang kebenaran sebuah informasi, video, foto, dan narasi palsu di media sosial. Adi menggunakan alat-alat yang tersedia di internet untuk dapat meneliti kebenaran sebuah informasi. Setelah kebenaran informasi ditemukan, MAFINDO akan menyampaikannya ke masyarakat berupa artikel. Melakukan pengecekan sendiri dengan memeriksa fakta sebuah informasi di media sosial, adalah cara yang paling tepat untuk bisa terhindar dari disinformasi.[10]


Referensi

  1. W Lance Bennett. The disinformation order: Disruptive communication and the decline of democratic institutions. European Journal of Communication. April 2018. Vol. 33 (2). hlm. 122–139. doi:10.1177/0267323118760317.
  2. Don Fallis. What Is Disinformation?. Library Trends. 2015. Vol. 63 (3). hlm. 401–426. doi:10.1353/lib.2015.0014.
  3. Jenis-Jenis Serangan Siber di Era Digital. bpptik.kominfo.go.id.
  4. Mengenal Istilah Disinformasi, Misinformasi dan Malinformasi? Ini Perbedaannya. www.liputan6.com.
  5. Disinformation attacks have arrived in the corporate sector. Are you ready?. PwC.
  6. Communication - Tackling online disinformation: a European approach. European Commission. 2018-04-26.
  7. Sonia K. Katyal. Artificial Intelligence, Advertising, and Disinformation. Advertising & Society Quarterly. 2019. Vol. 20 (4). doi:10.1353/asr.2019.0026.
  8. Jimmy Manna. Disinformasi, Bagaimana Cara Menanggulanginya?. www.voaindonesia.com. 23 Mei 2023.
  9. Jimmy Manna. Disinformasi, Bagaimana Cara Menanggulanginya?. www.voaindonesia.com. 23 Mei 2023.
  10. Jimmy Manna. Disinformasi, Bagaimana Cara Menanggulanginya?. www.voaindonesia.com. 23 Mei 2023.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 26756996 (2025-01-05T18:19:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.