Pengertian pangkal: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27725062; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Set_Intersection.png|thumb|right|280px|Set Intersection]] | |||
Misalnya, dalam geometri kontemporer, istilah semacam ''titik (point)'', ''garis (line)'', dan ''berisi (contains)'' adalah contoh dari beberapa pengertian pangkal. Alih-alih mencoba mendefinisikannya, interaksi hal-hal tersebut diatur oleh aksioma seperti "Untuk setiap dua titik terdapat garis yang memuat keduanya" (dalam sistem aksioma Hilbert). | Dalam [[matematika]], [[logika]], [[filsafat]], dan sistem formal, '''pengertian pangkal'''<ref>R. Soedjadi. [https://books.google.co.id/books/about/Kiat_pendidikan_matematika_di_Indonesia.html?hl=id&id=lEUoAAAACAAJ&redir_esc=y Kiat pendidikan matematika di Indonesia: konstatasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan]. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. ISBN 978-979-8439-14-8.</ref> adalah sebuah konsep yang tidak didefinisikan dalam istilah konsep yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini sering disebabkan secara informal, biasanya oleh daya tarik [[intuisi]] dan pengalaman sehari-hari. Dalam [[Sistem aksioma|teori aksioma]], hubungan antara pengertian pangkal dibatasi oleh [[aksioma]].<ref>Lebih umum, dalam sistem formal, aturan membatasi penggunaan gagasan primitif. Lihat misalnya teka-teki MU untuk sistem formal non-logis.</ref> Beberapa penulis menyebut yang terakhir sebagai "mendefinisikan" pengertian pangkal dengan satu atau lebih aksioma, tetapi ini bisa menyesatkan. Teori formal tidak dapat mengeluarkan pengertian pangkal karena tekanan epistem dari regresi tak terhingga (di tiap argumen regresi). | ||
Misalnya, dalam geometri kontemporer, istilah semacam ''titik (point)'', ''garis (line)'', dan ''berisi (contains)'' adalah contoh dari beberapa pengertian pangkal. Alih-alih mencoba mendefinisikannya,<ref>Euclid (300 S.M.) masih memberikan definisi dalam buku Elemen-nya, seperti "Sebuah garis adalah panjang tak terluas".</ref> interaksi hal-hal tersebut diatur oleh aksioma seperti "Untuk setiap dua titik terdapat garis yang memuat keduanya" (dalam sistem aksioma Hilbert).<ref>Aksioma ini dapat diformalkan dalam logika predikat sebagai "∀''x'' 1 ,''x'' 2 ∈''P''. ∃''y''∈''L''. ''C''(''y'',''x'' 1 ) ∧ ''C''(''y'',''x'' 2 )", di mana ''P'', ''L'', dan ''C'' masing-masing menyatakan himpunan titik, garis, dan hubungan "berisi".</ref> | |||
== Rincian == | == Rincian == | ||
[[Alfred Tarski]] menjelaskan peran pengertian pangkal sebagai berikut: | [[Alfred Tarski]] menjelaskan peran pengertian pangkal sebagai berikut:<ref>Alfred Tarski (1946) ''Introduction to Logic and the Methodology of the Deductive Sciences'', p. 118, Oxford University Press.</ref> | ||
: Ketika kami mulai membangun suatu disiplin tertentu, kami membedakan, pertama-tama, sekelompok kecil ekspresi disiplin ini yang bagi kami tampaknya dapat segera dipahami; ungkapan-ungkapan dalam kelompok ini kita sebut ISTILAH PRIMITIF atau ISTILAH YANG TIDAK TERDEFINISIKAN, dan kami menggunakannya tanpa menjelaskan artinya. Pada saat yang sama kami mengadopsi prinsip, yaitu untuk tidak menggunakan ekspresi lain dari disiplin yang sedang dipertimbangkan, kecuali maknanya telah ditentukan terlebih dahulu dengan bantuan istilah primitif dan ekspresi disiplin yang maknanya telah dijelaskan sebelumnya. Kalimat yang menentukan arti suatu istilah dengan cara ini disebut DEFINISI,... | : Ketika kami mulai membangun suatu disiplin tertentu, kami membedakan, pertama-tama, sekelompok kecil ekspresi disiplin ini yang bagi kami tampaknya dapat segera dipahami; ungkapan-ungkapan dalam kelompok ini kita sebut ISTILAH PRIMITIF atau ISTILAH YANG TIDAK TERDEFINISIKAN, dan kami menggunakannya tanpa menjelaskan artinya. Pada saat yang sama kami mengadopsi prinsip, yaitu untuk tidak menggunakan ekspresi lain dari disiplin yang sedang dipertimbangkan, kecuali maknanya telah ditentukan terlebih dahulu dengan bantuan istilah primitif dan ekspresi disiplin yang maknanya telah dijelaskan sebelumnya. Kalimat yang menentukan arti suatu istilah dengan cara ini disebut DEFINISI,... | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
Regresi yang tak terhindarkan terhadap pengertian pangkal dalam [[Epistemologi|teori pengetahuan]] dijelaskan oleh Gilbert de B. Robinson : | Regresi yang tak terhindarkan terhadap pengertian pangkal dalam [[Epistemologi|teori pengetahuan]] dijelaskan oleh Gilbert de B. Robinson : | ||
: Sangat mengejutkan bagi mereka yang non-ahli matematika bahwa tidak mungkin untuk mendefinisikan secara eksplisit semua istilah yang digunakan. Ini bukan masalah yang dangkal tetapi terletak pada akar dari semua pengetahuan; perlu untuk memulai di suatu tempat, dan untuk membuat kemajuan seseorang harus dengan jelas menyatakan elemen-elemen dan hubungan-hubungan yang tidak terdefinisi dan sifat-sifat yang diterima begitu saja. | : Sangat mengejutkan bagi mereka yang non-ahli matematika bahwa tidak mungkin untuk mendefinisikan secara eksplisit semua istilah yang digunakan. Ini bukan masalah yang dangkal tetapi terletak pada akar dari semua pengetahuan; perlu untuk memulai di suatu tempat, dan untuk membuat kemajuan seseorang harus dengan jelas menyatakan elemen-elemen dan hubungan-hubungan yang tidak terdefinisi dan sifat-sifat yang diterima begitu saja.<ref>Gilbert de B. Robinson (1959) ''Foundations of Geometry'', 4th ed., p. 8, University of Toronto Press</ref> | ||
== Contoh == | == Contoh == | ||
Perlunya pengertian pangkal diilustrasikan dalam beberapa landasan aksiomatik dalam matematika: | Perlunya pengertian pangkal diilustrasikan dalam beberapa landasan aksiomatik dalam matematika: | ||
* [[Teori himpunan|Teori]] [[Himpunan (matematika)|himpunan]]: Konsep himpunan adalah contoh dari pengertian pangkal. Seperti yang ditulis Mary Tiles: "Definisi" dari "himpunan" kurang lebih merupakan definisi daripada upaya penjelasan sesuatu yang diberi status istilah primitif, tidak terdefinisikan. Sebagai bukti, ia mengutip [[Felix Hausdorff]] : "Suatu himpunan dibentuk oleh pengelompokan objek tunggal menjadi satu kesatuan. Himpunan adalah pluralitas yang dianggap sebagai satu kesatuan." | * [[Teori himpunan|Teori]] [[Himpunan (matematika)|himpunan]]: Konsep himpunan adalah contoh dari pengertian pangkal. Seperti yang ditulis Mary Tiles:<ref>Mary Tiles (2004) ''The Philosophy of Set Theory'', p. 99</ref> "Definisi" dari "himpunan" kurang lebih merupakan definisi daripada upaya penjelasan sesuatu yang diberi status istilah primitif, tidak terdefinisikan. Sebagai bukti, ia mengutip [[Felix Hausdorff]] : "Suatu himpunan dibentuk oleh pengelompokan objek tunggal menjadi satu kesatuan. Himpunan adalah pluralitas yang dianggap sebagai satu kesatuan." | ||
* Teori himpunan naif: [[Himpunan kosong]] adalah pengertian pangkal. Untuk menegaskan bahwa itu ada akan menjadi [[aksioma]] implisit. | * Teori himpunan naif: [[Himpunan kosong]] adalah pengertian pangkal. Untuk menegaskan bahwa itu ada akan menjadi [[aksioma]] implisit. | ||
* [[Aksioma Peano|Aritmetika Peano]]: Fungsi penerus dan angka [[0 (angka)|nol]] adalah pengertian pangkal. Karena aritmetika Peano berguna dalam kaitannya dengan sifat-sifat bilangan, objek yang diwakili oleh pengertian pangkal mungkin tidak terlalu penting. | * [[Aksioma Peano|Aritmetika Peano]]: Fungsi penerus dan angka [[0 (angka)|nol]] adalah pengertian pangkal. Karena aritmetika Peano berguna dalam kaitannya dengan sifat-sifat bilangan, objek yang diwakili oleh pengertian pangkal mungkin tidak terlalu penting.<ref>Phil Scott. [https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.218.9262&rep=rep1&type=pdf Mechanising Hilbert’s Foundations of Geometry in Isabelle (see ref 16, re: Hilbert's take)]. 2008.</ref> | ||
* [[Sistem aksioma|Sistem]] aksioma: Pengertian pangkal akan tergantung pada himpunan aksioma yang dipilih untuk sistem. Alessandro Padoa membahas seleksi ini pada Kongres Internasional Filsafat di Paris pada tahun 1900. Gagasan itu sendiri mungkin tidak perlu dinyatakan; Susan Haack (1978) menulis, "Satu himpunan aksioma kadang-kadang dikatakan memberikan definisi implisit dari istilah primitifnya." | * [[Sistem aksioma|Sistem]] aksioma: Pengertian pangkal akan tergantung pada himpunan aksioma yang dipilih untuk sistem. Alessandro Padoa membahas seleksi ini pada Kongres Internasional Filsafat di Paris pada tahun 1900.<ref>Alessandro Padoa (1900) "Logical introduction to any deductive theory" in Jean van Heijenoort (1967) ''A Source Book in Mathematical Logic, 1879–1931'', Harvard University Press 118–23</ref> Gagasan itu sendiri mungkin tidak perlu dinyatakan; Susan Haack (1978) menulis, "Satu himpunan aksioma kadang-kadang dikatakan memberikan definisi implisit dari istilah primitifnya." <ref>Susan Haack. ''Philosophy of Logics''. Cambridge University Press. 1978. hlm. 245. ISBN 9780521293297.</ref> | ||
* [[Geometri Euklides|Geometri Euclidean]]: Di bawah sistem aksioma Hilbert, pengertian pangkal adalah ''titik, garis, bidang, kesesuaian, keantaraan'', dan ''kejadian'' . | * [[Geometri Euklides|Geometri Euclidean]]: Di bawah sistem aksioma Hilbert, pengertian pangkal adalah ''titik, garis, bidang, kesesuaian, keantaraan'', dan ''kejadian'' . | ||
* [[Geometri Euklides|Geometri Euclidean]]: Di bawah sistem aksioma Peano pengertian pangkal adalah ''titik, segmen'', dan ''gerak''. | * [[Geometri Euklides|Geometri Euclidean]]: Di bawah sistem aksioma Peano pengertian pangkal adalah ''titik, segmen'', dan ''gerak''. | ||
| Baris 26: | Baris 28: | ||
== Lihat juga == | == Lihat juga == | ||
* [[Teori himpunan|Teori himpunan aksiomatik]] | * [[Teori himpunan|Teori himpunan aksiomatik]] | ||
* Dasar-dasar geometri | * Dasar-dasar geometri | ||
| Baris 37: | Baris 38: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengertian+pangkal&oldid=27725062 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27725062 (2025-08-24T06:20:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.11

Dalam matematika, logika, filsafat, dan sistem formal, pengertian pangkal[1] adalah sebuah konsep yang tidak didefinisikan dalam istilah konsep yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini sering disebabkan secara informal, biasanya oleh daya tarik intuisi dan pengalaman sehari-hari. Dalam teori aksioma, hubungan antara pengertian pangkal dibatasi oleh aksioma.[2] Beberapa penulis menyebut yang terakhir sebagai "mendefinisikan" pengertian pangkal dengan satu atau lebih aksioma, tetapi ini bisa menyesatkan. Teori formal tidak dapat mengeluarkan pengertian pangkal karena tekanan epistem dari regresi tak terhingga (di tiap argumen regresi).
Misalnya, dalam geometri kontemporer, istilah semacam titik (point), garis (line), dan berisi (contains) adalah contoh dari beberapa pengertian pangkal. Alih-alih mencoba mendefinisikannya,[3] interaksi hal-hal tersebut diatur oleh aksioma seperti "Untuk setiap dua titik terdapat garis yang memuat keduanya" (dalam sistem aksioma Hilbert).[4]
Rincian
Alfred Tarski menjelaskan peran pengertian pangkal sebagai berikut:[5]
- Ketika kami mulai membangun suatu disiplin tertentu, kami membedakan, pertama-tama, sekelompok kecil ekspresi disiplin ini yang bagi kami tampaknya dapat segera dipahami; ungkapan-ungkapan dalam kelompok ini kita sebut ISTILAH PRIMITIF atau ISTILAH YANG TIDAK TERDEFINISIKAN, dan kami menggunakannya tanpa menjelaskan artinya. Pada saat yang sama kami mengadopsi prinsip, yaitu untuk tidak menggunakan ekspresi lain dari disiplin yang sedang dipertimbangkan, kecuali maknanya telah ditentukan terlebih dahulu dengan bantuan istilah primitif dan ekspresi disiplin yang maknanya telah dijelaskan sebelumnya. Kalimat yang menentukan arti suatu istilah dengan cara ini disebut DEFINISI,...
Regresi yang tak terhindarkan terhadap pengertian pangkal dalam teori pengetahuan dijelaskan oleh Gilbert de B. Robinson :
- Sangat mengejutkan bagi mereka yang non-ahli matematika bahwa tidak mungkin untuk mendefinisikan secara eksplisit semua istilah yang digunakan. Ini bukan masalah yang dangkal tetapi terletak pada akar dari semua pengetahuan; perlu untuk memulai di suatu tempat, dan untuk membuat kemajuan seseorang harus dengan jelas menyatakan elemen-elemen dan hubungan-hubungan yang tidak terdefinisi dan sifat-sifat yang diterima begitu saja.[6]
Contoh
Perlunya pengertian pangkal diilustrasikan dalam beberapa landasan aksiomatik dalam matematika:
- Teori himpunan: Konsep himpunan adalah contoh dari pengertian pangkal. Seperti yang ditulis Mary Tiles:[7] "Definisi" dari "himpunan" kurang lebih merupakan definisi daripada upaya penjelasan sesuatu yang diberi status istilah primitif, tidak terdefinisikan. Sebagai bukti, ia mengutip Felix Hausdorff : "Suatu himpunan dibentuk oleh pengelompokan objek tunggal menjadi satu kesatuan. Himpunan adalah pluralitas yang dianggap sebagai satu kesatuan."
- Teori himpunan naif: Himpunan kosong adalah pengertian pangkal. Untuk menegaskan bahwa itu ada akan menjadi aksioma implisit.
- Aritmetika Peano: Fungsi penerus dan angka nol adalah pengertian pangkal. Karena aritmetika Peano berguna dalam kaitannya dengan sifat-sifat bilangan, objek yang diwakili oleh pengertian pangkal mungkin tidak terlalu penting.[8]
- Sistem aksioma: Pengertian pangkal akan tergantung pada himpunan aksioma yang dipilih untuk sistem. Alessandro Padoa membahas seleksi ini pada Kongres Internasional Filsafat di Paris pada tahun 1900.[9] Gagasan itu sendiri mungkin tidak perlu dinyatakan; Susan Haack (1978) menulis, "Satu himpunan aksioma kadang-kadang dikatakan memberikan definisi implisit dari istilah primitifnya." [10]
- Geometri Euclidean: Di bawah sistem aksioma Hilbert, pengertian pangkal adalah titik, garis, bidang, kesesuaian, keantaraan, dan kejadian .
- Geometri Euclidean: Di bawah sistem aksioma Peano pengertian pangkal adalah titik, segmen, dan gerak.
Primitif Russell
Dalam bukunya tentang filsafat matematika, The Principles of Mathematics Bertrand Russell menggunakan gagasan ini: Untuk kalkulus kelas (teori himpunan) ia menggunakan relasi, mengambil keanggotaan himpunan sebagai pengertian pangkal. Untuk menetapkan himpunan, ia juga memerlukan fungsi proposisional sebagai primitif, serta ungkapan "sehingga" seperti yang digunakan dalam notasi pembangun himpunan. (hlm 18,9) Mengenai relasi, Russell menganggap hubungan kebalikan dan hubungan komplementer dari xRy yang diberikan sebagai pengertian pangkal . Selanjutnya, produk logis dari relasi dan produk relatif dari relasi adalah primitif. (hal 25) Adapun denotasi objek dengan deskripsi, Russell mengakui bahwa pengertian pangkal terlibat. (hal 27) Tesis buku Russell merupakan "Matematika murni hanya menggunakan beberapa gagasan, dan ini adalah konstanta logis." (hal xxi)
Lihat juga
- Teori himpunan aksiomatik
- Dasar-dasar geometri
- Dasar-dasar matematika
- Konstanta logis
- logika matematika
- Gagasan (filsafat)
- Teori objek
- Metabahasa semantik alami
Referensi
- ↑ R. Soedjadi. Kiat pendidikan matematika di Indonesia: konstatasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. ISBN 978-979-8439-14-8.
- ↑ Lebih umum, dalam sistem formal, aturan membatasi penggunaan gagasan primitif. Lihat misalnya teka-teki MU untuk sistem formal non-logis.
- ↑ Euclid (300 S.M.) masih memberikan definisi dalam buku Elemen-nya, seperti "Sebuah garis adalah panjang tak terluas".
- ↑ Aksioma ini dapat diformalkan dalam logika predikat sebagai "∀x 1 ,x 2 ∈P. ∃y∈L. C(y,x 1 ) ∧ C(y,x 2 )", di mana P, L, dan C masing-masing menyatakan himpunan titik, garis, dan hubungan "berisi".
- ↑ Alfred Tarski (1946) Introduction to Logic and the Methodology of the Deductive Sciences, p. 118, Oxford University Press.
- ↑ Gilbert de B. Robinson (1959) Foundations of Geometry, 4th ed., p. 8, University of Toronto Press
- ↑ Mary Tiles (2004) The Philosophy of Set Theory, p. 99
- ↑ Phil Scott. Mechanising Hilbert’s Foundations of Geometry in Isabelle (see ref 16, re: Hilbert's take). 2008.
- ↑ Alessandro Padoa (1900) "Logical introduction to any deductive theory" in Jean van Heijenoort (1967) A Source Book in Mathematical Logic, 1879–1931, Harvard University Press 118–23
- ↑ Susan Haack. Philosophy of Logics. Cambridge University Press. 1978. hlm. 245. ISBN 9780521293297.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27725062 (2025-08-24T06:20:23Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.