Lompat ke isi

Kecanduan internet: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28722197; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Gangguan kecanduan internet''' (, IAD); atau umum dikenal sebagai '''kecanduan internet''', '''penggunaan internet problematik''', atau '''penggunaan internet patologis'''; adalah penggunaan [[internet]] secara [[Kompulsi|kompulsif]] yang prolematik, terkhususnya pada [[sosial media]], yang memengaruhi kebiasaan seseorang dalam jangka waktu lama. Kaum muda terkhususnya terancam mengembangkan gangguan ini, dimana studi kasus telah menunjukkan bahwa performa akademik siswa menurut seiring mereka menghabiskan lebih banyak waktu daring. Beberapa mengalami akibat kesehatan dari gangguan ini, dari kekurangan tidur, seiring mereka [[begadang]] hingga larut malam [[Gulir petaka|berselancar]], mengobrol dan bermain permainan video.
[[File:Reading_mail_at_night_(Unsplash).jpg|thumb|right|280px|Reading mail at night (Unsplash)]]


'''Gangguan kecanduan internet''' (, IAD); atau umum dikenal sebagai '''kecanduan internet''', '''penggunaan internet problematik''', atau '''penggunaan internet patologis'''; adalah penggunaan [[internet]] secara [[Kompulsi|kompulsif]] yang prolematik, terkhususnya pada [[sosial media]], yang memengaruhi kebiasaan seseorang dalam jangka waktu lama. Kaum muda terkhususnya terancam mengembangkan gangguan ini,<ref>''Problematic internet use and protective factors related to family and free time activities among young people''. ''Educational Sciences: Theory & Practice''. July 2019. Vol. 19 (3). hlm. 1–13. doi:10.12738/estp.2019.3.001.</ref> dimana studi kasus telah menunjukkan bahwa performa akademik siswa menurut seiring mereka menghabiskan lebih banyak waktu daring.<ref>[http://dx.doi.org/10.1163/2210-7975_hrd-1326-0318 emigration-plummets-to-lowest-figure-recorded-apr-2-1984-1-p]. ''Human Rights Documents online''. doi:10.1163/2210-7975_hrd-1326-0318.</ref> Beberapa mengalami akibat kesehatan dari gangguan ini, dari kekurangan tidur,<ref>''Internet Addiction and Sleep Problems among Russian Adolescents: A Field School-Based Study''. ''International Journal of Environmental Research and Public Health''. October 2021. Vol. 18 (19). hlm. 10397. doi:10.3390/ijerph181910397.</ref> seiring mereka [[begadang]] hingga larut malam [[Gulir petaka|berselancar]], mengobrol dan bermain permainan video.<ref>''Internet addiction disorder and youth: There are growing concerns about compulsive online activity and that this could impede students' performance and social lives''. ''EMBO Reports''. January 2014. Vol. 15 (1). hlm. 12–6. doi:10.1002/embr.201338222.</ref>


Penggunaan [[internet]] secara berlebihan tidak diakui sebagai sebuah gangguan oleh [[DSM-5]] [[Asosiasi Psikiatris Amerika]] dan [[ICD-11]] [[Organisasi Kesehatan Dunia]]. Namun, [[kecanduan permainan video]] hadir pada ICD-11. [[Kontroversi]] mengenai diagnosis mencakup apakah gangguan ini adalah sebuah [[entitas]] klinisnya sendiri (jenis gangguannya sendiri), atau merupakan sebuah [[manifestasi]] dari gangguan-gangguan psikiater yang telah ada. Definisi dari gangguan kecanduan internet tidak terstandardisasi maupun disetujui, mempersulit lebih lanjut proses perkembangan rekomendasi yang didasari oleh bukti.
Penggunaan [[internet]] secara berlebihan tidak diakui sebagai sebuah gangguan oleh [[DSM-5]] [[Asosiasi Psikiatris Amerika]] dan [[ICD-11]] [[Organisasi Kesehatan Dunia]].<ref>[https://www.psychologytoday.com/us/basics/internet-addiction Internet Addiction]. ''Psychology Today''.</ref> Namun, [[kecanduan permainan video]] hadir pada ICD-11.<ref>[https://www.who.int/health-topics/addictive-behaviour#tab=tab_3 Addictive behaviour]. ''www.who.int''.</ref> [[Kontroversi]] mengenai diagnosis mencakup apakah gangguan ini adalah sebuah [[entitas]] klinisnya sendiri (jenis gangguannya sendiri), atau merupakan sebuah [[manifestasi]] dari gangguan-gangguan psikiater yang telah ada. Definisi dari gangguan kecanduan internet tidak terstandardisasi maupun disetujui, mempersulit lebih lanjut proses perkembangan rekomendasi yang didasari oleh bukti.


Banyak model teoretis berbeda telah dikembangkan dan diterapkan selama beberapa tahun untuk menjelaskan lebih baik faktor-faktor yang mendorong gangguan ini. Model-model seperti model perilaku-kognitif Internet patologis telah digunakan untuk menjelaskan IAD selama lebih dari 20 tahun. Model-model yang lebih baru, seperti model ''Person-Affect-Cognition-Execution'', telah dikembangkan belakangan-belakangan ini dan mulai lebih banyak digunakan dalam studi klinis.
Banyak model teoretis berbeda telah dikembangkan dan diterapkan selama beberapa tahun untuk menjelaskan lebih baik faktor-faktor yang mendorong gangguan ini. Model-model seperti model perilaku-kognitif Internet patologis telah digunakan untuk menjelaskan IAD selama lebih dari 20 tahun. Model-model yang lebih baru, seperti model ''Person-Affect-Cognition-Execution'', telah dikembangkan belakangan-belakangan ini dan mulai lebih banyak digunakan dalam studi klinis.<ref>Jin-Ho Jhone. ''Is the I-PACE (Interaction of Person-Affect-Cognition-Execution) model valid in South Korea? The effects of adverse childhood experiences (ACEs) on internet gaming disorder and the mediating effect of stress on adolescents''. ''Journal of Behavioral Addictions''. 2021-12-16. Vol. 10 (4). hlm. 967–982. doi:10.1556/2006.2021.00081.</ref>


Pada 2011, istilah "gangguan kecanduan Facebook", FAD, muncul. FAD dicirikan dengan penggunaan [[Facebook]] secara kompulsif. Sebuah studi tahun 2017 menelaah hubungan antara penggunaan secara berlebihan dengan [[narsisisme]], melaporkan bahwa "FAD sangat berhubungan secara signifikan dan positif dengan sifat [[narsisisme]] dan variabel-variabel [[Kesehatan jiwa|kesehatan mental]] negatif (gejala [[depresi]], [[kegelisahan]] dan [[Stres psikologis|stres]])".
Pada 2011, istilah "gangguan kecanduan Facebook", FAD, muncul.<ref>Amy Summers. [http://www.adweek.com/digital/facebook-addiction-disorder-the-6-symptoms-of-f-a-d/ Facebook Addiction Disorder — The 6 Symptoms of F.A.D]. ''AdWeek''. May 2, 2011.</ref> FAD dicirikan dengan penggunaan [[Facebook]] secara kompulsif. Sebuah studi tahun 2017 menelaah hubungan antara penggunaan secara berlebihan dengan [[narsisisme]], melaporkan bahwa "FAD sangat berhubungan secara signifikan dan positif dengan sifat [[narsisisme]] dan variabel-variabel [[Kesehatan jiwa|kesehatan mental]] negatif (gejala [[depresi]], [[kegelisahan]] dan [[Stres psikologis|stres]])".<ref>J. Brailovskaia. ''Facebook Addiction Disorder (FAD) among German students—A longitudinal approach''. ''PLOS ONE''. 2017. Vol. 12 (12). hlm. 2423–2478. doi:10.1371/journal.pone.0189719.</ref><ref>Nan Zhao. ''COVID-19 Stress and Addictive Social Media Use (SMU): Mediating Role of Active Use and Social Media Flow''. ''Frontiers in Psychiatry''. 9 February 2021. Vol. 12. hlm. 635546. doi:10.3389/fpsyt.2021.635546.</ref>


Pada 2020, dokumenter ''[[The Social Dilemma]]'' melaporkan kekhawatiran ahli kesehatan mental dan mantan-mantan karyawan perusahaan-perusahaan sosial media mengenai dorongan penggunaan adiktif dari sosial media. Sebagai contoh, saat sebuah pengguna belum membuka Facebook selama beberapa waktu, Facebook akan meragamkan notifikasinya, mencoba untuk memancing pengguna tersebut untuk kembali. Dokumenter ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai hubungan antara penggunaan [[Media sosial|sosial media]] dan [[bunuh diri]] pada remaja dan anak-anak.
Pada 2020, dokumenter ''[[The Social Dilemma]]'' melaporkan kekhawatiran ahli kesehatan mental dan mantan-mantan karyawan perusahaan-perusahaan sosial media mengenai dorongan penggunaan adiktif dari sosial media. Sebagai contoh, saat sebuah pengguna belum membuka Facebook selama beberapa waktu, Facebook akan meragamkan notifikasinya, mencoba untuk memancing pengguna tersebut untuk kembali. Dokumenter ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai hubungan antara penggunaan [[Media sosial|sosial media]] dan [[bunuh diri]] pada remaja dan anak-anak.<ref>[https://www.netflix.com/title/81254224 Watch The Social Dilemma]. ''www.netflix.com''. Netflix Official Site.</ref>


Selain itu, pada 2020, studi-studi telah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kelaziman IAD sejak pandemi COVID-19. Studi-studi yang menitikberatkan pada kemungkinan hubungan antara COVID-10 dan IAD telah melihat bagaimana isolasi secara paksa (karena ''social distancing'') dan stres karenanya dapat barangkali menyebabkan tingkat penggunaan Internet yang lebih tinggi.
Selain itu, pada 2020, studi-studi telah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kelaziman IAD sejak pandemi COVID-19.<ref>Yang‐Yang Li. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ajad.13156 Internet Addiction Increases in the General Population During COVID‐19: Evidence From China]. ''The American Journal on Addictions''. 19 March 2021. Vol. 30 (4). hlm. 389–397. doi:10.1111/ajad.13156.</ref> Studi-studi yang menitikberatkan pada kemungkinan hubungan antara COVID-10 dan IAD telah melihat bagaimana isolasi secara paksa (karena ''social distancing'') dan stres karenanya dapat barangkali menyebabkan tingkat penggunaan Internet yang lebih tinggi.<ref>Yang‐Yang Li. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ajad.13156 Internet Addiction Increases in the General Population During COVID‐19: Evidence From China]. ''The American Journal on Addictions''. 19 March 2021. Vol. 30 (4). hlm. 389–397. doi:10.1111/ajad.13156.</ref>


Mematikan notifikasi sosial media dapat membantu mengurangi penggunaan sosial media. Bagi beberapa pengguna, perubahan dalam penelusuran daring dapat berguna dalam mengkompensasi masalah-masalah mengatur diri sendiri. Sebagai contoh, sebuah studi yang melibatkan 157 pelajar daring pada [[Kursus daring terbuka besar-besaran|kursus-kursus daring terbuka besar-besaran]] menelaah dampak intervensi semacam itu. Studi tersebut melaporkan bahwa memberi dukungan dalam regulasi diri dihubungkan dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan daring, terkhususnya pada hiburan.
Mematikan notifikasi sosial media dapat membantu mengurangi penggunaan sosial media.<ref>Suzanne Kane. [https://psychcentral.com/blog/portion-control-in-social-media-how-limiting-time-increases-well-being/ Portion-Control in Social Media? How Limiting Time Increases Well-Being]. ''World of Psychology''. December 6, 2018.</ref> Bagi beberapa pengguna, perubahan dalam penelusuran daring dapat berguna dalam mengkompensasi masalah-masalah mengatur diri sendiri. Sebagai contoh, sebuah studi yang melibatkan 157 pelajar daring pada [[Kursus daring terbuka besar-besaran|kursus-kursus daring terbuka besar-besaran]] menelaah dampak intervensi semacam itu. Studi tersebut melaporkan bahwa memberi dukungan dalam regulasi diri dihubungkan dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan daring, terkhususnya pada hiburan.<ref>Eduard Pogorskiy. ''From procrastination to engagement? An experimental exploration of the effects of an adaptive virtual assistant on self regulation in online learning''. ''Computers and Education: Artificial Intelligence''. 2023. Vol. 4. hlm. 100111. doi:10.1016/j.caeai.2022.100111.</ref>


== Faktor internal dan eksternal ==
== Faktor internal dan eksternal ==
Faktor Internal terdiri dari dua aspek yakni aspek psikologis dan perilaku. Dari sisi psikologis, kepribadian menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap kecanduan. Individu dengan kepribadian impulsif cenderung sulit untuk menunda kepuasan, sedangkan individu introvert merasa lebih aman menjalin hubungan di dunia maya dibandingkan interaksi tatap muka. Kerentanan psikologis seperti stres, depresi, dan kesepian juga membuat seseorang menggunakan internet sebagai pelarian. Lemahnya kontrol diri juga trurut memberikan dampaknya, karena individu dengan kontrol diri rendah cenderung gagal membatasi durasi penggunaan meski menyadari dampak negatifnya.
Faktor Internal terdiri dari dua aspek yakni aspek psikologis dan perilaku. Dari sisi psikologis, kepribadian menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap kecanduan. Individu dengan kepribadian impulsif cenderung sulit untuk menunda kepuasan, sedangkan individu introvert merasa lebih aman menjalin hubungan di dunia maya dibandingkan interaksi tatap muka.<ref>Matthias Brand. [https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2014.01256/full Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications]. ''Frontiers in Psychology''. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.</ref> Kerentanan psikologis seperti stres, depresi, dan kesepian juga membuat seseorang menggunakan internet sebagai pelarian.<ref>Н. Б. Семенова. [https://psyjournals.ru/journals/sps/archive/2022_n1/Semenova Современные представления о роли социальных факторов в развитии интернет-зависимого поведения у детей и подростков (по материалам зарубежных исследований)]. ''Социальная психология и общество''. 2022. Vol. 13 (1). hlm. 22–32. doi:10.17759/sps.2022130102.</ref> Lemahnya kontrol diri juga trurut memberikan dampaknya, karena individu dengan kontrol diri rendah cenderung gagal membatasi durasi penggunaan meski menyadari dampak negatifnya.<ref>Hideki Nakayama. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/pcn.12493 Treatment and risk factors of Internet use disorders]. ''Psychiatry and Clinical Neurosciences''. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.</ref>


Faktor perilaku juga ikut berkontribusi dalam kecanduan internet. Kebiasaan yang dilakukan berulang, seperti mengecek media sosial atau bermain game setiap hari lama-kelamaan akan membentuk kebiasaan yang sulit dihentikan. Ekspektasi kognitif, yaitu keyakinan bahwa internet mampu memberikan hiburan atau status sosial, memperkuat dorongan untuk terus ''online''. Pola interaksi di dunia maya bahkan menciptakan keterhubungan semu atau ''illusory connection'', yang membuat individu lebih bergantung pada relasi daring daripada interaksi dunia nyata.
Faktor perilaku juga ikut berkontribusi dalam kecanduan internet. Kebiasaan yang dilakukan berulang, seperti mengecek media sosial atau bermain game setiap hari lama-kelamaan akan membentuk kebiasaan yang sulit dihentikan.<ref>[https://doi.org/10.54108/red Revista Española de Drogodependencias]. Asociacion Espanola de Estudio en Drogodependencias.</ref> Ekspektasi kognitif, yaitu keyakinan bahwa internet mampu memberikan hiburan atau status sosial, memperkuat dorongan untuk terus ''online''.<ref>Matthias Brand. [https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2014.01256/full Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications]. ''Frontiers in Psychology''. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.</ref> Pola interaksi di dunia maya bahkan menciptakan keterhubungan semu atau ''illusory connection'', yang membuat individu lebih bergantung pada relasi daring daripada interaksi dunia nyata.<ref>Joselyn Barnhart. [https://services.igi-global.com/resolvedoi/resolve.aspx?doi=10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002 Unraveling Internet Addiction: Clinical Perspectives, Implications, and Interventions]. IGI Global. 2025-07-04. hlm. 41–68. doi:10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002. ISBN 979-8-3373-0518-9.</ref>


Faktor eksternal terdiri dari dua aspek yakni aspek lingkungan dan juga sosial. Lingkungan keluarga berperan besar dalam membentuk pola penggunaan internet. Komunikasi yang tidak terbuka, dukungan emosional yang minim, dan pengawasan yang lemah mendorong individu untuk mencari pelarian di dunia maya . Aksesibilitas yang semakin mudah juga membuat internet selalu tersedia, sementara desain aplikasi yang adiktif memperkuat keterikatan. Selain itu, [[tekanan sosial]] untuk aktif di media sosial membuat banyak individu sulit untuk melepaskan diri dengan internet.
Faktor eksternal terdiri dari dua aspek yakni aspek lingkungan dan juga sosial. Lingkungan keluarga berperan besar dalam membentuk pola penggunaan internet.<ref>Daniel T. L. Shek. [https://www.frontiersin.org/article/10.3389/fpsyt.2019.00113/full Influence of Family Processes on Internet Addiction Among Late Adolescents in Hong Kong]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2019-03-12. Vol. 10. doi:10.3389/fpsyt.2019.00113.</ref> Komunikasi yang tidak terbuka, dukungan emosional yang minim, dan pengawasan yang lemah mendorong individu untuk mencari pelarian di dunia maya . Aksesibilitas yang semakin mudah juga membuat internet selalu tersedia, sementara desain aplikasi yang adiktif memperkuat keterikatan.<ref>[https://link.springer.com/10.1007/978-3-319-07242-5 Internet Addiction: Neuroscientific Approaches and Therapeutical Interventions]. Springer International Publishing. 2015. doi:10.1007/978-3-319-07242-5. ISBN 978-3-319-07241-8.</ref> Selain itu, [[tekanan sosial]] untuk aktif di media sosial membuat banyak individu sulit untuk melepaskan diri dengan internet.


Dalam aspek sosial, tren media sosial yang ditandai dengan fenomena ''Fear of Missing Out'' (FOMO) mendorong para pengguna untuk selalu ''online'' dan mengejar validasi sosial. Kemajuan teknologi dengan fitur notifikasi, ''autoplay'', dan rekomendasi otomatis memperpanjang waktu penggunaan sehingga meningkatkan risiko kecanduan. Rendahnya kesadaran akan norma dan etika digital juga memperburuk situasi, sebab banyak pengguna gagal mengatur batasan perilaku pada ruang daring.
Dalam aspek sosial, tren media sosial yang ditandai dengan fenomena ''Fear of Missing Out'' (FOMO) mendorong para pengguna untuk selalu ''online'' dan mengejar validasi sosial.<ref>Fatimah Inanda Putri Luth. [https://journals.usm.ac.id/index.php/philanthropy/article/view/9208 Fear of Missing Out (FOMO), Loneliness, and Social Media Addiction in Early Adults]. ''Philanthropy: Journal of Psychology''. 2024-12-30. Vol. 8 (2). hlm. 134. doi:10.26623/philanthropy.v8i2.9208.</ref> Kemajuan teknologi dengan fitur notifikasi, ''autoplay'', dan rekomendasi otomatis memperpanjang waktu penggunaan sehingga meningkatkan risiko kecanduan.<ref>[https://link.springer.com/10.1007/978-3-319-07242-5 Internet Addiction: Neuroscientific Approaches and Therapeutical Interventions]. Springer International Publishing. 2015. doi:10.1007/978-3-319-07242-5. ISBN 978-3-319-07241-8.</ref> Rendahnya kesadaran akan norma dan etika digital juga memperburuk situasi, sebab banyak pengguna gagal mengatur batasan perilaku pada ruang daring.


== Dampak ==
== Dampak ==
Kecanduan internet berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya risiko depresi, kecemasan, stres, dan penurunan fungsi kognitif. Gangguan tidur, kelelahan, dan menurunnya daya tahan tubuh juga menjadi dampak yang terjadi dalam segi fisik. Produktivitas juga menurun karena kecenderungan prokrastinasi dan kesulitan mengatur waktu. Dalam ranah akademik, penelitian menunjukkan hubungan langsung antara kecanduan internet dengan rendahnya prestasi akademik dan motivasi belajar siswa.
Kecanduan internet berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya risiko depresi, kecemasan, stres, dan penurunan fungsi kognitif.<ref>Matthias Brand. [https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2014.01256/full Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications]. ''Frontiers in Psychology''. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.</ref> Gangguan tidur, kelelahan, dan menurunnya daya tahan tubuh juga menjadi dampak yang terjadi dalam segi fisik.<ref>Hideki Nakayama. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/pcn.12493 Treatment and risk factors of Internet use disorders]. ''Psychiatry and Clinical Neurosciences''. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.</ref> Produktivitas juga menurun karena kecenderungan prokrastinasi dan kesulitan mengatur waktu.<ref>Joselyn Barnhart. [https://services.igi-global.com/resolvedoi/resolve.aspx?doi=10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002 Unraveling Internet Addiction: Clinical Perspectives, Implications, and Interventions]. IGI Global. 2025-07-04. hlm. 41–68. doi:10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002. ISBN 979-8-3373-0518-9.</ref> Dalam ranah akademik, penelitian menunjukkan hubungan langsung antara kecanduan internet dengan rendahnya prestasi akademik dan motivasi belajar siswa.<ref>Karma Tenzin. [https://www.jnma.com.np/jnma/index.php/jnma/article/view/4292 Internet Addiction among Secondary School Adolescents: A Mixed Methods Study]. ''Journal of Nepal Medical Association''. 2019-10-31. Vol. 57 (219). doi:10.31729/jnma.4292.</ref>


== Solusi ==
== Solusi ==
Beberapa strategi telah dikembangkan untuk mengatasi kecanduan internet. Aktivitas fisik terbukti mampu mengurangi risiko adiksi sekaligus meningkatkan kesehatan mental. Terapi kognitif-perilaku (CBT) efektif dalam restrukturisasi pola pikir dan perilaku adiktif.  Dukungan keluarga melalui komunikasi, pengawasan, dan aturan yang jelas juga menjadi faktor protektif penting. Selain itu, program pendidikan yang menekankan pada pentingnya [[literasi digital]] dan kesadaran risiko kecanduan internet perlu dikembangkan untuk menentukan langkah pencegahan sejak dini.
Beberapa strategi telah dikembangkan untuk mengatasi kecanduan internet. Aktivitas fisik terbukti mampu mengurangi risiko adiksi sekaligus meningkatkan kesehatan mental.<ref>Laura Coco. [https://www.mdpi.com/2076-3425/15/7/733 The Brain in the Age of Smartphones and the Internet: The Possible Protective Role of Sport]. ''Brain Sciences''. 2025-07-09. Vol. 15 (7). hlm. 733. doi:10.3390/brainsci15070733.</ref> Terapi kognitif-perilaku (CBT) efektif dalam restrukturisasi pola pikir dan perilaku adiktif.<ref>Hideki Nakayama. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/pcn.12493 Treatment and risk factors of Internet use disorders]. ''Psychiatry and Clinical Neurosciences''. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.</ref> Dukungan keluarga melalui komunikasi, pengawasan, dan aturan yang jelas juga menjadi faktor protektif penting.<ref>Karma Tenzin. [https://www.jnma.com.np/jnma/index.php/jnma/article/view/4292 Internet Addiction among Secondary School Adolescents: A Mixed Methods Study]. ''Journal of Nepal Medical Association''. 2019-10-31. Vol. 57 (219). doi:10.31729/jnma.4292.</ref> Selain itu, program pendidikan yang menekankan pada pentingnya [[literasi digital]] dan kesadaran risiko kecanduan internet perlu dikembangkan untuk menentukan langkah pencegahan sejak dini.<ref>Yaqing Xue. [https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2023.1097331/full Associations between internet addiction and psychological problems among adolescents: description and possible explanations]. ''Frontiers in Psychology''. 2023-05-15. Vol. 14. doi:10.3389/fpsyg.2023.1097331.</ref>


== Daftar pustaka ==
== Daftar pustaka ==


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kecanduan+internet&oldid=28722197 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28722197 (2025-12-21T00:50:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kecanduan+internet&oldid=28722197 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28722197 (2025-12-21T00:50:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 09.04

Reading mail at night (Unsplash)

Gangguan kecanduan internet (, IAD); atau umum dikenal sebagai kecanduan internet, penggunaan internet problematik, atau penggunaan internet patologis; adalah penggunaan internet secara kompulsif yang prolematik, terkhususnya pada sosial media, yang memengaruhi kebiasaan seseorang dalam jangka waktu lama. Kaum muda terkhususnya terancam mengembangkan gangguan ini,[1] dimana studi kasus telah menunjukkan bahwa performa akademik siswa menurut seiring mereka menghabiskan lebih banyak waktu daring.[2] Beberapa mengalami akibat kesehatan dari gangguan ini, dari kekurangan tidur,[3] seiring mereka begadang hingga larut malam berselancar, mengobrol dan bermain permainan video.[4]

Penggunaan internet secara berlebihan tidak diakui sebagai sebuah gangguan oleh DSM-5 Asosiasi Psikiatris Amerika dan ICD-11 Organisasi Kesehatan Dunia.[5] Namun, kecanduan permainan video hadir pada ICD-11.[6] Kontroversi mengenai diagnosis mencakup apakah gangguan ini adalah sebuah entitas klinisnya sendiri (jenis gangguannya sendiri), atau merupakan sebuah manifestasi dari gangguan-gangguan psikiater yang telah ada. Definisi dari gangguan kecanduan internet tidak terstandardisasi maupun disetujui, mempersulit lebih lanjut proses perkembangan rekomendasi yang didasari oleh bukti.

Banyak model teoretis berbeda telah dikembangkan dan diterapkan selama beberapa tahun untuk menjelaskan lebih baik faktor-faktor yang mendorong gangguan ini. Model-model seperti model perilaku-kognitif Internet patologis telah digunakan untuk menjelaskan IAD selama lebih dari 20 tahun. Model-model yang lebih baru, seperti model Person-Affect-Cognition-Execution, telah dikembangkan belakangan-belakangan ini dan mulai lebih banyak digunakan dalam studi klinis.[7]

Pada 2011, istilah "gangguan kecanduan Facebook", FAD, muncul.[8] FAD dicirikan dengan penggunaan Facebook secara kompulsif. Sebuah studi tahun 2017 menelaah hubungan antara penggunaan secara berlebihan dengan narsisisme, melaporkan bahwa "FAD sangat berhubungan secara signifikan dan positif dengan sifat narsisisme dan variabel-variabel kesehatan mental negatif (gejala depresi, kegelisahan dan stres)".[9][10]

Pada 2020, dokumenter The Social Dilemma melaporkan kekhawatiran ahli kesehatan mental dan mantan-mantan karyawan perusahaan-perusahaan sosial media mengenai dorongan penggunaan adiktif dari sosial media. Sebagai contoh, saat sebuah pengguna belum membuka Facebook selama beberapa waktu, Facebook akan meragamkan notifikasinya, mencoba untuk memancing pengguna tersebut untuk kembali. Dokumenter ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai hubungan antara penggunaan sosial media dan bunuh diri pada remaja dan anak-anak.[11]

Selain itu, pada 2020, studi-studi telah menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kelaziman IAD sejak pandemi COVID-19.[12] Studi-studi yang menitikberatkan pada kemungkinan hubungan antara COVID-10 dan IAD telah melihat bagaimana isolasi secara paksa (karena social distancing) dan stres karenanya dapat barangkali menyebabkan tingkat penggunaan Internet yang lebih tinggi.[13]

Mematikan notifikasi sosial media dapat membantu mengurangi penggunaan sosial media.[14] Bagi beberapa pengguna, perubahan dalam penelusuran daring dapat berguna dalam mengkompensasi masalah-masalah mengatur diri sendiri. Sebagai contoh, sebuah studi yang melibatkan 157 pelajar daring pada kursus-kursus daring terbuka besar-besaran menelaah dampak intervensi semacam itu. Studi tersebut melaporkan bahwa memberi dukungan dalam regulasi diri dihubungkan dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan daring, terkhususnya pada hiburan.[15]

Faktor internal dan eksternal

Faktor Internal terdiri dari dua aspek yakni aspek psikologis dan perilaku. Dari sisi psikologis, kepribadian menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap kecanduan. Individu dengan kepribadian impulsif cenderung sulit untuk menunda kepuasan, sedangkan individu introvert merasa lebih aman menjalin hubungan di dunia maya dibandingkan interaksi tatap muka.[16] Kerentanan psikologis seperti stres, depresi, dan kesepian juga membuat seseorang menggunakan internet sebagai pelarian.[17] Lemahnya kontrol diri juga trurut memberikan dampaknya, karena individu dengan kontrol diri rendah cenderung gagal membatasi durasi penggunaan meski menyadari dampak negatifnya.[18]

Faktor perilaku juga ikut berkontribusi dalam kecanduan internet. Kebiasaan yang dilakukan berulang, seperti mengecek media sosial atau bermain game setiap hari lama-kelamaan akan membentuk kebiasaan yang sulit dihentikan.[19] Ekspektasi kognitif, yaitu keyakinan bahwa internet mampu memberikan hiburan atau status sosial, memperkuat dorongan untuk terus online.[20] Pola interaksi di dunia maya bahkan menciptakan keterhubungan semu atau illusory connection, yang membuat individu lebih bergantung pada relasi daring daripada interaksi dunia nyata.[21]

Faktor eksternal terdiri dari dua aspek yakni aspek lingkungan dan juga sosial. Lingkungan keluarga berperan besar dalam membentuk pola penggunaan internet.[22] Komunikasi yang tidak terbuka, dukungan emosional yang minim, dan pengawasan yang lemah mendorong individu untuk mencari pelarian di dunia maya . Aksesibilitas yang semakin mudah juga membuat internet selalu tersedia, sementara desain aplikasi yang adiktif memperkuat keterikatan.[23] Selain itu, tekanan sosial untuk aktif di media sosial membuat banyak individu sulit untuk melepaskan diri dengan internet.

Dalam aspek sosial, tren media sosial yang ditandai dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendorong para pengguna untuk selalu online dan mengejar validasi sosial.[24] Kemajuan teknologi dengan fitur notifikasi, autoplay, dan rekomendasi otomatis memperpanjang waktu penggunaan sehingga meningkatkan risiko kecanduan.[25] Rendahnya kesadaran akan norma dan etika digital juga memperburuk situasi, sebab banyak pengguna gagal mengatur batasan perilaku pada ruang daring.

Dampak

Kecanduan internet berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya risiko depresi, kecemasan, stres, dan penurunan fungsi kognitif.[26] Gangguan tidur, kelelahan, dan menurunnya daya tahan tubuh juga menjadi dampak yang terjadi dalam segi fisik.[27] Produktivitas juga menurun karena kecenderungan prokrastinasi dan kesulitan mengatur waktu.[28] Dalam ranah akademik, penelitian menunjukkan hubungan langsung antara kecanduan internet dengan rendahnya prestasi akademik dan motivasi belajar siswa.[29]

Solusi

Beberapa strategi telah dikembangkan untuk mengatasi kecanduan internet. Aktivitas fisik terbukti mampu mengurangi risiko adiksi sekaligus meningkatkan kesehatan mental.[30] Terapi kognitif-perilaku (CBT) efektif dalam restrukturisasi pola pikir dan perilaku adiktif.[31] Dukungan keluarga melalui komunikasi, pengawasan, dan aturan yang jelas juga menjadi faktor protektif penting.[32] Selain itu, program pendidikan yang menekankan pada pentingnya literasi digital dan kesadaran risiko kecanduan internet perlu dikembangkan untuk menentukan langkah pencegahan sejak dini.[33]

Daftar pustaka

Referensi

  1. Problematic internet use and protective factors related to family and free time activities among young people. Educational Sciences: Theory & Practice. July 2019. Vol. 19 (3). hlm. 1–13. doi:10.12738/estp.2019.3.001.
  2. emigration-plummets-to-lowest-figure-recorded-apr-2-1984-1-p. Human Rights Documents online. doi:10.1163/2210-7975_hrd-1326-0318.
  3. Internet Addiction and Sleep Problems among Russian Adolescents: A Field School-Based Study. International Journal of Environmental Research and Public Health. October 2021. Vol. 18 (19). hlm. 10397. doi:10.3390/ijerph181910397.
  4. Internet addiction disorder and youth: There are growing concerns about compulsive online activity and that this could impede students' performance and social lives. EMBO Reports. January 2014. Vol. 15 (1). hlm. 12–6. doi:10.1002/embr.201338222.
  5. Internet Addiction. Psychology Today.
  6. Addictive behaviour. www.who.int.
  7. Jin-Ho Jhone. Is the I-PACE (Interaction of Person-Affect-Cognition-Execution) model valid in South Korea? The effects of adverse childhood experiences (ACEs) on internet gaming disorder and the mediating effect of stress on adolescents. Journal of Behavioral Addictions. 2021-12-16. Vol. 10 (4). hlm. 967–982. doi:10.1556/2006.2021.00081.
  8. Amy Summers. Facebook Addiction Disorder — The 6 Symptoms of F.A.D. AdWeek. May 2, 2011.
  9. J. Brailovskaia. Facebook Addiction Disorder (FAD) among German students—A longitudinal approach. PLOS ONE. 2017. Vol. 12 (12). hlm. 2423–2478. doi:10.1371/journal.pone.0189719.
  10. Nan Zhao. COVID-19 Stress and Addictive Social Media Use (SMU): Mediating Role of Active Use and Social Media Flow. Frontiers in Psychiatry. 9 February 2021. Vol. 12. hlm. 635546. doi:10.3389/fpsyt.2021.635546.
  11. Watch The Social Dilemma. www.netflix.com. Netflix Official Site.
  12. Yang‐Yang Li. Internet Addiction Increases in the General Population During COVID‐19: Evidence From China. The American Journal on Addictions. 19 March 2021. Vol. 30 (4). hlm. 389–397. doi:10.1111/ajad.13156.
  13. Yang‐Yang Li. Internet Addiction Increases in the General Population During COVID‐19: Evidence From China. The American Journal on Addictions. 19 March 2021. Vol. 30 (4). hlm. 389–397. doi:10.1111/ajad.13156.
  14. Suzanne Kane. Portion-Control in Social Media? How Limiting Time Increases Well-Being. World of Psychology. December 6, 2018.
  15. Eduard Pogorskiy. From procrastination to engagement? An experimental exploration of the effects of an adaptive virtual assistant on self regulation in online learning. Computers and Education: Artificial Intelligence. 2023. Vol. 4. hlm. 100111. doi:10.1016/j.caeai.2022.100111.
  16. Matthias Brand. Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications. Frontiers in Psychology. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.
  17. Н. Б. Семенова. Современные представления о роли социальных факторов в развитии интернет-зависимого поведения у детей и подростков (по материалам зарубежных исследований). Социальная психология и общество. 2022. Vol. 13 (1). hlm. 22–32. doi:10.17759/sps.2022130102.
  18. Hideki Nakayama. Treatment and risk factors of Internet use disorders. Psychiatry and Clinical Neurosciences. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.
  19. Revista Española de Drogodependencias. Asociacion Espanola de Estudio en Drogodependencias.
  20. Matthias Brand. Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications. Frontiers in Psychology. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.
  21. Joselyn Barnhart. Unraveling Internet Addiction: Clinical Perspectives, Implications, and Interventions. IGI Global. 2025-07-04. hlm. 41–68. doi:10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002. ISBN 979-8-3373-0518-9.
  22. Daniel T. L. Shek. Influence of Family Processes on Internet Addiction Among Late Adolescents in Hong Kong. Frontiers in Psychiatry. 2019-03-12. Vol. 10. doi:10.3389/fpsyt.2019.00113.
  23. Internet Addiction: Neuroscientific Approaches and Therapeutical Interventions. Springer International Publishing. 2015. doi:10.1007/978-3-319-07242-5. ISBN 978-3-319-07241-8.
  24. Fatimah Inanda Putri Luth. Fear of Missing Out (FOMO), Loneliness, and Social Media Addiction in Early Adults. Philanthropy: Journal of Psychology. 2024-12-30. Vol. 8 (2). hlm. 134. doi:10.26623/philanthropy.v8i2.9208.
  25. Internet Addiction: Neuroscientific Approaches and Therapeutical Interventions. Springer International Publishing. 2015. doi:10.1007/978-3-319-07242-5. ISBN 978-3-319-07241-8.
  26. Matthias Brand. Internet addiction: coping styles, expectancies, and treatment implications. Frontiers in Psychology. 2014-11-11. Vol. 5. doi:10.3389/fpsyg.2014.01256.
  27. Hideki Nakayama. Treatment and risk factors of Internet use disorders. Psychiatry and Clinical Neurosciences. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.
  28. Joselyn Barnhart. Unraveling Internet Addiction: Clinical Perspectives, Implications, and Interventions. IGI Global. 2025-07-04. hlm. 41–68. doi:10.4018/979-8-3373-0518-9.ch002. ISBN 979-8-3373-0518-9.
  29. Karma Tenzin. Internet Addiction among Secondary School Adolescents: A Mixed Methods Study. Journal of Nepal Medical Association. 2019-10-31. Vol. 57 (219). doi:10.31729/jnma.4292.
  30. Laura Coco. The Brain in the Age of Smartphones and the Internet: The Possible Protective Role of Sport. Brain Sciences. 2025-07-09. Vol. 15 (7). hlm. 733. doi:10.3390/brainsci15070733.
  31. Hideki Nakayama. Treatment and risk factors of Internet use disorders. Psychiatry and Clinical Neurosciences. 2017. Vol. 71 (7). hlm. 492–505. doi:10.1111/pcn.12493.
  32. Karma Tenzin. Internet Addiction among Secondary School Adolescents: A Mixed Methods Study. Journal of Nepal Medical Association. 2019-10-31. Vol. 57 (219). doi:10.31729/jnma.4292.
  33. Yaqing Xue. Associations between internet addiction and psychological problems among adolescents: description and possible explanations. Frontiers in Psychology. 2023-05-15. Vol. 14. doi:10.3389/fpsyg.2023.1097331.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28722197 (2025-12-21T00:50:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.