Lompat ke isi

Efek ketidaktahuan yang membahagiakan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29212557; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
Dalam studi perilaku konsumen, '''Efek Ketidaktahuan yang Membahagiakan''' adalah ketika orang yang memiliki banyak informasi tentang suatu produk ternyata tidak puas dengan produk tersebut, sementara orang yang hanya memiliki sedikit informasi tentang produk justru lebih puas dengan produk itu. Hal ini terjadi karena orang yang membeli produk ingin merasa telah membeli barang yang benar. Namun, jika orang tersebut sudah mengetahui cara kerja produk, mereka akan merasa lebih dirugikan jika terdapat masalah dalam produk tersebut.
Dalam studi perilaku konsumen, '''Efek Ketidaktahuan yang Membahagiakan''' adalah ketika orang yang memiliki banyak informasi tentang suatu produk ternyata tidak puas dengan produk tersebut, sementara orang yang hanya memiliki sedikit informasi tentang produk justru lebih puas dengan produk itu.<ref>Schiffman Leon G. [https://archive.org/details/isbn_9788131731567 Consumer Behavior]. Prentice Hall of India. 1988. hlm. [https://archive.org/details/isbn_9788131731567/page/95 95]. ISBN 978-81-317-3156-7.</ref> Hal ini terjadi karena orang yang membeli produk ingin merasa telah membeli barang yang benar. Namun, jika orang tersebut sudah mengetahui cara kerja produk, mereka akan merasa lebih dirugikan jika terdapat masalah dalam produk tersebut.


Efek ini menggambarkan bagaimana tujuan konsumen kemudian berubah setelah mereka melakukan pembelian. Orang-orang mendambakan informasi yang tepat dan terperinci dalam tahap pengambilan keputusan mereka. Namun, setelah membuat pilihan, prioritas aka bergeser, karena orang ingin puas dengan keputusan mereka. Untuk mencapai hal ini, ketidakjelasan informasi mungkin meningkatkan isi dan penerimaan keputusan itu dengan menyembunyikan gambaran penuh dan membenarkan keputusan yang dibuat.
Efek ini menggambarkan bagaimana tujuan konsumen kemudian berubah setelah mereka melakukan pembelian. Orang-orang mendambakan informasi yang tepat dan terperinci dalam tahap pengambilan keputusan mereka. Namun, setelah membuat pilihan, prioritas aka bergeser, karena orang ingin puas dengan keputusan mereka. Untuk mencapai hal ini, ketidakjelasan informasi mungkin meningkatkan isi dan penerimaan keputusan itu dengan menyembunyikan gambaran penuh dan membenarkan keputusan yang dibuat.<ref>[https://www.sciencedaily.com/releases/2008/09/080915170745.htm Blissfully Ignorant: Skip Those Pesky Details]. ''ScienceDaily''.</ref>


Dalam percobaan untuk menguji efek ketidaktahuan yang membahagiakan, dua kelompok dibuat dan diberi tahu informasi tentang suatu produk. Kelompok pertama diberitahu tentang klaim produsen dan diberikan penelitian dari perusahaan luar, kelompok kedua diberi informasi yang minim tentang produk. Di akhir eksperimen, subjek diwawancarai dan peneliti menemukan bahwa subjek di kelompok kedua mengharapkan produk tersebut berkinerja lebih baik daripada yang dimiliki kelompok pertama.
Dalam percobaan untuk menguji efek ketidaktahuan yang membahagiakan, dua kelompok dibuat dan diberi tahu informasi tentang suatu produk. Kelompok pertama diberitahu tentang klaim produsen dan diberikan penelitian dari perusahaan luar, kelompok kedua diberi informasi yang minim tentang produk. Di akhir eksperimen, subjek diwawancarai dan peneliti menemukan bahwa subjek di kelompok kedua mengharapkan produk tersebut berkinerja lebih baik daripada yang dimiliki kelompok pertama.<ref>Michael Solomon. [https://archive.org/details/consumerbehavior0000solo_n1d6 Consumer Behavior]. Pearson Education. 2011. hlm. [https://archive.org/details/consumerbehavior0000solo_n1d6/page/318 318]. ISBN 978-0-13-611092-7.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
 
<references />
 


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Efek+ketidaktahuan+yang+membahagiakan&oldid=29212557 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29212557 (2026-05-10T23:58:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Efek+ketidaktahuan+yang+membahagiakan&oldid=29212557 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29212557 (2026-05-10T23:58:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 09.07

Dalam studi perilaku konsumen, Efek Ketidaktahuan yang Membahagiakan adalah ketika orang yang memiliki banyak informasi tentang suatu produk ternyata tidak puas dengan produk tersebut, sementara orang yang hanya memiliki sedikit informasi tentang produk justru lebih puas dengan produk itu.[1] Hal ini terjadi karena orang yang membeli produk ingin merasa telah membeli barang yang benar. Namun, jika orang tersebut sudah mengetahui cara kerja produk, mereka akan merasa lebih dirugikan jika terdapat masalah dalam produk tersebut.

Efek ini menggambarkan bagaimana tujuan konsumen kemudian berubah setelah mereka melakukan pembelian. Orang-orang mendambakan informasi yang tepat dan terperinci dalam tahap pengambilan keputusan mereka. Namun, setelah membuat pilihan, prioritas aka bergeser, karena orang ingin puas dengan keputusan mereka. Untuk mencapai hal ini, ketidakjelasan informasi mungkin meningkatkan isi dan penerimaan keputusan itu dengan menyembunyikan gambaran penuh dan membenarkan keputusan yang dibuat.[2]

Dalam percobaan untuk menguji efek ketidaktahuan yang membahagiakan, dua kelompok dibuat dan diberi tahu informasi tentang suatu produk. Kelompok pertama diberitahu tentang klaim produsen dan diberikan penelitian dari perusahaan luar, kelompok kedua diberi informasi yang minim tentang produk. Di akhir eksperimen, subjek diwawancarai dan peneliti menemukan bahwa subjek di kelompok kedua mengharapkan produk tersebut berkinerja lebih baik daripada yang dimiliki kelompok pertama.[3]

Referensi

  1. Schiffman Leon G. Consumer Behavior. Prentice Hall of India. 1988. hlm. 95. ISBN 978-81-317-3156-7.
  2. Blissfully Ignorant: Skip Those Pesky Details. ScienceDaily.
  3. Michael Solomon. Consumer Behavior. Pearson Education. 2011. hlm. 318. ISBN 978-0-13-611092-7.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29212557 (2026-05-10T23:58:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.